Sabtu, 14 Februari 2009
PONARI, KEAJAIBAN DARI ALLAH
Ya Allaah. Wahai Yang Maha Menyembuhkan segala penyakit. Wahai Yang KekuasaanNya lekat pada segala sesuatu. Wahai tempat kembalinya seluruh urusan. Wahai Yang Maha Tahu rahasia dari setiap keadaan. Wahai Yang Maha menyingkirkan segala derita. Hanya padamu Ya Allah keyakinan ini tetap kami sandarkan. Ya Allah yang Maha memberikan manfaat dan mudharat, mantapkan keyakinan kami padaMu dengan beragam fenomena yang meruyak di alam ini. Wahai Yang Maha Bijaksana dari yang bijaksana, saya yakin dari setiap apa yang terlahir ke alam dunia ini telah Engkau rancang dengan sebaik-baiknya melalui kebijaksanaanMu. Hunjamkan keyakinan di hati kami padaMu Ya Rabb melalui berbagai realitas yang datang dariMu Ya Allah. Wahai Yang Maha Menjaga bagi orang yang meminta penjagaan, jagalah iman kami dan saudara-saudara kami muslimin dan mukminin, agar tetap memantapkan permintaan dan pertolongan hanya padaMu, dan andaikan ada orang yang bisa memberikan solusi dalam hidup kami, pantulkan keyakinan di hati bahwa solusi itu murni datang dariMu, dan makhluk hanyalah kanal terjadinya solusi itu. Engkaulah Yang Menahan dan Melepaskan setiap keadaan. Pautkan hati ini hanya padaMu Ya Allah, jangan sisakan ruang sedikit pun untuk bergantung pada selainMu.
Beberapa minggu ini kita disentakkan oleh berita tentang kehadiran sosok cilik, Ponari, yang disambar (ketiban) petir, dan mendapatkan kelebihan untuk menyembuhkan berbagai penyakit lewat batu “sakti”। Dalam praktiknya Ponari mencelupkan batu ponari tersebut ke dalam air, dan berikutnya diminum oleh sang pasien. Berjubel-jubel orang memadati tempat praktik Ponari. Pasien diberitakan tak hanya datang dari Jombang, juga datang dari berbagai daerah di Nusantara, bahkan datang dari luar negari demi mendapatkan pengobatan dari Ponari. Ponari yang belum mengerti halal-haram, alias belum mukallaf itu tentu perlu kita pandang sebagai sosok yang bebas dari dosa. Dan setiap langkah yang dilakukan musti masih penuh dengan keluguan, tanpa ada harapan mendapatkan apapun dari kelebihan yang diamanahkan padanya. Kita perlu merenungkan fenomena Ponari ini tidak dari sisi paranormal yang makin menyesatkan. Ketika fenomena Ponari dilihat dari sisi paranormal cenderung akan menyeret orang ke ranah kemusyrikan. Mengapa? Ya karena orang diseret pada keyakinan pada Ponari atau paranormal yang lain, bukan keyakinan pada kuasa Allah Yang Maha Segalanya.
Jika kita lemah tauhidnya, niscaya fenomena Ponari akan membikin kita terseret ke lembah kemusyrikan. Tetapi bagi orang yang tauhidnya amat mendalam, maka fenomena Ponari bakal makin menguatkan keimanan pada Allah. Allah telah menunjukkan jalan-jalan tak rasional, yang dokter pun belum bisa menjangkau tentang penyembuhan yang dilakukan oleh Ponari. Kemudian bagaimana fenomena Ponari ini bisa membuat kita makin percaya dan yakin pada Allah? Bagaimana menghindari syirik dibalik fenomena Ponari ini?Bagaimana kita bisa memungut hikmah lewat fenomena ini?
Pertama, Yakinilah kelebihan Ponari murni sebuah anugerah dari Allah. Ingatlah, Ponari tidak berjuang apapun untuk mendapatkan kelebihan tersebut. Memang anugerah itu murni datang dari Allah SWT. Dan anugerah Allah tidak bergantung pada amal dan perbuatan yang dilakukan. Anugerah Allah akan diberikan pada siapa yang dikehendaki. Kelebihan Ponari juga datang dari Allah, dan setiap kelebihan bergantung pada untuk apa dan bagaimana meresponsnya. Ketika direspons dengan kacamata iman, tentu saja akan membuat kita meyakini kebesaran Allah yang terpancar lewat makhlukNya yang bernama Ponari. Memang rahasia-rahasia Allah akan selalu ditunjukkan pada makhlukNya. Suatu yang tidak mungkin menurut hukum logika dan rasio tidak mustahil bagi Allah SWT. Bayangkan suatu yang harusnya diperoleh oleh orang-orang yang matang dan dewasa, tetapi dianugerahkan pada anak cilik yang belum mengerti apa-apa. Namanya anugerah harusnya tidak membuat kita terpaku pada anugerah tersebut, tetapi makin kokoh kebersamaan kita dengan siapa yang telah memberikan anugerah.
Perlu juga diyakini bahwa kelebihan itu ujian dari Allah. Bisa jadi ujian bagi keluarga Ponari juga bagi kita semua. Apakah kita bersikap mengeluk-elukkan Ponari bahkan menganggap Ponari memiliki kekuatan yang independent. Andaikan pemahaman itu merasuk di hati pasien Ponari, justru itu akan menyeret ke lubang kesyirikan. Tetapi ketika menganggap bahwa Ponari sebagai jalan untuk merasakan anugerah dari Allah, niscaya keadaan ini bakal mendekatkan kita pada Allah. Batu dan Ponari tidak berbeda halnya dengan tongkat bagi Nabi Musa AS. Tongkat Nabi Musa bisa menjadi ular, juga bisa membelah lautan menjadi jalan raya. Apakah umatnya Nabi Musa saat itu kemudian terbawa untuk menuhankan Nabi Musa atau tongkat itu? Tentu saja umatnya Nabi Musa makin mantap keimanannya pada Allah SWT. Harusnya melalui fenomena Ponari ini pun membuat kita makin mantap keyakinan pada Allah SWT.
Kedua, menghindari syirik. Banyak orang tidak memercayai fenomena ini, dan menganggapnya hanya sebatas sugesti. Begitulah akal-akalan orang rasional. Ingatlah saudaraku, yang membuat sakit Allah, dan yang menyembuhkan juga Allah. Tanpa izin Allah, penyakit kita tidak bakal sembuh dengan sugesti apapun. Pun ada yang bertutur fenomena ini akan melahirkan kemusyrikan. Kata ini ada benarnya, kalau meminta pengobatan Ponari tidak didasari oleh pemahaman yang jelas. Tetapi ketika dilandasi oleh keimanan dan tauhid yang kuat, niscaya syirik tidak akan menyambangi hati kita. Syirik tidak melekat pada Ponari atau batu itu. Tapi syirik itu melekat pada pikiran kita. Andaikan kita menganggap bahwa makan nasi itu yang membuat Anda kenyang, ya kita pun dipandang syirik. Nasi itu hanyalah perantara yang membuat kita kenyang, sementara yang membuat kita kenyang adalah Allah SWT. Pun kalau ada orang yang berkeyakinan bahwa yang menyembuhkan itu dokter dan obat, justru dia telah syirik. Karena pada hakikatnya yang membuat dia sembuh adalah Allah SWT, asy-Syafi. Tidak ada yang bisa mendatangkan mudharat dan manfaat kecuali Allah SWT. Karena itu, bolehlah pikiran dan dhahir kita berusaha untuk mendapatkan pengobatan dari sakit yang kita derita, tetapi hati kita tetap penuh tawakkal dan ridha pada Allah SWT. Percayalah semua keadaan tidak lepas dari kehendak Allah SWT.
