Agama serupa gudang yang menyimpan kebajikan. Ya, setiap agama mengajarkan pemeluknya untuk berbuat bajik di dalam hidupnya. Kasih, cinta, dan kelembutan menjadi pengajaran agung yang disajikan agama. Agama terasa begitu sakral, suci, kudus, karenanya energi keburukan tak boleh menyelubungi agama.
Tiada cela yang bisa mengendus agama, karena agama sendiri telah mengalami kemurnian. Kendati demikian, agama bukanlah tujuan yang harus diagung-agungkan, sehingga kita terjebak menuhankan agama. Agama sebagai kanal yang disediakan Tuhan agar hamba-Nya kembali pada-Nya dengan keadaan murni berbusanakan cinta.
Kita tidak berhenti di agama sebagai sebuah istilah dan jalan, namun apa yang menjadi maksud agung dibalik kehadiran agama? Betapa sering orang cekcok karena perbedaan cara pandang dalam agama. Agama hadir tidak sebatas disadari sebagai ikon ruhani, tetapi menjadi medan kudus yang harus dialami dan direguk saripatinya.
Agama menjadi alat yang menunjukkan jalan Anda menuju Tuhan Yang Maha Agung. Serupa kendaraan, agama digunakan saat orang berjalan menuju alamat yang dituju. Mungkinkah orang masih menggunakan kendaraan, apalagi bertempat tinggal di kendaraan tersebut, kala sudah sampai pada tujuan. Karenanya saat orang berada di akhirat, ibadah sebagai jalan menuju Tuhan sudah tidak ada lagi. Yang ada sekadar medan pertanggungjawaban akan amal perbuatan manusia saat di dunia. Untuk itu, kita tidak perlu mengklaim apik dan tidak apiknya agama, tetapi apa capaian yang direguk dari agama? Adakah perubahan perilaku? Sudahkah sirna kezaliman di dalam kehidupan kita? Andaikan kezaliman dan keingkaran masih sering menjejali kepribadian kita, berarti cahaya agama belum bersinar di hati kita.
Kita menemukan sosok manusia yang bertengkar soal agama, bahkan berani melakukan kekerasan demi agama. Dia berpikir bahwa kekerasan yang dilatari agama bisa membuat wajah agama kian anggun dan memesona? Malah dengan perilaku kekerasan yang dipraktikkan para pemeluknya membuat agama kian menakutkan, sehingga orang semakin apati dengan agama. Agama itu indah, kudus, anggun, dan menyejukkan hati, kalau ada orang tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari agama, bahkan membuat kesan agama itu hanya sumber keangkuhan, maka agama tak lagi hadir sebagai solusi jitu bagi umat.
Tak jarang, kelompok pencari masih penasaran—di tengah matinya ruh agama dalam kehidupan—mungkinkah ada agama lain yang bisa memandu umatnya menuju jalan kebahagiaan yang hakiki. Kini, banyak orang menghias agama hanya sebatas permukaan semata-mata, sehingga mudah berubah-ubah. Dia tidak berusaha menguak agama di kandungan terdalamnya, yang disana ada spirit cinta, kasih, dan kelembutan. Semua orang akan menemukan keteduhan di dalam naungan pribadi yang telah disepuh agama. Kini, kita menghadapi sebuah era paradoksal, semakin banyak orang yang bisa menghafal hadist dan al-Qur’an, hanya saja kita menemukan sedikit sekali orang yang hatinya disepuh hadist dan al-Qur’an agar bisa menjadi tempat berlindung orang yang terjerat kesengsaraan batin.
Munculnya aliran kepercayaan baru yang menyempal dari Islam, serupa dengan Ahmadiyah versi Qodian, Wahidiyah, Bestari berikut aliran nyentrik lainnya, hanya sebagai demonstrasi rasa penasaran yang menyelinap di hati mereka, mungkinkah ada ajaran selain Islam yang bisa memberikan solusi efektif di akhir zaman. Mengapa mereka disusupi distrust terhadap Islam? Lantaran, para pemeluk Islam, terlebih orang yang dipercaya menjaga nilai-nilai agama, ternyata tidak memiliki komitmen kuat untuk menegakkan agama dalam kehidupan.
Tak jarang, kita temukan kyai, alih-alih komitmen terhadap nilai-nilai, mereka cenderung komitmen terhadap materi duniawi. Orang bisa mereguk kedamaian manakala telah berhasil melepaskan diri dari keterikatan duniawi? Sementara kyai yang begitu terikat dengan kehidupan duniawi yang semu ini, justru dia keluar dari gerbang kedamaian menuju gerbang kesengsaraan. Kalau demikian, bagaimana orang yang tidak digenangi kedamaian di hatinya bisa berbagi kedamaian pada kemanusiaan?
Andaikan merebak aliran baru, kyai tidak hanya berteriak keras menentang ajaran tersebut, tetapi harus bisa menggali akar permasalahan meruyaknya serbaneka aliran tersebut. Boleh jadi, kharisma ulama kini telah memudar, lantaran memiliki spirit serupa pebisnis dan pengusaha yang mengarahkan hidupnya untuk menangguk uang sebanyak-banyaknya.
Selain itu agama hanya menjadi simbol-simbol luaran, belum menghunjam sebagai spirit agung dalam setiap jiwa manusia। Kita terpesona dengan cangkang agama, dan menganggap setiap cangkang mewakili mutiara. Padahal, tidak setiap cangkang berisikan mutiara. Ketika agama sudah lepas dari ruhnya, berupa cinta, niscaya agama tidak kembali memiliki kekuatan.
Untuk itu, agama tak hanya mengandung syariat, tetapi juga hakikat. Kini, orang repot mengurus syariat agama, tetapi tidak berusaha menyelam kemurnian agama yang menghidupkan. Apa kiranya pesan yang terliput dalam shalat, sudahkah kita merealisasikan pesan murni yang terkandung dalam shalat berupa syukur? Sudahkah kita berlatih mengekspresikan syukur di setiap berkunjungnya realitas?
Demi bisa menguatkan kembali spirit agama, kita dituntut menghidupkan hakikat agama। Karena itulah, ruh agama। Ruh agama itu mewujud sebagai akhlak. Orang yang telah mencapai hakikat agama, perlahan-lahan akan mengalami pertumbuhan pesat, yang kemudian melahirkan buah, yakni akhlak yang mulia. Jika buah agama berupa akhlak telah menghias kehidupan pribadi mukmin, insya Allah setiap perilaku yang ditampilkan hanya kelembutan dan memesona setiap orang. Hanya orang-orang berbuah yang gampang memesona orang untuk mengikuti jalan yang ditempuhnya. Nabi pun menebarkan agama tak hanya dengan retorika belaka, dikombinasi dengan akhlak yang luhur. Betapa banyak orang yang terpikat masuk Islam lantaran kemuliaan dan keagungan akhlak yang membalut pribadi Nabi Muhammad Saw. Insya Allah.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Minggu, 27 Maret 2011
KAFIR DALAM CINTA
Manusia telah dianugerahi cinta hakiki di lubuk hatinya. Cinta itulah yang mengilhami manusia menuju istana kebahagiaan. Namun, kendati jiwa telah lekat dengan cinta, kebanyakan manusia salah tafsir tentang cinta, karenanya mereka sering dikendalikan oleh hawa nafsu. Yang subur adalah cinta yang menyeruak dari lubang hawa nafsu, bukan hati nurani. Tak ayal, cinta yang mengejawantah bukan cinta yang turut membuka gerbang kebahagiaan, malah mencaploknya ke dataran penderitaan.
Karena salah merespons seruan cinta yang bergema dari jiwa, mereka sering terjebak pada cinta yang bermula dari tarikan eksternal. Setiap keindahan, kenyamanan, dan kesenangan yang bersifat eksternal dipandang sebagai suatu yang harus dicintai. Mereka men-surfing kebahagiaan di tataran eksternal. Bagaimana mungkin orang bisa menggapai kebahagiaan lewat kondisi eksternal, bukankah di tataran eksternal selalu terbatas, membosankan, dan fana’. Memang, kalau orang melulu dipicu oleh ketertarikan eksternal, ia tidak bisa mereguk kebahagiaan abadi dan hakiki.
Betapa sering kita temukan orang yang mencintai harta benda, sehingga dia mengorbankan seluruh waktu dan tenaga untuk pencapaian harta benda itu. Kemewahan dan kemegahan yang dijanjikan harta benda, telah membuatnya lalai, dan tak tahu arah kemana perahu kehidupannya harusnya berlayar. Dia terus berputar-putar di tengah lautan ketidakpastian, dan digerogoti perasaan kurang yang terus-menerus. Bayangkan, 24 jam terasa kurang baginya untuk memburu harta, tak ayal seluruh waktu dihabiskan untuk mendulang harta yang melimpah, walau pada hakikatnya semakin mengempis dan mengurang.
Saya pernah bertanya pada seorang penjaga warung. Warung itu dijadikan pusat cangkruk anak muda. Memang, warung itu tidak pernah sepi dari remaja yang suka kongkow-kongkow. Dia selalu disibukkan dengan pengunjung yang datang. Saat sepi, saya mampir ke tempat tersebut, sembari memesan secangkir kopi.
“Bagaimana keadaan warungnya, rame ya mas?” tanyaku, “Alhamdulillah, tidak pernah sepi dari pengunjung, kendati tidak berdesak-desakan,”balasnya santun. “warung ini dibuka selama berapa jam sehari?”kembali kubertanya.
“24 jam mas, non stop,” katanya dengan gaya santai anak muda.
“emang yang jaga berapa orang mas?” selaku.
“ada 2 orang mas, jadi gantian pagi dan sore,” ucapnya.
“Bagaimana dengan ibadahnya, apa ada kesempatan?” tanyaku.
“Waduh mas, waktunya tidak cukup untuk beribadah,” katanya dengan dahi mengerut, walau terlihat tanpa beban.
“Mas, kita di dunia hanya sementara mas, hanya numpang ngombe, selebihnya kita di akhirat. Imbangilah mas investasi dunia dan akhirat,” kataku.
“Insya Allah Mas,”tanggapnya.
