Senin, 16 Agustus 2010
MARAH
Puasa mendidik upaya pengendalian hawa nafsu, baik yang berbentuk nafsu wadhab (keserakahan), atau nafsu syahwat. Betapa banyak orang berhasil mengendalikan dan mengontrol orang lain, tetapi gagal mengontrol dirinya sendiri. Diam-diam mengalir kebanggaan di hati kala berhasil melumpuhkan atau menguasai orang lain dengan kekuatan hujah atau kekuasaan formalnya. Tetapi, dia sendiri mengalami kerapuhan batin, karena kerap mengalami kekalahan dengan dirinya sendiri.
Mungkin ada yang bangga ketika orang bisa memarahi bawahannya, dan bahkan merasa menang sehingga orang mengikuti apa yang diperintahkan dengan nada marah tersebut. Padahal, kalau ditelusuri lebih mengkristal, sesungguhnya orang marah telah mengalami cedera batin, mengapa demikian? Karena letupan kemarahan itu bukan berasal dari hati nurani yang lembut bercahaya, namun menyembur dari hawa nafsu yang selalu menggerakkan manusia pada keburukan.
Ada laki-laki memohon pada Rasulullah SAW, “nasihatilah Aku,” katanya. Rasulullah SAW bersabda, “janganlah kau marah!, diulang berkali-kali. Beliau bersabda,”Janganlah kau marah.” (HR. Bukhari).
Memetik sabda Nabi Agung tersebut, betapa posisi kedewasaan ruhani seseorang terlihat dari kemampuannya mengendalikan kemarahan yang kapan saja bisa meledak. Jika orang belum bisa mengendalikan kemarahan, artinya gampang menebar kemarahan dimana-mana, berarti dia belum menggapai kedewasaan secara ruhani. Bukankah sikap marah berasal dari karena terbatasnya pikiran mencari jalan keluar terbaik, yang bisa menyentuh orang lain. Marah sebagai jalan yang kerap ditempuh orang-orang dangkal, lantaran tak bisa menyampaikan hujah yang bisa memantik kesadaran bagi orang lain.
Kala manusia gampang marah, niscaya tidak menghiasi batinnya dengan kelembutan, malahan jiwa terus ditumbuhi kekasaran dan kemeranggasan. Ketika jiwa kasar dan angkuh telah tumbuh di lahan batin manusia, niscaya dia tidak bisa mencerap spirit keindahan dan kebahagiaan hakiki yang tersedia dalam batin manusia. Bila orang punya jiwa kasar, dia tidak bisa merespons sisi kelembutan yang melekat pada setiap orang. Bukankah hanya yang berjiwa kasar yang selalu bertemu dan menyapa kekasaran, dan jiwa lembut hanya bisa menangkap dimensi kelembutan yang tumbuh dari lubuk kedalaman dirinya. Orang terjebak dalam kemarahan demi kemarahan, sejatinya dia telah ditaklukkan dan dikendalikan kekuatan nafsu yang luar biasa.
Apa saja bahaya yang akan menjangkiti hati orang yang punya kebiasaan marah? Marah adalah kekuatan api, yang bisa membakar batin manusia sendiri, dan menjulurkan kebakaran hingga keluar dirinya. Kala orang yang dimarahi punya kekuatan redam dan sejuk dalam memadamkan api kemarahan, api kemarahan itu tidak bisa membakar orang tersebut. Namun, andai orang yang dijadikan obyek kemarahan tersebut tidak memiliki kekuatan air yang sejuk, maka akan mudah dilalap bakaran api kemarahan tersebut, menjelma pada perselisihan dan permusuhan yang amat sengit.
Ketahuilah orang yang dadanya selalu dibakar kemarahan, niscaya tidak bisa menemukan ketenangan. Bagaikan orang yang tersekap di rumah yang sempit dan panas, dia akan selalu didera kegelisahan, kesesahan, dan tidak pernah bisa istirahat dalam ketenangan. Siapa yang kerasan bermukim di rumah yang panas, apalagi rentan mengalami kebakaran yang bisa melalap seisi rumah, sehingga orang hanya melihat kegelapan di rumah “hati” kebakaran tersebut. Padahal pikiran dan hati yang gelap itulah yang kerap menggerakkan manusia melakukan kekerasan dan bahkan pembunuhan.
Adalah hidup dua keluarga bertetangga dengan strata ekonomi yang berbeda, satunya seorang pengusaha yang berhasil mengelola bisnisnya secara cemerlang, dia memiliki mesin yang bisa menernak uang secara produktif. Sebelahnya, hidup seorang pegawai yang punya prestise hidup luar biasa. Ikon pegawai menjadi kebanggaan bagi orang ini, tetapi kehidupan ekonominya biasa-biasa saja, tak bisa mengejar kesejahteraan yang telah didulang sang pengusaha tersebut. Merasakan realitas hidup yang kontras tersebut, membuat hati si pegawai ini mengerut.
Kerutan-kerutannya itu menggumpal membikin hati makin kasar, sehingga timbul kedengkian, kemarahan, bahkan dendam dengan melejitnya kesuksesan yang diperoleh pengusaha tersebut. Demi meluapkan kemarahan tersebut, suatu ketika keluarga dari pengusaha itu lewat ditepi jalan, dengan kalap, si pegawai menabrakkan sepedanya ke sang nenek, beberapa menit nenek yang ditubruk tersebut langsung tewas. Demikianlah hasilnya kalau kemarahan membimbingnya menjadi dendam kesumat yang telah menjadi raja dalam dirinya, hanya dengan sedikit pancingan api, maka api yang lebih besar langsung melalap seluruh bangunan. Memang ketika kacamata manusia sudah gelap, maka dia akan terus tertipu dan ditipu oleh keadaan, bahkan menganggap seluruh keadaan hanya kegelapan tanpa cahaya.
Kala orang dijangkiti kemarahan, dia tidak bisa melihat cahaya rahmat Allah, yang ada hanya kutukan yang menggelapkan jiwanya sendiri. Memang, marah melahirkan Naar (api), dan mengendalikan kemarahan akan bisa mengelola Naar (api) menjadi Nuur (cahaya). Kita sekarang berusaha mengelola potensi api menjadi cahaya. Bagaimana caranya bisa mengendalikan medan hati agar tak tersentuh kemarahan yang tak terkontrol.
Pertama, memproduksi cahaya dalam diri. Agar api melenyap dari dalam kesadaran kita, maka kita harus banyak memproduksi cahaya. Bagaimana cara memproduksi cahaya? Sering mempraktikkan zikirullah. Bukankah zikir menjelmakan cahaya. Setiap cahaya selalu memendarkan keteduhan dan ketenangan setiap jiwa. Bukankah hanya orang yang sering berzikir yang bakal bisa menjaring ketenangan dalam hidupnya, yang berarti tidak gampang terbakar kemarahan. Makanya, kita bisa menemukan orang yang ahli zikir itu selalu berada dalam keteduhan, tidak sering menyemburkan “rasa panas” pada lingkungan sekitarnya.
Lho, kok ada orang yang sudah terbiasa berzikir, masih kerap dijangkiti energi marah, berarti belum benar-benar mengkristalisasi zikir hingga ke relung hati yang dalam. Zikir hanya menjadi ritual yang terungkap lewat lisan, tidak terpatri hingga ke batin yang lembut. Kendati, demikian kita terus mempratikkan zikir dari lisan hingga dalam bentuk kehadiran hati (hudhuril qolbi). Ketika zikir telah memendari hati, insya Allah yang memenuhi ruang batin hanya kelembutan, tanpa kemarahan. Kendati kemarahan itu meletup, pasti masih berada dalam kendali hati yang bersih.
Kedua, mencari tempat bercermin yang lebih rendah dalam hal duniawi. Marah berkunjung karena kita sering bertemu dengan orang yang kuat, yang gampang menebar dan melemparkan bola api kemarahan dimana-mana. Bayangkan, sang majikan begitu gampang melemparkan marah pada karyawan atau pelayannya. Mengapa mereka gampang marah, karena menganggapi si karyawan sebagai yang butuh dan bergantung padanya. Kita akan mudah melemparkan kemarahan jika menganggap orang lain sebagai bawahan kita. Lebih daripada itu, mungkin kita sering bergaul dengan orang elite yang turut menyumbang kegersangan hati. Karena itu, perlu kiranya membangun jalinan kasih dengan orang-orang lebih rendah secara duniawi, seraya berharap bisa melembutkan hati. Kala hati sudah lembut, maka ekspresi yang keluar memantulkan cahaya. Bergaul dengan orang yang bermukim di tepi jalan, sambil berjualan, tanpa pernah kehilangan senyum yang menghias bibirnya.
Bertemu dengan orang-orang yang berada di bawah kita dalam tataran duniawi akan menumbuhkan bibit kelembutan yang berada dalam hati.
Sekarang, kita terus mengasah kelembutan dalam diri, sembari perlahan-lahan mengikis potensi marah yang kerap menyeruak dari dalam hati.
Khalili Anwar, Penutur dari jalan Cahaya
THE POWER OF SURRENDER
Ikhlas adalah energi yang tak terlihat, namun memberi sumbangan besar bagi kehidupan. Seperti udara, tidak terlihat, tapi tak perannya tidak boleh diremehkan dalam memelihara kehidupan. Bayangkan, andai orang tidak menghirup udara beberapa menit saja, apa kiranya yang akan terjadi? Ikhlas itu termasuk udaranya ibadah. Tanpa keikhlasan mendalam, ibadah tak lebih sebagai karangka tanpa ruh. Ada gadis cantik rupawan, hanya saja nyawanya sudah terpisah dari raga. Kendati gadis itu begitu rupawan, ia tak menebar daya tarik bagi siapapun, karena tubuhnya yang elok telah berubah menjadi jenazah yang malah mengingatkan manusia pada kematian. Ketika gadis itu hidup bisa jadi memantik kesegaran hawa nafsu birahi, tetapi ketika kematian telah merenggut nyawanya, niscaya memutus warna-warni keinginan hawa nafsu.
Kalau demikian agar bisa memikat daya tarik batin setiap manusia, maka hiasilah batin kita dengan keikhlasan mendalam, sehingga setiap apa yang diungkapkan melahirkan inspirasi dan hikmah mendalam. Udara tidak mau kelihatan, tetapi akan selalu dirasakan kehadirannya. Kehadiran orang ikhlas menghadirkan pencerahan bagi kemanusiaan. Boleh jadi perkataan yang disampaikan amat sederhana, tetapi karena dibarengi energi keikhlasan, akan terasa berdampak di hati manusia. Kata-kata itu berdampak karena bukan berupa kata bangkai, tetapi kata yang disertai makna yang dalam dan menjulang.
