Saya amat sedih setelah meng-update berita dari radio Elshinta, hari selasa, 3 Februari 2009. Diberitakan soal peristiwa gaduh dan demo bernuansa kekerasan yang dilakukan oleh sebagian massa di kantor DPRD Sumatera Utara. Massa merangsek ke ruang gedung diadakannya sidang paripurna, dan polisi pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk menahan dan menghalangi bergeraknya ratusan massa tersebut. Dalam hitungan berapa menit saja, massa bisa mengepung dan menguasai kantor DPRD, dan menduduki tempat pelaksanaan sidang paripurna. Tak ayal, anggota DPRD yang tengah mengadakan rapat, menghentikan terlebih dahulu rapatnya. Massa pun sontak mengepung seluruh anggota DPRD Sumatera Utara yang tengah mengadakan rapat bersama instansi pemerintahan propinsi Sumatera Utara. Demo amat brutal itu berakhir dengan kematian ketua DPRD Sumatera Utara, Abdullah H. Supangkat.
Kejadian tersebut menjadi potret gelap dari demokrasi yang berkembang saat ini. Apakah demokrasi benar-benar bisa membangun rakyat yang makin elegan, berakhlak baik, atau ternyata membuat rakyat makin jauh dari semangat menghargai pemimpin? Benarkah demokrasi itu menyuarakan hati nurani rakyat, atau sebatas mengejawantahkan kepentingan pribadi tokoh politik? Apakah demokrasi itu telah berhasil membangun sebuah kepemimpinan yang kharismatik, atau kepemimpinan sebatas dalam tataran simbol, dan tidak mengakar di hati rakyat? Banyak pertanyaan berkembang lewat tragedi 3 Februari 2009 tersebut. Perlulah kiranya, kita mengevaluasi perjalanan pola demokrasi yang berkembang di Indonesia. Andaikan ditanya dari sekian massa yang bergabung untuk menduduki kantor DPRD Sumatera Utara, kiranya berapa personal yang mengerti dengan seksama pokok permasalahan yang berkembang di Sumatera Utara? Dan berapa yang sebatas ikut-ikutan dan menyertai keramaian demonstrasi tersebut? Apakah mungkin dalam demo tersebut benar-benar datang dari kehendak rakyat secara umum, atau hanya kepentingan politik segelintir orang semata?
Andaikan kejadian itu berawal dari ulah satu orang sebagai otak intelektual, berarti gerakan tersebut tidak berkembang di ranah demokrasi? Harusnya demokrasi berasal dari rakyat, tetapi mengapa inisiatif tersebut hanya datang dari segelintir orang saja? Kalau begitu, demokrasi hanya cocok untuk kalangan orang yang berpengetahuan, berwawasan luas, dan memang cerdas tentang politik. Namun, kenyataannya masih banyak rakyat kita belum memahami soal platform politik pimpinan negara saat ini. Banyak masyarakat masih bodoh soal politik, dan sangat memprihatinkan ketika kebodohan rakyat itu dijadikan alat untuk memenuhi syahwat politik segelintir orang. Memang hanya orang-orang pintar yang bisa memperdaya dan membodohi orang bodoh. Ketika gencar-gencarnya pemilahan legislatif, betapa banyak calon legislatif yang mendekat pada rakyat. Mereka hanya sebatas ingin mendapatkan suara, dan kedudukan yang didambakan bisa diraih dengan ampuh. Memang hanya dengan dukungan rakyat, mereka dipilih. Tetapi apakah rakyat yang memilih itu, memilih dengan disertai kesadaran politik, atau tanpa sadar sedikit pun. Ya, hanya dengan mendapatkan cipratan uang, mereka mau-mau saja memilih calon wakil rakyat, yang nantinya bahkan dia bakal mengeruk lebih banyak dari uang yang ditaburkan untuk rakyat. Korupsi sebagai akibat dari obsesi keliru yang menguasai hati wakil rakyat. Apakah itu menandakan bahwa yang bersalah adalah rakyat yang telah memilih pemimpinnya? Jangan gampang menyalahkan rakyat. Orang yang melakukan sesuatu tanpa dilandasi kesadaran dan pengetahuan tidak boleh disebut salah. Hanya karena dibujuk oleh para pelaku politik itulah, rakyat pun ikut memilih, walau pun ia tidak pernah sadar apa efek yang bakal diterima setelah memilih tokoh politik tersebut.
Pun demikian peristiwa yang terjadi di Sumatera Utara. Massa dari akar rumput jangan dipersalahkan, karena mereka hanya mereaksi provokasi panas yang dilemparkan oleh para otak intelektual kejadian tersebut. Orang pintar memiliki seribu alasan untuk bisa meyakinkan rakyat. Dan ingatlah rakyat selalu dijadikan alat dan berada dalam posisi dirugikan dalam hal apapun. Saya belum bisa memahami, apakah demokrasi yang berkembang saat ini memang untuk rakyat atau hanya untuk kepentingan politisi dan pelaku ekonomi yang berada di tataran previlage? Wallahu a’alam bish showaab.
Selasa, 09 Februari 2010
Rabu, 03 Februari 2010
ISTIGAMAH DALAM KEBAHAGIAAN
Suatu pagi yang cerah, di hari Jumat Agung, dimana mentari pagi tengah mengumbar senyumnya dari ufuk timur, kami bersama teman-teman baru menyelesaikan wirid pagi petang. Sebelum shalat isyraq, guru yang mulia hendak pergi RSAL (Rumah Sakit Angkatan Laut), menjenguk guru yang wajahnya terus bersinar (tanawwirul wajh), KH. Mas Yusuf Muhajir. Sejak dua hari sebelumnya, setelah mendengar beliau sakit, saya sudah terpikirkan untuk membesuk beliau di rumah sakit. Ada kerinduan yang membuncah pada beliau. Seakan wajahnya yang tergelar bahagia terbayang di kelopak mata ini.
Saya sudah janjian sama teman-teman jamaah membesuk pada hari sabtu, tetapi diundur jadi hari Minggu. Beliau memiliki kemiripan cara pandang dengan guru yang mulia. Kalau guru yang mulia kerap memberikan pencerahan dalam bentuk filsafat-filsafat agama yang mendalam dan menyentuh, sementara KH. Mas Yusuf Muhajir mengungkapkan keterangan lewat cerita-cerita renyah, bahkan gurauan-gurauan penuh hikmah. Pandangan beliau berdua sama, hanya cara mengekspresikan yang berbeda. Diakui guru yang mulia, beliau berdua memiliki cara pandang yang sebangun.
Saking membuncahnya kerinduan pada KH. Mas Yusuf, di malam harinya saya sempat bermimpi beliau tengah menggelar pengajian. Beliau menyapa saya dengan senyum indah, tulus, dan begitu akrab, tetapi tetap berwibawa. Saya makin yakin, bisa membesuk beliau di hari jumaat tersebut. Alhamdulillah, dengan izin guru yang mulia, saya pun membesuk beliau. Lebih dahulu guru yang mulia berangkat dari griya, saya menyusul bersama mas Misbach dengan menggunakan kendaraan sendiri. Kami berdua lebih dahulu sampai ke RSAL, kami mencari-cari ruang Paviliun III belum ketemu, hanya Paviliun II dan I.
“Ah mungkin Paviliun III itu ruang yang paling istimewa mas, jadi agak sulit nyarinya,”kataku, guyon pada mas Misbach.
“ini Paviliun II dan I, pasti juga di wilayah sini,”katanya. Sekejap kemudian saya melihat KH. Mas Yusuf duduk sendirian di beranda rumah sakit sambil menelepon. Hatiku bergetar, merasa bahagia melihat beliau nampak bugar, raut wajah kebahagiaan masih tetap menyelimuti wajahnya. Saya pun langsung menuju ke tempat beliau, sungkem. Seolah ada getaran kehangatan yang menyusup ke dalam hati ini bisa bertemu beliau.
“Assalamu’alaikum,” kami berdua manyapa beliau
“Wa’alaikum salam,”sambut beliau
“Bagaimana kyai, apa sudah semakin sehat,”muncul saja dari lisan yang kotor ini.
“Alhamdulillah, sudah ada kemajuan,”kata beliau, sambil menelepon.
Saya masih tercekat, sambil menyimak perbincangan beliau. Beliau menyanggupi orang yang akan menggantikan beliau untuk menyampaikan ceramah di teman-teman Hizbut Tahrir.
“Saya lama sekali diminta oleh kawan-kawan Hizbut Tahrir untuk mengisi ceramah setiap tiga bulan sekali, tetapi saya hanya menyanggupi satu tahun sekali. Maka terjadilah ngenyang-ngenyan (tawar-menawar), akhirnya saya sanggup satu tahun 2 kali,”ujar beliau dengan wajah yang terlihat sumbringah.
“Sejak kapan kyai Mas sakit?”tanya Mas Misbach penuh empatik.
“sejak seminggu yang lalu, tetapi saya tidak memberitahukan ke banyak orang, kecuali pada beberapa orang termasuk ustadz Qushwandhi,”katanya “Saya ini tidak merasa sakit, hanya melihat dari obat yang saya konsumsi, saya ini sakit,”lanjutnya dengan senyum tanpa keluhan.
“Memang sakit itu mengikuti alam pikiran. Orang bahagia atau menderita, sedih-gembira bahkan sakit-sehat itu karena alam pikirannya sendiri,” tukas beliau.
Contoh, kata beliau, seorang anak yang berada diantara permainan yang amat asyik, dia larut dalam permainan tersebut. Saking larutnya dia melalaikan perintah si ayah, maka ayah memberitahu, kalau tidak segera menghentikan permainan tersebut, nanti akan disuntik, maka anak itu kehilangan akan keasyikan permainan tersebut, yang terbayang dalam pikirannya hanya jarum suntik. Kebahagiaan oleh karena permainan telah dilenyapkan oleh jarum suntik yang menguasai pikirannya.
