Jumat, 03 April 2009

MEMUNGUT SEBAGIAN DARI YANG TERSERAK



Saya begitu bahagia bisa menyertai guru kami yang mulia, KH. Dr. M. Dhiyauddin Qushwandhi, dalam silaturrahim antar ulama’ di Pesantren Langitan pada hari Kamis, 2 April 2009. Awal mulanya saya mempersepsi Pesantren Langitan sebagai ikon partai politik tentu sarat ingar-bingar politik yang membuat hati panas, tak berpeluang menyatukan kedamaian. Akan tetapi kenyataannya dalam silaturrahim ini tak secuil pun ada perbincangan yang menyinggung persoalan politik praktis. Tak ada kampanye yang saya dengar. Tak ada money politics yang saya saksikan. Tak ada tokoh yang mengajukan diri untuk didukung dan dipilih. Tak ada stiker partai politik yang kudapatkan. Ringkasnya, tak ada kepentingan sempit yang menodai pertemuan tersebut.

Saya merasa pertemuan ini sepi dari ingar-ingar isu partai politik. Meski demikian kepekaan ulama’ terhadap persolaan politik yang tengah berlangsung di Indonesia, dalam ajang pemilu 2009, terasa begitu tajam. Mereka paham betul tentang akrobat politik yang dipertunjukkan oleh para elite saat ini. Mereka (yang mulia) tidak hanya mengerti pertunjukan itu, akan tetapi juga mengerti motivasi dibalik pertunjukan tersebut (baca: the political show). Ulama mengerti politik, tetapi tidak masuk ke ladang politik praktis apalagi pragmatis yang hanya akan melepaskan jubah keulamaan yang amat terhormat. Meminjam istilah KH. Mahfudz Syaubari yang juga turut hadir saat itu, ulama’ perlu menata siyasay (politik) bukan riasah (kepemimpinan). Mengedepankan pada sistem politik ketimbang perebutan jabatan politik. Tanpa mengerti ini, maka ulama niscaya hanya menjadi pemain, bukan kelompok yang membuat sistem permainan. Kalau ulama’ sudah terjebak sebagai pemain, niscaya sulit untuk menjadi pemandu umat yang handal. Berlandaskan pada pemahaman itu, ulama’ tetap memilih untuk memperjuangkan kewibawaan ulama’ agar bisa berkontribusi pada umat secara luas. Dari sinilah ulama’ terus berusaha membangun umat yang tercerahkan dan tak gampang dibodohi.

Dengan mengikuti pertemuan ‘ulama saya sedikit mengerti persoalan yang mengungkung umat saat ini dan perihal yang menghujamkan kedukaan di kalangan ulama’. Seusai pertemuan itu, kami memenuhi undangan walimatul ‘arsy putri dari KH. Abdullah Munif. Sungguh sebuah kehormatan tersendiri, saya bisa bertemu dengan tokoh-tokoh ‘Ulama yang insya Allah memiliki kedekatan dengan Allah SWT. Di sana hadir KH. Abdullah Faqih, KH. Shaleh Qosim, KH. Jazuli, KH. Ali Marzuki, KH. Ihya’ Ulumuddin, KH. Aziz Mansyur, dan masih banyak ulama kharismatik lain yang menyempatkan hadir dalam perhelatan tersebut. Ketika bertemu dengan ‘ulama, kami tidak hanya terpesona pada ilmunya yang demikian luas, namun juga pada sikap akhlak mereka yang begitu tinggi. Senyum kebahagiaan yang memancar di wajah mereka. Sikap ketawadhu’an yang menghiasi mereka. Kepekaannya yang amat dalam. Memang ulama selalu mengedepankan akhlak dalam setiap aktivitas dakwahnya. Dan bukankah akhlak inilah yang ampuh untuk menarik minat umat pada Islam?

Saya jadi teringat pada penuturan guru kami yang mulia, bahwa pada diri manusia ada tiga wilayah, yaitu wilayah ilmu, wilayah amal, dan wilayah hal. Wilayah ilmu bisa dipelajari lewat kitab, buku, atau internet yang berlimpah dengan informasi dan wawasan terbaru. Wilayah amal, begitu banyak figur yang mengaktualisasikan tindakan-tindakan bajik yang membuat hati terpesona, sehingga orang bisa meniru. Tetapi ada wilayah yang bukan ilmu juga bukan amal, yaitu wilayah hal. Wilayah ini berkait dengan amal qalbi, amal tak berbentuk yang hanya bisa diasah dengan kepekaan rasa. Saya merasa bahwa keindahan dan kenyamanan hidup itu akan dicapai ketika bergaul dengan ulama’. Bila kita bergesekan atau bergaul secara istiqamah dengan ulama’, niscaya kita bakal ketularan gema kedamaian yang bermukim di hati mereka. Selaras dengan hikmah yang kerap diungkapkan oleh guru kami yang mulia, “hanya orang yang punya air yang bisa memberikan air, hanya orang yang punya uang yang bisa memberikan uang, dan hanya orang yang bahagia yang bisa memberikan kebahagiaan.” Ketika hati kita masih sering gamang dan rapuh bergabung dengan hati yang tenang dan kokoh, niscaya kita pun bakal ikut tenang dan kokoh.

Banyak pelajaran bermutu yang didapatkan dari (perjalanan) silaturrahim ini. Meski demikian, saya tidak bisa mengungkapkan semua pelajaran itu lewat tulisan yang amat terbatas ini. Saya merasakan keindahan bersama ulama’ karena pergerakan mereka tidak dilandasi oleh kepentingan duniawi sedikit pun. Setiap derap langkah mereka hanya untuk menegakkan kembali agama Allah yang tengah kusut-masai. Dari pertemuan tersebut, saya memeroleh pencerahan bahwa peran ‘ulama tidak hanya bisa menyelesaikan masalah umat lewat kata-kata, akan tetapi perlu diikuti dengan tindakan konkret yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Andaikan kita bertemu dengan orang yang lapar, maka kata (ceramah) agar bersabar tidak ampuh untuk mengurai masalah mereka. Akan tetapi harus diikuti dengan sumbangan makanan sesuai kemampuan maksimal, agar rasa lapar bisa teratasi. Dari sini ulama’ tidak hanya menjadi orang bisa berfatwa tetapi juga bisa menghadirkan model yang indah bagi masyarakat. Bukankah tindakan lebih berarti ketimbang kata-kata?