Kala otak dan hati telah tertembus virus duniawi, membikin orang lupa pada persoalan ukhrawi. Mereka melakukan itu, karena memandang duniawi lebih penting ketimbang ukhrawi. Bukankah duniawi sebagai tuntutan ril di hari ini. Semakin nampak peran kedudukan duniawi saat ini. Cinta akan menggerakkan orang padanya. Ketika orang mencintai dunia, maka dia akan selalu digerakkan untuk menambang sebanyak-banyaknya kekayaan duniawi.
24 jam yang disediakan Tuhan dirasa kurang bagi orang yang hanya tertuju pada duit dan duit. Betapa sering orang tidak bisa menikmati harta benda yang telah berada di genggaman. Dia hanya menyimpan seluruh perolehan harta itu di bank, sembari terus memburu harta sebanyak-banyaknya. Padahal tiada kenikmatan yang dianugerahkan pada manusia kecuali untuk dinikmati. Kenikmatan itu harusnya dinikmati sebagai kebutuhan sehari-hari, dinikmati untuk menumbuhkan kelembutan hati dengan memberikannya pada sesama. Kala orang telah terjebak dalam mencintai selain Allah, pasti dia tidak bisa mereguk kebahagiaan yang hakiki. Semuanya hanya sebuah ilusi yang karenanya ia gampang digerogoti perasaan bosan.
Kini, dengan uang yang dimiliki dia bisa membeli mobil yang paling mewah, tetapi berapa lama dia bisa menikmati keindahan mobil tersebut? Setelah lama dia menggunakan mobil tersebut, diam-diam menyembul rasa bosan, apalagi jika meluncur tipe mobil baru yang lebih mewah serta menawarkan kenyamanan super।
Jadi, orang tidak akan pernah menemukan kebahagiaan yang hakiki dan abadi pada suatu yang semu dan sementara। Maka hati ini sejatinya hanya mencintai satu, yakni Allah SWT. Sementara kecintaan pada dimensi lain sebagai ekspresi atau refleksi dari rasa cinta pada Allah. Itu berarti, mencintai dunia tidak terlarang, sepanjang cinta dunia itu didasari rasa cinta yang kuat pada Allah SWT. Bercintalah karena Allah, niscaya Anda tidak pernah disergap perasaan kecewa setiap saat.
Andaikan orang yang kau cintai tidak berperilaku seperti yang Anda harapkan, ketenangan tidak pernah terungkit dari hati Anda. Karena ketenangan Anda disandarkan pada Allah SWT. Ingat perasaan cinta pada sesuatu selain Allah, akan membawanya pada keadaan yang selalu dirundung perasaan cemas. Cemas, jika yang dicintai hilang dan lepas darinya. Kita terlalu mencintai harta, diam-diam mengalir perasaan cemas, bagaimana kalau hartanya itu lepas bahkan hilang. Kendati harta itu telah diamankan di bank, pasti sedikit ada kecemasan, bagaimana kalau bank itu mengalami pailit, sehingga tidak bisa memenuhi hak-hak nasabah dengan baik. Namun, berbeda orang yang mencintai sesuatu karena Allah, maka dia menyerahkan apa yang dicintai pada Allah, menyerahkan penjagaannya pada Allah. Bukankah benteng Allah begitu kokoh untuk menjaga setiap apa yang hendak dijaga.
Jadikan Allah sebagai poros kecintaanmu, dan perasaan cintamu yang lain tidak boleh lepas dari poros ini agar kau selalu selamat dalam bercinta. Ingatlah, kalau kau benar-benar mencintai Allah, maka kau selalu menyatu dengan kehendak Allah. Andaikan Anda lepas dari apa yang kau cintai, kau tidak pernah mengurangi stok cintamu pada Allah. Karena Allah melakukan seperti itu juga dilandasi cinta, hanya saja saking lembutnya rahasia dibalik perbuatan itu Anda belum mampu meradar makna cinta dibalik perbuatan tersebut. Pandanglah setiap realitas dengan cinta, maka rahasia-rahasia suci dari Allah akan mengalir dibalik realitas itu, sehingga Anda bisa terus menangguk air kearifan dimana saja. Insya Allah.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Karena salah merespons seruan cinta yang bergema dari jiwa, mereka sering terjebak pada cinta yang bermula dari tarikan eksternal. Setiap keindahan, kenyamanan, dan kesenangan yang bersifat eksternal dipandang sebagai suatu yang harus dicintai. Mereka men-surfing kebahagiaan di tataran eksternal. Bagaimana mungkin orang bisa menggapai kebahagiaan lewat kondisi eksternal, bukankah di tataran eksternal selalu terbatas, membosankan, dan fana’. Memang, kalau orang melulu dipicu oleh ketertarikan eksternal, ia tidak bisa mereguk kebahagiaan abadi dan hakiki.
Betapa sering kita temukan orang yang mencintai harta benda, sehingga dia mengorbankan seluruh waktu dan tenaga untuk pencapaian harta benda itu. Kemewahan dan kemegahan yang dijanjikan harta benda, telah membuatnya lalai, dan tak tahu arah kemana perahu kehidupannya harusnya berlayar. Dia terus berputar-putar di tengah lautan ketidakpastian, dan digerogoti perasaan kurang yang terus-menerus. Bayangkan, 24 jam terasa kurang baginya untuk memburu harta, tak ayal seluruh waktu dihabiskan untuk mendulang harta yang melimpah, walau pada hakikatnya semakin mengempis dan mengurang.
Saya pernah bertanya pada seorang penjaga warung. Warung itu dijadikan pusat cangkruk anak muda. Memang, warung itu tidak pernah sepi dari remaja yang suka kongkow-kongkow. Dia selalu disibukkan dengan pengunjung yang datang. Saat sepi, saya mampir ke tempat tersebut, sembari memesan secangkir kopi.
“Bagaimana keadaan warungnya, rame ya mas?” tanyaku, “Alhamdulillah, tidak pernah sepi dari pengunjung, kendati tidak berdesak-desakan,”balasnya santun. “warung ini dibuka selama berapa jam sehari?”kembali kubertanya.
“24 jam mas, non stop,” katanya dengan gaya santai anak muda.
“emang yang jaga berapa orang mas?” selaku.
“ada 2 orang mas, jadi gantian pagi dan sore,” ucapnya.
“Bagaimana dengan ibadahnya, apa ada kesempatan?” tanyaku.
“Waduh mas, waktunya tidak cukup untuk beribadah,” katanya dengan dahi mengerut, walau terlihat tanpa beban.
“Mas, kita di dunia hanya sementara mas, hanya numpang ngombe, selebihnya kita di akhirat. Imbangilah mas investasi dunia dan akhirat,” kataku.
“Insya Allah Mas,”tanggapnya.
Kala otak dan hati telah tertembus virus duniawi, membikin orang lupa pada persoalan ukhrawi. Mereka melakukan itu, karena memandang duniawi lebih penting ketimbang ukhrawi. Bukankah duniawi sebagai tuntutan ril di hari ini. Semakin nampak peran kedudukan duniawi saat ini. Cinta akan menggerakkan orang padanya. Ketika orang mencintai dunia, maka dia akan selalu digerakkan untuk menambang sebanyak-banyaknya kekayaan duniawi.
24 jam yang disediakan Tuhan dirasa kurang bagi orang yang hanya tertuju pada duit dan duit. Betapa sering orang tidak bisa menikmati harta benda yang telah berada di genggaman. Dia hanya menyimpan seluruh perolehan harta itu di bank, sembari terus memburu harta sebanyak-banyaknya. Padahal tiada kenikmatan yang dianugerahkan pada manusia kecuali untuk dinikmati. Kenikmatan itu harusnya dinikmati sebagai kebutuhan sehari-hari, dinikmati untuk menumbuhkan kelembutan hati dengan memberikannya pada sesama. Kala orang telah terjebak dalam mencintai selain Allah, pasti dia tidak bisa mereguk kebahagiaan yang hakiki. Semuanya hanya sebuah ilusi yang karenanya ia gampang digerogoti perasaan bosan.
Kini, dengan uang yang dimiliki dia bisa membeli mobil yang paling mewah, tetapi berapa lama dia bisa menikmati keindahan mobil tersebut? Setelah lama dia menggunakan mobil tersebut, diam-diam menyembul rasa bosan, apalagi jika meluncur tipe mobil baru yang lebih mewah serta menawarkan kenyamanan super।
Jadi, orang tidak akan pernah menemukan kebahagiaan yang hakiki dan abadi pada suatu yang semu dan sementara। Maka hati ini sejatinya hanya mencintai satu, yakni Allah SWT. Sementara kecintaan pada dimensi lain sebagai ekspresi atau refleksi dari rasa cinta pada Allah. Itu berarti, mencintai dunia tidak terlarang, sepanjang cinta dunia itu didasari rasa cinta yang kuat pada Allah SWT. Bercintalah karena Allah, niscaya Anda tidak pernah disergap perasaan kecewa setiap saat.
Andaikan orang yang kau cintai tidak berperilaku seperti yang Anda harapkan, ketenangan tidak pernah terungkit dari hati Anda. Karena ketenangan Anda disandarkan pada Allah SWT. Ingat perasaan cinta pada sesuatu selain Allah, akan membawanya pada keadaan yang selalu dirundung perasaan cemas. Cemas, jika yang dicintai hilang dan lepas darinya. Kita terlalu mencintai harta, diam-diam mengalir perasaan cemas, bagaimana kalau hartanya itu lepas bahkan hilang. Kendati harta itu telah diamankan di bank, pasti sedikit ada kecemasan, bagaimana kalau bank itu mengalami pailit, sehingga tidak bisa memenuhi hak-hak nasabah dengan baik. Namun, berbeda orang yang mencintai sesuatu karena Allah, maka dia menyerahkan apa yang dicintai pada Allah, menyerahkan penjagaannya pada Allah. Bukankah benteng Allah begitu kokoh untuk menjaga setiap apa yang hendak dijaga.