Ketiga, memulung hikmah fenomena Ponari. Setiap keadaan melahirkan hikmah bagi orang-orang beriman. Kiranya apa pelajaran yang bisa diperoleh dari fenomena Ponari ini? Sesungguhnya anugerah Allah amat luas, dan akan diberikan pada siapapun yang dikehendaki. Dan setiap anugerah itu kadang tersimpan dibalik suatu yang tidak kita sukai. Anda tahu, Ponari mendapatkan anugerah itu setelah disambar petir. Petir suatu yang tidak disukai siapapun, tetapi ternyata petir itu mengundang adanya hujan. Petir suatu yang tak disukai, tetapi hujan suatu yang diharapkan. Petir tidak disukai, tetapi “melahirkan” Ponari yang dengan izin Allah bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Allah telah mengizinkan dia bisa menyembuhkan siapa yang dikehendaki oleh Allah untuk sembuh. Karena itu, kita jangan memikirkan kebaikan hanya di atas keindahan keadaan, bahkan kita bisa merenungi kebaikan dibalik keadaan yang sembrawut dan tak karuan. Bagaimana anak yang diharapkan tersembunyi dibalik beban kehamilan yang begitu berat yang ditanggung oleh seorang perempuan. Kegeniusan berada dibalik belajar yang tekun dan tafakkur yang bersungguh-sungguh. Bahkan naiknya derajat kita bergantung dengan banyaknya tantangan yang bisa kita lewati. Tantangan suatu yang kadang tak disukai, tetapi dibalik tantangan itulah kesuksesan tengah menunggu. Pun untuk mencapai puncak gunung orang harus mendaki, sebuah jalan yang amat meletihkan. Apakah kita bisa sukses tanpa usaha? Ya, usaha tidak menentukan kesuksesan seseorang. Bahkan ada orang yang tidak berusaha bisa sukses. Hanya sedikit jumlahnya. Tapi kita harus berikhtiar untuk mencapai sukses sebagai bagian dari sunnah Rasulullah Saw. Apa Allah selalu memberikan suatu yang diinginkan dibalik sesuatu yang tidak diinginkan? Ya, karena saat kita mampu melewati tantangan dan berhasil mencapai puncak kesuksesan, justru kita bakal merasakan keindahan dan kebahagiaannya. Ada dua orang mendapatkan uang Rp. 100.000, yang satu mendapatkan lewat orang lain, dan yang kedua mendapatkan lewat usahanya sendiri. dimana dari dua orang tersebut yang begitu bahagia. Tentu kebahagiaan dan kepuasaan batin lebih bergemuruh di dada orang yang kedua. Karena dia mendapatkan uang itu dengan jerih payah.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Jumat, 13 Februari 2009
CINTA, SEBUAH KESADARAN TERTINGGI
Cinta sebuah tema yang tak pernah terkikis oleh perubahan zaman. Walau kita tengah memasuki sebuah zaman yang serba penuh egoisme, dan mengedepankan kepentingan diri sendiri, tetapi cinta masih tetap menjadi trend yang menghiasi balantika kehidupan ini. Ingatlah, cinta pada hakikatnya bukankah teriakan hawa nafsu, tetapi teriakan yang dihantarkan oleh fitrah manusia yang suci murni. Hanya saja, kadang karena tema cinta didefinisikan oleh pikiran dan digoreskan dengan tinta hawa nafsu, jadinya cinta itu hanya sebagai alat untuk pemenuhan diri semata. Bayangkan, ada sepasang sejoli yang silau dalam permainan cinta. Atas nama cinta, dia harus melepaskan seluruh keindahan yang harusnya dipersembahkan di malam pertama setelah pernikahan.
Betapa banyak anak muda atas nama cinta, menikah karena ditimpa aksiden yang amat dimurkai Allah. Hakikatnya cinta itu suci, menjadi kotor karena perilaku cinta orang-orang yang tidak mengenali cinta dengan bijaksana. Hingga betapa banyak orang yang mendistorsi makna cinta dengan perilaku-perilaku hawa nafsu yang sama sekali tidak menyusupkan kebahagiaan. Manakala cinta didorong oleh kesadaran rendah hawa nafsu, pada hakikatnya tindakan itu tidak dihiasi oleh cinta, bahkan tindakan itu bakal menghancurkan cinta. Bagaimana kita bisa menemukan cinta sebagai kesadaran tertinggi?
Hidup ini adalah sadar. Kesadaran primer manusia adalah sadar pada dirinya sendiri. Mengenali dirinya sendiri. Ketika kita bisa mengenali diri sendiri dengan baik, maka kita berhasil memantik potensi cinta yang terpendam dalam hati kita. Kalau kita melulu berusaha mengasah kesadaran kita dengan tafakkur yang makin mendalam, maka saat itu api cinta akan menyala dengan sendirinya. Hanya cinta yang dihasilkan dari tafakur yang bisa melahirkan cinta hakki. Sementara cinta yang didorong oleh hawa nafsu hanya melulu menyempitkan jiwa. Cinta yang dilahirkan melalui rahim tafakkur ini niscaya mengalirkan kesakinahan yang kontinu ke dalam hati. Mengapa cinta bisa diperoleh dengan tafakkur? Kalau kita terus menggali sisi kebaikan dari apa yang dianugerahkan Allah pada kita, niscaya api cinta ini akan berkobar begitu dahsyat.
Renungkanlah beberapa piranti organ yang melekat di tubuh kita, dari tangan, kaki, mata, telinga, mulut, berikut kenikmatan yang melekat di beberapa piranti tersebut. Ketika kita menghitungnya, sungguh anugerah Allah itu tidak bisa dihitung. Keberadaan tangan sendiri adalah nikmat, dan bermanfaatnya tangan ke jalan yang diridhai Allah pun kenikmatan yang lebih besar. Mata sendiri sebuah kenikmatan, dan melihat keindahan yang diridhai Allah juga adalah kenikmatan yang lebih besar. Saat tafakkur itu terus mencahayai hati kita, niscaya kita tidak pernah henti-hatinya mengungkapkan rasa syukur pada Allah SWT. Dan syukur itu sendiri adalah pengejawantahan dari rasa cinta.
Manakala cinta telah menghiasi batin kita, maka kita sudah tak pernah mengukur keadaan dengan tongkat logika lagi. Ketika cinta telah menguasai hati kita, maka logika sudah tidak ampuh lagi untuk memahami kehidupan. Logika telah didominasi oleh rasa. Dan rasa sendiri sudah tidak bisa dilogikakan. Bagaimana mungkin Anda bisa merasionalisasikan keadaan bahagia Anda. Saya yakin, walau Anda bisa menuliskan dengan kata-kata yang begitu sempurna, Anda tidak bisa melukiskan dengan utuh tentang kondisi kebahagiaan yang menghiasi batin Anda. Pun orang lain, tidak bisa memahami kebahagiaan dengan logikanya, hanya kalau diajak merasakan. Tetapi rasa sendiri bersifat amat personal, tak bisa dijalani bersama-sama. Baru orang bisa merasakan kebahagiaan bersama-sama, jika Allah telah menyatukan mereka dalam satu frekuensi. Walau demikian, dia tidak bisa melukiskan perasaan itu pada temannya dengan tepat.
Pun rasa cinta tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, hingga dengan kecerdasan apapun orang tidak bisa menyuguhkan kelezatan cinta pada orang lain. Karena rasa cinta itu tidak bisa hanya dibayangkan. Harus dialami. Cinta telah melampaui pengetahuan dan kesadaran, bahkan berada di puncak kesadaran itu sendiri. Cinta bukan ide, tetapi pengalaman yang terserap dalam hati kita. Agar Anda bisa merasakan cinta itu, maka perlu terus Anda memahami dan menyelami kronik-kronik anugerah Allah yang terhampar luas di negari dunia ini. Makin mengkristal daya tafakkur kita, niscaya kita bakal menemukan kedahsyatan cinta bersemedi dalam hati kita. Dan yakinilah, ketika hati kita telah berbalutkan cinta, maka kita telah mencapai kesadaran tertinggi. Kesadaran sebagai manusia sempurna. Sempurna karena fitrah Anda telah merasakan percintaan agung dengan Allah SWT. Wallahu A’lam Bis Showaab.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Betapa banyak anak muda atas nama cinta, menikah karena ditimpa aksiden yang amat dimurkai Allah. Hakikatnya cinta itu suci, menjadi kotor karena perilaku cinta orang-orang yang tidak mengenali cinta dengan bijaksana. Hingga betapa banyak orang yang mendistorsi makna cinta dengan perilaku-perilaku hawa nafsu yang sama sekali tidak menyusupkan kebahagiaan. Manakala cinta didorong oleh kesadaran rendah hawa nafsu, pada hakikatnya tindakan itu tidak dihiasi oleh cinta, bahkan tindakan itu bakal menghancurkan cinta. Bagaimana kita bisa menemukan cinta sebagai kesadaran tertinggi?