Sebaliknya, kita melihat ada anak yang terkilir, kakinya terluka dan berdarah. Darah yang mengucur tersebut membuatnya menangis keras, tetapi untuk menenangkan si anak, sang ayah bilang, nak sudah menangisnya, kita nanti ke Giant. Jika anak tersebut pernah ke Giant, maka di batang pikirannya tergambar bagaimana keadaan Giant, yang disana disediakan permainan yang menghibur. Saat itu pula tangisan anak itu reda, karena alam pikirannya tidak lagi tertuju pada luka, tetapi tertuju pada permainan yang ada di Giant.
Bayangkan, bagaimana kehidupan orang sudah dekat pada Allah SWT, niscaya tidak ada kekhawatiran dan kesedihan bagi mereka. “sesungguhnya kekasih-kekasih Allah tidak pernah tersentuh kekhawatiran dan kesedihan.”
“Sebenarnya dilihat dari gejalanya, saya ini sudah lama sakit, tetapi tidak pernah dirasakan, dan saya mengerti sakit setelah dibawa ke rumah sakit,”ujar beliau dengan nada guyon, kami pun tersenyum ta’dhim.
Berselang beberapa menit beliau berbicara dengan kami, guru kami yang mulia tiba bersama Mas Kholid dan Mas Januar. Kami sungkem pada guru yang mulia, dan beliau pun duduk bersama kami di beranda tersebut. Terjadilah perbincangan yang hangat dan cair diantara kedua guru suci ini.
“ini ustadz, saya tadi bilang ke teman-teman ini, kalau derita-bahagia itu mengikuti alam pikiran,” Kyai Mas bertutur, guru yang mulia mengangguk sambil tersenyum.
“Oh ya, tadi saya SMS seorang, saya bilang sekarang Ustadz Qushwandhi sedang menggencarkan kampanye anti-kristenisasi di Sumbersekarsari Malang, beliau yang langsung bertanggung jawab. Seperti dulu, pada saat saya melakukan hal yang sama di Mojokerto,” tutur Kyai Mas yang memang selalu berpikir tentang umat. “tapi dia hanya membalas, saya mendukung,”lanjutnya. “Yah itulah orang yang agung, tetapi tidak benar-benar agung jiwanya,” kata beliau lagi.
“Ya benar, ini kyai Mas saya mengirimkan SMS pada aktivis disana, agar memasang spanduk yang berisikan pesan-pesan yang keras dan tegas, seperti stop kristenisasi di pemukiman komunitas Muslim Sumbersekarsari, dsb,”ucap guru yang mulia.
“orang khusus tetapi hatinya tidak juga tercermin pada sosok yang punya berjibun jamaah, tetapi cara berpikirnya bukan seperti orang besar. Ketika dia sakit, dia bilang semoga cepat sembuh. Banyak orang yang mendoakan dia agar cepat sembuh, tetapi ketika datang orang Sidosermo, dia mengungkapkan dan mendoakan kata berbeda, katanya, semoga selamat. Jadi bukan minta sembuh, tapi minta selamat. Minta sembuh tingkatan yang amat rendah, orang kafir pun menginginkan sembuh, tapi orang beriman yang diinginkan adalah selamat. Demikianlah banyak orang yang terbilang sebagai orang khusus, terpandang di mata umat, tetapi ketika hatinya dibedah ternyata tidak khusus”tandas Kyai Mas Yusuf. Semenjak perbincangan pertama, kami selalu mendengar dengan seksama perbincangan Kyai Mas Yusuf yang selalu menarik, dan diluar ungkapan orang-orang pada umumnya.
“Benar kyai mas, kita selalu berdoa, allahumma antas salam waminkassalam wailaika ya udussalam, fahayyina rabbana bissalam…, maksudnya kita selalu minta kesalamatan. Waras dan selamat itu sepertinya punya kemiripan, tetapi selamat itu punya makna lebih mendalam ketimbang waras,”tanggap guru yang mulia.
“Abuya itu tidak pernah nyahut ketika ditanya soal sakit, tetapi ketika ditanya persoalan umat dan agama, beliau selalu memberikan jawaban. Suatu saat, beliau berbincang seputar persoalan agama, padahal saat itu Abuya dalam kondisi sakit. Kalau ditanya soal agama dan umat beliau tertarik berbincang, tetapi ketika ditanya perihal sakitnya, Abuya bilang, “Saya sakit tah mat?””kisah kyai Mas tetap dengan wajah yang selalu sumbringah, sembari disambut tertawa tipis beberapa teman yang hadir disana.
“terus terang saya tidak mengabarkan sakit saya ke orang-orang, kecuali orang yang senafas dengan saya, termasuk ustadz Qushwandhi. Musyafak menanyai saya pertelpon, apakah benar saya ada di rumah sakit. Saya bilang, saya ada di rumah. Dia mengerti saya di rumah sakit dari orang yang hendak mengundang saya untuk menghadiri ceramah Maulid, saya tidak ada di rumah, tetapi di rumah sakit, “kata Kyai Mas Yusuf. “tetapi kadang-kadang orang seperti dia juga dibutuhkan untuk nafas yang lain,” lanjut beliau sambil tersenyum, sambil beliau pamit sebentar ke kamar rawat inap, mengambil makanan.
Sembari menunggu Kyai Mas, guru yang mulia memberikan tafsir atas apa yang telah disampaikan Kyai Mas. “beliau tidak memberikan pelajaran yang terlalu bertele-tele, tetapi yang diberikan adalah rumusan tentang hidup. Tidak memberikan ikan, tetapi memberikan pancing. Bagaimana rumus menghadapi masalah itulah yang terpenting. Terkait dengan soal, Anda bisa mencari sendiri dalam perjalanan hidup Anda, saya dan kyai Mas hanya menawarkan rumus bagaimana menghadapi persoalan, dan itulah yang kerap disampaikan dalam pengajian-pengajian yang saya selenggarakan,”tutur guru yang mulia.
Sehabis bercerita panjang lebar, Kyai mas datang dengan membawa minuman. Sejenak setelah itu beliau pamit untuk disuntik, dan kami pun pamit pada beliau. Saya merasa menemukan kepuasan bertemu dengan beliau. Saya mendapatkan pesan-pesan indah yang membuat diri selalu hendak bersyukur setiap saat. Syukur bagi Kyai Mas bukan sekadar lontaran kata, tetapi telah membadan dalam hidupnya. Semoga saya bisa memodel beliau.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Saya sudah janjian sama teman-teman jamaah membesuk pada hari sabtu, tetapi diundur jadi hari Minggu. Beliau memiliki kemiripan cara pandang dengan guru yang mulia. Kalau guru yang mulia kerap memberikan pencerahan dalam bentuk filsafat-filsafat agama yang mendalam dan menyentuh, sementara KH. Mas Yusuf Muhajir mengungkapkan keterangan lewat cerita-cerita renyah, bahkan gurauan-gurauan penuh hikmah. Pandangan beliau berdua sama, hanya cara mengekspresikan yang berbeda. Diakui guru yang mulia, beliau berdua memiliki cara pandang yang sebangun.
Saking membuncahnya kerinduan pada KH. Mas Yusuf, di malam harinya saya sempat bermimpi beliau tengah menggelar pengajian. Beliau menyapa saya dengan senyum indah, tulus, dan begitu akrab, tetapi tetap berwibawa. Saya makin yakin, bisa membesuk beliau di hari jumaat tersebut. Alhamdulillah, dengan izin guru yang mulia, saya pun membesuk beliau. Lebih dahulu guru yang mulia berangkat dari griya, saya menyusul bersama mas Misbach dengan menggunakan kendaraan sendiri. Kami berdua lebih dahulu sampai ke RSAL, kami mencari-cari ruang Paviliun III belum ketemu, hanya Paviliun II dan I.
“Ah mungkin Paviliun III itu ruang yang paling istimewa mas, jadi agak sulit nyarinya,”kataku, guyon pada mas Misbach.
“ini Paviliun II dan I, pasti juga di wilayah sini,”katanya. Sekejap kemudian saya melihat KH. Mas Yusuf duduk sendirian di beranda rumah sakit sambil menelepon. Hatiku bergetar, merasa bahagia melihat beliau nampak bugar, raut wajah kebahagiaan masih tetap menyelimuti wajahnya. Saya pun langsung menuju ke tempat beliau, sungkem. Seolah ada getaran kehangatan yang menyusup ke dalam hati ini bisa bertemu beliau.
“Assalamu’alaikum,” kami berdua manyapa beliau
“Wa’alaikum salam,”sambut beliau
“Bagaimana kyai, apa sudah semakin sehat,”muncul saja dari lisan yang kotor ini.
“Alhamdulillah, sudah ada kemajuan,”kata beliau, sambil menelepon.
Saya masih tercekat, sambil menyimak perbincangan beliau. Beliau menyanggupi orang yang akan menggantikan beliau untuk menyampaikan ceramah di teman-teman Hizbut Tahrir.
“Saya lama sekali diminta oleh kawan-kawan Hizbut Tahrir untuk mengisi ceramah setiap tiga bulan sekali, tetapi saya hanya menyanggupi satu tahun sekali. Maka terjadilah ngenyang-ngenyan (tawar-menawar), akhirnya saya sanggup satu tahun 2 kali,”ujar beliau dengan wajah yang terlihat sumbringah.
“Sejak kapan kyai Mas sakit?”tanya Mas Misbach penuh empatik.
