Senin, 09 Februari 2009

BERKUASA MAKIN TIDAK AMAN

Saya teringat dengan kesederhanaan dibalik keagungan khalifah Umar Ibn Khattab. Saat beliau memangku jabatan sebagai khalifah, dia hidup untuk melayani umat sepenuhnya. Hampir tak ada waktu untuk beristirahat. Kata beliau, bagaimana saya bisa istirahat, di siang hari saya harus memenuhi hak-hak rakyat, di malam hari saya harus memenuhi hak-hak Allah SWT. Kekuasaan yang diperoleh tidak membuat beliau hidup dalam suasana santai, tetapi merasa memangku beban dan tanggung jawab yang amat berat. Beliau telah melepaskan seluruh kepentingan dirinya, dan lebih mengutamakan kepentingan rakyat secara keseluruhan.
Karena kekuasaan tidak untuk memenuhi kepentingan diri, maka beliau selalu merasa aman berada di mana saja. Bahkan dia kadang beristirahat dengan cara berteduh di bawah pohon. Bagaimana mungkin seorang khalifah yang notabena pemimpin seluruh umat Islam berteduh di bawah pohon untuk sekadar istirahat tanpa pengamanan seorang pun. Apakah tidak takut ditikam atau tertusuk tombak atau panah? Beliau tidak hanya menjadi penguasa bagi rakyat, tetapi beliau juga telah menguasai dirinya sendiri. Beliau telah menyerahkan seluruh kehidupan ini pada Allah. Dalam hatinya hanya ada rasa takut pada Allah, tidak pernah terbersit sedikit pun takut pada makhluk. Suasana hati itulah yang membuat beliau tidak pernah meminta pengamanan.
Bayangkan dengan penguasa zaman ini. Sungguh kita akan menemukan realitas yang kontras, betapa makin tinggi sebuah kekuasaan, niscaya makin terdera rasa takut. Mengapa dia begitu takut? Ya karena dia tidak bergantung pada Allah, tetapi bergantung pada kedudukan. Saat insan bergantung pada selain Allah, niscaya dia mulai menemukan kerapuhan dalam dirinya. Dia takut kedudukan lenyap dari dirinya, walau sesungguhnya kedudukan pada saatnya akan lenyap. Apakah dirinya terlebih dahulu yang meninggalkan kedudukan dengan datangnya kematian, atau kedudukan itu sendiri yang bakal menghilang dengan adanya pergantian kekuasaan, atau demo rakyat yang memicu meruyaknya kudeta atas kekuasaannya. Sungguh aneh, orang makin berkuasa, makin merasakan tidak aman. Lebih aneh lagi, mengapa banyak orang mengejar kekuasaan yang hanya membuatnya dia makin dikuasai rasa takut. Orang yang berkuasa membutuhkan keamanan, maka dia meminta pengamanan dari pihak keamanan. Saat dia meminta keamanan, siapa yang berkuasa sebenarnya? Apakah yang menjaga keamanan atau yang dijaga keamanannya? Siapa pelayan yang sebenarnya? Apakah yang memberikan pelayanan atau yang meminta pelayanan? Di zaman akhir ini, kita menjadi rabun untuk mengertikan dengan jelas tentang siapa pelayan dan yang dilayani.
Suatu kenyataan yang menggelikan, mengapa saat orang memiliki kedudukan makin tidak bebas untuk mendapatkan kenyamanan hidup. Kemanapun pasti ada orang yang mengikutinya. Dipandu dalam kegiatan protokoler. Hal itu tidak hanya berlaku pada orang yang memiliki kekuasaan tersebut, namun juga berimbas pada keluarganya. Kalau biasanya anaknya bisa bermain bebas dengan sebayanya, sekarang terus saja disertai pengamanan. Seakan terpisah dengan ruang kebebasan. Sungguh tidak masuk akal, ketika orang diberi kekuasaan ternyata makin tidak aman dan bebas.

