Senin, 30 November 2009
IDUL QURB DAN THANKSGIVING DAY
Baru saja, tanggal 10 Zulhijaah 1430H – tepat 27 November 2009—kita jelang Idul Qurb, sebuah perhelatan akbar tahunan yang menjadi momentum ekspresi syukur suci pada Allah SWT. Takbir, tahmid, dan tasbih terus berkumandang dari masjid, musholla, bahkan di jalan-jalan. Para remaja mengadakan takbir keliling, radio tak lupa menyebarluaskan gema takbir, televisi menyisipkan tagline-tagline berhembuskan takbir. Memang, hari raya Idul Qurb memberikan kesan mendalam bagi setiap pejalan ruhani. Karena, Idul Qurb, seumpama rute perjalanan, adalah stasiun terakhir perjalanan manusia. Idul Qurb, berarti kembali pada kedekatan.
Mengapa kita terus berjuang agar kembali dekat? Saudaraku, pada mulanya, ketika berada di alam arwah –saat masih berupa janin—kita bersinggasana di ruhul qudsiyah, meresapi kenyamanan, ketenangan, dan kedamaian tak terperikan bersama Allah SWT. Ketika orang telah bersama Allah, sesungguhnya dia telah merasakan surga hati. Bukankah surga pantulan keindahan, kedamaian, dan ketenangan yang tak bisa dilukiskan oleh logika. Dan tidak ada ucapan yang meluncur dari lisan ahli surga, kecuali ekspresi rasa syukur. Memang, syukur sebagai sikap puncak (peak performance) dari sosok yang telah menghayati keindahan surgawi.
Tidak ada kebahagiaan bagi pencinta kecuali perjumpaan dengan kekasih. Bagi lajang, kerinduan terhadap kekasih begitu membara, dan dia terus melukiskan kriteria yang bakal menjadi penghangat jiwanya tersebut. Ketika belum bersua, dia terus menuturkan dalam beragam ekspresi, kadang kata-kata, kadang lukisan, kadang senyum yang terus terkulum indah dari bibirnya. Akan tetapi, dikala dia bersua, berjumpa, dan beradu mata dengan kekasih yang dicarinya, bahkan hingga memadu kasih, maka tak ada yang bisa diekspresikan kecuali terima kasih, sebagai tanda kebahagiaan yang tak lagi bisa diekspresikan. Akal jadi lumpuh di hadapan kekasih, pikiran jadi lemah di hadapan sang kekasih, tetapi hati menjadi benderang, bagai memperoleh pasokan cahaya yang lebih besar. Hanya ucapan terima kasih yang melulu mengalir dari lisan orang yang telah menggapai pertemuan agung dengan kekasihnya.
Apa pertautan antara syukur idul Qurb. Jika Idul Fitri sebagai ekspresi cinta yang terus bergolak dalam hati, maka Idul Qurb manandai adanya kedekatan dengan yang dicintai. Jika Idul Fitri mengekspresikan cinta dengan memberikan hadiah dan maaf, maka menjelang Idul Qurb, kita perlu mengungkan rasa syukur, karena yang dilihat hanya keindahan semata. Karena itu, ada sebagian ruhaniwan yang mengemukakan, Idul Qurb menjadi ajang mengekspresikan ucapan terima kasih pada siapapun dan apapun yang telah berjasa dalam hidup kita. Rasa terima kasih tak hanya diungkapkan pada sahabat dekat yang telah menguatkan perjalanan, perlu juga dihaturkan pada orang yang belum dikenal, tetapi tanpa kita sadari mereka juga berkontribusi dalam menjaga kehidupan ini tetap dinamis.
Sepatutnya kita belajar berterima kasih pada orang-orang terdekat yang turut menguatkan perjalanan kita, berterima kasih pada sahabat, berterima kasih pada alam yang tidak pernah bosan memberikan kehidupan pada kita. Bayangkan, bagaimana rasanya ketika matahari pensiun berhari-hari, tak lagi memancarkan sinarnya? Berterima kasih pada air, yang dari air kita bisa mempertahankan kehidupan. Berterima kasih pada hewan ternak yang telah membantu mengurangi beban hidup. Apakah berterima kasih pada selain Allah tidak dekat dengan syirik? Ingatlah saudaraku, rasa terima kasih yang kita haturkan pada siapapun dan apapun bersumber dari rasa terima kasih mendalam pada Allah SWT. Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidak bersyukur pada manusia, berarti tidak bersyukur pada Allah.” Dan Allah pun berfirman yang artinya, “Bersyukurlah kepadaKU dan kepada orang tuamu.”
Pitutur itu cukup untuk dijadikan landasan mengungkapkan rasa syukur pada siapapun dan apapun yang telah berjasa pada kita. Apakah kita hanya bersyukur pada orang-orang yang berlaku baik pada kita? Kita harus menebarkan syukur pada seluruh kehidupan, karena kehidupan ini telah dirancang secara interdependen. Apakah kita pantas mengungkapkan syukur pada musuh? Ya, kita masih layak menuturkan rasa syukur pada musuh, karena lewat gangguan musuh rasa sabar kita tertempa dengan baik, bahkan musuh itulah yang telah membentuk kematangan ruhani kita. Tak aneh, untuk melejitkan derajat seorang hamba, Allah kadang mengirimkan musuh yang menebarkan fitnah sana-sini, dan ia sendiri dipandu Allah untuk bisa bersikap sabar dengan aneka fitnah, berikut dipertemukan dengan mutiara hikmah yang menyegarkan dan mendewasakan jiwanya.
Saat Idul Qurb tiba, tidak ada alasan tidak berterima kasih pada siapapun. Mungkin konglomerat kaya raya, tidak pernah terikat bisnis secara langsung dengan petani, tetapi ia setiap hari makan nasi, dan nasi itu dari padi yang ditanam para petani. Kendati tidak berhubungan langsung dengan petani, selayaknya konglomerat tersebut mengirimkan pesan syukur pada petani.
Dan Saat kita menghayati rasa syukur yang dibagikan pada siapapun dan apapun, niscaya akan terbersit kesadaran dari hati nurani terdalam, pada hakikatnya kita, alam, dan seluruh jagat semesta ini satu. Karena itu Allah telah mengikat kita secara interdependen, saling membutuhkan satu sama lain.
