Setiap momen dan keadaan telah dirancang dengan akurat dan bijaksana oleh Allah SWT. tak ada kekeliruan dibalik beragam kenyataan yang tersuguh di hadapan kita, bahkan dibalik itu meresapkan makna bagi orang-orang yang berpikir jernih. Manakala saya tahu ada makna dibalik kejadian, niscaya saya akan menikmati dan sontak menemukan keindahan di dalamnya. Karena makna sendiri saripati yang dituju dari setiap kejadian. Namun, ketika saya merasa tak mendapati makna dibalik kejadian, maka di hati ini sesak oleh kegelisahan, kegundahan, dan rasa jengkel yang tak bisa dielakkan. Suasana hati itu bergumpal menjadi kehampaan.
Tak bisa dipungkiri, kenikmatan yang saya peroleh selama ini lebih banyak didorong oleh kehendak nafsu rendah, sehingga tak bisa merengkuh kenikmatan di setiap keadaan. Padahal setelah ditelusuri kenikmatan model hawa nafsu berbeda dengan kenikmatan menurut hati nurani. Ketika nurani nikmat, maka seluruh keadaan menjadi nikmat. Namun, keniikmatan nafsu cenderung memilih, dan memilah. Tak ayal, ada sisi yang berlawanan, berlingkar dalam dualitas semu yang tak pernah berakhir. Terlintas dari hawa nafsu cantik-buruk, bertemu-berpisah, sehat-sakit, untung-rugi, dan segala keadaan yang berlawanan.
Saya merasakan sendiri, ketika kenikmatan dirasakan saat memeroleh perihal positif menurut pikiran dan hawa nafsu, seperti mengambil bertemu dan melepas berpisah, meletakkan sehat dan membuang sakit, merangkul untung dan menolak rugi, maka kenikmatan yang kuperoleh tak lebih sebagai kenikmatan yang semu, berputar-putar dari satu keadaan ke keadaan yang lain, sehingga jiwaku terasa letih.
Mengapa saya harus berputar-putar pada keadaan di luar yang datang silih berganti? Ya karena sepanjang hidup diri ini hanya terbetut dengan keadaan luaran, tertarik dengan gerakan permukaan yang menyuguhkan beragam keadaan baru. Dari luar, banyak hal berubah tumbuh dengan cepat, belum merasakan yang satu sudah datang suguhan berikutnya. Pikiran makin terarah keluar, menyemburkan keinginan, padahal banyaknya keinginan sumber dari segala derita. Ya, tetapi mengapa pikiran terlalu berpihak pada beragam kenikmatan luaran? Dan apakah diri ini harus terbelenggu dalam keadaan berjungkir balik terus-menerus? Sudah saatnya saya memendam keinginan dan tak terlalu risau dengan tebaran gaya hidup yang datang silih berganti. Karena banyaknya keinginan itu, saya tak bisa menikmati momen demi momen yang kulewati sebagai anugerah dari Allah.
Betapa sering saya meremehkan anugerah Allah, dengan berpikir pada anugerah yang lain. Padahal, kalau dicerna dengan hati lembut, seluruh anugerah itu telah diramu oleh Allah sendiri. Apakah ada suguhan yang diramu langsung oleh Pencipta yang Maha Agung tidak nikmat? Semua suguhan yang diramu Allah pasti nikmat dan mendamaikan, kecuali orang-orang yang sakit. Ketika orang berkunjung ke sebuah restoran ternama, disana dihidangkan menu yang paling mahal, namun ketika menu itu sudah berada di depan meja, orang tersebut tak bisa menikmati dengan lahap, suguhan itu tak berasa dan kurang nikmat. Bisa jadi suguhan itu nikmat, hanya saja mungkin orang tersebut sedang sakit fisik, hatinya sedang sakit, dipenuhi rasa jengkel dan marah-marah, atau memang dia tidak bisa menikmati menu tersebut lantaran pikirannya sesak oleh pekerjaan berikutnya.
Betapa sering saya tidak menikmati hidangan yang datang dari Tuhan. Saya bersusah payah membeli makanan di sebuah warung, tetapi tiba-tiba ketika makanan sudah terhidang di depan mata, pikiran saya melompat pada perkara lainnya, sehingga tak bisa menikmati menu tersebut. Padahal, sebelumnya makanan tersebut menjadi pikiran saya ketika perut berkriuk-kriuk. Seharusnya shalat harus dinikmati, tetapi saat shalat tengah dijalani kadang terlintas di pikiran untuk membaca sebuah buku yang baru saja kubeli, dan ketika buku sudah berada di hadapanku, kemudian kubaca, pikiranku melayang ke perkara yang lain. Akhirnya, saya tak bisa menikmati momen demi momen yang kulalui dengan sebaik-baiknya.
Sungguh sangat merugi diri ini, jika tidak pernah menikmati dengan sungguh akan setiap jengkal ruang yang ditempati, setiap waktu yang dilalui, dan setiap momen yang ditempuh. Padahal pertumbuhan pribadi manusia bermula dari sikap yang dipancarkan di setiap momen yang dilalui. Ketika kita bisa menikmati momen demi momen degan efektif, niscaya bakal tergelar inspirasi yang luar biasa di setiap momen.
Mari kita berusaha menikmati shalat, menikmati bersedakah, menikmati makanan, dan menikmati hal positif lainnya agar semua aktivitas yang kita lakukan bisa menghadirkan inspirasi dan kedamaian ke dalam jiwa. Kita insya Allah bisa menikmati segala sesuatu dengan baik ketika kita bisa menghadirkan hati di setiap momen yang kita lalui. Hadirkan hati, maka disana kita mendapati beragam rahasia yang membuat kita makin kagum pada Allah SWT.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Selasa, 14 Juli 2009
Senin, 06 Juli 2009
MENDENGARKAN BISIKAN HATI NURANI
Dawai cinta itu terus mengalun dibalik hati yang jernih nan bening. Manakala hati telah berlabur dan berhias cinta, maka seluruh sisi batiniah ini melulu menggemakan nyanyian indah, mengalirkan kedamaian ke prana jiwa. Gema nyanyian dalam hati tidak identik dengan nyanyian yang memekakkan telinga, namun berupa nyanyian yang selalu mengalunkan kesyahduan dan perasaan rindu tak terperikan pada Allah SWT. Nyanyian itu mengantarkan denyut kerinduan, impresi batin, dan perasaan hendak menyatu.
Nyanyian jiwa berupa hymne kudus yang dikidungkan semesta, malaikat, dan para Nabi sebagai tanda pengagungan pada Allah Azza Wajallah. Namun tidak semua orang bisa mendengarkan hymne kudus ini. Hanya segelintir orang bisa merasakan getaran hymne yang sudah menyatu dengan kosmik. Karena dari kosmik inilah terpancar nyanyian kudus yang dialunkan begitu merdu, menembus batas kesedihan dan kesusahan yang kerap merenggut jiwa. Bagi saya, sebagai pemula di jalan ini, demi mendengarkan nyanyian kudus itu masih harus melewati aral tantangan yang amat besar. Terutama, tantangan dari dalam diri sendiri.