Minggu, 08 Februari 2009

TIDAK PERCAYA DIRI, BERARTI TIDAK RIDHA

Adalah seorang muda yang melulu dirundung sedih dengan kondisi fisiknya yang kurang sempurna. Dia tidak bisa berjalan dengan baik, alias pincang. Melihat keadaan fisiknya yang tidak sempurna seperti orang lain, dia tidak sebatas sedih, bahkan menjadi pesimis, seakan masa depan tidak berpihak padanya. Rasa ciut, kurang percaya diri terus menggerogoti jiwanya, hingga dia terhalang untuk mengoptimasi anugerah potensi yang diberikan Allah padanya. Suatu kali, dia mendengarkan radio yang membahas tentang sikap ridha. Dia mendengarkan seksama uraian jernih dari seorang ustadz melalui radio tersebut. Si ustadz menguatkan hatinya agar tetap ridha pada Allah, karena ketika dia tidak ridha, maka sisi kelemahan itu akan menjadi penutup potensi hebat yang terpendam dalam dirinya. Padahal dibalik sisi ketidaksempurnaan itu tersimpan potensi sempurna yang telah dititipkan Allah dalam dirinya.
Sehabis mendengarkan radio tersebut, seakan ada cahaya yang mengantarkan kesadaran yang indah bagi dirinya. Dia menyadari bahwa jika dia terus menangisi keadaan fisiknya yang tidak sempurna, tentu saja tidak bisa mengubah kenyataan. Lebih dari itu, dia tidak bisa mengukir makna indah dalam hidupnya. Mungkinkah hidup yang sekali-kali ini hanya diisi oleh kesedihan, rasa jengkel, dan sikap menggerutu yang tak bakal banyak mengubah keadaan? Baiknya dia tidak melihat sisi kelemahan itu, tetapi mencari sisi lain yang bisa menjadi pengungkit potensinya dengan dahsyat. Karena itu, ia akhirnya menyadari bahwa hidup ini tidak boleh diratapi, tetapi harus dijalani dan diisi dengan perjuangan yang bisa menghadirkan makna di hadapan Allah SWT. Tentu dia tidak terseret lagi untuk memainkan pikirannya dari sisi kelemahannya, tetapi bagaimana pikirannya bisa mendeteksi sisi potensi inti yang melekat pada dirinya. Dia pun ikut kursus menjahit di Pasuruan, ternyata dia bisa menjahit. Akhirnya dia pun makin percaya diri, bahwa dirinya memiliki kelebihan yang bisa terus diasah. Dan saat ini, dia tetap menekuni dunia konveksi ini. Semoga Allah memberkati hidupnya.
Kita kurang percaya diri berawal sikap tidak ridha menyeruak dari hati kita. Ketahuilah bahwa semua yang dirasakan dan dialami oleh kita sebagai anugerah yang datang dari Allah. Dan yakinilah setiap anugerah Allah adalah baik, hanya saja orang kadang tidak bisa melihat sisi kebaikan dari apa yang dianugerahkan oleh Allah padanya, sehingga dia terus tersudut dalam penderitaan dan kurang percaya diri. Ada anak muda kurang percaya diri, karena hidungnya menjorok kedalam, bibirnya sumbing, wajahnya hitam gelap, badan yang gemuk, fisiknya terlalu pendek, fisiknya terlalu tinggi, dan sebagainya. Ada juga yang tidak percaya diri, karena tidak memiliki aksesoris duniawi. Tidak percaya diri karena tidak memiliki HP seperti yang dimiliki teman-temannya. Bagi orang yang sudah berkeluarga, merasa ciut pada teman-teman di kantor, dan setelah diteliti dari semua kolega yang ada di perusahaannya, hanya dia saja yang tidak memiliki rumah. Dia pun tidak percaya diri. Atau seorang gadis tua, merasa kurang percaya diri, karena belum ada seorang pun yang berani melamarnya, sementara teman-teman sebayanya telah melampauinya dan hidup sakinah dengan seorang suami. Kurang percaya diri, karena terus diberondong kemiskinan, sementara tetangganya hidup dalam keadaan megah dan kaya. Ketika kenyataan-kenyataan itu dihadapkan pada hawa nafsu dan pikiran yang dangkal sungguh amat menyakitkan. Makin sakit hati dan kurang percaya diri, ketika kita terseret untuk membanding-bandingkan diri kita dengan kelebihan orang lain. Akar dari kurang percaya diri sejatinya adalah karena manusia tidak ridha pada apa yang dianugerahkan Allah padanya. Dan ketahuilah orang yang tidak percaya diri, hanya bisa melihat sisi kegelapan yang melekat pada dirinya, dan tidak menemukan cahaya potensi yang terpendam indah dalam dirinya.
Sikap ridha menjadi amat penting untuk meluaskan hati kita. Saat hati telah meluas dan lapang, niscaya kita akan menemukan aneka mutiara yang bermukim dalam diri kita. Sikap ridha akan melahirkan ridha Allah. Sabda Nabi, “Siapa yang ridha pada Allah, maka baginya keridhaan (Allah).” Manakala orang ridha dengan anugerah yang diberikan oleh padanya, niscaya Allah pun ridha padanya. Ketika Allah ridha, maka Allah akan selalu menolongnya untuk mencapai impian yang diharapkan. Bukankah Allah amat dekat pada orang yang ridha dengan apapun yang datang dariNya? Sadarilah saudaraku, bahwa apapun yang diberikan Allah pada kita pasti itulah yang terbaik untuk kita. Karena Allah Maha Mengetahui rahasia dari setiap hamba-hambaNya. Berbaik sangkalah pada Allah terus-menerus, niscaya Allah akan selalu menunjukkan sisi kebaikan dalam hidupmu. Bisa jadi dari suatu yang dipandang yang buruk menurut kita, ternyata tersimpan keindahan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ada yang hidup dalam keadaan miskin, karena itu ia hanya bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti makan, pakaian, dan tempat tinggal. Dia tidak terpikir sedikit pun untuk dugem, berwisata ke tempat eksotis, menonton film di bioskop dan sebagainya. Yakinilah, keadaan ini suatu yang terbaik dari Allah, bisa jadi jika kita diberi kekayaan sedikit yang membuat kita bisa memenuhi kebutuhan sekunder, bahkan memenuhi keinginan hawa nafsu, betapa kita pun bakal berada dalam derita. Terpenting, sekarang carilah hikmah dari setiap keadaan yang selama ini membuat kita tidak percaya diri, hingga kita bisa berubah untuk bersikap ridha pada Allah. Saat orang telah ridha dengan ketentuan Allah, maka dia bakal selalu dalam keadaan bahagia. Sesuai dengan sabda Rasulullah Saw, “Sesungguhnya Allah dengan keadilannya menjadikan kebahagiaan dan kegembiraan dengan ridha dan yakin, dan Allah menjadikan kesedihan dan kekhawatiran dalam kesalahan dan sikap ragu.”
Semoga kita bisa menghiasi keadaan diri kita dengan sikap ridha, sebagai tanda beriman pada ketentuan Allah, dan Allah pasti memberikan yang terbaik pada setiap hamba-hambaNya, karena Allah Maha Baik. Berprasangkalah Anda pada Allah dengan prasangka yang baik, niscaya Allah akan memberikan kebaikan. Sesuai sabda Rasulullah SAW, Allah berfirman. “Aku sesuai prasangka hambaKU tentang Aku, jika (berprasangka) baik, maka kebaikan pula yang bakal didapatkan, jika (berprasangka) buruk, maka keburukan pula yang bakal diperoleh.”
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Hati