Hidup ini adalah sadar. Kesadaran primer manusia adalah sadar pada dirinya sendiri. Mengenali dirinya sendiri. Ketika kita bisa mengenali diri sendiri dengan baik, maka kita berhasil memantik potensi cinta yang terpendam dalam hati kita. Kalau kita melulu berusaha mengasah kesadaran kita dengan tafakkur yang makin mendalam, maka saat itu api cinta akan menyala dengan sendirinya. Hanya cinta yang dihasilkan dari tafakur yang bisa melahirkan cinta hakki. Sementara cinta yang didorong oleh hawa nafsu hanya melulu menyempitkan jiwa. Cinta yang dilahirkan melalui rahim tafakkur ini niscaya mengalirkan kesakinahan yang kontinu ke dalam hati. Mengapa cinta bisa diperoleh dengan tafakkur? Kalau kita terus menggali sisi kebaikan dari apa yang dianugerahkan Allah pada kita, niscaya api cinta ini akan berkobar begitu dahsyat.
Renungkanlah beberapa piranti organ yang melekat di tubuh kita, dari tangan, kaki, mata, telinga, mulut, berikut kenikmatan yang melekat di beberapa piranti tersebut. Ketika kita menghitungnya, sungguh anugerah Allah itu tidak bisa dihitung. Keberadaan tangan sendiri adalah nikmat, dan bermanfaatnya tangan ke jalan yang diridhai Allah pun kenikmatan yang lebih besar. Mata sendiri sebuah kenikmatan, dan melihat keindahan yang diridhai Allah juga adalah kenikmatan yang lebih besar. Saat tafakkur itu terus mencahayai hati kita, niscaya kita tidak pernah henti-hatinya mengungkapkan rasa syukur pada Allah SWT. Dan syukur itu sendiri adalah pengejawantahan dari rasa cinta.
Manakala cinta telah menghiasi batin kita, maka kita sudah tak pernah mengukur keadaan dengan tongkat logika lagi. Ketika cinta telah menguasai hati kita, maka logika sudah tidak ampuh lagi untuk memahami kehidupan. Logika telah didominasi oleh rasa. Dan rasa sendiri sudah tidak bisa dilogikakan. Bagaimana mungkin Anda bisa merasionalisasikan keadaan bahagia Anda. Saya yakin, walau Anda bisa menuliskan dengan kata-kata yang begitu sempurna, Anda tidak bisa melukiskan dengan utuh tentang kondisi kebahagiaan yang menghiasi batin Anda. Pun orang lain, tidak bisa memahami kebahagiaan dengan logikanya, hanya kalau diajak merasakan. Tetapi rasa sendiri bersifat amat personal, tak bisa dijalani bersama-sama. Baru orang bisa merasakan kebahagiaan bersama-sama, jika Allah telah menyatukan mereka dalam satu frekuensi. Walau demikian, dia tidak bisa melukiskan perasaan itu pada temannya dengan tepat.
Pun rasa cinta tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, hingga dengan kecerdasan apapun orang tidak bisa menyuguhkan kelezatan cinta pada orang lain. Karena rasa cinta itu tidak bisa hanya dibayangkan. Harus dialami. Cinta telah melampaui pengetahuan dan kesadaran, bahkan berada di puncak kesadaran itu sendiri. Cinta bukan ide, tetapi pengalaman yang terserap dalam hati kita. Agar Anda bisa merasakan cinta itu, maka perlu terus Anda memahami dan menyelami kronik-kronik anugerah Allah yang terhampar luas di negari dunia ini. Makin mengkristal daya tafakkur kita, niscaya kita bakal menemukan kedahsyatan cinta bersemedi dalam hati kita. Dan yakinilah, ketika hati kita telah berbalutkan cinta, maka kita telah mencapai kesadaran tertinggi. Kesadaran sebagai manusia sempurna. Sempurna karena fitrah Anda telah merasakan percintaan agung dengan Allah SWT. Wallahu A’lam Bis Showaab.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
VALENTINE DAY, PERTUNJUKAN CINTA SEMU
Setiap cinta menghadirkan pemujaan dan pengorbanan. Apa yang harus dikorbankan dalam cinta? Cinta hanya bisa mengorbankan suatu yang melekat dan menjadi monster bagi diri sendiri, yaitu hawa nafsu. Setiap aktivitas atau tindakan yang bersandar pada kepentingan dan pemenuhan diri sendiri, masih amat lekat dengan hawa nafsu. Cinta sejati adalah cinta yang mengorbankan diri sendiri untuk yang kita cintai. Kepuasan terletak ketika kita bisa memuaskan orang lain yang membawa kebahagiaan dalam batin setiap diri kita. Ingatlah, memberi apalagi berkorban suatu tindakan yang amat sulit dipraktikkan. Dan hanya orang-orang yang telah berhasil melenyapkan hawa nafsunya yang bisa mempersembahkan suatu dengan ikhlas. Cinta sejati hanya disandarkan pada kebenaran sejati yang datang dari Tuhan, yang kemudian diwakili oleh sanubari terdalam yang tidak pernah jemu memberikan nasihat pada kita. Andaikan kita hendak melakukan suatu yang terlarang, tentu hati nurani ini sudah memberikan saran pada kita, tetapi karena hawa nafsu kita lebih kuat menguasai seluruh aktivitas kita, tak ayal seruan fitrah diterabas.
Valentine day, sebuah ajang terjadinya cinta terlarang. Mengapa disebut cinta terlarang? Ya karena cinta yang terjalin tidak melahirkan kasih sayang sejati, tak lebih sebatas cinta untuk menyalurkan hasrat hawa nafsu yang sempit dan egois. Cinta sejati adala spirit cinta yang disandarkan pada kesadaran atas ilahi, dengan cara mengikuti seluruh seruan yang dihantarkan oleh fitrah. Sekali lagi dihantarkan fitrah, bukan hawa nafsu. Jika kita mencintai orang lain, maka kita selalu menjaga agar diri kita tidak menyakiti hatinya, pun tidak melakukan sesuatu apapun yang membuat dia melanggar dan menjadi kotor di hadapan Tuhan.
Namun, faktanya ternyata valentine day dijadikan sebuah pentas terbuka seks bebas di kalangan anak muda yang telah merajut kasih sayang yang semu. Tepat di tanggal 14 Februari, mereka telah membuat rencana untuk rekreasi atau menginap di tempat yang eksotis yang membuka terjadinya hubungan gelap. Ya, hubungan gelap yang membuat hatinya makin pekat, dan mempurukkannya ke dalam kubangan derita terus-menerus. Betapa banyak di hari valentine itu gadis, sebagai calon ibu yang bisa mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang brillian dan berakhlak mulia, telah menjatuhkan dirinya dalam kegelapan perzinahan. Mereka berani melepaskan keperawanannya pada orang yang katanya mencintainya. Mereka berani memberikan yang paling terhormat dari seorang perempuan itu, karena alasan cinta. Sembari mereka berdalih, bukankah sang pencinta akan memberikan segala apapun untuk yang dicintainya? Ingatlah saudaraku, cinta yang mengabaikan suara fitrah, tak lebih hanya cinta binatang. Setiap cinta yang dilandasi oleh semangat binatang tidak bakal mengalirkan kebahagiaan di hati kita, bahkan sebatas menyisakan derita sepanjang masa. Setiap pasangan, terlebih gadis, yang telah dilucuti keperawanannya tanpa lewat pernikahan, sungguh akan terus didera perasaan takut. Bahkan diam-diam dia terus digolak oleh perasaan bersalah. Memang orang yang telah jatuh dalam perbuatan zina, dia sulit bisa mendapatkan cahaya kebahagiaan sejati. Ya begitulah, ketika orang memandang konsepsi cinta dengan keliru, justru akan melahirkan tindakan yang keliru. Dan setiap tindakan yang keliru pasti akan membekaskan kecemasan dan kesedihan dalam hidup.