KH. Mas Yusuf Muhajir yang ikut serta mengikuti pertemuan tersebut mengutarakan, bahwa ulama’ tidak berhenti dalam tataran visi dan misi, tetapi perlu ditindaklanjuti dalam bentuk aksi yang konkret. “Visi dan misi itu sukun, dan tindakan adalah harkat.” Sukun berarti diam, tidak ada gerakan apapun, sementara harkat adalah bergerak. “harkat fathah artinya terbuka, berarti terbukanya langkah untuk memajukan Islam, harkat kastrah, walau berbeda kita tidak terpecah belah, alias tetap menyatu, dan terkahir adalah rafa’ yang berarti terangkat. Bukankah yang terangkat itu berarti mulia,” lebih lanjut KH. Mas Yusuf mengungkapkan saat perjalanan pulang.

Sejalan dengan pernyataan beberapa Ulama’ KH. Abdullah Faqih menasihati agar ulama tidak sebatas alim (paham soal pengetahuan agama secara mendalam), tetapi juga aqil (cerdas dalam menjalankan strategi dakwah) agar tak gampang tertipu. Kata-kata ini sederhana namun amat tajam dan mengena untuk dijadikan bahan evaluasi agar Islam tidak hanya ada dalam tataran konsep, akan tetapi bisa menjadi model hidup yang utuh, berikut akan menjelma sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Khalili Anwar, penutur dari jalan cahaya

Selasa, 31 Maret 2009

BELAJAR SUFI PADA BOB SADINO

Dua pekan yang lalu saya berkunjung ke toko Buku Gramedia. Biasanya, setiap kali saya tiba di toko buku, perhatian pertama menjurus pada rak buku berdaras agama, terlebih yang berkaitan dengan wacana sufistik. Di rak buku agama, tidak ditemukan buku baru yang bisa memikat diri untuk membacanya. Beberapa menit saya mengitari rak buku agama, tetap saja tidak ditemukan buku yang menggugah untuk dilahap. Berselang beberapa menit, saya berkeliling ke rak buku yang lain. Setelah membaca buku agama, pandangan saya langsung tertuju pada buku-buku yang berdaras bisnis. Saya biasa melahap buku bisnis juga untuk mencerap pencerahan mengenai bisnis, setidaknya mendapatkan panduan yang mantap dari master bisnis yang teruji.

Di gerai buku-buku baru, tampak buku yang bersampul keren dengan pose Bob Sadino tengah mendorong gerobak. Buku ini membedah perjalanan Bob Sadino, dikemas dengan bahasa yang apik oleh editor kenamaan, Edy Zaques (EZ). Buku itu mengungkapkan petualang Bob Sadino di debut bisnis yang demikian menantang. Bagaimana dia memulai bisnis dari sebutir telur yang membiak menjadi kerajaan bisnis mengagumkan ? Pun terkuak rahasia-rahasia kegetiran yang dialami dalam membangun kerajaan bisnisnya. Buku ini tak terlalu kenyal dengan nuansa sufi, karena editornya sebatas meramu pengalaman bisnis yang kiranya bisa menginspirasi spirit entrepreneurship bagi kalangan muda. Kebetulan EZ juga seorang entrepreneur yang bergerak di bidang kepenulisan. Saya mengenal tulisan EZ di pembelajar.com. Tulisannya banyak menginspirasi pembacanya agar bergairah menulis. Saya juga ikut terinspirasi olehnya.

Belum usai membaca buku ihwal Bob Sadino yang diracik begitu lezat oleh EZ, mata saya tertuju pada sebuah buku yang juga menguak rahasia bisnis Bob Sadino. Di buku inilah terasa kental dengan nuansa sufi. Bob Sadino berani bersebrangan dengan kelaziman yang dikemukakan beberapa ahli manajemen dalam mengembangkan bisnisnya. Ada kalimat magis yang disematkan sebagai kata kunci di sampul buku tersebut, yaitu tanpa rencana, tanpa tujuan, dan tanpa harapan. Dia mengisyaratkan, rencana dalam berbisnis tidak penting, sebagai tanda ketundukan pada rencana Allah. Dan Allah adalah “masterplanner,” perencana terbaik. Dan setiap apa yang direalisasikan pasti sebuah kebaikan. Sebenarnya konsep tanpa konsep yang diajukan Bob Sadino hendak memudarkan pakem lama yang berkarat di otak manusia modern yang berkeyakinan bahwa tanpa rencana, bisnis tidak bisa menggapai kesuksesan. Bagi Bob Sadino, paling penting dalam berbisnis adalah melangkah. Langkah pertama akan menghasilkan ide kreatif setelah menyapa dan menyelami keadaan.

Dari kearifan itu, Bob Sadino bisa ditempatkan pada jajaran pebisnis sufi. Bukankah tanpa rencana kalimat yang akrab di kalangan sufi? Sufi tidak membuat rencana karena telah menyandarkan hidupnya pada rencana Allah. Percaya mantap pada Allah. Meyakini bahwa Allah lebih tahu akan apa yang terjadi, pun meyakini bahwa Allah amat mengasihi hamba-hambaNya melampaui kasih seorang ibu pada anaknya. Rencana Allah maha hebat ketimbang rencana manusia, dan setiap rencana Allah pasti terjadi. Sementara rencana manusia belum tentu terjadi. Mengapa demikian? Karena rencana Allah dibalut dengan kuasaNya yang tak terbatas, sementara rencana manusia begitu lemah karena kekuasaannya yang amat terbatas.

Saya hendak memaparkan lebih lanjut mengenai pelajaran yang terbabar dari buku yang mengupas mengenai terobosan Bob Sadino berikut keyakinan yang melandasi setiap langkah-langkah bisnisnya.