Sabtu, 07 Februari 2009

KONEKSI SPIRITUAL

Mungkin Anda tertegun dengan kata koneksi diatas yang dipadukan dengan kata spiritual. Karena makin maraknya spiritualitas yang dibisniskan, hingga kata koneksi spiritual bisa-bisa dikaitkan dengan soal bisnis. Ada sebagian saudara kita bilang dengan kata yang ringan dan lumrah, “ah sekarang untuk memeroleh pekerjaan tidak cukup dengan keterampilan, tetapi juga butuh koneksi!” Ada juga yang bertutur, “Agar bisnis kita tambah maju, kita kudu banyak koneksi. Makin luas koneksi makin besar profit yang dicapai.” Kalau begitu bisakah koneksi dikombinasikan dengan spiritual? Ya bisa saja. Apa kata koneksi harus dikait-kaitkan dengan hal duniawi saja? Kalau untuk mencapai keuntungan duniawi saja kita memerlukan koneksi, apalagi mencapai kedigdayaan spiritual, niscaya koneksi lebih dibutuhkan. Walau demikian, janganlah spiritual dijadikan ajang untuk berbisnis. Karena spiritual sendiri bersifat immateri. Bolehlah ada spiritualisasi materi, tapi bukan materialisasi spiritual.
Koneksi adalah jaringan (washilah) yang berperan menyambungkan kita dengan pusat tujuan kita. Dalam tataran spiritual, Allah sebagai tujuan utama. Kita tidak bisa berjalan sendiri untuk meraih kebersamaan dan kedekatan dengan Allah, tanpa dibantu oleh koneksi sekaligus konektor yang menghubungkan kita dengan Allah SWT. Siapa konektor spiritual? Koneksi spiritual yang bakal mengantarkan kita mengenal Allah adalah Rasulullah Muhammad SAW. Beliau Saw adalah pintu yang mengantarkan kedekatan dengan Allah SWT. Tanpa Rasulullah SAW kita tidak bakal mengenal Allah SWT, karena tidak mungkin orang masuk rumah tanpa harus melewati pintu yang telah tersedia.
Walau pun Rasulullah SAW telah mendahului kita, kita harus tetap memperteguh koneksi dengan Rasulullah SAW dengan jalan mencari figur berkarakter yang bisa mengantarkan kita mengenal Rasulullah SAW. Rasulullah SAW dalam tataran ilmu ma’rifat adalah sebagai rumah, dan Imam Ali KW sebagai pintunya. Sabda Rasulullah Saw, “Saya adalah rumah hikmah, dan Ali adalah pintunya” (HR. Tirmidzi). Murid spiritual yang dekat secara keilmuan dengan Rasulullah Saw adalah Imam Ali KW, dan dilanjutkan oleh guru yang secara keilmuan tersambung pada Imam Ali KW hingga Rasulullah SAW. Lebih bagus lagi, kalau kita mencari koneksi yang tidak hanya memiliki koneksi ilmu spiritual dengan Rasulullah SAW tetapi juga terikat dalam hubungan nasab dengan Rasulullah SAW yakni dari kalangan ahlul bait (keluarga Nabi). Bersyukurlah Anda, jika telah menemukan seorang guru dari kalangan ahlul bait, insya Allah dia bakal mengantarkan Anda untuk ma’rifat pada Allah SWT lewat ma’rifat pada Rasulullah SAW.
Di saat maraknya menu spiritual yang terhidang di zaman ini, kita harus hati-hati mencari konektor, yakni guru. Salah mencari konektor, maka alih-alih kita ma’rifat pada Allah, malahan kita bakal terpuruk dalam kegelapan ruhani. Sehingga gagal merasakan kelezatan spiritual berupa kedekatan dengan Allah SWT. Sekarang yang penting bukan mendapatkan ilmu, tetapi meraih cahaya ilmu yang membuat kita makin mengenal Allah sehingga bisa mencintaiNya tanpa syarat dan tanpa batas.

