Senin, 21 Desember 2009
TERIMA KASIH
Terima kasih bagaikan petikan dawai yang terdengar indah dan merdu di telinga. Bagaikan sentuhan harpa di siang hari. Bagaikan kucuran oasis di tengah savanna yang kering gersang. Setiap orang suka kata indah itu. Apakah terima kasih hanya bertengger dalam kata, tak mengakar di tubuh batiniah? Kata terima kasih pada hakikatnya gema suara yang terlahir dari hati. Hamzah Fansuri mengungkapkan, terima kasih berasal dari dua rangkaian kata, yakni kata terima dan kasih. Terima diartikan sebagai menerima segala apa yang datang dari Allah tanpa mengeluh. Dan kasih, mengasihkan atau mempersembahkan kembali apa yang diterima pada Allah kembali. Sementara selain Allah hanyalah sebagai the channel of thanksgiving (saluran pengungkapan terima kasih).
Terima, berarti menerima segala hal yang datang pada dirinya, dan disadari sebagai kebaikan yang datang dari Allah SWT. Tak ayal, karena merasa semuanya datang dari Allah SWT, maka pantulan yang berkumandang ke dalam hatinya hanya kebahagiaan semata. Mengapa bahagia? Ya, karena dia selalu bertemu dengan Sang Pemberi Hadiah.
Dia tak terpukau dengan hadiah yang diberikan Allah, tetapi selalu merasa disambangi, disertai, dan diperhatikan Allah SWT. Merasakan kehadiran Allah setiap saat itulah yang turut memantik kebahagiaan di dalam hatinya. Orang yang bermental “terima”, maka setiap kejadian dan peristiwa yang menyapanya akan selalu menitipkan kekayaan ruhani. Bukankah kekayaan itu hanya melekat pada orang yang menerima. Tanpa protes, tanpa mengeluh, tanpa marah, yang terpancar hanya kesukacitaan menerima setiap realitas sebagai suguhan dan sajian maha lezat dari Allah SWT. Mental “terima” inilah yang juga disebut dengan sikap ridha. Ridha bakal melahirkan kelapangan bagi setiap insan, sehingga tergerak untuk berbagi pada sesama. Orang yang ridha, akan berimbas pada perilaku “kasih.” Orang yang ridha bakal bahagia, dan orang bahagia bakal selalu tergerak membagikan kebahagiaannya pada sesama. Begitulah mental kasih itu.
Mental “kasih”, berusaha mengasihkan apa yang ada di tangannya pada Allah. Semua dipersembahkan demi mendekatkan diri pada Allah SWT. Pribadi ini telah kehilangan “rasa kepemilikan,” yang terbenam dalam jiwanya, pemilik hakiki hanya Allah SWT. Tak ada pilihan lain, bagi yang tidak merasa memiliki, kecuali menyerahkan kembali apa yang diterima pada Pemilik Hakiki, melalui saluran-saluran yang disukai Pemiliknya. Artinya, kita mengasihkan apa yang kita terima pada makhluk-makhlukNya. Karena kita bisa melayani dan mempersembahkan sesuatu pada Allah dengan melayani makhluk-makhlukNya. Jika kita telah sampai di peringkat terima kasih, maka kita bakal menemukan kebahagiaan dan keberkahan hidup. Bukankah al-Qur’an sudah menjanjikan akan menurunkan keberkahan (ziyadah) bagi orang-orang bermental “terima kasih”. Bahkan kalau kita berusaha menggali ke kedalaman, orang bermental terima kasih tidak hanya menuai berkah, bahkan berkah telah membadan pada dirinya.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Senin, 07 Desember 2009
DOSA, JALAN SUTERA MENUJU KEKASIH
Dosa sebingkah kata yang begitu menakutkan. Saking besarnya rasa takut, tanpa disadari kita tak jarang terjebak pada dosa itu sendiri. Kita membenci dosa, namun kita kerap terjaring dalam perbuatan dosa. Makin takut pada dosa, dan fokus pada ketakutan itu, membuat orang makin terjungkal. Seumpama orang yang berada di puncak ketinggian gunung, sembari melihat jurang yang curam. Jika fokus perhatiannya pada jurang yang curam tersebut, maka perhatiannya terdorong pada jurang, dan bisa jadi tanpa disadari akan terjatuh ke kawah tersebut. Semua orang mendamba hidup tanpa dosa, tapi kendati demikian manusia harusnya mengarahkan fokus pada penggapaian kebajikan. Sehingga setiap saat, hanya menghimpun kebajikan yang turut menerangi jiwa.
Kini, perlu kiranya kita memahami secara utuh, apa hakikat dosa. Bagaimana agar dosa tidak sekadar menyetorkan derita, tetapi bisa menjadi jalan menggapai kebahagiaan hakiki, bahkan bersua kekasih. Mungkinkah orang bisa menemukan kebahagiaan lewat dosa? Sepertinya sih dosa hanya produktif mengirimkan derita ke ranah batin, dan dimaklumi akan selalu menyeret pelakunya ke ruang kegelapan, kekacauan, dan kerusakan. Sebagaimana dimaklumi, dosa sama dengan kegelapan, dan di setiap pojok kegelapan kita tidak akan bisa melihat kebenaran. Lain halnya, ketika manusia dipenuhi pahala, niscaya bakal berkilauan, sehingga akan selalu bersentuhan dengan kebajikan. Apakah benar dosa membuat orang terseret dalam kegelapan, dan pahala membikin orang mudah menjaring cahaya? Apakah benar orang yang mengumpulkan pundi-pundi pahala menggapai kebahagiaan, dan orang yang berdosa selalu tersorong suasana derita yang tak pernah memudar.
Dosa dan pahala sebuah akibat perbuatan. Sementara kita berusaha menggali sebabnya sebab, dan akibatnya akibat. Ketika kita berusaha menjejaki medan dualitas, niscaya kita tak pernah menggapai kedewasaan ruhani. Kedewasaan ruhani bukan diukur seberapa besar pahala yang direngkuh, tetapi seberapa agung sikapnya di setiap momen peristiwa dan kejadian yang hadir. Dari sudut kearifan, keagungan seseorang tidak diukur kaya dan miskin secara materi, tetapi diukur dari keagungan dan kemuliaan dalam bersikap. Memang, yang membuat orang namanya terus menjulang adalah sikap-sikap agung yang ditampilkan dikala bertegursapa dengan peristiwa dan kejadian.