Jadikan Allah sebagai poros kecintaanmu, dan perasaan cintamu yang lain tidak boleh lepas dari poros ini agar kau selalu selamat dalam bercinta. Ingatlah, kalau kau benar-benar mencintai Allah, maka kau selalu menyatu dengan kehendak Allah. Andaikan Anda lepas dari apa yang kau cintai, kau tidak pernah mengurangi stok cintamu pada Allah. Karena Allah melakukan seperti itu juga dilandasi cinta, hanya saja saking lembutnya rahasia dibalik perbuatan itu Anda belum mampu meradar makna cinta dibalik perbuatan tersebut. Pandanglah setiap realitas dengan cinta, maka rahasia-rahasia suci dari Allah akan mengalir dibalik realitas itu, sehingga Anda bisa terus menangguk air kearifan dimana saja. Insya Allah.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Rabu, 09 Februari 2011
BERKUASA MAKIN TIDAK AMAN
Saya teringat dengan kesederhanaan dibalik keagungan khalifah Umar Ibn Khattab. Saat beliau memangku jabatan sebagai khalifah, dia hidup untuk melayani umat sepenuhnya. Hampir tak ada waktu untuk beristirahat. Kata beliau, bagaimana saya bisa istirahat, di siang hari saya harus memenuhi hak-hak rakyat, di malam hari saya harus memenuhi hak-hak Allah SWT. Kekuasaan yang diperoleh tidak membuat beliau hidup dalam suasana santai, tetapi merasa memangku beban dan tanggung jawab yang amat berat. Beliau telah melepaskan seluruh kepentingan dirinya, dan lebih mengutamakan kepentingan rakyat secara keseluruhan.
Karena kekuasaan tidak untuk memenuhi kepentingan diri, maka beliau selalu merasa aman berada di mana saja. Bahkan dia kadang beristirahat dengan cara berteduh di bawah pohon. Bagaimana mungkin seorang khalifah yang notabena pemimpin seluruh umat Islam berteduh di bawah pohon untuk sekadar istirahat tanpa pengamanan seorang pun. Apakah tidak takut ditikam atau tertusuk tombak atau panah? Beliau tidak hanya menjadi penguasa bagi rakyat, tetapi beliau juga telah menguasai dirinya sendiri. Beliau telah menyerahkan seluruh kehidupan ini pada Allah. Dalam hatinya hanya ada rasa takut pada Allah, tidak pernah terbersit sedikit pun takut pada makhluk. Suasana hati itulah yang membuat beliau tidak pernah meminta pengamanan.
Bayangkan dengan penguasa zaman ini. Sungguh kita akan menemukan realitas yang kontras, betapa makin tinggi sebuah kekuasaan, niscaya makin terdera rasa takut. Mengapa dia begitu takut? Ya karena dia tidak bergantung pada Allah, tetapi bergantung pada kedudukan. Saat insan bergantung pada selain Allah, niscaya dia mulai menemukan kerapuhan dalam dirinya. Dia takut kedudukan lenyap dari dirinya, walau sesungguhnya kedudukan pada saatnya akan lenyap. Apakah dirinya terlebih dahulu yang meninggalkan kedudukan dengan datangnya kematian, atau kedudukan itu sendiri yang bakal menghilang dengan adanya pergantian kekuasaan, atau demo rakyat yang memicu meruyaknya kudeta atas kekuasaannya. Sungguh aneh, orang makin berkuasa, makin merasakan tidak aman. Lebih aneh lagi, mengapa banyak orang mengejar kekuasaan yang hanya membuatnya dia makin dikuasai rasa takut. Orang yang berkuasa membutuhkan keamanan, maka dia meminta pengamanan dari pihak keamanan. Saat dia meminta keamanan, siapa yang berkuasa sebenarnya? Apakah yang menjaga keamanan atau yang dijaga keamanannya? Siapa pelayan yang sebenarnya? Apakah yang memberikan pelayanan atau yang meminta pelayanan? Di zaman akhir ini, kita menjadi rabun untuk mengertikan dengan jelas tentang siapa pelayan dan yang dilayani.
Suatu kenyataan yang menggelikan, mengapa saat orang memiliki kedudukan makin tidak bebas untuk mendapatkan kenyamanan hidup. Kemanapun pasti ada orang yang mengikutinya. Dipandu dalam kegiatan protokoler. Hal itu tidak hanya berlaku pada orang yang memiliki kekuasaan tersebut, namun juga berimbas pada keluarganya. Kalau biasanya anaknya bisa bermain bebas dengan sebayanya, sekarang terus saja disertai pengamanan. Seakan terpisah dengan ruang kebebasan. Sungguh tidak masuk akal, ketika orang diberi kekuasaan ternyata makin tidak aman dan bebas.
Karena kekuasaan tidak untuk memenuhi kepentingan diri, maka beliau selalu merasa aman berada di mana saja. Bahkan dia kadang beristirahat dengan cara berteduh di bawah pohon. Bagaimana mungkin seorang khalifah yang notabena pemimpin seluruh umat Islam berteduh di bawah pohon untuk sekadar istirahat tanpa pengamanan seorang pun. Apakah tidak takut ditikam atau tertusuk tombak atau panah? Beliau tidak hanya menjadi penguasa bagi rakyat, tetapi beliau juga telah menguasai dirinya sendiri. Beliau telah menyerahkan seluruh kehidupan ini pada Allah. Dalam hatinya hanya ada rasa takut pada Allah, tidak pernah terbersit sedikit pun takut pada makhluk. Suasana hati itulah yang membuat beliau tidak pernah meminta pengamanan.
Bayangkan dengan penguasa zaman ini. Sungguh kita akan menemukan realitas yang kontras, betapa makin tinggi sebuah kekuasaan, niscaya makin terdera rasa takut. Mengapa dia begitu takut? Ya karena dia tidak bergantung pada Allah, tetapi bergantung pada kedudukan. Saat insan bergantung pada selain Allah, niscaya dia mulai menemukan kerapuhan dalam dirinya. Dia takut kedudukan lenyap dari dirinya, walau sesungguhnya kedudukan pada saatnya akan lenyap. Apakah dirinya terlebih dahulu yang meninggalkan kedudukan dengan datangnya kematian, atau kedudukan itu sendiri yang bakal menghilang dengan adanya pergantian kekuasaan, atau demo rakyat yang memicu meruyaknya kudeta atas kekuasaannya. Sungguh aneh, orang makin berkuasa, makin merasakan tidak aman. Lebih aneh lagi, mengapa banyak orang mengejar kekuasaan yang hanya membuatnya dia makin dikuasai rasa takut. Orang yang berkuasa membutuhkan keamanan, maka dia meminta pengamanan dari pihak keamanan. Saat dia meminta keamanan, siapa yang berkuasa sebenarnya? Apakah yang menjaga keamanan atau yang dijaga keamanannya? Siapa pelayan yang sebenarnya? Apakah yang memberikan pelayanan atau yang meminta pelayanan? Di zaman akhir ini, kita menjadi rabun untuk mengertikan dengan jelas tentang siapa pelayan dan yang dilayani.
Suatu kenyataan yang menggelikan, mengapa saat orang memiliki kedudukan makin tidak bebas untuk mendapatkan kenyamanan hidup. Kemanapun pasti ada orang yang mengikutinya. Dipandu dalam kegiatan protokoler. Hal itu tidak hanya berlaku pada orang yang memiliki kekuasaan tersebut, namun juga berimbas pada keluarganya. Kalau biasanya anaknya bisa bermain bebas dengan sebayanya, sekarang terus saja disertai pengamanan. Seakan terpisah dengan ruang kebebasan. Sungguh tidak masuk akal, ketika orang diberi kekuasaan ternyata makin tidak aman dan bebas.
Rabu, 01 Desember 2010
MENELAAH MUSIBAH DARI PERSPEKTIF CINTA
Bangsa Indonesia diterpa prahara bertubi-tubi, dari banjir Wasior di Papua, Gunung Merapi di Jawa Tengah, dan Gempa di Mentawai, Sumatera Barat, bersambung oleh gejala aktifnya Gunung Anak Krakatau. Patut kiranya aneka peristiwa menggetirkan itu menjadi bahan refleksi nasional, berikut menginspirasi kesadaran kebangsaan, agar tergerak menjadi negeri yang dilimpahi keberkahan dari langit dan bumi.
Bencana yang menimpa berbagai daerah, janganlah hanya dianggap sebagai bencana untuk wilayah tersebut dan menjadi bahan pikiran bagi korban semata, tetapi diharapkan bisa mengetuk kesadaran seluruh bangsa agar bersikap simpati, empati, bahkan berusaha menyelami perasaan mereka yang ditimpa musibah. Bagaimana perasaan anak-anak yang tidak berdosa? Bagaimana perasaan perempuan yang ditinggalkan suaminya? Bagaimana perasaan anak-anak yang ditinggal ayah dan ibunya? Keadaan itu perlu mengetuk kesadaran kita sebagai satu bangsa dan satu umat.
Selaku satu bangsa apalagi sesama umat Islam, kita jangan pernah menghakimi korban sebagai orang yang berdosa. Ingatlah, dosa manusia berada dalam rahasia Allah. Kita tidak boleh mengklaim orang lain berlumur dosa. Kita belajar melihat dari jendela belas kasih, sehingga yang terpantul dari setiap sikap kita hanya belas kasih semata pada orang-orang yang berada di lingkaran musibah. Kita, selaku umat Islam, tidak patut berburuk sangka pada saudara sendiri, karena di beberapa tempat yang mengalami bencana, pasti juga ada komunitas muslim. Padahal berburuk sangka pada sesama adalah suatu yang tidak disukai Allah SWT.
Kenyataan pahit itu layaknya menjadi bahan introspeksi bagi kita, bukan bahan ekstrospeksi orang lain. Yakinilah, orang tidak pernah bisa menggali hikmah di balik kejadian buruk, kalau dialiri spirit menghakimi dan menyalahkan orang lain. Carilah terang di setiap makhluk Allah, niscaya kita bisa menambang hikmah melimpah. Adapun sikap pada diri sendiri, kita harus menjelajah titik gelap yang menodai diri, berikut dibersihkan, agar kian hari hati menjadi lebih bening dan terang. Bukankah di rumah yang terang orang bakal memeroleh keterangan-keterangan agung?