Kata-kata yang terlahir dari keyakinan yang kuat dan teguh akan memberikan keteguhan bagi siapapun yang mendengarkan. Berbeda halnya, perkataan yang berhiaskan kata mutiara, namun karena tidak berasal dan ikhlas, maka perkataan yang berbunga-bunga dan serat puitis itu tidak bisa menyentuh sisi terdalam pendengar, sehingga tidak bisa memberikan bekas apapun terhadap mereka. Kata masuk dari telinga kanan-keluar dari telinga kanan, masuk dari telinga kiri-keluar dari telinga kiri.
Mengapa perkataan, perbuatan, dan sikap hidup orang ikhlas bisa memancarkan makna yang indah pada manusia? Karena orang ikhlas selalu mendulang pertolongan dari Allah. Kala orang menjadikan Allah satu-satunya sebagai tujuan, niscaya Allah yang akan membimbing untuk bisa sampai pada tujuan tersebut. Dari diri menuju Allah, bahkan dari Allah menuju Allah. Dia telah menerabas batas-batas “rapuh” yang mewarnai manusia. Orang ikhlas amat kuat, karena selalu bersama dengan Yang Maha Kuat. Segala kekurangan usahanya akan dicukupi Allah, karena setiap aktivitas yang mendapati sentuhan dari Allah langsung, niscaya akan memancarkan bekas kemuliaan yang terus bersinar dimana-mana.
Bayangkan, bagaimana dampak kekuatan ikhlas yang dibuktikan para wali dalam menebar syiar agama. Kita mengetahui, kemuliaan mereka melampaui ruang dan waktu yang dijejakinya, bertahun-tahun lamanya, kesan indah dan kemuliaan ihwal mereka masih tertancap indah dalam memori bersama masyarakat. Mengapa mereka masih punya nama yang masyhur di dalam hati masyarakat, karena mereka sendiri berjuang dengan spirit ikhlas. Perbuatan, perkataan, dan sikap mereka didasari semangat ikhlas dan berarti keyakinan yang kuat pada Allah SWT. Bukankah setiap keyakinan akan memancarkan pengaruh melampaui batas pikiran manusia, dan bahkan akan kekal selamanya, karena bersandarkan pada Yang Maha Kekal.
Bagi Anda yang hendak merasakan indah kekekalan energi, maka bersandarlah pada Yang Maha Kekal, dan janganlah sedikit pun bersandar pada suatu yang semu dan sementara. Siapapun yang bersandar pada yang semu, dia hanya merasakan sepah-sepah kesemuan. Hari ini dia mendapatkan pujian yang semarak, dia bisa menghimpun sekian pujian dari masyarakat, tetapi pada saatnya dia mendapati segala pujian itu seperti tanaman yang menghijau, tetapi pada saatnya mengalami kekeringan dan akhirnya diterpa angin.
Habis.. segala hal yang berasal dari sesuatu yang semu dan sementara, dan hanya mencari muka manusia, maka itu tidak akan diperoleh secara terus-menerus. Bisa jadi orang yang amat doyan memuja kamu, kini memilih untuk mencacimu. Bukankah hati cuaca hati manusia sering berubah-ubah, lalu mengapa kita selalu menyandarkan diri pada suatu yang berubah-ubah. Kita tidak bakal menemukan ketenangan pada hal yang berubah-ubah, perlu mencari sumber yang tak pernah berubah, kekal, dan universal, sehingga kita bisa merasakan kebahagiaan hakiki dan abadi dalam hidup ini.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Kalau demikian agar bisa memikat daya tarik batin setiap manusia, maka hiasilah batin kita dengan keikhlasan mendalam, sehingga setiap apa yang diungkapkan melahirkan inspirasi dan hikmah mendalam. Udara tidak mau kelihatan, tetapi akan selalu dirasakan kehadirannya. Kehadiran orang ikhlas menghadirkan pencerahan bagi kemanusiaan. Boleh jadi perkataan yang disampaikan amat sederhana, tetapi karena dibarengi energi keikhlasan, akan terasa berdampak di hati manusia. Kata-kata itu berdampak karena bukan berupa kata bangkai, tetapi kata yang disertai makna yang dalam dan menjulang.
Kata-kata yang terlahir dari keyakinan yang kuat dan teguh akan memberikan keteguhan bagi siapapun yang mendengarkan. Berbeda halnya, perkataan yang berhiaskan kata mutiara, namun karena tidak berasal dan ikhlas, maka perkataan yang berbunga-bunga dan serat puitis itu tidak bisa menyentuh sisi terdalam pendengar, sehingga tidak bisa memberikan bekas apapun terhadap mereka. Kata masuk dari telinga kanan-keluar dari telinga kanan, masuk dari telinga kiri-keluar dari telinga kiri.
Mengapa perkataan, perbuatan, dan sikap hidup orang ikhlas bisa memancarkan makna yang indah pada manusia? Karena orang ikhlas selalu mendulang pertolongan dari Allah. Kala orang menjadikan Allah satu-satunya sebagai tujuan, niscaya Allah yang akan membimbing untuk bisa sampai pada tujuan tersebut. Dari diri menuju Allah, bahkan dari Allah menuju Allah. Dia telah menerabas batas-batas “rapuh” yang mewarnai manusia. Orang ikhlas amat kuat, karena selalu bersama dengan Yang Maha Kuat. Segala kekurangan usahanya akan dicukupi Allah, karena setiap aktivitas yang mendapati sentuhan dari Allah langsung, niscaya akan memancarkan bekas kemuliaan yang terus bersinar dimana-mana.
Bayangkan, bagaimana dampak kekuatan ikhlas yang dibuktikan para wali dalam menebar syiar agama. Kita mengetahui, kemuliaan mereka melampaui ruang dan waktu yang dijejakinya, bertahun-tahun lamanya, kesan indah dan kemuliaan ihwal mereka masih tertancap indah dalam memori bersama masyarakat. Mengapa mereka masih punya nama yang masyhur di dalam hati masyarakat, karena mereka sendiri berjuang dengan spirit ikhlas. Perbuatan, perkataan, dan sikap mereka didasari semangat ikhlas dan berarti keyakinan yang kuat pada Allah SWT. Bukankah setiap keyakinan akan memancarkan pengaruh melampaui batas pikiran manusia, dan bahkan akan kekal selamanya, karena bersandarkan pada Yang Maha Kekal.
Bagi Anda yang hendak merasakan indah kekekalan energi, maka bersandarlah pada Yang Maha Kekal, dan janganlah sedikit pun bersandar pada suatu yang semu dan sementara. Siapapun yang bersandar pada yang semu, dia hanya merasakan sepah-sepah kesemuan. Hari ini dia mendapatkan pujian yang semarak, dia bisa menghimpun sekian pujian dari masyarakat, tetapi pada saatnya dia mendapati segala pujian itu seperti tanaman yang menghijau, tetapi pada saatnya mengalami kekeringan dan akhirnya diterpa angin.
Habis.. segala hal yang berasal dari sesuatu yang semu dan sementara, dan hanya mencari muka manusia, maka itu tidak akan diperoleh secara terus-menerus. Bisa jadi orang yang amat doyan memuja kamu, kini memilih untuk mencacimu. Bukankah hati cuaca hati manusia sering berubah-ubah, lalu mengapa kita selalu menyandarkan diri pada suatu yang berubah-ubah. Kita tidak bakal menemukan ketenangan pada hal yang berubah-ubah, perlu mencari sumber yang tak pernah berubah, kekal, dan universal, sehingga kita bisa merasakan kebahagiaan hakiki dan abadi dalam hidup ini.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
MELUASKAN KESABARAN
Kesabaran membentuk batin menjadi lebih kuat, tangguh, dan perkasa. Bagi yang kesabarannya terbatas, berarti dia telah membatasi rahmat Allah. Jika Anda hendak menggapai rahmat Allah yang tak terbatas, maka hadapilah dengan kesabaran akan setiap ketentuan Allah yang mengalir di sungai kehidupan Anda tanpa batas. Karena ternyata kejayaan itu diperoleh dengan kesabaran prima.
Kita bisa berkaca pada orang sukses yang telah menggapai kedigdayaan di bidang duniawi dan spiritual, mereka telah menjadikan sabar sebagai menu harian bagi ruhaninya. Sabar memuat vitamin yang amat luar biasa bagi batin ini. Tetapi bagi orang yang belum bisa bersabar dengan kenyataan, sembari bersikap mengeluh, maka dia telah menyediakan diri sebagai korban dari setiap peristiwa dan kenyataan yang hadir.
Setiap orang mendambakan kebahagiaan, berarti mendamba rahmat dari Allah SWT. Rahmat adalah kekayaan yang tergenggam di tangan Allah, dan hanya diperoleh orang yang mendapati izin dari Allah SWT. Kendati demikian, orang bisa mencapai hidup dalam liputan rahmat, manakala dia memenuhi dadanya dengan spirit sabar. Itu artinya, sabar sebagai pasangan dari rahmat Allah. Kalau kita ingin dihampiri rahmat Allah, maka sediakan hati untuk bersabar akan segala kenyataan-kenyataan yang menyembul di dataran kehidupan kita. Bagaimana bisa bersabar?
Pertama, menyadari setiap kenyataan sebagai sebuah proses yang harus dijalani. Manusia tidak bisa merubah keadaan dan kenyataan yang ada di luar dirinya, sebagaimana orang tidak bisa merubah rotasi matahari. Saatnya matahari terbit, kita tak bisa memaksa agar tenggelam. Ketika matahari mencapai puncak tengah teriknya, kita tak bisa meminta agar dia terbit dari ufuk timur. Apalagi saat matahari tenggelam kita memaksa agar tetap bersinar.
Kenyataan dan peristiwa di hadapan kita tidak bisa dirubah, kita hanya bisa mengubah keadaan batin kita. Keadaan batin yang positif akan memberikan keluasan rahmat Allah, keadaan batin yang negatif cenderung menutup diri dari rahmat Allah SWT. Itu berarti derita dan bahagia sepadan dengan sikap batin kita akan realitas yang melompat ke ruang kehidupan kita.
Kedua, menyadari bahwa seluruh kenyataan berasal dari Allah yang Maha Kasih Sayang. Setiap perbuatan didasari sifat-sifat-Nya. Jika mindset dasar orang itu baik, maka seluruh perbuatannya memantulkan kebaikan. Sifat terpantul dalam perbuatannya. Dan perbuatan pantulan dari sifat-sifat yang melekat pada orang tersebut. Jika Allah itu Maha Kasih dan Sayang, berarti setiap perbuatan-Nya yang menyembul ke permukaan didasari rasa kasih sayang Allah. Andai ada kenyataan buruk yang dihadapi, yakini itu mengalir dari lautan kasih sayang Allah.
Allah kebaikan mutlak, maka setiap peristiwa yang bersumber dari Allah, pasti menyimpan kebaikan. Hanya saja ada kebaikan itu dirasakan secara spontanitas, ada kalanya kebaikan itu baru disadari setelah melewati waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Kehidupan itu tidak acak, seluruh kenyataan dan peristiwa yang mengada di hadapan kita terhimpun dalam desain dan rancangan dari Allah SWT. Keyakinan akan kebaikan Allah akan menjaga sikap batin kita terhadap luberan masalah yang hadir di hadapan kita.