Jika ada dosa pasti juga ada pahala, dan benarkah pahala menjadi hal mutlak orang bahagia, dan dosa selalu meringkus manusia dalam penjara derita? Sungguh, kebahagiaan itu bergantung sikap kita dari setiap perbuatan yang mengalir. Kita sadari, sesungguhnya perbuatan buruk itu bukan kehendak hati nurani kita, tetapi terilhami hawa nafsu. Pada hakikatnya hati nurani selalu mendorong kita pada kebajikan, dan hawa nafsu cenderung merongrong dan menyeret manusia pada keburukan. Apa padam nafsu ketika berdosa, dan mulai menggelegar kembali hawa nafsu saat menumpuk pahala. Kadang, ketika manusia telah berbuat kebajikan meletup perasaan puas, sembari membanggakan diri. Seolah perbuatan baik yang ditampilkan murni datang dari kekuatan dirinya. Sikap egoisme yang melambung tinggi lantaran perbuatan bajik yang dilakukan telah meruntuhkan seluruh kebajikan yang telah dijalani. Merasa bajik akan melunturkan, bahkan menghapuskan kebajikan itu sendiri. Tapi orang yang merasa berdosa, akan menghapus dosa itu sendiri. Karena dosa dihapus dengan rasa bersalah dan menyesal.
****
Kini, diantara Anda bakal bertanya, bagaimana dosa membuat orang dekat dengan kekasih. Bukankah dosa sendiri suatu yang dibenci oleh Kekasih? Dosa suatu yang berlawanan arus dengan harapan kekasih, tetapi sesungguhnya lebih dari sekadar itu, Allah melihat apa sikap yang dicetuskan setelah berbuat dosa itu. Andai dosa dilakukan dengan sikap penuh kebanggaan disertai rasa tak bersalah, niscaya makin menambahkan dosa kembali. Namun, ketika dosa disertai perasaan menyesal, sehingga bertobat, sungkem, dan merintihkan tangisan istighfar pada Allah akan dosa yang dilakukan, niscaya dosa menjadi batu lompatan orang menggapai kedekatan dan dicintai Allah SWT. Sebagaimana cuplikan firman Allah, “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertobat dan membersihkan diri.”
Apa kaitannya dosa, tobat, dan cinta? Bila kita melihat secara gamblang, seolah tak ada kaitan. Namun, ketika kita berusaha merenungi secara mendalam, maka akan ditemukan kaitan yang amat dialektis antara ketiganya. Ingatlah, saudaraku cinta diperoleh karena tobat, tobat muncul lantaran merasa ada dosa. Dosa sendiri hanyalah tesa, tobat antitesa, dan cinta adalah sintesa. Karena itu, tak ada alasan bagi orang beriman pupus harapan akan rahmat Allah. Karena sesungguhnya kalau mau dikuak secara mendalam, sesungguhnya rahmat Allah meliputi segala sesuatu. Bahkan perbuatan dosa yang dilakukan manusia juga disertai rahmat Allah di dalamnya. Bagi orang yang menyadari ini, maka dibalik segala sesuatu tidak pernah berpisah dan terlepas dari rahmat Allah. Bahkan ketika kita tengah menjalani keburukan, disana meresap rahmat Allah. Karena itu, tak ada alasan bagi seorang hamba berpikir buruk pada Allah. Pantas saja, pupus harapan itu hanya disandangkan pada orang kafir, yang terhijab dalam pengenalan pada Allah SWT. Betapa banyak orang yang nyungsep dalam perbuatan dosa, kemudian bangkit untuk menghadap pada cahaya pengampunan. Merintih, menangis, dan bertobat, kemudian dari kegelapan yang pekat dia dipendari cahaya yang membuatnya makin dekat pada Allah SWT.
Ketika orang disusupi rasa berdosa, maka akan terus berusaha menghapus dosa, dengan tobat, terbetik rasa sesal yang mendalam, disertai amal kebaikan-kebaikan lain, sembari terpancar rasa optimis bahwa Allah akan mengampuni segenap dosa-dosanya, setelah meyakini sifat Allah Yang Maha Pengampun (Al-Afuwwu), bahkan Yang Maha Penghapus Dosa (Al-Ghaffar). Melihat diri yang berlumur dosa, maka akan terbersit perasaan rendah diri dan hina, dan ketika memandangi kasih sayang Allah, maka hidup menjadi optimis atas anugerah pengampunanNya yang tak terbatas. Merasa gelap penting, tetapi jangan terpaku oleh kegelapan, karena kita tak menemukan cahaya apapun. Kita boleh merasa gelap, tapi disertai rasa optimis bahwa cahaya pun bakal hadir. Begitu juga ketika kita berbuat dosa, janganlah merasa terpaku, dan terjebak untuk terus memikirkan segenap dosa, tanpa memandang horizon pengampunan Allah Yang Maha Luas.
Ketika orang terjebak dalam dosa, dan merasa bahwa dia tak berkuasa sedikit pun untuk mengendalikan dan menguasai diri, hanya karena kehendak Allah semata perbuatan baik terlahir, niscaya dia akan ditolong Allah untuk makin dekat dengan kebajikan yang diharapkan, yang berarti dekat dengan Allah itu sendiri. Dan dia telah digerakkan Allah bisa mendaurulang keburukan sebagai kebajikan. Keburukan dosa-dosa telah menjadi sarana makin dekat pada Allah SWT. Karena orang-orang yang bertobat senantiasa dicintai Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah SAW,” Sesungguhnya orang yang bertobat adalah kekasih Allah, dan orang yang bertobat adalah seperti orang yang tidak punya dosa.”
