Selasa, 13 Juli 2010

BERBICARA DALAM SEPI SUNYI

Tak sedikit orang merasakan suasana hambar di keramaian, karena hanya bersentuhan dengan hal semu dan temporal. Padahal piranti ruhani merindukan yang hakiki dan abadi. Apakah orang menemukan yang hakiki dan abadi lewat jalan keramaian? Di sisi lain, orang-orang besar mendulang kearifan dan turut membangun istana kebahagiaan di hatinya, karena memilih keluar dari kemewahan dan kemegahan hidup yang mengitarinya, lalu berusaha memerhatikan sisi kekayaan yang terbenam di hati. Karena tak jarang orang memerhatikan kekayaan di luar, luput memerhatikan kekayaan yang ada di dalam batinnya, sehingga terjebak ke dalam kebangkrutan ruhani.

Ibrahim bin Adham, seorang pangeran masyhur dari Balkan rela melepaskan baju kemegahan sembari menapaki jalan sunyi penuh derita duniawi. Disana Ibrahim bin Adham tak menyisakan sedikit pun kuasa hawa nafsunya, sehingga terus berada dalam penjara derita yang begitu pedih secara fisik. Walau dia merasakan kepedihan secara lahiriah, diam-diam mengalir keanggunan dan kedamaian universal di medan batinnya. Seiring berjalannya waktu, beliau berhasil melewati tangga-tangga penderitaan demi menggapai kebahagiaan sempurna. Dari beliau menghabiskan seluruh perbekalan untuk disedakahkan pada setiap orang yang ditemui, hingga menggadaikan dirinya sebagai budak demi bisa memberikan makan pada perempuan renta.

Kita pernah mengenal Tolstoy, tokoh sastrawan yang berhasil membesut karya sastra yang memikat, dan berhasil merekam kearifan universal lewat karya tulisnya yang mencengangkan. Dia menggeser kebiasaan hidupnya yang dikitari kemewahan dan keramaian, ke rumah yang amat sederhana dan sepi sunyi. Dalam sepi sunyi yang sempurna, dia bisa memahatkan inspirasi dalam tulisan-tulisan menggerakkan.
Mulailah merubah dunia ramai dengan memahami dunia sepi-sunyi. Inspirasi dan ilham sering datang di ranah-ranah kesunyian yang menawarkan ketenangan dan kedamaian tak berbatas. Bagi orang yang berkomitmen menebarkan kasih pada kemanusiaan, perlu kiranya menempuh jalan-jalan sunyi dan mempersedikit bersentuhan dengan dunia ramai. Memang, seorang pejuang selalu berada dalam sunyi bersama Tuhan. Mula-mula, dia mengalami sepi keseluruhan, dari fisik, pikiran, hati menuju Yang Maha Sunyi. Setelah mengalami pencerahan, dia telah bersenggama dengan sunyi, dan keramaian fisik tidak akan merampok suasana sunyi di medan hati. Kendati berpapasan dengan beragam latar manusia, dia tetap menyatu dalam kesunyian mendalam. Sunyi-sepi telah terintegrasi dalam dirinya.

Praktik ibadah sehari-hari melatih manusia tenang dalam sepi-sunyi, fokus pada satu tujuan final. Dialah Allah SWT. Semisal dalam menunaikan shalat, ingatan kita hanya tertuju pada Allah, merasa bahwa Allah selalu menyaksikan setiap gerak-gerik fisik dan batin kita. Lewat kesadaran akan penyaksian berikut kehadiran Allah, kita akan ditarik ke medan sunyi, perhatian pada selain-Nya akan punah dan tenggelam. Ketika pikiran dan hati telah tersetrum pada tujuan utama, yang lain tersingkir dari ingatan. Bagaikan orang terpesona dengan rembulan, kendati ada nyamuk menghinggapi kulitnya, seakan tidak terasa. Lolongan anjing, seakan tidak menggangu perhatiannya, bahkan perkataan teman seakan tidak terdengar. Seluruh perhatian tersedot pada semburat cahaya rembulan yang amat memesona.

Bagaimana sikap orang yang telah mengalami sunyi batinnya? Dalam sunyi akan tergelar kedamaian semesta. Tak ada sedikit pun yang mampu menginterupsi setiap gerak-gerik orang ini. Dia telah menyatu dengan kedamaian tanpa terusik. Dia telah menyelam di kedalaman lautan yang disana hanya ada mutiara kedamaian yang terus berkilauan. Ia tak lagi terpesona dengan fluktuasi luaran, dengan kesadaran bahwa di luar hanya memengaruhi sisi luar, tak bisa memengaruhi sisi terdalam. Ketika orang berselancar di laut yang sarat arus gelombang, arus gelombang akan membuat keadaannya bergerak tak beraturan, tidak tetap, orang akan ringkih berada diantara arus gelombang, karena dipermainkan oleh gelombang itu sendiri. Berbeda halnya, ketika orang telah berhasil mengalami diving ke dalam, niscaya disana ditemukan kebahagiaan tak bertepi, tak tersentuh pasang surut gelombang.

Ketika kita telah bermukim dalam ruang sunyi penuh pesona, disana dia bakal memeroleh sekian ilham yang bisa ditebarkan pada seluruh kemanusiaan. Bayangkan, Rasulullah Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi Rasul, menapaki jalan sunyi sepanjang 7 tahun lamanya. Tujuh tahun berteman dengan sunyi, beliau SAW memeroleh wahyu yang bisa meradiasikan kesadaran suci ke seluruh orang tanah Arab, dan menyebar ke seluruh pelosok dunia. Memang, demi bisa menebarkan kebajikan, kita harus berjalan dalam ruang sunyi, yang didalamnya diisi dengan tafakkur, merenungi dunia luar dan dijalinkan dengan gema suara yang menyembul dibalik kesunyian. Dalam sunyi orang akan menemukan mutiara dalam dirinya, berikut menemukan cara bagaimana bisa memperluas manfaat mutiara bagi kehidupan.

Mengapa Rasulullah SAW harus berada di gua, ruang gelap pekat, guna menjaring ilham berupa wahyu dari Allah? Ternyata orang menemukan cahaya batin, enlightenment di saat berada di ruang gelap pekat. Seperti halnya orang akan bisa mengaktivasi mata batin, ketika telah menutup mata lahiriah. Pun, ketika mata lahir tidak bisa melihat, saat itu mata batin akan mengalami keterbukaan. Kalau begitu, gelap lahiriah sebagai teman bagi terangnya jiwa. Mengapa demikian? Ketika orang terpesona pada terang yang berada di wilayah lahiriah, niscaya dia tidak bakal memerhatikan pesona terang yang terpancar di wilayah batin. Padahal terang batin lebih abadi ketimbang terang di luaran.