Jumat, 06 Februari 2009

PUJILAH PADA YANG MEMUJIMU

Pujian datang dari Allah. Hakikat diri kita batil, dan yang menebarkan cahaya hak pada diri kita hanyalah Allah SWT. Allah berfirman, “Katakanlah telah datang yang hak dan telah lenyap kebatilan, sesungguhnya kebatilan benar-benar lenyap.” Al-Haq hanya milik Allah, sementara seluruh makhluk masuk kategori batil. Dan andaikan ada kebaikan yang memancar pada diri kita, itu semata-mata sebatas untuk mempresentasikan kebaikan Allah lewat makhlukNya. Terkait dengan pujian orang atas perbuatan yang kita lakukan, maka kita tidak boleh menyikapi dengan perasaan bangga, apalagi melahirkan rasa sombong.
Ingatlah, ketika Anda mendapatkan pujian dari seseorang, dan lalu Anda menyikapi dengan sikap sombong serta pongah, tentu posisi Anda berubah tak lagi terpuji, bahkan hina di hadapan Allah. Yakinilah, tak ada orang sombong yang mulia, karena sombong sendiri kehinaan. Kemudian bagaimana sikap kita saat memeroleh pujian dari orang lain? Sadarilah pujian itu datang dari Allah menuju Allah, sementara kita hanya kanal sampainya pujian makhluk pada Allah.
Kalau makhluk telah memuji Anda, maka sikap Anda adalah merendahkan diri di hadapan Allah, karena makhluk telah diizinkan melihat pencaran kebaikan dari diri Anda yang datang dari Allah. Andaikan memang kebaikan itu ada pada kita, justru pujian itu sebagai doa yang bakal kian meneguhkan sisi kebaikan yang melekat pada kita. Andaikan pujian itu tidak ada pada kita, maka perlu juga dianggap sebagai doa, agar kita benar-benar merasakan kebaikan itu dalam hati kita. Saat pujian itu tidak ada pada kita, maka kita harus berusaha bagaimana bisa menjadikan diri kita seperti pujian itu, dengan terus berupa mengikis sisi yang berlawanan dengan pujian tersebut. Betapa banyak orang mengalami peningkatan kualitas diri, karena dimotivasi dan dipuji sisi kebaikan yang ada pada dirinya. Dan orang lain memuji kita, pada hakikatnya sebagai harapan mereka terhadap kita.
Kalau ada orang yang memuji kita, maka puji pula orang tersebut, karena dia telah menemukan kebaikan. Dan dia bisa menemukan sisi kebaikan yang melekat pada kita, karena pikirannya yang positif. Karena itu, mengapa kita harus memuji orang yang memuji kita. Ya, karena pikirannya yang positif. Bukankah, positif dan negatif itu ada dalam pikiran, tidak terletak pada obyek yang dipikirkan. Ketika pikiran positif, insya Allah dia bakal selalu menemukan sisi kebaikan dari setiap aktivitas yang dijalankan.
Yang mulia itu tidak terletak pada obyek yang dipikirkan, tetapi melekat pada pikiran yang melihat kemuliaan tersebut. Karena kenyataannya, banyak pula orang berpikir negatif dan mencaci orang yang berlaku baik. Andaikan mereka tidak berpikir negatif, tentu saja dia tidak bakal menemukan sisi negatif orang lain, bahkan selalu mendapatkan sisi kebaikan yang memancar dari orang lain. Ada orang yang berpikir negatif pada ulama’ yang telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk berdakwah, atau yang berpikir negatif pada pedagang yang jujur dan sederhana. Bahkan ada orang yang berburuk sangka pada Allah SWT, padahal Allahlah sumber dari segala kebaikan itu.
Kalau begitu, baik dan buruk bermukim dalam pikiran kita sendiri. Itulah alasannya, mengapa kita tergerak untuk memuji orang yang memuji kita? Orang memuji kita karena memang pikirannya yang terpuji, bukan diri kita. Dan andaikan pikirannya negatif, pasti dia bisa melihat sisi keburukan yang melekat pada kita. Dia melihat diri kita sesuai dengan kacamata yang dipergunakan. Lebih dari itu, saat orang memuji kita, secara spontanitas dia telah mendapatkan ketenangan hidup seketika. Bukankah orang yang telah berada dalam keadaan tenang itulah yang berhak mendapatkan maqam terpuji.
Khalili Anwar, penutur dari jalan hati