“sejak seminggu yang lalu, tetapi saya tidak memberitahukan ke banyak orang, kecuali pada beberapa orang termasuk ustadz Qushwandhi,”katanya “Saya ini tidak merasa sakit, hanya melihat dari obat yang saya konsumsi, saya ini sakit,”lanjutnya dengan senyum tanpa keluhan.
“Memang sakit itu mengikuti alam pikiran. Orang bahagia atau menderita, sedih-gembira bahkan sakit-sehat itu karena alam pikirannya sendiri,” tukas beliau.
Contoh, kata beliau, seorang anak yang berada diantara permainan yang amat asyik, dia larut dalam permainan tersebut. Saking larutnya dia melalaikan perintah si ayah, maka ayah memberitahu, kalau tidak segera menghentikan permainan tersebut, nanti akan disuntik, maka anak itu kehilangan akan keasyikan permainan tersebut, yang terbayang dalam pikirannya hanya jarum suntik. Kebahagiaan oleh karena permainan telah dilenyapkan oleh jarum suntik yang menguasai pikirannya.
Sebaliknya, kita melihat ada anak yang terkilir, kakinya terluka dan berdarah. Darah yang mengucur tersebut membuatnya menangis keras, tetapi untuk menenangkan si anak, sang ayah bilang, nak sudah menangisnya, kita nanti ke Giant. Jika anak tersebut pernah ke Giant, maka di batang pikirannya tergambar bagaimana keadaan Giant, yang disana disediakan permainan yang menghibur. Saat itu pula tangisan anak itu reda, karena alam pikirannya tidak lagi tertuju pada luka, tetapi tertuju pada permainan yang ada di Giant.
Bayangkan, bagaimana kehidupan orang sudah dekat pada Allah SWT, niscaya tidak ada kekhawatiran dan kesedihan bagi mereka. “sesungguhnya kekasih-kekasih Allah tidak pernah tersentuh kekhawatiran dan kesedihan.”
“Sebenarnya dilihat dari gejalanya, saya ini sudah lama sakit, tetapi tidak pernah dirasakan, dan saya mengerti sakit setelah dibawa ke rumah sakit,”ujar beliau dengan nada guyon, kami pun tersenyum ta’dhim.
Berselang beberapa menit beliau berbicara dengan kami, guru kami yang mulia tiba bersama Mas Kholid dan Mas Januar. Kami sungkem pada guru yang mulia, dan beliau pun duduk bersama kami di beranda tersebut. Terjadilah perbincangan yang hangat dan cair diantara kedua guru suci ini.
“ini ustadz, saya tadi bilang ke teman-teman ini, kalau derita-bahagia itu mengikuti alam pikiran,” Kyai Mas bertutur, guru yang mulia mengangguk sambil tersenyum.
“Oh ya, tadi saya SMS seorang, saya bilang sekarang Ustadz Qushwandhi sedang menggencarkan kampanye anti-kristenisasi di Sumbersekarsari Malang, beliau yang langsung bertanggung jawab. Seperti dulu, pada saat saya melakukan hal yang sama di Mojokerto,” tutur Kyai Mas yang memang selalu berpikir tentang umat. “tapi dia hanya membalas, saya mendukung,”lanjutnya. “Yah itulah orang yang agung, tetapi tidak benar-benar agung jiwanya,” kata beliau lagi.
“Ya benar, ini kyai Mas saya mengirimkan SMS pada aktivis disana, agar memasang spanduk yang berisikan pesan-pesan yang keras dan tegas, seperti stop kristenisasi di pemukiman komunitas Muslim Sumbersekarsari, dsb,”ucap guru yang mulia.
“orang khusus tetapi hatinya tidak juga tercermin pada sosok yang punya berjibun jamaah, tetapi cara berpikirnya bukan seperti orang besar. Ketika dia sakit, dia bilang semoga cepat sembuh. Banyak orang yang mendoakan dia agar cepat sembuh, tetapi ketika datang orang Sidosermo, dia mengungkapkan dan mendoakan kata berbeda, katanya, semoga selamat. Jadi bukan minta sembuh, tapi minta selamat. Minta sembuh tingkatan yang amat rendah, orang kafir pun menginginkan sembuh, tapi orang beriman yang diinginkan adalah selamat. Demikianlah banyak orang yang terbilang sebagai orang khusus, terpandang di mata umat, tetapi ketika hatinya dibedah ternyata tidak khusus”tandas Kyai Mas Yusuf. Semenjak perbincangan pertama, kami selalu mendengar dengan seksama perbincangan Kyai Mas Yusuf yang selalu menarik, dan diluar ungkapan orang-orang pada umumnya.
“Benar kyai mas, kita selalu berdoa, allahumma antas salam waminkassalam wailaika ya udussalam, fahayyina rabbana bissalam…, maksudnya kita selalu minta kesalamatan. Waras dan selamat itu sepertinya punya kemiripan, tetapi selamat itu punya makna lebih mendalam ketimbang waras,”tanggap guru yang mulia.
“Abuya itu tidak pernah nyahut ketika ditanya soal sakit, tetapi ketika ditanya persoalan umat dan agama, beliau selalu memberikan jawaban. Suatu saat, beliau berbincang seputar persoalan agama, padahal saat itu Abuya dalam kondisi sakit. Kalau ditanya soal agama dan umat beliau tertarik berbincang, tetapi ketika ditanya perihal sakitnya, Abuya bilang, “Saya sakit tah mat?””kisah kyai Mas tetap dengan wajah yang selalu sumbringah, sembari disambut tertawa tipis beberapa teman yang hadir disana.
“terus terang saya tidak mengabarkan sakit saya ke orang-orang, kecuali orang yang senafas dengan saya, termasuk ustadz Qushwandhi. Musyafak menanyai saya pertelpon, apakah benar saya ada di rumah sakit. Saya bilang, saya ada di rumah. Dia mengerti saya di rumah sakit dari orang yang hendak mengundang saya untuk menghadiri ceramah Maulid, saya tidak ada di rumah, tetapi di rumah sakit, “kata Kyai Mas Yusuf. “tetapi kadang-kadang orang seperti dia juga dibutuhkan untuk nafas yang lain,” lanjut beliau sambil tersenyum, sambil beliau pamit sebentar ke kamar rawat inap, mengambil makanan.
Sembari menunggu Kyai Mas, guru yang mulia memberikan tafsir atas apa yang telah disampaikan Kyai Mas. “beliau tidak memberikan pelajaran yang terlalu bertele-tele, tetapi yang diberikan adalah rumusan tentang hidup. Tidak memberikan ikan, tetapi memberikan pancing. Bagaimana rumus menghadapi masalah itulah yang terpenting. Terkait dengan soal, Anda bisa mencari sendiri dalam perjalanan hidup Anda, saya dan kyai Mas hanya menawarkan rumus bagaimana menghadapi persoalan, dan itulah yang kerap disampaikan dalam pengajian-pengajian yang saya selenggarakan,”tutur guru yang mulia.
Sehabis bercerita panjang lebar, Kyai mas datang dengan membawa minuman. Sejenak setelah itu beliau pamit untuk disuntik, dan kami pun pamit pada beliau. Saya merasa menemukan kepuasan bertemu dengan beliau. Saya mendapatkan pesan-pesan indah yang membuat diri selalu hendak bersyukur setiap saat. Syukur bagi Kyai Mas bukan sekadar lontaran kata, tetapi telah membadan dalam hidupnya. Semoga saya bisa memodel beliau.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Rabu, 27 Januari 2010
KENDALA, JALAN KESUKSESAN
Seluruh pernak-pernik kegagalan yang kita lewati menjadi jalan menuju kebahagiaan. Apakah ada diantara Anda menganggap bahwa kesuksesan hanya ditaburi oleh keindahan, prestasi demi prestasi, tanpa diwarnai oleh kegagalan? Ingatlah tanpa kegagalan, niscaya kesuksesan tidak akan terlahir begitu dahsyat. Seseorang menggapai kesuksesan gilang-gemilang, karena telah berhasil melewati kegagalan dengan jiwa besar, dan berupaya bagaimana kegagalan itu menjadi bahan untuk bisa menumbuhkan kesuksesan luar biasa dalam hidupnya. Kalau begitu, andaikan sukses menjadi suatu hal yang penting bagi kehidupan manusia, maka kegagalan juga harusnya dipandang suatu yang penting. Mengapa demikian? Karena kegagalan juga sebagai jalan menuju kesuksesan.
Suatu saat saya mendapatkan kiriman SMS dari adik kelas saat di bangku kuliah. Setelah lulus dari kampus, dia melamar pekerjaan di Jawa Pos, dan diterima sebagai jurnalis. Saya sempat menduga, dia bisa mengikuti jalan sukses seniornya yang telah menjadi jurnalis hebat di media yang sama. Namun, karena saking beratnya waktu dan tenaga yang harus dikeluarkan sebagai kuli tinta tersebut, dia berpikir untuk keluar dari pekerjaannya. Pekerjaan itu menguras tenaganya dari jam 8 pagi, hingga larut malam, karena selalu dituntut bisa memburu berita terbaik, dan up to date. Karena tidak kuat dengan kebijakan waktu yang diambil perusahaan, dia pun mengambil keputusan resign, dan memilih untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih ringan.
Dia mengeluhkan kehidupannya, di tengah tuntutan mendapatkan penghasilan, tetapi tenaga tidak sanggup untuk membayar kendala tersebut. Di tengah beragam keluhan yang diungkapkan, saya hanya berujar, kalau Anda punya tujuan menggapai bintang, maka kendala juga sebagai proses untuk bisa mengantarkan Anda pada titik bintang. Sadarilah Allah tidak akan pernah menghadirkan kendala dan tantangan kecuali untuk membuat Anda menjadi hebat. Yakinilah, tidak ada dibalik setiap ujian yang Anda peroleh kecuali Anda akan dipoles menjadi manusia hebat. Manusia-manusia hebat, pasti mengalami masa-masa pahit, yang kata orang sebuah kegagalan, tetapi dengan batu bata kegagalan, dia bisa membangun menara kesuksesan.