Ketiga, realitas berpasangan. Dualitas kehidupan yang mewarnai perjalanan manusia sejatinya diciptakan sebagai pasangan yang saling melengkapi. Seperti halnya, laki-perempuan, kanan-kiri, sehat-sakit, untung-buntung. Dua realitas yang berbeda tersebut tidak saling bermusuhan, tetapi berpasangan. Karena berpasangan, maka keduanya saling membutuhkan. Demi menghadirkan kebaikan, kadang harus disembulkan keburukan. Demi terlaksananya pembangunan, harus diadakan penghancuran terlebih dahulu. Rumah yang dihancurkan oleh bulldozer, jangan dikira hanya dihancurkan, bahkan itu awal mula akan terciptanya sebuah pembangunan.
Bertaut dengan pemahaman tersebut, maka kita tidak akan mengalami kegundahan yang mendalam, manakala didera masalah buruk, dan tidak terlalu senang bila dihampiri oleh kebaikan. Semuanya mengalir dalam sungai kehidupan sesuai dengan waktu yang ditentukan. Terpenting sikap kita yang harus dijaga dengan cara terbaik. Kita harus “kaya” alasan untuk bisa bersabar akan setiap masalah yang bertandang ke rumah kehidupan kita. Sehingga Allah akan mencurahkan kekayaan batin bagi kita. Insya Allah.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Kita bisa berkaca pada orang sukses yang telah menggapai kedigdayaan di bidang duniawi dan spiritual, mereka telah menjadikan sabar sebagai menu harian bagi ruhaninya. Sabar memuat vitamin yang amat luar biasa bagi batin ini. Tetapi bagi orang yang belum bisa bersabar dengan kenyataan, sembari bersikap mengeluh, maka dia telah menyediakan diri sebagai korban dari setiap peristiwa dan kenyataan yang hadir.
Setiap orang mendambakan kebahagiaan, berarti mendamba rahmat dari Allah SWT. Rahmat adalah kekayaan yang tergenggam di tangan Allah, dan hanya diperoleh orang yang mendapati izin dari Allah SWT. Kendati demikian, orang bisa mencapai hidup dalam liputan rahmat, manakala dia memenuhi dadanya dengan spirit sabar. Itu artinya, sabar sebagai pasangan dari rahmat Allah. Kalau kita ingin dihampiri rahmat Allah, maka sediakan hati untuk bersabar akan segala kenyataan-kenyataan yang menyembul di dataran kehidupan kita. Bagaimana bisa bersabar?
Pertama, menyadari setiap kenyataan sebagai sebuah proses yang harus dijalani. Manusia tidak bisa merubah keadaan dan kenyataan yang ada di luar dirinya, sebagaimana orang tidak bisa merubah rotasi matahari. Saatnya matahari terbit, kita tak bisa memaksa agar tenggelam. Ketika matahari mencapai puncak tengah teriknya, kita tak bisa meminta agar dia terbit dari ufuk timur. Apalagi saat matahari tenggelam kita memaksa agar tetap bersinar.
Kenyataan dan peristiwa di hadapan kita tidak bisa dirubah, kita hanya bisa mengubah keadaan batin kita. Keadaan batin yang positif akan memberikan keluasan rahmat Allah, keadaan batin yang negatif cenderung menutup diri dari rahmat Allah SWT. Itu berarti derita dan bahagia sepadan dengan sikap batin kita akan realitas yang melompat ke ruang kehidupan kita.
Kedua, menyadari bahwa seluruh kenyataan berasal dari Allah yang Maha Kasih Sayang. Setiap perbuatan didasari sifat-sifat-Nya. Jika mindset dasar orang itu baik, maka seluruh perbuatannya memantulkan kebaikan. Sifat terpantul dalam perbuatannya. Dan perbuatan pantulan dari sifat-sifat yang melekat pada orang tersebut. Jika Allah itu Maha Kasih dan Sayang, berarti setiap perbuatan-Nya yang menyembul ke permukaan didasari rasa kasih sayang Allah. Andai ada kenyataan buruk yang dihadapi, yakini itu mengalir dari lautan kasih sayang Allah.
Allah kebaikan mutlak, maka setiap peristiwa yang bersumber dari Allah, pasti menyimpan kebaikan. Hanya saja ada kebaikan itu dirasakan secara spontanitas, ada kalanya kebaikan itu baru disadari setelah melewati waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Kehidupan itu tidak acak, seluruh kenyataan dan peristiwa yang mengada di hadapan kita terhimpun dalam desain dan rancangan dari Allah SWT. Keyakinan akan kebaikan Allah akan menjaga sikap batin kita terhadap luberan masalah yang hadir di hadapan kita.
Ketiga, realitas berpasangan. Dualitas kehidupan yang mewarnai perjalanan manusia sejatinya diciptakan sebagai pasangan yang saling melengkapi. Seperti halnya, laki-perempuan, kanan-kiri, sehat-sakit, untung-buntung. Dua realitas yang berbeda tersebut tidak saling bermusuhan, tetapi berpasangan. Karena berpasangan, maka keduanya saling membutuhkan. Demi menghadirkan kebaikan, kadang harus disembulkan keburukan. Demi terlaksananya pembangunan, harus diadakan penghancuran terlebih dahulu. Rumah yang dihancurkan oleh bulldozer, jangan dikira hanya dihancurkan, bahkan itu awal mula akan terciptanya sebuah pembangunan.
Bertaut dengan pemahaman tersebut, maka kita tidak akan mengalami kegundahan yang mendalam, manakala didera masalah buruk, dan tidak terlalu senang bila dihampiri oleh kebaikan. Semuanya mengalir dalam sungai kehidupan sesuai dengan waktu yang ditentukan. Terpenting sikap kita yang harus dijaga dengan cara terbaik. Kita harus “kaya” alasan untuk bisa bersabar akan setiap masalah yang bertandang ke rumah kehidupan kita. Sehingga Allah akan mencurahkan kekayaan batin bagi kita. Insya Allah.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Selasa, 13 Juli 2010
BERBICARA DALAM SEPI SUNYI
Tak sedikit orang merasakan suasana hambar di keramaian, karena hanya bersentuhan dengan hal semu dan temporal. Padahal piranti ruhani merindukan yang hakiki dan abadi. Apakah orang menemukan yang hakiki dan abadi lewat jalan keramaian? Di sisi lain, orang-orang besar mendulang kearifan dan turut membangun istana kebahagiaan di hatinya, karena memilih keluar dari kemewahan dan kemegahan hidup yang mengitarinya, lalu berusaha memerhatikan sisi kekayaan yang terbenam di hati. Karena tak jarang orang memerhatikan kekayaan di luar, luput memerhatikan kekayaan yang ada di dalam batinnya, sehingga terjebak ke dalam kebangkrutan ruhani.
Ibrahim bin Adham, seorang pangeran masyhur dari Balkan rela melepaskan baju kemegahan sembari menapaki jalan sunyi penuh derita duniawi. Disana Ibrahim bin Adham tak menyisakan sedikit pun kuasa hawa nafsunya, sehingga terus berada dalam penjara derita yang begitu pedih secara fisik. Walau dia merasakan kepedihan secara lahiriah, diam-diam mengalir keanggunan dan kedamaian universal di medan batinnya. Seiring berjalannya waktu, beliau berhasil melewati tangga-tangga penderitaan demi menggapai kebahagiaan sempurna. Dari beliau menghabiskan seluruh perbekalan untuk disedakahkan pada setiap orang yang ditemui, hingga menggadaikan dirinya sebagai budak demi bisa memberikan makan pada perempuan renta.
Kita pernah mengenal Tolstoy, tokoh sastrawan yang berhasil membesut karya sastra yang memikat, dan berhasil merekam kearifan universal lewat karya tulisnya yang mencengangkan. Dia menggeser kebiasaan hidupnya yang dikitari kemewahan dan keramaian, ke rumah yang amat sederhana dan sepi sunyi. Dalam sepi sunyi yang sempurna, dia bisa memahatkan inspirasi dalam tulisan-tulisan menggerakkan.
Mulailah merubah dunia ramai dengan memahami dunia sepi-sunyi. Inspirasi dan ilham sering datang di ranah-ranah kesunyian yang menawarkan ketenangan dan kedamaian tak berbatas. Bagi orang yang berkomitmen menebarkan kasih pada kemanusiaan, perlu kiranya menempuh jalan-jalan sunyi dan mempersedikit bersentuhan dengan dunia ramai. Memang, seorang pejuang selalu berada dalam sunyi bersama Tuhan. Mula-mula, dia mengalami sepi keseluruhan, dari fisik, pikiran, hati menuju Yang Maha Sunyi. Setelah mengalami pencerahan, dia telah bersenggama dengan sunyi, dan keramaian fisik tidak akan merampok suasana sunyi di medan hati. Kendati berpapasan dengan beragam latar manusia, dia tetap menyatu dalam kesunyian mendalam. Sunyi-sepi telah terintegrasi dalam dirinya.
Praktik ibadah sehari-hari melatih manusia tenang dalam sepi-sunyi, fokus pada satu tujuan final. Dialah Allah SWT. Semisal dalam menunaikan shalat, ingatan kita hanya tertuju pada Allah, merasa bahwa Allah selalu menyaksikan setiap gerak-gerik fisik dan batin kita. Lewat kesadaran akan penyaksian berikut kehadiran Allah, kita akan ditarik ke medan sunyi, perhatian pada selain-Nya akan punah dan tenggelam. Ketika pikiran dan hati telah tersetrum pada tujuan utama, yang lain tersingkir dari ingatan. Bagaikan orang terpesona dengan rembulan, kendati ada nyamuk menghinggapi kulitnya, seakan tidak terasa. Lolongan anjing, seakan tidak menggangu perhatiannya, bahkan perkataan teman seakan tidak terdengar. Seluruh perhatian tersedot pada semburat cahaya rembulan yang amat memesona.
Bagaimana sikap orang yang telah mengalami sunyi batinnya? Dalam sunyi akan tergelar kedamaian semesta. Tak ada sedikit pun yang mampu menginterupsi setiap gerak-gerik orang ini. Dia telah menyatu dengan kedamaian tanpa terusik. Dia telah menyelam di kedalaman lautan yang disana hanya ada mutiara kedamaian yang terus berkilauan. Ia tak lagi terpesona dengan fluktuasi luaran, dengan kesadaran bahwa di luar hanya memengaruhi sisi luar, tak bisa memengaruhi sisi terdalam. Ketika orang berselancar di laut yang sarat arus gelombang, arus gelombang akan membuat keadaannya bergerak tak beraturan, tidak tetap, orang akan ringkih berada diantara arus gelombang, karena dipermainkan oleh gelombang itu sendiri. Berbeda halnya, ketika orang telah berhasil mengalami diving ke dalam, niscaya disana ditemukan kebahagiaan tak bertepi, tak tersentuh pasang surut gelombang.