MEMBACA BUKU SEMESTA

Wahyu pertama kali yang diturunkan pada Nabi Muhammad SAW adalah soal membaca. Membaca disini tidak sebatas membaca buku, al-Qur’an atau beragam teks-teks yang tersebar. Pun diimbangi dengan membaca realitas yang menjadi buku semesta bagi kita. Betapa banyak orang belajar tentang kearifan dari alam. Mereka merenungi kearifan air yang terus memberikan energi pada kehidupan ini, dan berkat kehadiran air, kehidupan bumi bisa dilestarikan. Pun Anda tidak hanya disuruh membaca semata, tetapi berusaha menguak makna esesial dibalik yang terbaca tersebut. Andaikan Anda disuruh membaca al-Qur’an, pastinya tidak sebatas membaca secara tartil, tetapi meningkat pada upaya bagaimana Anda bisa merenungi ayat-ayat yang tersebar dalam al-Qur’an. Pun soal alam ini, Anda tidak sebatas menyaksikan kejadian demi kejadian tanpa merengkuh makna di dalamnya.
Ingatlah, setiap kejadian yang mengemuka di alam ini merupakan ayat-ayat Allah, dan agar Anda bisa mendapatkan cerapan pelajaran agung dari setiap peristiwa yang terjadi, maka berusahalah untuk menyelami batinnya peristiwa dengan tafakkur. Bagi saya, tafakkur adalah membaca secara mendalam, yang dengan membaca itu orang akan menguak mutiara dari permasalahan yang menyeruak ke permukaan. Sungguh kalau Anda mau merenungi setiap lintasan kejadian yang mengemuka di alam ini, niscaya Anda bakal menemukan keajaiban-keajaiban. Karena semuanya telah dirancang secara ajaib oleh Allah SWT. Mengapa banyak diantara kita tidak menemukan inspirasi dibalik setiap kejadian? karena kita hanya bisa melihat permukaan, tidak bisa menguak batinnya sebuah peristiwa.
Sungguh ayat Allah itu amat luas tidak bisa tercakup oleh pikiran manusia yang terbatas. Karena tidak bisa dicakup oleh pikiran manusia, maka berusahalah mengoptimasi pikiran agar setidaknya mengetahui setetes dari samudera pengetahuan Allah. Allah berfirman, “Katakanlah, ‘kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhan, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhan-ku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu pula.” (QS. Al-Kahf [18]:109). Kalau ilmu Allah hanya sebatas ayat-ayat yang tersebar dalam al-Qur’an tentu saja bisa dicakupnya, tetapi ruh yang terpendam dalam setiap ayat-ayat al-Qur’an tak bisa dicakup oleh otak manusia. Hanya dari waktu ke waktu rahasia-rahasia pengetahuan yang tersimpan dalam al-Qur’an bakal terkuak dengan sendirinya. Kebenaran al-Qur’an akan terbukti dan menjadi pelajaran bagi orang yang berakal.
Membaca buku semesta akan membuat kita bisa mencerap kearifan demi kearifan. Setiap kearifan menjadi energi yang bakal merumuskan perubahan bagi kita. Bacalah secara teliti peristiwa alam, berupa banjir bandang yang turut memacetkan seluruh aktivitas, gempa bumi yang membikin bangunan ambrol dan roboh, angin pusing beliung yang membuat bangunan berantakan. Ketika Anda merenungkan secara seksama, bahkan kejadian demi kejadian itu menggambarkan keadaan batin manusia yang tengah dibentur oleh beragam masalah yang membuat batin tidak pernah mencerapi kebahagiaan. Coba renungkan pula, tentang kekerasan yang dilakukan satu kelompok pada kelompok lain, mengapa harus ada kekerasan dalam agama? Mungkinkah jiwa kita sudah amat keras, sehingga terpantul dari tindakan yang amat keras dan brutal. Atau mungkin hati kita sekarang makin keras, sehingga sulit menerima kebenaran yang bersifat lembut. Kebenaran telah dikalahkan oleh beragam pertunjukan seni yang menyeret orang dalam kegelapan dan kesesatan. Suguhan media telah membuat hati kita semakin keras, bahkan makin tidak memiliki jiwa kemanusiaan. Sungguh, keadaan alam dunia hanyalah gambaran kejadian di alam batin.
Ketika kita selalu berusaha menguak pengetahuan dibalik kejadian yang mencuat ke permukaan, maka kearifan bakal menyusup dalam kesadaran kita. Lewat kejadian yang direnungkan secara seksama insya Allah kita bisa mencapai puncak pengetahuan. Apa puncak pengetahuan itu? Puncak pengetahuan adalah berserah diri. Bagi orang yang telah sampai pada stasiun berserah diri tersebut, justru akan selalu melihat af’al (tindakan) Allah dalam setiap peristiwa. Bukankah Allah amat berkuasa untuk melakukan apa yang dikehendaki?
Karena itu, kalau Anda setiap hari memiliki waktu untuk membaca buku, maka Anda pun harus bisa menyisihkan waktu untuk membaca kehidupan ini secara seksama. Saat Anda bisa membaca dan merenungi seluruh kejadian yang mewujud dalam perputaran kosmik ini, insya Allah kita akan makin bijaksana dalam menghadapi kenyataan hidup ini, dan kita tidak bakal menyia-nyiakan untuk mendapatkan hikmah di dalamnya.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Hati