Dia hanya meminta doa pada saya agar tetap diperkuat di jalan ini. Saya hanya terus menaruh harapan adikku yang cerdas ini mendapatkan kesuksesan yang membuatnya semakin mulia dan agung di sisi Allah SWT. Tanpa saya sadari, saya kembali membuka memori perbincangan dengan adikku tersebut. Saya tergelitik untuk menyuguhkan kebijaksanaan sederhana agar kita tetap kukuh dan kuat dalam menghadapi berbagai persoalan hidup yang begitu kompleks, sehingga kita terus bisa berjalan di atas jembatan kesuksesan yang telah dirancang Tuhan SWT.
Ingatlah saudaraku, Allah tidak pernah mengharapkan hamba-hambaNya berada dalam penderitaan. Dia selalu menginginkan hamba-hambaNya bahagia dan sukses. Hanya saja, sering kali pilihan-pilihan manusia untuk menggapai kebahagiaan tidak selaras dengan panduan yang ditetapkan Allah SWT. Sudah jelas, Allah telah menyajikan resep ampuh untuk mendapatkan kebahagian melalui al-Qur’an, dan ditunjuknya Rasulullah Muhammad SAW untuk mengungkapkan risalah kenabian yang dilanjutkan oleh ulama’-ulama yang dipercaya, tetapi jarang manusia bergabung dengan al-Qur’an, juga dengan ulama’ yang telah menjadi penyuluh obor kenabian. Andaikan kita mau mengikuti jalan kenabian, maka kita akan dibuat terkejut, betapa jalan-jalan mendapatkan pusaka kejayaan dan kemenangan perlu mengalami masa keletihan yang panjang. Mereka menyediakan amunisi kesabaran yang berlipat-lipat dalam menghadapi beragam cobaan, ujian, dan berbagai kendala yang sepertinya menghambat harapan dakwahnya. Namun, semuanya menjadi sebuah jalan kian mengukuhkan keyakinan akan jaminan Allah, memenangkan hamba-hambaNya yang bertakwa.
Mungkin Anda harus berjarak berapa zaman dengan para Nabi untuk bisa mengambil keteladanan yang nyata dari mereka, dalam menghadapi tantangan bahkan kegagalan untuk menggapai kesuksesan cemerlang. Kita coba menelusuri para pebisnis berjaya, siapakah pebisnis yang tidak menghadapi kendala dalam menjemput kesuksesan? Mungkin Anda kenal dengan pengusahan muslim, Purdi E. Chandra, pengusaha Primagama. Beliau membesut bisnisnya dari sebuah rumah kos-kosan, tanpa menggundul gelar apapun. Pada mulanya, dia harus merawat anak-anak tetangga agar bisa belajar di tempat les-lesannya. Pikiran Anda juga pasti masih ingat dengan pengusaha kesohor, Bob Sadino, yang merintis bisnisnya dengan sebutir telur, dan pernah menghadapi masa sulit bersama istri tercintanya. Namun, semua kegagalan kecil ternyata berperan mewariskan kesuksesan yang besar. Mungkin karena merasakan sakit yang begitu dahsyat, dia mampu membuat lompatan kejayaan yang juga amat dahsyat. Tak ayal, dia pun sekarang bergelar sebagai Raja Sayuran. Anda juga tidak pernah pangling dengan pengusaha muslim yang beridentitas sebagai raja poligami, pengusaha Ayam Bakar Wong Solo, Puspowardoyo. Beliau sebagai bekas guru yang bertekad untuk memulai bisnis di Medan. Di dalam keprihatinan dia pun melompat untuk mencatat kesuksesan yang nyata.
Ingatlah, sosok-sosok tangguh itu menggapai kesuksesan nyata, karena mereka telah berhasil menikmati masa-masa pahit sebagai penguat untuk menggapai kesuksesan. Kesuksesan yang dilandasi dengan kebesaran jiwa dalam menghadapi kendala atau tantangan hidup yang dahsyat memicu orang untuk mendapatkan kepuasan nyata. Yang terpenting bagaimana aktivitas yang dilakukan selaras dengan prinsip hidup yang mengakar dalam hati kita. Sehingga semua aktivitas yang dilakukan sebagai proses untuk menggapai kesuksesan yang alami, indah dan memiliki kesan yang kekal dalam hati.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Seluruh pernak-pernik kegagalan yang kita lewati menjadi jalan menuju kebahagiaan. Apakah ada diantara Anda menganggap bahwa kesuksesan hanya ditaburi oleh keindahan, prestasi demi prestasi, tanpa diwarnai oleh kegagalan? Ingatlah tanpa kegagalan, niscaya kesuksesan tidak akan terlahir begitu dahsyat. Seseorang menggapai kesuksesan gilang-gemilang, karena telah berhasil melewati kegagalan dengan jiwa besar, dan berupaya bagaimana kegagalan itu menjadi bahan untuk bisa menumbuhkan kesuksesan luar biasa dalam hidupnya. Kalau begitu, andaikan sukses menjadi suatu hal yang penting bagi kehidupan manusia, maka kegagalan juga harusnya dipandang suatu yang penting. Mengapa demikian? Karena kegagalan juga sebagai jalan menuju kesuksesan.
Suatu saat saya mendapatkan kiriman SMS dari adik kelas saat di bangku kuliah. Setelah lulus dari kampus, dia melamar pekerjaan di Jawa Pos, dan diterima sebagai jurnalis. Saya sempat menduga, dia bisa mengikuti jalan sukses seniornya yang telah menjadi jurnalis hebat di media yang sama. Namun, karena saking beratnya waktu dan tenaga yang harus dikeluarkan sebagai kuli tinta tersebut, dia berpikir untuk keluar dari pekerjaannya. Pekerjaan itu menguras tenaganya dari jam 8 pagi, hingga larut malam, karena selalu dituntut bisa memburu berita terbaik, dan up to date. Karena tidak kuat dengan kebijakan waktu yang diambil perusahaan, dia pun mengambil keputusan resign, dan memilih untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih ringan.
Dia mengeluhkan kehidupannya, di tengah tuntutan mendapatkan penghasilan, tetapi tenaga tidak sanggup untuk membayar kendala tersebut. Di tengah beragam keluhan yang diungkapkan, saya hanya berujar, kalau Anda punya tujuan menggapai bintang, maka kendala juga sebagai proses untuk bisa mengantarkan Anda pada titik bintang. Sadarilah Allah tidak akan pernah menghadirkan kendala dan tantangan kecuali untuk membuat Anda menjadi hebat. Yakinilah, tidak ada dibalik setiap ujian yang Anda peroleh kecuali Anda akan dipoles menjadi manusia hebat. Manusia-manusia hebat, pasti mengalami masa-masa pahit, yang kata orang sebuah kegagalan, tetapi dengan batu bata kegagalan, dia bisa membangun menara kesuksesan.
Dia hanya meminta doa pada saya agar tetap diperkuat di jalan ini. Saya hanya terus menaruh harapan adikku yang cerdas ini mendapatkan kesuksesan yang membuatnya semakin mulia dan agung di sisi Allah SWT. Tanpa saya sadari, saya kembali membuka memori perbincangan dengan adikku tersebut. Saya tergelitik untuk menyuguhkan kebijaksanaan sederhana agar kita tetap kukuh dan kuat dalam menghadapi berbagai persoalan hidup yang begitu kompleks, sehingga kita terus bisa berjalan di atas jembatan kesuksesan yang telah dirancang Tuhan SWT.
Ingatlah saudaraku, Allah tidak pernah mengharapkan hamba-hambaNya berada dalam penderitaan. Dia selalu menginginkan hamba-hambaNya bahagia dan sukses. Hanya saja, sering kali pilihan-pilihan manusia untuk menggapai kebahagiaan tidak selaras dengan panduan yang ditetapkan Allah SWT. Sudah jelas, Allah telah menyajikan resep ampuh untuk mendapatkan kebahagian melalui al-Qur’an, dan ditunjuknya Rasulullah Muhammad SAW untuk mengungkapkan risalah kenabian yang dilanjutkan oleh ulama’-ulama yang dipercaya, tetapi jarang manusia bergabung dengan al-Qur’an, juga dengan ulama’ yang telah menjadi penyuluh obor kenabian. Andaikan kita mau mengikuti jalan kenabian, maka kita akan dibuat terkejut, betapa jalan-jalan mendapatkan pusaka kejayaan dan kemenangan perlu mengalami masa keletihan yang panjang. Mereka menyediakan amunisi kesabaran yang berlipat-lipat dalam menghadapi beragam cobaan, ujian, dan berbagai kendala yang sepertinya menghambat harapan dakwahnya. Namun, semuanya menjadi sebuah jalan kian mengukuhkan keyakinan akan jaminan Allah, memenangkan hamba-hambaNya yang bertakwa.