Ketika kita telah bermukim dalam ruang sunyi penuh pesona, disana dia bakal memeroleh sekian ilham yang bisa ditebarkan pada seluruh kemanusiaan. Bayangkan, Rasulullah Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi Rasul, menapaki jalan sunyi sepanjang 7 tahun lamanya. Tujuh tahun berteman dengan sunyi, beliau SAW memeroleh wahyu yang bisa meradiasikan kesadaran suci ke seluruh orang tanah Arab, dan menyebar ke seluruh pelosok dunia. Memang, demi bisa menebarkan kebajikan, kita harus berjalan dalam ruang sunyi, yang didalamnya diisi dengan tafakkur, merenungi dunia luar dan dijalinkan dengan gema suara yang menyembul dibalik kesunyian. Dalam sunyi orang akan menemukan mutiara dalam dirinya, berikut menemukan cara bagaimana bisa memperluas manfaat mutiara bagi kehidupan.
Mengapa Rasulullah SAW harus berada di gua, ruang gelap pekat, guna menjaring ilham berupa wahyu dari Allah? Ternyata orang menemukan cahaya batin, enlightenment di saat berada di ruang gelap pekat. Seperti halnya orang akan bisa mengaktivasi mata batin, ketika telah menutup mata lahiriah. Pun, ketika mata lahir tidak bisa melihat, saat itu mata batin akan mengalami keterbukaan. Kalau begitu, gelap lahiriah sebagai teman bagi terangnya jiwa. Mengapa demikian? Ketika orang terpesona pada terang yang berada di wilayah lahiriah, niscaya dia tidak bakal memerhatikan pesona terang yang terpancar di wilayah batin. Padahal terang batin lebih abadi ketimbang terang di luaran.
Selain itu dalam sunyi orang tidak lagi berbicara pada wajah lahir, tetapi berbicara pada wajah batin. Ketika terang di luar, orang sibuk bercermin untuk melihat wajah lahiriah, tetapi ketika dia akan tertarik untuk mengoreksi dan mengaca sisi batin. Ketika orang sering berkaca batinnya, insya Allah akan mengalami pencerahan dan kebeningan terus-menerus. Bagaimana cara agar batin ini bisa berkaca? Ini sering disebut muhasabah. Ketika orang sering menjalani muhasabah, menghitung-hitung apa yang terlintas dari hati dan pikiran terus-menerus, jika melihat dari lintasan itu keburukan, dia langsung beristighfar disertai penyesalan. Bedanya, kalau orang melihat wajahnya baik, maka dia berhenti membersihkan. Ketika orang ingin batinnya senantiasa baik, maka jangan pernah merasa baik. Karena merasa baik sendiri akan membuat wajah batin dihinggapi kotoran.
Berdialog dengan diri sendiri di malam sunyi amat efektif untuk menguak diri hakiki, apakah masih sering ditebari kotoran, atau berbalutkan kedamaian yang indah. Qolbun salim tanda hati telah menggapai kebersihan penuh cahaya.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Ibrahim bin Adham, seorang pangeran masyhur dari Balkan rela melepaskan baju kemegahan sembari menapaki jalan sunyi penuh derita duniawi. Disana Ibrahim bin Adham tak menyisakan sedikit pun kuasa hawa nafsunya, sehingga terus berada dalam penjara derita yang begitu pedih secara fisik. Walau dia merasakan kepedihan secara lahiriah, diam-diam mengalir keanggunan dan kedamaian universal di medan batinnya. Seiring berjalannya waktu, beliau berhasil melewati tangga-tangga penderitaan demi menggapai kebahagiaan sempurna. Dari beliau menghabiskan seluruh perbekalan untuk disedakahkan pada setiap orang yang ditemui, hingga menggadaikan dirinya sebagai budak demi bisa memberikan makan pada perempuan renta.
Kita pernah mengenal Tolstoy, tokoh sastrawan yang berhasil membesut karya sastra yang memikat, dan berhasil merekam kearifan universal lewat karya tulisnya yang mencengangkan. Dia menggeser kebiasaan hidupnya yang dikitari kemewahan dan keramaian, ke rumah yang amat sederhana dan sepi sunyi. Dalam sepi sunyi yang sempurna, dia bisa memahatkan inspirasi dalam tulisan-tulisan menggerakkan.
Mulailah merubah dunia ramai dengan memahami dunia sepi-sunyi. Inspirasi dan ilham sering datang di ranah-ranah kesunyian yang menawarkan ketenangan dan kedamaian tak berbatas. Bagi orang yang berkomitmen menebarkan kasih pada kemanusiaan, perlu kiranya menempuh jalan-jalan sunyi dan mempersedikit bersentuhan dengan dunia ramai. Memang, seorang pejuang selalu berada dalam sunyi bersama Tuhan. Mula-mula, dia mengalami sepi keseluruhan, dari fisik, pikiran, hati menuju Yang Maha Sunyi. Setelah mengalami pencerahan, dia telah bersenggama dengan sunyi, dan keramaian fisik tidak akan merampok suasana sunyi di medan hati. Kendati berpapasan dengan beragam latar manusia, dia tetap menyatu dalam kesunyian mendalam. Sunyi-sepi telah terintegrasi dalam dirinya.
Praktik ibadah sehari-hari melatih manusia tenang dalam sepi-sunyi, fokus pada satu tujuan final. Dialah Allah SWT. Semisal dalam menunaikan shalat, ingatan kita hanya tertuju pada Allah, merasa bahwa Allah selalu menyaksikan setiap gerak-gerik fisik dan batin kita. Lewat kesadaran akan penyaksian berikut kehadiran Allah, kita akan ditarik ke medan sunyi, perhatian pada selain-Nya akan punah dan tenggelam. Ketika pikiran dan hati telah tersetrum pada tujuan utama, yang lain tersingkir dari ingatan. Bagaikan orang terpesona dengan rembulan, kendati ada nyamuk menghinggapi kulitnya, seakan tidak terasa. Lolongan anjing, seakan tidak menggangu perhatiannya, bahkan perkataan teman seakan tidak terdengar. Seluruh perhatian tersedot pada semburat cahaya rembulan yang amat memesona.
Bagaimana sikap orang yang telah mengalami sunyi batinnya? Dalam sunyi akan tergelar kedamaian semesta. Tak ada sedikit pun yang mampu menginterupsi setiap gerak-gerik orang ini. Dia telah menyatu dengan kedamaian tanpa terusik. Dia telah menyelam di kedalaman lautan yang disana hanya ada mutiara kedamaian yang terus berkilauan. Ia tak lagi terpesona dengan fluktuasi luaran, dengan kesadaran bahwa di luar hanya memengaruhi sisi luar, tak bisa memengaruhi sisi terdalam. Ketika orang berselancar di laut yang sarat arus gelombang, arus gelombang akan membuat keadaannya bergerak tak beraturan, tidak tetap, orang akan ringkih berada diantara arus gelombang, karena dipermainkan oleh gelombang itu sendiri. Berbeda halnya, ketika orang telah berhasil mengalami diving ke dalam, niscaya disana ditemukan kebahagiaan tak bertepi, tak tersentuh pasang surut gelombang.
Ketika kita telah bermukim dalam ruang sunyi penuh pesona, disana dia bakal memeroleh sekian ilham yang bisa ditebarkan pada seluruh kemanusiaan. Bayangkan, Rasulullah Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi Rasul, menapaki jalan sunyi sepanjang 7 tahun lamanya. Tujuh tahun berteman dengan sunyi, beliau SAW memeroleh wahyu yang bisa meradiasikan kesadaran suci ke seluruh orang tanah Arab, dan menyebar ke seluruh pelosok dunia. Memang, demi bisa menebarkan kebajikan, kita harus berjalan dalam ruang sunyi, yang didalamnya diisi dengan tafakkur, merenungi dunia luar dan dijalinkan dengan gema suara yang menyembul dibalik kesunyian. Dalam sunyi orang akan menemukan mutiara dalam dirinya, berikut menemukan cara bagaimana bisa memperluas manfaat mutiara bagi kehidupan.
Mengapa Rasulullah SAW harus berada di gua, ruang gelap pekat, guna menjaring ilham berupa wahyu dari Allah? Ternyata orang menemukan cahaya batin, enlightenment di saat berada di ruang gelap pekat. Seperti halnya orang akan bisa mengaktivasi mata batin, ketika telah menutup mata lahiriah. Pun, ketika mata lahir tidak bisa melihat, saat itu mata batin akan mengalami keterbukaan. Kalau begitu, gelap lahiriah sebagai teman bagi terangnya jiwa. Mengapa demikian? Ketika orang terpesona pada terang yang berada di wilayah lahiriah, niscaya dia tidak bakal memerhatikan pesona terang yang terpancar di wilayah batin. Padahal terang batin lebih abadi ketimbang terang di luaran.
Selain itu dalam sunyi orang tidak lagi berbicara pada wajah lahir, tetapi berbicara pada wajah batin. Ketika terang di luar, orang sibuk bercermin untuk melihat wajah lahiriah, tetapi ketika dia akan tertarik untuk mengoreksi dan mengaca sisi batin. Ketika orang sering berkaca batinnya, insya Allah akan mengalami pencerahan dan kebeningan terus-menerus. Bagaimana cara agar batin ini bisa berkaca? Ini sering disebut muhasabah. Ketika orang sering menjalani muhasabah, menghitung-hitung apa yang terlintas dari hati dan pikiran terus-menerus, jika melihat dari lintasan itu keburukan, dia langsung beristighfar disertai penyesalan. Bedanya, kalau orang melihat wajahnya baik, maka dia berhenti membersihkan. Ketika orang ingin batinnya senantiasa baik, maka jangan pernah merasa baik. Karena merasa baik sendiri akan membuat wajah batin dihinggapi kotoran.
Berdialog dengan diri sendiri di malam sunyi amat efektif untuk menguak diri hakiki, apakah masih sering ditebari kotoran, atau berbalutkan kedamaian yang indah. Qolbun salim tanda hati telah menggapai kebersihan penuh cahaya.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
DAHSYATNYA SHALAT
Ketika Rasulullah SAW bersama sahabatnya dicekal dan diembargo kafir Quraisy yang dirancang sepanjang 3 tahun, berbentuk penghentian distribusi logistik menuju kaum muslimin, tak ayal ada sebagian sahabat mengalami kelaparan. Intimidasi, penyiksaan dan aneka perbuatan keji mewarnai kaum muslimin saat itu. Itulah perbuatan keji yang dilancarkan kafir Quraisy demi menurunkan spirit Rasulullah SAW dan para sahabat secara perlahan-lahan. Seakan tantangan mulai menjelma dan meraksasa demi menguji keteguhan iman para sahabat Rasulullah SAW. Peristiwa memedihkan itu tidak memupus iman sahabat, bahkan iman mereka kian membaja dan perkasa. Usaha melumpuhkan kaum muslimin tidak berhasil, dan mereka gagal total, ditandai dengan remuknya piagam pemboikotan oleh serangan beribu-ribu rayap, sehingga masa pemboikotan yang diproyeksikan 3 tahun hanya bisa bertahan 3 bulan. Kecuali nama-nama Allah tetap menempel terang dalam piagam tersebut, sementara seluruh klausul pemboikotan yang menempel di dinding Ka’bah melepuh oleh gigitan rayap-rayap yang terus berkerumun. Subhanallah.