Andaikan orang terjebak melakukan zina, maka sungguh Tuhan dan seluruh alam raya ini ikut mengutuknya. Siapapun yang dikutuk maka akan terus dipimpin kegelisahan demi kegelisahan. Keyakinan diri pun copot, rasa sedih menjadi kekal di dalam hati. Memang apapun, yang dibimbing oleh hawa nafsu, kenikmatannya hanya terasa saat melakukan, tetapi setelah mengerjakan, justru virus kesedihan menular makin besar memenuhi ruang batin. Karena itu, menjaga diri agar kita terpuruk ke dalam lembah perzinahan menjadi tanggung jawab kita semua. Orang tua menjaga betul pergaulan anak-anaknya agar tidak terjerumus pada dataran kegelapan tersebut, lingkungan juga tidak memberikan peluang terjadinya perzinahan di kalangan anak muda.
Memang valentine day, tidak memiliki relevansi sama sekali dengan agama. Agama mengajarkan cinta yang berlandaskan pada agama dan ketuhanan. Cinta kita pada seluruh makhluk, tak terkecuali pada kekasih kita harus bertumpu di atas kesadaran cinta pada Tuhan. Andaikan cinta kita pada kekasih tidak didasari oleh rasa cinta pada Tuhan, justru itulah awal terjadinya distorsi dalam cinta. Dan ketika orang melakukan zina atas nama cinta, sungguh itu bukanlah cinta sejati. Sebatas cinta semu dan gombal semata. Betapa banyak gadis ditinggal oleh pasangan prianya, setelah merasakan dan melahap seluruh kenikmatan si gadis tersebut, bahkan setelah dia meninggalkan janin yang dihasilkan dari hubungan intim tersebut.
Berhati-hatilah dengan valentine, karena ketika Anda menghormati valentine, berarti Anda berpeluang merusak kehormatan Anda yang paling hakiki. Jangan biarkan seorang pun menyentuh Anda, apalagi berhubungan intim dengan Anda, sebelum pintu pernikahan itu telah dilewati. Hanya melalui pernikahan kita bisa membangun sebuah pasangan hidup sejati. Di luar itu hanyalah penderitaan.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Valentine day, sebuah ajang terjadinya cinta terlarang. Mengapa disebut cinta terlarang? Ya karena cinta yang terjalin tidak melahirkan kasih sayang sejati, tak lebih sebatas cinta untuk menyalurkan hasrat hawa nafsu yang sempit dan egois. Cinta sejati adala spirit cinta yang disandarkan pada kesadaran atas ilahi, dengan cara mengikuti seluruh seruan yang dihantarkan oleh fitrah. Sekali lagi dihantarkan fitrah, bukan hawa nafsu. Jika kita mencintai orang lain, maka kita selalu menjaga agar diri kita tidak menyakiti hatinya, pun tidak melakukan sesuatu apapun yang membuat dia melanggar dan menjadi kotor di hadapan Tuhan.
Namun, faktanya ternyata valentine day dijadikan sebuah pentas terbuka seks bebas di kalangan anak muda yang telah merajut kasih sayang yang semu. Tepat di tanggal 14 Februari, mereka telah membuat rencana untuk rekreasi atau menginap di tempat yang eksotis yang membuka terjadinya hubungan gelap. Ya, hubungan gelap yang membuat hatinya makin pekat, dan mempurukkannya ke dalam kubangan derita terus-menerus. Betapa banyak di hari valentine itu gadis, sebagai calon ibu yang bisa mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang brillian dan berakhlak mulia, telah menjatuhkan dirinya dalam kegelapan perzinahan. Mereka berani melepaskan keperawanannya pada orang yang katanya mencintainya. Mereka berani memberikan yang paling terhormat dari seorang perempuan itu, karena alasan cinta. Sembari mereka berdalih, bukankah sang pencinta akan memberikan segala apapun untuk yang dicintainya? Ingatlah saudaraku, cinta yang mengabaikan suara fitrah, tak lebih hanya cinta binatang. Setiap cinta yang dilandasi oleh semangat binatang tidak bakal mengalirkan kebahagiaan di hati kita, bahkan sebatas menyisakan derita sepanjang masa. Setiap pasangan, terlebih gadis, yang telah dilucuti keperawanannya tanpa lewat pernikahan, sungguh akan terus didera perasaan takut. Bahkan diam-diam dia terus digolak oleh perasaan bersalah. Memang orang yang telah jatuh dalam perbuatan zina, dia sulit bisa mendapatkan cahaya kebahagiaan sejati. Ya begitulah, ketika orang memandang konsepsi cinta dengan keliru, justru akan melahirkan tindakan yang keliru. Dan setiap tindakan yang keliru pasti akan membekaskan kecemasan dan kesedihan dalam hidup.
Andaikan orang terjebak melakukan zina, maka sungguh Tuhan dan seluruh alam raya ini ikut mengutuknya. Siapapun yang dikutuk maka akan terus dipimpin kegelisahan demi kegelisahan. Keyakinan diri pun copot, rasa sedih menjadi kekal di dalam hati. Memang apapun, yang dibimbing oleh hawa nafsu, kenikmatannya hanya terasa saat melakukan, tetapi setelah mengerjakan, justru virus kesedihan menular makin besar memenuhi ruang batin. Karena itu, menjaga diri agar kita terpuruk ke dalam lembah perzinahan menjadi tanggung jawab kita semua. Orang tua menjaga betul pergaulan anak-anaknya agar tidak terjerumus pada dataran kegelapan tersebut, lingkungan juga tidak memberikan peluang terjadinya perzinahan di kalangan anak muda.
Memang valentine day, tidak memiliki relevansi sama sekali dengan agama. Agama mengajarkan cinta yang berlandaskan pada agama dan ketuhanan. Cinta kita pada seluruh makhluk, tak terkecuali pada kekasih kita harus bertumpu di atas kesadaran cinta pada Tuhan. Andaikan cinta kita pada kekasih tidak didasari oleh rasa cinta pada Tuhan, justru itulah awal terjadinya distorsi dalam cinta. Dan ketika orang melakukan zina atas nama cinta, sungguh itu bukanlah cinta sejati. Sebatas cinta semu dan gombal semata. Betapa banyak gadis ditinggal oleh pasangan prianya, setelah merasakan dan melahap seluruh kenikmatan si gadis tersebut, bahkan setelah dia meninggalkan janin yang dihasilkan dari hubungan intim tersebut.
Berhati-hatilah dengan valentine, karena ketika Anda menghormati valentine, berarti Anda berpeluang merusak kehormatan Anda yang paling hakiki. Jangan biarkan seorang pun menyentuh Anda, apalagi berhubungan intim dengan Anda, sebelum pintu pernikahan itu telah dilewati. Hanya melalui pernikahan kita bisa membangun sebuah pasangan hidup sejati. Di luar itu hanyalah penderitaan.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Kamis, 12 Februari 2009
RAHASIA REZEKI
Wahai yang memberikan rezeki pada seluruh makhluk, baik yang berada di daratan, lautan, di angkasa, dan bahkan di dasar bumi sekalipun. Wahai Yang Maha Penyayang dari setiap yang penyayang. Wahai yang semua urusan bersandar dan dikembalikan padaNya. Wahai Yang Maha Menepati setiap janjiNya. Tiada Tuhan selain Engkau Ya Allaaah. Tiada yang bisa membuat kami hidup dan mati kecuali Engkau Ya Allaah. Bimbinglah keyakinan kami atas setiap janji-janjiMu. Teguhkanlah keyakinan kami akan rezeki yang telah dijatah olehMu. Jauhkanlah dari kami rasa ragu tentang pemeliharaanMu Ya Allaah. Setiap hari kita terus bergulat dengan persoalan rezeki. Karena lemahnya keyakinan pada jaminan dan pemeliharaan Allah banyak diantara kita menempuh jalan-jalan hina untuk mendapatkan rezeki.
Ingatlah saudaraku, rezeki kita tidak pernah berubah, menjadi makin sedikit atau bertambah banyak. Allah telah menakar rezeki kita sesuai dengan kebijaksanaanNya. Andaikan hidup masih dirasakan kita. Andaikan nafas masih berfungsi. Andaikan mulut dan perut masih dimiliki, yakinlah Allah telah menyediakan rezeki kita secara sempurna. Jangalah tergesa-gesa untuk mendapatkan rezeki dari Allah, karena kalau sudah waktunya Anda bakal mendapatkan rezeki itu. Allah Maha Kuasa untuk menentukan rezeki bagi kita, dan tiada yang bisa menghalangi ketika Allah berkehendak, dan tidak ada yang bisa melepaskan rezeki, ketika Allah hendak menahan rezeki kita. Dialah Yang membuka dan menutup pintu rezeki.