Mencerna pesan suci yang terbungkus di Idul Qurb itu, maka saya meyakini Islam sebuah agama yang sempurna yang memandu umatnya agar punya kualitas sikap luhur dan tinggi, tak perlu menunduk-nunduk, dan meniru dan minder pada bangsa lain yang pada hakikatnya terbelakang. Jika barat baru menemukan thanksgiving day, sesungguhnya Islam telah menyodorkan Idul Qurb, media untuk mengekspresikan rasa syukur. Wallahu A’lam Bis Showaab.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Sabtu, 28 November 2009
IDUL FITRI DAN IDUL QURB
Hari raya terbagi dua, hari raya Fitri dan hari raya Qurb. Adakah sama pesan dibawa dari dua hari raya tersebut? Apa makna yang bisa ditangkap di dua hari raya tersebut dalam konteks pertumbuhan keimanan kita? Kita berusaha membedah dengan hati-hati pesan agung yang tersirat di dua hari raya tersebut, seraya berharap kita bisa merengkuh pencerahan agung, yang membuat kita merasakan kebahagiaan bersama Allah SWT.
Tentu, kita mendapati kesan, hari raya tanda sebuah pesta kegembiraan, kebahagiaan, dan kemakmuran. Orang mendapati kegembiraan dan kepuasan setelah menjalani beragam pernak-pernik masalah yang menghujani selama ini. Tabrakan masalah telah membentuk kepribadian hidup lebih matang, dan beragam masalah itu pula yang terus membuat jiwa tumbuh pesat. Ya, hanya karena berhasil melewati sekian tantangan hidup, manusia merasakan kepuasan. Lebih dari itu, akar kesuksesan adalah kesabaran. Tepatnya, kesuksesan bersembunyi dibalik kesabaran. Manakala orang telah berlaku sabar, insya Allah bakal merasa kesuksesan benar-benar nikmat.
Tanpa kesabaran tak ada kesuksesan, bahkan hanya sebentuk kesuksesan instant yang tak pernah membekaskan kebahagiaan mendalam ke dalam hati. Mengapa? Karena kesuksesan tanpa dilandasi kesabaran tidak meniupkan makna. Padahal hanya makna yang membawa manusia pada kebahagiaan.
Jadi, hari raya dihelat lantaran manusia menjalani masa-masa sulit guna mencapai tujuan hidup yang hakiki, berupa kebahagiaan. Jadilah hari raya sebagai momen untuk mempersembahkan syukur yang tulus pada Allah SWT yang telah menggenapi manusia dengan beragam anugerah. Anugerah terbesar yang perlu dirayakan berupa anugerah iman. Karena hanya dengan iman yang kuat, manusia akan merasa keamanan. Maksudnya keamanan internal. Dan bagaimana iman bisa mencapai pembuahan, maka diperlukan sebuah kesabaran dan ketekunan. Tanpa kesabaran justru iman, alih-alih berbuah, malahan akan mandul. Memang, hanya dengan ikhlas yang berakar dari kesabaran, iman akan berproses menjadi pohon, batang, cabang, bunga, dan akhir berbuah.
Hari raya diadakan lantaran manusia telah berhasil menapaki perjuangan yang menggetirkan. Berarti tidak ada hari raya tanpa perjuangan. Apa perjuangan yang harus dijalani kita sehingga pantas menghelat hari raya? Hari raya selalu didahului dengan puasa. Hari raya Idul Fitri dimulai dengan puasa Ramadhan, dan Hari raya Idul Qurb diawali dengan puasa 1-10 zulhijah. Apa pesan yang bisa dipetak dari kedua hari raya tersebut.
Hubungan Idul Fitri bagi Idul Qurb, bagai hubungan tanah bagi bangunan, wudhu bagi shalat. Hanya dengan mencapai suci, manusia menggapai kedekatan dengan Allah SWT, hanya dalam keadaan suci manusia bisa sambung dengan Allah SWT. Meminjam hadis Rasulullah SAW, “kesucian adalah syarat dari iman.” Orang yang belum suci secara batiniah, berarti iman belum menyusup ke dalam hatinya. Padahal hanya dengan iman itulah manusia bisa menjaring keamanan, kenyamanan, dan kebahagiaan yang bersifat internal dan personal.
Idul Fitri: Proses Penyucian Diri
Pernahkah saudaraku mendengar, Ramadhan yang kita jalani setiap tahun sekali bermakna pembakaran. Maksudnya, pembakaran dosa-dosa yang menempel dalam hati. Hanya ketika dibakar, maka akan ada pembersihan. Bagaikan tumpukan kotoran yang menggunung di halaman rumah, maka cara membersihkan adalah dengan membakarnya. Adapun kotoran yang tersangkut ke dalam hati berkaitan bersumber dari hawa nafsu. Ketika manusia berhasil membakar hawa nafsu, berarti hati telah bersih dan mencapai penyucian.
Bahkan, andaikan kita pernah mengonsumsi makanan haram, maka untuk membersihkan makanan “terlarang” yang mungkin telah mendarahdaging dalam tubuh kita, bisa dibersihkan dan disucikan dengan puasa. Ketika manusia telah menggapai kesucian, dan berarti hawa nafsu sudah tidak lagi bercokol, maka hati nurani yang menggemakan kesucian bakal terus mengalun merdu. Dan buahnya adalah ketenangan hidup. Ketika orang dikepung kotoran, niscaya terus didera rasa sumpek, gelisah, dan pikiran negatif, namun ketika kotoran itu telah terbakar dan lenyap, maka kebahagiaan personal bakal bergulir sejuk bak salju ke dalam kalbu.