Berlanjut kesedihan Rasulullah SAW bersama sahabat kala ditinggalkan dua sosok terkemuka yang berperan sebagai tameng, perisai, bahkan benteng bagi perjuangan Rasulullah SAW, dialah Sayyidah Khadijah Al-Kubro, dan Abu Thalib. Istri dan paman Rasulullah SAW berkontribusi besar terhadap penyebaran agama Allah di bumi Mekah. Wafatnya mereka berdua tidak hanya menyisakan duka, tetapi membuat kafir Quraisy kian beringas dan keji memperlakukan sahabat Rasulullah SAW. Mereka tidak hanya berani menggangu Rasulullah SAW, malah sampai pada titik mengancam nyawa Rasulullah SAW. Dari lintasan fakta itu, kita bisa membayangkan pamor dan peran Sayyidah Khadijah Al-Kubro dan Abu Thalib untuk membentengi keselamatan Rasulullah SAW dan keberlanjutan dakwah Islam.
Wafatnya mereka berdua membekaskan kedukaan mendalam bagi Rasulullah SAW. Seakan perisai manusia telah terbelah dan tumbang, namun lewat peristiwa memedihkan itu Rasulullah SAW mendapat kabar gembira lewat peristiwa Isra’ Mi’raj. Sandaran manusia telah rapuh, tidak langgeng, dan bisa pupus oleh kematian. Namun, Allah Selalu Ada dan Maha Berdiri Sendiri, siap membantu kapan saja. Islam kian kokoh jika selalu tersambung dengan Allah SWT.
Shalat adalah media penghubung (konektor) dengan Allah. Isra’ Mi’raj mengandung pesan kewajiban shalat. Shalat yang didirikan secara sungguh-sungguh, akan menghadirkan dukungan (mu’ayyadah) Allah. Berarti, shalat sebagai media efektif mengundang dukungan Allah SWT. Andaikan shalat menjadi media menghubungkan kita dengan Allah SWT, orang yang melakukan shalat dengan benar dan khusyuk akan memeroleh kekuatan dahsyat. Keimanan menancap kukuh dan mengkristal bisa mengantarkan pada kemenangan hakiki.
Menggapai Kemenangan Lewat Shalat
Shalat melahirkan kekuatan ajaib manakala didirikan dengan benar dan khusyuk. Bukankah hanya shalat khusyuk yang mengantarkan pada keberuntungan, kemenangan, dan kemuliaan. Petikan firman Allah memperterang itu “sungguh beruntung orang mukmin yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mukminun [23]:1-2)
Khusyuk dengan dialiri getaran kehadiran Allah SWT berperan mengisi cadangan iman ke dalam hati ini. Dan tindakan yang disusupi spirit iman yang teguh akan membuahkan hasil efektif. Mengapa orang bisa menggapai kemenangan lewat shalat? Karena shalat memediasi kita agar terus tersambung dengan Allah SWT. Kita menggapai kejayaan, lantaran memeroleh kekuatan dari Allah SWT. Kita bisa bercermin pada peristiwa perang Badr, dimana para sahabat dengan jumlah 300 lebih sedikit bisa mengalahkan secara telak kafir Quraisy yang membawa pasukan tiga kali lebih besar daripada pasukan kaum muslimin kala itu.
Keajaiban itu bukan karena usaha tentara muslimin semata, tetapi karena Allah menurunkan pertolongan, sehingga menggetarkan dan merapuhkan rasa yakin di hati orang Kafir Quraisy, sembari meneguhkan iman kaum muslimin. Tentara tak terlihat pun turun membantu tentara muslimin saat itu. Di detik-detik menjelang perang Badr, di malam harinya Rasulullah SAW menghabiskan waktunya bermuwajahah dengan Allah lewat shalat. Beliau menangis, merendahkan diri, karena perang Badr memang menjadi penentu masa depan Islam. Tangisan Rasulullah SAW itu meruntuhkan kekuatan musuh dan mengantarkan kemenangan gemilang di kalangan kaum muslimin.
Shalat ampuh sebagai kunci mencapai kemenangan, baik secara individual atau jamaah. Jika belum merasa beruntung menjalani hidup, perlu kiranya mengoreksi kualitas shalat, karena kualitas shalat seseorang ditandai dengan merasakan bintang keberuntungan dalam hidupnya. Sekali lagi al-Qur’an menegaskan, “sungguh beruntung orang yang menyucikan diri, menyebut nama Tuhan-nya, dan melakukan shalat.”(al-A’la [87]:14-15).
Kita bisa menumbuhkan kualitas shalat prima bila kita mempersepsi shalat sebagai media meneguhkan akar iman yang sambung pada Allah SWT. Kita sambung saat kita mengingat Allah (zikrullah). Jika shalat belum menjadi momen meneguhkan rasa ingat pada Allah, berarti shalatnya belum powerful. Karena tidak handal, maka shalat tidak bisa diandalkan dalam merengkuh kemenangan. Ketika menjalani shalat, seringkali ingatan kita ngacir kemana-mana, walhasil shalat tidak punya daya pengaruh terhadap pembentukan karakter bening dan kukuh.
Sepanjang shalat kaum muslimin belum sempurna (khusyuk) dan ajek, masih jauh kemungkinan Islam mengalami kebangkitan dahsyat. Ketakutan musuh terhadap Islam, bukan karena banyaknya umat Islam, tetapi berkaitan dengan keteguhan umat Islam dalam menegakkan shalat, terlebih shalat berjamaah. Adalah tokoh Yahudi sempat sesumbar, “Kami tidak takut pada orang Islam, hingga shalat subuhnya sama dengan shalat jum’atnya.”
Mereka melihat kekuatan Islam dari kekompakan menegakkan shalat berjamaah. Bagaimana potret shalat berjamaah kita saat ini? Apalagi shalat subuh. Masjid megah, terbangun dengan biaya miliaran rupiah, berapa shaf kiranya yang berjejer ketika shalat subuh ditegakkan. Kesadaran shalat berjamaah, terlebih subuh, masih amat minor, tak ayal kita jarang menemukan kedahsyatan efek dari shalat untuk meneguhkan daya umat, sebagai umat terbaik. Ringkas kata, umat Islam tidak bisa menggapai kebangkitan (restorasi) secara totalitas sebelum memerhatikan shalat dalam spektrum yang benar dan ajek.
Saatnya kita kembali menegakkan shalat dengan benar, lalu disempurnakan dengan shalat berjamaah. Ketika kita bisa menegakkan shalat secara benar dan ajek, maka akan menyembul power dari dalam, tindakan pun akan berdampak dan kukuh. Dengan shalat tindakan kita akan punya “ruh” dan efektif dalam menggerakkan perubahan. Andai kita ingin menggapai sukses, maka bersungguh-sungguhlah dalam menegakkan shalat. Sukses mulia akan menjelma secara dahsyat.
Shalat membuat kita punya akar hubungan yang kuat dengan Allah SWT apabila dilakukan secara dawam (ajek). Akar kekuatan itu mengantarkan manusia menggapai kemenangan sempurna, baik secara lahiriah atau secara batiniah. Mengapa ada orang tidak shalat, tetapi dikarunia kejayaan, berupa kekayaan melimpah? Mereka boleh mendulang kekayaan meruah, tetapi ketahuilah dia mengalami kerapuhan batin, sehingga berjarak amat jauh dengan kebahagiaan. Keberlimpahan duniawi boleh mengitari hidupnya, tetapi dia mengalami kebangkrutan secara ruhani, dalam bentuk dicabutnya berkah harta tersebut. Tak jarang kekayaannya yang melimpah perlahan-lahan menggiringnya ke jurang kesesatan dan kehancuran.
Kini, kita kaitkan kekuatan shalat dengan kehidupan kita sehari-hari. Andaikan kita masih kerap merasa didera derita dan kesedihan, atau merasa belum menggapai keberuntungan hidup, perlu kiranya mengoreksi dan menjajaki kualitas shalat yang kita tegakkan selama ini. Apakah shalat telah kita dirikan secara khusyuk dan dawam, atau masih sering dibuat sebagai permainan, dan sambil lalu. Karena dianggap permainan, maka tidak menyisakan kristal-kristal kebahagiaan ke ranah batin. Allah tidak pernah menyalahi janjinya. Mari kita dengarkan, ikuti, dan agungkan seruan-Nya yang digetarkan lewat lisan muadzzin, Hayya ‘alashshalah, hayya ‘alal falah. “Mari dirikan shalat dan mari gapai kemenangan”.
KH. Dr. M. Dhiyauddin Qushwandhi
Pentranskripsi: Khalili Anwar
Berlanjut kesedihan Rasulullah SAW bersama sahabat kala ditinggalkan dua sosok terkemuka yang berperan sebagai tameng, perisai, bahkan benteng bagi perjuangan Rasulullah SAW, dialah Sayyidah Khadijah Al-Kubro, dan Abu Thalib. Istri dan paman Rasulullah SAW berkontribusi besar terhadap penyebaran agama Allah di bumi Mekah. Wafatnya mereka berdua tidak hanya menyisakan duka, tetapi membuat kafir Quraisy kian beringas dan keji memperlakukan sahabat Rasulullah SAW. Mereka tidak hanya berani menggangu Rasulullah SAW, malah sampai pada titik mengancam nyawa Rasulullah SAW. Dari lintasan fakta itu, kita bisa membayangkan pamor dan peran Sayyidah Khadijah Al-Kubro dan Abu Thalib untuk membentengi keselamatan Rasulullah SAW dan keberlanjutan dakwah Islam.
Wafatnya mereka berdua membekaskan kedukaan mendalam bagi Rasulullah SAW. Seakan perisai manusia telah terbelah dan tumbang, namun lewat peristiwa memedihkan itu Rasulullah SAW mendapat kabar gembira lewat peristiwa Isra’ Mi’raj. Sandaran manusia telah rapuh, tidak langgeng, dan bisa pupus oleh kematian. Namun, Allah Selalu Ada dan Maha Berdiri Sendiri, siap membantu kapan saja. Islam kian kokoh jika selalu tersambung dengan Allah SWT.