Pertama, tanpa rencana, tanpa tujuan, dan tanpa harapan. Kalimat magis tapi mengherankan itu mungkin akan membuat para pengamat ekonomi mengerutkan kening, pelik memikirkannya. Andaikan ada orang yang tersuntik virusnya Bob Sadino, maka dia harus berpikir untuk tidak menggunakan pikiran. Bagi Bob Sadino, ketika membuka bisnis dimulai dengan memikirkan konsepnya, niscaya bakal menimbulkan rasa gamang dan ragu. Dan keraguan membuat orang tidak bertindak. Padahal, langkah pertama yang perlu dilakukan dalam berbisnis adalah “melangkah.” Langkah pertama akan melahirkan langkah berikutnya. Langkah yang berkali-kali (repetitive step) bakal bisa memperbaiki strategi dan cara yang digalakkan dalam berbisnis. Pemikiran Bob Sadino yang nyentrik tapi topcer itu membuat orang begitu yakin, karena semua pemikiran dan kearifan bisnisnya bermuara dari pengalaman bisnis yang ditekuni. Di tataran ini, fomula Tung Desem Waringan, James Gwee, Tommy Siawira, dan bahkan konsep Abdullah Gymnastiar sudah tak laku lagi. Para ahli manajemen setiap hari membuat rencana bisnis yang indah-indah, sementara Bob Sadino membuat rencana untuk tidak berencana, tanpa tujuan, dan tanpa harapan. Begitulah, manusia akan makin lemah dan terkungkung oleh batasan-batasan yang dibuatnya sendiri lantaran telah menggantungkan dirinya pada rencana, tujuan, dan harapan yang dibuatnya sendiri. Bukankah hanya orang yang berencana dan berharap yang mudah dikena kecewa?

Kedua, rugi menjadi pilihan sebagaimana beruntung menjadi pilihan. Aneh kan? Bagi orang yang sudah memasuki tataran kearifan, rugi dan untung tak ada bedanya, alias sama saja. Karena sejatinya rugi dan untung akan memberikan pelajaran yang luar biasa bagi orang merenungi dibalik kerugian dan keberuntungan tersebut. Ia mengumpamakan gelas, selain bisa penuh, setengah isi, atau kosong. Kalau gelas boleh kosong, mengapa bisnis juga tidak boleh rugi? Bahkan ia ingin sekali rugi. Bukankah gelas yang kosong pertanda akan mendapatkan isi yang penuh. Sosok ini sudah tidak lagi memikirkan uang, bisnis melampaui uang, atau melampaui untung dan rugi. Dia berfokus agar bisa memungut mutiara kearifan dari setiap perjalanan bisnis yang dijalani. Dialah suhu entrepreneur yang bisa dijadikan model dan pembimbing dalam berbisnis. Modal utama bagi Bob Sadino dalam melangkah adalah keyakinan. Memang keyakinan sebuah kekuatan nyata dalam melahirkan tindakan-tindakan yang bernas, cerdas, dan inspiratif. Dia tak lagi membedakan untung dan rugi lantaran dia sendiri menganggap untung dan rugi sebuah pasangan yang amat serasi. Untuk mendapatkan untung yang besar, maka orang harus mengalami “kerugian” atau resiko yang besar pula. Tak ada keuntungan besar dalam resiko yang kecil.

Ketiga, belajar berbisnis harus “goblok.” Kalau mau belajar, maka seorang murid harus merasa goblok. Dalam artian, ketika belajar seorang murid harus membasuh konsep-konsep bisnis yang masih melekat di pikirannya. Meminjam kalimat Billi S. Lim, motivator dari Malaysia, learn to unlearn, belajar untuk tidak belajar. Artinya menghapus seluruh data lama yang sudah usang, atau kosongkan seluruh data, agar bisa dikucuri data baru yang membuat si murid makin lincah dalam bertindak dan membuat terobosan. Tidakkah konsep ini selaras dengan apa yang dipahami oleh darwis di kelompok sufi? Untuk mendapatkan ilmu ladunni, maka murid harus membasuh seluruh konsep dan dan kerangka pemikirannya sendiri, ujung-ujung meleburkan keakuan di hadapan guru. Sepintar apapun seorang murid, harus merasa goblok di hadapan seorang guru. Merasa kosong di hadapan yang telah berisi. Di saat kosong itulah, niscaya murid akan mendapatkan pencerahan yang melapangkan dadanya. Atau bersamaan dengan hancurnya tembok keakuan, maka pengetahuan murid bakal menyatu dengan pengetahuan guru yang amat luas.

Semoga kita mendapatkan pelajaran yang amat penting dari perjalanan bisnis Bob Sadino. Dengan membacanya, kita akan terpengaruh untuk ikut memasuki dunia esensi yang telah dihuni oleh Bob Sadino.

Khalili Anwar, penutur dari jalan cahaya




Senin, 30 Maret 2009

MEMELUK DIRI SENDIRI

Setiap saat perhatian kita tersita oleh urusan-urusan di luar diri sendiri. Terkait dengan target yang harus dicapai. Menjajahi beragam hiburan untuk menyegarkan otak. Atau tersita oleh permainan yang berguna sebatas untuk melepaskan keletihan otak yang hampir hank karena kepenuhan data. Setiap hari manusia terus dipacu aneka rencana yang menggelorakan semangatnya untuk bekerja keras, sehingga tak ada kesempatan berhenti sejenak pun untuk mengistirahatkan pikiran dan menjernihkan hati. Siang hari dihabiskan seluruhnya untuk menuntaskan seabrek tugas yang harus diselesaikan, dan malam hari dihamburkan untuk menonton televisi, sekadar untuk menyegarkan pikiran. Kelihatannya seluruh kegiatan itu untuk memenuhi diri sendiri, akan tetapi, nyatanya, menghempaskan atau menggerus kesegaran diri sejati. Bukankah semua kecenderungan itu hanya untuk pemenuhan hawa nafsu, dimana manusia bisa mengasuh kesegaran bagi jiwanya?