Hari raya Qurb: Menjalin kedekatan dan Keintiman
Qurb berarti dekat. Dekat tanda orang punya gelora cinta di dalam hatinya. Tanpa cinta, kedekatan tidak bakal dirasakan. Dan cinta sendiri adalah suatu yang suci. Maka tak bisa orang mengotori cinta, cinta tak bisa disentuh dengan suatu yang kotor. Cinta hanya keluar dari hati yang bersih, jernih, dan indah. Ketika cinta telah berkumandang dari hati, maka akan menjadi kompas, juga penarik untuk makin dekat pada Allah SWT. Ya, hanya dengan modal cinta mendalam, manusia akan diarahkan untuk makin mendekat pada Allah SWT. Bukankah hanya dengan magnit cinta yang jauh jadi dekat, yang berpisah jadi menyatu? Karena itu, ketika kita hendak merasakan kedekatan sedeka-dekatnya dengan Allah, maka perlu terlebih dahulu ditanamkan bibit cinta di dalam hati. Ketika cinta telah menghiasi hati kita, maka tanpa kita sadari terus dituntun menuju kedekatan pada Allah SWT.
Bagaimana tanda orang telah menggapai kedekatan dengan Allah? ketika orang dekat pada Allah, maka akan timbul dua perasaan. Pertama, perasaan damai. Bukankah kebahagiaan seseorang berbanding lurus dengan kualitas kedekatan dengan yang dicintai? Dan kita tidak bisa melukiskan perihal perasaan damai, karena saking personalnya perasaan yang tertiup ke dalam hati kita. Ketika damai terus menerus bermukim dalam hati ini, berarti kedekatan telah memenuhi hati. Dimana ada rasa kedekatan, disana damai tengah menumbuhkan kebahagiaan tak terukur dan tak berbatas.
Kedua, merasakan kesatuan. Ketika rasa kedekatan telah memenuhi batin ini, maka kesatuan dengan Allah amat dirasakan. Telah berhasil melampaui dualitas dekat dan jauh. Karena dekat dan jauh sendiri sebagai cermin masih ada keterpisahan antara hamba dan Tuhan. Sementara sesungguhnya, manusia yang telah berada dalam samudera kesatuan, akan selalu merasa menyatu dengan Allah dimana saja. Saat rasa kesatuan itu telah terbenam dalam hati, maka kebahagiaan tidak pernah berhenti meluap-luap, dan kita terasa selalu berada dalam perhelatan pesta raya setiap saat. Lebih tepatnya, kita menjadi selebritis setiap saat.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Selasa, 10 November 2009
MENYEGARKAN KEMBALI PIKIRAN YANG LAYU
Sebulan lebih saya tak mengekspresikan perasaan dan gagasan jernihku lewat tulisan. Terasa ada kerinduan yang membuncah dari hati ini, untuk kembali bisa bertemu komputer sederhanaku, agar bisa menghaturkan kebajikan-kebajikan yang pernah kulihat, pernah kualami, atau pernah kurasakan saat bergaul dengan beberapa sahabat.
Sebulan lamanya, saya berusaha mengondisikan hati untuk melewati hari-hari di medan tafakkur disertai adanya sebuah dorongan yang kuat di hati ini untuk mewakafkan diri di jalan dakwah secara ikhlas, dikala banyak orang meninggalkan medan dakwah ini. Jalan dakwah memang jalan sunyi yang ditempuh sedikit orang, jalan yang harus bisa menumbuhkan keikhlasan, dan tantangannya adalah bagaimana mengikis sikap tidak ikhlas yang cenderung melintas dari hati dan pikiran. Hanya saya yakin, Allah Maha Tahu usaha saya untuk melewati jalan-jalan yang sarat tantangan tersebut.
Saya pun makin mantap untuk menekuni dakwah melalui keterampilan menulis dan berbicara di depan umum. Semoga dua keterampilan tersebut dialiri spirit Ilahi juga kerinduan yang tak pernah surut pada Rasulullah Muhammad SAW yang sapatutnya dijadikan model dari zaman ke zaman. Kendati demikian, saya menyadari bahwa menulis dan berbicara hanyalah pantulan dari perasaan (dzauq) yang membuncah di rongga hati ini. Semoga Allah menuntun pembicaraan saya, dan semoga pembicaraan itu terlahir dari kejernihan perilaku batin ini. Sungguh, orang yang sering menulis dan berbicara, namun tak selaras dengan semangat batin dan sikap hidupnya, maka tulisan dan pembicaraan yang diungkapkan hanya menambah kesempitan bagi jiwanya. Kemudian, bagaimana orang yang jiwa dan hatinya sempit dan gelap bisa menghadirkan kelapangan dan pencerahan pada orang lain. Bukankah hanya orang yang punya lampu yang bisa menerangi kegelapan? bukankah hanya orang yang punya air yang bisa memberikan air? Dan bukankah hanya orang yang punya uang yang bisa memberikan uang? Berarti, hanya orang yang memiliki pencerahan di dalam hatinya yang bisa menyuguhkan pencerahan ke hati orang lain.
Memang, cara efektif untuk bisa memberi pencerahan adalah dengan berusaha memenuhi diri dengan pencerahan lewat perenungan dan mendekati orang-orang yang telah mendapati pencerahan dalam hidupnya. Membaca Qur’an sembari merenungi pesan-pesannya, juga bisa lewat membaca buku-buku yang mengandung pencerahan amat penting untuk memantik pencerahan dalam hati sendiri.
Mana yang terpenting dari semua itu. Semuanya penting. Ya kalau kita bertanya mana yang penting dari semua itu, memang semuanya penting. Namun, ada yang amat penting dan menjadi perihal primer dari semuanya adalah al-Qur’an yang hidup, yakni guru, yang tak hanya sebatas menginspirasi kita lewat kata, tetapi juga lewat perilaku dan sikap hidup yang dipantulkan. Guru amatlah penting selaku tempat bercermin sekaligus hati bagi seorang murid. Bukankah ketika hati baik, insya seluruh organ menjadi baik adanya. Ketika guru yang dijadikan cermin hidup berkarakter baik, insya Allah murid pun terpandu ke jalan kebajikan seperti yang ditempuh para suci. Bagi saya, guru adalah sumber mata air jernih yang mengalir, sementara hatiku dipenuhi kotoran yang terpercik dari comberan. Alangkah baiknya, kalau aku membasuh lekat-lekat kotoran dengan mandi di sumber yang jernih tersebut, sehingga mendapati wajahku yang penuh kotor berubah menjadi bening dan jernih.