Selain itu dalam sunyi orang tidak lagi berbicara pada wajah lahir, tetapi berbicara pada wajah batin. Ketika terang di luar, orang sibuk bercermin untuk melihat wajah lahiriah, tetapi ketika dia akan tertarik untuk mengoreksi dan mengaca sisi batin. Ketika orang sering berkaca batinnya, insya Allah akan mengalami pencerahan dan kebeningan terus-menerus. Bagaimana cara agar batin ini bisa berkaca? Ini sering disebut muhasabah. Ketika orang sering menjalani muhasabah, menghitung-hitung apa yang terlintas dari hati dan pikiran terus-menerus, jika melihat dari lintasan itu keburukan, dia langsung beristighfar disertai penyesalan. Bedanya, kalau orang melihat wajahnya baik, maka dia berhenti membersihkan. Ketika orang ingin batinnya senantiasa baik, maka jangan pernah merasa baik. Karena merasa baik sendiri akan membuat wajah batin dihinggapi kotoran.

Berdialog dengan diri sendiri di malam sunyi amat efektif untuk menguak diri hakiki, apakah masih sering ditebari kotoran, atau berbalutkan kedamaian yang indah. Qolbun salim tanda hati telah menggapai kebersihan penuh cahaya.

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

DAHSYATNYA SHALAT

Ketika Rasulullah SAW bersama sahabatnya dicekal dan diembargo kafir Quraisy yang dirancang sepanjang 3 tahun, berbentuk penghentian distribusi logistik menuju kaum muslimin, tak ayal ada sebagian sahabat mengalami kelaparan. Intimidasi, penyiksaan dan aneka perbuatan keji mewarnai kaum muslimin saat itu. Itulah perbuatan keji yang dilancarkan kafir Quraisy demi menurunkan spirit Rasulullah SAW dan para sahabat secara perlahan-lahan. Seakan tantangan mulai menjelma dan meraksasa demi menguji keteguhan iman para sahabat Rasulullah SAW. Peristiwa memedihkan itu tidak memupus iman sahabat, bahkan iman mereka kian membaja dan perkasa. Usaha melumpuhkan kaum muslimin tidak berhasil, dan mereka gagal total, ditandai dengan remuknya piagam pemboikotan oleh serangan beribu-ribu rayap, sehingga masa pemboikotan yang diproyeksikan 3 tahun hanya bisa bertahan 3 bulan. Kecuali nama-nama Allah tetap menempel terang dalam piagam tersebut, sementara seluruh klausul pemboikotan yang menempel di dinding Ka’bah melepuh oleh gigitan rayap-rayap yang terus berkerumun. Subhanallah.
Berlanjut kesedihan Rasulullah SAW bersama sahabat kala ditinggalkan dua sosok terkemuka yang berperan sebagai tameng, perisai, bahkan benteng bagi perjuangan Rasulullah SAW, dialah Sayyidah Khadijah Al-Kubro, dan Abu Thalib. Istri dan paman Rasulullah SAW berkontribusi besar terhadap penyebaran agama Allah di bumi Mekah. Wafatnya mereka berdua tidak hanya menyisakan duka, tetapi membuat kafir Quraisy kian beringas dan keji memperlakukan sahabat Rasulullah SAW. Mereka tidak hanya berani menggangu Rasulullah SAW, malah sampai pada titik mengancam nyawa Rasulullah SAW. Dari lintasan fakta itu, kita bisa membayangkan pamor dan peran Sayyidah Khadijah Al-Kubro dan Abu Thalib untuk membentengi keselamatan Rasulullah SAW dan keberlanjutan dakwah Islam.
Wafatnya mereka berdua membekaskan kedukaan mendalam bagi Rasulullah SAW. Seakan perisai manusia telah terbelah dan tumbang, namun lewat peristiwa memedihkan itu Rasulullah SAW mendapat kabar gembira lewat peristiwa Isra’ Mi’raj. Sandaran manusia telah rapuh, tidak langgeng, dan bisa pupus oleh kematian. Namun, Allah Selalu Ada dan Maha Berdiri Sendiri, siap membantu kapan saja. Islam kian kokoh jika selalu tersambung dengan Allah SWT.
Shalat adalah media penghubung (konektor) dengan Allah. Isra’ Mi’raj mengandung pesan kewajiban shalat. Shalat yang didirikan secara sungguh-sungguh, akan menghadirkan dukungan (mu’ayyadah) Allah. Berarti, shalat sebagai media efektif mengundang dukungan Allah SWT. Andaikan shalat menjadi media menghubungkan kita dengan Allah SWT, orang yang melakukan shalat dengan benar dan khusyuk akan memeroleh kekuatan dahsyat. Keimanan menancap kukuh dan mengkristal bisa mengantarkan pada kemenangan hakiki.
Menggapai Kemenangan Lewat Shalat
Shalat melahirkan kekuatan ajaib manakala didirikan dengan benar dan khusyuk. Bukankah hanya shalat khusyuk yang mengantarkan pada keberuntungan, kemenangan, dan kemuliaan. Petikan firman Allah memperterang itu “sungguh beruntung orang mukmin yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mukminun [23]:1-2)
Khusyuk dengan dialiri getaran kehadiran Allah SWT berperan mengisi cadangan iman ke dalam hati ini. Dan tindakan yang disusupi spirit iman yang teguh akan membuahkan hasil efektif. Mengapa orang bisa menggapai kemenangan lewat shalat? Karena shalat memediasi kita agar terus tersambung dengan Allah SWT. Kita menggapai kejayaan, lantaran memeroleh kekuatan dari Allah SWT. Kita bisa bercermin pada peristiwa perang Badr, dimana para sahabat dengan jumlah 300 lebih sedikit bisa mengalahkan secara telak kafir Quraisy yang membawa pasukan tiga kali lebih besar daripada pasukan kaum muslimin kala itu.
Keajaiban itu bukan karena usaha tentara muslimin semata, tetapi karena Allah menurunkan pertolongan, sehingga menggetarkan dan merapuhkan rasa yakin di hati orang Kafir Quraisy, sembari meneguhkan iman kaum muslimin. Tentara tak terlihat pun turun membantu tentara muslimin saat itu. Di detik-detik menjelang perang Badr, di malam harinya Rasulullah SAW menghabiskan waktunya bermuwajahah dengan Allah lewat shalat. Beliau menangis, merendahkan diri, karena perang Badr memang menjadi penentu masa depan Islam. Tangisan Rasulullah SAW itu meruntuhkan kekuatan musuh dan mengantarkan kemenangan gemilang di kalangan kaum muslimin.
Shalat ampuh sebagai kunci mencapai kemenangan, baik secara individual atau jamaah. Jika belum merasa beruntung menjalani hidup, perlu kiranya mengoreksi kualitas shalat, karena kualitas shalat seseorang ditandai dengan merasakan bintang keberuntungan dalam hidupnya. Sekali lagi al-Qur’an menegaskan, “sungguh beruntung orang yang menyucikan diri, menyebut nama Tuhan-nya, dan melakukan shalat.”(al-A’la [87]:14-15).
Kita bisa menumbuhkan kualitas shalat prima bila kita mempersepsi shalat sebagai media meneguhkan akar iman yang sambung pada Allah SWT. Kita sambung saat kita mengingat Allah (zikrullah). Jika shalat belum menjadi momen meneguhkan rasa ingat pada Allah, berarti shalatnya belum powerful. Karena tidak handal, maka shalat tidak bisa diandalkan dalam merengkuh kemenangan. Ketika menjalani shalat, seringkali ingatan kita ngacir kemana-mana, walhasil shalat tidak punya daya pengaruh terhadap pembentukan karakter bening dan kukuh.
Sepanjang shalat kaum muslimin belum sempurna (khusyuk) dan ajek, masih jauh kemungkinan Islam mengalami kebangkitan dahsyat. Ketakutan musuh terhadap Islam, bukan karena banyaknya umat Islam, tetapi berkaitan dengan keteguhan umat Islam dalam menegakkan shalat, terlebih shalat berjamaah. Adalah tokoh Yahudi sempat sesumbar, “Kami tidak takut pada orang Islam, hingga shalat subuhnya sama dengan shalat jum’atnya.”
Mereka melihat kekuatan Islam dari kekompakan menegakkan shalat berjamaah. Bagaimana potret shalat berjamaah kita saat ini? Apalagi shalat subuh. Masjid megah, terbangun dengan biaya miliaran rupiah, berapa shaf kiranya yang berjejer ketika shalat subuh ditegakkan. Kesadaran shalat berjamaah, terlebih subuh, masih amat minor, tak ayal kita jarang menemukan kedahsyatan efek dari shalat untuk meneguhkan daya umat, sebagai umat terbaik. Ringkas kata, umat Islam tidak bisa menggapai kebangkitan (restorasi) secara totalitas sebelum memerhatikan shalat dalam spektrum yang benar dan ajek.
Saatnya kita kembali menegakkan shalat dengan benar, lalu disempurnakan dengan shalat berjamaah. Ketika kita bisa menegakkan shalat secara benar dan ajek, maka akan menyembul power dari dalam, tindakan pun akan berdampak dan kukuh. Dengan shalat tindakan kita akan punya “ruh” dan efektif dalam menggerakkan perubahan. Andai kita ingin menggapai sukses, maka bersungguh-sungguhlah dalam menegakkan shalat. Sukses mulia akan menjelma secara dahsyat.
Shalat membuat kita punya akar hubungan yang kuat dengan Allah SWT apabila dilakukan secara dawam (ajek). Akar kekuatan itu mengantarkan manusia menggapai kemenangan sempurna, baik secara lahiriah atau secara batiniah. Mengapa ada orang tidak shalat, tetapi dikarunia kejayaan, berupa kekayaan melimpah? Mereka boleh mendulang kekayaan meruah, tetapi ketahuilah dia mengalami kerapuhan batin, sehingga berjarak amat jauh dengan kebahagiaan. Keberlimpahan duniawi boleh mengitari hidupnya, tetapi dia mengalami kebangkrutan secara ruhani, dalam bentuk dicabutnya berkah harta tersebut. Tak jarang kekayaannya yang melimpah perlahan-lahan menggiringnya ke jurang kesesatan dan kehancuran.
Kini, kita kaitkan kekuatan shalat dengan kehidupan kita sehari-hari. Andaikan kita masih kerap merasa didera derita dan kesedihan, atau merasa belum menggapai keberuntungan hidup, perlu kiranya mengoreksi dan menjajaki kualitas shalat yang kita tegakkan selama ini. Apakah shalat telah kita dirikan secara khusyuk dan dawam, atau masih sering dibuat sebagai permainan, dan sambil lalu. Karena dianggap permainan, maka tidak menyisakan kristal-kristal kebahagiaan ke ranah batin. Allah tidak pernah menyalahi janjinya. Mari kita dengarkan, ikuti, dan agungkan seruan-Nya yang digetarkan lewat lisan muadzzin, Hayya ‘alashshalah, hayya ‘alal falah. “Mari dirikan shalat dan mari gapai kemenangan”.
KH. Dr. M. Dhiyauddin Qushwandhi
Pentranskripsi: Khalili Anwar