Saban hari manusia didera oleh sasaran dan rencana kerja yang terinspirasi oleh impian yang melambung tinggi. Ia terikat dengan masa depan. Dia pun tidak bisa menghayati dan merasakan keindahan yang terhidang hari ini lantaran perhatiannya hanya tertuju pada masa depan berikut ilusi yang menyelubungi pikirannya. Bagaikan orang yang telah memesan menu yang paling lezat di sebuah restoran, setelah menu itu berada di depan meja, dan siap disantap, tiba-tiba pikiran terbajak oleh rencana yang harus dijalankan beberapa saat kemudian. Karena pikirannya terjerat oleh urusan berikutnya, maka saat itu dia tidak bisa menikmati kelezatan makanan yang terhidang di depannya. Begitulah, makanan yang mahal dan amat lezat, lantaran tidak diikuti oleh perasaan mahal dan lezat, dia pun gagal untuk mencerap kelezatan makanan tersebut.

Saat ini kita berada dalam sebuah ruang publik yang amat kecil (mini-sphere), seolah-olah ruang aktivitas manusia makin meluas, hanya saja sering menyempitkan ruang hati. Jaringan manusia makin meningkat, meluas, akan tetapi esensinya terasa rapuh, garing, dan tak berasa. Saat teknologi mempermudah manusia untuk menjalin relasi, maka manusia terus disibukkan oleh komunikasi lewat beragam karakter manusia Seakan dunia tidak pernah berada dalam kesepian, kesunyian, atau kesenyapan, akan tetapi selalu dipenuhi dengan suasana riuh rendah dan ramainya komunikasi yang hampir tanpa jeda. Adanya ponsel telah menggerus perhatian manusia terhadap dirinya sendiri, karena akan terus ada proses komunikasi yang tak pernah berhenti, kecuali bagi orang yang disiplin mengelola komunikasi. Tambah lagi, dunia maya pun tak ketinggalan menawarkan berbagai teknologi yang memudahkan kita berbagi perasaan, berbagi foto, hingga berbagi selera lewat e-mail, facebook, blog yang membuat manusia haus untuk makin memperluas jaringan. Sebuah jaringan yang kiranya bisa menyuguhkan kesenangan dan menyapu rasa kesepian.

Pabila manusia telah berada di pusaran keramaian yang tak berkesudahan, dampaknya mereka akan mengalami kesulitan untuk menyapa, mencium, dan memeluk diri sendiri. Ketika kita menghabiskan waktu untuk berbicara dengan orang lain, niscaya kita tidak memiliki waktu untuk bisa berbicara atau berdialog dengan diri yang terdalam (silolukai). Padahal, bila semangat dialog dengan suara terdalam telah terhambat, kekeriangan batin terasa meruap, dan goncangan pun tak henti-hentinya mendera perasaan jiwa kita. Ada kehampaan yang menyebar begitu saja ke dalam hati. Karena itu, jarak manusia dengan dirinya sendiri makin menganga. Kadang ia lebih mengenal orang lain ketimbang dirinya sendiri. Mengapa begitu? Karena sudut pandangnya hanya dipergunakan untuk meneropong keadaan di luar dirinya, dan dia tidak bisa meresapi setiap keadaan yang mewarnai perjalanan hidupnya. Makin hari hatinya makin mengalami kehampaan dan kekeringan lantaran tidak pernah bisa berdialog dengan kejernihan yang bermukim dalam hatinya.

Bagaimana agar kita bisa berdialog bahkan bisa memeluk diri sendiri? Diri kita adalah aset utama yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Andaikan kita tidak bisa menghargai aset paling agung ini, niscaya kita bakal tergerak untuk mengagungkan aset selain diri sejati. Andaikan kita menyadari diri kita sebagai aset yang paling berharga, maka kita harus memiliki waktu istimewa untuk bisa menyapa diri kita lebih dekat . Lepaskanlah sekat-sekat yang membuat kita sering berjarak dengan diri sendiri. Rasakan setiap kenikmatan yang dianugerahkan pada kita, bahkan kita terus menghayati dari aras jasmani hingga aras batin. Saat kita bisa menghayati dan menikmati proses penjelajahan dari luar ke dalam itu, niscaya kita bakal merasakan suatu hal yang agung, dimana didalamnya bermukim seluruh harapan inti yang didamba oleh manusia, berupa kebahagiaan.

Ada saat prima kita bisa menyapa diri sendiri, misalnya selepas shalat, kita meluangkan waktu menyelami keadaan diri, menyapa kesegaran batin lewat upaya tafakkur yang mendalam. Mungkinkah dari setiap lintasan aktivitas yang dijalani selama ini, ada suatu yang menorehkan luka di hati orang lain, atau membekaskan rasa gelisah di dalam hati kita sendiri? Sembari menggemakan zikir, kita terus merasakan kedamaian yang meruap dari kedalaman hati. Bangunlah rasa hormat pada diri sendiri, perlahan-lahan suara keagungan pun berdentang dari diri kita. Suara keagungan itu mengekspresikan suara kebijaksanaan yang ditunggu untuk menenangkan jiwa. Terpenting setiap hari kita meluangkan waktu untuk berbicara dengan diri sendiri, entah di pagi hari, di siang hari, terutama di malam hari untuk bisa mengevaluasi diri secara ketat, agar kita bisa menemukan kelembutan yang bermukim di hati kita. Saat sepertiga malam yang penun berkah, kita berusaha menyusup ke dalam diri sendiri, mengorek segala sesuatu yang perlu diperbaiki, hingga di siang hari ada kecerahan yang terpancar dari wajah kita. Manakala kita bisa mengevaluasi diri sendiri disertai ketulusan untuk mengenal kedalaman diri sendiri, maka kebahagiaan hidup perlahan-lahan bakal menghiasi perasaan batin kita.