Bagaimana menelaah musibah dalam perspektif cinta? Ketika hati kita penuh cinta, tiada yang terpantul dari setiap tindakan kita kecuali dijiwai cinta. Semesta ini terlahir dari cinta, serupa manusia terlahir dari rahim ibu, maka sejatinya semesta terlahir dari sifat “rahim” Allah SWT. Berarti, seluruh kehidupan terlahir dari spirit cinta. Kalau terlahir dari spirit cinta, tiada yang menyertai kehidupan makhluk kecuali cinta.
Kejadian yang meletup akhir-akhir ini pasti terpancar dari mata air kasih sayang Allah yang tanpa batas. Karena itu, diharapkan kejadian tersebut membuat orang bisa kembali pada Allah SWT. Semua menyeru dan bergerak kembali pada Allah, pun kita bersemangat kembali pada Allah dengan cara terus menelaah dan mengintrospeksi diri sendiri, bagaimana hubungan kita dengan Allah SWT. Boleh jadi, lewat kejadian pahit ini sejatinya Allah hendak memancing bagaimana kerekatan persaudaraan kita sebagai bangsa atau sesama umat Islam? Apakah kita lebih suka menghakimi orang lain, atau hati kita tersentuh untuk berbagi dan menolong mereka? Bagaimana andaikan kita tak bisa membantu dalam bentuk materi? Ya, setidaknya ada spirit yang menggenangi jiwa kita untuk menjadi bagian solusi atas musibah yang menerpanya, minimal mendoakan mereka sebagai sesama muslim atau satu bangsa.
Penghakiman, berburuk sangka, apalagi kutukan tidak menambah terang keadaan yang diliputi gelap, malah membuat keadaan makin pekat. Karena itu, bagaimana kita hadir menjadi orang yang bisa mengantarkan suluh cahaya belas kasih bagi mereka, sehingga mereka merasa memiliki saudara. Mereka tidak sendirian, mereka memiliki saudara sebangsa. Tetapi, kalau keakuan dalam bentuk individualism atau chauvinisme masih menebal di tubuh batin bangsa, justru yang meruyak semangat menyalahkan dan berburuk sangka. Padahal, boleh jadi kenyataan tersebut sebagai cara Allah untuk menumbuhkan spirit persaudaraan sesama muslim dan kebangsaan. Spirit menghakimi dan berburuk sangka sendiri rentan merapuhkan persaudaraan.
Apakah ketika sebagian komponen bangsa sakit, semua komponen bangsa merasa sakit? Atau kepekaan negeri ini semakin tajam? Apakah kepekaan pemimpinnya tetap tumpul? Apakah pemimpin negeri ini lebih meluangkan waktu untuk merasakan dan memperhatikan apa yang diderita rakyatnya, atau lebih sibuk mempertahankan kedudukan dan citra diri? Masihkah pemimpin sibuk memikirkan citra diri ketika harus berhadapan dengan musibah yang memedihkan rakyat kecil itu?
Kejadian besar itu tidak hanya tertuju pada satu daerah terdampak, tetapi diharapkan bisa membuka kesadaran dan mata hati seluruh bangsa, dari rakyat kecil hingga pemimpin bangsa. Ketika seluruh komponen bangsa merenungi dan memikirkan pelajaran agung dibalik kejadian tersebut, insya Allah kejadian itu bisa menginspirasi bangsa mengalami kebangkitan bersama. Diharapkan timbul kembali rasa gotong royong yang kini perlahan-lahan memudar, tenggelam oleh sikap individualisme yang lahir dari perut kapitalisme. Bisakah kejadian ini memutus mata rantai individualism yang sudah begitu kuat?
Inilah tugas yang dipikulkan pada kita dari kejadian besar tersebut. Selayaknya bangkit semangat membantu, perlahan-lahan tergerus spirit keakuan yang masih bersemi di dada anak bangsa. Kita bisa bercermin pada peristiwa Gempa Tsunami yang melanda Aceh beberapa tahun silam. Kejadian itu tak hanya bisa memanggil kebersamaan anak bangsa, bahkan bangsa-bangsa luar pun turut terinspirasi berbagi kemanusiaan di Aceh. Ketika setiap komponen negeri telah berhasil menyatukan jiwanya dalam jiwa bangsa, insya Allah disanalah identitas kebangsaan akan mengejawantah secara optimal.
Percayalah, kasih sayang Allah melampaui kemurkaan-Nya. Kalau kasih sayang Allah melampuai kemurkaan-Nya, mengapa kita tidak mengutamakan kasih sayang ketimbang kutukan. Allah mencintai hamba-Nya, lebih dari kecintaan ibu pada anaknya. Lalu mengapa kita tidak berusaha menempa spirit cinta selaras dengan cinta yang dicontohkan Allah dan Sayyidina Muhammad SAW pada korban kejadian yang menimpa negeri kita tercinta?
Syaikh Muhammad Dhiyauddin Qushwandhi
Ditranskripsi: Khalili Anwar
Bencana yang menimpa berbagai daerah, janganlah hanya dianggap sebagai bencana untuk wilayah tersebut dan menjadi bahan pikiran bagi korban semata, tetapi diharapkan bisa mengetuk kesadaran seluruh bangsa agar bersikap simpati, empati, bahkan berusaha menyelami perasaan mereka yang ditimpa musibah. Bagaimana perasaan anak-anak yang tidak berdosa? Bagaimana perasaan perempuan yang ditinggalkan suaminya? Bagaimana perasaan anak-anak yang ditinggal ayah dan ibunya? Keadaan itu perlu mengetuk kesadaran kita sebagai satu bangsa dan satu umat.
Selaku satu bangsa apalagi sesama umat Islam, kita jangan pernah menghakimi korban sebagai orang yang berdosa. Ingatlah, dosa manusia berada dalam rahasia Allah. Kita tidak boleh mengklaim orang lain berlumur dosa. Kita belajar melihat dari jendela belas kasih, sehingga yang terpantul dari setiap sikap kita hanya belas kasih semata pada orang-orang yang berada di lingkaran musibah. Kita, selaku umat Islam, tidak patut berburuk sangka pada saudara sendiri, karena di beberapa tempat yang mengalami bencana, pasti juga ada komunitas muslim. Padahal berburuk sangka pada sesama adalah suatu yang tidak disukai Allah SWT.
Kenyataan pahit itu layaknya menjadi bahan introspeksi bagi kita, bukan bahan ekstrospeksi orang lain. Yakinilah, orang tidak pernah bisa menggali hikmah di balik kejadian buruk, kalau dialiri spirit menghakimi dan menyalahkan orang lain. Carilah terang di setiap makhluk Allah, niscaya kita bisa menambang hikmah melimpah. Adapun sikap pada diri sendiri, kita harus menjelajah titik gelap yang menodai diri, berikut dibersihkan, agar kian hari hati menjadi lebih bening dan terang. Bukankah di rumah yang terang orang bakal memeroleh keterangan-keterangan agung?
Bagaimana menelaah musibah dalam perspektif cinta? Ketika hati kita penuh cinta, tiada yang terpantul dari setiap tindakan kita kecuali dijiwai cinta. Semesta ini terlahir dari cinta, serupa manusia terlahir dari rahim ibu, maka sejatinya semesta terlahir dari sifat “rahim” Allah SWT. Berarti, seluruh kehidupan terlahir dari spirit cinta. Kalau terlahir dari spirit cinta, tiada yang menyertai kehidupan makhluk kecuali cinta.
Kejadian yang meletup akhir-akhir ini pasti terpancar dari mata air kasih sayang Allah yang tanpa batas. Karena itu, diharapkan kejadian tersebut membuat orang bisa kembali pada Allah SWT. Semua menyeru dan bergerak kembali pada Allah, pun kita bersemangat kembali pada Allah dengan cara terus menelaah dan mengintrospeksi diri sendiri, bagaimana hubungan kita dengan Allah SWT. Boleh jadi, lewat kejadian pahit ini sejatinya Allah hendak memancing bagaimana kerekatan persaudaraan kita sebagai bangsa atau sesama umat Islam? Apakah kita lebih suka menghakimi orang lain, atau hati kita tersentuh untuk berbagi dan menolong mereka? Bagaimana andaikan kita tak bisa membantu dalam bentuk materi? Ya, setidaknya ada spirit yang menggenangi jiwa kita untuk menjadi bagian solusi atas musibah yang menerpanya, minimal mendoakan mereka sebagai sesama muslim atau satu bangsa.
Penghakiman, berburuk sangka, apalagi kutukan tidak menambah terang keadaan yang diliputi gelap, malah membuat keadaan makin pekat. Karena itu, bagaimana kita hadir menjadi orang yang bisa mengantarkan suluh cahaya belas kasih bagi mereka, sehingga mereka merasa memiliki saudara. Mereka tidak sendirian, mereka memiliki saudara sebangsa. Tetapi, kalau keakuan dalam bentuk individualism atau chauvinisme masih menebal di tubuh batin bangsa, justru yang meruyak semangat menyalahkan dan berburuk sangka. Padahal, boleh jadi kenyataan tersebut sebagai cara Allah untuk menumbuhkan spirit persaudaraan sesama muslim dan kebangsaan. Spirit menghakimi dan berburuk sangka sendiri rentan merapuhkan persaudaraan.
Apakah ketika sebagian komponen bangsa sakit, semua komponen bangsa merasa sakit? Atau kepekaan negeri ini semakin tajam? Apakah kepekaan pemimpinnya tetap tumpul? Apakah pemimpin negeri ini lebih meluangkan waktu untuk merasakan dan memperhatikan apa yang diderita rakyatnya, atau lebih sibuk mempertahankan kedudukan dan citra diri? Masihkah pemimpin sibuk memikirkan citra diri ketika harus berhadapan dengan musibah yang memedihkan rakyat kecil itu?