Senin, 31 Mei 2010

GUNUNG YANG TINGGI, JURANG YANG DALAM

Pada mulanya orang yang berdiam di kaki gunung, mendamba bisa mendaki puncak gunung yang amat indah, gagah, dan penuh misteri sukses, dia membanggakan gunung yang amat tinggi yang biasa dibilang sebagai pencakar langit. Banyak orang hebat yang telah berhasil menaiki gunung tersebut, hanya saja diri sendiri masih belum mampu “menundukkan” gunung. Karena impian yang kuat berikut didorong oleh daya tarik atas kemegahan gunung tersebut, dia mempersiapkan diri untuk mendaki sang gunung, ada sela-sela bisikan yang menyentuh hatinya, andaikan nanti bisa menapaki gunung tersebut, tentu akan ada kebanggaan tersendiri bagi dirinya. Bukankah orang yang telah sampai di puncak gunung, dia akan lebih tinggi dari gunung tersebut. Dia mendapati gelar sebagai penakluk gunung. Dia pun berjuang mendaki gunung tersebut dengan pengagungan yang terhadap gunung, walau pun yang dituju akhirnya untuk meraih keagungan diri lewat pendakian tersebut.

Benar saja, dengan usaha yang amat keras, tanpa lelah, disertai impian besar yang tertancap di pikirannya, membimbing dirinya sampai ke puncak gunung. Hanya saja setelah sampai di puncak gunung, kesadarannya hanya tertuju pada puncak gunung, berikut kebanggaan yang menyelimuti dirinya. Dia tak ingat lagi, darimana dia berasal. Dia berasal dari kaki gunung yang landai dan rendah. Karena dia hanya menyadari telah sampai di puncak, tanpa menyadari darimana dia berasal, maka dia berjingkrak-jingkrak di atas gunung tersebut. Karena lalai akan kesuksesan sampai di puncak gunung, tanpa menyadari berada di ketinggian, dia pun terjatuh ke jurang yang amat dalam. Akhirnya dia mati dalam kehinaan. Ketinggian gunung telah membuatnya terjungkal jatuh ke dalam lembah yang amat curam.

****
Lukisan kisah ini diharapkan bisa menyajikan inspirasi yang indah di hati kita, bahwa orang jangan pernah sombong dengan perolehan hidup yang telah dicapainya. Karena kesombongan itu tidak akan membawa manusia kemana-mana kecuali jurang kehancuran. Ada sebuah perusahaan yang menggembar-gemborkan strategi dan manajemen bisnisnya, sebagai manajemen yang canggih, dan meyakini dengan manajemen tersebut perusahaannya bisa bertahan selamanya, bahkan bisa mengungguli perusahaan papan atas sekalipun. Seluruh promosi dan kesombongannya ternyata berbalas dengan kegetiran, bisnis itu tidak bisa bertahan lama, bahkan akhirnya hancur. Seluruh stakeholder perusahaan saling menyalahkan satu sama lain. Mengapa perusahaan itu hancur berkeping-keping? Perusahaan itu dihancurkan oleh sikap mengagungkan caranya sendiri, sehingga dia tidak mau berendah diri untuk mempelajari strategi perusahaan lain. Orang sombong telah merasa berada di batas ujung kehidupan, seperti berada di batas puncak sukses. Dia tak bisa mendaki kembali, akhirnya orang itu tak bakal bisa tumbuh dengan baik.