Ketika kanker keraguan masih menyusupi hati, kita cenderung panik dengan sedikit kesulitan rezeki yang menimpa. Bahkan kesedihan kita hanya berasal dari persoalan rezeki duniawi ini, sehingga gagal untuk mengumpulkan bekal hidup di akhirat. Betapa banyak saudara-saudara kita yang bekerja pagi hingga malam hari untuk sebatas memenuhi kebutuhan fisik. Bahkan tak jarang mereka lupa akan kewajibannya sebagai hamba. Karena tenggelam dengan mencari rezeki, hingga lupa sholat. Padahal sholat sendiri adalah pembuka pintu rezeki yang lain. Sebagai nasehat Nabi Muhammad Saw pada Abu Hurairah, “Wahai Abu Hurairah, perintahanlah keluargamu untuk shalat, maka sesungguhnya Allah akan mendatangkan rezeki padaMu dari jalan yang tak disangka-sangka.” Manakala orang telah memperhatikan hak-hak Allah, niscaya Allah Yang Maha Dekat dengan orang yang berbuat baik, pasti akan memberikan yang lebih baik lagi. Tiada kekurangan rezeki orang yang selalu mendekatkan hidupnya pada Allah SWT.
Pun perlu ditanamkan dalam dasar kesadaran kita, bahwa rezeki itu akan tetap mengalir bagi ketika selama nafas masih berada di kerongkongan. Allah telah menentukan jatah rezeki kita, dari sejak kandungan hingga kematian menjemput. Rasulullah Saw bersabda, “Wahai seluruh manusia, sesungguhnya salah satu kamu sekalian tidak akan mati sehingga sempurna rezekinya, maka karena itu janganlah Anda menganggap lambat datangnya rezeki. Dan bertakwalah pada Allah serta perindahlah dalam mencarinya niscaya Anda akan mendapatkan sesuatu yang halal bagimu dan menghindari dari sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT. “ Berbicara soal rezeki tidak hanya terkait dengan pengetahuan fiqih yang menentukan halal haram, tetapi harus disertai dengan tauhid yang mendalam. Kadang karena tauhid yang lemah membuat orang memburu rezeki yang tidak diridhai oleh Allah SWT. Banyak dari kita menyangka, bahwa rezeki itu hanya bisa didapatkan dengan berusaha. Ingatlah saudaraku, rezeki itu sudah dijatah oleh Allah. Soal usaha yang Anda lakukan bukanlah hal mutlak sampainya rezeki padamu. Andaikan Anda menganggap usaha itu yang membikin sampanya rezeki padamu, sungguh Anda telah jatuh dalam keadaan kafir. Karena Anda tidak melihat Allah sedikit pun, Sang Pemberi Rezeki, yang menyalurkan rezeki padamu. Pun kalau Anda memandang karena Allah dan usahamu itu yang bisa mendatangkan rezeki, maka berarti Anda telah syirik pada Allah SWT. Tepatnya, Anda telah menyekutukan Yang Maha Pemberi Rezeki dengan usaha atau kekuatanmu. Tetapi perlu disadari, Rezeki itu datang dan telah ditetapkan oleh Allah, sementara usaha hanya sebagai kanal atau sebab dzahir sampainya rezeki pada kita. Walau pun ada sebagian orang yang rezekinya tidak melalui jalan usaha.
Perlulah kiranya ditanamkan dalam keyakinan kita, bahwa rezeki telah menjadi janji Allah, atau urusan Allah SWT, bukan urusan kita. Yang perlu kita urus dari kita adalah bagaimana kita bisa memenuhi hak-hak Allah, atau bagaimana semangat kita untuk bisa memerhatikan Allah lebih besar lagi. Ingatlah, makin besar perhatian Anda pada Allah, niscaya Allah pun bakal makin besar perhatianNya pada Anda. Ketika kita sudah diperhatikan dan diridhai oleh Allah SWT, maka ladang kehidupan ini hanya memberikan kelapangan dan kebahagiaan bagi kita. Wallahu a’lam Bis Showaab.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Ingatlah saudaraku, rezeki kita tidak pernah berubah, menjadi makin sedikit atau bertambah banyak. Allah telah menakar rezeki kita sesuai dengan kebijaksanaanNya. Andaikan hidup masih dirasakan kita. Andaikan nafas masih berfungsi. Andaikan mulut dan perut masih dimiliki, yakinlah Allah telah menyediakan rezeki kita secara sempurna. Jangalah tergesa-gesa untuk mendapatkan rezeki dari Allah, karena kalau sudah waktunya Anda bakal mendapatkan rezeki itu. Allah Maha Kuasa untuk menentukan rezeki bagi kita, dan tiada yang bisa menghalangi ketika Allah berkehendak, dan tidak ada yang bisa melepaskan rezeki, ketika Allah hendak menahan rezeki kita. Dialah Yang membuka dan menutup pintu rezeki.
Ketika kanker keraguan masih menyusupi hati, kita cenderung panik dengan sedikit kesulitan rezeki yang menimpa. Bahkan kesedihan kita hanya berasal dari persoalan rezeki duniawi ini, sehingga gagal untuk mengumpulkan bekal hidup di akhirat. Betapa banyak saudara-saudara kita yang bekerja pagi hingga malam hari untuk sebatas memenuhi kebutuhan fisik. Bahkan tak jarang mereka lupa akan kewajibannya sebagai hamba. Karena tenggelam dengan mencari rezeki, hingga lupa sholat. Padahal sholat sendiri adalah pembuka pintu rezeki yang lain. Sebagai nasehat Nabi Muhammad Saw pada Abu Hurairah, “Wahai Abu Hurairah, perintahanlah keluargamu untuk shalat, maka sesungguhnya Allah akan mendatangkan rezeki padaMu dari jalan yang tak disangka-sangka.” Manakala orang telah memperhatikan hak-hak Allah, niscaya Allah Yang Maha Dekat dengan orang yang berbuat baik, pasti akan memberikan yang lebih baik lagi. Tiada kekurangan rezeki orang yang selalu mendekatkan hidupnya pada Allah SWT.
Pun perlu ditanamkan dalam dasar kesadaran kita, bahwa rezeki itu akan tetap mengalir bagi ketika selama nafas masih berada di kerongkongan. Allah telah menentukan jatah rezeki kita, dari sejak kandungan hingga kematian menjemput. Rasulullah Saw bersabda, “Wahai seluruh manusia, sesungguhnya salah satu kamu sekalian tidak akan mati sehingga sempurna rezekinya, maka karena itu janganlah Anda menganggap lambat datangnya rezeki. Dan bertakwalah pada Allah serta perindahlah dalam mencarinya niscaya Anda akan mendapatkan sesuatu yang halal bagimu dan menghindari dari sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT. “ Berbicara soal rezeki tidak hanya terkait dengan pengetahuan fiqih yang menentukan halal haram, tetapi harus disertai dengan tauhid yang mendalam. Kadang karena tauhid yang lemah membuat orang memburu rezeki yang tidak diridhai oleh Allah SWT. Banyak dari kita menyangka, bahwa rezeki itu hanya bisa didapatkan dengan berusaha. Ingatlah saudaraku, rezeki itu sudah dijatah oleh Allah. Soal usaha yang Anda lakukan bukanlah hal mutlak sampainya rezeki padamu. Andaikan Anda menganggap usaha itu yang membikin sampanya rezeki padamu, sungguh Anda telah jatuh dalam keadaan kafir. Karena Anda tidak melihat Allah sedikit pun, Sang Pemberi Rezeki, yang menyalurkan rezeki padamu. Pun kalau Anda memandang karena Allah dan usahamu itu yang bisa mendatangkan rezeki, maka berarti Anda telah syirik pada Allah SWT. Tepatnya, Anda telah menyekutukan Yang Maha Pemberi Rezeki dengan usaha atau kekuatanmu. Tetapi perlu disadari, Rezeki itu datang dan telah ditetapkan oleh Allah, sementara usaha hanya sebagai kanal atau sebab dzahir sampainya rezeki pada kita. Walau pun ada sebagian orang yang rezekinya tidak melalui jalan usaha.