Dari situ, bisa dimaklumi bahwa guru adalah pemandu ruhani yang bisa memasukkan nilai-nilai indah ke dalam hati. Sehingga keterampilan yang melekat pada diri bisa menjadi lebih bermakna dan menebarkan manfaat yang lebih luas lagi. Beberapa kali guru yang mulia sering meyakinkan saya untuk tetap menekuni dunia tulis menulis. Semoga spirit beliau senantiasa mamantul di setiap ekspresi kalam dan qalam saya.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Rabu, 04 November 2009
IKHLAS SEPERTI AKAR
Dalam ulasan sederhana ini, saya hendak menguak semangat ikhlasnya akar. Bagaimana akar sebagai simbol ikhlas. Ingatlah, ikhlas adalah wajah kembar dari kesabaran. Dalam usahanya dia terus berusaha memberi tanpa pamrih, dan tak pernah memperlihatkan diri sebagai yang amat berjasa terhadap pertumbuhan pohon hingga mencapai pembuahan. Bahkan ketika pohon semakin besar dan tinggi akar makin menghunjam ke tanah, demi bisa meneguhkan posisi pohon. Namun, ketika sudah berbuah, mungkin perhatian orang terlepas pada akar, dan hanya tertuju pada buah.
Buah diperkenalkan kemana-mana, ke banyak orang, tergelar di pasar tradisional, pun bisa melanglang ke gerai-gerai supermarket, supermall, sementara akar tetaplah menghunjam ke tanah sembari berusaha meneguhkan pohon agar sanggup menghaturkan buah kembali. Saking ikhlasnya akar, dia tak pernah sedikit pun mau terlihat sebagai yang berjasa, hingga pohon itu ditebang, akar pun tak mau terlihat, bahkan dia masih berusaha menyalurkan energi positif agar pohon yang sudah tumbang bisa tumbuh kembali. Seperti akar jambu, kendati pohonnya sudah ditebang, dia berusaha menumbuhkan pohon kembali. Betapa akar memiliki jasa yang amat penting bagi pertumbuhan pohon, tetapi tidak pernah sedikit pun terbersit untuk pamer dan menunjukkan sebagai yang paling berjasa. Dia hanya ingin terus memberi dalam kesunyian dan kerendahan dirinya di tanah.
***
Perlu kiranya kita belajar pada kearifan akar untuk peneguhan keikhlasan. Semakin banyak memberi, bukan makin mendongak, malahan makin merendahkan diri. Mengapa mereka merendahkan diri? Karena merasa bahwa ia dianugerahi peluang untuk memberi bukan lantaran usahanya tetapi oleh karena rahmat Allah. Memang, manusia hanya sebatas alat peraga Allah untuk menyalurkan cinta dan kasih sayang-Nya. Tak sepatutnya orang bersikap pamer dan haus pujian dengan aneka jasa yang dipersembahkan. Bahkan terus menghadapkan hatinya pada Allah dengan semangat ikhlas yang utuh, sembari menyadari semua kekuatan untuk bisa memberi bukan karena datang dari dirinya, tetapi karena kasih sayang Allah. Lebih dari itu, terbetot dalam kesadaran, apa yang diberikan dan sifat dermawan hingga dia bisa memberi bukanlah kehendak personal semata, namun merasa telah didesain dan dirancang oleh Allah SWT. Andaikan Allah mau, bisa jadi kita tak diberi kemampuan memberi apapun, bahkan walau yang diberikan ada, kadang kita tercegah untuk memberi karena sifat kelembutan berupa dermawan dan belas kasih belum menyusup ke dalam hati ini. Terbukti, ada orang yang telah menjalani hari-hari sebagai pengemis dari pintu ke pintu, sehingga tak terilhami sedikit pun untuk memberi pada sesama, lantaran dia masih kekurangan dan berjungkir-balik untuk sekadar bisa mengais makanan sehari-hari.
Selain itu, ada orang yang telah dianugerahi kekayaan yang berlimpah, namun tak disaluri sifat belas kasih dan dermawan, hingga kekayaan harta menjadikan jiwanya makin sempit, tak pernah terbersit sedikit pun untuk memberi pada sesama, bahkan dia didera rasa haus untuk bisa menumpuk dan menimbun harta sebanyak-banyaknya. Walau dia kaya secara lahiriah, tetapi miskin secara ruhani. Tak ada sifat qanaah dalam hatinya, akibatnya dia terus diterpa rasa khawatir, takut harta yang diperoleh hilang, juga didorong semangat untuk mendapat lebih banyak lagi. Pun, andai dia memberi tak jarang disertai harapan untuk mendapatkan lebih banyak. Spirit ikhlas tidak tertanam kuat dalam hatinya, padahal tanpa ikhlas orang akan berada dalam keadaan batin yang goyah. Seperti pohon tanpa akar.
Kita pasti mendamba sebagai pohon yang berakar, sehingga hari-hari kita terus diselimuti semangat keikhlasan yang tak terbatas. Bukankah hanya dalam semangat ikhlas orang melulu mencerap kebahagiaan yang hakiki, karena saat ikhlas manusia tengah “bergandengan” dengan Allah SWT. Makanya, begitu bahagia orang-orang yang hatinya diluapi spirit ikhlas. Pekerjaan orang ikhlas adalah memberi, dan kebahagiaan memantul saat bisa memberi. Dan lebih bahagia lagi, ketika pemberian itu hanya diketahui Allah SWT. Dari waktu ke waktu kita harus terus memproses diri agar tersaluri spirit ikhlas, dan selalu bergerak untuk memberi lebih banyak tanpa disertai kehendak sedikit pun untuk mendapatkan pujian dan sanjungan. Karena orang yang terpana dan silau dengan pujian dan sanjungan, akan mengalami kegoyahan iman. Dan orang yang memberi tanpa disertai ikhlas, berarti memberi tanpa disertai iman. Padahal hanya amal yang disertai iman yang bakal meneguhkan jiwa dekat pada Allah SWT.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Kamis, 22 Oktober 2009
MALAM PURNAMA SEMPURNA
Tepat malam 15 Ramadhan, hatiku berbunga-bunga menyambut bulan yang memendarkan cahayanya yang purnama. Saat itu, bibirku tak henti-henti melantunkan salawat Nuril Anwar, sambil menghayati kehadiran Rasulullah SAW sebagai sosok yang selalu dipersonifikasi sebagai rembulan. Kupandangi lekat-lekat, bulan itu ternyata dalam keadaan duduk tasyahud, seperti berdialog dan menyaksikan Tuhan dengan seluruh kemuliaanNya yang sempurna.