Shalat adalah media penghubung (konektor) dengan Allah. Isra’ Mi’raj mengandung pesan kewajiban shalat. Shalat yang didirikan secara sungguh-sungguh, akan menghadirkan dukungan (mu’ayyadah) Allah. Berarti, shalat sebagai media efektif mengundang dukungan Allah SWT. Andaikan shalat menjadi media menghubungkan kita dengan Allah SWT, orang yang melakukan shalat dengan benar dan khusyuk akan memeroleh kekuatan dahsyat. Keimanan menancap kukuh dan mengkristal bisa mengantarkan pada kemenangan hakiki.
Menggapai Kemenangan Lewat Shalat
Shalat melahirkan kekuatan ajaib manakala didirikan dengan benar dan khusyuk. Bukankah hanya shalat khusyuk yang mengantarkan pada keberuntungan, kemenangan, dan kemuliaan. Petikan firman Allah memperterang itu “sungguh beruntung orang mukmin yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mukminun [23]:1-2)
Khusyuk dengan dialiri getaran kehadiran Allah SWT berperan mengisi cadangan iman ke dalam hati ini. Dan tindakan yang disusupi spirit iman yang teguh akan membuahkan hasil efektif. Mengapa orang bisa menggapai kemenangan lewat shalat? Karena shalat memediasi kita agar terus tersambung dengan Allah SWT. Kita menggapai kejayaan, lantaran memeroleh kekuatan dari Allah SWT. Kita bisa bercermin pada peristiwa perang Badr, dimana para sahabat dengan jumlah 300 lebih sedikit bisa mengalahkan secara telak kafir Quraisy yang membawa pasukan tiga kali lebih besar daripada pasukan kaum muslimin kala itu.
Keajaiban itu bukan karena usaha tentara muslimin semata, tetapi karena Allah menurunkan pertolongan, sehingga menggetarkan dan merapuhkan rasa yakin di hati orang Kafir Quraisy, sembari meneguhkan iman kaum muslimin. Tentara tak terlihat pun turun membantu tentara muslimin saat itu. Di detik-detik menjelang perang Badr, di malam harinya Rasulullah SAW menghabiskan waktunya bermuwajahah dengan Allah lewat shalat. Beliau menangis, merendahkan diri, karena perang Badr memang menjadi penentu masa depan Islam. Tangisan Rasulullah SAW itu meruntuhkan kekuatan musuh dan mengantarkan kemenangan gemilang di kalangan kaum muslimin.
Shalat ampuh sebagai kunci mencapai kemenangan, baik secara individual atau jamaah. Jika belum merasa beruntung menjalani hidup, perlu kiranya mengoreksi kualitas shalat, karena kualitas shalat seseorang ditandai dengan merasakan bintang keberuntungan dalam hidupnya. Sekali lagi al-Qur’an menegaskan, “sungguh beruntung orang yang menyucikan diri, menyebut nama Tuhan-nya, dan melakukan shalat.”(al-A’la [87]:14-15).
Kita bisa menumbuhkan kualitas shalat prima bila kita mempersepsi shalat sebagai media meneguhkan akar iman yang sambung pada Allah SWT. Kita sambung saat kita mengingat Allah (zikrullah). Jika shalat belum menjadi momen meneguhkan rasa ingat pada Allah, berarti shalatnya belum powerful. Karena tidak handal, maka shalat tidak bisa diandalkan dalam merengkuh kemenangan. Ketika menjalani shalat, seringkali ingatan kita ngacir kemana-mana, walhasil shalat tidak punya daya pengaruh terhadap pembentukan karakter bening dan kukuh.
Sepanjang shalat kaum muslimin belum sempurna (khusyuk) dan ajek, masih jauh kemungkinan Islam mengalami kebangkitan dahsyat. Ketakutan musuh terhadap Islam, bukan karena banyaknya umat Islam, tetapi berkaitan dengan keteguhan umat Islam dalam menegakkan shalat, terlebih shalat berjamaah. Adalah tokoh Yahudi sempat sesumbar, “Kami tidak takut pada orang Islam, hingga shalat subuhnya sama dengan shalat jum’atnya.”
Mereka melihat kekuatan Islam dari kekompakan menegakkan shalat berjamaah. Bagaimana potret shalat berjamaah kita saat ini? Apalagi shalat subuh. Masjid megah, terbangun dengan biaya miliaran rupiah, berapa shaf kiranya yang berjejer ketika shalat subuh ditegakkan. Kesadaran shalat berjamaah, terlebih subuh, masih amat minor, tak ayal kita jarang menemukan kedahsyatan efek dari shalat untuk meneguhkan daya umat, sebagai umat terbaik. Ringkas kata, umat Islam tidak bisa menggapai kebangkitan (restorasi) secara totalitas sebelum memerhatikan shalat dalam spektrum yang benar dan ajek.
Saatnya kita kembali menegakkan shalat dengan benar, lalu disempurnakan dengan shalat berjamaah. Ketika kita bisa menegakkan shalat secara benar dan ajek, maka akan menyembul power dari dalam, tindakan pun akan berdampak dan kukuh. Dengan shalat tindakan kita akan punya “ruh” dan efektif dalam menggerakkan perubahan. Andai kita ingin menggapai sukses, maka bersungguh-sungguhlah dalam menegakkan shalat. Sukses mulia akan menjelma secara dahsyat.
Shalat membuat kita punya akar hubungan yang kuat dengan Allah SWT apabila dilakukan secara dawam (ajek). Akar kekuatan itu mengantarkan manusia menggapai kemenangan sempurna, baik secara lahiriah atau secara batiniah. Mengapa ada orang tidak shalat, tetapi dikarunia kejayaan, berupa kekayaan melimpah? Mereka boleh mendulang kekayaan meruah, tetapi ketahuilah dia mengalami kerapuhan batin, sehingga berjarak amat jauh dengan kebahagiaan. Keberlimpahan duniawi boleh mengitari hidupnya, tetapi dia mengalami kebangkrutan secara ruhani, dalam bentuk dicabutnya berkah harta tersebut. Tak jarang kekayaannya yang melimpah perlahan-lahan menggiringnya ke jurang kesesatan dan kehancuran.
Kini, kita kaitkan kekuatan shalat dengan kehidupan kita sehari-hari. Andaikan kita masih kerap merasa didera derita dan kesedihan, atau merasa belum menggapai keberuntungan hidup, perlu kiranya mengoreksi dan menjajaki kualitas shalat yang kita tegakkan selama ini. Apakah shalat telah kita dirikan secara khusyuk dan dawam, atau masih sering dibuat sebagai permainan, dan sambil lalu. Karena dianggap permainan, maka tidak menyisakan kristal-kristal kebahagiaan ke ranah batin. Allah tidak pernah menyalahi janjinya. Mari kita dengarkan, ikuti, dan agungkan seruan-Nya yang digetarkan lewat lisan muadzzin, Hayya ‘alashshalah, hayya ‘alal falah. “Mari dirikan shalat dan mari gapai kemenangan”.
KH. Dr. M. Dhiyauddin Qushwandhi
Pentranskripsi: Khalili Anwar
Senin, 31 Mei 2010
GUNUNG YANG TINGGI, JURANG YANG DALAM
Pada mulanya orang yang berdiam di kaki gunung, mendamba bisa mendaki puncak gunung yang amat indah, gagah, dan penuh misteri sukses, dia membanggakan gunung yang amat tinggi yang biasa dibilang sebagai pencakar langit. Banyak orang hebat yang telah berhasil menaiki gunung tersebut, hanya saja diri sendiri masih belum mampu “menundukkan” gunung. Karena impian yang kuat berikut didorong oleh daya tarik atas kemegahan gunung tersebut, dia mempersiapkan diri untuk mendaki sang gunung, ada sela-sela bisikan yang menyentuh hatinya, andaikan nanti bisa menapaki gunung tersebut, tentu akan ada kebanggaan tersendiri bagi dirinya. Bukankah orang yang telah sampai di puncak gunung, dia akan lebih tinggi dari gunung tersebut. Dia mendapati gelar sebagai penakluk gunung. Dia pun berjuang mendaki gunung tersebut dengan pengagungan yang terhadap gunung, walau pun yang dituju akhirnya untuk meraih keagungan diri lewat pendakian tersebut.
Benar saja, dengan usaha yang amat keras, tanpa lelah, disertai impian besar yang tertancap di pikirannya, membimbing dirinya sampai ke puncak gunung. Hanya saja setelah sampai di puncak gunung, kesadarannya hanya tertuju pada puncak gunung, berikut kebanggaan yang menyelimuti dirinya. Dia tak ingat lagi, darimana dia berasal. Dia berasal dari kaki gunung yang landai dan rendah. Karena dia hanya menyadari telah sampai di puncak, tanpa menyadari darimana dia berasal, maka dia berjingkrak-jingkrak di atas gunung tersebut. Karena lalai akan kesuksesan sampai di puncak gunung, tanpa menyadari berada di ketinggian, dia pun terjatuh ke jurang yang amat dalam. Akhirnya dia mati dalam kehinaan. Ketinggian gunung telah membuatnya terjungkal jatuh ke dalam lembah yang amat curam.
****
Lukisan kisah ini diharapkan bisa menyajikan inspirasi yang indah di hati kita, bahwa orang jangan pernah sombong dengan perolehan hidup yang telah dicapainya. Karena kesombongan itu tidak akan membawa manusia kemana-mana kecuali jurang kehancuran. Ada sebuah perusahaan yang menggembar-gemborkan strategi dan manajemen bisnisnya, sebagai manajemen yang canggih, dan meyakini dengan manajemen tersebut perusahaannya bisa bertahan selamanya, bahkan bisa mengungguli perusahaan papan atas sekalipun. Seluruh promosi dan kesombongannya ternyata berbalas dengan kegetiran, bisnis itu tidak bisa bertahan lama, bahkan akhirnya hancur. Seluruh stakeholder perusahaan saling menyalahkan satu sama lain. Mengapa perusahaan itu hancur berkeping-keping? Perusahaan itu dihancurkan oleh sikap mengagungkan caranya sendiri, sehingga dia tidak mau berendah diri untuk mempelajari strategi perusahaan lain. Orang sombong telah merasa berada di batas ujung kehidupan, seperti berada di batas puncak sukses. Dia tak bisa mendaki kembali, akhirnya orang itu tak bakal bisa tumbuh dengan baik.
Di era persaingan yang amat ketat ini, orang atau perusahaan yang diduduki direksi yang sombong tidak bakal bisa melambung dengan sukses yang luar biasa. Mengapa? Karena dia tidak bisa bergerak mengikuti ritme keadaan yang berubah cepat. Dia fanatik dengan kunci-kunci master yang telah mengantarkan dia pada puncak kesuksesan, padahal strategi dan manajemen akan terus berubah, seiring dengan perubahan arah psikologi pasar. Bisa jadi manajemen sukses yang digunakan, sekarang sudah kadaluwarsa.