Perlulah kiranya ditanamkan dalam keyakinan kita, bahwa rezeki telah menjadi janji Allah, atau urusan Allah SWT, bukan urusan kita. Yang perlu kita urus dari kita adalah bagaimana kita bisa memenuhi hak-hak Allah, atau bagaimana semangat kita untuk bisa memerhatikan Allah lebih besar lagi. Ingatlah, makin besar perhatian Anda pada Allah, niscaya Allah pun bakal makin besar perhatianNya pada Anda. Ketika kita sudah diperhatikan dan diridhai oleh Allah SWT, maka ladang kehidupan ini hanya memberikan kelapangan dan kebahagiaan bagi kita. Wallahu a’lam Bis Showaab.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
KENIKMATAN ADALAH MENGALAMI
Setiap keadaan netral. Kaya harta duniawi pada hakikatnya netral. Anda dianugerahi rumah juga netral. Dianugerahi istri yang cantik disertai anak-anak yang lucu-lucu juga suatu keadaan yang netral. Setiap keadaan yang mengitari kehidupan kita telah menjadi ketentuan Allah bagi kita. Anda pun bisa makan hari ini pada hakikatnya bersifat netral. Allah tidak pernah mengorek anugerah yang diberikan, tetapi Allah akan melihat apakah kita termasuk orang yang bersyukur atau kufur pada anugerahNya. Banyak orang hidup di rumah yang gemerlap, dihiasi oleh ornament-ornamen mahal, dilengkapi dengan bioskop rumah, tetapi tidak terasa ada getaran kebahagiaan yang menyapa keluarga tersebut.
Kalau dilihat dari kemegahan hidup yang telah diperoleh, harusnya mereka memiliki banyak alasan untuk hidup bahagia. Tetapi mengapa tidak pernah merasakan bahagia. Bahkan dia baru merasakan senang, ketika dia keluar dari rumah, sehingga dia harus makan di sebuah restoran. Mereka tidak menyukai masakan rumah yang sama sekali tidak terkesan favorit. Kalau mereka makan saja harus keluar dari rumah, berarti kenikmatan makanan tidak terasa dalam rumah. Kalau kenikmatan tidak terasa dalam rumah, berarti tidak ada dari isi rumah yang bisa memantik kebahagiaan dari satu sama lain. Di rumah telah disediakan LCD TV dengan layar lebar, seperti bioskop. Pun mereka telah membeli kaset-kaset film yang luar biasa, tetapi mereka masih juga tergerak untuk melihat film di bioskop kenamaan. Anak-anak telah dibelikan dengan mainan-mainan favorit dan game-game yang begitu mengasyikkan, tetapi mereka masih juga diajak untuk bermain di tempat-tempat hiburan eksotis untuk mendapatkan layanan mainan yang mahal.
Mengapa mereka tidak bisa menikmati kekayaan yang melimpah, rumah megah penuh gemerlap lampion, dan anak-anak yang bisa menjadi hiasan? Jawabannya, mereka tidak benar-benar mengalami keadaan itu. Dia hanya merasakan permukaan dari keadaan, tidak bisa menguak hakikat dari keadaan tersebut. Andaikan mereka bisa menguak dan menelusuri .dengan kejernihan akan anugerah yang melimpah itu, niscaya dia bakal merasakan kebahagiaan yang tiada tara dengan keadaan tersebut. Ketika kekayaan, istri dan anak-anak tidak lagi menawarkan kebahagiaan dalam hidup kita, berarti kenikmatan batin dari itu semua telah dicabut oleh Allah SWT. Kenikmatan lahiriah terasa melimpah, tetapi kenikmatan kering menjadi kosong. Mengapa bisa kosong? Karena di dalam hatinya tidak ada iman. Padahal hanya iman yang membikin suatu keadaan memiliki makna bagi kita.
Suatu ketika, ada orang yang disuguhi hidangan begitu lezat, dan bagi orang yang hanya melihat dari jarak jauh, meyakini bahwa orang tersebut bisa merasakan kelezatan dari hidangan tersebut, bahkan orang itu berandai-andai diajak menemaninya makan. Tetapi, karena dia sedang memikirkan sebuah persoalan yang amat kompleks, makanan yang begitu lezat itu terkesan tidak lezat, terlihat dari cara makannya yang tidak menunjukkan gairah blas. Makanan itu sejatinya lezat, yang tidak lezat itu adalah pikiran orang tersebut yang masih dihantam oleh sekian masalah. Dia tidak benar-benar mengalami dan masuk dalam kelezatan makanan itu, hingga dia tidak merasakan kelezatan menu yang dihidangkan itu. Dia bisa membeli makanan yang enak, tetapi dia tidak bisa membeli hati yang enak dan pikiran yang jernih. Berarti yang menjadikan suatu keadaan itu enak, karena pikiran dan hati kita tidak bermasalah, bahkan tengah dihiasi oleh perasaan syukur yang terus menyala.
Kalau kita mau mengalami setiap keadaan dengan hati yang bersih, sungguh dari setiap keadaan itu bakal menghadirkan kelezatan ke dalam batin Anda.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Kalau dilihat dari kemegahan hidup yang telah diperoleh, harusnya mereka memiliki banyak alasan untuk hidup bahagia. Tetapi mengapa tidak pernah merasakan bahagia. Bahkan dia baru merasakan senang, ketika dia keluar dari rumah, sehingga dia harus makan di sebuah restoran. Mereka tidak menyukai masakan rumah yang sama sekali tidak terkesan favorit. Kalau mereka makan saja harus keluar dari rumah, berarti kenikmatan makanan tidak terasa dalam rumah. Kalau kenikmatan tidak terasa dalam rumah, berarti tidak ada dari isi rumah yang bisa memantik kebahagiaan dari satu sama lain. Di rumah telah disediakan LCD TV dengan layar lebar, seperti bioskop. Pun mereka telah membeli kaset-kaset film yang luar biasa, tetapi mereka masih juga tergerak untuk melihat film di bioskop kenamaan. Anak-anak telah dibelikan dengan mainan-mainan favorit dan game-game yang begitu mengasyikkan, tetapi mereka masih juga diajak untuk bermain di tempat-tempat hiburan eksotis untuk mendapatkan layanan mainan yang mahal.
Mengapa mereka tidak bisa menikmati kekayaan yang melimpah, rumah megah penuh gemerlap lampion, dan anak-anak yang bisa menjadi hiasan? Jawabannya, mereka tidak benar-benar mengalami keadaan itu. Dia hanya merasakan permukaan dari keadaan, tidak bisa menguak hakikat dari keadaan tersebut. Andaikan mereka bisa menguak dan menelusuri .dengan kejernihan akan anugerah yang melimpah itu, niscaya dia bakal merasakan kebahagiaan yang tiada tara dengan keadaan tersebut. Ketika kekayaan, istri dan anak-anak tidak lagi menawarkan kebahagiaan dalam hidup kita, berarti kenikmatan batin dari itu semua telah dicabut oleh Allah SWT. Kenikmatan lahiriah terasa melimpah, tetapi kenikmatan kering menjadi kosong. Mengapa bisa kosong? Karena di dalam hatinya tidak ada iman. Padahal hanya iman yang membikin suatu keadaan memiliki makna bagi kita.
Suatu ketika, ada orang yang disuguhi hidangan begitu lezat, dan bagi orang yang hanya melihat dari jarak jauh, meyakini bahwa orang tersebut bisa merasakan kelezatan dari hidangan tersebut, bahkan orang itu berandai-andai diajak menemaninya makan. Tetapi, karena dia sedang memikirkan sebuah persoalan yang amat kompleks, makanan yang begitu lezat itu terkesan tidak lezat, terlihat dari cara makannya yang tidak menunjukkan gairah blas. Makanan itu sejatinya lezat, yang tidak lezat itu adalah pikiran orang tersebut yang masih dihantam oleh sekian masalah. Dia tidak benar-benar mengalami dan masuk dalam kelezatan makanan itu, hingga dia tidak merasakan kelezatan menu yang dihidangkan itu. Dia bisa membeli makanan yang enak, tetapi dia tidak bisa membeli hati yang enak dan pikiran yang jernih. Berarti yang menjadikan suatu keadaan itu enak, karena pikiran dan hati kita tidak bermasalah, bahkan tengah dihiasi oleh perasaan syukur yang terus menyala.
