Jumat, 15 Mei 2009

ALLAH MENGHENDAKI KEBAHAGIAAN




Kebahagiaan menjadi harapan utama setiap insan, bahkan seluruh makhluk yang bermukim di jagat semesta ini tak luput dari kehendak menggapai kebahagiaan. Cacing yang hidup tanpa mata, tanpa telinga menyusur tanah sebagai makanannya, dengannya ia mempertahankan hidupnya. Efeknya, tanah pertanian menjadi gempur, dan petani bisa bercocok tanam di lahan yang subur. Dari tanah yang subur insya Allah akan menghasilkan panen yang makmur. Tikus, ketika dikejar kucing, niscaya akan lari pontang-panting ke sarang pengaman demi mengelak bahaya yang mengancam. Ia lakukan karena menghendaki kebahagiaan. Pohon, kendati tidak ditanam dan disiram manusia, akan tetap tumbuh hingga berbuah. Seluruh fenomena perilaku makhluk yang tersaji di depan kita menandakan bahwa seluruh kehidupan ini menghendaki kebahagiaan. Siapakah yang telah menyusupkan kehendak bahagia itu? Siapakah yang betul-betul mengerti dan memahami cara untuk memeroleh kebahagiaan? Perlulah kiranya kita renungkan. 

Sebagai pertanda Allah menghendaki makhlukNya bahagia, Dia telah menetapkan berbagai peraturan yang perlu dijalani manusia guna menempuh kebahagiaan. Kita menyadari kebahagiaan bukan suatu yang instant, seketika diperoleh. Sebagai sebuah kehendak, maka kebahagiaan menjadi cita-cita. Setiap cita-cita harus diperjuangkan, membutuhkan effort atau usaha yang keras. Demi menggapai cita-cita berupa bahagia, kita perlu menempuh pelbagai langkah yang telah ditentukan Allah SWT. 

Allah adalah sentrum kebahagiaan. Tak ada yang dilakukan Allah kecuali demi kebahagiaan itu sendiri. Hanya saja, manusia sering berlaku inkonsisten antara kehendak bahagia yang hadir dari hati nurani dengan perilaku hidup yang ditampilkan. Katanya manusia ingin bahagia, tetapi kenapa perilaku hidupnya kerap kali kontras dengan kehendak agung tersebut? Dan mengapa pula, ada orang yag terus dibelit derita? Ya, manusia tersingkir dari lingkaran kebahagiaan lantaran melulu mengikuti kehendak hawa nafsu. Kalau kita renungkan, seluruh pergerakan hawa nafsu bukan untuk menumbuhkan kebahagiaan, hanya meneteskan secuil kesenangan yang akhirnya menurunkan kesedihan ke rongga batin. Kebahagiaan terikat pada kesungguhan manusia mengendalikan hawa nafsu, “Dan adapun orang yang takut pada kebesaran Tuhan-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (QS. An-Nazi’at [79]: 40-41).

Allah tidak pernah berbuat dzalim pada hambaNya kecuali hamba sendiri yang berlaku dzalim pada dirinya sendiri. Penderitaan menimpa kita lantaran perilaku dan sikap hidup kita sendiri. Adapun Allah hanya menghendaki kebahagiaan bagi kita. 

Karena Allah tidak menghendaki kecuali kebahagiaan, maka segala hal menempa dan menerpa kita hanya demi tercapainya kebahagiaan. Kita dianjurkan shalat guna bisa mencerap kebahagiaan dan merasakan kedekatan dengan Allah SWT. Allah menetapkan kehendak tasyrik, berupa perintah dan larangan, serta kehendak takwin, berupa qoda’ dan qadar, sesungguhnya menghendaki hidup kita berlimpah kebahagiaan. Pembatas-pembatas yang ditetapkan Allah tidak untuk menyandera kebahagiaan kita, bahkan bagaimana mempertahankan kebahagiaan yang bermukim dalam hati kita. Puasa sebagai perisai pencegah dari perbuatan tercela diharapkan bisa mengukuhkan kebahagiaan itu sendiri. Andai manusia tidak berpuasa, justru akan mudah terseret ke dalam perbuatan maksiat. Dari puasa diharapkan ada sistem kontrol yang handal, sehingga manusia tetap terarah menjalani kebaikan. Dari situ, bisa disimpulkan bahwa kehendak dibalik kehendak Allah adalah kebahagiaan. Target dari semua target adalah kebahagiaan. 

Allah Maha Mengetahui resep untuk meraih kebahagiaan, karena dariNya kebahagiaan itu dicurahkan. Ketika orang menyandarkan hidupnya pada Allah, niscaya kebahagiaan pun akan meliputinya. Namun, bila manusia telah berpaling dari Allah SWT, maka kebahagiaan tersingkir dari taman hatinya. Dari situ, kita bisa meneguhkan kesadaran akan kata-kata penuh daya, “Tuhanku, Engkaulah Tujuanku, RidhaMU yang aku cari.” Antara kebahagiaan sebagai tujuan dan Allah sebagai tujuan tidak bisa dipisahkan dan dibedakan. Allah menyatu dalam kebahagiaan, dan kebahagiaan menyatu padaNya. Tujuan yang integral. 

Karena Allah menghendaki kebahagiaan bagi jagat semesta, maka seluruh peraturan syariat yang ditetapkan bagi manusia tidak pernah lepas dari kehendak inti tersebut. Andai kita menyadari secara mendalam akan kehendak dibalik kehendak Allah, kita akan selalu meluapkan rasa syukur yang tak pernah jeda atas karunia Allah yang terus mengalir dalam hidup ini. 

Sekarang kita memahami, kehendak dibalik kehendak Allah adalah kebahagiaan, berarti kita bisa bahagia dalam setiap keadaan yang menghampiri kita. Karena itu, tidak ada kata yang patut kita serukan terus-menerus dalam setiap kesempatan, kecuali alhamdulillah, cermin spirit syukur yang tak pernah sirna dalam hati kita. Bagaimana cara kita memantik kebahagiaan? Ya, kebahagiaan terbungkus dalam syukur. Manakala kita meluncurkan semangat syukur setiap saat, maka kebahagiaan bakal menghias hidup kita.

Syukur salah satu jalan memeroleh kebahagiaan yang kekal dalam hati. Orang bersyukur karena dua faktor. Pertama, bersyukur karena nikmat yang diperoleh. Kedua, bersyukur karena mengingat yang menganugerahkan nikmat, yakni Allah SWT. Yang kedua ini, bersyukur dalam segala keadaan, karena terpaku pada pesona Allah SWT. Dia mengenal tentang sifat-sifat Allah yang full kebaikan. Tak heran, ia masih bersyukur bahagia dalam keadaan yang tercepit sekalipun lantaran merasa Allah masih mencurahkan kasih sayangNya. Andai kita menyadari secara menyeluruh bahwa penciptaan alam semesta didasari rasa kasih sayang Allah, niscaya kita akan menemukan syukur di segala keadaan. 

Karena terpesona pada kasih sayang Allah yang meliputi seluruh jagat ini, maka orang-orang arif selalu memiliki alasan untuk melulu bersyukur pada Allah SWT. Ada seorang arif bertutur, “kalau ayam “nyeker-nyeker” untuk memeroleh sebutir makanan, sementara orang arif “nyeker-nyeker” untuk memperoleh alhamdulillah.” Dan orang arif selalu meraup spirit alhamdulillah di setiap kesempatan. Karena itu, ia selalu berhasil menangkap keindahan di setiap keadaan. Mengapa orang arif selalu bersyukur di setiap keadaan? Karena mereka meyakini secara mendalam bahwa sifat Allah, Ar-Rahman dan Ar-Rahim, telah mendasari setiap peristiwa dan kejadian yang menyembul ke permukaan. Andaikan ada musibah, bukanlah serta merta mengundang kesedihan yang mencekam bagi dirinya, malahan dia terus mengingat Allah dibalik musibah itu, mengingatkan kebaikanNya yang tak pernah pudar. Makanya ia peroleh kebahagiaan. 

Agar kita selaras dengan kehendak dibalik kehendak Allah berupa kebahagiaan, maka kita diharapkan selalu membudayakan syukur di setiap kesempatan. 



KH. Dr. M. Dhiyauddin Qushwandhi
Pentranskripsi: Khalili Anwar


MENGUAK SPIRIT MUDA



Keberlanjutan kehidupan bangsa berada di genggaman anak muda. Andaikan anak muda penuh spirit dan terus bersinergi untuk melahirkan karya-karya genius dipadu dengan perilaku akhlak yang elegan, di hati terpancar harapan bangsa ini bakal mengalami kebangkitan. Pun tak bisa dipungkiri, kedigdayaan bangsa ditandai dari apresiasi yang dicurahkan para pemimpinnya pada kehidupan generasi muda. Sudahkah pemimpin kita menyokong gerakan anak muda yang hendak menelurkan karya? Kita bisa menilai sendiri. 

Di tengah arus kebudayaan berbasis teknologi yang menjalar begitu cepat dan pesat, anak muda punya lahan yang lapang untuk melejitkan karya-karya yang luar biasa. Bacaan yang melimpah, fasilitas teknologi yang tersedia luas, disokong SDA yang amat kaya diharapkan bisa mengilhami generasi muda menyuguhkan karya-karya terbaiknya, dan berhasil melenyapkan jiwa ketergantungan yang berlebihan pada asing. Yang membuat kita melulu bergantung lantaran pudarnya rasa percaya diri dari dalam hati kita. Perlu dipahami, generasi muda punya full potensi yang bisa disebarkan dan dimanfaatkan bagi bangsa ini, cuma karena tidak ada kepercayaan diri, kita mudah terhempas pengaruh dari luar. 

Generasi kita minus percaya diri. Tidak pernah PD dengan bahasa sendiri, minder adat sendiri, kurang sreg dengan produk dalam negeri. Padahal percaya diri seperti akar, andai akarnya keimanan kita rapuh, niscaya eksistensi kita pun bakal mudah tumbang dihempas badai yang datang secara tiba-tiba. Perkuatlah akar keimanan sehingga badai apapun yang menghempas tidak akan menggoyahkan pohon kehidupan kita. 

Sudah saatnya generasi muda muslim berpikir untuk menguatkan kembali akar keimanan yang sudah lama ditinggalkan, karena menimbang kekuatan yang datang dari luar. Manakala kita terlalu fokus dengan kekuatan eksternal, maka tidak bisa menyusupi kekuatan internal berupa keyakinan. Padahal keimanan berperan lebih besar ketimbang semuanya. Lewat keimanan semua kenyataan yang mewujud mewariskan inspirasi, menghadirkan hikmah, dan menyuguhkan pancaran kebahagiaan. 

Generasi muslim tidak lagi memiliki kesempatan memperlemah diri yang berujung rapuhnya keimanan. Sudah mulai menghargai waktu, sebagai waktu yang produktif. Selaras dengan umurnya yang muda yang demikian produktif, maka mereka mengganggap setiap waktu adalah waktu produktif. Perpaduan antar umur yang produktif dan waktu yang produktif, akan melahirkan karya-karya yang dahsyat. Sudah tidak masanya generasi muslim diperbudak televisi yang tak pernah berhenti memborbardir kita dengan ragam tontonan sampah. Sudah tidak saatnya generasi muda muslim dijajah beragam kegiatan tak bermanfaat. Sudah saatnya generasi muda bangkit dengan karya unggulan dihiasi akhlak Qur’ani.

Inilah momen kebangkitan generasi muslim, dengan terus memacu diri menjadi lebih produktif dan bisa berkontribusi lebih besar bagi bangsa ke depan. 

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya


Rabu, 13 Mei 2009

KOMBINASI PESELANCAR DAN PENYELAM



“Hidup di permukaan kehidupan seperti peselancar. Jalan peselancar tak pernah lurus lantaran dia harus berselancar diantara kepungan gelombang yang tak pernah tenang, ” tutur guru yang mulia dalam kesempatan pengajian al-Hikam. 

“Menyelamlah ke dasar lautan, niscaya Kamu akan menemukan kedamaian yang tak terbatas,” Dawuh guru yang mulia di kesempatan berbeda di hadapan kami murid-muridnya.
 

                                          ***

Bermodal dua nasihat tersebut, saya hendak menafsirkan atau mengulas tentang karakter peselancar dan penyelam. Mungkinkah kita bisa mengombinasikan dua sikap itu dalam hidup keseharian yang terus berubah secara tiba-tiba? Tiba-tiba menyeruak kejadian yang amat mengejutkan. Di luar dugaan. Dan setiap hari kita bagai dikepung informasi yang melompat dan terus berubah. Kita memang tengah memasuki episode supercepat, akselerasi, dan instant. Serba seketika. 

Kejutan-kejutan dimungkinkan muncul di luar dugaan logika. Kamarin dia menikmati kekayaan yang demikian melimpah, tiba-tiba dikepung hutang yang menggunung. Kamarin memeroleh sanjungan bak pahlawan, kini didamprat cacian dan makian. Dulu berada di kursi terhormat, sekarang berada di kursi pesakitan atau kamar prodeo. Dulu sepasang suami-istri terjalin begitu mesra dan romantis, sekarang saling mencecar dan menguak aibnya masing-masing. Kemungkinan sarat dualisme akan terjadi dan menghantui manusia zaman ini. 

Kondisi kehidupan yang didesain begitu cepat dan terus berubah secara dinamis telah memproduksi sikap stress pada beberapa kalangan, terutama di wilayah perkotaan. Jakarta sebagai pusat Indonesia, ditengarai kota yang dihuni banyak orang stress. Banyak orang terjerembab dalam stress, bisa jadi karena begitu padat dan mecetnya lalu lintas ibu kota yang tak bisa mengimbangi keinginan orang yang terburu-buru sampai ke tujuan. Makin kompleksnya permasalahan di kota, membuat jumlah orang stress membengkak. Majalah TIME pun menjuluki Jakarta sebagai kota terbaik untuk melatih kesabaran. 

Mengapa stress? Ketika orang terus berselancar di ombak perubahan yang menghantam silih berganti, dan seluruh perhatiannya fokus pada permukaan, niscaya perlahan-lahan akan terpental dalam kubangan stress. Bukan berarti kita tak boleh bertindak dan berselancar. Kita harus berselancar dengan cara fair agar kita bisa menggapai tujuan yang diharapkan. Kendati demikian, jiwa kita tidak hanya dipenuhi nafsu untuk berselancar yang cuma menghadapi ombak demi ombak. Bila perhatian kita terserap pada berselancar, niscaya kita tidak bakal menemukan ketenangan batin yang memicu diri semakin produktif. Padahal ketenangan sebagai upaya menyemaikan produktifitas kerja. Kita juga menyelam guna menemukan kemurnian yang berada di dalam lautan hati kita. Penyelam terus menukik di kedalaman guna menemukan zona yang tenang dan menghadirkan kedamaian. Saat berselancar kita juga harus menyelam. Menyelam disini berarti mengingat Allah setiap saat.

Kapan kita bisa memadukan dua karakter peselancar dan penyelam?

Demikian dinamisnya perubahan di zaman ini, kita tak boleh menghindar dari berselancar. Kita tetap berselancar dalam ombak perubahan yang sarat turbulensi. Berselancar terkait dengan pikiran dan fisik yang harus mencari cara bagaimana bisa berselancar dengan gagah menerobos ombak perubahan yang menghantam. Kadang kala kita harus mendobrak ombak perubahan, juga bisa memilih menghindarinya guna menggapai tujuan yang diharapkan. Disanalah seni hidup terasa.  

Pikiran dan fisik boleh terus mengikuti arus kehidupan permukaan, namun hati sebagai sentrum kesadaran suci harus terus menyelam ke kedalaman dengan menyatukan kesadaran pada Allah. Hati tak boleh tersandera dengan keadaan permukaan, bahkan hati perlu menularkan pengaruh positif ke permukaan, agar pikiran dan fisik tetap bisa mengarungi kepungan ombak kehidupan dengan tenang. Penyelam mendapatkan mutiara. Sementara peselancar hanya mendapatkan kepuasan dan gengsi.

Andai jiwa peselancar dan penyelam dipadukan, niscaya kita akan terus menapaki dan menggapai sukses yang sejati. Bagaimana? Jika mendapatkan kemenangan, mereka tidak bermegah-megah dan terlalu euforia, namun bisa menggali hikmah yang terbungkus dalam kemenangan. Pun ketika terdepak kekalahan tak membuatnya putus asa, bahkan mencari mutiara dibalik kekalahan tersebut. Dalam episode seperti ini, kadang kemenangan lahir merapuhkan batin lantaran kemenangan direspons dengan kesombongan. Kesombongan tak membawa ketenangan karena dibenci oleh Yang Maha Bahagia, Allah SWT. Dan kadang kekalahan lahir mengundang kekuatan dan kemenangan sejati, lantaran dari kekalahan bisa mendulang banyak hikmah yang turut meneguhkan jiwanya. Dalam artian, dari kekalahan ia bisa menyadari kehadiran Allah.  

Rising star, jika memeroleh kemenangan yang cemerlang, dan disikapi dengan rendah hati, tawadhu’, dan dia menggapai mutiara hikmah dibalik kemenangan tersebut. Dia selalu merasa bersama Allah dalam setiap keadaan. Ketika semua telah disandarkan pada Allah, niscaya hidup menjadi ringan.

Berselancarlah terus dengan raga dan pikiran Anda, dan menyelamlah ke kedalaman dengan kejernihan hati Anda dengan selalu menyadari Allahu... Allahu... Allahu. Allah masuk dalam kesadaran kalbu kita. Boleh banyak masalah menghantam Anda, tetapi hati tetang tenang. Ketika hati tenang, maka justru masalah menjadi begitu indah, seperti indahnya berselancar, dan masalah akan terurai dengan sendirinya. Insya Allah. 

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya


Minggu, 10 Mei 2009

MEMULUNG HIKMAH DIBALIK PENGGUSURAN JAGIR



Tepat hari Sabtu, 9 Mei 2009, Usai shalat Ashar, saya sengaja melewati jalan sepanjang Jagir Wonokromo yang dikena penggusuran. Warga korban penggusuran, ada yang masih tetap bertahan di tempat hunian mereka dengan beratapkan terpal. Menatap wajah mereka menghadirkan rasa kasih yang begitu mendalam di hati ini. Mereka seakan tak memiliki pilihan, kecuali tetap melanjutkan hidup di antara reruntuhan bekas rumah mereka. Pada mulanya, melihat kenyataan menyedihkan itu, terasa mengalir kegeraman pada Pemkot Surabaya yang sewenang-wenang menggusur rumah warga Jagir yang nantinya akan digantikan dengan hutan kota. “Masak kebutuhan primer warga digantikan dengan kebutuhan sekunder?” Mungkin kata-kata ini hanya ingin meluapkan perasaan yang membuai diantara rongga dada ini. 
 
Selintas saya melihat tulisan “Nasib Turuku di Jl. Aspal.” Sepenggal kata itu sederhana dan bisa jadi sebagian orang menganggapnya keisengan, namun itulah curahan dari kegetiran yang bergumul dalam hatinya. Mereka tak punya pilihan lain kecuali menerima apa adanya. Uang mengontrak rumah di Surabaya mana cukup, numpang di rumah relasi, mana ada relasi. Wah mereka juga gak kenal, apa kata relasi. Relasi mereka ya setidaknya sesama korban penggusuran. Sampah serapah hanya seperti nyanyian berlalu. Hujatan-hujatan yang mendesis malah menambah sakit hatinya. Sesuai tingkat pemahaman mereka, kemungkinan besar kata-kata sarat hujatan pada Pemkot memuntah dari lisan mereka. 

Meski demikian meratapi nasib dan tenggelam dalam kesedihan tidak mengundang hikmah yang mencahayai hati. Andaikan hidup terus ditanami kegeraman pada Pemkot yang terkesan sewenang-wenang, malah membuat diri tidak produktif guna melampaui masalah tersebut. Makin fokus pada kesalahan yang diperbuat Pemkot Surabaya, niscaya mereka semakin jauh dari hikmah yang mengilhaminya untuk menyikapi masalah dengan kualitas terbaik. 

Saya melihat mereka sibuk mengemasi perabotan rumah yang tersisa, ada juga yang mengumpulkan beberapa besi-besi bekas tiang bangunan, memilih kayu-kayu yang masih bisa dipergunakan. Terlihat juga beberapa orang memilih tetap berteduh di bawah tenda yang sebatas beratapkan terpal, sambil berdiskusi, menyeduh kopi masih hangat, sambil makan, akan tetapi mereka seperti tidak menikmati keadaan itu. 

Melihat kenyataan memilukan itu, saya yang bukan pejabat pemerintah, bukan pengusaha yang superkaya, juga bukan ahli ilmu yang bisa menebarkan pencerahan dan ketenangan bagi jiwa mereka, hanya bisa mengelus dada, berusaha menghubungkan batin ini dengan sumber perasaan yang mereka alami saat ini. Namun setibanya di kos-kosan, saya terus merenungi kejadian itu berikut efek yang ditimbulkan. 

Kalau mendasari pengamatan itu dengan kacamata logika argumentative, niscaya akan ada serentetan pemikiran yang membuat hati makin benci pada Pemkot. Tapi, andai disuluh dari sudut pandang hikmah, insya Allah saya bakal memeroleh aneka hikmah dari kejadian yang menghadirkan kegamangan di ratusan atau ribuan orang yang tergusur. Kalau saya mendasari pemahaman atas kejadian dari sudut pandang logika, niscaya hanya mewariskan rasa sakit hati dan terus menyalahkan keadaan, akan tetapi kalau saya mendasarinya dari sudut pandang hikmah, akan mengundang ketenangan bagi batin. Karena itu, saya memilih untuk bisa melihat dari sisi hikmah.

Merujuk pada paparan yang kerap dikemukakan oleh guru yang mulia, “HUJAN TURUN DIBALIK PETIR,” “DIBALIK KESULITAN ADA KEMUDAHAN’ “KEINGINAN BERSEMBUNYI DIBALIK SUATU YANG DIBENCI,” “TAK ADA PEMBONGKARAN KECUALI DISITU AKAN DIDIRIKAN BANGUNAN BARU” dan beberapa kata hikmah lain mengilhami saya untuk menjelajahi dan menunggu hikmah yang dihadirkan dari peristiwa tersebut. 

Kita mencari hikmah lantaran kita meyakini bahwa tidak ada suatu yang terjadi kecuali suatu yang dikehendaki Allah. Tak ada kehendak Allah kecuali kebaikan. Berarti apa yang terjadi, itulah yang terbaik. Sementara manusia hanyalah peraga untuk mewujudkan kehendak Allah yang sarat kebaikan itu. Bisa jadi buruk dalam sudut pandang manusia saat ini, namun Allah Maha Mengetahui rahasia diturunkannya setiap musibah. 

Mendengar Jagir, sebagian pikiran kita tertuju pada suatu yang meruntuhkan sisi moral. Diharapkan lewat musibah itu, kita akan mendapati warga makin relegius dan makin merasa butuh pada Allah, dan perlahan-lahan citra kemaksiatan yang lekat di Jagir tergusur. Itu hanyalah cara Allah untuk membuat kita semua semakin baik. 

Karena itu, alangkah indahnya bila setiap inci kehidupan kita melulu diliputi ingat pada Allah. Kejadian per kejadian menggerakkan diri berzikir pada Allah sebagai refleksi syukur yang tak pernah jeda, dan kita bisa menuai hikmah dibalik kejadian tersebut. Zikir terus menghiasi dan terbawa dalam hidup kita, bila kita punya pemahaman yang benar dan menyeluruh tentang setiap kejadian yang dibungkus sifat baik Allah SWT. Zikir mengundang kenikmatan di hati, ketika disertai pengenalan pada sifat-sifat Allah yang tak pernah mengecewakan, malahan selalu menurunkan kepuasan batin bagi setiap yang memahami sifatNya secara utuh. 

Mari kita menggali hikmah yang tersembunyi dibalik penggusuran tempat tinggal warga Jagir Wonokromo, tanpa disertai rasa prasangka buruk, baik pada Allah, pada warga Jagir, juga pada Pemkot Surabaya. Semoga Allah mewariskan hikmah di hati kita. 

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

Jumat, 08 Mei 2009

MENCARI KETENANGAN LEWAT ZIKIR

Saya merasa masih amat belia dan bau kencur menguak tabir rahasia zikir. Selain pengetahuan agama yang minus, juga karena praktik mujahadah dan riyadlah yang masih lemah. Andaikan saya menuangkan secuil inspirasi saya tentang makna zikir, pasti itu bukan berangkat dari pengalaman ruhani, namun cuma sebatas penjajakan oleh tongkat bernama rasio atau logika. 
Meski demikian, saya harus menuangkan inspirasi mendesak soal zikir ini guna membabarkan sudut pandang saya tentang zikir merujuk pada beragam paparan yang pernah saya dengarkan. Jadi, andaikan saudara pembaca menangkap pelajaran dari artikel yang amat sederhana ini, semoga bisa menitipkan endapan positif di kalbu. Namun, jika ada kotoran yang menetes dari setiap tulisan ini, tolong direnungkan terlebih dahulu, di-delete, kemudian singkirkan dari ruang batin. 

Saya akan mengurai tentang zikir dan efek yang dihadirkan saat berzikir. Dan mengapa orang masih belum merasakan ketenangan di saat berzikir? Saya berusaha mengurai soal tersebut, semoga menghadirkan penyegaran ke dalam batin. 

Hidup tidak tenang karena tak dihiasi dzikir. Ada orang yang berzikir akan tetapi tidak bisa menyerap ketenangan batin. Lisan melantunkan zikir, ya mungkin hatinya belum berzikir. Jika hati belum menghayati zikir yang syahdu disertai pemahaman terhadap makna yang terkandung dalam zikir, ketenangan batin sulit berkunjung ke ruang batin ini. Zikir, selaras dengan maknanya, ingat. Ingat disini berarti sadar. Sadar inilah yang membuat kita bisa menikmati setiap momen kehidupan ini. Sadar berada di sentrum diri kita, yakni hati. Zikir hanya bisa mengundang ketenangan, bila telah dihayati dengan hati. Kita perlu menghayati proses zikir, tanpa memedulikan segala hal selain kalimat dan makna dari zikir tersebut. 

Jika kita bisa menghayati zikir dengan sungguh-sungguh, berkat pertolongan Allah, perlahan-lahan kita akan merasakan kehadiran Allah, dan melepaskan seluruh ikatan-ikatan duniawi yang membonsai pikiran kita. Di saat seluruh kesadaran duniawi telah berganti dengan kesadaran ilahi, niscaya air ketenangan akan mengalir ke dalam jiwa kita. Namun, jika ikatan duniawi masih menyatroni pikiran dan hati justru ketenangan tidak akan mengalir ke dalam hati ini. Lupakan seluruh masalah duniawi yang menggelisahkan hati, membuka pikiran negatif, atau hanya menurunkan kesedihan, dan alihkan perhatian kita hanya mengingat Allah SWT. Ingatan pada Allah semoga bisa menelan seluruh ingatan-ingatan yang semu yang hanya mengundang kegelisahan tersebut, tak pelak bibit ketenangan bersemi dan menyembul dari hati kita. 

Hati kita hanya memiliki satu wajah, ketika menghadap pada sesuatu maka melupakan suatu yang lain. Ketika hati kita menengadah pada kemilau duniawi, niscaya akan berpaling dari Allah SWT. Dan ketika hati kita menghadap pada Allah, niscaya akan berpaling dari duniawi. Karena itu, saat kita berzikir menghadapkan hati kita sepenuhnya pada Allah. Ketika sentrum kesadaran ini dipenuhi ingatan pada Allah SWT, itulah momen ketenangan bakal diraih. 

Ketika kesadaran pribadi telah dihiasi ingatan pada Allah, niscaya dia akan terampil merespons segala hal yang terjadi dengan tenang lantaran menganggapnya sebagai anugerah dari Allah SWT. Setiap kejadian yang menimpanya dipandang menjadi instrument dari Allah guna mengungkit potensi yang bersemayam dalam dirinya. Ketika memeroleh anugerah berupa nikmat, maka dia menganggapnya sebagai lahan pengungkit potensi syukur. Ketika tertimpa musibah, dia menganggap sebagai lahan pengungkit potensi sabar. Ketika dia merespons kenyataan masa lalu dipandang sebagai lahan mengungkit potensi ridha. Dan ketika dia harus menatap masa depan yang penuh misteri, dipandang sebagai jalan pengungkit potensi tawakkal. Perlahan-lahan, dia akan menggapai pada respons tertinggi yakni bersyukur di setiap keadaan. Wallahu A’lam Bis Showaab. 

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

Senin, 04 Mei 2009

SELAMAT JALAN KAKAK-KU !



Di tengah riuh rendah pemainan politik yang menghias negeri. Di tengah maraknya koalisi antar partai yang kental dengan proses transaksi. Di tengah hiruk pikuk perbincangan kasus terbunuhnya Nasruddin yang menyeret-nyeret nama Antasari Azhar, ketua KPK, ada peristiwa yang memilukan hatiku. Peristiwa ini ditelan arus isu-isu elite, dan tak ada sedikit pun media yang menangkap peristiwa ini. Kendati tak ada media yang mewartakan peristiwa ini, akan tetapi di hatiku menjadi amat berkesan, dan menggoreskan hikmah yang mendalam.

Peristiwa apa gerangan? Yang pasti saya bisa merajut pelajaran yang begitu bermakna dari peristiwa ini. Peristiwa meninggalnya kakak, sahabat, dan guru kehidupan saya, Kakak Mujahid Akbar. Beliau sosok yang begitu peduli dengan adik-adik yang berada dalam bimbingannya. Saya mengenal beliau yang kalem tapi tegas, semenjak saya kuliah dan bergabung dengan Unit Kegiatan Kerohanian Islam di Universitas Dr. Soetomo (Unitomo). Saya bisa merengkuh banyak pelajaran seputar organisasi dan kedisiplinan dari beliau. 

Hatiku bagai tersengat, tatkala mendengar beliau meninggal dunia. Memang sekitar 1 tahun ini beliau bertarung dengan rasa sakit yang dideritanya. Dokter memvonis ginjalnya rusak, sehingga dia harus cuci darah 2 kali dalam seminggu. Kakak saya, Mujahid Akbar, sejak jadi aktivitas dakwah sudah ikut terlibat dengan aktivisme PKS, di saat organisasi kader dan massa ini masih hanya sebagai embrio di Jatim. Saya pernah diajak terlibat dalam kegiatan-kegiatan PKS, akan tetapi karena sudut pandang yang berbeda, saya memilih tidak ikut terlalu jauh akan kegiatan yang digelar PKS. Setelah lulus kuliah, sekitar tahun 2003, beliau langsung berkecimpung lebih serius di setiap kegiatan yang diselenggarakan PKS. Hidupnya begitu bersemangat dalam menularkan visi misi PKS pada adik-adik kadernya. Bahkan setiap minggu sekali, di tengah kesibukannya, beliau masih menyempatkan diri untuk menyambangi adik-adiknya yang ada di kampus, demi memantau seberapa jauh perkembangan kader-kader yang telah dididiknya. 

Karena ia aktif di PKS, beliau pun aktif terlibat di wadah sosial yang didirikan PKS, yakni LMI (Lembaga Management Infaq dan Sedakah). Seluruh waktunya, beliau curahkan untuk membesarkan lembaga yang ditanganinya. Hampir 5 tahun beliau bergelut dengan LMI juga PKS Wilayah Jatim. Tepat awal 2007, beliau mengeluh sakit, dan setelah didiagnosis mengalami kerusakan ginjal. Kendati telah divonis mengalami gegar ginjal, beliau masih selalu optimis untuk menorehkan yang terbaik bagi masa depannya. Di dada beliau masih memancar semangat untuk bisa menegakkan agama Allah lewat kendaraan dakwah yang ditumpanginya. 

Demikian sekilas perjuangan sosok muda yang penuh semangat Mujahid Akbar. Selaras dengan namanya, sosok ini memang sarat dengan semangat jihad. 

Tepat jam 3.30 usai shalat Ashar, hari ahad, 3 Mei 2009, kakak senior saya menyambangi saya ke kos-kosan, mengabarkan tentang meninggalnya sahabat dakwah ini. Ia pun mengajak saya dan langsung meluncur ke rumahnya di poliklinik SEHATI LMI yang bertempat di Bratang Gede. Di rumahnya sepi senyap, hanya ada 2 akhwat dan satu anak kecil yang berdiam di sana. Pikir kami, jenazah beliau sudah disemayamkan di rumahnya, ternyata masih berada di rumah sakit. 

Kami pun meluncur ke RS Haji, tepat di depan kamar jenazah berkumpul beberapa anak muda, saya yakin dari kalangan PKS, terlihat begitu berduka ditinggal oleh sahabat seperjuangannya. Kami menyalami mereka, dan kami langsung menuju ke ruang jenazah, pelan-pelan saya membuka kain putih yang menutupi seluruh tubuh saudaraku ini. Beliau terlihat penuh semangat, dan senyum nampak tersirat dari wajahnya. Satu per satu sahabat-sahabatnya berdatangan, ikhwan dan akhwat dari PKS berdatangan hilir mudik di tempat tersebut. Kendati mereka bersedih, mereka rela melepaskan sang pejuang yang telah berjasa membesarkan PKS di Jatim. 

Beberapa jam, kami menunggu jenazah dimandikan oleh modin RS Haji, dan usai maghrib langsung disholatkan. Saat mengungkapkan salam terakhir lewat shalat ini, saya menemukan semangat ukhuwah yang begitu menggugah nurani saya. Terasa ukhuwah begitu kuat, dengan penuh sesaknya masjid RS Haji dengan petakziah yang akan mensholati kakak Mujahid Akbar. Saat disembayangkan itu, tak satu pun keluarga beliau yang datang lantaran panjangnya perjalanan yang ditempuh. Keluarga beliau tinggal di Tarakan, Kalimantan. Di Surabaya beliau hanya tinggal bersama istri dan 1 anak laki-laki.  