Selasa, 03 Februari 2009

MENGGERUTU MERAPUHKAN DIRI

Menggerutu berawal dari sikap bergantung orang pada makhluk. Misalnya, suatu saat kita membuat janji dengan klien bisnis di tempat dan waktu yang sudah ditentukan. Tetapi saat waktu itu telah tiba, ternyata dia tidak menemui kita di tempat yang telah dipastikan. Atau pun, kalau datang ke tempat tersebut, ia telat beberapa menit. Alias tidak on time. Andaikan, kita bergantung padanya, justru kita akan menggerutu, jengkel, bahkan gusar. Memang begitulah, makin orang bergantung pada makhluk, justru makin mudah dikena sikap menggerutu tersebut. Karena dasar manusia yang tidak sempurna, tentu tidak bakal memberikan kepuasan. Dan kala tidak ada kepuasaan, niscaya yang timbul adalah kekecewaan. Kedua sifat ini tidak bisa bergabung dalam satu hati manusia. Ketika menyembul kepuasan, maka bakal tenggelam kecewa, dan sebaliknya ketika kecewa meruyak, maka kepuasan pun tenggelam. Menggerutu kadang menjadi ekspresi tepat dari bawahan pada atasan. Anak pada orang tua, murid pada guru, karyawan pada bosnya, dan sebagainya. Ketika atasan tidak memperlakukannya secara adil, bawahan yang tidak bisa berbuat apa-apa, memilih dengan sikap menggerutu. Makin dia menggerutu, maka makin besar sifat bergantungnya pada sang atasan. Karena itu, makin orang bergantung pada sesuatu, maka harus siap-siap mendapatkan kekecewaan dari sesuatu tersebut. Dan mengapa orang yang menggerutu menjadikan dirinya makin rapuh?
Bagaimana kita tidak disebut rapuh, kalau bergantung pada yang rapuh. Bukankah manusia amat lemah? Mengapa kita harus bergantung pada manusia. Makin aneh lagi, ada orang bergantung pada mesin, padahal mesin memiliki kekurangan. Karena setiap tempat bergantung akan menjadi tuhan kecil, dan itu tidak bakal memberikan solusi yang utuh bagi kehidupan kita. Pasti ada saja kekurangan yang bakal terlihat di mata kita. Orang yang bersandar pada selain Allah, seperti halnya dia bersandar di tempat yang rapuh, lebih rapuh ketimbang jaring laba-laba. Dan tahukah Anda jaring laba-laba paling rapuhnya tempat. Saya yakin orang yang bergantung pada selain Allah, tidak bakal merasakan kebahagiaan hidup yang sempurna. Dan sesungguhnya tanpa kita sadari Allah telah memberikan pelajaran pada kita dengan kekecewaan-kekecewaan yang kita rasakan tentang perlakuan orang, agar kita tidak lagi bergantung pada manusia. Tetapi mengapa kebergantungan kita pada makhluk makin hari bertambah besar? Manusia tidak bakal mendapatkan kebahagiaan hakiki, jika dalam hatinya masih ada lukisan makhluk. Sesempurna apapun kita melihat manusia, pasti nantinya kita akan melihat sisi lemah yang membuat kita harus memendam rasa kecewa, sehingga dari hati terus bergema suara-suara menggerutu. Betapa sakitnya hati ini ketika suara-suara buruk itu terus-menerus digemakan dan diprogramkan ke dalam hati kita. Sikap menggerutu bakal membuat keburukan orang tersebut makin besar di mata kita, dan teruslah setan bakal menunjukkan sisi keburukan orang yang digerutui tersebut.
Ketika kita kecewa tidak sebatas bersikap menggerutu, yang telah cukup membuat hati sumpek, tetapi semakin bertambah menderita ketika kita mengungkapkan kekecewaan kita pada orang lain. Bukankah itu, malah bakal menimbulkan dosa baru berupa ghibah. Ghibah tidak pernah merugikan orang yang dibicarakan, hanya merugikan orang yang yang menggunjing itu sendiri. Selain itu, Anda terus merasakan odsa ghibah itu lagi berupa derita. Ingatkah Anda dengan sabda Rasulullah Saw. “Berhati-hatilah dengan ghibah, karena ghibah lebih ganas daripada zina, kalau ada seorang laki-laki melakukan zina, dan dia bertaubat niscaya Allah akan menerima taubatnya, dan sesungguhnya orang yang bertaubat tidak akan diampuninya sehingga dia meminta ampun karenanya pada teman yang digunjing itu.” Pernahkah Anda mendapatkan kepuasaan saat menelanjangi keburukan seseorang di hadapan orang lain? Tentu saja, tidak mendapatkan kepuasan. Bahkan bersamaan dengan menggerutu dalam