Khalili Anwar, penutur dari jalan cahaya

Minggu, 29 Maret 2009

KEBAHAGIAAN MEREKAH DIBALIK KESEDIHAN

Bunga adalah simbol keindahan yang tak pernah habis untuk dihayati oleh kepekaan rasa. Walau bunga itu sudah layu, masih saja terkenang keindahan yang melekat padanya. Ketika hati telah berhiaskan kedamaian, maka kita bakal memeluk sekuntum bunga yang berkuncup, merekah, sembari menebarkan harumnya yang membuat hati merasa terbang bersama keindahan itu. Ketika bunga itu telah berada dalam pelukan mesra, disana kebahagiaan hidup telah menyatu ke dalam sanubari kita.

Hanya saja bunga kebahagiaan itu tidak diperoleh lewat jalan-jalan yang bertaburkan permata, berhiaskan pernik-pernik yang menggeliatkan rasa, atau berjuntaikan permadani di sepanjang perjalanan mencapai keindahan itu. Meskipun memerlukan pengorbanan yang luar biasa untuk mendapatkannya, bunga yang didambakan itu tak berada di luar kita, akan tetapi telah menyatu ke dalam jiwa kita. Demi memungut bunga yang indah, manusia perlu menyusuri lorong-lorong yang bisa jadi dipenuhi rekahan-rekahan batu cadas yang demikian keras. Andaikan kita berhasil menerobosnya, belum tentu kita bisa mencium mesra bunga itu, bahkan masih tersisa kesedihan yang menguap dibalik setiap rasa. Bila hawa nafsu yang menurutkan kesenangan masih menghiasi jagat batin, bunga itu tidak pernah merekah dengan indah, atau belum tumbuh di taman hati kita.

Bagaimana bunga batin itu bisa merekah, dan dari sana kita bisa meresapi kebahagiaan sejati? Betapa banyak orang bisa memeluk mesra bunga setelah dia lama berurai air mata kesedihan, diterjang berbagai persoalan yang membuatnya berpikir, merenungi setiap halaman demi halaman kehidupan yang dilewati. Buktinya tokoh-tokoh dunia muncul di tengah gelombang kekacauan yang memberondong bangsanya. Jalaluddin Rumi, sufi kenamaan yang melejit dengan syair yang membawa hati bahagia, setelah pasukan Mongolia dan Salib mencabik-cabik Persia. Imam madzhab yang empat muncul pasca terjadinya tragedi Karbala yang membuat hati umat Islam tersobek-sobek dalam kesedihan dengan wafatnya cucu Rasulullah SAW, sayyidina Husain r.a. Dan di tengah penjajahan 3,5 abad lebih, Indonesia melahirkan deretan pahlawan kenamaan yang mengibarkan kemerdekaan Indonesia, Bung Tomo, Soekarno-Hatta, Agus Salim, Natsir serta tokoh lainnya yang telah berjuang dengan air mata dan darah. Di India muncul Mahatma Gandhi yang berhasil membebaskan negerinya dari penjajahan dengan jalan cinta. Manusia agung sepanjang sejarah, Rasulullah Muhammad Saw juga muncul di tengah pekatnya kegelapan peradaban, dan memuncaknya perang antara kabilah di dataran Arab.

Dari berbagai episode sejarah anak manusia itu kita bisa merengkuh pelajaran yang paling bijaksana, bahwa untuk mendapatkan bunga keindahan itu maka kita perlu membayar ongkosnya. Di setiap ongkos itu ada air mata kesedihan yang bakal terus mewarnai perjalanan untuk mencapainya. Memang bunga yang diperoleh tanpa sebuah perjuangan, niscaya bunga itu tak membekaskan kesan apa-apa. Seorang pemain akan merasakan kebahagiaan puncak ketika mendulang juara sembari dikalungi bunga. Ketika orang telah berhasil menikmati bunga yang merekah ke dalam batinnya, maka pada saatnya dia akan berucap terima kasih pada berbagai kesedihan yang pernah menggedor jiwanya. Terima kasih kesedihan, engkaulah utusan yang telah melahirkan kebijaksanaan dan keindahan dalam hidup. Engkau pula yang telah menumbuhkan bunga di jagat batin ini, sehingga hari-hari menjadi begitu indah dan membahagiakan.

Khalili Anwar, penutur dari jalan cahaya

Sabtu, 28 Maret 2009

MATILAH AKU KECIL MENUJU AKU BESAR

Sekian hari saya terusik oleh term aku. Saya melirik kata aku tertancap indah di poster disertai foto superkeren, membaca kata aku yang menghiasi media cetak. Melihat aku yang begitu narsis ditempelkan di facebook. Menatap aku bertengger di berbagai blog. Saking banyaknya kata aku, saya tidak bisa menghitungnya berapa kata aku yang saya rekam. Bahkan saya sendiri sering berucap aku. Betapa sering menyeruak pertanyaan tak sengaja, apa sih cita-citaku? Mau kemana aku melangkah? Kemana kompas kehidupan sang aku ini? Berjubel pertanyaan dan pernyataan sebagai bentuk ekspresi aku.

Di tengah berjubelnya kata-kata aku ini, menyeruak pertanyaan siapa aku sejati? Apa aku yang acapkali kita sebut-sebut sebagai aku yang didambakan? Dalam renungan sederhana, muncul kata menggelitik, bahwa aku yang acapkali terucap dalam bentuk kata-kata bukanlah aku sejati. Tetapi aku sejati tersimpan dalam hati nurani. Ya di medan hati bertapa aku yang sejati. Dialah aku yang tidak terkatakan, tak bisa digambarkan dalam tataran verbal. Pikiran pun tak bisa menggapainya. Disanalah kesenyapan dan keheningan yang melampaui pikiran dualitas bermukim. Disana taman surgawi terangkai begitu indah. Pabila kita berkunjung ke taman itu, maka kita bakal memetik bunga kebahagiaan yang keharumannya membekas dan abadi.