Bisikan nurani seperti bisikan lembut yang bisa diterima orang-orang lembut, berteduh dalam keheningan, menelusuri tapak-tapak yang terbuka di ruang jiwa. Tak ayal, ada orang begitu peka menerima suara kejernihan yang terbuka dari langit-langit batin, sehingga gampang menitikkan air mata, mudah terpengaruh pesona yang tersebar di langit-langit batin ini. Saat kita merasakan kesyahduan batin tersebut, seolah pikiran menyentuh arasy, menyatu dengan kosmik yang terbentang melampaui penyaksian lahiriah.
Bagaimana kita bisa mendengarkan atau bahkan mengalunkan nyanyian kudus yang terhantar oleh hati nurani? Bisakah kita terus bernyanyi demi meneguhkan jiwa yang rapuh ini? Dimana kita mencari nyanyian itu, dan bagaimana bisa memperdengarkan bisikan nurani yang syahdu tersebut pada orang lain?
Nyanyian kudus tak bisa dihantarkan dalam keadaan hati yang dongkol, jengkel, marah, atau remuk redam. Pendeknya, hati gelap, kering, dan dangkal tak bisa mengantarkan nyanyian pengabar kedamaian ke prana batin ini. Pasalnya, kegelapan dan kedangkalan hati yang ditandai dengan amukan kemarahan, kejengkelan, dan dendam hanya bertemu dengan kasarnya hawa nafsu. Manakala hawa nafsu masih mendominasi dan mengitari jiwa dengan kuat, maka nyanyian kudus itu tersumbat dan tak bisa didengarkan dengan indah. Perlulah kita melunakkan hawa nafsu, memadamkan bara hasrat. Bagaimana cara melunakkan hawa nafsu?
Kata para ahli bijak, melunakkan hawa nasfu hanya dengan mengendalikan pikiran, jika orang bisa mengendalikan pikiran, insya Allah bisa mengendalikan keinginan dan hasrat nafsu yang kerap mengembara tanpa kendali. Janganlah sampai kita dibuai oleh pikiran, sehingga kita tidak pernah menyadari dengan kesadaran nurani atas hal yang diperbuat. Ketika pikiran tak terkontrol, emosi pun ikut tak terkontrol, sehingga perbuatan tak terarah, dan minus makna. Pikiran, sebagai jerat setan yang memerangkap manusia dalam perbuatan yang nihil. Apakah berarti pikiran berbahaya? Pikiran diperlukan sebagai pelayan, bukan sebagai master, atau tuan dari kehidupan kita.
Jika pikiran diposisikan sebagai pelayan, tentu selalu berada dalam kontrol diri kita, ketika pikiran terkontrol, maka aktivitas yang kita lakukan juga terkontrol secara efektif, sebagai pertanda mengikuti jalan cahaya. Apa pengontrol pikiran? Zikir menjadi pengontrol pikiran yang mudah, namun sulit bagi orang yang tidak memiliki komitmen berdzikir. Dan komitmen berdzikir sebagai rahmat dari Allah. Kala berzikir, terasa ada energi ketenangan menyusup ke dalam dinding hati kita, goncangan-goncangan kecil yang beriak di hati akan mereda, dan terasa ketenangan mengalir luas ke lubuk batin ini. Zikir berarti ingat, mengingat Allah dengan kesadaran jernih. Mengingat Allah dalam hati, sekaligus merasakan kehadiran Allah terus-menerus.
Sesekali kita juga perlu memerhatikan kerja pikiran. Seringkali kerja pikiran melebar kemana-mana, bayangkan kalau berbicara dengan teman, kadang melompat-lompat, dari satu tema ke tema yang lain, alur pembicaraan terputus dari topic perbincangan ke topik lain yang tak relevan. Berbicara burung piaraan, hingga perseteruan elite politik. Dari bisnis ngalantur ke perkara jodoh. Pembicara yang ngalur-ngidul menandakan fokus pikiran terganggu, dan setiap pembicaraan terkesan out of context. Padahal, rasa-rasanya tanpa disertai fokus, kerja apapun terasa tidak maksimal, dan kurang bisa memberikan kepuasan optimal. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, kalau tidak mau disebut gampang, menulis. Menulis, tanpa disertai semangat fokus dan gairah yang positif, kadang sering keseleo, ide berkelana tanpa tujuan yang jelas. Dan mungkin ide menjadi buntu, ngadat. Alangkah indahnya ketika bisa memfokuskan diri dan menikmati setiap aktivitas agar membekaskan kenikmatan mendalam bagi kita.
Patutlah kita menyisakan waktu membaca pikiran kita, apa yang dipikirkan sang pikiran ini. Apakah benar-benar fokus, atau sering ngelantur. Bagi orang yang tidak menjejakkan perhatian pada satu fokus, berarti pikiran masih terus berterbangan tanpa arah yang jelas. Kalau kita mengenali dengan akrab kerja pikiran, semoga menjadi pemicu kita untuk mengoptimalkan pikiran pada perihal yang bermanfaat. Selain itu, kita memiliki kuasa mengendalikan pikiran, sehingga ada saatnya pikiran dipergunakan, dan adakalanya diistirahatkan. Saat pikiran istirahat, maka suara nurani insya Allah melengking merdu dengan nyanyian kudus.
Dari seluruh tuturan yang berpanjang-panjang, saya meyakini untuk mendengarkan bisikan nurani, perlu mengatur dan mengendalikan pikiran, bahkan ada saatnya mengistirahatkan pikiran agar bisa berteduh dalam kedamaian sembari mendengarkan bisikan nurani tersebut.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Nyanyian jiwa berupa hymne kudus yang dikidungkan semesta, malaikat, dan para Nabi sebagai tanda pengagungan pada Allah Azza Wajallah. Namun tidak semua orang bisa mendengarkan hymne kudus ini. Hanya segelintir orang bisa merasakan getaran hymne yang sudah menyatu dengan kosmik. Karena dari kosmik inilah terpancar nyanyian kudus yang dialunkan begitu merdu, menembus batas kesedihan dan kesusahan yang kerap merenggut jiwa. Bagi saya, sebagai pemula di jalan ini, demi mendengarkan nyanyian kudus itu masih harus melewati aral tantangan yang amat besar. Terutama, tantangan dari dalam diri sendiri.
Bisikan nurani seperti bisikan lembut yang bisa diterima orang-orang lembut, berteduh dalam keheningan, menelusuri tapak-tapak yang terbuka di ruang jiwa. Tak ayal, ada orang begitu peka menerima suara kejernihan yang terbuka dari langit-langit batin, sehingga gampang menitikkan air mata, mudah terpengaruh pesona yang tersebar di langit-langit batin ini. Saat kita merasakan kesyahduan batin tersebut, seolah pikiran menyentuh arasy, menyatu dengan kosmik yang terbentang melampaui penyaksian lahiriah.
Bagaimana kita bisa mendengarkan atau bahkan mengalunkan nyanyian kudus yang terhantar oleh hati nurani? Bisakah kita terus bernyanyi demi meneguhkan jiwa yang rapuh ini? Dimana kita mencari nyanyian itu, dan bagaimana bisa memperdengarkan bisikan nurani yang syahdu tersebut pada orang lain?