Kalau kita mau mengalami setiap keadaan dengan hati yang bersih, sungguh dari setiap keadaan itu bakal menghadirkan kelezatan ke dalam batin Anda.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Rabu, 11 Februari 2009
SEMUANYA DIMULAI DARI YANG KECIL
Kecil itu terkesan remeh, sepele, seakan tidak bermakna. Padahal dari suatu yang kecil, orang akan mengalami suatu yang besar. Ketika kita tidak bisa menikmati hal-hal kecil, justru kita tidak bisa mengalami kenikmatan yang besar. Dalam hal ini menikmati berarti bersyukur, sabda Rasulullah SAW. “Siapa yang tidak bersyukur pada suatu yang sedikit, niscaya tidak bisa bersyukur pada yang banyak.” Kesuksesan besar berawal dari kesuksesan kecil. Pun bahaya besar, berawal dari deposito bahaya kecil yang bisa memporak-poranda keadaan. Kalau orang berhati-hati dengan sesuatu yang kecil, maka dia akan terpelihara dari bahaya yang besar. Bukankah si jago merah yang melalap sebuah hutan atau deretan rumah berawal dari pijaran api yang kecil yang berasal dari kompor, atau pijaran api kecil yang dimainkan anak-anak? Bukankah pertengkaran berawal dari canda tawa yang amat ringan dan remeh temeh? Dan bisa jadi korupsi besar-besaran berawal dari pencurian kecil-kecil yang sudah terbiasa dilakukan. Karena kalau orang belum berani melakukan yang kecil, justru amat takut melakukan yang besar. Tanpa disadari orang yang menenggak bir dan menjadi pecandu narkoba, berawal dari orang yang terbiasa dan kecanduan merokok. Artinya satu titik kesalahan ketika berulang-ulang, maka akan merembet sebagai kesalahan besar.
Ingatlah saudaraku, tindakan kecil yang selalu diulang-ulang akan membekas dalam pikiran dan hati kita. Anak muda yang terjerumus dalam gelamor dunia malam, berawal dari nonton film di bioskop, atau diajak begadang di malam hari oleh teman-temannya. Mula-mula dia hanya ikut-ikutan demi menghormati teman akrabnya. Teruslah dia mendapatkan kenikmatan dalam pergaulan malam. Setiap malam minggu dia selalu menyempatkan diri untuk menikmati malam panjang itu, apakah itu dia lakukan di sepanjang trotoar, atau pergi ke sebuah kafe, dan tempat pelesir lain yang dipandang kondusif untuk menikmati keindahan. Saat dia telah dirasuki oleh kebiasaan negatif itu, niscaya akan merambat pada tindakan-tindakan yang lebih buruk lagi. Yang pada akhirnya, kemungkinan dia bakal terperosok dalam perbuatan yang menghinakan. Naudzubillahi mindzalik.
Orang yang jatuh dalam perbuatan zina pun berawal dari suatu yang remeh-temeh dan sepele. Berawal dari pandangan yang liar, dia pun menatap lawan jenis, dan memang pandangan pertama itu begitu menusuk dan mengena ulu hati terdalam. Itulah yang disebut pandangan sebagai anak setan. Anak setan yang menancap terus di dalam hati dalam bentuk imajinasi dan bayangan-bayangan kotor. Sabda Rasulullah Saw, “hati-hatilah kamu dengan pandangan, karena pandangan itu akan menanamkan syahwat dalam hati dan cukuplah baginya fitnah dari orang yang memandangnya.” Bayangan yang terus memborbardir itu membuat dia harus melakukan tindakan, ya mendekati orang yang turut menancapkan panah setan ke dalam dirinya. Bara asmara pun tak pernah berhenti berkobar. Terjadilah kegiatan asmara yang menjatuhkannya pada perbuatan yang amat hina dan menjijikkan.
Berangkat dari amsal di atas, maka untuk menjaga hal-hal yang besar, maka kita harus berani menjaga hal-hal kecil yang rentan menjerumuskan kita masuk ke hal-hal yang besar. Kalau Anda tidak ingin masuk ke sebuah rumah yang berbahaya, yang penuh dengan ular, singa, kalajengking, bahkan naga yang bakal menerkam Anda, maka janganlah Anda coba-coba untuk membuka pintunya. Karena ketika Anda membuka pintu tersebut, niscaya Anda telah menawarkan diri untuk dimangsa binatang buas itu. Agar Anda tidak terperosok ke dalam dosa yang besar, maka berusahalah untuk menghindari dosa-dosa kecil yang rentan membawa Anda melakukan dosa besar tersebut. Berpikirlah dengan hati yang jernih setiap kali Anda mau melakukan kegiatan apapun, takut ada sesuatu yang bertentangan dengan agama, terutama suatu yang membuat kita makin jauh dari Allah SWT. Dan tiada balasan bagi orang yang jauh dari Allah, kecuali hanya didera derita demi derita.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Ingatlah saudaraku, tindakan kecil yang selalu diulang-ulang akan membekas dalam pikiran dan hati kita. Anak muda yang terjerumus dalam gelamor dunia malam, berawal dari nonton film di bioskop, atau diajak begadang di malam hari oleh teman-temannya. Mula-mula dia hanya ikut-ikutan demi menghormati teman akrabnya. Teruslah dia mendapatkan kenikmatan dalam pergaulan malam. Setiap malam minggu dia selalu menyempatkan diri untuk menikmati malam panjang itu, apakah itu dia lakukan di sepanjang trotoar, atau pergi ke sebuah kafe, dan tempat pelesir lain yang dipandang kondusif untuk menikmati keindahan. Saat dia telah dirasuki oleh kebiasaan negatif itu, niscaya akan merambat pada tindakan-tindakan yang lebih buruk lagi. Yang pada akhirnya, kemungkinan dia bakal terperosok dalam perbuatan yang menghinakan. Naudzubillahi mindzalik.
Orang yang jatuh dalam perbuatan zina pun berawal dari suatu yang remeh-temeh dan sepele. Berawal dari pandangan yang liar, dia pun menatap lawan jenis, dan memang pandangan pertama itu begitu menusuk dan mengena ulu hati terdalam. Itulah yang disebut pandangan sebagai anak setan. Anak setan yang menancap terus di dalam hati dalam bentuk imajinasi dan bayangan-bayangan kotor. Sabda Rasulullah Saw, “hati-hatilah kamu dengan pandangan, karena pandangan itu akan menanamkan syahwat dalam hati dan cukuplah baginya fitnah dari orang yang memandangnya.” Bayangan yang terus memborbardir itu membuat dia harus melakukan tindakan, ya mendekati orang yang turut menancapkan panah setan ke dalam dirinya. Bara asmara pun tak pernah berhenti berkobar. Terjadilah kegiatan asmara yang menjatuhkannya pada perbuatan yang amat hina dan menjijikkan.
Berangkat dari amsal di atas, maka untuk menjaga hal-hal yang besar, maka kita harus berani menjaga hal-hal kecil yang rentan menjerumuskan kita masuk ke hal-hal yang besar. Kalau Anda tidak ingin masuk ke sebuah rumah yang berbahaya, yang penuh dengan ular, singa, kalajengking, bahkan naga yang bakal menerkam Anda, maka janganlah Anda coba-coba untuk membuka pintunya. Karena ketika Anda membuka pintu tersebut, niscaya Anda telah menawarkan diri untuk dimangsa binatang buas itu. Agar Anda tidak terperosok ke dalam dosa yang besar, maka berusahalah untuk menghindari dosa-dosa kecil yang rentan membawa Anda melakukan dosa besar tersebut. Berpikirlah dengan hati yang jernih setiap kali Anda mau melakukan kegiatan apapun, takut ada sesuatu yang bertentangan dengan agama, terutama suatu yang membuat kita makin jauh dari Allah SWT. Dan tiada balasan bagi orang yang jauh dari Allah, kecuali hanya didera derita demi derita.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Selasa, 10 Februari 2009
KARENA IMAN, AKU ADA
Bagi saya iman adalam biji kesadaran. Tanpa biji kesadaran, kiranya manusia tidak bakal mengalami pertumbuhan kesadaran yang membuatnya dekat pada Allah SWT. Semasa saya masih di SMA diperkenalkan sebuah pameo keren dari Om Descartes yang membekas dalam pikiran saya, “Cogito Ergo Sum” , alias karena berpikir aku ada. Saat itu, saya menganggap pikiran itulah yang membuat manusia mencapai kejayaan, apalagi diperteguh dengan berapa postulat yang mengatakan bahwa keutamaan manusia dari makhluk yang lainnya adalah pikiran itu. Wah, virus Cogito Ergo Sum itu begitu mewabah di kalangan teman-teman saya di pesantren yang katanya pengin jadi intelektual seperti om Descartes.