Kejadian besar itu tidak hanya tertuju pada satu daerah terdampak, tetapi diharapkan bisa membuka kesadaran dan mata hati seluruh bangsa, dari rakyat kecil hingga pemimpin bangsa. Ketika seluruh komponen bangsa merenungi dan memikirkan pelajaran agung dibalik kejadian tersebut, insya Allah kejadian itu bisa menginspirasi bangsa mengalami kebangkitan bersama. Diharapkan timbul kembali rasa gotong royong yang kini perlahan-lahan memudar, tenggelam oleh sikap individualisme yang lahir dari perut kapitalisme. Bisakah kejadian ini memutus mata rantai individualism yang sudah begitu kuat?
Inilah tugas yang dipikulkan pada kita dari kejadian besar tersebut. Selayaknya bangkit semangat membantu, perlahan-lahan tergerus spirit keakuan yang masih bersemi di dada anak bangsa. Kita bisa bercermin pada peristiwa Gempa Tsunami yang melanda Aceh beberapa tahun silam. Kejadian itu tak hanya bisa memanggil kebersamaan anak bangsa, bahkan bangsa-bangsa luar pun turut terinspirasi berbagi kemanusiaan di Aceh. Ketika setiap komponen negeri telah berhasil menyatukan jiwanya dalam jiwa bangsa, insya Allah disanalah identitas kebangsaan akan mengejawantah secara optimal.
Percayalah, kasih sayang Allah melampaui kemurkaan-Nya. Kalau kasih sayang Allah melampuai kemurkaan-Nya, mengapa kita tidak mengutamakan kasih sayang ketimbang kutukan. Allah mencintai hamba-Nya, lebih dari kecintaan ibu pada anaknya. Lalu mengapa kita tidak berusaha menempa spirit cinta selaras dengan cinta yang dicontohkan Allah dan Sayyidina Muhammad SAW pada korban kejadian yang menimpa negeri kita tercinta?
Syaikh Muhammad Dhiyauddin Qushwandhi
Ditranskripsi: Khalili Anwar
BERSABAR DALAM IMAN
Keyakinan memantulkan sikap hidup, sabar, syukur, ridha, dan tawakkal. Seluruh sikap itu menandai adanya iman atau keyakinan di hati. Andaikan tidak ada sabar di jagat batin kita, menandai spirit iman belum menghunjam di lubuk hati. Kita berusaha meneguhkan keyakinan sehingga memancar aneka sikap elok yang menjembatani kita makin dekat pada yang kita yakini. Pada mulanya kita belum melihat apa yang kita yakini, tetapi kita berproses melihat apa yang kita yakini. Mencapai tangga haqqul yaqin.
Bermula dari adanya tantangan dan problem hidup, disitulah daya keimanan tengah dicoba. Apakah kita bisa bersabar dengan kenyataan pahit yang tengah menerpa. Sabar sebagai senjata luar biasa yang bisa mengantarkan manusia menuju kesuksesan. Kesabaran berasal dari keyakinan bahwa seluruh rangkaian peristiwa tidak pernah luput dari sentuhan Kekuasaan Allah, dan Kekuasaan Allah didasari oleh kehendak-Nya, Kehendak-Nya berlandaskan pada ilmu-Nya, sementara ilmu Allah terbingkai oleh kasih sayang Allah tanpa batas. Kristalisasi kesadaran itu akan meneguhkan kesabaran kita dalam mengarungi tantangan hidup.
Ujian kesabaran datang dari berbagai arah, yang lazim dari kesulitan ekonomi dan gangguan manusia. Dalam konteks ini, kita akan membincangkan bagaimana bisa bersabar menghadapi gangguan manusia. Tak sedikit orang merasa sakit secara psikologis ketika bertemu malah satu kantor dengan orang yang suka mengganggu, dan menyakiti.
Sosok mulia tidak pernah sepi dari ujian manusia, malah andaikan ada seorang ulama’ belum mendapatkan ujian dari sesama, terkesan belum teruji keulamaannya. Di tengah menekuni dakwah, mungkin ada orang yang menebar berita negatif soal kita, bahkan sampai pada tataran memfitnah, merusak nama baik. Tetapi berlian tetaplah berlian, kendati diinjak ia tidak akan pernah berubah. Karena tidak berubah, maka daya tarik orang-orang berhati nurani tetap saja semakin kuat. Bahkan saat mendapatkan terpaan cacian dari orang lain, keindahan dirinya semakin terpancar besar. Al-Qur’an sendiri memberikan tuntunan bagi kita, ketika mendengar perkataan jelek, berupa cacian, yang mengarah pada kita dengan pesan yang amat anggun.
“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Muzammil [73]: 10).
Lalu apa kesadaran yang harus dibangun untuk menumbuhkan keyakinan dalam kesabaran itu?
Pertama, meyakini Allah selalu Ada. Allah tidak pernah berpisah dengan kita. Tinggal kita meyakini kesadaran tersebut. Kalau kita belum meyakini bahwa Allah selalu bersama kita, niscaya akan berdampak pada rapuhnya keberanian kita bertindak dan menghadapi masalah. Bukankah orang hanya merasa takut ketika sendirian? Bahkan kendati ada teman, tetapi temannya sama-sama takut, justru tidak bergelora api keberanian di jiwanya. Dia ikut berani ketika orang yang menemaninya seorang pemberani, perkasa, dan mampu melerai masalah sebesar apapun.
Ketika kita sudah merasa bersama Allah Yang Maha Agung, Maha Perkasa, Maha Tahu, dan Maha Kasih Sayang, maka hati tak tersentuh kekhawatiran sedikit pun. Seperti isyarat Sayyidina Muhammad SAW pada sahabat karibnya, Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, “jangan cemas, Allah bersama kita.” Perkataan Sayyidina Muhammad SAW yang memancar dari lubuk keyakinan mendalam, tentu akan memantulkan vibrasi keyakinan pula pada diri Sayyidina Abu Bakar ra. Kita mungkin tidak memiliki pembela dalam menegakkan kebenaran, jangan pernah sedikit pun merasa gentar, karena ada Allah Yang Maha Menjaga dan Maha Menolong hamba-hamba-Nya yang bertawakkal.
Bukankah orang begitu sedih lantaran selalu bergantung pada kebaikan makhluk, atau terlalu fokus pada keburukan makhluk. Tetapi ketika terus menghadapkan wajahnya pada Allah yang selalu ada bersamanya, niscaya dia akan merasakan ketenangan. Lewat ketenangan mendalam maka akan memantul kerja-kerja yang lebih produktif. Semangat kita juga melambung ketika selalu merasa diawasi bahkan ditolong Allah SWT.
Kedua, dalam kesulitan ada kemudahan. Keyakinan itu harus mengkristalisasi di ruang kesadaran kita. Kesulitan tidak selamanya menghuni kehidupan kita, ada saatnya cahaya kemudahan akan terbit. Bahkan kesulitan hanya sebagai pintu awal menuju kemudahan demi kemudahan, jika kesulitan itu dijelang dengan kesabaran yang teguh. Kita berusaha meresapi pesan Allah.
“karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah [94]:5-6).
Rahmat Allah mengalahkan kemurkaan-Nya. Kasih sayang Allah amat luas, tak ayal kesulitan yang dihadiahkan mengantarkan kita pada gerbang kemudahan demi kemudahan. Sikap tepat menghadapi kesulitan adalah sabar. Bukankah kesabaran menghadirkan cahaya yang menunjuki kita pada kemudahan?
Ketiga, suatu yang tidak mungkin menurut hukum kebiasaan tidak mustahil bagi Allah। Pengetahuan manusia terbatas, tetapi keyakinan manusia tidak terbatas, karena tertuju pada yang tak terbatas, Allah Azza Wajalla. Pikiran cenderung membatasi rahmat Allah, tetapi keyakinan menyadari rahmat Allah tak terbatas, bergantung prasangka hamba-Nya. Manusia akan memeroleh apa yang diyakini. Ketika keyakinan pada Allah terpatri kuat di hati, niscaya hidupnya tidak pernah tersentuh kekhawatiran, dan pesimisme. Yang memancar adalah optimisme yang tak pernah redup. Dia lebih yakin pada kekuasaan Allah daripada siapapun, bahkan pada pikirannya sendiri. Bukankah pikiran sering berperan sebagai monster yang kerap menakut-nakuti manusia untuk bertindak besar, tetapi keyakinan akan siap menerobos halangan sebesar apapun dengan bersandar total pada Allah SWT. Ketika orang telah dihuni keyakinan di hatinya, maka dia akan melakukan tindakan-tindakan melampaui rasio. Tindakan-tindakan melampaui rasio inilah yang sering menorehkan sejarah agung dalam kehidupan.
Keempat, berbuat ihsan pada sesama. Perbuatan ihsan amat disukai Allah, bahkan nilai ketakwaan seseorang tercermin dari spirit ihsan yang memancar pada perilaku dan sikap hidupnya. Ihsan dalam bahasa lain memberikan tambahan kebaikan. Seperti halnya, ada orang yang menjual sayuran di pasar, ketika para pembeli membeli beberapa ikat sayuran, penjual tersebut menambahinya dengan lombok atau kecambah. Tambahan itu disebut ihsan. Ihsan tidak hanya menggerakkan orang berbuat baik, tetapi berbuat lebih baik.
Ketika orang sudah masuk dalam tataran ihsan, tidak hanya memberikan maaf pada orang yang mengganggu dan memfitnah, bahkan dia berani berbuat baik pada orang yang nyata-nyata berbuat jahat padanya। Ada seorang ulama yang dikecam dan dicaci maki seorang yang bersebrangan, karena menganjurkan tradisi Maulidur Rasulullah SAW. Orang yang mencaci maki tersebut tidak sepakat bahkan menganggap maulidur rasul sebagai suatu tradisi bid’ah. Maka suatu ketika sang ulama bertemu dengan orang itu di sebuah pertemuan, seusai mengungkapkan salam, ulama itu langsung mencium tangan orang tersebut, dengan penuh kerendahan hati. Sontak, orang itu menangis tersedu-sedu, bagaimana mungkin ulama besar mencium tangannya, sementara puteranya sendiri saja tidak pernah mencium tangannya. Inilah sebuah formula akhlak indah yang dicontohkan Sayyidina Muhammad SAW.