Nyanyian kudus tak bisa dihantarkan dalam keadaan hati yang dongkol, jengkel, marah, atau remuk redam. Pendeknya, hati gelap, kering, dan dangkal tak bisa mengantarkan nyanyian pengabar kedamaian ke prana batin ini. Pasalnya, kegelapan dan kedangkalan hati yang ditandai dengan amukan kemarahan, kejengkelan, dan dendam hanya bertemu dengan kasarnya hawa nafsu. Manakala hawa nafsu masih mendominasi dan mengitari jiwa dengan kuat, maka nyanyian kudus itu tersumbat dan tak bisa didengarkan dengan indah. Perlulah kita melunakkan hawa nafsu, memadamkan bara hasrat. Bagaimana cara melunakkan hawa nafsu?
Kata para ahli bijak, melunakkan hawa nasfu hanya dengan mengendalikan pikiran, jika orang bisa mengendalikan pikiran, insya Allah bisa mengendalikan keinginan dan hasrat nafsu yang kerap mengembara tanpa kendali. Janganlah sampai kita dibuai oleh pikiran, sehingga kita tidak pernah menyadari dengan kesadaran nurani atas hal yang diperbuat. Ketika pikiran tak terkontrol, emosi pun ikut tak terkontrol, sehingga perbuatan tak terarah, dan minus makna. Pikiran, sebagai jerat setan yang memerangkap manusia dalam perbuatan yang nihil. Apakah berarti pikiran berbahaya? Pikiran diperlukan sebagai pelayan, bukan sebagai master, atau tuan dari kehidupan kita.
Jika pikiran diposisikan sebagai pelayan, tentu selalu berada dalam kontrol diri kita, ketika pikiran terkontrol, maka aktivitas yang kita lakukan juga terkontrol secara efektif, sebagai pertanda mengikuti jalan cahaya. Apa pengontrol pikiran? Zikir menjadi pengontrol pikiran yang mudah, namun sulit bagi orang yang tidak memiliki komitmen berdzikir. Dan komitmen berdzikir sebagai rahmat dari Allah. Kala berzikir, terasa ada energi ketenangan menyusup ke dalam dinding hati kita, goncangan-goncangan kecil yang beriak di hati akan mereda, dan terasa ketenangan mengalir luas ke lubuk batin ini. Zikir berarti ingat, mengingat Allah dengan kesadaran jernih. Mengingat Allah dalam hati, sekaligus merasakan kehadiran Allah terus-menerus.
Sesekali kita juga perlu memerhatikan kerja pikiran. Seringkali kerja pikiran melebar kemana-mana, bayangkan kalau berbicara dengan teman, kadang melompat-lompat, dari satu tema ke tema yang lain, alur pembicaraan terputus dari topic perbincangan ke topik lain yang tak relevan. Berbicara burung piaraan, hingga perseteruan elite politik. Dari bisnis ngalantur ke perkara jodoh. Pembicara yang ngalur-ngidul menandakan fokus pikiran terganggu, dan setiap pembicaraan terkesan out of context. Padahal, rasa-rasanya tanpa disertai fokus, kerja apapun terasa tidak maksimal, dan kurang bisa memberikan kepuasan optimal. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, kalau tidak mau disebut gampang, menulis. Menulis, tanpa disertai semangat fokus dan gairah yang positif, kadang sering keseleo, ide berkelana tanpa tujuan yang jelas. Dan mungkin ide menjadi buntu, ngadat. Alangkah indahnya ketika bisa memfokuskan diri dan menikmati setiap aktivitas agar membekaskan kenikmatan mendalam bagi kita.
Patutlah kita menyisakan waktu membaca pikiran kita, apa yang dipikirkan sang pikiran ini. Apakah benar-benar fokus, atau sering ngelantur. Bagi orang yang tidak menjejakkan perhatian pada satu fokus, berarti pikiran masih terus berterbangan tanpa arah yang jelas. Kalau kita mengenali dengan akrab kerja pikiran, semoga menjadi pemicu kita untuk mengoptimalkan pikiran pada perihal yang bermanfaat. Selain itu, kita memiliki kuasa mengendalikan pikiran, sehingga ada saatnya pikiran dipergunakan, dan adakalanya diistirahatkan. Saat pikiran istirahat, maka suara nurani insya Allah melengking merdu dengan nyanyian kudus.
Dari seluruh tuturan yang berpanjang-panjang, saya meyakini untuk mendengarkan bisikan nurani, perlu mengatur dan mengendalikan pikiran, bahkan ada saatnya mengistirahatkan pikiran agar bisa berteduh dalam kedamaian sembari mendengarkan bisikan nurani tersebut.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Jumat, 03 Juli 2009
MERENDAHKAN DIRI
Setiap orang tak berkenan direndahkan “harga” dirinya. Selama ini kita dicekoki kepercayaan, setiap orang harus memiliki harga diri yang tinggi (high-selfesteem), sehingga jika ada yang merendahkan, bisa saja naik pitam, bersikap dongkol, berujung pada pertengkaran yang sengit. Memang, harga diri menjadi perjuangan setiap orang untuk meneguhkan egonya, hanya sebagian kecil manusia yang emosinya tetap tenang kala direndahkan. Hanya orang-orang yang menyadari siapa dirinya yang semakin menundukkan diri dan kata yang merendahkan bisa mengalirkan kesadaran yang jernih soal bertumpuknya dosa yang melekat pada dirinya. Mereka pun memandang bahwa cacian dan makian itu sebagai bentuk utusan dari Allah agar semakin gigih memperbaiki diri secara tulus dan jernih.
Merendahkan diri bukan tanda kehinaan, tapi tanda kemuliaan. Pun kerendahan diri bukan tanda sikap hidup pesimis, mediocre, atau pecundang, bahkan merendahkan diri sebagai refleksi keteguhan diri yang tertanam kuat dan menjadi bentuk sikap optimis yang membersit dari kesadaran nurani terdalam. Saya sering menemui sosok yang bersikap merendahkan diri di hadapan orang lain. Alih-alih dari sikap tersebut mendapatkan kehinaan, malahan menarik sikap respek orang lain terhadapnya. Saya bertemu dengan putera seorang kiai yang amat terkenal di negeri ini. Sebelum mengenal beliau lebih dekat, saya tak melihat tanda-tanda beliau seorang putra kiai, hanya saja beliau selalu berlaku sopan, lembut, dan bersikap mau melayani tamu dengan tulus. Bahkan, beliau sempat menyapa dengan suara lembut, merendah, dan mempersilahkan saya untuk mencicipi hidangan yang sudah disediakan. Karena saya belum mengetahui beliau yang sebenarnya, saya bersikap biasa saja, “mungkin dia pelayan ndalem?” batinku.
Beberapa saat berikutnya, beliau ternyata tidak sebatas melayani, namun ikut melontarkan usulan-usulan cerdas di forum, dan beberapa peserta yang hadir memanggilnya Gus. Saya pun tergugah untuk bertanya, siapa sejatinya sosok yang amat cerah dan tulus tersebut? Setelah bertanya, saya mendapatkan jawaban mengejutkan dan membuka rasa hormat saya pada beliau. Beliau adalah putra kiai ndalem yang insya Allah akan menjadi pengganti kiai ke depan.