bentuk mengguncing tersebut, justru kita akan didera rasa takut, bagaimana andaikan apa yang dikatakan diketahui oleh orang yang digunjing tersebut. Teruslah perasaan takut itu menggedor hati kita. Ketika rasa takut itu membayangi diri kita setiap saat, maka sinar wajah kita menjadi terhapus. Dan walau pun tersenyum, senyumnya tidak menularkan energi sedikit pun. Memang menggerutu yang berawal dari sikap bergantung pada makhluk bakal membuat kita makin tidak berdaya. Dan makin lemah di hadapan makhluk, dan anehnya saat itu tidak mengalir perasaan sedikit pun untuk menggantungkan hidup pada Allah SWT semata. Makin sering Anda menggerutu, tentu makin gelap hati Anda, dan Anda pun tidak pernah bisa menjaring kebahagiaan yang hakiki dalam hidup Anda. Mengapa? Karena menggerutu hanya bisa mengirimkan energi negatif ke dalam kesadaran kita. Sehingga energi positif pun tertutupi oleh energi negatif tersebut. Bagaimana mengurangi atau memupus sikap menggerutu itu?
Pertama, menjadikan Allah tempat bergantung satu-satunya. Ketika orang telah bersandarkan sepenuhnya pada Allah, maka Allah memang tempat bersandar yang amat handal. Tetapi ketika kita bergantung pada selain Allah, maka Allah akan menyerahkan urusannya, dan tentu dia akhirnya akan merasakan kekecewaan demi kekecewaan. Bagi orang yang bergantung pada Allah sepenuhnya, maka dia akan terus merasakan kekokohan batin terus-menerus. Andaikan dia mencita-citakan sesuatu, tetapi belum juga bisa mewujud, justru dia tidak serta-merta kecewa, karena Allah telah memberikan pengetahuan dari penahanan atas permintaan tersebut, hingga makin hari imannya bertambah kuat dan kokoh saja. Bahkan, kala musibah menimpanya tidak membuat semangatnya meredup untuk bergantung pada Allah, bahkan itu sebagai cara dari Allah untuk menguatkan daya batinnya. Dan saat batinnya telah menjadi kokoh, justru karunia lahiriah yang diminta tidak bakal menyesatkan, bahkan membuatnya menjadi lebih berwibawa dan mulia di hadapan Allah. Mengapa Allah harus dijadikan tempat bergantung satu-satunya? Karena Dia-lah yang mengurus semua urusan. Dan seluruh urusan akan kembali pada-Nya.”Katakanlah ‘Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah’” (QS. Ali Imran [3]:154. Bagaimana mungkin kita bergantung pada yang bergantung? Bersandar pada yang bersandar? Rasa-rasanya kita akan mengalami kejatuhan ketika kita bersandar pada yang rapuh. Saat orang yang dijadikan tempat bersandar telah mengalami kegagalan, justru kita pun bakal terimbas kegagalan. Tetapi siapa yang bergantung pada Allah, justru dia makin kukuh.
Kedua, yakinilah manusia hanya jadi ladang beramal bukan tempat bergantung. Artinya, kita tidak bakal kecewa ketika kita menganggap makhluk hanya ladang beramal. Hanya karena adanya makhluk kita bisa berbuat dan menjalankan amanah-amanah suci dari Allah SWT. Misalnya, Anda membangun kerjasama dengan seorang kolega bisnis. Melihat performanya yang begitu meyakinkan, Anda percaya atas kompetensi dan integritas yang melekat pada si kolega. Hanya saja suatu saat dia menipu Anda, dengan cara yang amat cerdik. Mungkin Anda mengalami kerugian besar dalam kerjasama bisnis tersebut. Bolehkah Anda bersikap perkasa dengan mengembalikan urusan pada Allah? Ya, saat Anda sabar sembari melakukan evaluasi dibalik kerjasama dan niatan Anda, insya Allah Anda bakal mendapatkan keterangan agung dari Allah SWT. Bahkan pelajaran ditipu itu lebih mahal harganya ketimbang uang yang telah ditilap tersebut. Dan kalau Anda menyandarkan pada Allah sepenuhnya, pasti setiap perlakuan makhluk pada Anda akan menjadi amal kebaikan. Ya kebaikan. Yakinilah, orang yang bersandar pada yang hak, maka niscaya setiap saat hanya bisa melakukan amal kebaikan.
Bolehlah secara fisik kita bergaul dengan manusia, tetapi hati kita hanya dipenuhi dengan kesadaran bergantung pada sepenuhnya pada Allah SWT semata. Sehingga setiap niat, gerak, sikap, dan perbuatan kita hanya tertuju pada Allah SWT. Wallahu ‘alam bis showab.