Mari kita teguhkan kesabaran dengan kesabaran yang berlipat-lipat, disana sedang menunggu rahmat Allah yang begitu luas, keridhaan-Nya.
Syaikh Muhammad Dhiyauddin Qushwandhi
Ditranskripsi: Khalili Anwar
Bermula dari adanya tantangan dan problem hidup, disitulah daya keimanan tengah dicoba. Apakah kita bisa bersabar dengan kenyataan pahit yang tengah menerpa. Sabar sebagai senjata luar biasa yang bisa mengantarkan manusia menuju kesuksesan. Kesabaran berasal dari keyakinan bahwa seluruh rangkaian peristiwa tidak pernah luput dari sentuhan Kekuasaan Allah, dan Kekuasaan Allah didasari oleh kehendak-Nya, Kehendak-Nya berlandaskan pada ilmu-Nya, sementara ilmu Allah terbingkai oleh kasih sayang Allah tanpa batas. Kristalisasi kesadaran itu akan meneguhkan kesabaran kita dalam mengarungi tantangan hidup.
Ujian kesabaran datang dari berbagai arah, yang lazim dari kesulitan ekonomi dan gangguan manusia. Dalam konteks ini, kita akan membincangkan bagaimana bisa bersabar menghadapi gangguan manusia. Tak sedikit orang merasa sakit secara psikologis ketika bertemu malah satu kantor dengan orang yang suka mengganggu, dan menyakiti.
Sosok mulia tidak pernah sepi dari ujian manusia, malah andaikan ada seorang ulama’ belum mendapatkan ujian dari sesama, terkesan belum teruji keulamaannya. Di tengah menekuni dakwah, mungkin ada orang yang menebar berita negatif soal kita, bahkan sampai pada tataran memfitnah, merusak nama baik. Tetapi berlian tetaplah berlian, kendati diinjak ia tidak akan pernah berubah. Karena tidak berubah, maka daya tarik orang-orang berhati nurani tetap saja semakin kuat. Bahkan saat mendapatkan terpaan cacian dari orang lain, keindahan dirinya semakin terpancar besar. Al-Qur’an sendiri memberikan tuntunan bagi kita, ketika mendengar perkataan jelek, berupa cacian, yang mengarah pada kita dengan pesan yang amat anggun.
“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Muzammil [73]: 10).
Lalu apa kesadaran yang harus dibangun untuk menumbuhkan keyakinan dalam kesabaran itu?
Pertama, meyakini Allah selalu Ada. Allah tidak pernah berpisah dengan kita. Tinggal kita meyakini kesadaran tersebut. Kalau kita belum meyakini bahwa Allah selalu bersama kita, niscaya akan berdampak pada rapuhnya keberanian kita bertindak dan menghadapi masalah. Bukankah orang hanya merasa takut ketika sendirian? Bahkan kendati ada teman, tetapi temannya sama-sama takut, justru tidak bergelora api keberanian di jiwanya. Dia ikut berani ketika orang yang menemaninya seorang pemberani, perkasa, dan mampu melerai masalah sebesar apapun.
Ketika kita sudah merasa bersama Allah Yang Maha Agung, Maha Perkasa, Maha Tahu, dan Maha Kasih Sayang, maka hati tak tersentuh kekhawatiran sedikit pun. Seperti isyarat Sayyidina Muhammad SAW pada sahabat karibnya, Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, “jangan cemas, Allah bersama kita.” Perkataan Sayyidina Muhammad SAW yang memancar dari lubuk keyakinan mendalam, tentu akan memantulkan vibrasi keyakinan pula pada diri Sayyidina Abu Bakar ra. Kita mungkin tidak memiliki pembela dalam menegakkan kebenaran, jangan pernah sedikit pun merasa gentar, karena ada Allah Yang Maha Menjaga dan Maha Menolong hamba-hamba-Nya yang bertawakkal.
Bukankah orang begitu sedih lantaran selalu bergantung pada kebaikan makhluk, atau terlalu fokus pada keburukan makhluk. Tetapi ketika terus menghadapkan wajahnya pada Allah yang selalu ada bersamanya, niscaya dia akan merasakan ketenangan. Lewat ketenangan mendalam maka akan memantul kerja-kerja yang lebih produktif. Semangat kita juga melambung ketika selalu merasa diawasi bahkan ditolong Allah SWT.
Kedua, dalam kesulitan ada kemudahan. Keyakinan itu harus mengkristalisasi di ruang kesadaran kita. Kesulitan tidak selamanya menghuni kehidupan kita, ada saatnya cahaya kemudahan akan terbit. Bahkan kesulitan hanya sebagai pintu awal menuju kemudahan demi kemudahan, jika kesulitan itu dijelang dengan kesabaran yang teguh. Kita berusaha meresapi pesan Allah.
“karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah [94]:5-6).
Rahmat Allah mengalahkan kemurkaan-Nya. Kasih sayang Allah amat luas, tak ayal kesulitan yang dihadiahkan mengantarkan kita pada gerbang kemudahan demi kemudahan. Sikap tepat menghadapi kesulitan adalah sabar. Bukankah kesabaran menghadirkan cahaya yang menunjuki kita pada kemudahan?
Ketiga, suatu yang tidak mungkin menurut hukum kebiasaan tidak mustahil bagi Allah। Pengetahuan manusia terbatas, tetapi keyakinan manusia tidak terbatas, karena tertuju pada yang tak terbatas, Allah Azza Wajalla. Pikiran cenderung membatasi rahmat Allah, tetapi keyakinan menyadari rahmat Allah tak terbatas, bergantung prasangka hamba-Nya. Manusia akan memeroleh apa yang diyakini. Ketika keyakinan pada Allah terpatri kuat di hati, niscaya hidupnya tidak pernah tersentuh kekhawatiran, dan pesimisme. Yang memancar adalah optimisme yang tak pernah redup. Dia lebih yakin pada kekuasaan Allah daripada siapapun, bahkan pada pikirannya sendiri. Bukankah pikiran sering berperan sebagai monster yang kerap menakut-nakuti manusia untuk bertindak besar, tetapi keyakinan akan siap menerobos halangan sebesar apapun dengan bersandar total pada Allah SWT. Ketika orang telah dihuni keyakinan di hatinya, maka dia akan melakukan tindakan-tindakan melampaui rasio. Tindakan-tindakan melampaui rasio inilah yang sering menorehkan sejarah agung dalam kehidupan.
Keempat, berbuat ihsan pada sesama. Perbuatan ihsan amat disukai Allah, bahkan nilai ketakwaan seseorang tercermin dari spirit ihsan yang memancar pada perilaku dan sikap hidupnya. Ihsan dalam bahasa lain memberikan tambahan kebaikan. Seperti halnya, ada orang yang menjual sayuran di pasar, ketika para pembeli membeli beberapa ikat sayuran, penjual tersebut menambahinya dengan lombok atau kecambah. Tambahan itu disebut ihsan. Ihsan tidak hanya menggerakkan orang berbuat baik, tetapi berbuat lebih baik.
Ketika orang sudah masuk dalam tataran ihsan, tidak hanya memberikan maaf pada orang yang mengganggu dan memfitnah, bahkan dia berani berbuat baik pada orang yang nyata-nyata berbuat jahat padanya। Ada seorang ulama yang dikecam dan dicaci maki seorang yang bersebrangan, karena menganjurkan tradisi Maulidur Rasulullah SAW. Orang yang mencaci maki tersebut tidak sepakat bahkan menganggap maulidur rasul sebagai suatu tradisi bid’ah. Maka suatu ketika sang ulama bertemu dengan orang itu di sebuah pertemuan, seusai mengungkapkan salam, ulama itu langsung mencium tangan orang tersebut, dengan penuh kerendahan hati. Sontak, orang itu menangis tersedu-sedu, bagaimana mungkin ulama besar mencium tangannya, sementara puteranya sendiri saja tidak pernah mencium tangannya. Inilah sebuah formula akhlak indah yang dicontohkan Sayyidina Muhammad SAW.
Mari kita teguhkan kesabaran dengan kesabaran yang berlipat-lipat, disana sedang menunggu rahmat Allah yang begitu luas, keridhaan-Nya.
Syaikh Muhammad Dhiyauddin Qushwandhi
Ditranskripsi: Khalili Anwar
Minggu, 22 Agustus 2010
RAMADAN DAN FACEBOOK
Bermain facebook, suatu yang lumrah bagi orang yang hendak memperkaya jaringan dan pertemanan. Setiap insan diberi naluri bergaul dan memperbanyak sahabat dari berbagai stratifikasi sosial, hanya saja kadangkala facebook membuat orang kecanduan “ekshibisionisme” memerlihatkan karya-karya, bahkan tak urung domain pribadi kadang sering diungkapkan di facebook. Terjadilah curhat dari satu facebooker ke facebooker lainnya. Respons berbalas respons inilah yang terus membuka ruang berkomunikasi yang saling terhubung.
Facebook tidak menjadi masalah sepanjang kita mampu mengendalikan penggunannya dengan baik. Ia menjelma sebagai gurita membahayakan manakala membuat kita kegandrungan, bahkan hati merasa gelisah jika belum mengetahui berapa orang yang meng-contact, meng-add, atau memberikan komentar terhadap status kita. Hasrat tampil dan ingin diketahui sering menyeruak dari hati, sehingga selalu terpacu show of force setiap saat. Banyak kata yang dilekatkan di dinding sebagai status, adalah kata-kata indah, memukau, puitis, bahkan membikin orang tergoda, walau sejatinya kata-kata yang diungkapkan belum tentu jadi gambaran sejati orang tersebut.
Andai kita bisa menebar kata-kata mutiara yang menggugah rasa, insya Allah itu menjadi saluran berbagi kebahagiaan। Tapi, anehnya facebook sering menjadi saluran mengekspresikan perkataan remeh-temeh, tidak berbobot, dan hanya sebatas seliweran, sehingga setiap tulisan yang ditampilkan tidak mengantarkan pesan indah di hati orang lain. Ada lagi yang lebih berat, tulisan status dan komentarnya tidak mendidik, kotor, dan perkataan dari comberan.