Bagaimana kita bisa menemukan aku sejati yang bisa melahirkan ketenangan dan kedamaian ke dalam jiwa? kita bakal merasakan ketenangan dan kedamaian jika kita berhasil menggerus aku kecil yang kerapkali menghambat kita untuk bisa kontak pada aku yang besar. Dalam kotak aku kecil meranggas sikap keakuan dan egoisme, dan memiliki kecenderungan untuk memenuhi diri sendiri semata. Tak ayal, kita terkurung oleh sikap negatif yang bakal menyingkirkannya dari medan ketenangan yang sesungguhnya.

Dalam aku kecil tersimpan rasa marah, iri, dengki, semangat popular, riya’, serakah, merasa bisa, dan sebangsanya. Katanya kepuasan aku kecil akan diperoleh jika bisa menyalurkan seluruh kecenderungan negatif tersebut. Banyak orang menyangka bahwa dengan pencapaian aku kecil orang bakal merengkuh kebahagiaan? Dia berkeyakinan bahwa dia merasakan kebahagiaan ketika bisa mewujudkan harapan. Atau secara tiba-tiba mendapatkan kekayaan yang melimpah. Memiliki rumah mewah. Aku kecil selalu membangun kontak dengan pengaruh terluar. Padahal apapun yang terluar tidak bisa menghias hati menjadi tenang dan damai. Karena damai itu telah bermukim dalam diri sendiri, bermuara dan menyatu ke dalam diri kita yang sejati. Meminjam argumen salah seorang seniman besar India yang bernama Kabir, ‘Janganlah datang ke taman, dalam tubuh kita sudah ada taman. Duduklah di atas pohon lotus, dan temukan suka cita di sana’.

Meski diberi penyadaran seperti apapun, aku kecil tidak pernah bisa memahami bahwa kebahagiaan dan ketenangan hidup itu terletak di dalam diri, terbukti aku kecil selalu menjelajahi dan merambahi kebahagiaan di luar dirinya. Ia berwisata untuk bisa menikmati pemandangan yang anggun nan eksotis. Ia berusaha bekerja keras hanya untuk berjuang memperbesar rumah, bisa membeli mobil terbaru, atau mengangkat prestise dengan membeli benda-benda trendy. Padahal segala aksesori yang tergelar di luar bakal terus berubah, sehingga peta hasrat manusia juga terus berubah seirama dengan perubahan yang tergelar di luar.

Aku kecil adalah eksistensi diri kita yang palsu. Karena itu aku kecil selalu menumbuhkan aneka hasrat yang palsu pula, dalam bentuk dorongan hawa nafsu. Kalau manusia masih terjangkit dan terperangkap dengan hawa nafsu sebagai ikutan dari aku kecil, maka manusia tidak bakal bisa terbang untuk mencapai superego (Aku yang besar). Bagaimana agar orang bisa mencapai aku yang besar? Seperti pesawat ulang-alik yang hendak terbang, maka perlu melepaskan beban yang menghambatnya bisa terbang. Andaikan beban itu masih melekat pada pesawat, niscaya pesawat itu tidak bakal tinggal landas, akan tetapi tetap berada di landasan. Agar aku besar bisa terbang, maka kita dengan rela melepaskan aku kecil. Bagaimana melepaskan aku kecil untuk menggapai aku besar?

Cara melepaskan aku kecil adalah dengan meniadakan diri. Ketika manusia telah merasa kosong, pertanda aku besar bakal terbang. Dia telah berhasil melepaskan seluruh keangkuhan pikiran dan hawa nafsu yang kerap menjadi rujukan dalam membuat keputusan apapun. Manifestasi dari pengosongan diri adalah penyerahan diri yang total pada Allah SWT. Penyerahan diri membuat manusia mencapai pembebasan yang sebenarnya. Bukankah kebebasan merupakan dambaan setiap orang? Bahkan sejatinya dambaan kebebasan itu sebuah ekspresi dari aku besar. Ketika orang telah berhasil meniadakan diri, maka dia bakal menyatu dengan ketunggalan yang membawanya terbang ke langit-langit cinta yang tak pernah membosankan. Seluruh aktivitas melahirkan hikmah agung dan menginspirasi pelajaran agung pula bagi orang lain lantaran kehidupan telah dipimpin oleh aku yang besar.

Khalili Anwar, penutur dari jalan cahaya

Jumat, 20 Maret 2009

TUMBUHKAN CINTA PADA NABI SAW



Kita masih berada di bulan agung, bulan dimana Rasulullah SAW dilahirkan. Perlulah kiranya kita merenung, bertukar pikiran dan berbagi pengalaman ruhani demi memantik kecintaan pada beliau SAW. Lewat kecintaan yang sempurna pada beliau, insya Allah kebahagiaan hidup bakal meresap ke dalam pori-pori kesadaran kita. Hampir seluruh kekasih Allah adalah termasuk sosok yang begitu kuat rasa cintanya pada Rasulullah SAW. Manakala kita bisa mengekspresikan spirit cinta pada Rasulullah Saw, pada gilirannya semangat kita pun bakal terpompa untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW, sang kekasih Allah. Mengapa cinta pada Rasulullah SAW menjadi bekal untuk meraih keindahan dan kebahagiaan hidup?

Perlu diketahui kemuliaan bulan atau tempat bergantung apa yang dihadirkan di dalamnya. Ramadlan menjadi begitu mulia karena di dalamnya menjadi momen diturunkannya al-Qur’an. Dan ketika madinah masih menjadi kota Yastrib, Rasulullah belum melakukan hijrah di sana, maka kota itu tidak memiliki keistimewaan apapun. Tidak diperhitungkan. Tetapi setelah Rasulullah berada di Madinah, maka kota madinah dijuluki sebagai kota suci. Pun begitu, bulan Maulid menjadi begitu istimewa karena didalamnya telah dilahirkan manusia terbaik sepanjang sejarah, yaitu Rasulullah SAW. Kalau bulan Ramadlan begitu mulia, maka bulan maulid justru lebih mulia. Mengapa? Karena kalau bulan Ramadlan, menjadi momen turunnya al-Qur’an, yang notabena menjadi rahmat bagi orang beriman. Adapun bulan maulid menjadi momen lahirnya Rasulullah SAW, sebagai manifestasi rahmat bagi seluruh alam.

