Cinta Rasul tidak boleh padam, karena ketika cinta pada Rasulullah SAW padam, maka gairah islam pun bakal redup, pada ujungnya kita tidak bakal mencecap kelezatan ruhani dalam menjalani agama. Ada orang yang tekun beribadah, tetapi karena tidak disertai energi cinta pada Rasulullah Muhammad SAW, niscaya ia tidak bisa merengkuh mutiara agama dari cangkangnya. Bahkan tak jarang ada orang yang dibelenggu oleh konflik yang muncul dari dalam dirinya sendiri, sehingga tidak bisa menjalin harmoni yang indah dengan diri dan sesama.
Suatu kisah yang amat menarik, ada orang yang tekun beribadah, bahkan dia mengklaim hidupnya dipandu al-Qur’an dan Hadist, hanya saja kenyataan hidup dirasakan tetangganya tidak pernah memancar kedamaian darinya, terbukti dia tidak pernah bisa mengambil hati tetangga. Dia terkenal oversensorship terhadap ajaran-ajaran yang dikatakan tidak selaras dan al-Qur’an dan as-Sunnah. Namun, cara dakwah yang dilakukan tidak mengundang simpati, malahan menuai kontroversi dan kebencian dari masyarakat sekitar. Karena dia tidak bisa memoles dan menikmati suasana kondusif, dia sering pindah dari satu perumahan ke perumahan yang lain, dari satu kota ke kota yang lain. Mengapa mereka mengalami konflik batin, ya karena tidak pernah tersambung dalam jalinan cinta pada Rasulullah Muhammad SAW.
Cinta Rasul menjadi modalitas untuk bisa menumbuhkan cinta dalam diri setiap orang, yang kemudian merambat pada sesama dan kehidupan. Bagaimana bisa memekarkan bunga cinta pada Rasulullah Muhammad SAW dalam hati? Saya diajak teman untuk menghadiri maulid yang digelar para habaib, kebetulan maulid diselenggarakan di rumah seorang habib yang ceramah-ceramahnya menggetarkan jiwa, meruntuhkan kebekuan iman, dan membuka gerbang kesadaran baru tentang kecintaan pada Rasul yang Agung.
Saya berangkat dari kos ke tempat penyelenggaraan acara, tepatnya di Ampel 30 menit sebelum maghrib. Saya sampai disana pas adzan maghrib, sehingga bisa mengikuti shalat berjamaah di masjid Sunan Ampel. Seusai shalat sunah ba’diyah, saya langsung menuju tempat penyelenggaraan acara, saya bertemu dengan habib Husein, putera Habib Najib. Melihat penampilan busananya saya mengingatkan Habib di Malang, yang meniru gurunya yang agung Hb. Umar bin Hafidz. Mata saya tertuju pada sosok Hb. Najib yang begitu mempesona dengan kesederhanaan yang melekat pada penampilannya.
Beberapa menit sampai di tempat tujuan, acara langsung dimulai diawali dengan tahlil, disertai dengan pembacaan manaqib beberapa sosok mulia untuk dikirimi doa. Masuk acara shalawat Maulid yang diiringi dengan rebana. Sungguh, saya mendapatkan pantulan Rasulullah SAW dari para keturunan yang disucikan. Para jemaah yang hadir begitu khusyuk mengikuti lantunan shalawat yang dibawakan dengan lagu yang lama, mengikuti irama yang telah dibagikan para salafus saleh. Memang lagu-lagu lama lebih mengena dan menyusup ke jantung, ketimbang lagu yang dikreasi dengan sentuhan-sentuhan modern. Bertemu dengan habaib saat memuja-memuja Rasulullah SAW meresapkan kebahagiaan tersendiri bagi diri ini. Tercermin dari wajah yang berseri-seri dan kelembutannya dalam berdakwah dan mengajak orang, tak ada wajah sangar yang saya lihat dari habaib yang hadir. Mereka telah disuluh dengan cahaya kelembutan Rasul, karena itu dakwah yang dilakukan mereka lebih mengedepankan akhlak luhur dan sikap yang punya daya interesting.
Pada saat acara itu, saya membayangkan akan mendapatkan sentuhan motivasional cinta Rasul dari Hb. Najib, namun yang dipersilahkan untuk memberikan materi ceramah saat itu, Hb. Zainal dari Pasuruan. Kalau ceramah Hb. Najib tidak pernah mengundang gelak tawa, tetapi Hb. Zainal ceramahnya kerap diselipi guyonan yang tak jarang membuat jamaah tertawa. Memang, setiap jamaah punya kecenderung masing-masing. Ada yang mendahulukan isi daripada kemasan, mereka membutuhkan sentuhan-sentuhan ceramah yang serius tapi membahana dengan motivasi. Ada banyak jemaah yang suka dengan ceramah yang diselipi goyunan. Namun, ketika melihat wajah Habaib saya merasa makin masuk dalam jantung kecintaan pada Rasulullah Muhammad SAW.
Seusai acara ceramah, acara tersebut diwarnai dengan penyelenggaraan akad nikah. Berikutnya ada acara makan bersama. Saya mengira jemaah yang hadir hanya sedikit, tetapi ternyata meluber hingga ke jalan raya. Mungkin ada ratusan atau mungkin mendekati seribu orang di acara cinta Rasul, kendati acara dikemas dengan begitu sederhana, tetapi dibalik kesederhanaan menyimpan pesona Rasul yang Agung. Hal itu baru saya sadari, pada saat panitia membagikan makanan yang dihidangkan dengan baki. Setiap baki terdiri nasi, lauk-pauk, dan buah.
Melihat begitu lamanya pembagian, saya meyakini jemaah mendekati seribu orang. Dari momen ini, saya tidak hanya diperkenalkan tentang cinta pada Rasulullah Muhammad SAW, tetapi menyibak tirai keajaiban keturunan Rasulullah yang tidak pernah lepas dari busana akhlak yang dipergunakan beliau SAW, salah satunya dermawan. Kedermawanan Hb. Najib terasa dalam acara tersebut, dan beliau benar-benar berusaha bagaimana bisa memuaskan jamaah yang hadir. Kebanyakan jamaah yang hadir tanpa mendapatkan undangan langsung, hanya mungkin melihat woro-woro yang tertempel di dinding atau papan pengumuman. Tapi, alhamdulillah makanan yang dihidangkan cukup. “kendati jemaah yang hadir begitu banyak, saya tak pernah mendapati persediaan konsumsi kurang, sehingga ada yang tidak makan,”kata teman saya
Cermin akhlak Rasulullah SAW sebagian bisa dilihat dari akhlak yang terlukis dari keturunan beliau. Dan kalau kita mencintai Rasulullah SAW, maka kita harus mencintai keturunannya. Karena dari keturunan Rasulullah, ilmu hikmah mengalir dengan deras yang membikin orang menemukan keindahan agama, tanpa harus merasa kesulitan. Bergaul dengan keturunan Rasulullah SAW, kita bakal mendapati agama yang humanis, mengedepankan akhlak yang agung, tak pernah sedikit pun menyalahkan apalagi mencemooh orang lain. Rasa cinta pada beliau SAW makin bergelora ketika melihat pantulan akhlak Rasulullah yang terpancar pada pribadi-pribadi Habaib. Saya melihat senyum indah melulu menghiasi wajah mereka. Ada keguyupan dan kebersatuan dalam komunitas mereka, selain mereka dengan suka cita berbaur bersama orang-orang di luar komunitas habaib. Ini membuktikan, demi bisa menggelar dakwah lebih luas diharuskan berbaur dengan masyarakat yang berbeda latar belakang tradisi, tetapi tetap mengacu pada cara-cara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Islam dicitrakan sebagai agama inklusif, terbuka terhadap tradisi dan latar belakang apapun. Mengapa demikian? Karena islam digelar oleh utusan yang berprinsip rahmatal lil ‘alamin.
Mengikuti maulid tidak sekadar bisa mengejawantahkan rasa kerinduan dan cinta pada Rasulullah Muhammad SAW lewat pembacaan shalawat bersama, tetapi bisa membangun jalinan ukhuwah atau pergaulan dengan orang yang berasal dari trah yang mulia, trah Rasulullah Muhammad SAW. Bukankah yang ditinggalkan Nabi ada tiga, yakni al-Qur’an, Hadist, dan keturunan beliau yang suci. Al-Qur’an dan hadist sebuah konsep agama yang mati, tetapi keturunan beliau yang dipasoki nilai-nilai agama tetap hidup, dan mengikuti jalan dakwah yang pernah dirintis beliau Saw. Semoga kita makin bisa meneguhkan cinta pada Rasulullah Muhammad SAW dengan cara bershalawat dan diperkenankan bergaul dengan keturunan Nabi Saw yang suci.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Selasa, 16 Maret 2010
KERJAKU, BEBANKU
“tumpukan dan tekanan kerja membuat kepala jadi judeg,”kata saudaraku yang sudah setahun bergelut di karir finansial. Dia mengutarakan sekian problem kerja yang membelit dirinya. Sehingga dari waktu ke waktu, terasa beban yang dipanggul kian berat. Kendati demikian, karirnya begitu cepat menanjak, dari sales jalanan, kini dipercaya sebagai supervisor hanya dalam tenggat waktu setahun. Perihal finansial sudah tidak menjadi kerisauannya sebagaimana halnya pada saat dia baru lulus kuliah. Secara finansial dia telah merasa aman, apalagi belum menikah, sehingga kebutuhan tidak terlampau banyak. Tetapi diam-diam, dia merasa ada suatu di dalam dirinya yang telah dirampas oleh perusahaan. Apa itu? Itulah kemerdekaan intelektual, psikologis, terlebih kemerdekaan ruhani yang menjadi pijakan dasar orang merengkuh kebahagiaan sejati.
Di tengah kegundahannya itu, ia bersilaturrahim pada saya, seraya berharap bisa mencurahkan segenap kejudegan dan menimba pencerahan, sehingga gumpulan kesedihan yang telah membetot hatinya, mencair, dan dia bisa kembali menemukan makna hidup yang mencerahkan dan membahagiakan.
“tekanan yang kurasakan makin berat. Tekanan dari manager, dan juga dari anak buah yang kurang bisa bekerja secara cepat. Dengan berbagai benturan itu, saya kadang jengkel sendiri, dan bahkan akhirnya pasrah, tidak apa-apa kalau saya keluar dari pekerjaan ini. Sebelumnya saya sempat ditawarin oleh pihak direksi, untuk menjadi analis, tetapi saya dalam keadaan gundah, menolak tawaran tersebut, dan memilih fokus mengelola pekerjaan yang kutangani. Saya tidak ingin meninggalkan pekerjaan yang masih berpelepotan beragam masalah. Setiap hari saya bermain dengan strategi, perencanaan, dan target-target, kadang membuat pikiran jadi buntu,”tandasnya.
***
Problem seperti itu tidak sekadar dialami oleh saudara saya tersebut, bisa saja dialami oleh setiap karyawan yang hari-harinya dipacu oleh target dan rencana yang moving. Semuanya menggunakan pikiran rasional, dan jarang mendapatkan sentuhan “the power of spiritual.” Ketika kita terus berjibaku dengan persoalan harian yang meletup dari pikiran-pikiran luar, dan tidak mendidik hati agar bisa memiliki mental terbaik, niscaya pekerjaan akan menjadi beban, bahkan racun yang akan mematikan sisi ruhani. Ketika ruhani mati, atau setidaknya sakit, niscaya akan menguap kehampaan, perasaan kering, gersang, dan nurani jadi tumpul untuk menggali makna terindah dari setiap momen yang terlintas.
Saya sempat tidak percaya dengan penelitian, bahwa ada sufi di korporat, karena korporat yang telah menjadikan kapital berikut mengumpulkan modal material sebagai tindakan sehari-hari, karenanya sulit menggapai sufi yang sejati. Kendati tak bisa dipungkiri, ada juga sosok sufi yang dilahirkan dari sebuah komunitas di perusahaan. Ketika perusahaan, dan orang yang berada di perusahaan hanya terpancing untuk mencapai keamanan dan kestabilan keuangan, niscaya kesucian ruhani sulit untuk bisa dirangkai secara efektif. Jarang sekali kita melihat perusahaan yang bisa melahirkan sufi-sufi handal, karena cara kerjanya di-create kental orientasi materialistik.
Andaikan ada gairah memunculkan nilai dan semangat spiritual dalam perusahaan, pada akhirnya diarahkan untuk bisa meningkatkan pendapatan yang lebih besar. Kita bisa bercermin pada pelayanan perbankan, pelayanannya begitu anggun, senyum tersimpul indah menghiasi wajah setiap teller, costumer service, dan bahkan security yang menyambut para nasabah. Hanya saja, dari wajah batinnya terpancar bahwa sikap dan penampilan mereka sepertinya tidak muncul dari kejernihan hatinya, tetapi diformat oleh sistem yang dikembangkan perusahaan. Mereka bersikap indah, interesting, elegan selaras dengan tuntutan perusahaan, yang bertujuan menarik pelanggan agar betah bersama pelayanannya, dan pada akhirnya bisa meningkatkan aggregasi pendapatan.
Setiap perilaku, sikap, dan performance yang pada ujungnya berharap pada terpenuhi materi bukanlah spiritual. Kendati disebut spiritualitas itu bersifat spiritual semu (pseudo-spiritual). Karena bagi orang yang berorientasi spiritualitas, maka duniawi dengan segenap aksesorisnya hanyalah jalan, menuju kejayaan ruhani, berujung pada upaya mendulang tambang kebahagiaan yang begitu berharga yang diproduksi dari dalam dirinya sendiri. Mereka bahagia, karena telah diberi kemampuan oleh Allah untuk mewujudkan panggilan jiwa yang terus menggedor batinnya. Ada orang yang begitu bahagia, setelah melalui kekayaan yang didapatkan, dia bisa memberi lebih banyak lagi pada orang yang membutuhkan, bisa membuat yayasan kusta yang diperuntukkan bagi orang yang terjangkit kusta. Mereka bahagia bukan karena kekayaan itu, tetapi karena telah bisa memenuhi panggilan jiwanya untuk bisa membantu orang yang membutuhkan dengan panduan hatinya yang suci.
Pekerjaan menjadi beban, dan menjadi lahan yang begitu menarik, tidak bergantung pada perolehannya, tetapi misi atau prinsip yang tertanam dalam pekerjaan tersebut. Ketika misi yang tertanam mulia dan indah, maka kerja dan seluruh prosesnya terasa indah. Seperti orang hendak rekreasi sebuah tempat yang begitu indah nan eksotis, tentu saja tidak ada cemberut yang menjelma dari wajahnya, bahkan senyum terus disertai gurauan kecil mengiringi perjalanan tersebut. Apalagi ketika telah sampai pada tujuan, maka kebahagiaan itu seperti telah menyatu ke dalam hatinya. Atau ketika orang hendak berkunjung pada sang kekasih, sebelum tiba di rumah sang pujaan hati, masih hendak berangkat atau berada dalam perjalanan menujunya, sepertinya simfoni kebahagiaan terus mengalun indah dari hati ini, bahkan ketika dalam perjalanan itu diwarnai siulan, nyanyian merdu yang melukiskan suasana hati yang indah dan penuh bahagia, bahkan telah membayangkan momen indah yang bakal terjadi dalam persuaan dengan sang kekasih.
Ketika orang dipasoki nilai-nilai ruhani otentik dalam hatinya, maka dia akan selalu meresapi, menghayati, dan berpelukan dengan kebahagiaan. Dia bisa merasakan pantulan kristal-kristal kebahagiaan memancar dari seluruh sudut kehidupannya. Karena memang, hatinya telah dihiasi taman yang indah, dia tidak terpengaruh dengan kotoran yang ada di luar dirinya, karena dia telah merasakan taman indah yang tak bakal terganggu oleh siapapun, kecuali dia sendiri yang mengizinkan untuk diganggu. Karena dia telah punya alam hati yang bertatahkan taman indah, dia tidak sekadar menikmati kebahagiaan, tetapi berusaha menebarkan dan membagikan kebahagiaan itu pada lingkungan sekitarnya. Dengan menatapnya, banyak orang yang mengalami kegersangan spiritual, tiba-tiba terasa mendapatkan hujan spiritual dari wajahnya sehingga kegersangan itu berakhir, berikut bisa menumbuhkan bibit-bibit kebaikan yang bersemi dalam dirinya.
Bagi orang sudah berpelukan dengan kedamaian, bahkan benturan, intrik, dan taktik yang terjadi dalam perusahaan tidak pernah bisa merampas kebahagiaan yang telah berdiam dalam dirinya. Bahkan seluruh suasana gelap itu akan menjadi terang dalam sudut pandangnya, bahkan mencerahkan. Dia terampil mengelola suasana yang semberawut menjadi suasana yang rapi dan melahirkan aneka hikmah. Sikap dan perilakunya sering membawa cahaya, dan mengilhami orang lain untuk berbuat yang terbaik. Tindakan dan sikap hidupnya lebih bernas dampaknya ketimbang kata-katanya. Karena hatinya telah ditumbuhi sakinah, maka dalam kondisi apapun dia selalu berada dalam keadaan sakinah, tak pernah terusik sedikit pun. Bekerja pun menjadi aktivitas yang enjoy, karena bekerja dipandang menjadi instrumen untuk mendapatkan kebahagiaan, juga membagi kebahagiaan yang didambakan oleh setiap insan.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Di tengah kegundahannya itu, ia bersilaturrahim pada saya, seraya berharap bisa mencurahkan segenap kejudegan dan menimba pencerahan, sehingga gumpulan kesedihan yang telah membetot hatinya, mencair, dan dia bisa kembali menemukan makna hidup yang mencerahkan dan membahagiakan.
“tekanan yang kurasakan makin berat. Tekanan dari manager, dan juga dari anak buah yang kurang bisa bekerja secara cepat. Dengan berbagai benturan itu, saya kadang jengkel sendiri, dan bahkan akhirnya pasrah, tidak apa-apa kalau saya keluar dari pekerjaan ini. Sebelumnya saya sempat ditawarin oleh pihak direksi, untuk menjadi analis, tetapi saya dalam keadaan gundah, menolak tawaran tersebut, dan memilih fokus mengelola pekerjaan yang kutangani. Saya tidak ingin meninggalkan pekerjaan yang masih berpelepotan beragam masalah. Setiap hari saya bermain dengan strategi, perencanaan, dan target-target, kadang membuat pikiran jadi buntu,”tandasnya.
***
Problem seperti itu tidak sekadar dialami oleh saudara saya tersebut, bisa saja dialami oleh setiap karyawan yang hari-harinya dipacu oleh target dan rencana yang moving. Semuanya menggunakan pikiran rasional, dan jarang mendapatkan sentuhan “the power of spiritual.” Ketika kita terus berjibaku dengan persoalan harian yang meletup dari pikiran-pikiran luar, dan tidak mendidik hati agar bisa memiliki mental terbaik, niscaya pekerjaan akan menjadi beban, bahkan racun yang akan mematikan sisi ruhani. Ketika ruhani mati, atau setidaknya sakit, niscaya akan menguap kehampaan, perasaan kering, gersang, dan nurani jadi tumpul untuk menggali makna terindah dari setiap momen yang terlintas.
Saya sempat tidak percaya dengan penelitian, bahwa ada sufi di korporat, karena korporat yang telah menjadikan kapital berikut mengumpulkan modal material sebagai tindakan sehari-hari, karenanya sulit menggapai sufi yang sejati. Kendati tak bisa dipungkiri, ada juga sosok sufi yang dilahirkan dari sebuah komunitas di perusahaan. Ketika perusahaan, dan orang yang berada di perusahaan hanya terpancing untuk mencapai keamanan dan kestabilan keuangan, niscaya kesucian ruhani sulit untuk bisa dirangkai secara efektif. Jarang sekali kita melihat perusahaan yang bisa melahirkan sufi-sufi handal, karena cara kerjanya di-create kental orientasi materialistik.
Andaikan ada gairah memunculkan nilai dan semangat spiritual dalam perusahaan, pada akhirnya diarahkan untuk bisa meningkatkan pendapatan yang lebih besar. Kita bisa bercermin pada pelayanan perbankan, pelayanannya begitu anggun, senyum tersimpul indah menghiasi wajah setiap teller, costumer service, dan bahkan security yang menyambut para nasabah. Hanya saja, dari wajah batinnya terpancar bahwa sikap dan penampilan mereka sepertinya tidak muncul dari kejernihan hatinya, tetapi diformat oleh sistem yang dikembangkan perusahaan. Mereka bersikap indah, interesting, elegan selaras dengan tuntutan perusahaan, yang bertujuan menarik pelanggan agar betah bersama pelayanannya, dan pada akhirnya bisa meningkatkan aggregasi pendapatan.
Setiap perilaku, sikap, dan performance yang pada ujungnya berharap pada terpenuhi materi bukanlah spiritual. Kendati disebut spiritualitas itu bersifat spiritual semu (pseudo-spiritual). Karena bagi orang yang berorientasi spiritualitas, maka duniawi dengan segenap aksesorisnya hanyalah jalan, menuju kejayaan ruhani, berujung pada upaya mendulang tambang kebahagiaan yang begitu berharga yang diproduksi dari dalam dirinya sendiri. Mereka bahagia, karena telah diberi kemampuan oleh Allah untuk mewujudkan panggilan jiwa yang terus menggedor batinnya. Ada orang yang begitu bahagia, setelah melalui kekayaan yang didapatkan, dia bisa memberi lebih banyak lagi pada orang yang membutuhkan, bisa membuat yayasan kusta yang diperuntukkan bagi orang yang terjangkit kusta. Mereka bahagia bukan karena kekayaan itu, tetapi karena telah bisa memenuhi panggilan jiwanya untuk bisa membantu orang yang membutuhkan dengan panduan hatinya yang suci.
Pekerjaan menjadi beban, dan menjadi lahan yang begitu menarik, tidak bergantung pada perolehannya, tetapi misi atau prinsip yang tertanam dalam pekerjaan tersebut. Ketika misi yang tertanam mulia dan indah, maka kerja dan seluruh prosesnya terasa indah. Seperti orang hendak rekreasi sebuah tempat yang begitu indah nan eksotis, tentu saja tidak ada cemberut yang menjelma dari wajahnya, bahkan senyum terus disertai gurauan kecil mengiringi perjalanan tersebut. Apalagi ketika telah sampai pada tujuan, maka kebahagiaan itu seperti telah menyatu ke dalam hatinya. Atau ketika orang hendak berkunjung pada sang kekasih, sebelum tiba di rumah sang pujaan hati, masih hendak berangkat atau berada dalam perjalanan menujunya, sepertinya simfoni kebahagiaan terus mengalun indah dari hati ini, bahkan ketika dalam perjalanan itu diwarnai siulan, nyanyian merdu yang melukiskan suasana hati yang indah dan penuh bahagia, bahkan telah membayangkan momen indah yang bakal terjadi dalam persuaan dengan sang kekasih.
Ketika orang dipasoki nilai-nilai ruhani otentik dalam hatinya, maka dia akan selalu meresapi, menghayati, dan berpelukan dengan kebahagiaan. Dia bisa merasakan pantulan kristal-kristal kebahagiaan memancar dari seluruh sudut kehidupannya. Karena memang, hatinya telah dihiasi taman yang indah, dia tidak terpengaruh dengan kotoran yang ada di luar dirinya, karena dia telah merasakan taman indah yang tak bakal terganggu oleh siapapun, kecuali dia sendiri yang mengizinkan untuk diganggu. Karena dia telah punya alam hati yang bertatahkan taman indah, dia tidak sekadar menikmati kebahagiaan, tetapi berusaha menebarkan dan membagikan kebahagiaan itu pada lingkungan sekitarnya. Dengan menatapnya, banyak orang yang mengalami kegersangan spiritual, tiba-tiba terasa mendapatkan hujan spiritual dari wajahnya sehingga kegersangan itu berakhir, berikut bisa menumbuhkan bibit-bibit kebaikan yang bersemi dalam dirinya.
Bagi orang sudah berpelukan dengan kedamaian, bahkan benturan, intrik, dan taktik yang terjadi dalam perusahaan tidak pernah bisa merampas kebahagiaan yang telah berdiam dalam dirinya. Bahkan seluruh suasana gelap itu akan menjadi terang dalam sudut pandangnya, bahkan mencerahkan. Dia terampil mengelola suasana yang semberawut menjadi suasana yang rapi dan melahirkan aneka hikmah. Sikap dan perilakunya sering membawa cahaya, dan mengilhami orang lain untuk berbuat yang terbaik. Tindakan dan sikap hidupnya lebih bernas dampaknya ketimbang kata-katanya. Karena hatinya telah ditumbuhi sakinah, maka dalam kondisi apapun dia selalu berada dalam keadaan sakinah, tak pernah terusik sedikit pun. Bekerja pun menjadi aktivitas yang enjoy, karena bekerja dipandang menjadi instrumen untuk mendapatkan kebahagiaan, juga membagi kebahagiaan yang didambakan oleh setiap insan.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Senin, 15 Maret 2010
MENYIBAK CAHAYA BAHAGIA
Saya sempat bertemu dengan bapak yang sudah berumur, yang tengah didera persoalan yang amat kompleks. Istri dan anaknya sudah tidak lagi bisa dijadikan pandangan yang menyejukkan mata, tatapan tetangga dirasa sebagai ajakan permusuhan, perilaku orang-orang sekelilingnya terasa kurang bersahabat. Dia mempersepsi tak ada lagi tempat berteduh untuk mengungkapkan perasaan dan gelora kegundahan yang membungkamnya. Saat saya bertemu dengannya, saya berusaha menjadi pendengar dan teman bicara terbaik, mau berempati untuk mendengarkan seluruh keluh-kesah, dan kekecewaan yang sepertinya membetot seluruh perasaannya. Dia berusaha mengungkapkan permasalahan yang menghadang dan mendekap dirinya. “saya mendapatkan ujian yang besar dari Allah, keluarga tidak lagi punya perhatian dan welas asih padaku, semua orang seakan telah memusuhi diriku. Karenanya aku berusaha meninggalkan mereka sementara waktu untuk bisa menyadarkan mereka. Tetapi sayang, mereka tidak juga sadar, “katanya dengan wajah penuh kerisauan.
“setiap hari saya berusaha menjaga perasaan, saya tidak sebatas diremehkan oleh keluarga, tetapi tetangga pun kerap melemparkan pandangan kecut terhadap saya. Saya tidak pernah merasa berbuat salah pada mereka, saya tidak pernah mengambil hak mereka, atau saya mengemis pada mereka. Sama sekali tidak pernah, tetapi mengapa mereka memandang saya dengan sikap merendahkan,”lanjutnya dengan nada agak meninggi.
Selanjutnya dia melemparkan kesalahan ke banyak orang. Walau dia sendiri tidak lupa menyebutkan kebaikan pada pihak yang lain. Hanya saja ketika dia memadang buruk orang lain, dia mempreteli keburukan itu lebih telanjang. Ketika berbicara kebaikan orang lain, maka dia pun mengungkapkan seluruh kebaikan yang tiada terperihkan. Saya sendiri sedih, kalut mendengarkan sekian pembicaraan yang dilontarkan, memang banyak penuturannya yang masuk akal, hanya saja ketika dia terbelenggu dengan suasana seperti itu, dia tidak akan mengecap kebahagiaan hakiki dalam hidupnya.
Saya menuturkan padanya, kesalahan dan masalah tidak berada di luar diri kita. Kesalahan dan masalah yang kita nilai dan persepsi itu ada dalam hati kita sendiri. Betapa agung pribadi manusia ketika dia berusaha menyalahkan bahkan menertawakan diri sendiri, ketimbang menyudutkan dan menertawakan orang lain. Makanya ketika kita terus meracau menyalahkan orang lain, maka berhentilah sejenak, diam, dan merenung, apakah benar kesalahan yang dialamatkan pada orang lain benar-benar kesalahan, atau ternyata pikiran kita yang selalu memandang dari sudut pandang yang keliru dan salah. Padahal ketika orang terjebak untuk menyalahkan orang lain, dia telah memasokkan api dalam dirinya sendiri, lebih tepatnya menyalakan neraka di dalam dirinya sendiri.
“tidak ada orang yang tersakiti, kecuali dia mengizinkan dirinya untuk disakiti. Dan adanya masalah yang kita lihat pada orang lain, karena mata kita bermasalah. Ketika mata kita bermasalah, maka setiap sudut menampilkan layar masalah. Ketika kita berjalan dalam keadaan pincang, jangan buru-buru menyalahkan tanah yang dijadikan tempat berpijak sebagai tidak rata, tetapi sesungguhnya yang bermasalah adalah kaki kita sendiri. Dan andaikan ada orang buta berjalan di sebuah auditorium yang ditata berjejer di dalamnya kursi dan meja, kemudian si buta berjalan, dan membentur meja dan kursi yang tertata secara rapi, jangan buru menyalahkan bahwa meja dan kursi tidak ditata secara rapi dan diletakkan tempat benar, tetapi karena matanya buta, sehingga tak bisa melihat jalan yang harus dilewati. Masalah tidak berada di luar diri kita, tetapi tengah bercokol dalam hati kita sendiri,” kata saya tanpa beban.
“apa yang harus aku lakukan?” ujarnya meminta nasihat dariku.
“Ingatlah Pak, Allah itu Maha Pengasih dan Maha Lembut. Tidak ada kejadian dan peristiwa kecuali berada dalam kekuasaan Allah, kekuasaan-Nya terbungkus dalam keinginan- Nya yang suci, dan keinginanNya dibungkus dengan ilmuNya Yang Luhur, dan ilmu-Nya dibungkus dengan hikmah yang penuh kasih sayangNya yang tak terbatas. Ketika orang mampu menatap kasih sayang Allah dibalik kenyataan pahit yang dialami, niscaya dia akan selalu berusaha mendekat pada Allah yang menyediakan jalan keluar dari setiap masalah. Ketika keluarga sudah tidak lagi memberikan perhatian, tetangga tidak lagi memberikan energi positif dan senantiasa memandang apa yang kita lakukan keliru, maka sesungguhnya Allah membuka gerbang-Nya selebar-lebarnya agar kau kembali pada-Nya. Fafirruu Ilallah….! Berlari pada Allah SWT. Mengungsi pada-Nya. Mungkin kita pada mulanya melekat pada anak istri, pada harta yang dimiliki, bahkan pada kedudukan, tetapi tidak selama hiasan dunia itu menyertai kita. Setelah kematian menjemput, seluruh hiasan itu pun tanggal dari diri kita. Janganlah kita melekat semelekat-melekatnya pada selain Allah, karena niscaya kita akan dibuat menderita karenanya. Ada orang yang begitu mencintai anaknya, sehingga dia memberikan apa saja yang diinginkan, maka pada saat dewasa anak ini akan tumbuh sebagai orang yang membuat si ayah menderita, karena anak tidak tumbuh secara dewasa, karena sejak anak-anak dia selalu mendapatkan fasilitas dari sang ayah.” Kataku, sembari dia mendengarkan dengan begitu seksama.
“bagaimana bisa berlari pada Allah?”tanyanya
“Ketika orang berlari menuju pada Allah, maka dia bertobat. Menyesali segenap aktivitas dan kemelekatan pada makhluk yang menariknya lupa pada Allah SWT. Bertobat itu kuncinya pak, banyaklah membaca istighfar. Istighfar itulah yang banyak memberikan pencerahan ke dalam hati-hati yang gelap. Kalau kita sudah beristighfar, memohon ampun pada Allah, juga disertai keberanian memaafkan orang-orang yang dianggap bersalah pada kita. Bukankah dengan memaafkan, api kemarahan dan kejengkelan akan padam seketika? Juga membuang kotoran-kotoran busuk yang masih menempel dalam dinding hati kita. Mungkin ada kedengkian menjejali hati, keangkuhan yang mengeraskan jiwa, atau merasa berkuasa daripada orang lain, semua kotoran itu harus dihilangkan. Ketika hati sudah bisa dibersihkan, maka hati sudah siap memantulkan kebaikan semata. Hanya saja, membuang kotoran itu tidak bisa, sebelum program kotoran yang datang dari pikiran dihentikan. Bagaimana cara menghentikannya, ya harus menekuni uzlah, menyingkirkan diri sementara dari pergaulan sehari-hari. Menjauhi kebiasaan berbaur dengan sesama untuk sementara waktu, agar menghadap sepenuhnya pada Allah SWT. Uzlah dilakukan orang suci untuk membersihkan hati, Nabi Musa 40 hari berada di bukit Tursina, membersihkan hati sembari mendapatkan cahaya wahyu dari Allah SWT, Rasulullah Muhammad SAW lama bertahannuts di gua hira’ membersihkan hati, mempersiapkan diri mendapatkan wahyu dari Allah SWT. Tak ketinggalan para wali yang diperankan sebagai penyebar dan penguat agama melakukan uzlah selama bertahun-tahun. Semoga bapak nantinya bisa mendapatkan pencerahan dengan melakukan uzlah, dan menjadikan istighfar sebagai alat membersihkan kotoran yang masih mengerak dalam hati.”lanjutku.
Semoga nasihat sederhana dari orang dungu ini bisa mewariskan pencerahan ke hati sang Bapak, sehingga dia bisa bertemu dan bersua dengan kedamaian dimana saja, berikutnya dia bisa berjalan menjadi cahaya yang mencerahkan sesama. Diri yang juga masih dalam perjalanan menuju taman kebahagiaan ini ingin sekali membagi kebahagiaan dimana pun saja, agar orang bisa merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan tak sebatas dipikirkan, tetapi meresap dalam perasaan hatinya yang halus, lembut, merembes ke sumsum kesadarannya. Ketika orang telah merasakan kebahagiaan, niscaya dia tidak bisa menguraikan dengan kata-kata, walau mampu menguraikannya, pasti tidak bisa menggambarkan secara persis. Kiranya siapa yang bisa menggambarkan rasanya susu, persis dengan rasa yang dicecap, rasa tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Rata-rata orang merengkuh kebahagiaan puncak setelah menapaki penderitaan yang begitu menggetirkan.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
“setiap hari saya berusaha menjaga perasaan, saya tidak sebatas diremehkan oleh keluarga, tetapi tetangga pun kerap melemparkan pandangan kecut terhadap saya. Saya tidak pernah merasa berbuat salah pada mereka, saya tidak pernah mengambil hak mereka, atau saya mengemis pada mereka. Sama sekali tidak pernah, tetapi mengapa mereka memandang saya dengan sikap merendahkan,”lanjutnya dengan nada agak meninggi.
Selanjutnya dia melemparkan kesalahan ke banyak orang. Walau dia sendiri tidak lupa menyebutkan kebaikan pada pihak yang lain. Hanya saja ketika dia memadang buruk orang lain, dia mempreteli keburukan itu lebih telanjang. Ketika berbicara kebaikan orang lain, maka dia pun mengungkapkan seluruh kebaikan yang tiada terperihkan. Saya sendiri sedih, kalut mendengarkan sekian pembicaraan yang dilontarkan, memang banyak penuturannya yang masuk akal, hanya saja ketika dia terbelenggu dengan suasana seperti itu, dia tidak akan mengecap kebahagiaan hakiki dalam hidupnya.
Saya menuturkan padanya, kesalahan dan masalah tidak berada di luar diri kita. Kesalahan dan masalah yang kita nilai dan persepsi itu ada dalam hati kita sendiri. Betapa agung pribadi manusia ketika dia berusaha menyalahkan bahkan menertawakan diri sendiri, ketimbang menyudutkan dan menertawakan orang lain. Makanya ketika kita terus meracau menyalahkan orang lain, maka berhentilah sejenak, diam, dan merenung, apakah benar kesalahan yang dialamatkan pada orang lain benar-benar kesalahan, atau ternyata pikiran kita yang selalu memandang dari sudut pandang yang keliru dan salah. Padahal ketika orang terjebak untuk menyalahkan orang lain, dia telah memasokkan api dalam dirinya sendiri, lebih tepatnya menyalakan neraka di dalam dirinya sendiri.
“tidak ada orang yang tersakiti, kecuali dia mengizinkan dirinya untuk disakiti. Dan adanya masalah yang kita lihat pada orang lain, karena mata kita bermasalah. Ketika mata kita bermasalah, maka setiap sudut menampilkan layar masalah. Ketika kita berjalan dalam keadaan pincang, jangan buru-buru menyalahkan tanah yang dijadikan tempat berpijak sebagai tidak rata, tetapi sesungguhnya yang bermasalah adalah kaki kita sendiri. Dan andaikan ada orang buta berjalan di sebuah auditorium yang ditata berjejer di dalamnya kursi dan meja, kemudian si buta berjalan, dan membentur meja dan kursi yang tertata secara rapi, jangan buru menyalahkan bahwa meja dan kursi tidak ditata secara rapi dan diletakkan tempat benar, tetapi karena matanya buta, sehingga tak bisa melihat jalan yang harus dilewati. Masalah tidak berada di luar diri kita, tetapi tengah bercokol dalam hati kita sendiri,” kata saya tanpa beban.
“apa yang harus aku lakukan?” ujarnya meminta nasihat dariku.
“Ingatlah Pak, Allah itu Maha Pengasih dan Maha Lembut. Tidak ada kejadian dan peristiwa kecuali berada dalam kekuasaan Allah, kekuasaan-Nya terbungkus dalam keinginan- Nya yang suci, dan keinginanNya dibungkus dengan ilmuNya Yang Luhur, dan ilmu-Nya dibungkus dengan hikmah yang penuh kasih sayangNya yang tak terbatas. Ketika orang mampu menatap kasih sayang Allah dibalik kenyataan pahit yang dialami, niscaya dia akan selalu berusaha mendekat pada Allah yang menyediakan jalan keluar dari setiap masalah. Ketika keluarga sudah tidak lagi memberikan perhatian, tetangga tidak lagi memberikan energi positif dan senantiasa memandang apa yang kita lakukan keliru, maka sesungguhnya Allah membuka gerbang-Nya selebar-lebarnya agar kau kembali pada-Nya. Fafirruu Ilallah….! Berlari pada Allah SWT. Mengungsi pada-Nya. Mungkin kita pada mulanya melekat pada anak istri, pada harta yang dimiliki, bahkan pada kedudukan, tetapi tidak selama hiasan dunia itu menyertai kita. Setelah kematian menjemput, seluruh hiasan itu pun tanggal dari diri kita. Janganlah kita melekat semelekat-melekatnya pada selain Allah, karena niscaya kita akan dibuat menderita karenanya. Ada orang yang begitu mencintai anaknya, sehingga dia memberikan apa saja yang diinginkan, maka pada saat dewasa anak ini akan tumbuh sebagai orang yang membuat si ayah menderita, karena anak tidak tumbuh secara dewasa, karena sejak anak-anak dia selalu mendapatkan fasilitas dari sang ayah.” Kataku, sembari dia mendengarkan dengan begitu seksama.
“bagaimana bisa berlari pada Allah?”tanyanya
“Ketika orang berlari menuju pada Allah, maka dia bertobat. Menyesali segenap aktivitas dan kemelekatan pada makhluk yang menariknya lupa pada Allah SWT. Bertobat itu kuncinya pak, banyaklah membaca istighfar. Istighfar itulah yang banyak memberikan pencerahan ke dalam hati-hati yang gelap. Kalau kita sudah beristighfar, memohon ampun pada Allah, juga disertai keberanian memaafkan orang-orang yang dianggap bersalah pada kita. Bukankah dengan memaafkan, api kemarahan dan kejengkelan akan padam seketika? Juga membuang kotoran-kotoran busuk yang masih menempel dalam dinding hati kita. Mungkin ada kedengkian menjejali hati, keangkuhan yang mengeraskan jiwa, atau merasa berkuasa daripada orang lain, semua kotoran itu harus dihilangkan. Ketika hati sudah bisa dibersihkan, maka hati sudah siap memantulkan kebaikan semata. Hanya saja, membuang kotoran itu tidak bisa, sebelum program kotoran yang datang dari pikiran dihentikan. Bagaimana cara menghentikannya, ya harus menekuni uzlah, menyingkirkan diri sementara dari pergaulan sehari-hari. Menjauhi kebiasaan berbaur dengan sesama untuk sementara waktu, agar menghadap sepenuhnya pada Allah SWT. Uzlah dilakukan orang suci untuk membersihkan hati, Nabi Musa 40 hari berada di bukit Tursina, membersihkan hati sembari mendapatkan cahaya wahyu dari Allah SWT, Rasulullah Muhammad SAW lama bertahannuts di gua hira’ membersihkan hati, mempersiapkan diri mendapatkan wahyu dari Allah SWT. Tak ketinggalan para wali yang diperankan sebagai penyebar dan penguat agama melakukan uzlah selama bertahun-tahun. Semoga bapak nantinya bisa mendapatkan pencerahan dengan melakukan uzlah, dan menjadikan istighfar sebagai alat membersihkan kotoran yang masih mengerak dalam hati.”lanjutku.
Semoga nasihat sederhana dari orang dungu ini bisa mewariskan pencerahan ke hati sang Bapak, sehingga dia bisa bertemu dan bersua dengan kedamaian dimana saja, berikutnya dia bisa berjalan menjadi cahaya yang mencerahkan sesama. Diri yang juga masih dalam perjalanan menuju taman kebahagiaan ini ingin sekali membagi kebahagiaan dimana pun saja, agar orang bisa merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan tak sebatas dipikirkan, tetapi meresap dalam perasaan hatinya yang halus, lembut, merembes ke sumsum kesadarannya. Ketika orang telah merasakan kebahagiaan, niscaya dia tidak bisa menguraikan dengan kata-kata, walau mampu menguraikannya, pasti tidak bisa menggambarkan secara persis. Kiranya siapa yang bisa menggambarkan rasanya susu, persis dengan rasa yang dicecap, rasa tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Rata-rata orang merengkuh kebahagiaan puncak setelah menapaki penderitaan yang begitu menggetirkan.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
MENGULITI CAHAYA BAHAGIA
Saya sempat bertemu dengan bapak yang sudah berumur, yang tengah didera persoalan yang amat kompleks. Istri dan anaknya sudah tidak lagi bisa dijadikan pandangan yang menyejukkan mata, tatapan tetangga dirasa sebagai ajakan permusuhan, perilaku orang-orang sekelilingnya terasa kurang bersahabat. Dia mempersepsi tak ada lagi tempat berteduh untuk mengungkapkan perasaan dan gelora kegundahan yang membungkamnya. Saat saya bertemu dengannya, saya berusaha menjadi pendengar dan teman bicara terbaik, mau berempati untuk mendengarkan seluruh keluh-kesah, dan kekecewaan yang sepertinya membetot seluruh perasaannya. Dia berusaha mengungkapkan permasalahan yang menghadang dan mendekap dirinya. “saya mendapatkan ujian yang besar dari Allah, keluarga tidak lagi punya perhatian dan welas asih padaku, semua orang seakan telah memusuhi diriku. Karenanya aku berusaha meninggalkan mereka sementara waktu untuk bisa menyadarkan mereka. Tetapi sayang, mereka tidak juga sadar, “katanya dengan wajah penuh kerisauan.
“setiap hari saya berusaha menjaga perasaan, saya tidak sebatas diremehkan oleh keluarga, tetapi tetangga pun kerap melemparkan pandangan kecut terhadap saya. Saya tidak pernah merasa berbuat salah pada mereka, saya tidak pernah mengambil hak mereka, atau saya mengemis pada mereka. Sama sekali tidak pernah, tetapi mengapa mereka memandang saya dengan sikap merendahkan,”lanjutnya dengan nada agak meninggi.
Selanjutnya dia melemparkan kesalahan ke banyak orang. Walau dia sendiri tidak lupa menyebutkan kebaikan pada pihak yang lain. Hanya saja ketika dia memadang buruk orang lain, dia mempreteli keburukan itu lebih telanjang. Ketika berbicara kebaikan orang lain, maka dia pun mengungkapkan seluruh kebaikan yang tiada terperihkan. Saya sendiri sedih, kalut mendengarkan sekian pembicaraan yang dilontarkan, memang banyak penuturannya yang masuk akal, hanya saja ketika dia terbelenggu dengan suasana seperti itu, dia tidak akan mengecap kebahagiaan hakiki dalam hidupnya.
Saya menuturkan padanya, kesalahan dan masalah tidak berada di luar diri kita. Kesalahan dan masalah yang kita nilai dan persepsi itu ada dalam hati kita sendiri. Betapa agung pribadi manusia ketika dia berusaha menyalahkan bahkan menertawakan diri sendiri, ketimbang menyudutkan dan menertawakan orang lain. Makanya ketika kita terus meracau menyalahkan orang lain, maka berhentilah sejenak, diam, dan merenung, apakah benar kesalahan yang dialamatkan pada orang lain benar-benar kesalahan, atau ternyata pikiran kita yang selalu memandang dari sudut pandang yang keliru dan salah. Padahal ketika orang terjebak untuk menyalahkan orang lain, dia telah memasokkan api dalam dirinya sendiri, lebih tepatnya menyalakan neraka di dalam dirinya sendiri.
“tidak ada orang yang tersakiti, kecuali dia mengizinkan dirinya untuk disakiti. Dan adanya masalah yang kita lihat pada orang lain, karena mata kita bermasalah. Ketika mata kita bermasalah, maka setiap sudut menampilkan layar masalah. Ketika kita berjalan dalam keadaan pincang, jangan buru-buru menyalahkan tanah yang dijadikan tempat berpijak sebagai tidak rata, tetapi sesungguhnya yang bermasalah adalah kaki kita sendiri. Dan andaikan ada orang buta berjalan di sebuah auditorium yang ditata berjejer di dalamnya kursi dan meja, kemudian si buta berjalan, dan membentur meja dan kursi yang tertata secara rapi, jangan buru menyalahkan bahwa meja dan kursi tidak ditata secara rapi dan diletakkan tempat benar, tetapi karena matanya buta, sehingga tak bisa melihat jalan yang harus dilewati. Masalah tidak berada di luar diri kita, tetapi tengah bercokol dalam hati kita sendiri,” kata saya tanpa beban.
“apa yang harus aku lakukan?” ujarnya meminta nasihat dariku.
“Ingatlah Pak, Allah itu Maha Pengasih dan Maha Lembut. Tidak ada kejadian dan peristiwa kecuali berada dalam kekuasaan Allah, kekuasaan-Nya terbungkus dalam keinginan- Nya yang suci, dan keinginanNya dibungkus dengan ilmuNya Yang Luhur, dan ilmu-Nya dibungkus dengan hikmah yang penuh kasih sayangNya yang tak terbatas. Ketika orang mampu menatap kasih sayang Allah dibalik kenyataan pahit yang dialami, niscaya dia akan selalu berusaha mendekat pada Allah yang menyediakan jalan keluar dari setiap masalah. Ketika keluarga sudah tidak lagi memberikan perhatian, tetangga tidak lagi memberikan energi positif dan senantiasa memandang apa yang kita lakukan keliru, maka sesungguhnya Allah membuka gerbang-Nya selebar-lebarnya agar kau kembali pada-Nya. Fafirruu Ilallah….! Berlari pada Allah SWT. Mengungsi pada-Nya. Mungkin kita pada mulanya melekat pada anak istri, pada harta yang dimiliki, bahkan pada kedudukan, tetapi tidak selama hiasan dunia itu menyertai kita. Setelah kematian menjemput, seluruh hiasan itu pun tanggal dari diri kita. Janganlah kita melekat semelekat-melekatnya pada selain Allah, karena niscaya kita akan dibuat menderita karenanya. Ada orang yang begitu mencintai anaknya, sehingga dia memberikan apa saja yang diinginkan, maka pada saat dewasa anak ini akan tumbuh sebagai orang yang membuat si ayah menderita, karena anak tidak tumbuh secara dewasa, karena sejak anak-anak dia selalu mendapatkan fasilitas dari sang ayah.” Kataku, sembari dia mendengarkan dengan begitu seksama.
“bagaimana bisa berlari pada Allah?”tanyanya
“Ketika orang berlari menuju pada Allah, maka dia bertobat. Menyesali segenap aktivitas dan kemelekatan pada makhluk yang menariknya lupa pada Allah SWT. Bertobat itu kuncinya pak, banyaklah membaca istighfar. Istighfar itulah yang banyak memberikan pencerahan ke dalam hati-hati yang gelap. Kalau kita sudah beristighfar, memohon ampun pada Allah, juga disertai keberanian memaafkan orang-orang yang dianggap bersalah pada kita. Bukankah dengan memaafkan, api kemarahan dan kejengkelan akan padam seketika? Juga membuang kotoran-kotoran busuk yang masih menempel dalam dinding hati kita. Mungkin ada kedengkian menjejali hati, keangkuhan yang mengeraskan jiwa, atau merasa berkuasa daripada orang lain, semua kotoran itu harus dihilangkan. Ketika hati sudah bisa dibersihkan, maka hati sudah siap memantulkan kebaikan semata. Hanya saja, membuang kotoran itu tidak bisa, sebelum program kotoran yang datang dari pikiran dihentikan. Bagaimana cara menghentikannya, ya harus menekuni uzlah, menyingkirkan diri sementara dari pergaulan sehari-hari. Menjauhi kebiasaan berbaur dengan sesama untuk sementara waktu, agar menghadap sepenuhnya pada Allah SWT. Uzlah dilakukan orang suci untuk membersihkan hati, Nabi Musa 40 hari berada di bukit Tursina, membersihkan hati sembari mendapatkan cahaya wahyu dari Allah SWT, Rasulullah Muhammad SAW lama bertahannuts di gua hira’ membersihkan hati, mempersiapkan diri mendapatkan wahyu dari Allah SWT. Tak ketinggalan para wali yang diperankan sebagai penyebar dan penguat agama melakukan uzlah selama bertahun-tahun. Semoga bapak nantinya bisa mendapatkan pencerahan dengan melakukan uzlah, dan menjadikan istighfar sebagai alat membersihkan kotoran yang masih mengerak dalam hati.”lanjutku.
Semoga nasihat sederhana dari orang dungu ini bisa mewariskan pencerahan ke hati sang Bapak, sehingga dia bisa bertemu dan bersua dengan kedamaian dimana saja, berikutnya dia bisa berjalan menjadi cahaya yang mencerahkan sesama. Diri yang juga masih dalam perjalanan menuju taman kebahagiaan ini ingin sekali membagi kebahagiaan dimana pun saja, agar orang bisa merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan tak sebatas dipikirkan, tetapi meresap dalam perasaan hatinya yang halus, lembut, merembes ke sumsum kesadarannya. Ketika orang telah merasakan kebahagiaan, niscaya dia tidak bisa menguraikan dengan kata-kata, walau mampu menguraikannya, pasti tidak bisa menggambarkan secara persis. Kiranya siapa yang bisa menggambarkan rasanya susu, persis dengan rasa yang dicecap, rasa tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Rata-rata orang merengkuh kebahagiaan puncak setelah menapaki penderitaan yang begitu menggetirkan.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
“setiap hari saya berusaha menjaga perasaan, saya tidak sebatas diremehkan oleh keluarga, tetapi tetangga pun kerap melemparkan pandangan kecut terhadap saya. Saya tidak pernah merasa berbuat salah pada mereka, saya tidak pernah mengambil hak mereka, atau saya mengemis pada mereka. Sama sekali tidak pernah, tetapi mengapa mereka memandang saya dengan sikap merendahkan,”lanjutnya dengan nada agak meninggi.
Selanjutnya dia melemparkan kesalahan ke banyak orang. Walau dia sendiri tidak lupa menyebutkan kebaikan pada pihak yang lain. Hanya saja ketika dia memadang buruk orang lain, dia mempreteli keburukan itu lebih telanjang. Ketika berbicara kebaikan orang lain, maka dia pun mengungkapkan seluruh kebaikan yang tiada terperihkan. Saya sendiri sedih, kalut mendengarkan sekian pembicaraan yang dilontarkan, memang banyak penuturannya yang masuk akal, hanya saja ketika dia terbelenggu dengan suasana seperti itu, dia tidak akan mengecap kebahagiaan hakiki dalam hidupnya.
Saya menuturkan padanya, kesalahan dan masalah tidak berada di luar diri kita. Kesalahan dan masalah yang kita nilai dan persepsi itu ada dalam hati kita sendiri. Betapa agung pribadi manusia ketika dia berusaha menyalahkan bahkan menertawakan diri sendiri, ketimbang menyudutkan dan menertawakan orang lain. Makanya ketika kita terus meracau menyalahkan orang lain, maka berhentilah sejenak, diam, dan merenung, apakah benar kesalahan yang dialamatkan pada orang lain benar-benar kesalahan, atau ternyata pikiran kita yang selalu memandang dari sudut pandang yang keliru dan salah. Padahal ketika orang terjebak untuk menyalahkan orang lain, dia telah memasokkan api dalam dirinya sendiri, lebih tepatnya menyalakan neraka di dalam dirinya sendiri.
“tidak ada orang yang tersakiti, kecuali dia mengizinkan dirinya untuk disakiti. Dan adanya masalah yang kita lihat pada orang lain, karena mata kita bermasalah. Ketika mata kita bermasalah, maka setiap sudut menampilkan layar masalah. Ketika kita berjalan dalam keadaan pincang, jangan buru-buru menyalahkan tanah yang dijadikan tempat berpijak sebagai tidak rata, tetapi sesungguhnya yang bermasalah adalah kaki kita sendiri. Dan andaikan ada orang buta berjalan di sebuah auditorium yang ditata berjejer di dalamnya kursi dan meja, kemudian si buta berjalan, dan membentur meja dan kursi yang tertata secara rapi, jangan buru menyalahkan bahwa meja dan kursi tidak ditata secara rapi dan diletakkan tempat benar, tetapi karena matanya buta, sehingga tak bisa melihat jalan yang harus dilewati. Masalah tidak berada di luar diri kita, tetapi tengah bercokol dalam hati kita sendiri,” kata saya tanpa beban.
“apa yang harus aku lakukan?” ujarnya meminta nasihat dariku.
“Ingatlah Pak, Allah itu Maha Pengasih dan Maha Lembut. Tidak ada kejadian dan peristiwa kecuali berada dalam kekuasaan Allah, kekuasaan-Nya terbungkus dalam keinginan- Nya yang suci, dan keinginanNya dibungkus dengan ilmuNya Yang Luhur, dan ilmu-Nya dibungkus dengan hikmah yang penuh kasih sayangNya yang tak terbatas. Ketika orang mampu menatap kasih sayang Allah dibalik kenyataan pahit yang dialami, niscaya dia akan selalu berusaha mendekat pada Allah yang menyediakan jalan keluar dari setiap masalah. Ketika keluarga sudah tidak lagi memberikan perhatian, tetangga tidak lagi memberikan energi positif dan senantiasa memandang apa yang kita lakukan keliru, maka sesungguhnya Allah membuka gerbang-Nya selebar-lebarnya agar kau kembali pada-Nya. Fafirruu Ilallah….! Berlari pada Allah SWT. Mengungsi pada-Nya. Mungkin kita pada mulanya melekat pada anak istri, pada harta yang dimiliki, bahkan pada kedudukan, tetapi tidak selama hiasan dunia itu menyertai kita. Setelah kematian menjemput, seluruh hiasan itu pun tanggal dari diri kita. Janganlah kita melekat semelekat-melekatnya pada selain Allah, karena niscaya kita akan dibuat menderita karenanya. Ada orang yang begitu mencintai anaknya, sehingga dia memberikan apa saja yang diinginkan, maka pada saat dewasa anak ini akan tumbuh sebagai orang yang membuat si ayah menderita, karena anak tidak tumbuh secara dewasa, karena sejak anak-anak dia selalu mendapatkan fasilitas dari sang ayah.” Kataku, sembari dia mendengarkan dengan begitu seksama.
“bagaimana bisa berlari pada Allah?”tanyanya
“Ketika orang berlari menuju pada Allah, maka dia bertobat. Menyesali segenap aktivitas dan kemelekatan pada makhluk yang menariknya lupa pada Allah SWT. Bertobat itu kuncinya pak, banyaklah membaca istighfar. Istighfar itulah yang banyak memberikan pencerahan ke dalam hati-hati yang gelap. Kalau kita sudah beristighfar, memohon ampun pada Allah, juga disertai keberanian memaafkan orang-orang yang dianggap bersalah pada kita. Bukankah dengan memaafkan, api kemarahan dan kejengkelan akan padam seketika? Juga membuang kotoran-kotoran busuk yang masih menempel dalam dinding hati kita. Mungkin ada kedengkian menjejali hati, keangkuhan yang mengeraskan jiwa, atau merasa berkuasa daripada orang lain, semua kotoran itu harus dihilangkan. Ketika hati sudah bisa dibersihkan, maka hati sudah siap memantulkan kebaikan semata. Hanya saja, membuang kotoran itu tidak bisa, sebelum program kotoran yang datang dari pikiran dihentikan. Bagaimana cara menghentikannya, ya harus menekuni uzlah, menyingkirkan diri sementara dari pergaulan sehari-hari. Menjauhi kebiasaan berbaur dengan sesama untuk sementara waktu, agar menghadap sepenuhnya pada Allah SWT. Uzlah dilakukan orang suci untuk membersihkan hati, Nabi Musa 40 hari berada di bukit Tursina, membersihkan hati sembari mendapatkan cahaya wahyu dari Allah SWT, Rasulullah Muhammad SAW lama bertahannuts di gua hira’ membersihkan hati, mempersiapkan diri mendapatkan wahyu dari Allah SWT. Tak ketinggalan para wali yang diperankan sebagai penyebar dan penguat agama melakukan uzlah selama bertahun-tahun. Semoga bapak nantinya bisa mendapatkan pencerahan dengan melakukan uzlah, dan menjadikan istighfar sebagai alat membersihkan kotoran yang masih mengerak dalam hati.”lanjutku.
Semoga nasihat sederhana dari orang dungu ini bisa mewariskan pencerahan ke hati sang Bapak, sehingga dia bisa bertemu dan bersua dengan kedamaian dimana saja, berikutnya dia bisa berjalan menjadi cahaya yang mencerahkan sesama. Diri yang juga masih dalam perjalanan menuju taman kebahagiaan ini ingin sekali membagi kebahagiaan dimana pun saja, agar orang bisa merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan tak sebatas dipikirkan, tetapi meresap dalam perasaan hatinya yang halus, lembut, merembes ke sumsum kesadarannya. Ketika orang telah merasakan kebahagiaan, niscaya dia tidak bisa menguraikan dengan kata-kata, walau mampu menguraikannya, pasti tidak bisa menggambarkan secara persis. Kiranya siapa yang bisa menggambarkan rasanya susu, persis dengan rasa yang dicecap, rasa tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Rata-rata orang merengkuh kebahagiaan puncak setelah menapaki penderitaan yang begitu menggetirkan.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
RASUL, KEMANA AKU BERTEDUH
tiga minggu kemarin, saya pulang memenuhi permintaan Ibunda tercinta yang sudah lama didera kerinduan. Saya pulang berbarengan dengan momen yang ditunggu orang madura, momen Maulidur Rasul. Kelahiran Rasulullah Muhammad SAW mendapatkan sambutan yang begitu meriah di sekitar kampung saya, mungkin juga berlaku di setiap lapisan pelosok di Madura. Semarak kemariahan Maulid tidak hanya bergema di Mushalla, Masjid tetapi berdentum dari rumah ke rumah. Nyanyian shalawat sebagai pantulan kerinduan pada Rasulullah berembus dari rumah-rumah secara bergantian. Saya pulang tepat hari Senin, saya diundang ikut maulid di rumah sepupu. Malam berikutnya di rumah saya sendiri, dan malam berikutnya diselenggarakan di rumah tetangga. Saya begitu bahagia melihat kebiasaan kampung saya yang mempersembahkan cinta pada Rasulullah SAW dengan menyelenggarakan Maulidnya.
Saat menghadiri acara maulid di rumah sepupu, saya mendapatkan uraian hikmah yang menggugah hati dari guru agama saya pada saat berada di bangku MTS An-Najah. Namanya KH. Khozin. Beliau membeberkan dengan renyah dan menggunakan bahasa yang gampang ditangkap pendengar (mustami’in). Beliau mengutarakan tentang adanya hadis dari Rasulullah SAW, kendati diakui dhaif,”Barangsiapa yang mengagungkan kelahirkanku, maka dia mendapatkan syafaat pada hari kiamat,” selain itu beliau juga membabarkan perkataan Imam Jalaluddin As-Sayuti “Barangsiapa yang membacakan shalawat maulid di rumah, maka penghuninya akan dihindarkan dari kefakiran.”
Saya melihat raut wajah orang yang hadir di dalam majelis penuh keberkahan itu, rata-rata memancarkan kebahagiaan yang tak terkira. Kendati banyak diantara mereka tidak mengerti landasan syariat Maulid, baru begitu bahagia bisa menyelenggarakan kelahiran Rasul yang Agung. Kendati mereka hidup dalam keadaan sederhana, mereka masih berani menyelenggarakan Maulid Rasul, hanya sebagai bentuk ekspresi kecintaan pada Rasulullah SAW.
Dengan momen tersebut, saya tidak hanya sekadar bisa bertemu ibunda dan ayah yang begitu saya cintai, saya merasakan keguyupan bersama masyarakat kampung, yang kadang jarang saya nikmati. Disana saya bisa bertemu guru yang mengantarkan pendidikanku di MI hingga MTS. Saya bisa mencium tangan mereka. Sikap mereka masih tetap sama, menganggap diriku sebagai murid, dan saya pun mengekspresikan keta’dziman padanya. Merekalah cermin-cermin sosok Rasulullah SAW yang hidupnya dipersembahkan di jalan Allah dengan cara mengajarkan agama melalui sekolah, juga membuka mushalla untuk mengajari anak-anak kampung ngaji al-Qur’an.
***
Menilik begitu meriahnya peringatan Maulid Rasulullah SAW, saya merasa mendapatkan wawasan ruhani, betapa banyak cara orang mengekspresikan kecintaan pada Rasulullah SAW. Kemudian bagaimana kalau kita tidak punya cinta pada Rasulullah SAW, padahal seluruh ibadah yang kita tegakkan belum tentu bisa menjamin kita masuk surga, karena betapa banyaknya cecat dari persembahan ibadah yang kita lakukan.
Dengan hanya bermodalkan cinta pada Rasulullah SAW, kita akan bersama dengan beliau. Keyakinan ini terekam dari perbincangan beliau dengan Arab Baduwi yang disaksikan oleh sahabat Rasul yang Agung. Menurut sebuah riwayat, ketika Rasulullah hendak shalat maghrib, sekonyong-konyong orang Arab Baduwi bertanya pada Rasul Yang Luhur, “kapan kiamat?” tetapi karena hendak sholat, Rasulullah mempersilahkan dia untuk shalat terlebih dahulu. Selepas shalat Rasulullah memanggilnya, “Kamu bertanya kapan hari kiamat, apa yang telah engkau persiapkan untuk menyambutnya?” kata Rasulullah SAW. “Saya tidak mempersiapkan hal tersebut dengan banyak shalat, puasa, dan sedakah, tetapi saya mencintai Allah dan Rasulnya,”kata Arab Baduwi. “Seseorang akan dikumpulkan dengan orang yang dicintai.”seru Rasulullah Muhammad SAW dengan penuh gairah.
Pernyataan Rasulullah SAW itu mendapatkan tanggapan yang begitu antusias dan bergairah dari para sahabat. Hanya dengan bermodalkan cinta, orang bisa bersama dengan orang yang dicintai. Rasulullah Muhammad SAW sendiri berada di maqam yang tertinggi di surga, kita harus mengungkapkan terima kasih karena perlahan-lahan kita diajarkan oleh ulama dan orang tua agar mencintai Allah dan Rasul-Nya. Ketika cinta pada Allah dan Rasul-Nya telah terbenam di dalam hati manusia, maka nantinya akan berbuahkan akhlak yang luhur dan agung.
Ketika cinta sudah meresap ke dalam hati insan, niscaya dia akan selalu mengingat yang dicintai. Kalau kita mengaku mencintai Rasulullah Muhammad SAW, maka kita harus memperbanyak membaca shalawat padanya dengan hati yang diluapi rasa cinta. Siapa yang banyak membaca shalawat untuk baginda Rasulullah SAW, niscaya dia akan menjadi orang yang dekat pada Rasulullah Muhammad SAW saat hari kiamat. Selaras dengan sabda beliau yang saya petik dari Jamius Shaghir, “sesungguhnya seutama-utama manusia kedudukan di sisiku pada hari kiamat adalah orang yang banyak membaca shalawat.” Saatnya kita membaca shalawat pada beliau, dengan semangat cinta, dan menghayati shalawat seperti kita bersua dan berjumpa dengan beliau SAW. Semoga nanti di hari kiamat kita dipayungi oleh syafaat Rasulullah Muhammad Saw. Lebih daripada itu, sebelum bisa memandang Allah, semoga kita diizinkan untuk memandangi wajah Rasulullah SAW yang amat mempesona.
Ya Allah, demi Rasulmu Muhammad SAW, turunkan pada hamba yang begitu hina ini rasa cinta pada Rasulullah Muhammad SAW, kendati diri ini hina, sebuah kenikmatan yang begitu besar jika Engkau pernankan mencintai sosok yang begitu agung dan luhur di hadapanmu, sebagaimana engkau telah menggelarkan pujian pada beliau, “sesungguhnya engkau benar-benar berbusanakan akhlak yang agung.”
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Saat menghadiri acara maulid di rumah sepupu, saya mendapatkan uraian hikmah yang menggugah hati dari guru agama saya pada saat berada di bangku MTS An-Najah. Namanya KH. Khozin. Beliau membeberkan dengan renyah dan menggunakan bahasa yang gampang ditangkap pendengar (mustami’in). Beliau mengutarakan tentang adanya hadis dari Rasulullah SAW, kendati diakui dhaif,”Barangsiapa yang mengagungkan kelahirkanku, maka dia mendapatkan syafaat pada hari kiamat,” selain itu beliau juga membabarkan perkataan Imam Jalaluddin As-Sayuti “Barangsiapa yang membacakan shalawat maulid di rumah, maka penghuninya akan dihindarkan dari kefakiran.”
Saya melihat raut wajah orang yang hadir di dalam majelis penuh keberkahan itu, rata-rata memancarkan kebahagiaan yang tak terkira. Kendati banyak diantara mereka tidak mengerti landasan syariat Maulid, baru begitu bahagia bisa menyelenggarakan kelahiran Rasul yang Agung. Kendati mereka hidup dalam keadaan sederhana, mereka masih berani menyelenggarakan Maulid Rasul, hanya sebagai bentuk ekspresi kecintaan pada Rasulullah SAW.
Dengan momen tersebut, saya tidak hanya sekadar bisa bertemu ibunda dan ayah yang begitu saya cintai, saya merasakan keguyupan bersama masyarakat kampung, yang kadang jarang saya nikmati. Disana saya bisa bertemu guru yang mengantarkan pendidikanku di MI hingga MTS. Saya bisa mencium tangan mereka. Sikap mereka masih tetap sama, menganggap diriku sebagai murid, dan saya pun mengekspresikan keta’dziman padanya. Merekalah cermin-cermin sosok Rasulullah SAW yang hidupnya dipersembahkan di jalan Allah dengan cara mengajarkan agama melalui sekolah, juga membuka mushalla untuk mengajari anak-anak kampung ngaji al-Qur’an.
***
Menilik begitu meriahnya peringatan Maulid Rasulullah SAW, saya merasa mendapatkan wawasan ruhani, betapa banyak cara orang mengekspresikan kecintaan pada Rasulullah SAW. Kemudian bagaimana kalau kita tidak punya cinta pada Rasulullah SAW, padahal seluruh ibadah yang kita tegakkan belum tentu bisa menjamin kita masuk surga, karena betapa banyaknya cecat dari persembahan ibadah yang kita lakukan.
Dengan hanya bermodalkan cinta pada Rasulullah SAW, kita akan bersama dengan beliau. Keyakinan ini terekam dari perbincangan beliau dengan Arab Baduwi yang disaksikan oleh sahabat Rasul yang Agung. Menurut sebuah riwayat, ketika Rasulullah hendak shalat maghrib, sekonyong-konyong orang Arab Baduwi bertanya pada Rasul Yang Luhur, “kapan kiamat?” tetapi karena hendak sholat, Rasulullah mempersilahkan dia untuk shalat terlebih dahulu. Selepas shalat Rasulullah memanggilnya, “Kamu bertanya kapan hari kiamat, apa yang telah engkau persiapkan untuk menyambutnya?” kata Rasulullah SAW. “Saya tidak mempersiapkan hal tersebut dengan banyak shalat, puasa, dan sedakah, tetapi saya mencintai Allah dan Rasulnya,”kata Arab Baduwi. “Seseorang akan dikumpulkan dengan orang yang dicintai.”seru Rasulullah Muhammad SAW dengan penuh gairah.
Pernyataan Rasulullah SAW itu mendapatkan tanggapan yang begitu antusias dan bergairah dari para sahabat. Hanya dengan bermodalkan cinta, orang bisa bersama dengan orang yang dicintai. Rasulullah Muhammad SAW sendiri berada di maqam yang tertinggi di surga, kita harus mengungkapkan terima kasih karena perlahan-lahan kita diajarkan oleh ulama dan orang tua agar mencintai Allah dan Rasul-Nya. Ketika cinta pada Allah dan Rasul-Nya telah terbenam di dalam hati manusia, maka nantinya akan berbuahkan akhlak yang luhur dan agung.
Ketika cinta sudah meresap ke dalam hati insan, niscaya dia akan selalu mengingat yang dicintai. Kalau kita mengaku mencintai Rasulullah Muhammad SAW, maka kita harus memperbanyak membaca shalawat padanya dengan hati yang diluapi rasa cinta. Siapa yang banyak membaca shalawat untuk baginda Rasulullah SAW, niscaya dia akan menjadi orang yang dekat pada Rasulullah Muhammad SAW saat hari kiamat. Selaras dengan sabda beliau yang saya petik dari Jamius Shaghir, “sesungguhnya seutama-utama manusia kedudukan di sisiku pada hari kiamat adalah orang yang banyak membaca shalawat.” Saatnya kita membaca shalawat pada beliau, dengan semangat cinta, dan menghayati shalawat seperti kita bersua dan berjumpa dengan beliau SAW. Semoga nanti di hari kiamat kita dipayungi oleh syafaat Rasulullah Muhammad Saw. Lebih daripada itu, sebelum bisa memandang Allah, semoga kita diizinkan untuk memandangi wajah Rasulullah SAW yang amat mempesona.
Ya Allah, demi Rasulmu Muhammad SAW, turunkan pada hamba yang begitu hina ini rasa cinta pada Rasulullah Muhammad SAW, kendati diri ini hina, sebuah kenikmatan yang begitu besar jika Engkau pernankan mencintai sosok yang begitu agung dan luhur di hadapanmu, sebagaimana engkau telah menggelarkan pujian pada beliau, “sesungguhnya engkau benar-benar berbusanakan akhlak yang agung.”
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Selasa, 09 Februari 2010
RAKYAT MEMBUNUH PEMIMPIN
Saya amat sedih setelah meng-update berita dari radio Elshinta, hari selasa, 3 Februari 2009. Diberitakan soal peristiwa gaduh dan demo bernuansa kekerasan yang dilakukan oleh sebagian massa di kantor DPRD Sumatera Utara. Massa merangsek ke ruang gedung diadakannya sidang paripurna, dan polisi pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk menahan dan menghalangi bergeraknya ratusan massa tersebut. Dalam hitungan berapa menit saja, massa bisa mengepung dan menguasai kantor DPRD, dan menduduki tempat pelaksanaan sidang paripurna. Tak ayal, anggota DPRD yang tengah mengadakan rapat, menghentikan terlebih dahulu rapatnya. Massa pun sontak mengepung seluruh anggota DPRD Sumatera Utara yang tengah mengadakan rapat bersama instansi pemerintahan propinsi Sumatera Utara. Demo amat brutal itu berakhir dengan kematian ketua DPRD Sumatera Utara, Abdullah H. Supangkat.
Kejadian tersebut menjadi potret gelap dari demokrasi yang berkembang saat ini. Apakah demokrasi benar-benar bisa membangun rakyat yang makin elegan, berakhlak baik, atau ternyata membuat rakyat makin jauh dari semangat menghargai pemimpin? Benarkah demokrasi itu menyuarakan hati nurani rakyat, atau sebatas mengejawantahkan kepentingan pribadi tokoh politik? Apakah demokrasi itu telah berhasil membangun sebuah kepemimpinan yang kharismatik, atau kepemimpinan sebatas dalam tataran simbol, dan tidak mengakar di hati rakyat? Banyak pertanyaan berkembang lewat tragedi 3 Februari 2009 tersebut. Perlulah kiranya, kita mengevaluasi perjalanan pola demokrasi yang berkembang di Indonesia. Andaikan ditanya dari sekian massa yang bergabung untuk menduduki kantor DPRD Sumatera Utara, kiranya berapa personal yang mengerti dengan seksama pokok permasalahan yang berkembang di Sumatera Utara? Dan berapa yang sebatas ikut-ikutan dan menyertai keramaian demonstrasi tersebut? Apakah mungkin dalam demo tersebut benar-benar datang dari kehendak rakyat secara umum, atau hanya kepentingan politik segelintir orang semata?
Andaikan kejadian itu berawal dari ulah satu orang sebagai otak intelektual, berarti gerakan tersebut tidak berkembang di ranah demokrasi? Harusnya demokrasi berasal dari rakyat, tetapi mengapa inisiatif tersebut hanya datang dari segelintir orang saja? Kalau begitu, demokrasi hanya cocok untuk kalangan orang yang berpengetahuan, berwawasan luas, dan memang cerdas tentang politik. Namun, kenyataannya masih banyak rakyat kita belum memahami soal platform politik pimpinan negara saat ini. Banyak masyarakat masih bodoh soal politik, dan sangat memprihatinkan ketika kebodohan rakyat itu dijadikan alat untuk memenuhi syahwat politik segelintir orang. Memang hanya orang-orang pintar yang bisa memperdaya dan membodohi orang bodoh. Ketika gencar-gencarnya pemilahan legislatif, betapa banyak calon legislatif yang mendekat pada rakyat. Mereka hanya sebatas ingin mendapatkan suara, dan kedudukan yang didambakan bisa diraih dengan ampuh. Memang hanya dengan dukungan rakyat, mereka dipilih. Tetapi apakah rakyat yang memilih itu, memilih dengan disertai kesadaran politik, atau tanpa sadar sedikit pun. Ya, hanya dengan mendapatkan cipratan uang, mereka mau-mau saja memilih calon wakil rakyat, yang nantinya bahkan dia bakal mengeruk lebih banyak dari uang yang ditaburkan untuk rakyat. Korupsi sebagai akibat dari obsesi keliru yang menguasai hati wakil rakyat. Apakah itu menandakan bahwa yang bersalah adalah rakyat yang telah memilih pemimpinnya? Jangan gampang menyalahkan rakyat. Orang yang melakukan sesuatu tanpa dilandasi kesadaran dan pengetahuan tidak boleh disebut salah. Hanya karena dibujuk oleh para pelaku politik itulah, rakyat pun ikut memilih, walau pun ia tidak pernah sadar apa efek yang bakal diterima setelah memilih tokoh politik tersebut.
Pun demikian peristiwa yang terjadi di Sumatera Utara. Massa dari akar rumput jangan dipersalahkan, karena mereka hanya mereaksi provokasi panas yang dilemparkan oleh para otak intelektual kejadian tersebut. Orang pintar memiliki seribu alasan untuk bisa meyakinkan rakyat. Dan ingatlah rakyat selalu dijadikan alat dan berada dalam posisi dirugikan dalam hal apapun. Saya belum bisa memahami, apakah demokrasi yang berkembang saat ini memang untuk rakyat atau hanya untuk kepentingan politisi dan pelaku ekonomi yang berada di tataran previlage? Wallahu a’alam bish showaab.
Kejadian tersebut menjadi potret gelap dari demokrasi yang berkembang saat ini. Apakah demokrasi benar-benar bisa membangun rakyat yang makin elegan, berakhlak baik, atau ternyata membuat rakyat makin jauh dari semangat menghargai pemimpin? Benarkah demokrasi itu menyuarakan hati nurani rakyat, atau sebatas mengejawantahkan kepentingan pribadi tokoh politik? Apakah demokrasi itu telah berhasil membangun sebuah kepemimpinan yang kharismatik, atau kepemimpinan sebatas dalam tataran simbol, dan tidak mengakar di hati rakyat? Banyak pertanyaan berkembang lewat tragedi 3 Februari 2009 tersebut. Perlulah kiranya, kita mengevaluasi perjalanan pola demokrasi yang berkembang di Indonesia. Andaikan ditanya dari sekian massa yang bergabung untuk menduduki kantor DPRD Sumatera Utara, kiranya berapa personal yang mengerti dengan seksama pokok permasalahan yang berkembang di Sumatera Utara? Dan berapa yang sebatas ikut-ikutan dan menyertai keramaian demonstrasi tersebut? Apakah mungkin dalam demo tersebut benar-benar datang dari kehendak rakyat secara umum, atau hanya kepentingan politik segelintir orang semata?
Andaikan kejadian itu berawal dari ulah satu orang sebagai otak intelektual, berarti gerakan tersebut tidak berkembang di ranah demokrasi? Harusnya demokrasi berasal dari rakyat, tetapi mengapa inisiatif tersebut hanya datang dari segelintir orang saja? Kalau begitu, demokrasi hanya cocok untuk kalangan orang yang berpengetahuan, berwawasan luas, dan memang cerdas tentang politik. Namun, kenyataannya masih banyak rakyat kita belum memahami soal platform politik pimpinan negara saat ini. Banyak masyarakat masih bodoh soal politik, dan sangat memprihatinkan ketika kebodohan rakyat itu dijadikan alat untuk memenuhi syahwat politik segelintir orang. Memang hanya orang-orang pintar yang bisa memperdaya dan membodohi orang bodoh. Ketika gencar-gencarnya pemilahan legislatif, betapa banyak calon legislatif yang mendekat pada rakyat. Mereka hanya sebatas ingin mendapatkan suara, dan kedudukan yang didambakan bisa diraih dengan ampuh. Memang hanya dengan dukungan rakyat, mereka dipilih. Tetapi apakah rakyat yang memilih itu, memilih dengan disertai kesadaran politik, atau tanpa sadar sedikit pun. Ya, hanya dengan mendapatkan cipratan uang, mereka mau-mau saja memilih calon wakil rakyat, yang nantinya bahkan dia bakal mengeruk lebih banyak dari uang yang ditaburkan untuk rakyat. Korupsi sebagai akibat dari obsesi keliru yang menguasai hati wakil rakyat. Apakah itu menandakan bahwa yang bersalah adalah rakyat yang telah memilih pemimpinnya? Jangan gampang menyalahkan rakyat. Orang yang melakukan sesuatu tanpa dilandasi kesadaran dan pengetahuan tidak boleh disebut salah. Hanya karena dibujuk oleh para pelaku politik itulah, rakyat pun ikut memilih, walau pun ia tidak pernah sadar apa efek yang bakal diterima setelah memilih tokoh politik tersebut.
Pun demikian peristiwa yang terjadi di Sumatera Utara. Massa dari akar rumput jangan dipersalahkan, karena mereka hanya mereaksi provokasi panas yang dilemparkan oleh para otak intelektual kejadian tersebut. Orang pintar memiliki seribu alasan untuk bisa meyakinkan rakyat. Dan ingatlah rakyat selalu dijadikan alat dan berada dalam posisi dirugikan dalam hal apapun. Saya belum bisa memahami, apakah demokrasi yang berkembang saat ini memang untuk rakyat atau hanya untuk kepentingan politisi dan pelaku ekonomi yang berada di tataran previlage? Wallahu a’alam bish showaab.
Rabu, 03 Februari 2010
ISTIGAMAH DALAM KEBAHAGIAAN
Suatu pagi yang cerah, di hari Jumat Agung, dimana mentari pagi tengah mengumbar senyumnya dari ufuk timur, kami bersama teman-teman baru menyelesaikan wirid pagi petang. Sebelum shalat isyraq, guru yang mulia hendak pergi RSAL (Rumah Sakit Angkatan Laut), menjenguk guru yang wajahnya terus bersinar (tanawwirul wajh), KH. Mas Yusuf Muhajir. Sejak dua hari sebelumnya, setelah mendengar beliau sakit, saya sudah terpikirkan untuk membesuk beliau di rumah sakit. Ada kerinduan yang membuncah pada beliau. Seakan wajahnya yang tergelar bahagia terbayang di kelopak mata ini.
Saya sudah janjian sama teman-teman jamaah membesuk pada hari sabtu, tetapi diundur jadi hari Minggu. Beliau memiliki kemiripan cara pandang dengan guru yang mulia. Kalau guru yang mulia kerap memberikan pencerahan dalam bentuk filsafat-filsafat agama yang mendalam dan menyentuh, sementara KH. Mas Yusuf Muhajir mengungkapkan keterangan lewat cerita-cerita renyah, bahkan gurauan-gurauan penuh hikmah. Pandangan beliau berdua sama, hanya cara mengekspresikan yang berbeda. Diakui guru yang mulia, beliau berdua memiliki cara pandang yang sebangun.
Saking membuncahnya kerinduan pada KH. Mas Yusuf, di malam harinya saya sempat bermimpi beliau tengah menggelar pengajian. Beliau menyapa saya dengan senyum indah, tulus, dan begitu akrab, tetapi tetap berwibawa. Saya makin yakin, bisa membesuk beliau di hari jumaat tersebut. Alhamdulillah, dengan izin guru yang mulia, saya pun membesuk beliau. Lebih dahulu guru yang mulia berangkat dari griya, saya menyusul bersama mas Misbach dengan menggunakan kendaraan sendiri. Kami berdua lebih dahulu sampai ke RSAL, kami mencari-cari ruang Paviliun III belum ketemu, hanya Paviliun II dan I.
“Ah mungkin Paviliun III itu ruang yang paling istimewa mas, jadi agak sulit nyarinya,”kataku, guyon pada mas Misbach.
“ini Paviliun II dan I, pasti juga di wilayah sini,”katanya. Sekejap kemudian saya melihat KH. Mas Yusuf duduk sendirian di beranda rumah sakit sambil menelepon. Hatiku bergetar, merasa bahagia melihat beliau nampak bugar, raut wajah kebahagiaan masih tetap menyelimuti wajahnya. Saya pun langsung menuju ke tempat beliau, sungkem. Seolah ada getaran kehangatan yang menyusup ke dalam hati ini bisa bertemu beliau.
“Assalamu’alaikum,” kami berdua manyapa beliau
“Wa’alaikum salam,”sambut beliau
“Bagaimana kyai, apa sudah semakin sehat,”muncul saja dari lisan yang kotor ini.
“Alhamdulillah, sudah ada kemajuan,”kata beliau, sambil menelepon.
Saya masih tercekat, sambil menyimak perbincangan beliau. Beliau menyanggupi orang yang akan menggantikan beliau untuk menyampaikan ceramah di teman-teman Hizbut Tahrir.
“Saya lama sekali diminta oleh kawan-kawan Hizbut Tahrir untuk mengisi ceramah setiap tiga bulan sekali, tetapi saya hanya menyanggupi satu tahun sekali. Maka terjadilah ngenyang-ngenyan (tawar-menawar), akhirnya saya sanggup satu tahun 2 kali,”ujar beliau dengan wajah yang terlihat sumbringah.
“Sejak kapan kyai Mas sakit?”tanya Mas Misbach penuh empatik.
“sejak seminggu yang lalu, tetapi saya tidak memberitahukan ke banyak orang, kecuali pada beberapa orang termasuk ustadz Qushwandhi,”katanya “Saya ini tidak merasa sakit, hanya melihat dari obat yang saya konsumsi, saya ini sakit,”lanjutnya dengan senyum tanpa keluhan.
“Memang sakit itu mengikuti alam pikiran. Orang bahagia atau menderita, sedih-gembira bahkan sakit-sehat itu karena alam pikirannya sendiri,” tukas beliau.
Contoh, kata beliau, seorang anak yang berada diantara permainan yang amat asyik, dia larut dalam permainan tersebut. Saking larutnya dia melalaikan perintah si ayah, maka ayah memberitahu, kalau tidak segera menghentikan permainan tersebut, nanti akan disuntik, maka anak itu kehilangan akan keasyikan permainan tersebut, yang terbayang dalam pikirannya hanya jarum suntik. Kebahagiaan oleh karena permainan telah dilenyapkan oleh jarum suntik yang menguasai pikirannya.
Sebaliknya, kita melihat ada anak yang terkilir, kakinya terluka dan berdarah. Darah yang mengucur tersebut membuatnya menangis keras, tetapi untuk menenangkan si anak, sang ayah bilang, nak sudah menangisnya, kita nanti ke Giant. Jika anak tersebut pernah ke Giant, maka di batang pikirannya tergambar bagaimana keadaan Giant, yang disana disediakan permainan yang menghibur. Saat itu pula tangisan anak itu reda, karena alam pikirannya tidak lagi tertuju pada luka, tetapi tertuju pada permainan yang ada di Giant.
Bayangkan, bagaimana kehidupan orang sudah dekat pada Allah SWT, niscaya tidak ada kekhawatiran dan kesedihan bagi mereka. “sesungguhnya kekasih-kekasih Allah tidak pernah tersentuh kekhawatiran dan kesedihan.”
“Sebenarnya dilihat dari gejalanya, saya ini sudah lama sakit, tetapi tidak pernah dirasakan, dan saya mengerti sakit setelah dibawa ke rumah sakit,”ujar beliau dengan nada guyon, kami pun tersenyum ta’dhim.
Berselang beberapa menit beliau berbicara dengan kami, guru kami yang mulia tiba bersama Mas Kholid dan Mas Januar. Kami sungkem pada guru yang mulia, dan beliau pun duduk bersama kami di beranda tersebut. Terjadilah perbincangan yang hangat dan cair diantara kedua guru suci ini.
“ini ustadz, saya tadi bilang ke teman-teman ini, kalau derita-bahagia itu mengikuti alam pikiran,” Kyai Mas bertutur, guru yang mulia mengangguk sambil tersenyum.
“Oh ya, tadi saya SMS seorang, saya bilang sekarang Ustadz Qushwandhi sedang menggencarkan kampanye anti-kristenisasi di Sumbersekarsari Malang, beliau yang langsung bertanggung jawab. Seperti dulu, pada saat saya melakukan hal yang sama di Mojokerto,” tutur Kyai Mas yang memang selalu berpikir tentang umat. “tapi dia hanya membalas, saya mendukung,”lanjutnya. “Yah itulah orang yang agung, tetapi tidak benar-benar agung jiwanya,” kata beliau lagi.
“Ya benar, ini kyai Mas saya mengirimkan SMS pada aktivis disana, agar memasang spanduk yang berisikan pesan-pesan yang keras dan tegas, seperti stop kristenisasi di pemukiman komunitas Muslim Sumbersekarsari, dsb,”ucap guru yang mulia.
“orang khusus tetapi hatinya tidak juga tercermin pada sosok yang punya berjibun jamaah, tetapi cara berpikirnya bukan seperti orang besar. Ketika dia sakit, dia bilang semoga cepat sembuh. Banyak orang yang mendoakan dia agar cepat sembuh, tetapi ketika datang orang Sidosermo, dia mengungkapkan dan mendoakan kata berbeda, katanya, semoga selamat. Jadi bukan minta sembuh, tapi minta selamat. Minta sembuh tingkatan yang amat rendah, orang kafir pun menginginkan sembuh, tapi orang beriman yang diinginkan adalah selamat. Demikianlah banyak orang yang terbilang sebagai orang khusus, terpandang di mata umat, tetapi ketika hatinya dibedah ternyata tidak khusus”tandas Kyai Mas Yusuf. Semenjak perbincangan pertama, kami selalu mendengar dengan seksama perbincangan Kyai Mas Yusuf yang selalu menarik, dan diluar ungkapan orang-orang pada umumnya.
“Benar kyai mas, kita selalu berdoa, allahumma antas salam waminkassalam wailaika ya udussalam, fahayyina rabbana bissalam…, maksudnya kita selalu minta kesalamatan. Waras dan selamat itu sepertinya punya kemiripan, tetapi selamat itu punya makna lebih mendalam ketimbang waras,”tanggap guru yang mulia.