Tak luput, kulihat bunga-bunga, pohon-pohon, dan pelangi seakan turut memanjatkan tasbih menyambut rembulan yang terus memancarkan sinarnya yang sempurna. Aku pun berada dalam suasana dialog dengan purnama malam bersama seluruh jagat semesta yang khusyuk karena terpesona pada cahaya rembulan. Kala menatap rembulan, saya terus mengingat Rasulullah SAW yang telah berperan sebagai penerang yang nyata bagi kehidupan. Lantaran kehadiran Rasulullah SAW di jagat semesta inilah, begitu terasa adanya kehidupan rahmat yang memancar di setiap kisi-kisi kehidupan yang kualami.
Hatiku berbunga-bunga menatap purnama, seakan cahaya rembulan itu menjadi dambaan setiap makhluk termasuk diri ini. Saya pun bertanya, mungkinkah cahaya rembulan yang begitu sempurna itu bisa menghiasi langit-langit hati yang gelap ini? Bisakah cahaya purnama itu terbit dari kesadaran terdalam ini? Bisakah diri ini menjadi rembulan yang kemana-mana hanya bisa menebarkan cahaya kelembutan?
Dari sinar rembulan, saya menatap kelembutan Allah, yang gampang membuat orang terpesona dan masuk ke dunia spiritual yang amat dalam. Memang, manusia hanya bisa memandangi rembulan dengan cermat, tidak bisa melihat matahari. Bahkan ketika manusia berusaha menatap matahari yang memancarkan teriknya, niscaya matanya akan silau. Dan rembulan sendiri sebagai ekspresi dari cahaya matahari. Kedudukan rembulan di hadapan matahari, seperti kedudukan hamba yang paling terpuji Rasulullah Muhammad SAW di hadapan Allah SWT. Karena itu, untuk bisa mengenali matahari, maka manusia harus mengenali rembulan terlebih dahulu.
Dalam pandangan ruhaniku, matahari adalah perlambang sifat jalal Allah, dan rembulan adalah perlambat sifat jamal Allah. Makanya, tak aneh untuk mengekspresikan kelembutan cinta, sepasang kekasih selalu menggunakan simbol rembulan bersama cahayanya yang memukau. Karena sinar cahayanya yang lembut, sebagai simbol kasih sayang dan keindahan Allah SWT. Karena itu, Rasulullah SAW yang dilahirkan sebagai mahkota kehidupan bersematkan citra kepribadian yang lemah lembut dan penuh belas kasih.
Dakwah Rasulullah Saw benar-benar menggunakan kepekaan hati, dan adapun modus kekerasan (tegas) hanya dipergunakan ketika menghadapi orang kafir yang berlaku dzalim dan menyerang Islam. Rasulullah SAW menjalani dakwah lebih sering menggunakan cara-cara kelembutan dan kasih sayang, tak ayal jika para sahabat sering merasa tenteram dan dimabuk cinta kala bertemu Rasulullah SAW. Tak ada sedikit pun sikap Rasulullah SAW yang menyakiti sahabat, semua perilaku beliau terpandu dengan akhlak qur’ani. Senada dengan jawaban siti Aisyah ketika ditanya sahabat perihal akhlak Rasulullah, dia berkata semua perilaku Rasulullah SAW menakjubkan, dan berakhlak dengan akhlak al-Qur’an.
Begitulah, akhlak Rasulullah seindah rembulan purnama, tak sedikit pun terlihat cecat yang melekat padanya. Purnama hanya sebatas simbol keindahan akhlak Rasulullah SAW, namun pada hakikatnya rembulan itu tidak bisa mewakili keindahan akhlak Rasulullah SAW yang sempurna. Kalau kita begitu kagum dan terperangah dengan bulan purnama, niscaya akan lebih terperangah ketika melihat langsung cahaya akhlak Rasulullah SAW yang berkilau-kilau, yang siap membuat siapapun terpesona memandangnya.
Ketika melihat purnama malam, terasa api kerinduan menggelora dari hati ini. Mungkinkah saya berjumpa dengan Rasulullah SAW, merasakan ditatap oleh beliau? Merasakan belaian kelembutan beliau? Saya benar-benar ingin bertemu dengan beliau, semoga pertemuan agung itu bisa kurasakan sepanjang hayat saya. Bukankah ada dari para kekasih Allah yang bisa bertemu dan bertatap muka langsung dengan Rasulullah SAW. Mungkinkah orang yang serba terbatas ini bisa bertemu dengan beliau? Sungguh, diri ini begitu terbatas dalam segala hal, ibadah terbatas, ilmu terbatas, keyakinan terbatas, bahkan kezuhudan terbatas. Mungkinkah diriku pantas bertemu dan berdialog secara intim dengan Rasulullah SAW yang menjadi pijar cahaya rembulan bagi kehidupan ini. Apakah Rasulullah berkenan menemui diri yang papa dan hina ini atau tidak, terpenting saya terus memenuhi hati dengan kerinduan tanpa akhir pada Rasulullah SAW, sang rembulan yang terus bercahaya.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Rabu, 14 Oktober 2009
SOSOK MUSLIMAH
Bertegur sapa dan bergaul kendati hanya selintas, tetap saja membekaskan kesan yang indah di dalam hati. Keindahan ini tidak bertaut dengan keindahan yang menguap dari hawa nafsu, namun berasal dari kesadaran terdalam. Saya terus berusaha meraba cermin indah dari setiap sosok yang kutemui agar bisa membersihkan dan menghias hati ini. Kadang-kadang saya merasa malu dengan pancaran akhlak dan kontribusi orang-orang sekitar saya. Salah satunya yang membuat saya terhenyak saat melihat sikap hidup mulia yang ditampilkan seorang ibu. Saya memanggil perempuan itu dengan Bunda Farhan, dikarenakan kami merasa amat diperhatikan dan dihormati beliau sekeluarga. Bunda ini punya 3 anak puteri yang paling tua, Nur Laili, ada di bangku SMP, putri kedua, Amelia, kelas 1 SD, dan putri ketiga, Anissa, masih baru berada di bangku TK. Pada mulanya, saya menganggap Bunda Farhan sebatas ibu rumah tangga yang mencurahkan tenaganya guna mendidik dan membimbing anak-anaknya, juga melayani suaminya. Namun, dibalik kesederhanaan yang ditampilkan, dia ternyata sosok hafidzah yang begitu pandai dan luwes bergaul dengan ibu-ibu yang berada di sekitar perumahan Sengkaling. Bunda Farhan bersama keluarga menempati perumahan tersebut beberapa minggu sebelum puasa. Sebelumnya, beliau bersama keluarganya tinggal di Sidoarjo.