Di era persaingan yang amat ketat ini, orang atau perusahaan yang diduduki direksi yang sombong tidak bakal bisa melambung dengan sukses yang luar biasa. Mengapa? Karena dia tidak bisa bergerak mengikuti ritme keadaan yang berubah cepat. Dia fanatik dengan kunci-kunci master yang telah mengantarkan dia pada puncak kesuksesan, padahal strategi dan manajemen akan terus berubah, seiring dengan perubahan arah psikologi pasar. Bisa jadi manajemen sukses yang digunakan, sekarang sudah kadaluwarsa.

Berarti orang merasa sukses, dan kemudian terpaku dengan cara-cara lama menggapai sukses akan mudah ditinggalkan pesaingnya. Sukses harus, tetapi merasa sukses tidak boleh. Karena merasa sukses sendiri telah menghentikan langkah untuk pertumbuhan diri. Bukankah orang yang tidak merasa sukses berarti tidak bersyukur? Orang yang merasa sukses berarti membatasi rahmat Allah. Kita tetap bersyukur dengan hasil yang diperoleh, hanya saja bagaimana setiap hari kita harus bertumbuh mendekati cahaya (Allah). Rahmat Allah begitu luas tak terbatas, tak boleh dibatasi oleh perasaan sukses kita, karena hanya menghentikan langkah untuk melakukan yang terbaik dari hari ke hari. Apa sikap orang yang telah sampai di stasiun sukses?

Ingatlah, orang yang sukses adalah orang yang bisa membiakkan satu kesuksesan menuju kesuksesan berikutnya. Dia tidak hanya mengejar rahmat Allah, tetapi turut menebarkan rahmat Allah dimana-mana. Kesuksesan yang diraih mengalami pertumbuhan yang terus meningkat, sehingga tidak hanya menggapai sukses, tetapi kemuliaan. Bagaimana cara menggapai kemuliaan, kemuliaan bisa digapai ketika manusia merasa belum apa-apa, menyadari rahmat Allah lebih banyak daripada apa yang telah diperolehnya, sehingga tak ada alasan bagi dirinya terputus dari rahmat Allah. Bukankah orang yang terputus dari rahmat Allah, berarti terputus dengan Allah.

Kendati dia telah sampai pada puncak kesuksesan, dia tetap membayangkan berada di bawah, sehingga kesuksesannya terus menanjak dan berkembang setiap saat. Dia bertanya kemana-mana untuk bisa meningkatkan pertumbuhan dirinya. Dia tidak hanya bertanya pada orang yang telah menggapai sukses cemerlang, dia berani bertanya pada orang yang pernah terdepak kegagalan. Bukankah dengan disadarkan akan sebuah kelemahan, orang akan tergerak untuk memperbaiki diri, menambah input, dan bertumbuh setiap saat. Karena kerendahan hatinya, dia bisa belajar kepada siapapun, berarti dia bisa melihat cahaya sukses dimana-mana, karena seluruh kehidupan berada dalam liputan Allah SWT.

Karena ia merasa masih berada dalam kerendahan, walau telah menggapai sukses, maka semua orang bisa menyentuh dan disentuh dia. Bahkan Allah pun bisa melibatkan diri dalam setiap aktivitas yang dijalani. Bukankah Allah berjanji meninggikan derajat orang yang merendahkan diri? Mungkin, tanpa dia sadari banyak masukan-masukan mengalir untuk perbaikannya. Mereka memberikan masukan tanpa pamrih sedikit pun. Semua orang sepertinya suka memberikan konsultasi gratis padanya. Karena masukan-masukan banyak orang, ia bakal terus berbenah diri dan bertumbuh, bagaimana bisa memberikan manfaat lebih besar lagi bagi sesama.

Pribadi ini tidak hanya sekadar telah mencapai sukses yang gemilang, tetapi telah mencapai kemuliaan di sisi Allah SWT. Mengapa? Ia tidak merasa sukses dan mulia, seluruh apa yang diperoleh karena pertolongan Allah SWT, yang wujudnya digerakkan banyak orang membantu dan menyokong bisnisnya. Ya, Allah hanya memuliakan orang yang merasa hina, mengangkat orang yang merasa rendah, mengayakan orang yang merasa fakir di hadapannya, mencurahkan ilmu bagi orang yang merasa bodoh. Rasakan kerendahan dirimu, insyaAllah kemuliaan hidup bakal meliputimu. Rasakan kefakiran dirimu, niscaya Allah akan memberikan kekayaan padamu. Rasakan kebodohan dirimu, niscaya Allah akan mencurahkan ilmu dari sisi-Nya. Tetapi berangsiapa yang telah merasa tinggi, ketahuilah dia akan terjatuh ke jurang yang paling menghinakan. Insya Allah.


Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

KEBAHAGIAAN ADA DALAM MENCINTAI

Cukupkah kebahagiaan dengan mencintai? Bagaimana ketika yang dicintai tak membalas cintanya pada Anda, masihkah kebahagiaan berbalut dalam hati? Bukankah Anda akan merasa sakit ketika engkau dibenci bahkan dicaci maki oleh orang yang Anda cintai, mengapa kau harus tetap mencintainya, jika dekat dengannya malah mendapatkan dampratan dan cacian? Pertanyaan ini mungkin tersusun rapi sebagai bentuk paradoks atas ide besar yang terpampang di judul tulisan ini. Selama ini orang merasa bahagia ketika dicintai, tetapi ketika tidak dicintai akan merasa sedih. Seakan kebahagiaan ada ketika dicintai, dipeluk, dan dihargai orang lain. Tapi, ketika cinta, pelukan, dan penghargaan pupus, yang tersisa hanya puing-puing derita.

Pada mulanya, perlu dibangun kesadaran, kita tidak bisa mengarahkan agar orang mencintai kita, lebih tepatnya memposisikan diri yang dicintai. Bukankah suasana hati orang sering berubah, kadang sekarang begitu mencintai kita sepenuh hati, maka kita mendapatkan kebahagiaan yang full. Pada kesempatan lain, dia menunjukkan cinta yang setengah full, berdampak pada kebahagiaan yang juga setengah, dan bila dia tak lagi menunjukkan selera cinta, membuat kebahagiaan kita lenyap dan hilang, berganti derita.

Kita tak bisa mengarahkan mata angin cinta agar tetap mengarah pada kita, tetapi kita bisa mengarahkan diri sendiri untuk menyesuaikan dengan angin cinta itu. Kita tak bisa menuntut dan mengarahkan agar orang mencintai kita, tetapi kita bisa memilih untuk mencintai orang lain tanpa batas. Kita bisa merancang iklim cinta kita sendiri, mengapa kita tidak terus memancarkan cinta pada orang lain tanpa batas. Ketika kita mencintai orang lain, niscaya kita akan bahagia. Mengapa? Karena dalam cinta, kita hanya menemukan kebaikan dan kesejukan. Andaikan suatu saat, orang yang kita cintai membenci, mencaci, memfitnah kita, tentu tidak selayaknya mengurangi kualitas rasa cinta kita padanya. Karena cinta kita pada orang tersebut bukan karena dia mencintai kita, tetapi memang berangkat dari cinta kita padanya. Orang yang mencintai melampaui bentuk tubuh dan bentuk perbuatan. Dia selalu melihat fitrah suci yang tertanam dalam diri yang dicintai.