Berarti orang merasa sukses, dan kemudian terpaku dengan cara-cara lama menggapai sukses akan mudah ditinggalkan pesaingnya. Sukses harus, tetapi merasa sukses tidak boleh. Karena merasa sukses sendiri telah menghentikan langkah untuk pertumbuhan diri. Bukankah orang yang tidak merasa sukses berarti tidak bersyukur? Orang yang merasa sukses berarti membatasi rahmat Allah. Kita tetap bersyukur dengan hasil yang diperoleh, hanya saja bagaimana setiap hari kita harus bertumbuh mendekati cahaya (Allah). Rahmat Allah begitu luas tak terbatas, tak boleh dibatasi oleh perasaan sukses kita, karena hanya menghentikan langkah untuk melakukan yang terbaik dari hari ke hari. Apa sikap orang yang telah sampai di stasiun sukses?
Ingatlah, orang yang sukses adalah orang yang bisa membiakkan satu kesuksesan menuju kesuksesan berikutnya. Dia tidak hanya mengejar rahmat Allah, tetapi turut menebarkan rahmat Allah dimana-mana. Kesuksesan yang diraih mengalami pertumbuhan yang terus meningkat, sehingga tidak hanya menggapai sukses, tetapi kemuliaan. Bagaimana cara menggapai kemuliaan, kemuliaan bisa digapai ketika manusia merasa belum apa-apa, menyadari rahmat Allah lebih banyak daripada apa yang telah diperolehnya, sehingga tak ada alasan bagi dirinya terputus dari rahmat Allah. Bukankah orang yang terputus dari rahmat Allah, berarti terputus dengan Allah.
Kendati dia telah sampai pada puncak kesuksesan, dia tetap membayangkan berada di bawah, sehingga kesuksesannya terus menanjak dan berkembang setiap saat. Dia bertanya kemana-mana untuk bisa meningkatkan pertumbuhan dirinya. Dia tidak hanya bertanya pada orang yang telah menggapai sukses cemerlang, dia berani bertanya pada orang yang pernah terdepak kegagalan. Bukankah dengan disadarkan akan sebuah kelemahan, orang akan tergerak untuk memperbaiki diri, menambah input, dan bertumbuh setiap saat. Karena kerendahan hatinya, dia bisa belajar kepada siapapun, berarti dia bisa melihat cahaya sukses dimana-mana, karena seluruh kehidupan berada dalam liputan Allah SWT.
Karena ia merasa masih berada dalam kerendahan, walau telah menggapai sukses, maka semua orang bisa menyentuh dan disentuh dia. Bahkan Allah pun bisa melibatkan diri dalam setiap aktivitas yang dijalani. Bukankah Allah berjanji meninggikan derajat orang yang merendahkan diri? Mungkin, tanpa dia sadari banyak masukan-masukan mengalir untuk perbaikannya. Mereka memberikan masukan tanpa pamrih sedikit pun. Semua orang sepertinya suka memberikan konsultasi gratis padanya. Karena masukan-masukan banyak orang, ia bakal terus berbenah diri dan bertumbuh, bagaimana bisa memberikan manfaat lebih besar lagi bagi sesama.
Pribadi ini tidak hanya sekadar telah mencapai sukses yang gemilang, tetapi telah mencapai kemuliaan di sisi Allah SWT. Mengapa? Ia tidak merasa sukses dan mulia, seluruh apa yang diperoleh karena pertolongan Allah SWT, yang wujudnya digerakkan banyak orang membantu dan menyokong bisnisnya. Ya, Allah hanya memuliakan orang yang merasa hina, mengangkat orang yang merasa rendah, mengayakan orang yang merasa fakir di hadapannya, mencurahkan ilmu bagi orang yang merasa bodoh. Rasakan kerendahan dirimu, insyaAllah kemuliaan hidup bakal meliputimu. Rasakan kefakiran dirimu, niscaya Allah akan memberikan kekayaan padamu. Rasakan kebodohan dirimu, niscaya Allah akan mencurahkan ilmu dari sisi-Nya. Tetapi berangsiapa yang telah merasa tinggi, ketahuilah dia akan terjatuh ke jurang yang paling menghinakan. Insya Allah.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Benar saja, dengan usaha yang amat keras, tanpa lelah, disertai impian besar yang tertancap di pikirannya, membimbing dirinya sampai ke puncak gunung. Hanya saja setelah sampai di puncak gunung, kesadarannya hanya tertuju pada puncak gunung, berikut kebanggaan yang menyelimuti dirinya. Dia tak ingat lagi, darimana dia berasal. Dia berasal dari kaki gunung yang landai dan rendah. Karena dia hanya menyadari telah sampai di puncak, tanpa menyadari darimana dia berasal, maka dia berjingkrak-jingkrak di atas gunung tersebut. Karena lalai akan kesuksesan sampai di puncak gunung, tanpa menyadari berada di ketinggian, dia pun terjatuh ke jurang yang amat dalam. Akhirnya dia mati dalam kehinaan. Ketinggian gunung telah membuatnya terjungkal jatuh ke dalam lembah yang amat curam.
****
Lukisan kisah ini diharapkan bisa menyajikan inspirasi yang indah di hati kita, bahwa orang jangan pernah sombong dengan perolehan hidup yang telah dicapainya. Karena kesombongan itu tidak akan membawa manusia kemana-mana kecuali jurang kehancuran. Ada sebuah perusahaan yang menggembar-gemborkan strategi dan manajemen bisnisnya, sebagai manajemen yang canggih, dan meyakini dengan manajemen tersebut perusahaannya bisa bertahan selamanya, bahkan bisa mengungguli perusahaan papan atas sekalipun. Seluruh promosi dan kesombongannya ternyata berbalas dengan kegetiran, bisnis itu tidak bisa bertahan lama, bahkan akhirnya hancur. Seluruh stakeholder perusahaan saling menyalahkan satu sama lain. Mengapa perusahaan itu hancur berkeping-keping? Perusahaan itu dihancurkan oleh sikap mengagungkan caranya sendiri, sehingga dia tidak mau berendah diri untuk mempelajari strategi perusahaan lain. Orang sombong telah merasa berada di batas ujung kehidupan, seperti berada di batas puncak sukses. Dia tak bisa mendaki kembali, akhirnya orang itu tak bakal bisa tumbuh dengan baik.
Di era persaingan yang amat ketat ini, orang atau perusahaan yang diduduki direksi yang sombong tidak bakal bisa melambung dengan sukses yang luar biasa. Mengapa? Karena dia tidak bisa bergerak mengikuti ritme keadaan yang berubah cepat. Dia fanatik dengan kunci-kunci master yang telah mengantarkan dia pada puncak kesuksesan, padahal strategi dan manajemen akan terus berubah, seiring dengan perubahan arah psikologi pasar. Bisa jadi manajemen sukses yang digunakan, sekarang sudah kadaluwarsa.
Berarti orang merasa sukses, dan kemudian terpaku dengan cara-cara lama menggapai sukses akan mudah ditinggalkan pesaingnya. Sukses harus, tetapi merasa sukses tidak boleh. Karena merasa sukses sendiri telah menghentikan langkah untuk pertumbuhan diri. Bukankah orang yang tidak merasa sukses berarti tidak bersyukur? Orang yang merasa sukses berarti membatasi rahmat Allah. Kita tetap bersyukur dengan hasil yang diperoleh, hanya saja bagaimana setiap hari kita harus bertumbuh mendekati cahaya (Allah). Rahmat Allah begitu luas tak terbatas, tak boleh dibatasi oleh perasaan sukses kita, karena hanya menghentikan langkah untuk melakukan yang terbaik dari hari ke hari. Apa sikap orang yang telah sampai di stasiun sukses?
Ingatlah, orang yang sukses adalah orang yang bisa membiakkan satu kesuksesan menuju kesuksesan berikutnya. Dia tidak hanya mengejar rahmat Allah, tetapi turut menebarkan rahmat Allah dimana-mana. Kesuksesan yang diraih mengalami pertumbuhan yang terus meningkat, sehingga tidak hanya menggapai sukses, tetapi kemuliaan. Bagaimana cara menggapai kemuliaan, kemuliaan bisa digapai ketika manusia merasa belum apa-apa, menyadari rahmat Allah lebih banyak daripada apa yang telah diperolehnya, sehingga tak ada alasan bagi dirinya terputus dari rahmat Allah. Bukankah orang yang terputus dari rahmat Allah, berarti terputus dengan Allah.
Kendati dia telah sampai pada puncak kesuksesan, dia tetap membayangkan berada di bawah, sehingga kesuksesannya terus menanjak dan berkembang setiap saat. Dia bertanya kemana-mana untuk bisa meningkatkan pertumbuhan dirinya. Dia tidak hanya bertanya pada orang yang telah menggapai sukses cemerlang, dia berani bertanya pada orang yang pernah terdepak kegagalan. Bukankah dengan disadarkan akan sebuah kelemahan, orang akan tergerak untuk memperbaiki diri, menambah input, dan bertumbuh setiap saat. Karena kerendahan hatinya, dia bisa belajar kepada siapapun, berarti dia bisa melihat cahaya sukses dimana-mana, karena seluruh kehidupan berada dalam liputan Allah SWT.
Karena ia merasa masih berada dalam kerendahan, walau telah menggapai sukses, maka semua orang bisa menyentuh dan disentuh dia. Bahkan Allah pun bisa melibatkan diri dalam setiap aktivitas yang dijalani. Bukankah Allah berjanji meninggikan derajat orang yang merendahkan diri? Mungkin, tanpa dia sadari banyak masukan-masukan mengalir untuk perbaikannya. Mereka memberikan masukan tanpa pamrih sedikit pun. Semua orang sepertinya suka memberikan konsultasi gratis padanya. Karena masukan-masukan banyak orang, ia bakal terus berbenah diri dan bertumbuh, bagaimana bisa memberikan manfaat lebih besar lagi bagi sesama.
Pribadi ini tidak hanya sekadar telah mencapai sukses yang gemilang, tetapi telah mencapai kemuliaan di sisi Allah SWT. Mengapa? Ia tidak merasa sukses dan mulia, seluruh apa yang diperoleh karena pertolongan Allah SWT, yang wujudnya digerakkan banyak orang membantu dan menyokong bisnisnya. Ya, Allah hanya memuliakan orang yang merasa hina, mengangkat orang yang merasa rendah, mengayakan orang yang merasa fakir di hadapannya, mencurahkan ilmu bagi orang yang merasa bodoh. Rasakan kerendahan dirimu, insyaAllah kemuliaan hidup bakal meliputimu. Rasakan kefakiran dirimu, niscaya Allah akan memberikan kekayaan padamu. Rasakan kebodohan dirimu, niscaya Allah akan mencurahkan ilmu dari sisi-Nya. Tetapi berangsiapa yang telah merasa tinggi, ketahuilah dia akan terjatuh ke jurang yang paling menghinakan. Insya Allah.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
KEBAHAGIAAN ADA DALAM MENCINTAI
Cukupkah kebahagiaan dengan mencintai? Bagaimana ketika yang dicintai tak membalas cintanya pada Anda, masihkah kebahagiaan berbalut dalam hati? Bukankah Anda akan merasa sakit ketika engkau dibenci bahkan dicaci maki oleh orang yang Anda cintai, mengapa kau harus tetap mencintainya, jika dekat dengannya malah mendapatkan dampratan dan cacian? Pertanyaan ini mungkin tersusun rapi sebagai bentuk paradoks atas ide besar yang terpampang di judul tulisan ini. Selama ini orang merasa bahagia ketika dicintai, tetapi ketika tidak dicintai akan merasa sedih. Seakan kebahagiaan ada ketika dicintai, dipeluk, dan dihargai orang lain. Tapi, ketika cinta, pelukan, dan penghargaan pupus, yang tersisa hanya puing-puing derita.