Mungkin Anda harus berjarak berapa zaman dengan para Nabi untuk bisa mengambil keteladanan yang nyata dari mereka, dalam menghadapi tantangan bahkan kegagalan untuk menggapai kesuksesan cemerlang. Kita coba menelusuri para pebisnis berjaya, siapakah pebisnis yang tidak menghadapi kendala dalam menjemput kesuksesan? Mungkin Anda kenal dengan pengusahan muslim, Purdi E. Chandra, pengusaha Primagama. Beliau membesut bisnisnya dari sebuah rumah kos-kosan, tanpa menggundul gelar apapun. Pada mulanya, dia harus merawat anak-anak tetangga agar bisa belajar di tempat les-lesannya. Pikiran Anda juga pasti masih ingat dengan pengusaha kesohor, Bob Sadino, yang merintis bisnisnya dengan sebutir telur, dan pernah menghadapi masa sulit bersama istri tercintanya. Namun, semua kegagalan kecil ternyata berperan mewariskan kesuksesan yang besar. Mungkin karena merasakan sakit yang begitu dahsyat, dia mampu membuat lompatan kejayaan yang juga amat dahsyat. Tak ayal, dia pun sekarang bergelar sebagai Raja Sayuran. Anda juga tidak pernah pangling dengan pengusaha muslim yang beridentitas sebagai raja poligami, pengusaha Ayam Bakar Wong Solo, Puspowardoyo. Beliau sebagai bekas guru yang bertekad untuk memulai bisnis di Medan. Di dalam keprihatinan dia pun melompat untuk mencatat kesuksesan yang nyata.
Ingatlah, sosok-sosok tangguh itu menggapai kesuksesan nyata, karena mereka telah berhasil menikmati masa-masa pahit sebagai penguat untuk menggapai kesuksesan. Kesuksesan yang dilandasi dengan kebesaran jiwa dalam menghadapi kendala atau tantangan hidup yang dahsyat memicu orang untuk mendapatkan kepuasan nyata. Yang terpenting bagaimana aktivitas yang dilakukan selaras dengan prinsip hidup yang mengakar dalam hati kita. Sehingga semua aktivitas yang dilakukan sebagai proses untuk menggapai kesuksesan yang alami, indah dan memiliki kesan yang kekal dalam hati.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Senin, 25 Januari 2010
MULAI HARI DENGAN CINTA
Cinta tak pernah bisa dilukiskan hanya dengan polesan kata, lukisan sketsa, juga gubahan syair. Semua instrument untuk menggambarkan cinta tidak bakal bisa memberikan ilustrasi secara efektif dan sempurna perihal cinta itu sendiri. Karena cinta bermuara dari rasa, sementara kata-kata hanya produk logika. Logika dan rasa suatu hal yang berbeda, kendati penggambaran bentuk logika bisa menyentuh rasa, namun tidak bisa menggetarkan rasa yang sejati dari cinta itu sendiri.
Karena cinta tidak bersumber dari medan logika, maka cinta tak mampu sebatas diungkapkan dan diekspresikan dengan kata, namun harus menjadi pengalaman hidup yang membekas dalam sanubari jiwa. Anda tidak bisa mengerti makna cinta yang hakiki, kecuali Anda mengalami dan bergulat dengan cinta itu. Bagaimana getaran cinta menyentuh seluruh relung sanubari Anda. Apakah hanya bisa dituturkan dengan kata. Maka berlatih untuk mencintai sebagai jalan efektif untuk bisa merasakan cinta. Menyentuh dan menemui segala sesuatu dengan cinta akan membawa jiwa kita terbang di altar-altar kedamaian, karena cinta inilah yang membikin manusia bisa masuk ke ruang yang paling indah, tak bisa dilukiskan dengan kata yang bersumber dari pikiran.
Mungkin Anda melihat bunga yang tengah bermekaran, menyajikan ketulusan senyum di pagi hari, Anda menyapanya dengan penuh cinta, seolah bunga itu berbicara keindahan, kemurnian, ketulusan, dan kedamaian pada Anda. Saat itu, Anda hanya melihat bunga sebagai magnet kebahagiaan. Manakala Anda bersua dengan kendaraan Anda, yang Anda tumpangi setiap hari, dan membawa Anda pergi kemana Anda hendak menuju, mengapa Anda tidak coba berikan elusan dan belaian cinta, seakan dialah sahabat yang telah membentangkan peluang Anda untuk semakin melebarkan sayap pergaulan. Saat itu meletup rasa cinta pada kendaraan, cinta bukan karena nafsu, namun sebentuk cinta yang membawa Anda pada kecintaan semesta. Anda bertemu dengan teman kerja di kantor, sapalah mereka dengan cinta, sebagaimana Anda pun mendambakan sapaan cinta dari sesama. Yakinilah, ketika Anda menebar ucapan-ucapan cinta yang meletup dari hati yang tulus, niscaya Anda bakal mendapatkan cerapan-cerapan kebahagiaan.
Dari situ, Anda makin mengalami kematangan dalam bercinta, ternyata cinta menjadi indah ketika dilandasi ketulusan, dan tanpa syarat. Hanya dengan ketulusan, maka butir-butir kedamaian seperti mewarnai kondisi hati Anda. Kedamaian Anda setimbang dengan volume cinta yang ada dalam tangki hati Anda. Tebarkan cinta pada siapa saja, maka kebahagiaan pun bakal memantul pada hati Anda jua. Bagaimana menghadapi seorang musuh yang kerjaannya hanya mencemooh, mencaci, memaki Anda? Anda harus bersikap tetap mencintainya, karena sesungguhnya cemoohan tidak ampuh membikin Anda menderita, bahkan pelontar cemoohan itu yang telah sengaja menjebak dirinya di jurang derita. Cinta akan selalu mendekatkan kebahagiaan bagi ahlinya. Karena itu, jangan pelit Anda menebarkan cinta dimana-mana, karena cinta sendiri akan memberikan kepadatan kebahagiaan dalam hati Anda sendiri, bahkan bisa mengilhami orang lain menggapai kebahagiaan yang hakiki. Lepaskan cinta Anda dimana saja engkau berada, niscaya engkau bakal memanen kebahagiaan di sana, dan andaikan ada orang yang hendak membuat Anda tersandung derita, derita sendiri tidak akan pernah mendekati orang yang tengah jatuh cinta, apalagi telah terbang bersama cinta.
Memulai hari dengan cinta begitu penting, agar sepanjang hari Anda mendapatkan kebahagiaan terus-menerus. Orang yang dipanah cinta, akan selalu berpikir untuk bisa memberikan yang terbaik. Ketika Anda terpacu untuk memberi, maka kebahagiaan akan terus melekat dalam hidup Anda. Bahkan ketika Anda belum bisa memberi secara materi, Anda akan bisa memberikan keindahan senyum, pencerahan, dan pengabaran-pengabaran baik pada orang lain. Memberi memang membangkitkan potensi cinta yang terbenam dalam hati Anda. Memberi sendiri seperti pupuk yang akan menyuburkan cinta, yang pada gilirannya akan berbuahkan kebahagiaan.
Bisakah cinta disebarkan dimana saja? Cinta melampaui syarat dan batas. Ketika ada syarat cinta akan terbatas, dan ketika ada batas maka berarti kebahagiaan juga bakal terbatas. Padahal cinta yang diharapkan bisa melambungkan orang menuju cinta yang tak terbatas, seperti orang yang mengepakkan sayap keindahan di antara langit-langit kehidupan. Cinta datang dari bumi, tetapi buahnya menggantung di langit yang tak terbatas. Pada mulanya orang mungkin mengujarkan cinta yang bersifat terbatas yang tumbuh dari bumi batinnya, tetapi berikutnya dia akan terus bertumbuh dan berkembang, sehingga mencapai pada buah yang menggantung di langit. Bisa diketahui, jika ada orang cinta begitu ceket dan sempit, berarti cintanya belum bertumbuh, ujungnya kebahagiaan pun tidak meluas ruang lingkupnya.
Inilah sebuah kegelisahan orang yang tengah belajar bercinta dalam arti yang lebih luas.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Karena cinta tidak bersumber dari medan logika, maka cinta tak mampu sebatas diungkapkan dan diekspresikan dengan kata, namun harus menjadi pengalaman hidup yang membekas dalam sanubari jiwa. Anda tidak bisa mengerti makna cinta yang hakiki, kecuali Anda mengalami dan bergulat dengan cinta itu. Bagaimana getaran cinta menyentuh seluruh relung sanubari Anda. Apakah hanya bisa dituturkan dengan kata. Maka berlatih untuk mencintai sebagai jalan efektif untuk bisa merasakan cinta. Menyentuh dan menemui segala sesuatu dengan cinta akan membawa jiwa kita terbang di altar-altar kedamaian, karena cinta inilah yang membikin manusia bisa masuk ke ruang yang paling indah, tak bisa dilukiskan dengan kata yang bersumber dari pikiran.
Mungkin Anda melihat bunga yang tengah bermekaran, menyajikan ketulusan senyum di pagi hari, Anda menyapanya dengan penuh cinta, seolah bunga itu berbicara keindahan, kemurnian, ketulusan, dan kedamaian pada Anda. Saat itu, Anda hanya melihat bunga sebagai magnet kebahagiaan. Manakala Anda bersua dengan kendaraan Anda, yang Anda tumpangi setiap hari, dan membawa Anda pergi kemana Anda hendak menuju, mengapa Anda tidak coba berikan elusan dan belaian cinta, seakan dialah sahabat yang telah membentangkan peluang Anda untuk semakin melebarkan sayap pergaulan. Saat itu meletup rasa cinta pada kendaraan, cinta bukan karena nafsu, namun sebentuk cinta yang membawa Anda pada kecintaan semesta. Anda bertemu dengan teman kerja di kantor, sapalah mereka dengan cinta, sebagaimana Anda pun mendambakan sapaan cinta dari sesama. Yakinilah, ketika Anda menebar ucapan-ucapan cinta yang meletup dari hati yang tulus, niscaya Anda bakal mendapatkan cerapan-cerapan kebahagiaan.