Puasa membimbing kita agar pandai menjaga ungkapan, baik secara oral atau tulisan, agar amunisi yang dikeluarkan tidak sia-sia। Bukankah kesia-siaan hanya menumpukkan kotoran di hati, berikut memantulkan penyakit ke dalam hati. Puasa mengajak kita mengurangi berbicara dan menjalin pergaulan duniawi, namun kehadiran facebook malah kian mempermudah kita menjalin hubungan dengan banyak orang, bahkan bisa melampaui batas negara. Kita boleh tidak keluar rumah, namun tembok rumah sudah tidak lagi jadi sekat agar terhubung dengan banyak orang.
Apakah berarti kita tidak boleh main facebook di bulan Ramadan ini? Kita boleh main facebook sepanjang masih memiliki manfaat bagi kehidupan, dan mengurangi dari perkataan sia-sia। Rasulullah SAW bersabda, “paling baiknya orang keislamannya adalah meninggalkan suatu yang sia-sia.” Ramadan sejatinya mendidik kita agar bisa mengurangi aktivitas yang menjebak pada kesia-siaan.
Ramadan menjadi lahan istimewa guna menanam suatu yang istimewa yang punya efektifitas terhadap kehidupan ruhani kita. Andaikan facebook itu dipandang bisa memberikan kejernihan bagi batin, silahkan gunakan facebook. Namun, kalau kita merasa bahwa facebook hanya mewarisi “ketidakbermaknaan” dan kehampaan ke dalam hati, alangkah baiknya kalau kita menilai kembali kegunaan facebook, demi bisa memanfaatkan kesempatan Ramadan secara optimal.
Jiwa setiap orang ingin terus terhubung dengan orang lain, suka suasana ramai, tidak menyukai kesepian. Ketahuilah, hawa nafsu sering merangsang manusia untuk berpadu dengan keramaian, alias tidak menyukai kesepian. Manakala orang terus gandrung masuk di dunia “keramaian facebook” tanpa kontrol, kekuatan nafsu akan mengembang. Padahal penderitaan itu bermula dari pemenuhan terhadap apa yang disukai hawa nafsu.
Bulan Ramadan kita harus lebih sering bersentuhan dengan situs-situs yang menyuburkan pertumbuhan ruhani. Bertemu dengan al-Qur’an sembari menafakuri, menjalani zikir, menulis, dan andaikan mau berselancar di facebook, usahakan agar setiap apa yang diungkapkan selalu bisa menumbuhkan ruhani kita.
Tulisan ini hanya memperingati diri sendiri.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Facebook tidak menjadi masalah sepanjang kita mampu mengendalikan penggunannya dengan baik. Ia menjelma sebagai gurita membahayakan manakala membuat kita kegandrungan, bahkan hati merasa gelisah jika belum mengetahui berapa orang yang meng-contact, meng-add, atau memberikan komentar terhadap status kita. Hasrat tampil dan ingin diketahui sering menyeruak dari hati, sehingga selalu terpacu show of force setiap saat. Banyak kata yang dilekatkan di dinding sebagai status, adalah kata-kata indah, memukau, puitis, bahkan membikin orang tergoda, walau sejatinya kata-kata yang diungkapkan belum tentu jadi gambaran sejati orang tersebut.
Andai kita bisa menebar kata-kata mutiara yang menggugah rasa, insya Allah itu menjadi saluran berbagi kebahagiaan। Tapi, anehnya facebook sering menjadi saluran mengekspresikan perkataan remeh-temeh, tidak berbobot, dan hanya sebatas seliweran, sehingga setiap tulisan yang ditampilkan tidak mengantarkan pesan indah di hati orang lain. Ada lagi yang lebih berat, tulisan status dan komentarnya tidak mendidik, kotor, dan perkataan dari comberan.
Puasa membimbing kita agar pandai menjaga ungkapan, baik secara oral atau tulisan, agar amunisi yang dikeluarkan tidak sia-sia। Bukankah kesia-siaan hanya menumpukkan kotoran di hati, berikut memantulkan penyakit ke dalam hati. Puasa mengajak kita mengurangi berbicara dan menjalin pergaulan duniawi, namun kehadiran facebook malah kian mempermudah kita menjalin hubungan dengan banyak orang, bahkan bisa melampaui batas negara. Kita boleh tidak keluar rumah, namun tembok rumah sudah tidak lagi jadi sekat agar terhubung dengan banyak orang.
Apakah berarti kita tidak boleh main facebook di bulan Ramadan ini? Kita boleh main facebook sepanjang masih memiliki manfaat bagi kehidupan, dan mengurangi dari perkataan sia-sia। Rasulullah SAW bersabda, “paling baiknya orang keislamannya adalah meninggalkan suatu yang sia-sia.” Ramadan sejatinya mendidik kita agar bisa mengurangi aktivitas yang menjebak pada kesia-siaan.
Ramadan menjadi lahan istimewa guna menanam suatu yang istimewa yang punya efektifitas terhadap kehidupan ruhani kita. Andaikan facebook itu dipandang bisa memberikan kejernihan bagi batin, silahkan gunakan facebook. Namun, kalau kita merasa bahwa facebook hanya mewarisi “ketidakbermaknaan” dan kehampaan ke dalam hati, alangkah baiknya kalau kita menilai kembali kegunaan facebook, demi bisa memanfaatkan kesempatan Ramadan secara optimal.
Jiwa setiap orang ingin terus terhubung dengan orang lain, suka suasana ramai, tidak menyukai kesepian. Ketahuilah, hawa nafsu sering merangsang manusia untuk berpadu dengan keramaian, alias tidak menyukai kesepian. Manakala orang terus gandrung masuk di dunia “keramaian facebook” tanpa kontrol, kekuatan nafsu akan mengembang. Padahal penderitaan itu bermula dari pemenuhan terhadap apa yang disukai hawa nafsu.
Bulan Ramadan kita harus lebih sering bersentuhan dengan situs-situs yang menyuburkan pertumbuhan ruhani. Bertemu dengan al-Qur’an sembari menafakuri, menjalani zikir, menulis, dan andaikan mau berselancar di facebook, usahakan agar setiap apa yang diungkapkan selalu bisa menumbuhkan ruhani kita.
Tulisan ini hanya memperingati diri sendiri.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Jumat, 20 Agustus 2010
DENDAM
Dendam sebagai akumulasi kebencian yang mengurat dalam hati. Andai dendam menduduki dan mencabik-cabik hati manusia, niscaya akan gampang terbakar dan menyemburkan bahaya besar. Perang, pembunuhan, dan pembantaian berakar dari dendam yang terus menggelapkan batin. Batin gelap hanya bisa menampilkan dan memantulkan kegelapan semata-mata. Tak ada ketenangan yang menetes di hati orang yang berbalut dendam. Yakinilah, orang yang telah tertembus perasaan dendam tidak mendapati oasis cinta universal dan meluas.
Penyakit dendam tidak sebatas menjangkiti kalangan awam agama, bahkan bisa diidap kelompok elite agama, dimana agama sendiri belum bisa diposisikan sebagai cahaya petunjuk jitu di pengarungan kehidupannya. Agama hanya dijadikan kedok dan topeng membalut citra apik di hadapan sesama, namun hatinya dipenjara dendam yang sulit diredam. Mungkin saja sesama tokoh masyarakat terjebak dalam penyakit batin ini, sehingga tidak pernah bisa menata keselarasan spirit mendidik dan mengarahkan masyarakat.
Dendam superbahaya bagi lestarinya rasa kasih sayang. Penyakit inilah yang turut menggerus spirit cinta yang mengembang di masyarakat, dan makin menebar fitnah yang berujung pada pembunuhan karakter hingga pembunuhan fisik. Ketika dendam merasuk ke jantung hati manusia, niscaya dia tidak bisa mencari sisi cahaya pada orang yang amat dibenci tersebut. Bagaimana agar kita bisa kebal virus dendam ini?
Pertama, Jauhi prasangka buruk. Dendam tumbuh dari bibit kebencian, dan kebencian terlahir prasangka buruk. Via prasangka buruk tersebut, orang tergerak menghimpun sisi negatif yang ada pada orang lain. Himpunan citra negatif itulah yang mamantik kebencian dalam hati, apalagi kemudian bergesek di pergaulan sehari-hari. Jika orang yang dibenci itu, melakukan sedikit kesalahan saja, niscaya hatinya menjadi kian terbakar dan panas. Rasa panas yang memenuhi dinding hati inilah yang nantinya akan berakibat fatal, dan membuat pengidapnya akan terus didera kepanasan batin. Dendam.
Agar dendam tidak menembus relung batin, kita berusaha membersihkan dinding hati ini setiap saat dengan proses muhasabah yang intens. Kalau biasanya kita kerap terjebak dengan prasangka negatif ihwal orang lain, kita berusaha agar terampil menggali dan menangkap sisi positif yang melekat pada perilaku orang lain. Kala kita terampil memotret sisi positif orang, niscaya kita telah berhasil menghiasi batin kita dengan spirit positif yang insya Allah akan membuahkan kebahagiaan.
Jika dulu kita lebih suka memotret pribadi orang lain dari angle negatif, kini berusaha memotret sisi positif yang tidak hanya membuat kita bahagia, orang lain pun turut terluapi kebahagiaan. Andaikan, tiba-tiba terpantik pikiran negatif tentang orang, buanglah jauh-jauh, dan memandangnya sebagai kotoran, yang dikhawatirkan mengkristal sebagai kanker spiritual bagi hati. Berlatihlah melihat orang lain dengan cahaya terbaik yang menghasilkan ketenangan. Bagi orang yang selalu melihat orang lain dari kegelapan pikiran, akan memantulkan derita ke ruang hati. Sebaliknya, orang yang terampil melihat sisi baik, maka akan terpantul kebahagiaan ke relung hati.
Kedua, melakukan muhasabah. Kita selalu menjelajah siapa sejatinya diri kita? Mungkinkah kita bisa menangkap dan memotret sisi gelap yang berteduh di batin kita? Andaikan ada kotoran dan kegelapan yang memenuhi batin, sadarilah dan segera hapus dengan penyesalan mendalam. Kunci muhasabah adalah menelisik sisi negatif yang masih nangkreng di hati, berikut menghapus dan berupaya tidak mengotori hati kembali.