Bulan Ramadlan menjadi momen kegembiraan bagi manusia, karena disitu kita mendapatkan pelipatgandaan pahala, bahkan grasi atas dosa-dosa yang diperbuat selama ini. Adapun bulan maulid menjadi momen yang mengembirakan Allah SWT, karena saat itulah kekasih-Nya dilahirkan. Rasulullah Muhammad SAW adalah buah dari penciptaan. Hanya karena Nabi Muhammad jagat semesta ini diciptakan dan digelar oleh Allah SWT, firman Allah dalam hadist Qudsi, “Kalau tidak karenamu (Muhammad) Aku tidak menciptakan semesta ini.”

Andaikan kita menanam pohon mangga, tentu saja yang kita harapkan adalah buah mangga. Ketika buah mangga sudah bisa dipanen, betapa kebahagiaan menyusupi hati kita. Seumpama seorang ayah bekerja keras mengelola sebuah perusahaan berkata pada anaknya, “Kalau tidak karena engkau anakku saya tidak membangun perusahaan dengan cara segigih ini.” Rasulullah SAW adalah tujuan penciptaan semesta ini. Pun kita begitu berbahagia dihidupkan sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Kita berada di zaman buah. Ya buah dari seluruh ajaran kenabian, sehingga kita tinggal memetik saja kearifan yang diajarkan oleh seluruh Nabi. Karena itu, umat ini lebih mudah untuk mencapai maqam spiritual dibandingkan dengan umat sebelumnya. Nabi Muhammad SAW. tidak hanya penyebar rahmat bagi seluruh alam, bahkan beliau sendiri rahmat bagi seluruh alam. Lewat kehadiran beliau, kita bisa mendulang hidup yang berkah. Rasulullah sendiri rahmat yang diutus oleh Allah ke alam dunia, karena itu berbahagialah atas diutusnya Rasulullah SAW. Kehadiran beliau menjadi kran tersalurnya rahmat Allah yang begitu melimpah. “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari harta yang mereka kumpulkan”. [QS. Yunus: 58].

Kita begitu bergembira mendapatkan harta, bergembira mendapatkan kedudukan yang bergengsi, dan bergembira mendapatkan anugerah anak. Harusnya kita lebih bergembira dengan anugerah di atas anugerah yang diberikan oleh Allah SWT, berupa diutusnya Rasulullah SAW di alam dunia ini. Bergembira atas kehadiran Rasulullah tercermin dari rasa cinta yang dilandasi rasa suka cita dan ketulusan. Kita perlu menunjukkan kecintaan kita pada Rasulullah SAW setiap saat, terlebih di bulan Maulid, momen dimana Nabi Agung SAW itu dilahirkan. Rasulullah adalah Kekasih Allah SWT, dan agar kita pun terhimpun dalam majelis kekasih Allah, baiknya kita menjadi kekasih Rasulullah SAW, dengan mencintai beliau SAW.

Dalam suatu kesempatan hendak shalat berjemaah, dan beliau SAW sudah hendak bertakbir seorang badui menerobos dari belakang, da menjawil Rasullullah, sembari bertanya, “Kapan hari kiamat itu?” Rasulullah SAW mengisyaratkan untuk sholat terlebih dahulu sembari tersenyum. Usai shalat berjamaah, Rasulullah pun menjawab dengan bertanya balik, “Kamu bertanya, kapan hari kiamat, apa yang sudah kamu persiapkan untuk itu?””Saya tidak punya persiapan dan bekal apa-apa, tetapi saya sangat mencintaimu ya Rasulallah,” tutur badui. Maka Rasulullah SAW pun berkata “Seorang dikumpulkan bersama dengan orang yang dicintai.” Sontak saat itu seluruh sahabat bergembira ria, ada yang menari-nari, bahkan Sayyidina Abu Bakar pun sampai di rumah dengan begitu bergembira. Sejak itu para sahabat merumuskan “hubbun nabi, khairuz zadzi,” cinta pada Nabi SAW adalah sebaik-baik bekal.

Bahkan pertanda orang beriman pada Allah adalah mencintai Rasulullah SAW, sabda Nabi SAW. “Tidak sempurna iman salah satu kamu sekalian hingga Aku lebih dicintai dari pada ayahnya, anaknya dan seluruh manusia,” Sayyidina Umar r.a berkata. “Ya Rasulallah, engkau adalah orang yang paling aku cintai melebihi siapapun, kecuali diriku sendiri. “Belum sempurna imanmu hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri,”kata Rasulullah SAW “Sekarang ya Rasulallah, engkau adalah yang paling aku cintai melebihi siapapun termasuk diriku sendiri. “Sekarang sempurnalah imanmu,” Kata Nabi SAW.

Perlu diketahui saudaraku, kita memang tidak memiliki bekal apa-apa untuk masuk surga apalagi bertemu Allah SWT. Di tataran ibadah, kita kalah pada para sahabat yang dahulu masuk Islam, tabi’it-tabi’in dan para wali, bisa jadi shalat kita masih penuh cecat, sedakah kita masih disertai perasaan riya’, haji kita belum benar-benar sempurna. Di tataran ilmu, ilmu kita amatlah sedikit ketimbang para imamul mujtahidin dan ulama’ salafus saleh yang begitu genius, dan bisa melahirkan beragam kitab. Pendek kata, di tataran ilmu dan amal kita tidak punya apa-apa, bagaimana kita bisa merapat pada saf pertama dari ahli surga. Meski demikian, sesungguhnya ada lompatan untuk mencapai surga itu adalah dengan mencintai Rasulullah SAW. Karena siapapun yang mencintai Rasulullah, akan dikumpulkan dengan Rasulullah SAW. Cintailah Rasulullah SAW, dan kebahagiaan hidup pun bakal terus mengalir di hati kita. Wallahu A’lam bis Showaab.