Dari situ, Anda makin mengalami kematangan dalam bercinta, ternyata cinta menjadi indah ketika dilandasi ketulusan, dan tanpa syarat. Hanya dengan ketulusan, maka butir-butir kedamaian seperti mewarnai kondisi hati Anda. Kedamaian Anda setimbang dengan volume cinta yang ada dalam tangki hati Anda. Tebarkan cinta pada siapa saja, maka kebahagiaan pun bakal memantul pada hati Anda jua. Bagaimana menghadapi seorang musuh yang kerjaannya hanya mencemooh, mencaci, memaki Anda? Anda harus bersikap tetap mencintainya, karena sesungguhnya cemoohan tidak ampuh membikin Anda menderita, bahkan pelontar cemoohan itu yang telah sengaja menjebak dirinya di jurang derita. Cinta akan selalu mendekatkan kebahagiaan bagi ahlinya. Karena itu, jangan pelit Anda menebarkan cinta dimana-mana, karena cinta sendiri akan memberikan kepadatan kebahagiaan dalam hati Anda sendiri, bahkan bisa mengilhami orang lain menggapai kebahagiaan yang hakiki. Lepaskan cinta Anda dimana saja engkau berada, niscaya engkau bakal memanen kebahagiaan di sana, dan andaikan ada orang yang hendak membuat Anda tersandung derita, derita sendiri tidak akan pernah mendekati orang yang tengah jatuh cinta, apalagi telah terbang bersama cinta.
Memulai hari dengan cinta begitu penting, agar sepanjang hari Anda mendapatkan kebahagiaan terus-menerus. Orang yang dipanah cinta, akan selalu berpikir untuk bisa memberikan yang terbaik. Ketika Anda terpacu untuk memberi, maka kebahagiaan akan terus melekat dalam hidup Anda. Bahkan ketika Anda belum bisa memberi secara materi, Anda akan bisa memberikan keindahan senyum, pencerahan, dan pengabaran-pengabaran baik pada orang lain. Memberi memang membangkitkan potensi cinta yang terbenam dalam hati Anda. Memberi sendiri seperti pupuk yang akan menyuburkan cinta, yang pada gilirannya akan berbuahkan kebahagiaan.
Bisakah cinta disebarkan dimana saja? Cinta melampaui syarat dan batas. Ketika ada syarat cinta akan terbatas, dan ketika ada batas maka berarti kebahagiaan juga bakal terbatas. Padahal cinta yang diharapkan bisa melambungkan orang menuju cinta yang tak terbatas, seperti orang yang mengepakkan sayap keindahan di antara langit-langit kehidupan. Cinta datang dari bumi, tetapi buahnya menggantung di langit yang tak terbatas. Pada mulanya orang mungkin mengujarkan cinta yang bersifat terbatas yang tumbuh dari bumi batinnya, tetapi berikutnya dia akan terus bertumbuh dan berkembang, sehingga mencapai pada buah yang menggantung di langit. Bisa diketahui, jika ada orang cinta begitu ceket dan sempit, berarti cintanya belum bertumbuh, ujungnya kebahagiaan pun tidak meluas ruang lingkupnya.
Inilah sebuah kegelisahan orang yang tengah belajar bercinta dalam arti yang lebih luas.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Senin, 21 Desember 2009
TERIMA KASIH
Terima kasih bagaikan petikan dawai yang terdengar indah dan merdu di telinga. Bagaikan sentuhan harpa di siang hari. Bagaikan kucuran oasis di tengah savanna yang kering gersang. Setiap orang suka kata indah itu. Apakah terima kasih hanya bertengger dalam kata, tak mengakar di tubuh batiniah? Kata terima kasih pada hakikatnya gema suara yang terlahir dari hati. Hamzah Fansuri mengungkapkan, terima kasih berasal dari dua rangkaian kata, yakni kata terima dan kasih. Terima diartikan sebagai menerima segala apa yang datang dari Allah tanpa mengeluh. Dan kasih, mengasihkan atau mempersembahkan kembali apa yang diterima pada Allah kembali. Sementara selain Allah hanyalah sebagai the channel of thanksgiving (saluran pengungkapan terima kasih).
Terima, berarti menerima segala hal yang datang pada dirinya, dan disadari sebagai kebaikan yang datang dari Allah SWT. Tak ayal, karena merasa semuanya datang dari Allah SWT, maka pantulan yang berkumandang ke dalam hatinya hanya kebahagiaan semata. Mengapa bahagia? Ya, karena dia selalu bertemu dengan Sang Pemberi Hadiah.
Dia tak terpukau dengan hadiah yang diberikan Allah, tetapi selalu merasa disambangi, disertai, dan diperhatikan Allah SWT. Merasakan kehadiran Allah setiap saat itulah yang turut memantik kebahagiaan di dalam hatinya. Orang yang bermental “terima”, maka setiap kejadian dan peristiwa yang menyapanya akan selalu menitipkan kekayaan ruhani. Bukankah kekayaan itu hanya melekat pada orang yang menerima. Tanpa protes, tanpa mengeluh, tanpa marah, yang terpancar hanya kesukacitaan menerima setiap realitas sebagai suguhan dan sajian maha lezat dari Allah SWT. Mental “terima” inilah yang juga disebut dengan sikap ridha. Ridha bakal melahirkan kelapangan bagi setiap insan, sehingga tergerak untuk berbagi pada sesama. Orang yang ridha, akan berimbas pada perilaku “kasih.” Orang yang ridha bakal bahagia, dan orang bahagia bakal selalu tergerak membagikan kebahagiaannya pada sesama. Begitulah mental kasih itu.
Mental “kasih”, berusaha mengasihkan apa yang ada di tangannya pada Allah. Semua dipersembahkan demi mendekatkan diri pada Allah SWT. Pribadi ini telah kehilangan “rasa kepemilikan,” yang terbenam dalam jiwanya, pemilik hakiki hanya Allah SWT. Tak ada pilihan lain, bagi yang tidak merasa memiliki, kecuali menyerahkan kembali apa yang diterima pada Pemilik Hakiki, melalui saluran-saluran yang disukai Pemiliknya. Artinya, kita mengasihkan apa yang kita terima pada makhluk-makhlukNya. Karena kita bisa melayani dan mempersembahkan sesuatu pada Allah dengan melayani makhluk-makhlukNya. Jika kita telah sampai di peringkat terima kasih, maka kita bakal menemukan kebahagiaan dan keberkahan hidup. Bukankah al-Qur’an sudah menjanjikan akan menurunkan keberkahan (ziyadah) bagi orang-orang bermental “terima kasih”. Bahkan kalau kita berusaha menggali ke kedalaman, orang bermental terima kasih tidak hanya menuai berkah, bahkan berkah telah membadan pada dirinya.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Senin, 07 Desember 2009
DOSA, JALAN SUTERA MENUJU KEKASIH
Dosa sebingkah kata yang begitu menakutkan. Saking besarnya rasa takut, tanpa disadari kita tak jarang terjebak pada dosa itu sendiri. Kita membenci dosa, namun kita kerap terjaring dalam perbuatan dosa. Makin takut pada dosa, dan fokus pada ketakutan itu, membuat orang makin terjungkal. Seumpama orang yang berada di puncak ketinggian gunung, sembari melihat jurang yang curam. Jika fokus perhatiannya pada jurang yang curam tersebut, maka perhatiannya terdorong pada jurang, dan bisa jadi tanpa disadari akan terjatuh ke kawah tersebut. Semua orang mendamba hidup tanpa dosa, tapi kendati demikian manusia harusnya mengarahkan fokus pada penggapaian kebajikan. Sehingga setiap saat, hanya menghimpun kebajikan yang turut menerangi jiwa.
Kini, perlu kiranya kita memahami secara utuh, apa hakikat dosa. Bagaimana agar dosa tidak sekadar menyetorkan derita, tetapi bisa menjadi jalan menggapai kebahagiaan hakiki, bahkan bersua kekasih. Mungkinkah orang bisa menemukan kebahagiaan lewat dosa? Sepertinya sih dosa hanya produktif mengirimkan derita ke ranah batin, dan dimaklumi akan selalu menyeret pelakunya ke ruang kegelapan, kekacauan, dan kerusakan. Sebagaimana dimaklumi, dosa sama dengan kegelapan, dan di setiap pojok kegelapan kita tidak akan bisa melihat kebenaran. Lain halnya, ketika manusia dipenuhi pahala, niscaya bakal berkilauan, sehingga akan selalu bersentuhan dengan kebajikan. Apakah benar dosa membuat orang terseret dalam kegelapan, dan pahala membikin orang mudah menjaring cahaya? Apakah benar orang yang mengumpulkan pundi-pundi pahala menggapai kebahagiaan, dan orang yang berdosa selalu tersorong suasana derita yang tak pernah memudar.
Dosa dan pahala sebuah akibat perbuatan. Sementara kita berusaha menggali sebabnya sebab, dan akibatnya akibat. Ketika kita berusaha menjejaki medan dualitas, niscaya kita tak pernah menggapai kedewasaan ruhani. Kedewasaan ruhani bukan diukur seberapa besar pahala yang direngkuh, tetapi seberapa agung sikapnya di setiap momen peristiwa dan kejadian yang hadir. Dari sudut kearifan, keagungan seseorang tidak diukur kaya dan miskin secara materi, tetapi diukur dari keagungan dan kemuliaan dalam bersikap. Memang, yang membuat orang namanya terus menjulang adalah sikap-sikap agung yang ditampilkan dikala bertegursapa dengan peristiwa dan kejadian.