Yang menakjubkan di hati saya, kendati Bunda ini beberapa minggu tinggal di perumahan itu, begitu gampang berbaur dengan ibu-ibu yang lain. Dan dia selalu berusaha menebarkan aura kebajikan pada ibu-ibu, agar bisa mengaji al-Qur’an dengan baik dan benar lewat aktivitas tadarus. Semangat berbagi kebajikan itulah yang membikin saya menaruh kekaguman pada orang ini. Saya optimis, dia menjadi pelopor dakwah bagi kalangan ibu-ibu, bahkan saking padatnya kegiatan ibu-ibu yang ada di Sengkaling pada bulan puasa, saya menaruh harapan, bisa jadi akan berdiri masjid megah dan sekolah di perumahan tersebut. Bermula dari keyakinan, ketika ruh jihad telah menyusup ke dalam hati setiap umat, insya Allah dakwah sekaligus fasilitas dakwah bakal gampang terealisasi. Sebagian jamaah berujar, “Kami bersyukur beberapa bulan ini komunitas perumahan mendapatkan keberkahan dengan hadirnya orang-orang saleh, seperti keluarga pak Dhiya’ (guru kita yang mulia) dan keluarga Pak Farhan. Semoga ini menjada isyarat baik bagi perumahan Sengkaling, menjadi perumahan yang lebih agamis.” Kata Pak Moga menaruh harapan selaku aktivis dakwah di perumahan tersebut.
Memang, di perumahan banyak orang-orang saleh yang selalu fokus melayani umat, tanpa pamrih sedikit pun. Saya mengenal ada Ustadz Nur, seorang hafidz, lantunan al-Qur’an-nya terasa begitu syahdu menyusup hati. Hanya saja Ustadz Nur belum bisa terlibat aktif di Mushalla. Jika ada waktu kosong, beliau shalat berjamaah. Mungkin aktivitas dakwahnya padat.
Kembali ke Bunda Farhan. Sosok ini begitu telaten mengajari ibu-ibu, bahkan dia berazam melahirkan ustadzah yang bisa mendidik anak-anak TPQ yang selama ini tidak terkelola dengan baik, kalau tidak mau disebut terlantar. TPQ tidak mengalami kemajuan, karena masih ditangani dengan cara konvensional, tanpa menggunakan metode belajar al-Qur’an yang mudah dan cepat, selain ustadzah-nya tidak benar fokus memberikan perhatian terhadap pertumbuhan anak didik di TPQ tersebut. Saya hanya bisa mendukung langkah yang bakal dirintis Bunda Farhan, karena saya belum merasakan kejituan metode yang dipergunakan. Adapun metode yang dipergunakan Bunda Farhan dalam mendidik anak-anaknya adalah metode UMMI. Saya melihat perkembangan anaknya yang masih kelas 1 sudah bisa membaca al-Qur’an Juz.
Selain mengajari ibu-ibu mengaji, dia juga mengundang ustadz yang bisa mengajari ibu-ibu tarjim al-Qur’an, dengan harapan para ibu tidak hanya bisa mengaji al-Qur’an dengan fasih, juga memahami makna yang terkandung di dalamnya, sehingga akan terbangun semangat untuk merenungi (tadabbur) atas ayat yang tersirat dalam al-Qur’an tersebut. Tarjim al-Qur’an memadukan kegiatan belajar bahasa Arab dan mengkaji al-Qur’an. Tujuan pamungkasnya, bagaimana ibu-ibu bisa belajar al-Qur’an secara menyeluruh, tidak hanya mengaji tetapi juga bisa mengkaji al-Qur’an.
Selain aktivitas tadarus, menerjemah, dan mengkaji al-Qur’an, Bunda Farhan juga mengadakan pengajian ibu-ibu yang dihadiri salah satu dosen dari UNMUH, Malang. Saat pertama kali ketemu dosen ini, saya begitu antusias lantaran ada orang yang mau mengisi pengajian di sebuah Mushalla kecil. Saya sempat berbincang sebentar dengan ustadz tersebut, kemudian dia segera membuka pengajiannya. Saya menguping kajian-kajiannya di dalam kamar. Hanya saja, saat masuk ke materi pembicaraan, dia banyak menjlentrehkan tentang taghut, dengan gampang mengalamatkan klaim-klaim syirik pada saudara muslim yang lain. “meletakkan tulisan doa di daun pintu itu syirik, meminum air doa itu syirik, juga meminta tombo ke Ponari syirik,” kata si ustadz.
Aneka ucapan yang berbau syariat begitu kental berikut menyalahkan praktik pemahaman kelompok lain membuat hati tidak basah dan sejuk, malah semakin kering dan panas. Uraian-uraiannya yang tidak pernah menyentuhkan kesegaran ke dalam batin, membuat diriku tergerak untuk berbicara dengan Bunda Farhan.
Terlintas dari pikiranku sebuah peristiwa, dimana ada komunitas NU yang membangun Mushalla di sebuah perkampungan. Hanya karena kesadaran agama komunitas itu menyusut, masuklah kawan salafi (bukan salafiyah) untuk memakmurkan masjid tersebut. Karena uraian-uraiannya yang sering menyalahkan kalangan NU, maka semua aktivis Salafi yang tinggal di Masjid tersebut diusir oleh warga. Saya tak berharap komunitas muslim Sengkaling terpecah lantaran perbedaan pandangan.