Kamis, 19 Maret 2009

CAHAYA MATA

Mendengar cahaya mata, pikiran saya langsung tertuju pada instrument hingga dengan izin Allah saya bisa melihat. Ada bashar, melihat suatu yang nampak oleh mata lahiriah. Juga ada bashirah, yakni melihat dengan mata hati. Andaikan kita tidak memiliki cahaya mata, niscaya kita tidak bisa melihat apa yang ada di depan kita, walau keadaannya terang benderang. Beberapa hari ini, saya merenungi apa arti cahaya mata, dalam kasidah Maulid Rasulullah SAW yang disitir “Nurul ‘Aini.” Disitu Rasulullah SAW disebut-sebut sebagai Cahaya Mata, yang berarti hanya dengan cahaya mata itulah kita bisa melihat. Tanpa cahaya mata itu kita akan gagal membedakan yang baik dan yang benar. Bukankah suasana hati seorang bergantung responsnya saat itu? Bukankah setiap efek berawal dari cara pandang orang tersebut? Sepahit apapun sebuah masalah pabila dipandang dengan kacamata yang jernih dan bening, insya Allah masalah itu bakal menyembulkan bunga keindahan dan kebahagiaan yang kekal dalam hati. Sebaliknya, seindah apapun suatu horizon yang melingkupi kita, tetapi dilihat dengan kacamata pikiran yang kotor, justru keadaan itu hanya mengantarkan kita dalam derita yang terus bergolak dari dalam hati. Gamblangnya, dengan mata yang bening kita bakal bisa melihat kebaikan dalam setiap kejadian yang tergelar di hadapan kita, dan dengan mata yang kotor tak bercahaya, kita hanya melihat kotoran.

Kata Jalaluddin Rumi, “keburukan itu tidak melekat pada orang lain, tetapi melekat pada pikiran kita.” Keburukan itu bermukim di pikiran kita sendiri, adapun suatu yang ada di luar kita, adalah kebaikan yang sempurna. Ketika orang bisa melihat sebuah kebenaran, berarti pikirannya dihias oleh kebenaran. Ketika pikiran menjadi negatif, maka segala sesuatu yang terhampar di sekelilingnya terkesan negatif dan melahirkan kebencian. Suatu kali, saya berburuk sangka pada pemakalah di sebuah seminar, maka setiap untaian kata yang dituturkan seakan menjelmakan keburukan di pikiran saya, dan membuat hati makin panas dan muak. Dan di kesempatan yang lain, saya menyetel pikiran dengan hal-hal positif, maka justru saya menemukan sisi kebaikan dari pemakalah tersebut. Dari situ saya menyimpulkan bahwa kebaikan dan keburukan itu bermukim dalam pikiran saya sendiri.

Apa kaitannya antara pikiran dan cahaya mata? Cahaya mata adalah sisi yang bisa melihat suatu yang ada di hadapan kita dengan cara yang netral. Ketika mata kita buta dan tak bercahaya, justru kita tidak bisa menatap keadaan yang ada di luar kita. Tetapi ketika mata bercahaya, maka kita bisa menatap dengan seksama apa yang terhampar di depan kita. Karena itu, ketika menggunakan cahaya mata yang bening, maka kita bakal menemukan kumpulan keindahan yang berserakan di sekeliling kita. Artinya, pabila kita mampu menangkap segala keadaan dan sesuatu lewat cahaya muhammaddiyah, maka kita bakal menemukan aneka kearifan yang tergelar begitu sempurna dan indahnya. Dan kita bakal merasakan bahwa setiap peristiwa dan kejadian yang menjelma dalam kehidupan kita, bukanlah suatu yang acak tanpa rencana yang terpola. Tidak ada suatu yang kebetulan. Karena meyakini tak ada suatu yang kebetulan, maka setiap peristiwa dan kejadian yang menyeruak pasti membekaskan hikmah yang mendalam dan menyentuh.

Rasulullah SAW bukanlah cahaya mata lahiriah, tetapi lebih sebagai cahaya mata batin. Ketika kita bisa menatap, memandang, dan meneliti segala keadaan dan kejadian yang menjelma dengan cahaya mata batin itu, maka kita bakal mengakhiri respons hidup dengan bersyukur dalam setiap keadaan. Tak ayal, jika orang telah meresapi semangat Nabi SAW di dalam hatinya, niscaya bakal merasakan luapan kebahagiaan yang tak terhingga. Musibah yang menggelisahkan dan ujian yang menyakitkan menjadi tertindih kebahagiaan lantaran rasa syukurnya yang begitu meluap-luap dijadikan umat Nabi SAW. Ada seorang kyai bertutur, “Kita sungguh amat bersyukur menjadi umat Nabi SAW, karena beliau SAW menjadi garansi bagi umatnya. Karena itu, saya tidak pernah bisa menangis, hanya terus tersenyum dalam syukur yang tak pernah jeda karena saya telah ditakdirkan sebagai umat Nabi Muhammad SAW.” Manakala kita melihat dengan cahaya mata Nabi SAW, maka hati kita bakal dihiasi oleh kebahagiaan yang tak terhingga. Manakala orang bisa melihat segala sesuatu dengan cahaya mata (cahaya muhammaddiyah), maka justru dia bakal merasakan ada kesejukan batin yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Dengan cahaya mata itu kita melihat kebenaran universal, setala dengan sabda Rasulullah SAW, “Siapa yang melihat saya, sungguh melhat kebenaran.” Ketika kita bisa melihat dan menatap setiap keadaan dengan cahaya Muhammaddiyah, niscaya kita bakal merasakan surprisingly terus-menerus, ternyata setiap keadaan itu melahirkan hikmah yang menyejukkan hati kita. Artinya ketika bisa melihat dengan Cahaya Mata (Nurul “Aini) itu, niscaya hati kita bakal diliputi dengan kesejukan mata (Qurratul ‘Aini). Semoga kita bisa mencapai mata hati yang sejuk dengan selalu bisa menatap keadaan dengan sang Cahaya Mata, Rasulullah SAW. Wallahu A’lam Bis Showaab.