“Abuya itu tidak pernah nyahut ketika ditanya soal sakit, tetapi ketika ditanya persoalan umat dan agama, beliau selalu memberikan jawaban. Suatu saat, beliau berbincang seputar persoalan agama, padahal saat itu Abuya dalam kondisi sakit. Kalau ditanya soal agama dan umat beliau tertarik berbincang, tetapi ketika ditanya perihal sakitnya, Abuya bilang, “Saya sakit tah mat?””kisah kyai Mas tetap dengan wajah yang selalu sumbringah, sembari disambut tertawa tipis beberapa teman yang hadir disana.
“terus terang saya tidak mengabarkan sakit saya ke orang-orang, kecuali orang yang senafas dengan saya, termasuk ustadz Qushwandhi. Musyafak menanyai saya pertelpon, apakah benar saya ada di rumah sakit. Saya bilang, saya ada di rumah. Dia mengerti saya di rumah sakit dari orang yang hendak mengundang saya untuk menghadiri ceramah Maulid, saya tidak ada di rumah, tetapi di rumah sakit, “kata Kyai Mas Yusuf. “tetapi kadang-kadang orang seperti dia juga dibutuhkan untuk nafas yang lain,” lanjut beliau sambil tersenyum, sambil beliau pamit sebentar ke kamar rawat inap, mengambil makanan.
Sembari menunggu Kyai Mas, guru yang mulia memberikan tafsir atas apa yang telah disampaikan Kyai Mas. “beliau tidak memberikan pelajaran yang terlalu bertele-tele, tetapi yang diberikan adalah rumusan tentang hidup. Tidak memberikan ikan, tetapi memberikan pancing. Bagaimana rumus menghadapi masalah itulah yang terpenting. Terkait dengan soal, Anda bisa mencari sendiri dalam perjalanan hidup Anda, saya dan kyai Mas hanya menawarkan rumus bagaimana menghadapi persoalan, dan itulah yang kerap disampaikan dalam pengajian-pengajian yang saya selenggarakan,”tutur guru yang mulia.
Sehabis bercerita panjang lebar, Kyai mas datang dengan membawa minuman. Sejenak setelah itu beliau pamit untuk disuntik, dan kami pun pamit pada beliau. Saya merasa menemukan kepuasan bertemu dengan beliau. Saya mendapatkan pesan-pesan indah yang membuat diri selalu hendak bersyukur setiap saat. Syukur bagi Kyai Mas bukan sekadar lontaran kata, tetapi telah membadan dalam hidupnya. Semoga saya bisa memodel beliau.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Saya sudah janjian sama teman-teman jamaah membesuk pada hari sabtu, tetapi diundur jadi hari Minggu. Beliau memiliki kemiripan cara pandang dengan guru yang mulia. Kalau guru yang mulia kerap memberikan pencerahan dalam bentuk filsafat-filsafat agama yang mendalam dan menyentuh, sementara KH. Mas Yusuf Muhajir mengungkapkan keterangan lewat cerita-cerita renyah, bahkan gurauan-gurauan penuh hikmah. Pandangan beliau berdua sama, hanya cara mengekspresikan yang berbeda. Diakui guru yang mulia, beliau berdua memiliki cara pandang yang sebangun.
Saking membuncahnya kerinduan pada KH. Mas Yusuf, di malam harinya saya sempat bermimpi beliau tengah menggelar pengajian. Beliau menyapa saya dengan senyum indah, tulus, dan begitu akrab, tetapi tetap berwibawa. Saya makin yakin, bisa membesuk beliau di hari jumaat tersebut. Alhamdulillah, dengan izin guru yang mulia, saya pun membesuk beliau. Lebih dahulu guru yang mulia berangkat dari griya, saya menyusul bersama mas Misbach dengan menggunakan kendaraan sendiri. Kami berdua lebih dahulu sampai ke RSAL, kami mencari-cari ruang Paviliun III belum ketemu, hanya Paviliun II dan I.
“Ah mungkin Paviliun III itu ruang yang paling istimewa mas, jadi agak sulit nyarinya,”kataku, guyon pada mas Misbach.
“ini Paviliun II dan I, pasti juga di wilayah sini,”katanya. Sekejap kemudian saya melihat KH. Mas Yusuf duduk sendirian di beranda rumah sakit sambil menelepon. Hatiku bergetar, merasa bahagia melihat beliau nampak bugar, raut wajah kebahagiaan masih tetap menyelimuti wajahnya. Saya pun langsung menuju ke tempat beliau, sungkem. Seolah ada getaran kehangatan yang menyusup ke dalam hati ini bisa bertemu beliau.
“Assalamu’alaikum,” kami berdua manyapa beliau
“Wa’alaikum salam,”sambut beliau
“Bagaimana kyai, apa sudah semakin sehat,”muncul saja dari lisan yang kotor ini.
“Alhamdulillah, sudah ada kemajuan,”kata beliau, sambil menelepon.
Saya masih tercekat, sambil menyimak perbincangan beliau. Beliau menyanggupi orang yang akan menggantikan beliau untuk menyampaikan ceramah di teman-teman Hizbut Tahrir.
“Saya lama sekali diminta oleh kawan-kawan Hizbut Tahrir untuk mengisi ceramah setiap tiga bulan sekali, tetapi saya hanya menyanggupi satu tahun sekali. Maka terjadilah ngenyang-ngenyan (tawar-menawar), akhirnya saya sanggup satu tahun 2 kali,”ujar beliau dengan wajah yang terlihat sumbringah.
“Sejak kapan kyai Mas sakit?”tanya Mas Misbach penuh empatik.
“sejak seminggu yang lalu, tetapi saya tidak memberitahukan ke banyak orang, kecuali pada beberapa orang termasuk ustadz Qushwandhi,”katanya “Saya ini tidak merasa sakit, hanya melihat dari obat yang saya konsumsi, saya ini sakit,”lanjutnya dengan senyum tanpa keluhan.
“Memang sakit itu mengikuti alam pikiran. Orang bahagia atau menderita, sedih-gembira bahkan sakit-sehat itu karena alam pikirannya sendiri,” tukas beliau.
Contoh, kata beliau, seorang anak yang berada diantara permainan yang amat asyik, dia larut dalam permainan tersebut. Saking larutnya dia melalaikan perintah si ayah, maka ayah memberitahu, kalau tidak segera menghentikan permainan tersebut, nanti akan disuntik, maka anak itu kehilangan akan keasyikan permainan tersebut, yang terbayang dalam pikirannya hanya jarum suntik. Kebahagiaan oleh karena permainan telah dilenyapkan oleh jarum suntik yang menguasai pikirannya.
Sebaliknya, kita melihat ada anak yang terkilir, kakinya terluka dan berdarah. Darah yang mengucur tersebut membuatnya menangis keras, tetapi untuk menenangkan si anak, sang ayah bilang, nak sudah menangisnya, kita nanti ke Giant. Jika anak tersebut pernah ke Giant, maka di batang pikirannya tergambar bagaimana keadaan Giant, yang disana disediakan permainan yang menghibur. Saat itu pula tangisan anak itu reda, karena alam pikirannya tidak lagi tertuju pada luka, tetapi tertuju pada permainan yang ada di Giant.
Bayangkan, bagaimana kehidupan orang sudah dekat pada Allah SWT, niscaya tidak ada kekhawatiran dan kesedihan bagi mereka. “sesungguhnya kekasih-kekasih Allah tidak pernah tersentuh kekhawatiran dan kesedihan.”
“Sebenarnya dilihat dari gejalanya, saya ini sudah lama sakit, tetapi tidak pernah dirasakan, dan saya mengerti sakit setelah dibawa ke rumah sakit,”ujar beliau dengan nada guyon, kami pun tersenyum ta’dhim.
Berselang beberapa menit beliau berbicara dengan kami, guru kami yang mulia tiba bersama Mas Kholid dan Mas Januar. Kami sungkem pada guru yang mulia, dan beliau pun duduk bersama kami di beranda tersebut. Terjadilah perbincangan yang hangat dan cair diantara kedua guru suci ini.
“ini ustadz, saya tadi bilang ke teman-teman ini, kalau derita-bahagia itu mengikuti alam pikiran,” Kyai Mas bertutur, guru yang mulia mengangguk sambil tersenyum.
“Oh ya, tadi saya SMS seorang, saya bilang sekarang Ustadz Qushwandhi sedang menggencarkan kampanye anti-kristenisasi di Sumbersekarsari Malang, beliau yang langsung bertanggung jawab. Seperti dulu, pada saat saya melakukan hal yang sama di Mojokerto,” tutur Kyai Mas yang memang selalu berpikir tentang umat. “tapi dia hanya membalas, saya mendukung,”lanjutnya. “Yah itulah orang yang agung, tetapi tidak benar-benar agung jiwanya,” kata beliau lagi.
“Ya benar, ini kyai Mas saya mengirimkan SMS pada aktivis disana, agar memasang spanduk yang berisikan pesan-pesan yang keras dan tegas, seperti stop kristenisasi di pemukiman komunitas Muslim Sumbersekarsari, dsb,”ucap guru yang mulia.
“orang khusus tetapi hatinya tidak juga tercermin pada sosok yang punya berjibun jamaah, tetapi cara berpikirnya bukan seperti orang besar. Ketika dia sakit, dia bilang semoga cepat sembuh. Banyak orang yang mendoakan dia agar cepat sembuh, tetapi ketika datang orang Sidosermo, dia mengungkapkan dan mendoakan kata berbeda, katanya, semoga selamat. Jadi bukan minta sembuh, tapi minta selamat. Minta sembuh tingkatan yang amat rendah, orang kafir pun menginginkan sembuh, tapi orang beriman yang diinginkan adalah selamat. Demikianlah banyak orang yang terbilang sebagai orang khusus, terpandang di mata umat, tetapi ketika hatinya dibedah ternyata tidak khusus”tandas Kyai Mas Yusuf. Semenjak perbincangan pertama, kami selalu mendengar dengan seksama perbincangan Kyai Mas Yusuf yang selalu menarik, dan diluar ungkapan orang-orang pada umumnya.
“Benar kyai mas, kita selalu berdoa, allahumma antas salam waminkassalam wailaika ya udussalam, fahayyina rabbana bissalam…, maksudnya kita selalu minta kesalamatan. Waras dan selamat itu sepertinya punya kemiripan, tetapi selamat itu punya makna lebih mendalam ketimbang waras,”tanggap guru yang mulia.
“Abuya itu tidak pernah nyahut ketika ditanya soal sakit, tetapi ketika ditanya persoalan umat dan agama, beliau selalu memberikan jawaban. Suatu saat, beliau berbincang seputar persoalan agama, padahal saat itu Abuya dalam kondisi sakit. Kalau ditanya soal agama dan umat beliau tertarik berbincang, tetapi ketika ditanya perihal sakitnya, Abuya bilang, “Saya sakit tah mat?””kisah kyai Mas tetap dengan wajah yang selalu sumbringah, sembari disambut tertawa tipis beberapa teman yang hadir disana.
“terus terang saya tidak mengabarkan sakit saya ke orang-orang, kecuali orang yang senafas dengan saya, termasuk ustadz Qushwandhi. Musyafak menanyai saya pertelpon, apakah benar saya ada di rumah sakit. Saya bilang, saya ada di rumah. Dia mengerti saya di rumah sakit dari orang yang hendak mengundang saya untuk menghadiri ceramah Maulid, saya tidak ada di rumah, tetapi di rumah sakit, “kata Kyai Mas Yusuf. “tetapi kadang-kadang orang seperti dia juga dibutuhkan untuk nafas yang lain,” lanjut beliau sambil tersenyum, sambil beliau pamit sebentar ke kamar rawat inap, mengambil makanan.
Sembari menunggu Kyai Mas, guru yang mulia memberikan tafsir atas apa yang telah disampaikan Kyai Mas. “beliau tidak memberikan pelajaran yang terlalu bertele-tele, tetapi yang diberikan adalah rumusan tentang hidup. Tidak memberikan ikan, tetapi memberikan pancing. Bagaimana rumus menghadapi masalah itulah yang terpenting. Terkait dengan soal, Anda bisa mencari sendiri dalam perjalanan hidup Anda, saya dan kyai Mas hanya menawarkan rumus bagaimana menghadapi persoalan, dan itulah yang kerap disampaikan dalam pengajian-pengajian yang saya selenggarakan,”tutur guru yang mulia.
Sehabis bercerita panjang lebar, Kyai mas datang dengan membawa minuman. Sejenak setelah itu beliau pamit untuk disuntik, dan kami pun pamit pada beliau. Saya merasa menemukan kepuasan bertemu dengan beliau. Saya mendapatkan pesan-pesan indah yang membuat diri selalu hendak bersyukur setiap saat. Syukur bagi Kyai Mas bukan sekadar lontaran kata, tetapi telah membadan dalam hidupnya. Semoga saya bisa memodel beliau.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Langganan:
Postingan (Atom)