Jika ada dosa pasti juga ada pahala, dan benarkah pahala menjadi hal mutlak orang bahagia, dan dosa selalu meringkus manusia dalam penjara derita? Sungguh, kebahagiaan itu bergantung sikap kita dari setiap perbuatan yang mengalir. Kita sadari, sesungguhnya perbuatan buruk itu bukan kehendak hati nurani kita, tetapi terilhami hawa nafsu. Pada hakikatnya hati nurani selalu mendorong kita pada kebajikan, dan hawa nafsu cenderung merongrong dan menyeret manusia pada keburukan. Apa padam nafsu ketika berdosa, dan mulai menggelegar kembali hawa nafsu saat menumpuk pahala. Kadang, ketika manusia telah berbuat kebajikan meletup perasaan puas, sembari membanggakan diri. Seolah perbuatan baik yang ditampilkan murni datang dari kekuatan dirinya. Sikap egoisme yang melambung tinggi lantaran perbuatan bajik yang dilakukan telah meruntuhkan seluruh kebajikan yang telah dijalani. Merasa bajik akan melunturkan, bahkan menghapuskan kebajikan itu sendiri. Tapi orang yang merasa berdosa, akan menghapus dosa itu sendiri. Karena dosa dihapus dengan rasa bersalah dan menyesal.
****
Kini, diantara Anda bakal bertanya, bagaimana dosa membuat orang dekat dengan kekasih. Bukankah dosa sendiri suatu yang dibenci oleh Kekasih? Dosa suatu yang berlawanan arus dengan harapan kekasih, tetapi sesungguhnya lebih dari sekadar itu, Allah melihat apa sikap yang dicetuskan setelah berbuat dosa itu. Andai dosa dilakukan dengan sikap penuh kebanggaan disertai rasa tak bersalah, niscaya makin menambahkan dosa kembali. Namun, ketika dosa disertai perasaan menyesal, sehingga bertobat, sungkem, dan merintihkan tangisan istighfar pada Allah akan dosa yang dilakukan, niscaya dosa menjadi batu lompatan orang menggapai kedekatan dan dicintai Allah SWT. Sebagaimana cuplikan firman Allah, “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertobat dan membersihkan diri.”
Apa kaitannya dosa, tobat, dan cinta? Bila kita melihat secara gamblang, seolah tak ada kaitan. Namun, ketika kita berusaha merenungi secara mendalam, maka akan ditemukan kaitan yang amat dialektis antara ketiganya. Ingatlah, saudaraku cinta diperoleh karena tobat, tobat muncul lantaran merasa ada dosa. Dosa sendiri hanyalah tesa, tobat antitesa, dan cinta adalah sintesa. Karena itu, tak ada alasan bagi orang beriman pupus harapan akan rahmat Allah. Karena sesungguhnya kalau mau dikuak secara mendalam, sesungguhnya rahmat Allah meliputi segala sesuatu. Bahkan perbuatan dosa yang dilakukan manusia juga disertai rahmat Allah di dalamnya. Bagi orang yang menyadari ini, maka dibalik segala sesuatu tidak pernah berpisah dan terlepas dari rahmat Allah. Bahkan ketika kita tengah menjalani keburukan, disana meresap rahmat Allah. Karena itu, tak ada alasan bagi seorang hamba berpikir buruk pada Allah. Pantas saja, pupus harapan itu hanya disandangkan pada orang kafir, yang terhijab dalam pengenalan pada Allah SWT. Betapa banyak orang yang nyungsep dalam perbuatan dosa, kemudian bangkit untuk menghadap pada cahaya pengampunan. Merintih, menangis, dan bertobat, kemudian dari kegelapan yang pekat dia dipendari cahaya yang membuatnya makin dekat pada Allah SWT.
Ketika orang disusupi rasa berdosa, maka akan terus berusaha menghapus dosa, dengan tobat, terbetik rasa sesal yang mendalam, disertai amal kebaikan-kebaikan lain, sembari terpancar rasa optimis bahwa Allah akan mengampuni segenap dosa-dosanya, setelah meyakini sifat Allah Yang Maha Pengampun (Al-Afuwwu), bahkan Yang Maha Penghapus Dosa (Al-Ghaffar). Melihat diri yang berlumur dosa, maka akan terbersit perasaan rendah diri dan hina, dan ketika memandangi kasih sayang Allah, maka hidup menjadi optimis atas anugerah pengampunanNya yang tak terbatas. Merasa gelap penting, tetapi jangan terpaku oleh kegelapan, karena kita tak menemukan cahaya apapun. Kita boleh merasa gelap, tapi disertai rasa optimis bahwa cahaya pun bakal hadir. Begitu juga ketika kita berbuat dosa, janganlah merasa terpaku, dan terjebak untuk terus memikirkan segenap dosa, tanpa memandang horizon pengampunan Allah Yang Maha Luas.
Ketika orang terjebak dalam dosa, dan merasa bahwa dia tak berkuasa sedikit pun untuk mengendalikan dan menguasai diri, hanya karena kehendak Allah semata perbuatan baik terlahir, niscaya dia akan ditolong Allah untuk makin dekat dengan kebajikan yang diharapkan, yang berarti dekat dengan Allah itu sendiri. Dan dia telah digerakkan Allah bisa mendaurulang keburukan sebagai kebajikan. Keburukan dosa-dosa telah menjadi sarana makin dekat pada Allah SWT. Karena orang-orang yang bertobat senantiasa dicintai Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah SAW,” Sesungguhnya orang yang bertobat adalah kekasih Allah, dan orang yang bertobat adalah seperti orang yang tidak punya dosa.”
Sekarang saatnya kita mencintai Allah dengan jalan bertobat terus-menerus, dengan merasakan tumpukan dosa, dan disertai rasa optimis bahwa Allah akan menganugerahi pengampunan sebagai tanda sifat kasih sayang dan pengampunanNya yang tak terbatas.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Kini, perlu kiranya kita memahami secara utuh, apa hakikat dosa. Bagaimana agar dosa tidak sekadar menyetorkan derita, tetapi bisa menjadi jalan menggapai kebahagiaan hakiki, bahkan bersua kekasih. Mungkinkah orang bisa menemukan kebahagiaan lewat dosa? Sepertinya sih dosa hanya produktif mengirimkan derita ke ranah batin, dan dimaklumi akan selalu menyeret pelakunya ke ruang kegelapan, kekacauan, dan kerusakan. Sebagaimana dimaklumi, dosa sama dengan kegelapan, dan di setiap pojok kegelapan kita tidak akan bisa melihat kebenaran. Lain halnya, ketika manusia dipenuhi pahala, niscaya bakal berkilauan, sehingga akan selalu bersentuhan dengan kebajikan. Apakah benar dosa membuat orang terseret dalam kegelapan, dan pahala membikin orang mudah menjaring cahaya? Apakah benar orang yang mengumpulkan pundi-pundi pahala menggapai kebahagiaan, dan orang yang berdosa selalu tersorong suasana derita yang tak pernah memudar.
Dosa dan pahala sebuah akibat perbuatan. Sementara kita berusaha menggali sebabnya sebab, dan akibatnya akibat. Ketika kita berusaha menjejaki medan dualitas, niscaya kita tak pernah menggapai kedewasaan ruhani. Kedewasaan ruhani bukan diukur seberapa besar pahala yang direngkuh, tetapi seberapa agung sikapnya di setiap momen peristiwa dan kejadian yang hadir. Dari sudut kearifan, keagungan seseorang tidak diukur kaya dan miskin secara materi, tetapi diukur dari keagungan dan kemuliaan dalam bersikap. Memang, yang membuat orang namanya terus menjulang adalah sikap-sikap agung yang ditampilkan dikala bertegursapa dengan peristiwa dan kejadian.
Jika ada dosa pasti juga ada pahala, dan benarkah pahala menjadi hal mutlak orang bahagia, dan dosa selalu meringkus manusia dalam penjara derita? Sungguh, kebahagiaan itu bergantung sikap kita dari setiap perbuatan yang mengalir. Kita sadari, sesungguhnya perbuatan buruk itu bukan kehendak hati nurani kita, tetapi terilhami hawa nafsu. Pada hakikatnya hati nurani selalu mendorong kita pada kebajikan, dan hawa nafsu cenderung merongrong dan menyeret manusia pada keburukan. Apa padam nafsu ketika berdosa, dan mulai menggelegar kembali hawa nafsu saat menumpuk pahala. Kadang, ketika manusia telah berbuat kebajikan meletup perasaan puas, sembari membanggakan diri. Seolah perbuatan baik yang ditampilkan murni datang dari kekuatan dirinya. Sikap egoisme yang melambung tinggi lantaran perbuatan bajik yang dilakukan telah meruntuhkan seluruh kebajikan yang telah dijalani. Merasa bajik akan melunturkan, bahkan menghapuskan kebajikan itu sendiri. Tapi orang yang merasa berdosa, akan menghapus dosa itu sendiri. Karena dosa dihapus dengan rasa bersalah dan menyesal.
****
Kini, diantara Anda bakal bertanya, bagaimana dosa membuat orang dekat dengan kekasih. Bukankah dosa sendiri suatu yang dibenci oleh Kekasih? Dosa suatu yang berlawanan arus dengan harapan kekasih, tetapi sesungguhnya lebih dari sekadar itu, Allah melihat apa sikap yang dicetuskan setelah berbuat dosa itu. Andai dosa dilakukan dengan sikap penuh kebanggaan disertai rasa tak bersalah, niscaya makin menambahkan dosa kembali. Namun, ketika dosa disertai perasaan menyesal, sehingga bertobat, sungkem, dan merintihkan tangisan istighfar pada Allah akan dosa yang dilakukan, niscaya dosa menjadi batu lompatan orang menggapai kedekatan dan dicintai Allah SWT. Sebagaimana cuplikan firman Allah, “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertobat dan membersihkan diri.”