Tetapi perlahan setelah direnungkan secara mendalam, sesungguhnya keberadaan diri kita benar-benar terasa kalau kita bahagia. Tanpa kebahagiaan, hidup ini menjadi penuh kehampaan. Tetapi mengapa banyak orang yang menjadikan berpikir sebagai kegiatan sehari-hari ternyata tidak merasakan kristal-kristal kebahagiaan. Bahkan Om Descartes sendiri ditengarai mati bunuh diri, sebuah tanda dia tidak bahagia dalam menapaki perjalanan hidupnya. Pun saya bertemu dengan para intelektual yang tidak pernah memancarkan senyum yang berseri-seri, bahkan keningnya selalu mengerut seperti ada suatu yang belum tuntas dipikirkan. Tapi ada juga yang bilang, bagaimana intelektual bisa tersenyum dan berbahagia, wong dia orang yang paling gelisah dengan keadaan. Bahkan dia sendiri selalu membangun warna kontras dengan keadaan yang hadir, demi bisa mendapatkan penemuan baru yang bisa dijadikan referensi bagi orang-orang sesudahnya.
Kita akan terus didera kegelisahan karena berpikir jika berpikir itu tidak disertai dengan iman yang kokoh. Atau sebuah pikir yang tidak melahirkan zikir. Anda pun bisa mengerti banyak pemikir papan atas yang jago dalam sebuah pengetahuan, tetapi tambah jauh dari akar keimanan. Bahkan cenderung mengalami konflik dengan dirinya sendiri. Kata Nabi, tanda ilmu itu tidak bermanfaat adalah membuatnya makin jauh dari Allah SWT. Kata seorang Kyai, yang menjadikan kita tersesat saat ini, karena kita cenderung berpikir tanpa disertai zikir. Kalau orang berpikir disertai ingat pada Allah niscaya cahaya kebahagiaan bakal memenuhi ruang batinnya. Kalau begitu sejatinya yang membuat bahagia adalah iman. Iman adalah biji keyakinan yang kuat pada Keagungan Allah SWT, dan merasakan keterbatasan diri sendiri. Manakala hati telah tertanam biji iman, niscaya seluruh keadaan akan memancarkan pencerahan ke dalam batin. Setiap aktivitas akan melahirkan makna. Dan bukankah makna itu yang diharapkan oleh setiap orang? Orang yang merasakan makna hidup yang indah, niscaya tidak akan tega bunuh diri. Kita bakal mencapai makna hidup itu kalau selalu tersambung dengan Allah SWT. Tanpa iman pada Allah SWT, niscaya keadaan kita terus berada dalam kehampaan. Adapun beriman pada Allah, tidak sebatas mengikuti seperti yang diungkapkan oleh para guru, pembimbing, dan trainer yang telah memberikan keterangan yang rinci dan akurat, perlu kiranya juga menjalani tafakkur terhadap ayat-ayat Allah, baik yang terbabar dalam kalam Qauliyah (al-Qur’an), atau ayat kauniyah (seluruh makhluk yang berada di alam berikut kejadian-kejadian yang menghiasinya). Manakala Anda terus melakukan tafakkur secara mendalam, niscaya Allah akan memperkenalkan diri tidak sebatas melalui pikiran Anda yang terbatas, tetapi akan mengalir dalam getaran perasaan Anda, yang disebut dengan makrifat fil qalbi (mengenal dalam hati), menuju makrifat fil ruh (makrifat dengan ruh).
Saat orang menjadi iman yang hakiki (haqqul yaqin), maka setiap keadaan selalu membekaskan makna dalam hidupnya. Tak ada sedetik waktu pun yang luput dari faedah dan pelajaran baginya. Karena dengan mata iman, dia meyakini seluruh keadaan telah dibingkai dan didesain oleh Allah. Dan setiap ciptaan Allah, pasti menyuguhkan ibrah bagi orang-orang yang berakal. Sosok beriman selalu mencapai ada yang hakiki (makna), karena dia selalu bisa mengingat Allah dalam setiap keadaan dan peristiwa yang dialami.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Tetapi perlahan setelah direnungkan secara mendalam, sesungguhnya keberadaan diri kita benar-benar terasa kalau kita bahagia. Tanpa kebahagiaan, hidup ini menjadi penuh kehampaan. Tetapi mengapa banyak orang yang menjadikan berpikir sebagai kegiatan sehari-hari ternyata tidak merasakan kristal-kristal kebahagiaan. Bahkan Om Descartes sendiri ditengarai mati bunuh diri, sebuah tanda dia tidak bahagia dalam menapaki perjalanan hidupnya. Pun saya bertemu dengan para intelektual yang tidak pernah memancarkan senyum yang berseri-seri, bahkan keningnya selalu mengerut seperti ada suatu yang belum tuntas dipikirkan. Tapi ada juga yang bilang, bagaimana intelektual bisa tersenyum dan berbahagia, wong dia orang yang paling gelisah dengan keadaan. Bahkan dia sendiri selalu membangun warna kontras dengan keadaan yang hadir, demi bisa mendapatkan penemuan baru yang bisa dijadikan referensi bagi orang-orang sesudahnya.
Kita akan terus didera kegelisahan karena berpikir jika berpikir itu tidak disertai dengan iman yang kokoh. Atau sebuah pikir yang tidak melahirkan zikir. Anda pun bisa mengerti banyak pemikir papan atas yang jago dalam sebuah pengetahuan, tetapi tambah jauh dari akar keimanan. Bahkan cenderung mengalami konflik dengan dirinya sendiri. Kata Nabi, tanda ilmu itu tidak bermanfaat adalah membuatnya makin jauh dari Allah SWT. Kata seorang Kyai, yang menjadikan kita tersesat saat ini, karena kita cenderung berpikir tanpa disertai zikir. Kalau orang berpikir disertai ingat pada Allah niscaya cahaya kebahagiaan bakal memenuhi ruang batinnya. Kalau begitu sejatinya yang membuat bahagia adalah iman. Iman adalah biji keyakinan yang kuat pada Keagungan Allah SWT, dan merasakan keterbatasan diri sendiri. Manakala hati telah tertanam biji iman, niscaya seluruh keadaan akan memancarkan pencerahan ke dalam batin. Setiap aktivitas akan melahirkan makna. Dan bukankah makna itu yang diharapkan oleh setiap orang? Orang yang merasakan makna hidup yang indah, niscaya tidak akan tega bunuh diri. Kita bakal mencapai makna hidup itu kalau selalu tersambung dengan Allah SWT. Tanpa iman pada Allah SWT, niscaya keadaan kita terus berada dalam kehampaan. Adapun beriman pada Allah, tidak sebatas mengikuti seperti yang diungkapkan oleh para guru, pembimbing, dan trainer yang telah memberikan keterangan yang rinci dan akurat, perlu kiranya juga menjalani tafakkur terhadap ayat-ayat Allah, baik yang terbabar dalam kalam Qauliyah (al-Qur’an), atau ayat kauniyah (seluruh makhluk yang berada di alam berikut kejadian-kejadian yang menghiasinya). Manakala Anda terus melakukan tafakkur secara mendalam, niscaya Allah akan memperkenalkan diri tidak sebatas melalui pikiran Anda yang terbatas, tetapi akan mengalir dalam getaran perasaan Anda, yang disebut dengan makrifat fil qalbi (mengenal dalam hati), menuju makrifat fil ruh (makrifat dengan ruh).
Saat orang menjadi iman yang hakiki (haqqul yaqin), maka setiap keadaan selalu membekaskan makna dalam hidupnya. Tak ada sedetik waktu pun yang luput dari faedah dan pelajaran baginya. Karena dengan mata iman, dia meyakini seluruh keadaan telah dibingkai dan didesain oleh Allah. Dan setiap ciptaan Allah, pasti menyuguhkan ibrah bagi orang-orang yang berakal. Sosok beriman selalu mencapai ada yang hakiki (makna), karena dia selalu bisa mengingat Allah dalam setiap keadaan dan peristiwa yang dialami.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Langganan:
Postingan (Atom)