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Hati

Senin, 02 Februari 2009

BERTERIMA KASIHLAH PADA ISRAEL

Sungguh Anda terkejut bagai disengat listrik membaca seruan di atas. Bukankah kita harus mengutuk Israel yang telah dengan bengisnya membantai ribuan rakyat Palestina yang notabena saudara kita? Sudah tahu kan kita, bahwa Israel termasuk bangsa yang telah dimurkai oleh Allah SWT, mengapa harus berterima kasih padanya? Kalau kita berterima kasih padanya, bukankah mereka makin menjadi-jadi dalam mempermainkan umat Islam? Musti banyak pertanyaan yang mengalir dari emosi dan pikiran Anda. Tumpahkan semua perasaan Anda, sehingga Anda benar-benar merasa muak dan benci pada Israel, mungkin juga berimbas kebencian yang menguat pada penulis.
Tetapi walau pun Anda benci pada penulis, tolong Anda baca kalimat-kalimat selanjutnya, agar kita tidak terbiasa melihat sebuah bingkai pikiran sepotong-sepotong. Kita memahami bersama, bahwa Israel, dengan simbol Yahudinya, tidak layak untuk dijadikan teman dan tempat kita berbagi, bahkan kita harus berusaha menghancurkan eksistensi, terlebih pemikiran mereka yang kini telah menjalar ke seluruh dunia, tak terkecuali umat Islam di seantero negari ini. Yahudi termasuk kaum yang telah dimurkai oleh Allah SWT sepanjang masa. Karena itu, kita menetapkan seluruh kekuatan Israel itu sebagai musuh bersama umat Islam. Hanya saja, kita tanpa sadar terus diseret ke barak Yahudi, kita makin terpesona dengan karya-karya teknologi yang diluncurkan oleh mereka. Pun kita tidak pernah terbersit sedikit pun untuk menciptakan karya tandingan seperti yang dilancarkan mereka, dan memposisikan kita sebagai konsumen adiktif seluruh karya mereka. Negara-negara muslim telah dilimpahi kekayaan alam oleh Allah SWT, hanya saja kekayaan alam ini tidak diimbangi dengan SDM dan mental yang eksellant.
Kita makin silau dengan karya duniawi yang diluncurkan oleh Yahudi. Yahudi telah diberi kelebihan sebagai kaum yang amat cerdas daripada kaum yang lainnya. Tentu saja kita tidak bisa mengejar kekuatan teknologi mereka. Layaknya, orang Islam memiliki nilai tambah ketimbang kecerdasan intelektual yang telah dikuasai oleh Yahudi tersebut. Walau kita harus terus membangun daya intelektual, perlu juga diimbangi dengan penguatan akidah. Umat ini perlu terus memacu latihan untuk memberdayakan dan menguatkan iman tersebut. Tetapi tanpa disadari ternyata iman umat Islam makin tergerus, bahkan pupus, hingga konsentrasi mereka terus terpacu untuk mendapatkan duniawi dengan seluruh aksesorisnya.
Karya teknologi yang lemah diperparah dengan iman umat yang pupus, menjadikan kita makin hari makin tersudut dalam permainan dunia. Mengapa? Karena umat Islam sudah tidak percaya diri lagi untuk menjadikan Islam yang kaffah sebagai pandangan hidup dan spirit perjuangan kita. Yahudi melalui Israel mencoba melakukan serangan terhadap Palestina, tidak sebatas menyerang Palestina an sich. Tetapi mereka juga ingin menengok pengaruh kekuatan mereka yang telah disuntikkan pada orang Islam, yakni cinta duniawi yang memutus mata rantai iman yang harusnya terus menghunjam dalam umat Islam. Saat serangan rudal diarahkan pada Palestina, negara-negara muslim hampir tidak banyak berteriak, dan memilih diam dan tutup mulut. Pemerintah Mesir, Arab Saudi, serta negara arab yang lain bersikap bungkam. Ketika tidak ada teriakan sedikit pun dari orang orang muslim, berarti memang Islam dalam keadaan lemah saat ini. Sudah tidak memiliki kekuatan dalam lingkup internasional. Kalau kita terlihat lemah, sungguh bisa diketahui oleh mereka, bahwa memang umat Islam kini berada dalam titik nadir.
Itu pikiran yang terbersit di kalangan Yahudi dan sekutunya. Bagi kita, keadaan ini harus membekaskan pembelajaran. Keadaan ini menandakan kelemahan kita, umat Islam. Karena itu, kita berupaya menelisiki secara seksama mengapa islam lemah? Apa akar masalahnya, sehingga kita berada dalam keadaan lemah? Andaikan kita kuat tentu saja Israel tidak semena-mena membantai saudara-saudara kita di Palestina. Pun andaikan umat Islam kuat, tentu saja AS tidak bakal menghancurkan Irak, Afganistan dan beberapa negara yang lain. Andaikan keadaan ini membuat kita makin mengerti tentang titik lemah kita, dan kita terus berusah memperbarui diri terus-menerus, maka Anda akan berani mengatakan terima kasih pada Israel. Memang kita bakal mengerti sisi lemah kita dari musuh kita. Bahkan ada pameo kalau Anda ingin mengerti tentang sisi lemah Anda, tanyakanlah pada musuh Anda. Tentu saja, musuh tidak akan memberitahukan sisi lemah kita secara terang-terangan. Tetapi mereka, akan memberitahukan lewat sikap dan tindakan mereka terhadap kita. Bagaimanapun kejayaan Yahudi, karena kelemahan kita umat Islam. Kemenangan mereka karena kekalahan kita. Bisa jadi, ada mental keliru yang telah menyusup ke dalam pikiran umat Islam. Islam yang masyhur di kalangan umat Islam, adalah Islam yang bersifat lahiriah semata, tanpa disertai oleh iman yang kuat dan kukuh.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Hati