Muhasabah amat penting agar virus negatif tidak meresapi relung hati. Bukankah setiap pikiran, sikap, dan perbuatan kita akan memantul pada diri kita sendiri. Tidak ada sikap dan perbuatan kita yang membahayakan orang lain, hanya membahayakan diri sendiri. Bahaya terbesar yang merusak manusia, adalah bahaya penyakit hati. Agar kita bisa selamat dari penyakit hati, muhasabah menjadi jalan efektif untuk bisa menelisiki sisi negatif yang menunggangi hati. Ingatlah, timbulnya prasangka negatif karena orang terlena menilai orang lain, dan setiap menilai orang melulu tertuju pada sisi negatifnya.
Saking pentingnya muhasabah, Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “matilah sebelum mati, dan hitung-hitunglah dirimu sebelum diperhitungkan।” Kita tidak bisa menjadi pribadi yang mengalami lompatan dalam perbaikan, jika kita belum memperbaiki onderdil-onderdil batin yang masih rusak. Adapun perbaikan onderdil batin itu dimulai dengan proses diagnosa. Bila ternyata saat diagnosa tersebut ditemukan ada piranti-piranti yang terkena virus, segera dibersihkan dan dibenai, niscaya akan sehat kembali. Andai “mesin batin” kita baik, insya Allah seluruh diri ini pun akan mengalami perbaikan. Bagaikan kendaraan, mesin sebagai komponen penting yang membuat kendaraan bisa melaju kencang. Bila mesin rusak, kita akan mengalami kendala di perjalanan. Mesin diri manusia adalah hati, ketika hati ini baik, insya Allah keseluruhan diri menjadi baik dan akan bisa terbang indah dalam perjalanan menuju Allah SWT.
Ketiga, menyadari dendam hanya menghancurkan hati. Dendam sebagai bentuk kegelapan pekat, dan penyakit kronis yang memiliki daya ledak besar, bahkan menghancurkan sendi-sendi batin manusia. Bila kita mengetahui akan bahaya dendam, maka kita tidak bakal pernah sedikit pun mendekati wilayah tersebut. Apa wilayah yang mendekati dendam, itulah kebencian. Dia tidak pernah menanam bibit kebencian di hati, karena pasti nantinya berbuah dendam. Dendam tak hanya membuat hati manusia gelap, bahkan rusak, kemana-mana ia membawa hati yang penuh sakit. Sedikit saja ketemu dengan orang yang dibenci, maka jantungnya gampang berdegup kencang, dan bisa jatuh shock. Itu disebut dengan spiritual shock.
Andai kita mengalami gejala dendam, memerlukan tiga langkah untuk menyembuhkannya, pertama memaksa diri untuk bisa melihat sisi positif orang, karena setiap orang pasti dilekati kebaikan walau setitik. Kedua, terus melakukan muhasabah ke sisi dimensi batin kita sendiri, karena muhasabah bisa membuat kita tercerahkan dari kotoran yang kerap menyangkut ke relung batin. Ketiga, menyadari akan bahaya besar yang dibawa oleh penyakit dendam, sehingga kita selalu menjauh dari wilayah-wilayah yang memerangkap diri pada dendam.
Semoga kita bisa menemukan terang cahaya batin, ketika dendam berikut benih-benih yang menumbuhkannya telah tergerus dan dibersihkan.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Penyakit dendam tidak sebatas menjangkiti kalangan awam agama, bahkan bisa diidap kelompok elite agama, dimana agama sendiri belum bisa diposisikan sebagai cahaya petunjuk jitu di pengarungan kehidupannya. Agama hanya dijadikan kedok dan topeng membalut citra apik di hadapan sesama, namun hatinya dipenjara dendam yang sulit diredam. Mungkin saja sesama tokoh masyarakat terjebak dalam penyakit batin ini, sehingga tidak pernah bisa menata keselarasan spirit mendidik dan mengarahkan masyarakat.
Dendam superbahaya bagi lestarinya rasa kasih sayang. Penyakit inilah yang turut menggerus spirit cinta yang mengembang di masyarakat, dan makin menebar fitnah yang berujung pada pembunuhan karakter hingga pembunuhan fisik. Ketika dendam merasuk ke jantung hati manusia, niscaya dia tidak bisa mencari sisi cahaya pada orang yang amat dibenci tersebut. Bagaimana agar kita bisa kebal virus dendam ini?
Pertama, Jauhi prasangka buruk. Dendam tumbuh dari bibit kebencian, dan kebencian terlahir prasangka buruk. Via prasangka buruk tersebut, orang tergerak menghimpun sisi negatif yang ada pada orang lain. Himpunan citra negatif itulah yang mamantik kebencian dalam hati, apalagi kemudian bergesek di pergaulan sehari-hari. Jika orang yang dibenci itu, melakukan sedikit kesalahan saja, niscaya hatinya menjadi kian terbakar dan panas. Rasa panas yang memenuhi dinding hati inilah yang nantinya akan berakibat fatal, dan membuat pengidapnya akan terus didera kepanasan batin. Dendam.
Agar dendam tidak menembus relung batin, kita berusaha membersihkan dinding hati ini setiap saat dengan proses muhasabah yang intens. Kalau biasanya kita kerap terjebak dengan prasangka negatif ihwal orang lain, kita berusaha agar terampil menggali dan menangkap sisi positif yang melekat pada perilaku orang lain. Kala kita terampil memotret sisi positif orang, niscaya kita telah berhasil menghiasi batin kita dengan spirit positif yang insya Allah akan membuahkan kebahagiaan.
Jika dulu kita lebih suka memotret pribadi orang lain dari angle negatif, kini berusaha memotret sisi positif yang tidak hanya membuat kita bahagia, orang lain pun turut terluapi kebahagiaan. Andaikan, tiba-tiba terpantik pikiran negatif tentang orang, buanglah jauh-jauh, dan memandangnya sebagai kotoran, yang dikhawatirkan mengkristal sebagai kanker spiritual bagi hati. Berlatihlah melihat orang lain dengan cahaya terbaik yang menghasilkan ketenangan. Bagi orang yang selalu melihat orang lain dari kegelapan pikiran, akan memantulkan derita ke ruang hati. Sebaliknya, orang yang terampil melihat sisi baik, maka akan terpantul kebahagiaan ke relung hati.
Kedua, melakukan muhasabah. Kita selalu menjelajah siapa sejatinya diri kita? Mungkinkah kita bisa menangkap dan memotret sisi gelap yang berteduh di batin kita? Andaikan ada kotoran dan kegelapan yang memenuhi batin, sadarilah dan segera hapus dengan penyesalan mendalam. Kunci muhasabah adalah menelisik sisi negatif yang masih nangkreng di hati, berikut menghapus dan berupaya tidak mengotori hati kembali.
Muhasabah amat penting agar virus negatif tidak meresapi relung hati. Bukankah setiap pikiran, sikap, dan perbuatan kita akan memantul pada diri kita sendiri. Tidak ada sikap dan perbuatan kita yang membahayakan orang lain, hanya membahayakan diri sendiri. Bahaya terbesar yang merusak manusia, adalah bahaya penyakit hati. Agar kita bisa selamat dari penyakit hati, muhasabah menjadi jalan efektif untuk bisa menelisiki sisi negatif yang menunggangi hati. Ingatlah, timbulnya prasangka negatif karena orang terlena menilai orang lain, dan setiap menilai orang melulu tertuju pada sisi negatifnya.
Saking pentingnya muhasabah, Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “matilah sebelum mati, dan hitung-hitunglah dirimu sebelum diperhitungkan।” Kita tidak bisa menjadi pribadi yang mengalami lompatan dalam perbaikan, jika kita belum memperbaiki onderdil-onderdil batin yang masih rusak. Adapun perbaikan onderdil batin itu dimulai dengan proses diagnosa. Bila ternyata saat diagnosa tersebut ditemukan ada piranti-piranti yang terkena virus, segera dibersihkan dan dibenai, niscaya akan sehat kembali. Andai “mesin batin” kita baik, insya Allah seluruh diri ini pun akan mengalami perbaikan. Bagaikan kendaraan, mesin sebagai komponen penting yang membuat kendaraan bisa melaju kencang. Bila mesin rusak, kita akan mengalami kendala di perjalanan. Mesin diri manusia adalah hati, ketika hati ini baik, insya Allah keseluruhan diri menjadi baik dan akan bisa terbang indah dalam perjalanan menuju Allah SWT.
Ketiga, menyadari dendam hanya menghancurkan hati. Dendam sebagai bentuk kegelapan pekat, dan penyakit kronis yang memiliki daya ledak besar, bahkan menghancurkan sendi-sendi batin manusia. Bila kita mengetahui akan bahaya dendam, maka kita tidak bakal pernah sedikit pun mendekati wilayah tersebut. Apa wilayah yang mendekati dendam, itulah kebencian. Dia tidak pernah menanam bibit kebencian di hati, karena pasti nantinya berbuah dendam. Dendam tak hanya membuat hati manusia gelap, bahkan rusak, kemana-mana ia membawa hati yang penuh sakit. Sedikit saja ketemu dengan orang yang dibenci, maka jantungnya gampang berdegup kencang, dan bisa jatuh shock. Itu disebut dengan spiritual shock.
Andai kita mengalami gejala dendam, memerlukan tiga langkah untuk menyembuhkannya, pertama memaksa diri untuk bisa melihat sisi positif orang, karena setiap orang pasti dilekati kebaikan walau setitik. Kedua, terus melakukan muhasabah ke sisi dimensi batin kita sendiri, karena muhasabah bisa membuat kita tercerahkan dari kotoran yang kerap menyangkut ke relung batin. Ketiga, menyadari akan bahaya besar yang dibawa oleh penyakit dendam, sehingga kita selalu menjauh dari wilayah-wilayah yang memerangkap diri pada dendam.
Semoga kita bisa menemukan terang cahaya batin, ketika dendam berikut benih-benih yang menumbuhkannya telah tergerus dan dibersihkan.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Langganan:
Postingan (Atom)