Belajar dari kerendahan diri “Gus” saya mengambil kesimpulan, ternyata merendahkan diri tak bisa menghacurkan kehidupan kita, malahan meneguhkan kejayaan dan membangkitkan kecemerlangan yang terselubung dalam diri kita. merendahkan diri bukanlah refleksi rasa putus asa, bahkan sebagai pemancar rasa optimis yang bisa menebarkan energi positif bagi orang-orang sekitar kita. Rasulullah SAW bersabda, “ Barang siapa yang bersikap sombong niscaya akan direndahkan oleh Allah, dan siapa yang bersikap merendahkan diri niscaya akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT,”
Bagaimana kita mengembangkan sikap merendahkan diri tersebut?
Pertama, Pandanglah orang lain sebagai yang terbaik. Ketika Anda bertemu dengan seseorang, pandanglah dia sebagi sosok cemerlang dan memiliki prestasi luar biasa. Pendek kata, diposisikan sebagai sosok terhormat di hadapan Anda. Pancarkan rasa syukur Anda, lantaran bisa bertemu orang yang begitu luar biasa tersebut, sembari berharap Anda bisa memeroleh pelajaran berharga darinya. ketika Anda menilai orang itu luar biasa, maka akan timbul rasa apresiasi yang tinggi, dan selalu menikmati pertemuan itu sebagai momen istimewa. Ketika orang diperlakukan istimewa dan terhormat, selain mengalirkan kebahagiaan pada orang tersebut, pun hati Anda dipenuhi dengan energi kebahagiaan yang tak terbatas. Dari situ, orang yang diperlakukan terhormat akan menaruh sikap hormat terhadap Anda. Gamblangnya, sikap orang lain terhadap kita adalah pantulan sikap kita terhadap orang tersebut.
Kedua, mengenali diri Anda dengan segenap kelemahan yang melekat. Allah Maha menutupi cacat yang ada pada makhlukNya. Dia telah menutupi cacat kita, andaikan Allah membuka selubung cacat yang melekat pada kita, mungkin banyak orang yang akan menjauhi kita, hingga mengisolasi kita dalam pergaulan. Hanya dengan kasih sayang Allah, cacat kita tak terungkap, pun Allah menuntun kita untuk melakukan kebaikan. Memang hanya dengan rahmat Allah semata kita bisa berbuat baik. Sesungguhnya kita tidak kuasa untuk berbuat yang terbaik, dan kebaikan yang melekat pada kita hanya sebatas anugerah dari Allah. Betapa banyak pelajaran yang bisa digali dari realitas hidup yang terbabar di sekitar kita, ada orang yang pada mulanya bersungguh-sungguh berbuat baik, kemudian terperangkap dalam perilaku jahat. Pada mulanya begitu tekun shalat berjemaah di masjid, tapi tanpa mengerti apa sebabnya, dia pun menjauhi kegiatan-kegiatan masjid. Dari situ, saya berkesimpulan, hanya dengan rahmat Allah kita bisa berbuat kebajikan. Karena itu, tak pantas kesombongan melekat pada diri manusia, karena seluruh kedirian manusia terhantar oleh rahmat Allah SWT semata.
Merendahkan diri perlu dikristalisasi dalam kesadaran kita, sehingga kita akan mendapati keagungan dan kemuliaan. Bukankah yang tempat yang rendah yang akan ditempati genangan hujan. Hanya hati yang merendahkan diri yang insya Allah akan selalu dialiri rahmat Allah SWT. Karena itu, tak layak kita mempersepsi merendahkan diri refleksi keringkihan mental, bahkan itu keteguhan mental, karena kala merendahkan diri, dia bersua dengan keagungan Allah yang tak tertandingi. Insya Allah.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Setiap orang tak berkenan direndahkan “harga” dirinya. Selama ini kita dicekoki kepercayaan, setiap orang harus memiliki harga diri yang tinggi (high-selfesteem), sehingga jika ada yang merendahkan, bisa saja naik pitam, bersikap dongkol, berujung pada pertengkaran yang sengit. Memang, harga diri menjadi perjuangan setiap orang untuk meneguhkan egonya, hanya sebagian kecil manusia yang emosinya tetap tenang kala direndahkan. Hanya orang-orang yang menyadari siapa dirinya yang semakin menundukkan diri dan kata yang merendahkan bisa mengalirkan kesadaran yang jernih soal bertumpuknya dosa yang melekat pada dirinya. Mereka pun memandang bahwa cacian dan makian itu sebagai bentuk utusan dari Allah agar semakin gigih memperbaiki diri secara tulus dan jernih.
Merendahkan diri bukan tanda kehinaan, tapi tanda kemuliaan. Pun kerendahan diri bukan tanda sikap hidup pesimis, mediocre, atau pecundang, bahkan merendahkan diri sebagai refleksi keteguhan diri yang tertanam kuat dan menjadi bentuk sikap optimis yang membersit dari kesadaran nurani terdalam. Saya sering menemui sosok yang bersikap merendahkan diri di hadapan orang lain. Alih-alih dari sikap tersebut mendapatkan kehinaan, malahan menarik sikap respek orang lain terhadapnya. Saya bertemu dengan putera seorang kiai yang amat terkenal di negeri ini. Sebelum mengenal beliau lebih dekat, saya tak melihat tanda-tanda beliau seorang putra kiai, hanya saja beliau selalu berlaku sopan, lembut, dan bersikap mau melayani tamu dengan tulus. Bahkan, beliau sempat menyapa dengan suara lembut, merendah, dan mempersilahkan saya untuk mencicipi hidangan yang sudah disediakan. Karena saya belum mengetahui beliau yang sebenarnya, saya bersikap biasa saja, “mungkin dia pelayan ndalem?” batinku.
Beberapa saat berikutnya, beliau ternyata tidak sebatas melayani, namun ikut melontarkan usulan-usulan cerdas di forum, dan beberapa peserta yang hadir memanggilnya Gus. Saya pun tergugah untuk bertanya, siapa sejatinya sosok yang amat cerah dan tulus tersebut? Setelah bertanya, saya mendapatkan jawaban mengejutkan dan membuka rasa hormat saya pada beliau. Beliau adalah putra kiai ndalem yang insya Allah akan menjadi pengganti kiai ke depan.
Belajar dari kerendahan diri “Gus” saya mengambil kesimpulan, ternyata merendahkan diri tak bisa menghacurkan kehidupan kita, malahan meneguhkan kejayaan dan membangkitkan kecemerlangan yang terselubung dalam diri kita. merendahkan diri bukanlah refleksi rasa putus asa, bahkan sebagai pemancar rasa optimis yang bisa menebarkan energi positif bagi orang-orang sekitar kita. Rasulullah SAW bersabda, “ Barang siapa yang bersikap sombong niscaya akan direndahkan oleh Allah, dan siapa yang bersikap merendahkan diri niscaya akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT,”
Bagaimana kita mengembangkan sikap merendahkan diri tersebut?