Apa kaitannya dosa, tobat, dan cinta? Bila kita melihat secara gamblang, seolah tak ada kaitan. Namun, ketika kita berusaha merenungi secara mendalam, maka akan ditemukan kaitan yang amat dialektis antara ketiganya. Ingatlah, saudaraku cinta diperoleh karena tobat, tobat muncul lantaran merasa ada dosa. Dosa sendiri hanyalah tesa, tobat antitesa, dan cinta adalah sintesa. Karena itu, tak ada alasan bagi orang beriman pupus harapan akan rahmat Allah. Karena sesungguhnya kalau mau dikuak secara mendalam, sesungguhnya rahmat Allah meliputi segala sesuatu. Bahkan perbuatan dosa yang dilakukan manusia juga disertai rahmat Allah di dalamnya. Bagi orang yang menyadari ini, maka dibalik segala sesuatu tidak pernah berpisah dan terlepas dari rahmat Allah. Bahkan ketika kita tengah menjalani keburukan, disana meresap rahmat Allah. Karena itu, tak ada alasan bagi seorang hamba berpikir buruk pada Allah. Pantas saja, pupus harapan itu hanya disandangkan pada orang kafir, yang terhijab dalam pengenalan pada Allah SWT. Betapa banyak orang yang nyungsep dalam perbuatan dosa, kemudian bangkit untuk menghadap pada cahaya pengampunan. Merintih, menangis, dan bertobat, kemudian dari kegelapan yang pekat dia dipendari cahaya yang membuatnya makin dekat pada Allah SWT.
Ketika orang disusupi rasa berdosa, maka akan terus berusaha menghapus dosa, dengan tobat, terbetik rasa sesal yang mendalam, disertai amal kebaikan-kebaikan lain, sembari terpancar rasa optimis bahwa Allah akan mengampuni segenap dosa-dosanya, setelah meyakini sifat Allah Yang Maha Pengampun (Al-Afuwwu), bahkan Yang Maha Penghapus Dosa (Al-Ghaffar). Melihat diri yang berlumur dosa, maka akan terbersit perasaan rendah diri dan hina, dan ketika memandangi kasih sayang Allah, maka hidup menjadi optimis atas anugerah pengampunanNya yang tak terbatas. Merasa gelap penting, tetapi jangan terpaku oleh kegelapan, karena kita tak menemukan cahaya apapun. Kita boleh merasa gelap, tapi disertai rasa optimis bahwa cahaya pun bakal hadir. Begitu juga ketika kita berbuat dosa, janganlah merasa terpaku, dan terjebak untuk terus memikirkan segenap dosa, tanpa memandang horizon pengampunan Allah Yang Maha Luas.
Ketika orang terjebak dalam dosa, dan merasa bahwa dia tak berkuasa sedikit pun untuk mengendalikan dan menguasai diri, hanya karena kehendak Allah semata perbuatan baik terlahir, niscaya dia akan ditolong Allah untuk makin dekat dengan kebajikan yang diharapkan, yang berarti dekat dengan Allah itu sendiri. Dan dia telah digerakkan Allah bisa mendaurulang keburukan sebagai kebajikan. Keburukan dosa-dosa telah menjadi sarana makin dekat pada Allah SWT. Karena orang-orang yang bertobat senantiasa dicintai Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah SAW,” Sesungguhnya orang yang bertobat adalah kekasih Allah, dan orang yang bertobat adalah seperti orang yang tidak punya dosa.”
Sekarang saatnya kita mencintai Allah dengan jalan bertobat terus-menerus, dengan merasakan tumpukan dosa, dan disertai rasa optimis bahwa Allah akan menganugerahi pengampunan sebagai tanda sifat kasih sayang dan pengampunanNya yang tak terbatas.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Jumat, 04 Desember 2009
SAYA MENDAMBA JADI MANUSIA PRIMITIF
Di sebuah kesempatan, guru kami yang mulia meluncurkan kearifan yang turut meniupkan kesegaran ke dalam hati. Menurut beliau, primitif bermakna asli, berakar dari bahasa Yunani Primus, dan diadopsi ke dalam bahasa Inggris menjadi Prime, yang berarti utama. Saya pun segera mencerna pemikiran yang didulangkan guru yang mulia. Andai primitive itu diartikan sebagai yang asli, original, otentik, berarti layak jadi gaya hidup yang terhormat. Tak ayal, sifat itu menjadi dambaan terdalam setiap insan? Ciri manusia primitive gampang berkata jujur, sulit berkata dusta.
Jujur saja, kita menginginkan orang yang jujur, tidak berpura-pura, tidak gampang tipu sana-sini, dan selalu berkata polos. Kita menginginkan teman yang jujur, partner bisnis yang polos, mendamba relasi yang tak berbalutkan intrik. Dengan berbekal kejujuran dan keaslian, manusia bakal selalu menemukan terang dimana saja. Tuhan bermukim di hati orang yang jujur. Bukankah hanya orang yang berpikir dan berbuat apa adanya yang bakal selalu menemukan keindahan dalam hidup. Dan hanya orang yang mengada-ada, penuh pretensi yang melulu dibajak kekecewaan dan kepedihan.
Hanya saja, selama ini kita sudah meremehkan manusia primitif dengan kesan sebagai manusia terbelakang, dan lebih akrab dijuluki manusia Jadul (jaman dulu). Mengapa mereka dianggap jadul. Ya, mereka dipandang jadul, lantaran ketika orang beramai-ramai bermain intrik dan menebar fitnah, dia masih sanggup berjuang dalam pusaran pengaruh integritas diri yang berisikan jujur. Ketika orang berlomba-lomba mengejar kedudukan bergengsi dengan beragam cara tuna nilai, dia hanya terlihat termangu-mangu dan merasa asing. Ketika orang bersaing membalut citra diri palsu, dia tetap memilih untuk menunjukkan apa adanya. Dia menyadari, balutan citra hanya kemasan sementara, ada saatnya kemasan itu bakal robek, dibuang, sehingga yang terlihat hanya isi semata. Apakah sama antara citra kemasan dan isi yang terbungkus? Disanalah integritas dan kejujuran dipertaruhkan.
Apakah manusia primitif identik dengan orang yang tertinggal dalam informasi, teknologi, dan trendsetter bisnis? manusia primitif tidak terkait soal ketinggalan informasi, tetapi berkait dengan keteguhan memandang hati nurani sebagai panduan utama dalam melangkah. Dia masih menjadikan hati nurani sebagai commander yang mendorongnya bergerak dan berbuat. Pikiran, dan tindakan terpandu secara integral oleh hati nurani. Manusia yang masih tersambung dengan kejernihan hati nurani disebut manusia primitif (manusia utama) yang berada dalam arus sejarah. Karena mereka punya panduan lekat, berupa hati nurani yang jernih, maka perbuatannya selalu terarah menuju kebahagiaan. Kejujuran, penuh integritas, dan kredibilitas telah melekat kuat dalam dirinya, tak pernah sedikit pun bergeser antara suara hati dan perbuatannya. Karena perbuatan yang tergelar sebagai ekspresi yang dituangkan hati nurani. Tepatnya, perbuatan sebagai cetakan nyata dari hati nurani.
Kini, terasa sekali bahwa jujur dan polos hanya layak dikenakan orang yang bermental terbelakang. Kejujuran terasa langka, bahkan dusta telah menjadi habit publik sebagaimana dipertunjukkan berbagai saluran media yang ada. Dari kebohongan pengusaha, hingga pejabat tinggi, mungkin rakyat kecil juga tertulari penyakit dusta tersebut. Di suatu kesempatan, saya chatting dengan teman semasa Madrasah Aliyah di Madura. Panggil saja namanya, Vinda Rosyidi. Di sekolah, dia termasuk siswa yang cerdas, vokal, dan selalu menguasai debat. Saya sebagai teman akrabnya, menyukai gaya bicaranya yang fasih dan segar, kadang-kadang disertai diplomasi. Tepat di awal tahun 2000 saya berpisah dengannya. Dia melanjutkan studi ke IAIN Syarif Hidayatullah, sementara saya sendiri melanjutkan ke kampus swasta di Surabaya. Sejak awal, saya menduga dia akan jadi politisi, setidaknya politisi kampus, terlihat dari keterampilannya mempengaruhi teman-teman aktivitas sekolah.
Sudah lama saya tidak ketemu dia. Setelah saya punya akun facebook, alhamudlillah saya bisa menjalin komunikasi kembali dengannya. Di dalam percakapannya, dia mengutarakan bahwa hidup di Jakarta membutuhkan keberanian untuk tidak jujur. Siapa yang jujur akan hancur. “orang jujur tidak punya opportunity untuk bisa sukses, “ tambah dia lagi. Kata-kata itu sempat menyentak perasaan saya. Tersentak bukan karena perkataan itu, tetapi dia sendiri bersikap permisif dengan penyakit dusta yang mewabah selama ini. Di zaman sekarang, terasa manusia primitif –manusia yang dipandu dengan kejernihan hati—semakin langka. Ketika sikap primitive berupa kejujuran, integritas, dan krediblitas telah memudar dari horizon kehidupan manusia, pertanda semangat agama mengalami senjakala, ditelan peradaban yang beroientasi duniawi. Padahal kebahagiaan hanya berpihak pada orang yang berperilaku primitif tersebut. Orang yang penuh intrik dan dusta justru makin jauh dari medan kebahagiaan yang diharapkan. Alih-alih menggapai kebahagiaan yang sempurna, malahan terjebak dalam derita sepanjang masa.
Sekarang, kita selalu berusaha menjadi manusia primitif yang mau memegang teguh nilai-nilai universal yang bersumber dari hati nurani dan diperkuat oleh agama. Kita harus tetap teguh kendati berada di tengah kepungan manusia modern yang menyingkirkan spirit kejujuran. Mari kita berlatih dengan keyakinan, menjadi manusia primitive itu lebih bahagia. Karena manusia primitive manusia berkesadaran hati nurani.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Langganan:
Postingan (Atom)