Sekarang saatnya kita mencintai Allah dengan jalan bertobat terus-menerus, dengan merasakan tumpukan dosa, dan disertai rasa optimis bahwa Allah akan menganugerahi pengampunan sebagai tanda sifat kasih sayang dan pengampunanNya yang tak terbatas.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Kini, perlu kiranya kita memahami secara utuh, apa hakikat dosa. Bagaimana agar dosa tidak sekadar menyetorkan derita, tetapi bisa menjadi jalan menggapai kebahagiaan hakiki, bahkan bersua kekasih. Mungkinkah orang bisa menemukan kebahagiaan lewat dosa? Sepertinya sih dosa hanya produktif mengirimkan derita ke ranah batin, dan dimaklumi akan selalu menyeret pelakunya ke ruang kegelapan, kekacauan, dan kerusakan. Sebagaimana dimaklumi, dosa sama dengan kegelapan, dan di setiap pojok kegelapan kita tidak akan bisa melihat kebenaran. Lain halnya, ketika manusia dipenuhi pahala, niscaya bakal berkilauan, sehingga akan selalu bersentuhan dengan kebajikan. Apakah benar dosa membuat orang terseret dalam kegelapan, dan pahala membikin orang mudah menjaring cahaya? Apakah benar orang yang mengumpulkan pundi-pundi pahala menggapai kebahagiaan, dan orang yang berdosa selalu tersorong suasana derita yang tak pernah memudar.
Dosa dan pahala sebuah akibat perbuatan. Sementara kita berusaha menggali sebabnya sebab, dan akibatnya akibat. Ketika kita berusaha menjejaki medan dualitas, niscaya kita tak pernah menggapai kedewasaan ruhani. Kedewasaan ruhani bukan diukur seberapa besar pahala yang direngkuh, tetapi seberapa agung sikapnya di setiap momen peristiwa dan kejadian yang hadir. Dari sudut kearifan, keagungan seseorang tidak diukur kaya dan miskin secara materi, tetapi diukur dari keagungan dan kemuliaan dalam bersikap. Memang, yang membuat orang namanya terus menjulang adalah sikap-sikap agung yang ditampilkan dikala bertegursapa dengan peristiwa dan kejadian.
Jika ada dosa pasti juga ada pahala, dan benarkah pahala menjadi hal mutlak orang bahagia, dan dosa selalu meringkus manusia dalam penjara derita? Sungguh, kebahagiaan itu bergantung sikap kita dari setiap perbuatan yang mengalir. Kita sadari, sesungguhnya perbuatan buruk itu bukan kehendak hati nurani kita, tetapi terilhami hawa nafsu. Pada hakikatnya hati nurani selalu mendorong kita pada kebajikan, dan hawa nafsu cenderung merongrong dan menyeret manusia pada keburukan. Apa padam nafsu ketika berdosa, dan mulai menggelegar kembali hawa nafsu saat menumpuk pahala. Kadang, ketika manusia telah berbuat kebajikan meletup perasaan puas, sembari membanggakan diri. Seolah perbuatan baik yang ditampilkan murni datang dari kekuatan dirinya. Sikap egoisme yang melambung tinggi lantaran perbuatan bajik yang dilakukan telah meruntuhkan seluruh kebajikan yang telah dijalani. Merasa bajik akan melunturkan, bahkan menghapuskan kebajikan itu sendiri. Tapi orang yang merasa berdosa, akan menghapus dosa itu sendiri. Karena dosa dihapus dengan rasa bersalah dan menyesal.
****
Kini, diantara Anda bakal bertanya, bagaimana dosa membuat orang dekat dengan kekasih. Bukankah dosa sendiri suatu yang dibenci oleh Kekasih? Dosa suatu yang berlawanan arus dengan harapan kekasih, tetapi sesungguhnya lebih dari sekadar itu, Allah melihat apa sikap yang dicetuskan setelah berbuat dosa itu. Andai dosa dilakukan dengan sikap penuh kebanggaan disertai rasa tak bersalah, niscaya makin menambahkan dosa kembali. Namun, ketika dosa disertai perasaan menyesal, sehingga bertobat, sungkem, dan merintihkan tangisan istighfar pada Allah akan dosa yang dilakukan, niscaya dosa menjadi batu lompatan orang menggapai kedekatan dan dicintai Allah SWT. Sebagaimana cuplikan firman Allah, “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertobat dan membersihkan diri.”
Apa kaitannya dosa, tobat, dan cinta? Bila kita melihat secara gamblang, seolah tak ada kaitan. Namun, ketika kita berusaha merenungi secara mendalam, maka akan ditemukan kaitan yang amat dialektis antara ketiganya. Ingatlah, saudaraku cinta diperoleh karena tobat, tobat muncul lantaran merasa ada dosa. Dosa sendiri hanyalah tesa, tobat antitesa, dan cinta adalah sintesa. Karena itu, tak ada alasan bagi orang beriman pupus harapan akan rahmat Allah. Karena sesungguhnya kalau mau dikuak secara mendalam, sesungguhnya rahmat Allah meliputi segala sesuatu. Bahkan perbuatan dosa yang dilakukan manusia juga disertai rahmat Allah di dalamnya. Bagi orang yang menyadari ini, maka dibalik segala sesuatu tidak pernah berpisah dan terlepas dari rahmat Allah. Bahkan ketika kita tengah menjalani keburukan, disana meresap rahmat Allah. Karena itu, tak ada alasan bagi seorang hamba berpikir buruk pada Allah. Pantas saja, pupus harapan itu hanya disandangkan pada orang kafir, yang terhijab dalam pengenalan pada Allah SWT. Betapa banyak orang yang nyungsep dalam perbuatan dosa, kemudian bangkit untuk menghadap pada cahaya pengampunan. Merintih, menangis, dan bertobat, kemudian dari kegelapan yang pekat dia dipendari cahaya yang membuatnya makin dekat pada Allah SWT.
Ketika orang disusupi rasa berdosa, maka akan terus berusaha menghapus dosa, dengan tobat, terbetik rasa sesal yang mendalam, disertai amal kebaikan-kebaikan lain, sembari terpancar rasa optimis bahwa Allah akan mengampuni segenap dosa-dosanya, setelah meyakini sifat Allah Yang Maha Pengampun (Al-Afuwwu), bahkan Yang Maha Penghapus Dosa (Al-Ghaffar). Melihat diri yang berlumur dosa, maka akan terbersit perasaan rendah diri dan hina, dan ketika memandangi kasih sayang Allah, maka hidup menjadi optimis atas anugerah pengampunanNya yang tak terbatas. Merasa gelap penting, tetapi jangan terpaku oleh kegelapan, karena kita tak menemukan cahaya apapun. Kita boleh merasa gelap, tapi disertai rasa optimis bahwa cahaya pun bakal hadir. Begitu juga ketika kita berbuat dosa, janganlah merasa terpaku, dan terjebak untuk terus memikirkan segenap dosa, tanpa memandang horizon pengampunan Allah Yang Maha Luas.