Pada mulanya, perlu dibangun kesadaran, kita tidak bisa mengarahkan agar orang mencintai kita, lebih tepatnya memposisikan diri yang dicintai. Bukankah suasana hati orang sering berubah, kadang sekarang begitu mencintai kita sepenuh hati, maka kita mendapatkan kebahagiaan yang full. Pada kesempatan lain, dia menunjukkan cinta yang setengah full, berdampak pada kebahagiaan yang juga setengah, dan bila dia tak lagi menunjukkan selera cinta, membuat kebahagiaan kita lenyap dan hilang, berganti derita.
Kita tak bisa mengarahkan mata angin cinta agar tetap mengarah pada kita, tetapi kita bisa mengarahkan diri sendiri untuk menyesuaikan dengan angin cinta itu. Kita tak bisa menuntut dan mengarahkan agar orang mencintai kita, tetapi kita bisa memilih untuk mencintai orang lain tanpa batas. Kita bisa merancang iklim cinta kita sendiri, mengapa kita tidak terus memancarkan cinta pada orang lain tanpa batas. Ketika kita mencintai orang lain, niscaya kita akan bahagia. Mengapa? Karena dalam cinta, kita hanya menemukan kebaikan dan kesejukan. Andaikan suatu saat, orang yang kita cintai membenci, mencaci, memfitnah kita, tentu tidak selayaknya mengurangi kualitas rasa cinta kita padanya. Karena cinta kita pada orang tersebut bukan karena dia mencintai kita, tetapi memang berangkat dari cinta kita padanya. Orang yang mencintai melampaui bentuk tubuh dan bentuk perbuatan. Dia selalu melihat fitrah suci yang tertanam dalam diri yang dicintai.
Makanya ketika mencintai sesuatu, tertanam dalam lubuk sanubari sikap sabar dan ikhlas. Sabar dalam menerima beragam ujian dalam cinta, ikhlas dengan apa pun yang dikorbankan, tidak pernah mengungkit-ungkit pemberian pada orang yang dicintai, yang bakal menghapus rasa cinta itu sendiri. Dia tidak melihat apapun dari yang dicintai, kecuali kebaikan. Bukankah ketika orang memikirkan kebaikan, yang ada hanya surga. Rasulullah bersabda, “Jujurlah, karena jujur menunjukkan pada kebaikan, dan kebaikan menunjukkan pada surga.”
Orang yang mencintai tak pernah berpikir apa yang diperoleh dari yang dicintai, tetapi apa yang bisa diberikan pada yang dicintai. Karena dia tak berharap apapun pada yang dicintai, andaikan dia mendapatkan senyum ketulusan, atau mendapatkan cacian maka bagi pencinta tidak ada bedanya. Mengapa? Karena fokusnya bukan pada sikap yang dicintai padanya, tetapi sikap dia pada orang yang dicintai. Makin sering dia memberi, maka dengan sendirinya akan tumbuh dan tumbuh rasa bahagia. Ia begitu tulus mencintai, karena baginya mencintai makhluk hanyalah saluran mengekspresikan cinta pada Allah. Karenanya sang pencinta tidak merasa disakiti, bahkan dia terus merasa bahagia. Cacian dan senyuman bagi sang pencinta, hanyalah cara orang yang dicintai menunjukkan perhatiannya pada kita. Ketika orang telah berhasil mencintai seperti itu, niscaya cinta bukan jalan derita, tetapi cinta adalah jalan menggapai kebahagiaan yang hakiki. Karena tujuan cinta kebahagiaan, maka perjalanan cinta pun bertabur bunga kebahagiaan.
Pesan cinta Rasulullah SAW bisa dijadikan acuan bagaimana agar bisa mencintai dengan focus pada kebaikan yang dicintai. Mencintai yang membuat kokoh, bukan karena orang yang dicintai, tetapi mencintai karena Allah. Mengapa mencintai karena Allah akan menjadi kokoh dan kuat? Ya karena Allah sandaran yang tidak pernah berubah dan sempurna. Ketika kita menyandarkan pada yang sempurna, maka semua pernak-pernik yang dialami dalam cinta sempurna datang dari Allah, dan disambut dengan cinta penuh bahagia. Ketika cinta telah disandarkan pada Allah, maka cinta itu akan terus terasa bahagia. Tetapi kalau disandarkan pada sesuatu selainnya, maka itu akan terasa rapuh, dan kebahagiaan dalam persahabatan tidak bakal bertahan lama. Mencintailah karena Allah, maka kebahagiaan tidak akan berhenti mengalir ke dalam hati kita.
Saatnya, kita belajar mencintai tanpa syarat pada apapun, ketika kita bisa mencintai tanpa syarat, bahkan kebahagiaan gratis terkirim ke dalam tangki hati kita. Ketika orang mencintai tanpa syarat, niscaya kebahagiaannya pun tanpa syarat. Ketika orang mencintai tanpa batas, sama kebahagiaannya pun tanpa batas. Makin luas cakupan cintamu, makin luas cakupan kebahagiaan di hatimu.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Pada mulanya, perlu dibangun kesadaran, kita tidak bisa mengarahkan agar orang mencintai kita, lebih tepatnya memposisikan diri yang dicintai. Bukankah suasana hati orang sering berubah, kadang sekarang begitu mencintai kita sepenuh hati, maka kita mendapatkan kebahagiaan yang full. Pada kesempatan lain, dia menunjukkan cinta yang setengah full, berdampak pada kebahagiaan yang juga setengah, dan bila dia tak lagi menunjukkan selera cinta, membuat kebahagiaan kita lenyap dan hilang, berganti derita.
Kita tak bisa mengarahkan mata angin cinta agar tetap mengarah pada kita, tetapi kita bisa mengarahkan diri sendiri untuk menyesuaikan dengan angin cinta itu. Kita tak bisa menuntut dan mengarahkan agar orang mencintai kita, tetapi kita bisa memilih untuk mencintai orang lain tanpa batas. Kita bisa merancang iklim cinta kita sendiri, mengapa kita tidak terus memancarkan cinta pada orang lain tanpa batas. Ketika kita mencintai orang lain, niscaya kita akan bahagia. Mengapa? Karena dalam cinta, kita hanya menemukan kebaikan dan kesejukan. Andaikan suatu saat, orang yang kita cintai membenci, mencaci, memfitnah kita, tentu tidak selayaknya mengurangi kualitas rasa cinta kita padanya. Karena cinta kita pada orang tersebut bukan karena dia mencintai kita, tetapi memang berangkat dari cinta kita padanya. Orang yang mencintai melampaui bentuk tubuh dan bentuk perbuatan. Dia selalu melihat fitrah suci yang tertanam dalam diri yang dicintai.
Makanya ketika mencintai sesuatu, tertanam dalam lubuk sanubari sikap sabar dan ikhlas. Sabar dalam menerima beragam ujian dalam cinta, ikhlas dengan apa pun yang dikorbankan, tidak pernah mengungkit-ungkit pemberian pada orang yang dicintai, yang bakal menghapus rasa cinta itu sendiri. Dia tidak melihat apapun dari yang dicintai, kecuali kebaikan. Bukankah ketika orang memikirkan kebaikan, yang ada hanya surga. Rasulullah bersabda, “Jujurlah, karena jujur menunjukkan pada kebaikan, dan kebaikan menunjukkan pada surga.”
Orang yang mencintai tak pernah berpikir apa yang diperoleh dari yang dicintai, tetapi apa yang bisa diberikan pada yang dicintai. Karena dia tak berharap apapun pada yang dicintai, andaikan dia mendapatkan senyum ketulusan, atau mendapatkan cacian maka bagi pencinta tidak ada bedanya. Mengapa? Karena fokusnya bukan pada sikap yang dicintai padanya, tetapi sikap dia pada orang yang dicintai. Makin sering dia memberi, maka dengan sendirinya akan tumbuh dan tumbuh rasa bahagia. Ia begitu tulus mencintai, karena baginya mencintai makhluk hanyalah saluran mengekspresikan cinta pada Allah. Karenanya sang pencinta tidak merasa disakiti, bahkan dia terus merasa bahagia. Cacian dan senyuman bagi sang pencinta, hanyalah cara orang yang dicintai menunjukkan perhatiannya pada kita. Ketika orang telah berhasil mencintai seperti itu, niscaya cinta bukan jalan derita, tetapi cinta adalah jalan menggapai kebahagiaan yang hakiki. Karena tujuan cinta kebahagiaan, maka perjalanan cinta pun bertabur bunga kebahagiaan.
Pesan cinta Rasulullah SAW bisa dijadikan acuan bagaimana agar bisa mencintai dengan focus pada kebaikan yang dicintai. Mencintai yang membuat kokoh, bukan karena orang yang dicintai, tetapi mencintai karena Allah. Mengapa mencintai karena Allah akan menjadi kokoh dan kuat? Ya karena Allah sandaran yang tidak pernah berubah dan sempurna. Ketika kita menyandarkan pada yang sempurna, maka semua pernak-pernik yang dialami dalam cinta sempurna datang dari Allah, dan disambut dengan cinta penuh bahagia. Ketika cinta telah disandarkan pada Allah, maka cinta itu akan terus terasa bahagia. Tetapi kalau disandarkan pada sesuatu selainnya, maka itu akan terasa rapuh, dan kebahagiaan dalam persahabatan tidak bakal bertahan lama. Mencintailah karena Allah, maka kebahagiaan tidak akan berhenti mengalir ke dalam hati kita.
Saatnya, kita belajar mencintai tanpa syarat pada apapun, ketika kita bisa mencintai tanpa syarat, bahkan kebahagiaan gratis terkirim ke dalam tangki hati kita. Ketika orang mencintai tanpa syarat, niscaya kebahagiaannya pun tanpa syarat. Ketika orang mencintai tanpa batas, sama kebahagiaannya pun tanpa batas. Makin luas cakupan cintamu, makin luas cakupan kebahagiaan di hatimu.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Langganan:
Postingan (Atom)