Makanya ketika mencintai sesuatu, tertanam dalam lubuk sanubari sikap sabar dan ikhlas. Sabar dalam menerima beragam ujian dalam cinta, ikhlas dengan apa pun yang dikorbankan, tidak pernah mengungkit-ungkit pemberian pada orang yang dicintai, yang bakal menghapus rasa cinta itu sendiri. Dia tidak melihat apapun dari yang dicintai, kecuali kebaikan. Bukankah ketika orang memikirkan kebaikan, yang ada hanya surga. Rasulullah bersabda, “Jujurlah, karena jujur menunjukkan pada kebaikan, dan kebaikan menunjukkan pada surga.”

Orang yang mencintai tak pernah berpikir apa yang diperoleh dari yang dicintai, tetapi apa yang bisa diberikan pada yang dicintai. Karena dia tak berharap apapun pada yang dicintai, andaikan dia mendapatkan senyum ketulusan, atau mendapatkan cacian maka bagi pencinta tidak ada bedanya. Mengapa? Karena fokusnya bukan pada sikap yang dicintai padanya, tetapi sikap dia pada orang yang dicintai. Makin sering dia memberi, maka dengan sendirinya akan tumbuh dan tumbuh rasa bahagia. Ia begitu tulus mencintai, karena baginya mencintai makhluk hanyalah saluran mengekspresikan cinta pada Allah. Karenanya sang pencinta tidak merasa disakiti, bahkan dia terus merasa bahagia. Cacian dan senyuman bagi sang pencinta, hanyalah cara orang yang dicintai menunjukkan perhatiannya pada kita. Ketika orang telah berhasil mencintai seperti itu, niscaya cinta bukan jalan derita, tetapi cinta adalah jalan menggapai kebahagiaan yang hakiki. Karena tujuan cinta kebahagiaan, maka perjalanan cinta pun bertabur bunga kebahagiaan.

Pesan cinta Rasulullah SAW bisa dijadikan acuan bagaimana agar bisa mencintai dengan focus pada kebaikan yang dicintai. Mencintai yang membuat kokoh, bukan karena orang yang dicintai, tetapi mencintai karena Allah. Mengapa mencintai karena Allah akan menjadi kokoh dan kuat? Ya karena Allah sandaran yang tidak pernah berubah dan sempurna. Ketika kita menyandarkan pada yang sempurna, maka semua pernak-pernik yang dialami dalam cinta sempurna datang dari Allah, dan disambut dengan cinta penuh bahagia. Ketika cinta telah disandarkan pada Allah, maka cinta itu akan terus terasa bahagia. Tetapi kalau disandarkan pada sesuatu selainnya, maka itu akan terasa rapuh, dan kebahagiaan dalam persahabatan tidak bakal bertahan lama. Mencintailah karena Allah, maka kebahagiaan tidak akan berhenti mengalir ke dalam hati kita.

Saatnya, kita belajar mencintai tanpa syarat pada apapun, ketika kita bisa mencintai tanpa syarat, bahkan kebahagiaan gratis terkirim ke dalam tangki hati kita. Ketika orang mencintai tanpa syarat, niscaya kebahagiaannya pun tanpa syarat. Ketika orang mencintai tanpa batas, sama kebahagiaannya pun tanpa batas. Makin luas cakupan cintamu, makin luas cakupan kebahagiaan di hatimu.


Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

Selasa, 16 Maret 2010

THE AWARENESS OF JOYOBOYO

Terang-gelap, untung-rugi, bertemu-berpisah, sehat-sakit dan lainnya merupakan cakram putaran dualisme kehidupan yang akan dihadapi setiap insan. Itulah yang disebut JOYOBOYO. Sejak awal perlu dipatrikan di lubuk kesadaran kita, bahwa kita tidak bisa bersikap status quo (kemapanan) dalam suatu keadaan. Ingin sehat terus, sehingga membenci sakit, ingin untung terus, dan selalu ingin menyingkirkan rugi, merangkul pertemuan, tetapi melemparkan perpisahan. Kedua sisi tersebut dihadapi dengan kesadaran bahwa disitu ada pengalaman yang begitu bermakna. Sementara kemapanan tidak bakal memberi warna pelajaran dan hikmah dalam kehidupan ini. Bukankah kita suka dengan pelangi yang berwarni-warni, harusnya kita juga suka dengan warna-warni peristiwa dan kenyataan yang mengecat kanvas kehidupan kita.

Namun demikian, kendati warna peristiwa yang membalut kehidupan beraneka ragam, kita tetap tertuju pada warna dasar kehidupan, yakni putih. Disinilah, makna dari ikhlas, sabar, bahkan syukur yang akan menorehkan warna terang bagi kehidupan kita. Itu artinya, dasar dari seluruh anugerah Allah adalah putih. Lekatkan mata pikiran kita untuk melihat titik putih tersebut, niscaya semua sisi yang negatif akan menyingkir dari hati kita.

Bagaikan pergelaran besar, pasti ada agenda yang mewarnai pergelaran tersebut. Dari pembukaan, hingga penutupan. Dari opening hingga closing. Andaikan opening dan closing telah diagendakan, maka muatan yang mengiringi keduanya pasti telah diagendakan dengan rapi dan teratur oleh sang perencana. Contoh pergelaran teater, Anda akan menyaksikan bagaimana plot cerita yang mewarnai drama teater tersebut, mungkin Anda melihat plot cerita yang diwarnai decak kebahagiaan, menari-nari penuh suka cita, bahkan disertai tertawa cekikikan. Namun, ada tahapan, kesedihan, suasana kelam, kehancuran yang tak terperihkan mewarnai pemandangan dalam teater tersebut. Begitulah cermin rangakaian agenda yang mengiringi kehidupan kita.

Di suatu kesempatan guru yang mulia berkata, “kelahiran tidak kita undang, dan kematian juga tidak kita pesan.” Kata tersebut menancap dalam kesadaran saya, “diantara kelahiran dan kematian ada kehidupan, harusnya menghadapi kehidupan dengan sikap tawakkal, dan menghadapi kematian dengan berserah diri,”lanjut beliau.

Ya, memang hanya orang yang tidak mengerti hakikat kelahiran dan kematian yang selalu didera dan dipenjara perasaan gelisah, resah, dan keluh kesah, karena menyandarkan kehidupan pada dirinya sendiri, tidak ada spirit penyerahan diri (surrender) di medan kesadarannya. Berbeda halnya, ketika orang telah memahami dan meresapi makna kelahiran dan kematian, maka ia selalu tersuluhi cahaya terang, bahwa di antara batas kelahiran dan kematian Allah telah menetapkan bagi kita masing-masing, kapan kita berada di momen kejayaan dan kapan terkapar dalam keruntuhan. Kejayaan dan keruntuhan suatu keadaan yang bersifat eksternal, yang keduanya bisa menyeret kita dalam kubang penderitaan atau menggiring ke istana kebahagiaan. Apa yang membuat kita tertelungkup dalam penjara derita dan bersuka cita dalam kursi bahagia (the happiness chair)? Tiada lain sikap kita sendiri.