Pertama, Pandanglah orang lain sebagai yang terbaik. Ketika Anda bertemu dengan seseorang, pandanglah dia sebagi sosok cemerlang dan memiliki prestasi luar biasa. Pendek kata, diposisikan sebagai sosok terhormat di hadapan Anda. Pancarkan rasa syukur Anda, lantaran bisa bertemu orang yang begitu luar biasa tersebut, sembari berharap Anda bisa memeroleh pelajaran berharga darinya. ketika Anda menilai orang itu luar biasa, maka akan timbul rasa apresiasi yang tinggi, dan selalu menikmati pertemuan itu sebagai momen istimewa. Ketika orang diperlakukan istimewa dan terhormat, selain mengalirkan kebahagiaan pada orang tersebut, pun hati Anda dipenuhi dengan energi kebahagiaan yang tak terbatas. Dari situ, orang yang diperlakukan terhormat akan menaruh sikap hormat terhadap Anda. Gamblangnya, sikap orang lain terhadap kita adalah pantulan sikap kita terhadap orang tersebut.
Kedua, mengenali diri Anda dengan segenap kelemahan yang melekat. Allah Maha menutupi cacat yang ada pada makhlukNya. Dia telah menutupi cacat kita, andaikan Allah membuka selubung cacat yang melekat pada kita, mungkin banyak orang yang akan menjauhi kita, hingga mengisolasi kita dalam pergaulan. Hanya dengan kasih sayang Allah, cacat kita tak terungkap, pun Allah menuntun kita untuk melakukan kebaikan. Memang hanya dengan rahmat Allah semata kita bisa berbuat baik. Sesungguhnya kita tidak kuasa untuk berbuat yang terbaik, dan kebaikan yang melekat pada kita hanya sebatas anugerah dari Allah. Betapa banyak pelajaran yang bisa digali dari realitas hidup yang terbabar di sekitar kita, ada orang yang pada mulanya bersungguh-sungguh berbuat baik, kemudian terperangkap dalam perilaku jahat. Pada mulanya begitu tekun shalat berjemaah di masjid, tapi tanpa mengerti apa sebabnya, dia pun menjauhi kegiatan-kegiatan masjid. Dari situ, saya berkesimpulan, hanya dengan rahmat Allah kita bisa berbuat kebajikan. Karena itu, tak pantas kesombongan melekat pada diri manusia, karena seluruh kedirian manusia terhantar oleh rahmat Allah SWT semata.
Merendahkan diri perlu dikristalisasi dalam kesadaran kita, sehingga kita akan mendapati keagungan dan kemuliaan. Bukankah yang tempat yang rendah yang akan ditempati genangan hujan. Hanya hati yang merendahkan diri yang insya Allah akan selalu dialiri rahmat Allah SWT. Karena itu, tak layak kita mempersepsi merendahkan diri refleksi keringkihan mental, bahkan itu keteguhan mental, karena kala merendahkan diri, dia bersua dengan keagungan Allah yang tak tertandingi. Insya Allah.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Sabtu, 20 Juni 2009
JANGAN BERPALING DARI CAHAYA
Cahaya tak pernah tenggelam atau tertelan kegelapan, karena cahaya akan tetap bersinar kendati ada awan yang menutupinya. Hanya benda yang terhalang oleh cahaya yang tak bakal mendapati cahaya. Bunga ketika diletakkan di halaman rumah, kemungkinan mendapatkan cahaya lebih besar ketimbang bunga yang dibiarkan hidup dalam rumah. Mengapa bunga yang berada dalam rumah peluangnya kecil mendapati cahaya? Karena rumah menjadi sekat untuk sampainya sinar cahaya pada bunga. Padahal kita tahu sendiri, ketika bunga jarang mendapati cahaya, cenderung menjadi layu, daun-daunnya berguguran, dan berujung pada kematian sang bunga. Kehadiran cahaya matahari serasa sangat penting, pun kemunculan cahaya rembulan bisa menumbuhkan bibit,
Ketika kesenyapan malam, ditembusi setitik cahaya remang-remang, ternyata menumbuhkan kehidupan bagi tanaman. Kenyataan ini pernah saya amati ketika saya menyertai ibu bertani di ladang, melihat tanaman padi, pertumbuhan terjadi ketika telah melewati malam. Berarti malam hari pun menebar pertumbuhan lewat cahaya malam. Memang cahaya membuat hidup lebih termaknai, tanpa cahaya tanaman tidak tumbuh, pun manusia tanpa mendapati sinaran cahaya, akan terlihat loyo, demotivasi, dan tak memiliki gairah positif untuk melejitkan potensinya yang luar biasa. Pendek kata, memang pada asasnya seluruh kehidupan ini bersenggama dengan cahaya. Dari cahaya tumbuh jagat kehidupan ini.
Mari kita tarik metafor lahiriah yang terbentang di alam besar tersebut ke jagat batin kita yang amat lembut. Mungkinkah kita merasa hati ini hidup tatkala cahaya hidayah tersumbat dan tak menembusi batin kita? Serasa hati disesaki gundah gulana, dikitari kesedihan, kesusahan, seperti orang yang mendaki gunung-gemunung yang tinggi, nafas pun tersengal-sengal. Perkara apapun yang menyesakkan dada menandakan energi negatif telah mengalir ke setiap zona batin kita. Negatifitas yang memenuhi batin itu menandakan tidak merasuknya cahaya ilahiah ke ruang kesadaran kita. Mengapa cahaya ilahiah tidak terserap ke dalam kesadaran? Ya, karena kita cenderung berpaling dari cahaya, atau menutup diri dengan kehadiran cahaya. Bukankah hanya pintu-pintu terbuka yang akan dimasuki tamu. Buka jendela atau pintu batin kita untuk menerima kebenaran sejati, sehingga dari bilik batin kita akan berjejal selaksa cahaya kebenaran.
Cahaya tetap bersinar, bergantung kita yang mau menerima cahaya itu. Kiranya apa yang menjadi penghalang manusia bersua dengan Sang Cahaya. Dinding tebal yang menghalangi manusia untuk mendapati cahaya tersebut, adalah keakuan. Manakala manusia berhasil menjebol tembok keakuan yang membiakkan sifat riya’, dengki, dan sombong, insya Allah sinar cahaya Ilahiah bakal menerobos ruang batin, berikut cahaya kebahagiaan menghiasi ruang batin dan lahiriah kita. Gumpalan kegundahan bakal mencair menjadi kehangatan dan kebeningan yang menyalakan kreativitas. Karya-karya pun bisa melejit secara dahsyat. Ya hanya cahaya yang bisa melepaskan belenggu manusia yang berada dalam kegundahan.
Kalau Allah memantulkan cahaya lahiriah melalui matahari, musti Allah juga mengutus cahaya batin yang bisa menghalau kegelapan yang menyergap kehidupan manusia. Menerbitkan optimisme tatkala manusia disandera kebekuan pesimisme, menyegarkan harapan yang sudah layu, menerangi kegelapan yang beku dan kaku. Allah mengutus cahaya pada manusia adalah para Nabi sebagai representasi cahaya agung, kemudian disalurkan pada para sahabat, para waliullah, dan ulama zuhud yang hidup saat ini. Itu berarti, agar kita bisa mencerap cahaya, perlu kiranya kita terus tersambung dengan cahaya “ulama” yang memilih terus menerangi kegelapan. Janganlah kita berpaling dengan ulama’, yang ada dalam benak kita ketika berada di hadapan ulama’ adalah mendengarkan dan mentaati. Ketika kita berada dalam kepatuhan yang teguh pada ulama’, insya Allah cahaya bakal terus memandu hidup kita. Insya Allah.
Khalili Anwar, Penutur dari jalan Cahaya
Sabtu, 13 Juni 2009
Batas belajar Mencari Kebenaran.....
Ilmiah... sebingkah kata yang begitu akrab di telinga saya semenjak “menyusu” ilmu di Pesantren Annuqayah. Pesantren ini menampung ribuan santri, terletak di ujung barat Sumenep, Jawa Timur. Di pesantren ini, kreativitas menulis puisi, prosa, cerpen, dan esai betul-betul digalakkan, seakan menjadi kultur harian yang kental mewarnai perbincangan dan penampilan ilmiah para santri. Saking kuatnya kesan ilmiah itu, kadang nasi yang sedang dilahap dianalisa secara ilmiah. Kata sebagian santri, “nasi pun mengandung filsafat.” Awal mula mendengar kata ilmiah, begitu asing di telinga ini... terkesan perkara yang menuntut berpikir keras dan menggerakkan orang untuk bersua dengan kemurnian jiwanya. Mungkin hanya sosok yang memiliki kepekaan yang bisa menuturkan perkara ilmiah dengan apik. Kendati masih terlihat begitu asing dengan dunia intelektual, tetap saja harus ikut menekuni dunia menulis dan berdebat ilmiah. Dari pesantren itu, saya bertemu dengan pemikiran besar yang disajikan Gus Dur, Ahmad Wahib, Dawam Raharjo, Cak Nur, Cak Nun, Alwi Shihab, Muhammad Sobary, Quraish Shihab, Moeslim Abdurrahman, Annamarie Schammel, Sachico Murata, dan deretan sosok intelektual lainnya yang membedah Islam dengan pisau analisa yang amat tajam dan mendedah dengan kejernihan berpikir yang mengagumkan.
Saya pun tersihir oleh pemikiran mereka yang begitu memukau tentang Islam yang inklusif. Membaca deretan pemikiran mereka, terekam kehalusan akal budi dan kejernihan berpikir, dan saya menyimpulkan, itulah makna dari intelektual. Tanpa saya sadari, saya tengah menelusuri lorong-lorong terang pemikiran pemikir besar yang dijelmakan dalam bentuk tulisan ilmiah. Sejak saat itu, saya terus bergulat, berperang, berdebat, bahkan bercinta dengan teks. Teks mencurahi ide-ide bernas, menerobos tradisi-tradisi yang kaku, dan berusaha mempola perubahan dengan keindahan. Karena itu, tak aneh pemberontakan lewat intelektual lebih mengena bagi orang-prang cerdas, ketimbang kekuatan anarkis. Itulah yang diyakini para pemikir-pemikir handal yang masuk dalam kancah aktivitas intelektualisme.
Namun, pengetahuan ilmiah tanpa didasari pengetahuan agama yang mendalam, cenderung menyeret orang ke ranah kesombongan intelektual. Padahal mereka menyadari, pemikiran mereka terbatas dan terbukti kalah bila dibenturkan dengan pemikiran lain yang lebih mengakar ke dalam. Kita insya Allah bisa menggali dan menemukan kebenaran sejati, jika bisa memadukan ilmu dan agama. Filsafat berguna guna membuka eksistensi kebenaran, dan agama menjadi sumbu penggerak guna menyapa kebenaran tersebut.
Bagi saya, potensi berpikir yang rumit-rumit tersebut lama terkubur, karena sejak menginjakkan kaki di dunia perguruan tinggi lebih sering dipertemukan dengan teks-teks yang praktis, pelatihan-pelatihan praktis, dan membuat dimensi harus disajikan secara sederhana. Kesederhanaan, katanya, gampang dipahami dan dimengerti oleh orang lain. Makanya saat jadi mahasiswa, saya lebih gandrung dengan daras pemikiran praktis, kendati mendalam, seperti karya Andreas Harefa, Gede Prama, Paulo Preire, serta buku motivasi yang dirajut dengan kata-kata yang amat sederhana, sehingga bisa dimengerti oleh khalayak yang lebih luas. Sejak saat itu, saya berpisah dengan pemikir besar, berikut mulai keranjingan dengan inspirasi para motivator yang memberikan sajian sukses belajar secara instan, menjadi pebisnis hebat, dan sebagainya.
Dan usai kuliah, saya kembali merindukan pemikiran mengakar ke dalam. Hanya saja pilihan yang saya ambil bukan pemikiran radikal bernuansa filsafat. Saya tergerak membaca karya-karya berdaras sufi. Kendati bukan pelaku sufi sejati, saya terus terang semakin hari menyukai karya-karya sufi yang menyajikan sebuah pola guna menggapai kebenaran dengan penyucian hati. Ketika hati suci, menurut para sufi, orang bakal bisa melihat, bahkan mengalami kebenaran yang sejati. Mereka meyakini kebenaran bermukim di dalam diri kita, tidak berada di luar dirinya. Yang membuat manusia terhalang memeroleh kebenaran, lantaran hatinya masih kotor. Apa tanda hati kotor? Hati yang kotor cenderung dihinggapi riya’, dengki, dan sombong. Hanya orang yang berusaha mengikis riya’, dengki, dan sombong itulah yang insya Allah bakal memeroleh cahaya kebenaran yang hakiki.
Orang bisa memeroleh kebenaran, bukan sebatas wacana, tetapi berkait dengan pengalaman ruhani. Pengalaman ruhani ini masih rindu ingin saya jalani....
Hanya sebuah tutur....
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Saya pun tersihir oleh pemikiran mereka yang begitu memukau tentang Islam yang inklusif. Membaca deretan pemikiran mereka, terekam kehalusan akal budi dan kejernihan berpikir, dan saya menyimpulkan, itulah makna dari intelektual. Tanpa saya sadari, saya tengah menelusuri lorong-lorong terang pemikiran pemikir besar yang dijelmakan dalam bentuk tulisan ilmiah. Sejak saat itu, saya terus bergulat, berperang, berdebat, bahkan bercinta dengan teks. Teks mencurahi ide-ide bernas, menerobos tradisi-tradisi yang kaku, dan berusaha mempola perubahan dengan keindahan. Karena itu, tak aneh pemberontakan lewat intelektual lebih mengena bagi orang-prang cerdas, ketimbang kekuatan anarkis. Itulah yang diyakini para pemikir-pemikir handal yang masuk dalam kancah aktivitas intelektualisme.
Namun, pengetahuan ilmiah tanpa didasari pengetahuan agama yang mendalam, cenderung menyeret orang ke ranah kesombongan intelektual. Padahal mereka menyadari, pemikiran mereka terbatas dan terbukti kalah bila dibenturkan dengan pemikiran lain yang lebih mengakar ke dalam. Kita insya Allah bisa menggali dan menemukan kebenaran sejati, jika bisa memadukan ilmu dan agama. Filsafat berguna guna membuka eksistensi kebenaran, dan agama menjadi sumbu penggerak guna menyapa kebenaran tersebut.
Bagi saya, potensi berpikir yang rumit-rumit tersebut lama terkubur, karena sejak menginjakkan kaki di dunia perguruan tinggi lebih sering dipertemukan dengan teks-teks yang praktis, pelatihan-pelatihan praktis, dan membuat dimensi harus disajikan secara sederhana. Kesederhanaan, katanya, gampang dipahami dan dimengerti oleh orang lain. Makanya saat jadi mahasiswa, saya lebih gandrung dengan daras pemikiran praktis, kendati mendalam, seperti karya Andreas Harefa, Gede Prama, Paulo Preire, serta buku motivasi yang dirajut dengan kata-kata yang amat sederhana, sehingga bisa dimengerti oleh khalayak yang lebih luas. Sejak saat itu, saya berpisah dengan pemikir besar, berikut mulai keranjingan dengan inspirasi para motivator yang memberikan sajian sukses belajar secara instan, menjadi pebisnis hebat, dan sebagainya.
Dan usai kuliah, saya kembali merindukan pemikiran mengakar ke dalam. Hanya saja pilihan yang saya ambil bukan pemikiran radikal bernuansa filsafat. Saya tergerak membaca karya-karya berdaras sufi. Kendati bukan pelaku sufi sejati, saya terus terang semakin hari menyukai karya-karya sufi yang menyajikan sebuah pola guna menggapai kebenaran dengan penyucian hati. Ketika hati suci, menurut para sufi, orang bakal bisa melihat, bahkan mengalami kebenaran yang sejati. Mereka meyakini kebenaran bermukim di dalam diri kita, tidak berada di luar dirinya. Yang membuat manusia terhalang memeroleh kebenaran, lantaran hatinya masih kotor. Apa tanda hati kotor? Hati yang kotor cenderung dihinggapi riya’, dengki, dan sombong. Hanya orang yang berusaha mengikis riya’, dengki, dan sombong itulah yang insya Allah bakal memeroleh cahaya kebenaran yang hakiki.
Orang bisa memeroleh kebenaran, bukan sebatas wacana, tetapi berkait dengan pengalaman ruhani. Pengalaman ruhani ini masih rindu ingin saya jalani....
Hanya sebuah tutur....
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Kamis, 11 Juni 2009
SABAR ITU…..
Suatu saat saya mengunjungi pertamanan yang ramai dengan orang-orang bersenam pagi. Di situ ada yang bertampang kakek-nenek, ibu-ibu, dan remaja. Di sebuah pagi yang indah itu, mereka mempergunakannya untuk senam pagi demi menyehatkan dan membugarkan tubuhnya. Mereka telah memilih untuk bersenam pagi demi sebuah tujuan yang jelas. Tetapi bagi orang yang malas-malasan kerap mempergunakan waktu pagi untuk tidur kembali selepas subuh, sembari menunggu datangnya mimpi indah di pagi hari.
Orang-orang yang bersenam itu memiliki tujuan yang jelas, dan dia berusaha untuk mengalami dan merealisasikan tujuan tersebut secara maksimal. Ada mendambakan berbadan kekar, mendambakan makin singset, atau mendambakan makin sehat. Untuk mencapai tujuan itu dia harus menjalani proses dengan kesabaran, determinasi, kesungguhan, ketekunan, dan terus-menerus.
Pun dalam peningkatan spiritual, kita harus berlatih sabar dalam menjalani proses. Jika kita hendak mencapai maqam yang elit dalam persoalan duniawi saja harus terus berusaha dengan penuh kesabaran, apalagi mencapai maqam spiritual yang tinggi. Kesabaran sebuah upaya untuk melatih jiwa kita agar makin kuat dalam memegang amanah yang lebih besar. Jika kita bertekad untuk mencapai maqam bahagia, maka kita harus bersabar mendapatkan pelbagai ujian yang menimpa kita. Teruslah bersabar, pupuskan setiap perasaan yang membawa pada keputus-asaan. Setiap kali menghadapi sebuah problem maka kita berada di persimpangan antara sukses dan gagal, dan ketika kita sabar dalam menghadapi problem tersebut, insya Allah kita akan terbimbing untuk menggapai kesuksesan. Sebaliknya orang yang tidak sabar, bakal terus-menerus berada dalam kegagalan, alias gagal dalam bersikap. Dengan kesabaran kita bakal memeroleh pelajaran yang amat berharga dari setiap pengalaman yang dijalani.
Perlu disadari, sabar (ash-Shabr) tidak sama dengan malas-malasan (al-kasl). Tetapi sabar mengandung makna bersungguh-sungguh atau berjuang (al-jihad). Sabar bukan reaksi, tetapi respons yang mantap. Karena reaksi digerakkan oleh hawa nafsu, dan respons digerakkan oleh hati nurani. Respons disini berarti respons (able), atau bertanggung jawab, bukan melempar tanggung jawab. Pendek kata, orang yang bersabar selalu berusaha dan berhasil menundukkan hawa nafsu, dan mengedepankan hati nurani dalam menyelesaikan masalah.
Ingatlah saudaraku, tujuan tidak sebatas dipahami dan diyakini, namun memerlukan sebuah proses “aksi” yang mengantarkan kita sampai pada tujuan tersebut. Sabda guru, “Tujuan tidak cukup hanya dimengerti, namun perlu dialami.” Kata ini singkat, tetapi bisa menjadi pengungkit motivasi dahsyat bagi saya. Dalam menjalani proses, kita dituntut untuk bersabar, karena musti manusia menghadapi berbagai challenge (tantangan) untuk menggapai kesuksesan. Kebahagiaan dan kepuasan batin terletak saat berhasil melampaui tantangan demi tantangan untuk mencapai tujuan. Jika Anda bersabar menghadapi ujian dan tantangan hidup, maka di depan Anda terbentang kesuksesan yang luar biasa. Saya pun meyakini bahwa dengan bersabar menghadapi tantangan yang dianugerahkan oleh Allah, maka manusia bakal bisa melompati kesuksesan yang luar biasa. Orang bersabar tidak pernah berhenti dengan keadaan hari ini, dia terus berjalan untuk melampaui tantangan demi tantangan hingga dia mencapai kebahagiaan tanpa batas.
Manakala kesabaran manusia tidak terbatas, maka dia akan memperoleh suatu yang tak terbatas pula dari Allah SWT. Ya, demikianlah ciri orang sukses, dia tidak pernah membatasi kesabaran. Hanya orang-orang pecundang yang selalu berkata, “sabar itu ada batasnya.” Manakala sabar dalam kebaikan itu ada batasnya, berarti dia telah membatasi rahmat Allah SWT. Karena sesungguhnya rahmat Allah memancar dibalik kesabaran “yang keras”. Allah berfirman, “…sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” Kesabaran yang tanpa batas, niscaya bakal memperoleh kesuksesan tanpa batas pula Wallahu a’lam bish showaab.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Orang-orang yang bersenam itu memiliki tujuan yang jelas, dan dia berusaha untuk mengalami dan merealisasikan tujuan tersebut secara maksimal. Ada mendambakan berbadan kekar, mendambakan makin singset, atau mendambakan makin sehat. Untuk mencapai tujuan itu dia harus menjalani proses dengan kesabaran, determinasi, kesungguhan, ketekunan, dan terus-menerus.
Pun dalam peningkatan spiritual, kita harus berlatih sabar dalam menjalani proses. Jika kita hendak mencapai maqam yang elit dalam persoalan duniawi saja harus terus berusaha dengan penuh kesabaran, apalagi mencapai maqam spiritual yang tinggi. Kesabaran sebuah upaya untuk melatih jiwa kita agar makin kuat dalam memegang amanah yang lebih besar. Jika kita bertekad untuk mencapai maqam bahagia, maka kita harus bersabar mendapatkan pelbagai ujian yang menimpa kita. Teruslah bersabar, pupuskan setiap perasaan yang membawa pada keputus-asaan. Setiap kali menghadapi sebuah problem maka kita berada di persimpangan antara sukses dan gagal, dan ketika kita sabar dalam menghadapi problem tersebut, insya Allah kita akan terbimbing untuk menggapai kesuksesan. Sebaliknya orang yang tidak sabar, bakal terus-menerus berada dalam kegagalan, alias gagal dalam bersikap. Dengan kesabaran kita bakal memeroleh pelajaran yang amat berharga dari setiap pengalaman yang dijalani.
Perlu disadari, sabar (ash-Shabr) tidak sama dengan malas-malasan (al-kasl). Tetapi sabar mengandung makna bersungguh-sungguh atau berjuang (al-jihad). Sabar bukan reaksi, tetapi respons yang mantap. Karena reaksi digerakkan oleh hawa nafsu, dan respons digerakkan oleh hati nurani. Respons disini berarti respons (able), atau bertanggung jawab, bukan melempar tanggung jawab. Pendek kata, orang yang bersabar selalu berusaha dan berhasil menundukkan hawa nafsu, dan mengedepankan hati nurani dalam menyelesaikan masalah.
Ingatlah saudaraku, tujuan tidak sebatas dipahami dan diyakini, namun memerlukan sebuah proses “aksi” yang mengantarkan kita sampai pada tujuan tersebut. Sabda guru, “Tujuan tidak cukup hanya dimengerti, namun perlu dialami.” Kata ini singkat, tetapi bisa menjadi pengungkit motivasi dahsyat bagi saya. Dalam menjalani proses, kita dituntut untuk bersabar, karena musti manusia menghadapi berbagai challenge (tantangan) untuk menggapai kesuksesan. Kebahagiaan dan kepuasan batin terletak saat berhasil melampaui tantangan demi tantangan untuk mencapai tujuan. Jika Anda bersabar menghadapi ujian dan tantangan hidup, maka di depan Anda terbentang kesuksesan yang luar biasa. Saya pun meyakini bahwa dengan bersabar menghadapi tantangan yang dianugerahkan oleh Allah, maka manusia bakal bisa melompati kesuksesan yang luar biasa. Orang bersabar tidak pernah berhenti dengan keadaan hari ini, dia terus berjalan untuk melampaui tantangan demi tantangan hingga dia mencapai kebahagiaan tanpa batas.
Manakala kesabaran manusia tidak terbatas, maka dia akan memperoleh suatu yang tak terbatas pula dari Allah SWT. Ya, demikianlah ciri orang sukses, dia tidak pernah membatasi kesabaran. Hanya orang-orang pecundang yang selalu berkata, “sabar itu ada batasnya.” Manakala sabar dalam kebaikan itu ada batasnya, berarti dia telah membatasi rahmat Allah SWT. Karena sesungguhnya rahmat Allah memancar dibalik kesabaran “yang keras”. Allah berfirman, “…sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” Kesabaran yang tanpa batas, niscaya bakal memperoleh kesuksesan tanpa batas pula Wallahu a’lam bish showaab.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Selasa, 09 Juni 2009
KETIKA RUMAH DITINGGAL MERANTAU
Adalah sebuah keluarga yang bisa disebut mewah dalam ukuran orang desa. Kepala keluarga ini bernama Pak Jufri, bermula dari kesetiaan pada anak-anaknya, beliau selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik dan tak ingin mengecewakan mereka. Beberapa tahun, beliau menikmati hidup yang berkecukupan, dan anaknya pun ikut mengecap kemewahan yang diperolehnya. Namun, sang anak yang tak pernah mengerti bagaimana kerja keras yang dilakukan sang ayah, sering berlaku tidak setia pada Pak Jufri, mereka lebih suka menguras pundit-pundi kekayaan Pak Jufri.
Anak pertamanya, Sofar. Ia dikuliahkan ke Jakarta sama Pak Jufri, di sebuah Perguruan Tinggi elit. Hanya saja, di Jakarta, Sofar menghabiskan waktunya dengan aktivitas yang sia-sia, tidur, nonton film, dan cangkruk dengan teman-temannya. Ya kedua, Zainal, Zainal memilih hidup sebagai anak jalanan yang selalu gamang menentukan arah tujuan hidupnya. Memang, hidupnya tak pernah terarah dengan baik. Putera ketiga, Kamal. Kamal dipondokkan ke pesantren. Kamal hanya hobi nyantri, namun tak hobi ngilmu. Karena kamal sering pindah-pindah pesantren, akhirnya Kamal dipondokkan ke luar negeri, tepatnya sebuah pesantren Arab Saudi. Ia balajar disana bertahun-tahun, namun saya tak mendengar kemajuan Kamal dalam hal pengetahuan, yang terdengar dia masih seperti dulu, tak ada perubahan yang berarti. Pak Jufri sebenarnya berharap sekali Kamal fasih berbahasa Arab dan menjadi anak yang sholeh hingga bisa membimbing anak muda desa mengaji al-Qur’an dan membaca kitab kuning. Harapan pak Jufri tinggal serakan harapan yang tak terjalin dalam kenyataan. Mungkin ada rasa kecewa yang meredam di dada Pak Jufri, melihat semua anaknya tidak seperti yang diharapkan.
Sudah banyak harta yang dikeluarkan untuk menyekolahkan dan menyantrikan anak-anaknya, kini Pak Jufri harus merantau ke kota dekat Lombok sana bersama seluruh keluarganya agar bisa mendulang harta dan hidup mewah seperti dulu. Keputusan Pak Jufri sekeluarga merantau otomatis nasib rumahnya tak lagi berpenghuni. Bertahun-tahun Pak Jufri tenggelam dalam aktivitas perdagangan di luar pulau, sekarang rumahnya berjubel dengan rumput. Rumah yang tak terawat itu bertampang bak sawah yang ditanami beragam tanaman. Bisa jadi semak belukar yang mengelilingi rumah Pak Jufri telah menyulapnya menjadi hunian asri buat ular, tikus, kecoak, dan sebangsanya. Pak Jufri telah meninggalkan rumahnya dan merantau demi mencari kejayaan yang pernah diraihnya.
Berkaca dari cerita tersebut, tanpa disadari kita seperti sosok Pak Jufri dan keluarganya yang telah meninggalkan hunian kita yang sejati tak terawat, lantaran ingin memuaskan keinginan yang bersifat sementara. Pak Jufri meninggalkan rumah jasadnya, namun kita telah meninggalkan rumah jiwa kita sendiri. Betapa setiap saat, kita meninggalkan orientasi akhirat demi sebatas memenuhi kepentingan duniawi yang bersifat sementara. Kita sering mati-matian memperbaiki hidup kita yang berada di perantauan (duniawi), ketimbang bekal hidup di akhirat nanti. Karena berupayalah agar amal-amal yang kita lakukan bisa membuat akhirat kita tertata asri dan membuat hati menjadi nyaman, yakni rumah akhirat yang menghadirkan suasana surgawi.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Langganan:
Postingan (Atom)