Ketika orang terjebak dalam dosa, dan merasa bahwa dia tak berkuasa sedikit pun untuk mengendalikan dan menguasai diri, hanya karena kehendak Allah semata perbuatan baik terlahir, niscaya dia akan ditolong Allah untuk makin dekat dengan kebajikan yang diharapkan, yang berarti dekat dengan Allah itu sendiri. Dan dia telah digerakkan Allah bisa mendaurulang keburukan sebagai kebajikan. Keburukan dosa-dosa telah menjadi sarana makin dekat pada Allah SWT. Karena orang-orang yang bertobat senantiasa dicintai Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah SAW,” Sesungguhnya orang yang bertobat adalah kekasih Allah, dan orang yang bertobat adalah seperti orang yang tidak punya dosa.”
Sekarang saatnya kita mencintai Allah dengan jalan bertobat terus-menerus, dengan merasakan tumpukan dosa, dan disertai rasa optimis bahwa Allah akan menganugerahi pengampunan sebagai tanda sifat kasih sayang dan pengampunanNya yang tak terbatas.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Jumat, 04 Desember 2009
SAYA MENDAMBA JADI MANUSIA PRIMITIF
Di sebuah kesempatan, guru kami yang mulia meluncurkan kearifan yang turut meniupkan kesegaran ke dalam hati. Menurut beliau, primitif bermakna asli, berakar dari bahasa Yunani Primus, dan diadopsi ke dalam bahasa Inggris menjadi Prime, yang berarti utama. Saya pun segera mencerna pemikiran yang didulangkan guru yang mulia. Andai primitive itu diartikan sebagai yang asli, original, otentik, berarti layak jadi gaya hidup yang terhormat. Tak ayal, sifat itu menjadi dambaan terdalam setiap insan? Ciri manusia primitive gampang berkata jujur, sulit berkata dusta.
Jujur saja, kita menginginkan orang yang jujur, tidak berpura-pura, tidak gampang tipu sana-sini, dan selalu berkata polos. Kita menginginkan teman yang jujur, partner bisnis yang polos, mendamba relasi yang tak berbalutkan intrik. Dengan berbekal kejujuran dan keaslian, manusia bakal selalu menemukan terang dimana saja. Tuhan bermukim di hati orang yang jujur. Bukankah hanya orang yang berpikir dan berbuat apa adanya yang bakal selalu menemukan keindahan dalam hidup. Dan hanya orang yang mengada-ada, penuh pretensi yang melulu dibajak kekecewaan dan kepedihan.
Hanya saja, selama ini kita sudah meremehkan manusia primitif dengan kesan sebagai manusia terbelakang, dan lebih akrab dijuluki manusia Jadul (jaman dulu). Mengapa mereka dianggap jadul. Ya, mereka dipandang jadul, lantaran ketika orang beramai-ramai bermain intrik dan menebar fitnah, dia masih sanggup berjuang dalam pusaran pengaruh integritas diri yang berisikan jujur. Ketika orang berlomba-lomba mengejar kedudukan bergengsi dengan beragam cara tuna nilai, dia hanya terlihat termangu-mangu dan merasa asing. Ketika orang bersaing membalut citra diri palsu, dia tetap memilih untuk menunjukkan apa adanya. Dia menyadari, balutan citra hanya kemasan sementara, ada saatnya kemasan itu bakal robek, dibuang, sehingga yang terlihat hanya isi semata. Apakah sama antara citra kemasan dan isi yang terbungkus? Disanalah integritas dan kejujuran dipertaruhkan.
Apakah manusia primitif identik dengan orang yang tertinggal dalam informasi, teknologi, dan trendsetter bisnis? manusia primitif tidak terkait soal ketinggalan informasi, tetapi berkait dengan keteguhan memandang hati nurani sebagai panduan utama dalam melangkah. Dia masih menjadikan hati nurani sebagai commander yang mendorongnya bergerak dan berbuat. Pikiran, dan tindakan terpandu secara integral oleh hati nurani. Manusia yang masih tersambung dengan kejernihan hati nurani disebut manusia primitif (manusia utama) yang berada dalam arus sejarah. Karena mereka punya panduan lekat, berupa hati nurani yang jernih, maka perbuatannya selalu terarah menuju kebahagiaan. Kejujuran, penuh integritas, dan kredibilitas telah melekat kuat dalam dirinya, tak pernah sedikit pun bergeser antara suara hati dan perbuatannya. Karena perbuatan yang tergelar sebagai ekspresi yang dituangkan hati nurani. Tepatnya, perbuatan sebagai cetakan nyata dari hati nurani.
Kini, terasa sekali bahwa jujur dan polos hanya layak dikenakan orang yang bermental terbelakang. Kejujuran terasa langka, bahkan dusta telah menjadi habit publik sebagaimana dipertunjukkan berbagai saluran media yang ada. Dari kebohongan pengusaha, hingga pejabat tinggi, mungkin rakyat kecil juga tertulari penyakit dusta tersebut. Di suatu kesempatan, saya chatting dengan teman semasa Madrasah Aliyah di Madura. Panggil saja namanya, Vinda Rosyidi. Di sekolah, dia termasuk siswa yang cerdas, vokal, dan selalu menguasai debat. Saya sebagai teman akrabnya, menyukai gaya bicaranya yang fasih dan segar, kadang-kadang disertai diplomasi. Tepat di awal tahun 2000 saya berpisah dengannya. Dia melanjutkan studi ke IAIN Syarif Hidayatullah, sementara saya sendiri melanjutkan ke kampus swasta di Surabaya. Sejak awal, saya menduga dia akan jadi politisi, setidaknya politisi kampus, terlihat dari keterampilannya mempengaruhi teman-teman aktivitas sekolah.
Sudah lama saya tidak ketemu dia. Setelah saya punya akun facebook, alhamudlillah saya bisa menjalin komunikasi kembali dengannya. Di dalam percakapannya, dia mengutarakan bahwa hidup di Jakarta membutuhkan keberanian untuk tidak jujur. Siapa yang jujur akan hancur. “orang jujur tidak punya opportunity untuk bisa sukses, “ tambah dia lagi. Kata-kata itu sempat menyentak perasaan saya. Tersentak bukan karena perkataan itu, tetapi dia sendiri bersikap permisif dengan penyakit dusta yang mewabah selama ini. Di zaman sekarang, terasa manusia primitif –manusia yang dipandu dengan kejernihan hati—semakin langka. Ketika sikap primitive berupa kejujuran, integritas, dan krediblitas telah memudar dari horizon kehidupan manusia, pertanda semangat agama mengalami senjakala, ditelan peradaban yang beroientasi duniawi. Padahal kebahagiaan hanya berpihak pada orang yang berperilaku primitif tersebut. Orang yang penuh intrik dan dusta justru makin jauh dari medan kebahagiaan yang diharapkan. Alih-alih menggapai kebahagiaan yang sempurna, malahan terjebak dalam derita sepanjang masa.
Sekarang, kita selalu berusaha menjadi manusia primitif yang mau memegang teguh nilai-nilai universal yang bersumber dari hati nurani dan diperkuat oleh agama. Kita harus tetap teguh kendati berada di tengah kepungan manusia modern yang menyingkirkan spirit kejujuran. Mari kita berlatih dengan keyakinan, menjadi manusia primitive itu lebih bahagia. Karena manusia primitive manusia berkesadaran hati nurani.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Senin, 30 November 2009
IDUL QURB DAN THANKSGIVING DAY
Baru saja, tanggal 10 Zulhijaah 1430H – tepat 27 November 2009—kita jelang Idul Qurb, sebuah perhelatan akbar tahunan yang menjadi momentum ekspresi syukur suci pada Allah SWT. Takbir, tahmid, dan tasbih terus berkumandang dari masjid, musholla, bahkan di jalan-jalan. Para remaja mengadakan takbir keliling, radio tak lupa menyebarluaskan gema takbir, televisi menyisipkan tagline-tagline berhembuskan takbir. Memang, hari raya Idul Qurb memberikan kesan mendalam bagi setiap pejalan ruhani. Karena, Idul Qurb, seumpama rute perjalanan, adalah stasiun terakhir perjalanan manusia. Idul Qurb, berarti kembali pada kedekatan.
Mengapa kita terus berjuang agar kembali dekat? Saudaraku, pada mulanya, ketika berada di alam arwah –saat masih berupa janin—kita bersinggasana di ruhul qudsiyah, meresapi kenyamanan, ketenangan, dan kedamaian tak terperikan bersama Allah SWT. Ketika orang telah bersama Allah, sesungguhnya dia telah merasakan surga hati. Bukankah surga pantulan keindahan, kedamaian, dan ketenangan yang tak bisa dilukiskan oleh logika. Dan tidak ada ucapan yang meluncur dari lisan ahli surga, kecuali ekspresi rasa syukur. Memang, syukur sebagai sikap puncak (peak performance) dari sosok yang telah menghayati keindahan surgawi.
Tidak ada kebahagiaan bagi pencinta kecuali perjumpaan dengan kekasih. Bagi lajang, kerinduan terhadap kekasih begitu membara, dan dia terus melukiskan kriteria yang bakal menjadi penghangat jiwanya tersebut. Ketika belum bersua, dia terus menuturkan dalam beragam ekspresi, kadang kata-kata, kadang lukisan, kadang senyum yang terus terkulum indah dari bibirnya. Akan tetapi, dikala dia bersua, berjumpa, dan beradu mata dengan kekasih yang dicarinya, bahkan hingga memadu kasih, maka tak ada yang bisa diekspresikan kecuali terima kasih, sebagai tanda kebahagiaan yang tak lagi bisa diekspresikan. Akal jadi lumpuh di hadapan kekasih, pikiran jadi lemah di hadapan sang kekasih, tetapi hati menjadi benderang, bagai memperoleh pasokan cahaya yang lebih besar. Hanya ucapan terima kasih yang melulu mengalir dari lisan orang yang telah menggapai pertemuan agung dengan kekasihnya.
Apa pertautan antara syukur idul Qurb. Jika Idul Fitri sebagai ekspresi cinta yang terus bergolak dalam hati, maka Idul Qurb manandai adanya kedekatan dengan yang dicintai. Jika Idul Fitri mengekspresikan cinta dengan memberikan hadiah dan maaf, maka menjelang Idul Qurb, kita perlu mengungkan rasa syukur, karena yang dilihat hanya keindahan semata. Karena itu, ada sebagian ruhaniwan yang mengemukakan, Idul Qurb menjadi ajang mengekspresikan ucapan terima kasih pada siapapun dan apapun yang telah berjasa dalam hidup kita. Rasa terima kasih tak hanya diungkapkan pada sahabat dekat yang telah menguatkan perjalanan, perlu juga dihaturkan pada orang yang belum dikenal, tetapi tanpa kita sadari mereka juga berkontribusi dalam menjaga kehidupan ini tetap dinamis.
Sepatutnya kita belajar berterima kasih pada orang-orang terdekat yang turut menguatkan perjalanan kita, berterima kasih pada sahabat, berterima kasih pada alam yang tidak pernah bosan memberikan kehidupan pada kita. Bayangkan, bagaimana rasanya ketika matahari pensiun berhari-hari, tak lagi memancarkan sinarnya? Berterima kasih pada air, yang dari air kita bisa mempertahankan kehidupan. Berterima kasih pada hewan ternak yang telah membantu mengurangi beban hidup. Apakah berterima kasih pada selain Allah tidak dekat dengan syirik? Ingatlah saudaraku, rasa terima kasih yang kita haturkan pada siapapun dan apapun bersumber dari rasa terima kasih mendalam pada Allah SWT. Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidak bersyukur pada manusia, berarti tidak bersyukur pada Allah.” Dan Allah pun berfirman yang artinya, “Bersyukurlah kepadaKU dan kepada orang tuamu.”
Pitutur itu cukup untuk dijadikan landasan mengungkapkan rasa syukur pada siapapun dan apapun yang telah berjasa pada kita. Apakah kita hanya bersyukur pada orang-orang yang berlaku baik pada kita? Kita harus menebarkan syukur pada seluruh kehidupan, karena kehidupan ini telah dirancang secara interdependen. Apakah kita pantas mengungkapkan syukur pada musuh? Ya, kita masih layak menuturkan rasa syukur pada musuh, karena lewat gangguan musuh rasa sabar kita tertempa dengan baik, bahkan musuh itulah yang telah membentuk kematangan ruhani kita. Tak aneh, untuk melejitkan derajat seorang hamba, Allah kadang mengirimkan musuh yang menebarkan fitnah sana-sini, dan ia sendiri dipandu Allah untuk bisa bersikap sabar dengan aneka fitnah, berikut dipertemukan dengan mutiara hikmah yang menyegarkan dan mendewasakan jiwanya.
Saat Idul Qurb tiba, tidak ada alasan tidak berterima kasih pada siapapun. Mungkin konglomerat kaya raya, tidak pernah terikat bisnis secara langsung dengan petani, tetapi ia setiap hari makan nasi, dan nasi itu dari padi yang ditanam para petani. Kendati tidak berhubungan langsung dengan petani, selayaknya konglomerat tersebut mengirimkan pesan syukur pada petani.
Dan Saat kita menghayati rasa syukur yang dibagikan pada siapapun dan apapun, niscaya akan terbersit kesadaran dari hati nurani terdalam, pada hakikatnya kita, alam, dan seluruh jagat semesta ini satu. Karena itu Allah telah mengikat kita secara interdependen, saling membutuhkan satu sama lain.
Mencerna pesan suci yang terbungkus di Idul Qurb itu, maka saya meyakini Islam sebuah agama yang sempurna yang memandu umatnya agar punya kualitas sikap luhur dan tinggi, tak perlu menunduk-nunduk, dan meniru dan minder pada bangsa lain yang pada hakikatnya terbelakang. Jika barat baru menemukan thanksgiving day, sesungguhnya Islam telah menyodorkan Idul Qurb, media untuk mengekspresikan rasa syukur. Wallahu A’lam Bis Showaab.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Sabtu, 28 November 2009
IDUL FITRI DAN IDUL QURB
Hari raya terbagi dua, hari raya Fitri dan hari raya Qurb. Adakah sama pesan dibawa dari dua hari raya tersebut? Apa makna yang bisa ditangkap di dua hari raya tersebut dalam konteks pertumbuhan keimanan kita? Kita berusaha membedah dengan hati-hati pesan agung yang tersirat di dua hari raya tersebut, seraya berharap kita bisa merengkuh pencerahan agung, yang membuat kita merasakan kebahagiaan bersama Allah SWT.
Tentu, kita mendapati kesan, hari raya tanda sebuah pesta kegembiraan, kebahagiaan, dan kemakmuran. Orang mendapati kegembiraan dan kepuasan setelah menjalani beragam pernak-pernik masalah yang menghujani selama ini. Tabrakan masalah telah membentuk kepribadian hidup lebih matang, dan beragam masalah itu pula yang terus membuat jiwa tumbuh pesat. Ya, hanya karena berhasil melewati sekian tantangan hidup, manusia merasakan kepuasan. Lebih dari itu, akar kesuksesan adalah kesabaran. Tepatnya, kesuksesan bersembunyi dibalik kesabaran. Manakala orang telah berlaku sabar, insya Allah bakal merasa kesuksesan benar-benar nikmat.
Tanpa kesabaran tak ada kesuksesan, bahkan hanya sebentuk kesuksesan instant yang tak pernah membekaskan kebahagiaan mendalam ke dalam hati. Mengapa? Karena kesuksesan tanpa dilandasi kesabaran tidak meniupkan makna. Padahal hanya makna yang membawa manusia pada kebahagiaan.
Jadi, hari raya dihelat lantaran manusia menjalani masa-masa sulit guna mencapai tujuan hidup yang hakiki, berupa kebahagiaan. Jadilah hari raya sebagai momen untuk mempersembahkan syukur yang tulus pada Allah SWT yang telah menggenapi manusia dengan beragam anugerah. Anugerah terbesar yang perlu dirayakan berupa anugerah iman. Karena hanya dengan iman yang kuat, manusia akan merasa keamanan. Maksudnya keamanan internal. Dan bagaimana iman bisa mencapai pembuahan, maka diperlukan sebuah kesabaran dan ketekunan. Tanpa kesabaran justru iman, alih-alih berbuah, malahan akan mandul. Memang, hanya dengan ikhlas yang berakar dari kesabaran, iman akan berproses menjadi pohon, batang, cabang, bunga, dan akhir berbuah.
Hari raya diadakan lantaran manusia telah berhasil menapaki perjuangan yang menggetirkan. Berarti tidak ada hari raya tanpa perjuangan. Apa perjuangan yang harus dijalani kita sehingga pantas menghelat hari raya? Hari raya selalu didahului dengan puasa. Hari raya Idul Fitri dimulai dengan puasa Ramadhan, dan Hari raya Idul Qurb diawali dengan puasa 1-10 zulhijah. Apa pesan yang bisa dipetak dari kedua hari raya tersebut.
Hubungan Idul Fitri bagi Idul Qurb, bagai hubungan tanah bagi bangunan, wudhu bagi shalat. Hanya dengan mencapai suci, manusia menggapai kedekatan dengan Allah SWT, hanya dalam keadaan suci manusia bisa sambung dengan Allah SWT. Meminjam hadis Rasulullah SAW, “kesucian adalah syarat dari iman.” Orang yang belum suci secara batiniah, berarti iman belum menyusup ke dalam hatinya. Padahal hanya dengan iman itulah manusia bisa menjaring keamanan, kenyamanan, dan kebahagiaan yang bersifat internal dan personal.
Idul Fitri: Proses Penyucian Diri
Pernahkah saudaraku mendengar, Ramadhan yang kita jalani setiap tahun sekali bermakna pembakaran. Maksudnya, pembakaran dosa-dosa yang menempel dalam hati. Hanya ketika dibakar, maka akan ada pembersihan. Bagaikan tumpukan kotoran yang menggunung di halaman rumah, maka cara membersihkan adalah dengan membakarnya. Adapun kotoran yang tersangkut ke dalam hati berkaitan bersumber dari hawa nafsu. Ketika manusia berhasil membakar hawa nafsu, berarti hati telah bersih dan mencapai penyucian.
Bahkan, andaikan kita pernah mengonsumsi makanan haram, maka untuk membersihkan makanan “terlarang” yang mungkin telah mendarahdaging dalam tubuh kita, bisa dibersihkan dan disucikan dengan puasa. Ketika manusia telah menggapai kesucian, dan berarti hawa nafsu sudah tidak lagi bercokol, maka hati nurani yang menggemakan kesucian bakal terus mengalun merdu. Dan buahnya adalah ketenangan hidup. Ketika orang dikepung kotoran, niscaya terus didera rasa sumpek, gelisah, dan pikiran negatif, namun ketika kotoran itu telah terbakar dan lenyap, maka kebahagiaan personal bakal bergulir sejuk bak salju ke dalam kalbu.
Hari raya Qurb: Menjalin kedekatan dan Keintiman
Qurb berarti dekat. Dekat tanda orang punya gelora cinta di dalam hatinya. Tanpa cinta, kedekatan tidak bakal dirasakan. Dan cinta sendiri adalah suatu yang suci. Maka tak bisa orang mengotori cinta, cinta tak bisa disentuh dengan suatu yang kotor. Cinta hanya keluar dari hati yang bersih, jernih, dan indah. Ketika cinta telah berkumandang dari hati, maka akan menjadi kompas, juga penarik untuk makin dekat pada Allah SWT. Ya, hanya dengan modal cinta mendalam, manusia akan diarahkan untuk makin mendekat pada Allah SWT. Bukankah hanya dengan magnit cinta yang jauh jadi dekat, yang berpisah jadi menyatu? Karena itu, ketika kita hendak merasakan kedekatan sedeka-dekatnya dengan Allah, maka perlu terlebih dahulu ditanamkan bibit cinta di dalam hati. Ketika cinta telah menghiasi hati kita, maka tanpa kita sadari terus dituntun menuju kedekatan pada Allah SWT.
Bagaimana tanda orang telah menggapai kedekatan dengan Allah? ketika orang dekat pada Allah, maka akan timbul dua perasaan. Pertama, perasaan damai. Bukankah kebahagiaan seseorang berbanding lurus dengan kualitas kedekatan dengan yang dicintai? Dan kita tidak bisa melukiskan perihal perasaan damai, karena saking personalnya perasaan yang tertiup ke dalam hati kita. Ketika damai terus menerus bermukim dalam hati ini, berarti kedekatan telah memenuhi hati. Dimana ada rasa kedekatan, disana damai tengah menumbuhkan kebahagiaan tak terukur dan tak berbatas.
Kedua, merasakan kesatuan. Ketika rasa kedekatan telah memenuhi batin ini, maka kesatuan dengan Allah amat dirasakan. Telah berhasil melampaui dualitas dekat dan jauh. Karena dekat dan jauh sendiri sebagai cermin masih ada keterpisahan antara hamba dan Tuhan. Sementara sesungguhnya, manusia yang telah berada dalam samudera kesatuan, akan selalu merasa menyatu dengan Allah dimana saja. Saat rasa kesatuan itu telah terbenam dalam hati, maka kebahagiaan tidak pernah berhenti meluap-luap, dan kita terasa selalu berada dalam perhelatan pesta raya setiap saat. Lebih tepatnya, kita menjadi selebritis setiap saat.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Selasa, 10 November 2009
MENYEGARKAN KEMBALI PIKIRAN YANG LAYU
Sebulan lebih saya tak mengekspresikan perasaan dan gagasan jernihku lewat tulisan. Terasa ada kerinduan yang membuncah dari hati ini, untuk kembali bisa bertemu komputer sederhanaku, agar bisa menghaturkan kebajikan-kebajikan yang pernah kulihat, pernah kualami, atau pernah kurasakan saat bergaul dengan beberapa sahabat.
Sebulan lamanya, saya berusaha mengondisikan hati untuk melewati hari-hari di medan tafakkur disertai adanya sebuah dorongan yang kuat di hati ini untuk mewakafkan diri di jalan dakwah secara ikhlas, dikala banyak orang meninggalkan medan dakwah ini. Jalan dakwah memang jalan sunyi yang ditempuh sedikit orang, jalan yang harus bisa menumbuhkan keikhlasan, dan tantangannya adalah bagaimana mengikis sikap tidak ikhlas yang cenderung melintas dari hati dan pikiran. Hanya saya yakin, Allah Maha Tahu usaha saya untuk melewati jalan-jalan yang sarat tantangan tersebut.
Saya pun makin mantap untuk menekuni dakwah melalui keterampilan menulis dan berbicara di depan umum. Semoga dua keterampilan tersebut dialiri spirit Ilahi juga kerinduan yang tak pernah surut pada Rasulullah Muhammad SAW yang sapatutnya dijadikan model dari zaman ke zaman. Kendati demikian, saya menyadari bahwa menulis dan berbicara hanyalah pantulan dari perasaan (dzauq) yang membuncah di rongga hati ini. Semoga Allah menuntun pembicaraan saya, dan semoga pembicaraan itu terlahir dari kejernihan perilaku batin ini. Sungguh, orang yang sering menulis dan berbicara, namun tak selaras dengan semangat batin dan sikap hidupnya, maka tulisan dan pembicaraan yang diungkapkan hanya menambah kesempitan bagi jiwanya. Kemudian, bagaimana orang yang jiwa dan hatinya sempit dan gelap bisa menghadirkan kelapangan dan pencerahan pada orang lain. Bukankah hanya orang yang punya lampu yang bisa menerangi kegelapan? bukankah hanya orang yang punya air yang bisa memberikan air? Dan bukankah hanya orang yang punya uang yang bisa memberikan uang? Berarti, hanya orang yang memiliki pencerahan di dalam hatinya yang bisa menyuguhkan pencerahan ke hati orang lain.
Memang, cara efektif untuk bisa memberi pencerahan adalah dengan berusaha memenuhi diri dengan pencerahan lewat perenungan dan mendekati orang-orang yang telah mendapati pencerahan dalam hidupnya. Membaca Qur’an sembari merenungi pesan-pesannya, juga bisa lewat membaca buku-buku yang mengandung pencerahan amat penting untuk memantik pencerahan dalam hati sendiri.
Mana yang terpenting dari semua itu. Semuanya penting. Ya kalau kita bertanya mana yang penting dari semua itu, memang semuanya penting. Namun, ada yang amat penting dan menjadi perihal primer dari semuanya adalah al-Qur’an yang hidup, yakni guru, yang tak hanya sebatas menginspirasi kita lewat kata, tetapi juga lewat perilaku dan sikap hidup yang dipantulkan. Guru amatlah penting selaku tempat bercermin sekaligus hati bagi seorang murid. Bukankah ketika hati baik, insya seluruh organ menjadi baik adanya. Ketika guru yang dijadikan cermin hidup berkarakter baik, insya Allah murid pun terpandu ke jalan kebajikan seperti yang ditempuh para suci. Bagi saya, guru adalah sumber mata air jernih yang mengalir, sementara hatiku dipenuhi kotoran yang terpercik dari comberan. Alangkah baiknya, kalau aku membasuh lekat-lekat kotoran dengan mandi di sumber yang jernih tersebut, sehingga mendapati wajahku yang penuh kotor berubah menjadi bening dan jernih.
Dari situ, bisa dimaklumi bahwa guru adalah pemandu ruhani yang bisa memasukkan nilai-nilai indah ke dalam hati. Sehingga keterampilan yang melekat pada diri bisa menjadi lebih bermakna dan menebarkan manfaat yang lebih luas lagi. Beberapa kali guru yang mulia sering meyakinkan saya untuk tetap menekuni dunia tulis menulis. Semoga spirit beliau senantiasa mamantul di setiap ekspresi kalam dan qalam saya.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Rabu, 04 November 2009
IKHLAS SEPERTI AKAR
Dalam ulasan sederhana ini, saya hendak menguak semangat ikhlasnya akar. Bagaimana akar sebagai simbol ikhlas. Ingatlah, ikhlas adalah wajah kembar dari kesabaran. Dalam usahanya dia terus berusaha memberi tanpa pamrih, dan tak pernah memperlihatkan diri sebagai yang amat berjasa terhadap pertumbuhan pohon hingga mencapai pembuahan. Bahkan ketika pohon semakin besar dan tinggi akar makin menghunjam ke tanah, demi bisa meneguhkan posisi pohon. Namun, ketika sudah berbuah, mungkin perhatian orang terlepas pada akar, dan hanya tertuju pada buah.
Buah diperkenalkan kemana-mana, ke banyak orang, tergelar di pasar tradisional, pun bisa melanglang ke gerai-gerai supermarket, supermall, sementara akar tetaplah menghunjam ke tanah sembari berusaha meneguhkan pohon agar sanggup menghaturkan buah kembali. Saking ikhlasnya akar, dia tak pernah sedikit pun mau terlihat sebagai yang berjasa, hingga pohon itu ditebang, akar pun tak mau terlihat, bahkan dia masih berusaha menyalurkan energi positif agar pohon yang sudah tumbang bisa tumbuh kembali. Seperti akar jambu, kendati pohonnya sudah ditebang, dia berusaha menumbuhkan pohon kembali. Betapa akar memiliki jasa yang amat penting bagi pertumbuhan pohon, tetapi tidak pernah sedikit pun terbersit untuk pamer dan menunjukkan sebagai yang paling berjasa. Dia hanya ingin terus memberi dalam kesunyian dan kerendahan dirinya di tanah.
***
Perlu kiranya kita belajar pada kearifan akar untuk peneguhan keikhlasan. Semakin banyak memberi, bukan makin mendongak, malahan makin merendahkan diri. Mengapa mereka merendahkan diri? Karena merasa bahwa ia dianugerahi peluang untuk memberi bukan lantaran usahanya tetapi oleh karena rahmat Allah. Memang, manusia hanya sebatas alat peraga Allah untuk menyalurkan cinta dan kasih sayang-Nya. Tak sepatutnya orang bersikap pamer dan haus pujian dengan aneka jasa yang dipersembahkan. Bahkan terus menghadapkan hatinya pada Allah dengan semangat ikhlas yang utuh, sembari menyadari semua kekuatan untuk bisa memberi bukan karena datang dari dirinya, tetapi karena kasih sayang Allah. Lebih dari itu, terbetot dalam kesadaran, apa yang diberikan dan sifat dermawan hingga dia bisa memberi bukanlah kehendak personal semata, namun merasa telah didesain dan dirancang oleh Allah SWT. Andaikan Allah mau, bisa jadi kita tak diberi kemampuan memberi apapun, bahkan walau yang diberikan ada, kadang kita tercegah untuk memberi karena sifat kelembutan berupa dermawan dan belas kasih belum menyusup ke dalam hati ini. Terbukti, ada orang yang telah menjalani hari-hari sebagai pengemis dari pintu ke pintu, sehingga tak terilhami sedikit pun untuk memberi pada sesama, lantaran dia masih kekurangan dan berjungkir-balik untuk sekadar bisa mengais makanan sehari-hari.
Selain itu, ada orang yang telah dianugerahi kekayaan yang berlimpah, namun tak disaluri sifat belas kasih dan dermawan, hingga kekayaan harta menjadikan jiwanya makin sempit, tak pernah terbersit sedikit pun untuk memberi pada sesama, bahkan dia didera rasa haus untuk bisa menumpuk dan menimbun harta sebanyak-banyaknya. Walau dia kaya secara lahiriah, tetapi miskin secara ruhani. Tak ada sifat qanaah dalam hatinya, akibatnya dia terus diterpa rasa khawatir, takut harta yang diperoleh hilang, juga didorong semangat untuk mendapat lebih banyak lagi. Pun, andai dia memberi tak jarang disertai harapan untuk mendapatkan lebih banyak. Spirit ikhlas tidak tertanam kuat dalam hatinya, padahal tanpa ikhlas orang akan berada dalam keadaan batin yang goyah. Seperti pohon tanpa akar.
Kita pasti mendamba sebagai pohon yang berakar, sehingga hari-hari kita terus diselimuti semangat keikhlasan yang tak terbatas. Bukankah hanya dalam semangat ikhlas orang melulu mencerap kebahagiaan yang hakiki, karena saat ikhlas manusia tengah “bergandengan” dengan Allah SWT. Makanya, begitu bahagia orang-orang yang hatinya diluapi spirit ikhlas. Pekerjaan orang ikhlas adalah memberi, dan kebahagiaan memantul saat bisa memberi. Dan lebih bahagia lagi, ketika pemberian itu hanya diketahui Allah SWT. Dari waktu ke waktu kita harus terus memproses diri agar tersaluri spirit ikhlas, dan selalu bergerak untuk memberi lebih banyak tanpa disertai kehendak sedikit pun untuk mendapatkan pujian dan sanjungan. Karena orang yang terpana dan silau dengan pujian dan sanjungan, akan mengalami kegoyahan iman. Dan orang yang memberi tanpa disertai ikhlas, berarti memberi tanpa disertai iman. Padahal hanya amal yang disertai iman yang bakal meneguhkan jiwa dekat pada Allah SWT.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Langganan:
Postingan (Atom)