Boleh jadi terkuak sebuah pertanyaan, benarkah kenyataan jaya-runtuh, sehat-sakit telah ditentukan? Anda bisa menelaah QS. Al-Hadid:22 “tiada bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lawh Mahfudz) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.”

Ayat tersebut mematrikan pesan, setiap kejadian dan peristiwa yang mewarnai hari-hari kita telah ditetapkan oleh Allah, kita tidak bisa mengelak ketika kejadian itu sudah hendak berkunjung, dan tidak bisa mendesak kala kejadian itu belum saatnya hadir. Semua telah dijadwal oleh Allah SWT. Kita bisa menelaah juga QS. Ali-Imran: 140 “…..Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapatkan pelajaran), dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir), dan supaya sebagian kami dijadikan gugur sebagai syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.”

“jika Anda berada di hari Rabu, Anda tidak bisa melompat ke hari Jumat, pun tidak bisa meloncat ke hari Senin,”jelas guru yang mulia. “padahal peristiwa dan kejadian menempel pada hari-hari itu, kalau kita tidak bisa mengelak dan menarik hari, pun tidak boleh mengelak dan menghindar dari kejadian peristiwa yang hadir,”lanjutnya. “kita hanya perlu mempersiapkan dengan sabar, bukan keluhan, karena mengeluh bukan sikap orang beriman, muslim saja tidak. Orang muslim itu bersikap sabar, mukmin bersikap ridha, orang muhsin bersikap syukur. Serendah-rendah sikap orang muslim adalah sabar, dan orang yang mengeluh ciri karakter orang kafir,” nasihat beliau.

Jadi, kita perlu mempersiapkan senjata batin untuk menghadapi kejadian dan peristiwa yang hadir tanpa diundang, sehingga semua kejadian itu bisa didaurulang menjadi kenyataan positif dalam batin, dan meningkatkan derajat kita di sisi Allah SWT. Kita dikunjungi musibah, maka respons dengan sikap sabar, ridha, bahkan tidak kehilangan rasa syukur. Ketika diapit kejayaan, pancarkan sikap sabar tanpa batas. Sikap tersebut terbungkus sebagai ibadah batin, ibadah batin inilah yang bisa melejitkan potensi ruhani manusia, dan mengantarkannya untuk menggapai maqam yang tak bisa dilalui dengan ibadah-ibadah lahir.

Mari kita merangkai kedamaian melalui awareness of Joyoboyo (kesadaran akan jaya-bahaya), dan memantulkan kedamaian itu pada sesama, dengan menebarkan kesadaran bahwa kehidupan ini adalah tugas untuk mengikuti jadwal Allah SWT yang didalamnya berisi JOYOBOYO, dan tak ada JOYOBOYO tersebut kecuali demi mengantarkan manusia ke dalam samudera kebahagiaan. Andaikan ada orang terus tersungkur dalam penderitaan, berarti ada kezaliman yang dilakukan pada dirinya sendiri, karena Allah tidak pernah berlaku dzalim pada hambaNya.


Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

MERENDA CINTA RASUL BERSAMA HABAIB

Cinta Rasul tidak boleh padam, karena ketika cinta pada Rasulullah SAW padam, maka gairah islam pun bakal redup, pada ujungnya kita tidak bakal mencecap kelezatan ruhani dalam menjalani agama. Ada orang yang tekun beribadah, tetapi karena tidak disertai energi cinta pada Rasulullah Muhammad SAW, niscaya ia tidak bisa merengkuh mutiara agama dari cangkangnya. Bahkan tak jarang ada orang yang dibelenggu oleh konflik yang muncul dari dalam dirinya sendiri, sehingga tidak bisa menjalin harmoni yang indah dengan diri dan sesama.

Suatu kisah yang amat menarik, ada orang yang tekun beribadah, bahkan dia mengklaim hidupnya dipandu al-Qur’an dan Hadist, hanya saja kenyataan hidup dirasakan tetangganya tidak pernah memancar kedamaian darinya, terbukti dia tidak pernah bisa mengambil hati tetangga. Dia terkenal oversensorship terhadap ajaran-ajaran yang dikatakan tidak selaras dan al-Qur’an dan as-Sunnah. Namun, cara dakwah yang dilakukan tidak mengundang simpati, malahan menuai kontroversi dan kebencian dari masyarakat sekitar. Karena dia tidak bisa memoles dan menikmati suasana kondusif, dia sering pindah dari satu perumahan ke perumahan yang lain, dari satu kota ke kota yang lain. Mengapa mereka mengalami konflik batin, ya karena tidak pernah tersambung dalam jalinan cinta pada Rasulullah Muhammad SAW.

Cinta Rasul menjadi modalitas untuk bisa menumbuhkan cinta dalam diri setiap orang, yang kemudian merambat pada sesama dan kehidupan. Bagaimana bisa memekarkan bunga cinta pada Rasulullah Muhammad SAW dalam hati? Saya diajak teman untuk menghadiri maulid yang digelar para habaib, kebetulan maulid diselenggarakan di rumah seorang habib yang ceramah-ceramahnya menggetarkan jiwa, meruntuhkan kebekuan iman, dan membuka gerbang kesadaran baru tentang kecintaan pada Rasul yang Agung.

Saya berangkat dari kos ke tempat penyelenggaraan acara, tepatnya di Ampel 30 menit sebelum maghrib. Saya sampai disana pas adzan maghrib, sehingga bisa mengikuti shalat berjamaah di masjid Sunan Ampel. Seusai shalat sunah ba’diyah, saya langsung menuju tempat penyelenggaraan acara, saya bertemu dengan habib Husein, putera Habib Najib. Melihat penampilan busananya saya mengingatkan Habib di Malang, yang meniru gurunya yang agung Hb. Umar bin Hafidz. Mata saya tertuju pada sosok Hb. Najib yang begitu mempesona dengan kesederhanaan yang melekat pada penampilannya.

Beberapa menit sampai di tempat tujuan, acara langsung dimulai diawali dengan tahlil, disertai dengan pembacaan manaqib beberapa sosok mulia untuk dikirimi doa. Masuk acara shalawat Maulid yang diiringi dengan rebana. Sungguh, saya mendapatkan pantulan Rasulullah SAW dari para keturunan yang disucikan. Para jemaah yang hadir begitu khusyuk mengikuti lantunan shalawat yang dibawakan dengan lagu yang lama, mengikuti irama yang telah dibagikan para salafus saleh. Memang lagu-lagu lama lebih mengena dan menyusup ke jantung, ketimbang lagu yang dikreasi dengan sentuhan-sentuhan modern. Bertemu dengan habaib saat memuja-memuja Rasulullah SAW meresapkan kebahagiaan tersendiri bagi diri ini. Tercermin dari wajah yang berseri-seri dan kelembutannya dalam berdakwah dan mengajak orang, tak ada wajah sangar yang saya lihat dari habaib yang hadir. Mereka telah disuluh dengan cahaya kelembutan Rasul, karena itu dakwah yang dilakukan mereka lebih mengedepankan akhlak luhur dan sikap yang punya daya interesting.