Inilah sebuah episode saya merenung. Yah merenungi tentang arti persaudaraan. Atau ukhuwah. Saya membayangkan, andaikan diriku yang meninggalkan tanpa ibu disampingku, dan bahkan tak ada saudara kandung di sekelilingku. Betapa tanpa saudara, mungkin hanya tetangga yang mau merawat jenazahku. Dari situ, saya amat mensyukuri punya saudara-saudara seiman, semoga bisa memperlakukan diri masing-masing seperti saudara yang saling penyayang, dan peduli. Karena sejatinya ukhuwah, adalah ukhuwah yang diikat dengan iman dan satu akidah. 

Dari berjubelnya petakziah yang memenuhi rumah beliau, saya meyakini beliau adalah orang yang begitu baik pada seluruh saudaranya dalam berdakwah. Insya Allah sekitar 500 petakziah mengantarkan ke tempat persemayaman terakhir beliau. Semoga amal ibadahnya di terima di sisi Allah. Kendati jasadnya telah ditelan bumi, akan tetapi jiwanya tetap terkenang dalam kejernihan hati. Insya Allah. 

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

Jumat, 01 Mei 2009

MEMELUK KESUNYIAN

Dewasa ini terasa begitu sulit untuk memeluk kesunyian dan kesenyapan batin. Kesunyian menjadi mahal harganya, semenjak kita disuguhi beragam gebyar kehidupan yang menuhankan popularitas, kemegahan, kemewahan, dan suasana bombastis lainnya. Ada seorang sahabat bilang, “Ah tidak enak, sendirian terus di rumah, seakan hati dirambati kesedihan melulu.” Dia memersepsi bahwa kesenyapan dan kesunyian hanya memproduksi kesedihan dan penderitaan, dan gebyar keramaian akan melahirkan kesenangan (yang menurutnya kebahagiaan). 

Begitulah orang yang masih terkungkung dalam “hegemoni” hawa nafsu, cenderung menganggap kesunyianlah yang menurunkan kesedihan, karena memang nafsu menyukai keramaian. Untuk itu, betapa banyak anak muda melepaskan kesedihan yang mempermak jiwanya dengan bermain di mall, di taman hiburan, dan sebangsanya. Padahal dalam keramaian sejatinya dia tidak bisa menjumput ketenangan dan kebahagiaan batin, hanya memeroleh kesenangan yang bersifat sementara. Setelah itu, kesedihan akan merambat dengan volume yang lebih besar. Tengok saja, betapa banyak sosok artis yang dikitari kuasa hiburan ternyata hidup dalam kebahagiaan yang semu. Tahu-tahu kita mendengar rumah tangganya retak, anak-anaknya tidak keurus, terjerumus ke dalam narkoba, dan semacamnya. 

Keramaian membuat orang makin terpukau dengan pelangi yang ada di luar dirinya, sehingga lupa menengok khazanah keindahan yang bersemedi dalam jiwanya. Keramaian dan warna pelangi yang berada diluar akan menyandera orang untuk tidak memeroleh keindahan yang berada dalam batin. Sebagaimana dituturkan oleh sang guru yang mulia “banyak orang berebutan kerang yang berserakan di permukaan lautan, padahal kerang itu tak berisikan mutiara. Dan mutiara yang sejati masih bersembunyi dalam kerang yang berada di dasar lautan.” Mereka menganggap bahwa setiap kerang dihuni oleh mutiara, padahal hanya kerang-kerang terpilih yang berisikan mutiara.

Kita tidak memeroleh kebahagiaan lantaran salah menafsirkan atau mendefinisikan kebahagiaan dan kesenangan. Salah menyangka bedanya ketenangan dan kesenangan. Kesalahan itu bermula dari kesalahan mendifinisikan diri sendiri. Kesalahan memaknai diri sendiri, karena kita jarang tersambung dengan sumber kebahagiaan yang tinggal di dalam hati kita sendiri. Kita jarang berwisata ke dalam batin, karena kita melulu mendambakan berwisata ke luar diri kita. 

Inilah saatnya kita berwisata ke dalam taman hati kita sendiri, ternyata disanalah kebahagiaan itu bertempat tinggal. Berwisata ke dalam batin ini bisa dijalani bila kita berusaha untuk bersahabat dengan kesunyian. Kesunyian jasad, kesunyian pikiran, kesunyian hati, dan kesunyian jiwa. kesunyian itulah yang menghimpun manusia dalam kesadaran yang begitu luas, karena dalam kesunyian ada penyerahan diri pada Allah. Dalam kesadaran penyerahan diri bermukim kebahagiaan yang tak terhingga. Insya Allah.

Khalili Anwar, Penutur dari jalan Cahaya