Sehari selepas pengajian itu berlalu. Tepat habis shalat dhuhur, saya minta izin ke Pak Farhan untuk bersilaturrahim ke rumahnya. Pak Farhan mempersilahkan dengan senang hati. Namun, sekitar jam 2, saat saya mengajari adik-adik TPQ, saya dipanggil Bunda Farhan. “Katanya Abi, antum mau silaturrahim ke rumah selepas Ashar. Mohon ma’aaf, saya nanti mau silaturrahim ke sahabat saya, dan sudah kadung janjian, “katanya.
“Ya rencananya, hanya ingin silaturrahim, ada hal yang hendak disharing-kan,” ujarku.
“Apa ya, maaaf kalau saya bersama keluarga ada kesalahan,”dengan jiwa merendah.
Saya pertama-tama menyinggung perkembangan tadarus ibu-ibu, dan masa depan pendidikan al-Qur’an di Mushalla. Beliau berbicara begitu antusias, dan saya mendengarkan sambil menunduk ta’dzim. Setelah beliau berbicara panjang lebar tentang mengaji al-Qur’an, saya pun masuk pada perkara inti yang hendak kuungkapkan.
“Pada hari jumat kemarin, saya mendengarkan ceramah dari ustadz yang didatangkan dari UNMUH. Sebagian besar materinya baik, hanya saja ada beberapa catatan yang perlu dikoreksi. Saya kira semua hujah yang diungkapkan beliau bisa benar menurut sumber yang diperoleh.” “Namun, suatu hal yang perlu dikritisi ketika menyinggung ritual pandangan golongan lain keliru, dan hanya golongannya saja yang benar. Saya yakin Muhammaddiyah menjalani ritual keagamaan berdasar pandangannya sendiri yang bersumber dari al-Qur’an dan hadist, NU juga memiliki pandangan sendiri yang bersumber dari al-Qur’an, hadist, dan Qiyas.” Lanjutku
“Pun bisa jadi golongan yang lain punya pemahaman sendiri. Perbedaan dalam umatku adalah rahmat, sabda Rasulullah SAW. Bagaimana perbedaan ini mencitrakan bangunan Islam yang indah. Bukan perbedaan dijadikan ajang saling menuding kesalahan kelompok lain. Kita semua ingin melihat Islam yang bersatu, rekat, dan rukun karena sikap kedewasaannya memandang perbedaan yang menghiasinya.”Kataku
“Apa perihal yang tidak berkenan bagi ustadz?”tanyanya
“Saya sempat terhenyak ketika seorang ustadz mengomentari praktik-praktik keagamaan yang dipandang syirik. Meletakkan tulisan doa di daun pintu disebut syirik, meminum air doa disebut syirik, mungkin berziarh ke kubur syirik. Menurut pandangan ahli tauhid yang disebut syirik adalah menganggap ada selain Allah yang bisa memberikan manfaat secara independent. Jika kita mengganggap air itu yang membuat kita sembuh, itu syirik, atau karena tulisan itu yang membuat kita selamat, berarti syirik. Bahkan ketika seorang pasien mengalami kesembuhan, berpikir karena dokter yang memeriksa atau obat yang dikonsumsi yang membuat sembuh. Itu pun syirik. Dalam pandangan saya syirik tidak melekat pada benda-benda, tetapi ada di pikiran. Bunda mungkin pernah mendengar penemuan terakhir Prof. Ermuto perihal kekuatan air. Dia meneliti ketika air dimarahi, maka memunculkan butir-butir kristal yang jelek, namun ketika dilontarkan kata yang penuh belas kasih, kristal-kristalnya menjadi membaik. Apalagi ketika dibacakan al-Qur’an kristalnya menjadi amat baguuuus. Dari penelitian tersebut, terasa ada hubungan yang menarik antara doa dan air. Dan saya pernah mendengar sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya doa bisa merubah takdir,” uraiku.
“Sebenarnya ustadz kemarin menjelaskan tentang syirik tersebut agar orang hati-hati. Mungkin bagi orang yang tauhidnya sudah kuat, tidak perlu mendapatkan nasihat seperti itu. Saya juga berlatar keluarga NU, saya suka dengan tahlil, hanya kurang sreg ketika tahlil harus mengeluarkan banyak biaya untuk memberikan makan orang yang tahlil. Zikir (jahr) juga sepaham,” selorohnya
“Saya hanya kasihan pada umat, apalagi mushalla ini baru aktif beberapa tahun. Kita berharap kebersamaan dan kebersatuan jamaah jangan dikoyak lantaran didera hasrat untuk memperuncing perbedaan yang ada. Rasulullah SAW selalu mengedepankan akhlak dalam berdakwah, dan kita harus betul-betul berusaha meramu perbedaan sebagai keindahan yang menyejukkan. Ada yang qonut atau tidak saat subuh, tak perlu dipermasalahkan. Mereka punya standar pemahaman sendiri-sendiri. Kalangan NU bermazhabkan imam Syafi’ie, tetapi kalau mau melacak sejarah, sejatinya tahlil tidak difatwakan Imam Syafi’I, tetapi difatwakan Imam Hanafi. Sudah saatnya kita luwes menghadapi perbedaan, berikut menonjolkan kebersamaan,”tuturku.
“ya terima kasih atas sarannya ustadz. Saya berusaha menjaga kebersamaan itu. Sebenarnya, saya juga tidak mengerti latar belakang ustadz itu (yang memberikan ceramah), saya hanya diperkenalkan teman saya saat taklim.” Kata bunda Farhan.
“Maaf bunda, jika perkataan saya menyinggung perasaan bunda. Tetapi itu semua bermula dari semangat untuk bisa mempersatukan komunitas muslim Sengkaling ini, hingga makin rukun dan akrab satu sama lain,” kataku.
“Jazakallah, atas masukannya. Semoga saran tersebut jadi kebaikan bagi jamaah yang ada di sini,” ujar Bunda Farhan.
Saya pun melanjutkan mengajari adik-adik TPQ, dan Bunda Farhan pun melanjutkan aktivitas tadarusnya. Saya berharap saran yang kusampaikan akan dilanjutkan pada ustadz yang kumaksud. Alhamdulillah, seminggu setelah pengajian itu berlalu. Ustadz itu hadir, memberikan pengajian kembali. Materi pengajian lebih soft dan umum, dan tidak lagi menyinggung perbedaan yang ada. Semoga kerukunan diantara umat tetap terjaga di perumahan Sengkaling.
Saban ada kesempatan, Bunda Farhan selalu menanyakan seputar persoalan agama pada saya. Dan saya menjawab sebatas yang kuketahui. Saya berharap dia bersama keluarga akan menjadi sparring partner bagi guru kita yang mulia untuk menegakkan dakwah di perumahan tersebut.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Senin, 12 Oktober 2009
DARI GUNUNG HINGGA TAUHID
Sepanjang Ramadhan saya banyak belajar. Belajar pada bunga yang sedang merekah indah, gunung yang menunjukkan kelembutan dibalik keagungannya, air yang terasa dingin, mengalirkan kesejukan keseluruh pori-pori. Kurasakan semua keadaan yang mengitari diriku tanpa resistensi sedikit pun. Ketika saya berusaha menyelami beberapa ayat Tuhan apa adanya, dan meninggalkan pikiran yang dualitas, seolah ada cerapan-cerapan nutrisi mengalir ke dalam kalbu. Karena itu pencerahan memendar dari momen ke momen. Pandanganku terpaku pada gunung puteri tidur, yang di bawah kaki sang putri berdiri kukuh gunung paderman. Dua gunung tersebut menggambarkan kepatuhan seorang anak pada sang bunda.
Saya selalu ingat nasihat guru kami yang mulia, saat puasa tiba, layaknya dijadikan momen merenungi ayat-ayat Tuhan baik yang tergulung dalam Qur’an atau tergelar di alam ini, agar bisa mendulang hikmah suci. Bukankah ketika orang bisa mendulang hikmah, berarti dia mendapati yang banyak? Sebagaimana firman Allah, “Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-Hikmah itu, ia telah benar-benar dianugerahi al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QS. Al-Baqarah [2]:269)
Setiap hari saya selalu mencari obyek yang bisa direnungi, demi bisa mengenal Allah lebih dekat lagi. Bukankah dari merenung kita bisa menyalakan pelita dalam hati kita sendiri? Dan ketika hati telah bercahaya, berdampak pada kecermatan menangkap hikmah dibalik setiap peristiwa dan kejadian yang meruyak.
Saat hari-hari pertama, berada di Malang, saya berusaha menyibak tabir rahasia dibalik gunung puteri tidur. Ada sedikit sentilan, andaikan ada orang yang bertanya gunung apa yang paling tinggi, tak ayal pikiran kita akan tertuju pada gunung Himalaya atau Everest, namun sesungguhnya gunung yang tertinggi adalah gunung puteri tidur, kata sebagian sahabat. “Tidurnya saja sudah tinggi, apalagi kalau ia terbangun dan berdiri dari tidurnya” canda sang sahabat. Ingatlah, guyonan ini tak perlu direnungkan.
Andai saya tak menghayati gunung tersebut, saya mungkin tak menemukan makna sakral yang melekat. Gunung yang ditumbuhi pohon, mampu menyerap air hujan dan memprosesnya, mengalirkan ke sungai, kemudian dibawa ke lautan. Ketika manusia telah berhasil menghujamkan iman di dadanya, maka dia akan menemukan kearifan yang mengembang indah. Di gunung tersebut tumbuh rerimbun tanaman yang menawarkan kesejukan bagi mata, dan matahari yang bersinar terik terserap pepohonan yang berjejer indah menghias gunung. Sehingga rasa panas yang potensial menyengat kulit tidak terasa, bahkan suasana alam terus berlingkup dalam suasana dingin.
Kehadiran gunung menguatkan bumi, agar tak gampang mengalami goncangan. Memang, gunung memberikan manfaat yang besar untuk keberlangsungan hidup manusia. Bayangkan, andaikan Allah menciptakan bumi tanpa dipaku gunung, mungkin banjir bandang sering terjadi di dunia. Dalam pandangan ruhaniku, gunung adalah iman. Ketika iman tegak kokoh berdiri, maka manusia bakal mudah tersambung dengan Rasulullah SAW, dan manakala orang telah tersambung dengan Rasulullah, niscaya akan dihantarkan pada pengalaman ketuhanan yang lebih mendalam. Gunung adalah potret pribadi beriman. Gunung sebagai gambaran tegaknya iman yang mengalir ke sungai cinta pada Rasulullah SAW, kemudian dibawa ke lautan tauhid. Iman yang kokoh mengarahkan kecintaannya pada Rasulullah yang digambarkan sebagai sungai, dan Rasulullah Saw akan membimbing mereka kepada Allah, lautan penyerahan diri. Kita harus berproses agar bisa menggapai kebersatuan dengan Allah SWT. Dengan cara apa? Ya selalu berusaha menguatkan iman di dada, kemudian memancarkan cinta suci pada Rasulullah SAW, insya terbimbing untuk bisa menggapai pencerahan yang hakiki dalam hidup ini. Puncak pencerahan adalah penyatuan dengan Allah SWT dalam ikatan tauhid.
Begitulah, lewat gunung saya berpikir rentetan makna yang tersimpul di dalamnya. Saya merasa gunung telah memberikan pelajaran agung, bagaimana pribadi beriman berhasil membebaskan dirinya hingga bisa menyatu dengan samudera luas. Melalui keyakinan kukuh yang mengakar kuat dalam diri, harus berhasil menyalakan spirit cinta, berujung pada pertalian atau kebersatuan dengan Allah, berupa kristal-kristal tauhid. Citra orang yang telah menyatu dengan Allah, adalah selalu berserah diri atas setiap ketentuan Allah yang menghinggapinya. Tak ada lagi sekat yang membatasi antara dia dengan Allah, karena dia sendiri telah berhasil meruntuhkan tembok keakuan yang kerapkali menghalangi perjumpaan seorang hamba dengan Sang Khaliq, antara seorang pencinta dengan Yang Dicintai. Orang yang telah sampai pada samudera tauhid, bersemai dari jiwanya penyerahan diri tanpa reserve.
Langganan:
Postingan (Atom)