Pada saat acara itu, saya membayangkan akan mendapatkan sentuhan motivasional cinta Rasul dari Hb. Najib, namun yang dipersilahkan untuk memberikan materi ceramah saat itu, Hb. Zainal dari Pasuruan. Kalau ceramah Hb. Najib tidak pernah mengundang gelak tawa, tetapi Hb. Zainal ceramahnya kerap diselipi guyonan yang tak jarang membuat jamaah tertawa. Memang, setiap jamaah punya kecenderung masing-masing. Ada yang mendahulukan isi daripada kemasan, mereka membutuhkan sentuhan-sentuhan ceramah yang serius tapi membahana dengan motivasi. Ada banyak jemaah yang suka dengan ceramah yang diselipi goyunan. Namun, ketika melihat wajah Habaib saya merasa makin masuk dalam jantung kecintaan pada Rasulullah Muhammad SAW.

Seusai acara ceramah, acara tersebut diwarnai dengan penyelenggaraan akad nikah. Berikutnya ada acara makan bersama. Saya mengira jemaah yang hadir hanya sedikit, tetapi ternyata meluber hingga ke jalan raya. Mungkin ada ratusan atau mungkin mendekati seribu orang di acara cinta Rasul, kendati acara dikemas dengan begitu sederhana, tetapi dibalik kesederhanaan menyimpan pesona Rasul yang Agung. Hal itu baru saya sadari, pada saat panitia membagikan makanan yang dihidangkan dengan baki. Setiap baki terdiri nasi, lauk-pauk, dan buah.

Melihat begitu lamanya pembagian, saya meyakini jemaah mendekati seribu orang. Dari momen ini, saya tidak hanya diperkenalkan tentang cinta pada Rasulullah Muhammad SAW, tetapi menyibak tirai keajaiban keturunan Rasulullah yang tidak pernah lepas dari busana akhlak yang dipergunakan beliau SAW, salah satunya dermawan. Kedermawanan Hb. Najib terasa dalam acara tersebut, dan beliau benar-benar berusaha bagaimana bisa memuaskan jamaah yang hadir. Kebanyakan jamaah yang hadir tanpa mendapatkan undangan langsung, hanya mungkin melihat woro-woro yang tertempel di dinding atau papan pengumuman. Tapi, alhamdulillah makanan yang dihidangkan cukup. “kendati jemaah yang hadir begitu banyak, saya tak pernah mendapati persediaan konsumsi kurang, sehingga ada yang tidak makan,”kata teman saya

Cermin akhlak Rasulullah SAW sebagian bisa dilihat dari akhlak yang terlukis dari keturunan beliau. Dan kalau kita mencintai Rasulullah SAW, maka kita harus mencintai keturunannya. Karena dari keturunan Rasulullah, ilmu hikmah mengalir dengan deras yang membikin orang menemukan keindahan agama, tanpa harus merasa kesulitan. Bergaul dengan keturunan Rasulullah SAW, kita bakal mendapati agama yang humanis, mengedepankan akhlak yang agung, tak pernah sedikit pun menyalahkan apalagi mencemooh orang lain. Rasa cinta pada beliau SAW makin bergelora ketika melihat pantulan akhlak Rasulullah yang terpancar pada pribadi-pribadi Habaib. Saya melihat senyum indah melulu menghiasi wajah mereka. Ada keguyupan dan kebersatuan dalam komunitas mereka, selain mereka dengan suka cita berbaur bersama orang-orang di luar komunitas habaib. Ini membuktikan, demi bisa menggelar dakwah lebih luas diharuskan berbaur dengan masyarakat yang berbeda latar belakang tradisi, tetapi tetap mengacu pada cara-cara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Islam dicitrakan sebagai agama inklusif, terbuka terhadap tradisi dan latar belakang apapun. Mengapa demikian? Karena islam digelar oleh utusan yang berprinsip rahmatal lil ‘alamin.

Mengikuti maulid tidak sekadar bisa mengejawantahkan rasa kerinduan dan cinta pada Rasulullah Muhammad SAW lewat pembacaan shalawat bersama, tetapi bisa membangun jalinan ukhuwah atau pergaulan dengan orang yang berasal dari trah yang mulia, trah Rasulullah Muhammad SAW. Bukankah yang ditinggalkan Nabi ada tiga, yakni al-Qur’an, Hadist, dan keturunan beliau yang suci. Al-Qur’an dan hadist sebuah konsep agama yang mati, tetapi keturunan beliau yang dipasoki nilai-nilai agama tetap hidup, dan mengikuti jalan dakwah yang pernah dirintis beliau Saw. Semoga kita makin bisa meneguhkan cinta pada Rasulullah Muhammad SAW dengan cara bershalawat dan diperkenankan bergaul dengan keturunan Nabi Saw yang suci.

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

KERJAKU, BEBANKU

“tumpukan dan tekanan kerja membuat kepala jadi judeg,”kata saudaraku yang sudah setahun bergelut di karir finansial. Dia mengutarakan sekian problem kerja yang membelit dirinya. Sehingga dari waktu ke waktu, terasa beban yang dipanggul kian berat. Kendati demikian, karirnya begitu cepat menanjak, dari sales jalanan, kini dipercaya sebagai supervisor hanya dalam tenggat waktu setahun. Perihal finansial sudah tidak menjadi kerisauannya sebagaimana halnya pada saat dia baru lulus kuliah. Secara finansial dia telah merasa aman, apalagi belum menikah, sehingga kebutuhan tidak terlampau banyak. Tetapi diam-diam, dia merasa ada suatu di dalam dirinya yang telah dirampas oleh perusahaan. Apa itu? Itulah kemerdekaan intelektual, psikologis, terlebih kemerdekaan ruhani yang menjadi pijakan dasar orang merengkuh kebahagiaan sejati.

Di tengah kegundahannya itu, ia bersilaturrahim pada saya, seraya berharap bisa mencurahkan segenap kejudegan dan menimba pencerahan, sehingga gumpulan kesedihan yang telah membetot hatinya, mencair, dan dia bisa kembali menemukan makna hidup yang mencerahkan dan membahagiakan.

“tekanan yang kurasakan makin berat. Tekanan dari manager, dan juga dari anak buah yang kurang bisa bekerja secara cepat. Dengan berbagai benturan itu, saya kadang jengkel sendiri, dan bahkan akhirnya pasrah, tidak apa-apa kalau saya keluar dari pekerjaan ini. Sebelumnya saya sempat ditawarin oleh pihak direksi, untuk menjadi analis, tetapi saya dalam keadaan gundah, menolak tawaran tersebut, dan memilih fokus mengelola pekerjaan yang kutangani. Saya tidak ingin meninggalkan pekerjaan yang masih berpelepotan beragam masalah. Setiap hari saya bermain dengan strategi, perencanaan, dan target-target, kadang membuat pikiran jadi buntu,”tandasnya.

***

Problem seperti itu tidak sekadar dialami oleh saudara saya tersebut, bisa saja dialami oleh setiap karyawan yang hari-harinya dipacu oleh target dan rencana yang moving. Semuanya menggunakan pikiran rasional, dan jarang mendapatkan sentuhan “the power of spiritual.” Ketika kita terus berjibaku dengan persoalan harian yang meletup dari pikiran-pikiran luar, dan tidak mendidik hati agar bisa memiliki mental terbaik, niscaya pekerjaan akan menjadi beban, bahkan racun yang akan mematikan sisi ruhani. Ketika ruhani mati, atau setidaknya sakit, niscaya akan menguap kehampaan, perasaan kering, gersang, dan nurani jadi tumpul untuk menggali makna terindah dari setiap momen yang terlintas.

Saya sempat tidak percaya dengan penelitian, bahwa ada sufi di korporat, karena korporat yang telah menjadikan kapital berikut mengumpulkan modal material sebagai tindakan sehari-hari, karenanya sulit menggapai sufi yang sejati. Kendati tak bisa dipungkiri, ada juga sosok sufi yang dilahirkan dari sebuah komunitas di perusahaan. Ketika perusahaan, dan orang yang berada di perusahaan hanya terpancing untuk mencapai keamanan dan kestabilan keuangan, niscaya kesucian ruhani sulit untuk bisa dirangkai secara efektif. Jarang sekali kita melihat perusahaan yang bisa melahirkan sufi-sufi handal, karena cara kerjanya di-create kental orientasi materialistik.

Andaikan ada gairah memunculkan nilai dan semangat spiritual dalam perusahaan, pada akhirnya diarahkan untuk bisa meningkatkan pendapatan yang lebih besar. Kita bisa bercermin pada pelayanan perbankan, pelayanannya begitu anggun, senyum tersimpul indah menghiasi wajah setiap teller, costumer service, dan bahkan security yang menyambut para nasabah. Hanya saja, dari wajah batinnya terpancar bahwa sikap dan penampilan mereka sepertinya tidak muncul dari kejernihan hatinya, tetapi diformat oleh sistem yang dikembangkan perusahaan. Mereka bersikap indah, interesting, elegan selaras dengan tuntutan perusahaan, yang bertujuan menarik pelanggan agar betah bersama pelayanannya, dan pada akhirnya bisa meningkatkan aggregasi pendapatan.

Setiap perilaku, sikap, dan performance yang pada ujungnya berharap pada terpenuhi materi bukanlah spiritual. Kendati disebut spiritualitas itu bersifat spiritual semu (pseudo-spiritual). Karena bagi orang yang berorientasi spiritualitas, maka duniawi dengan segenap aksesorisnya hanyalah jalan, menuju kejayaan ruhani, berujung pada upaya mendulang tambang kebahagiaan yang begitu berharga yang diproduksi dari dalam dirinya sendiri. Mereka bahagia, karena telah diberi kemampuan oleh Allah untuk mewujudkan panggilan jiwa yang terus menggedor batinnya. Ada orang yang begitu bahagia, setelah melalui kekayaan yang didapatkan, dia bisa memberi lebih banyak lagi pada orang yang membutuhkan, bisa membuat yayasan kusta yang diperuntukkan bagi orang yang terjangkit kusta. Mereka bahagia bukan karena kekayaan itu, tetapi karena telah bisa memenuhi panggilan jiwanya untuk bisa membantu orang yang membutuhkan dengan panduan hatinya yang suci.

Pekerjaan menjadi beban, dan menjadi lahan yang begitu menarik, tidak bergantung pada perolehannya, tetapi misi atau prinsip yang tertanam dalam pekerjaan tersebut. Ketika misi yang tertanam mulia dan indah, maka kerja dan seluruh prosesnya terasa indah. Seperti orang hendak rekreasi sebuah tempat yang begitu indah nan eksotis, tentu saja tidak ada cemberut yang menjelma dari wajahnya, bahkan senyum terus disertai gurauan kecil mengiringi perjalanan tersebut. Apalagi ketika telah sampai pada tujuan, maka kebahagiaan itu seperti telah menyatu ke dalam hatinya. Atau ketika orang hendak berkunjung pada sang kekasih, sebelum tiba di rumah sang pujaan hati, masih hendak berangkat atau berada dalam perjalanan menujunya, sepertinya simfoni kebahagiaan terus mengalun indah dari hati ini, bahkan ketika dalam perjalanan itu diwarnai siulan, nyanyian merdu yang melukiskan suasana hati yang indah dan penuh bahagia, bahkan telah membayangkan momen indah yang bakal terjadi dalam persuaan dengan sang kekasih.

Ketika orang dipasoki nilai-nilai ruhani otentik dalam hatinya, maka dia akan selalu meresapi, menghayati, dan berpelukan dengan kebahagiaan. Dia bisa merasakan pantulan kristal-kristal kebahagiaan memancar dari seluruh sudut kehidupannya. Karena memang, hatinya telah dihiasi taman yang indah, dia tidak terpengaruh dengan kotoran yang ada di luar dirinya, karena dia telah merasakan taman indah yang tak bakal terganggu oleh siapapun, kecuali dia sendiri yang mengizinkan untuk diganggu. Karena dia telah punya alam hati yang bertatahkan taman indah, dia tidak sekadar menikmati kebahagiaan, tetapi berusaha menebarkan dan membagikan kebahagiaan itu pada lingkungan sekitarnya. Dengan menatapnya, banyak orang yang mengalami kegersangan spiritual, tiba-tiba terasa mendapatkan hujan spiritual dari wajahnya sehingga kegersangan itu berakhir, berikut bisa menumbuhkan bibit-bibit kebaikan yang bersemi dalam dirinya.

Bagi orang sudah berpelukan dengan kedamaian, bahkan benturan, intrik, dan taktik yang terjadi dalam perusahaan tidak pernah bisa merampas kebahagiaan yang telah berdiam dalam dirinya. Bahkan seluruh suasana gelap itu akan menjadi terang dalam sudut pandangnya, bahkan mencerahkan. Dia terampil mengelola suasana yang semberawut menjadi suasana yang rapi dan melahirkan aneka hikmah. Sikap dan perilakunya sering membawa cahaya, dan mengilhami orang lain untuk berbuat yang terbaik. Tindakan dan sikap hidupnya lebih bernas dampaknya ketimbang kata-katanya. Karena hatinya telah ditumbuhi sakinah, maka dalam kondisi apapun dia selalu berada dalam keadaan sakinah, tak pernah terusik sedikit pun. Bekerja pun menjadi aktivitas yang enjoy, karena bekerja dipandang menjadi instrumen untuk mendapatkan kebahagiaan, juga membagi kebahagiaan yang didambakan oleh setiap insan.


Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya