Mendadak hati ini terasa lega dan bahagia sesudah membaca kabar bahwa Aa Gym dan Teh Ninih Muthmainnah (teh Ninih) rujuk, terjalin kembali dalam hubungan suami-istri. Seperti apapun orang berujar tentang Aa Gym, beliau masih termasuk deretan inspirator yang menjejakkan ilmu di hati saya. Banyak pencerahan yang saya jaring dari ceramah yang disampaikan, berikut tindakan-tindakan konkret yang mewarnai perjalanan dakwahnya.Dakwah Aa Gym bersinar salah satunya berkat dukungan full dari Teh Ninih yang dengan kelembutan plus ketegarannya menemani perjuangan dakwahnya। Sebelum Aa Gym muncul—dengan mode dakwahnya yang menyejukkan—negeri ini seolah miskin keteladanan, dan seluruh rakyat mencari siapa kira-kira yang layak menjadi kiblat dan rujukan bagi umat.Apalagi, tatkala itu banyak tokoh ulama yang berduyun-duyun masuk ke ranah politik praktis, sehingga kepercayaan publik terhadap ulama’ mengalami ujian yang luar biasa. Aa Gym berusaha merespons segenap kegamangan yang memadati relung publik Indonesia melalui dakwah yang menjurus pada perbaikan diri ketimbang sibuk memperbaiki dan mengonceki orang lain. Perbaikan diri itu terpantul dari semangat untuk memperbaiki hati yang kemudian dipopulerkan dengan sebutan Managemen Qolbu (MQ).Keruntuhan pamor Aa Gym bermula dari keputusan poligami yang masih terkesan tabu di ranah masyarakat Indonesia yang aneh ini, yang disisi lain hubungan di luar nikah dari pacaran hingga perzinahan dianggap suatu yang biasa. Tak kurang intelektual muslim, bahkan ada sebagian tokoh agama mengkritisi keputusan poligami yang ditempuh Aa Gym disertai prasangka buruk, bahwa Aa Gym menikah oleh karena dorongan hawa nafsu.Penulis berharap rujuknya Aa Gym dan Teh Ninih menjembatani bersinarnya kembali dakwah Aa Gym, sehingga bertambah banyak publik Indonesia yang bisa mengakses pencerahan. Akhir-akhir ini, kita lebih sering mengonsumsi berita negative ketimbang berita yang positif, sehingga publik kerap-kali terbentuk oleh berita-berita negative tersebut. Bagaimana kita bisa mendapati berita yang baik, kalau yang dijadikan news maker notabena orang yang tidak bisa disebut baik. Bukankah dari orang yang berkarakter buruk hanya bisa melahirkan berita-berita buruk dan dari orang-orang baik insya Allah kita bisa memeroleh berita-berita baik. Kecuali, media merekayasa dan menjungkir-balikkan fakta untuk kepentingan komersialisasi, sehingga orang baik diberitakan buruk, dan orang buruk diberitakan baik. Makanya, kita harus membantu orang-orang baik agar terus bisa bersinar, sehingga banyak teladan-teladan baik yang bisa dijadikan cermin bagi generasi muda. Jangan biarkan orang yang telah menjadi teladan bagi generasi muda, kemudian diruntuhkan ‘iffahnya’ dengan berbagai rumor negative, sehingga generasi muda seakan tak mendapati cahaya yang bisa menunjukkan mereka menuju kesuksesan. Semakin banyak model of life yang dijiwai dengan spirit agama, insya Allah akan makin bertambah generasi yang menjadi orang baik.Pemberitaan media memiliki kekuatan yang dahsyat untuk memproyeksi citra seorang meroket naik secara mendadak, dan meluncur runtuh secara tiba-tiba. Pemberitaan negative yang tidak berdasar ihwal seorang tokoh yang sejatinya baik, justru akan memupus ekspektasi publik untuk bisa berlaku baik. Bukankah orang tergerak melakukan kebaikan lantaran ada model kebaikan tersebut, tetapi tatkala orang yang dijadikan model hidup dibaluri citra negative, yang kemudian menimbulkan persepsi berbeda tentang tokoh tersebut, maka perlahan-lahan semangat melakukan kebaikan akan menurun. Bukankah kebaikan kolektif hanya bisa dicapai dengan kehadiran seorang tokoh yang bisa menggerakkan massa Indonesia secara kolektif. Dan Aa Gym saat itu memiliki peran yang menasional, dan bisa merangkul umat dengan berbagai aliran, dan bisa bisa merekatkan hubungan antara agama dalam bingkai keindonesiaan. Dia diterima oleh semua kalangan masyarakat, membuktikan ihwal keteduhan dan kesejukan Islam yang sejati.Selamat atas rujuknya Aa Gym dan Teh Ninih. Semoga kembalinya cinta Aa Gym dan Teteh menjadi awal terbukanya kembali pintu bagi Aa Gym untuk berkiprah mendandani bangsa ini bersama tokoh-tokoh lainnya. Ayo Aa, bangkit kembali, tebarilah kembali bangsa ini dengan pencerahanmu. Kita merindukan Aa Gym yang dulu tidak pernah berhenti menebar inspirasi-inspirasi mencerahkan bagi generasi muda. Semoga Aa Gym kini tidak hanya memberikan pencerahan, juga berperan melahirkan generasi-generasi yang siap berbagi pencerahan bagi bangsa ini. Insya Allah. Amien.Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Pada pagi berbalutkan kecerahan, diwarnai cahaya mentari yang memancar dari ufuk timur, kutemukan lahan “farsyi” melalui bunga yang melulu menampakkan senyum di hadapanku। Dalam diamnya, bunga itu telah mematrikan kebahagiaan di batin ini. Lisanku diam, pikiranku hening, dan hatiku pun fokus menyapa bunga dengan segenap keindahannya. Dari situ, hamba yang amat hina ini berusaha menyerap pelajaran pada kemuliaan yang telah Allah sematkan pada bunga. Ia memang diam, tetapi diamnya sebagai manifestasi puncak kefasihan berbicara, tak ayal diamnya menarik pesona setiap orang yang menatapnya. Wahai bunga, kau seakan telah merangkum seluruh keindahan universal, karenanya kau telah memesona seluruh semesta. Manusia dari berbagai sekte, agama, dan etnis tak ada sedikit pun yang menaruh kebencian padamu, semuanya menyukaimu. Tak ayal, kau kadang dijadikan sebagai bentuk ekspresi syukur oleh seluruh manusia. Kau kadang dijadikan wahana mengekspresikan cinta seorang pada kekasihnya, kau akan menjadi hiasan pagi pengantin yang bersendawa di pelaminan, kau juga dihaturkan sebagai ekspresi selamat atas pencapaian sebuah gelar pada seseorang, kau juga ditaburkan di tempat pemakaman sebagai ekspresi kasih yang tak pernah lekang oleh kematian. Kau boleh layu, tetapi keindahanmu telah dijejakkan di hati setiap orang, sehingga siapa yang mengingatmu hanya mengingat keindahanmu saja. Kau boleh mati, meninggalkan kehidupanmu tetapi harummu tak pernah pudar di “penciuman batin” semesta. Saya menemukan keindahanmu, saat saya dan kau sama-sama diam, mematung dalam zona meditatif, seakan berbisik banyak kearifan dari lubuk batin ini. Bunga, kau tak meninggalkan jejak keburukan sedikit pun di hati orang lain, tetapi hamba yang hina dan bertumpuk dosa ini, sering meninggalkan jejak keburukan di hati orang lain. Bukankah kemuliaan makhluk di sisi Tuhan-nya bergantung pada atsarnya. Kau telah meninggalkan rangkaian kenangan indah di hati setiap orang, insya Allah kau memang dihadirkan untuk dimuliakan oleh semesta.****Memang, keanggunan bersematkan pada bunga yang selalu diam. Bolehkah aku diam untuk bisa mengakses keanggunan bunga. Pasalnya, diam bukan perkara mudah. Diam memerlukan perjuangan yang gigih agar bisa bersentuhan dengan kelembutan yang bertempat di dimensi batin. Bayangkan, kalau Anda ingin merasakan ramai, belajarlah pada mesin-mesin yang mati, yang tak jarang memekkan telinga, dan membudekkan batin. Saban hari, kita lebih sering menemukan keramaian, daripada suasana hening. Di jalan-jalan, kita tidak pernah terhindar dari suara mesin motor dan mobil, apalagi jika yang mengendarai berpenampilan ugal-ugalan. Kalau kita makin tertarik pada suatu yang artifisial, justru semakin tidak menyukai diam, malah lebih senang dengan hiruk-pikuk keramaian. Bayangkan, kini kebanyakan orang terjangkiti penyakit tidak kerasan di rumah, pasalnya di rumah tidak ditemukan suasana ramai. Tidak menyukai keadaan yang sepi. Karenanya, mereka berselancar di suasana ramai dengan mengunjungi mall atau tempat-tempat hiburan. Bayangkan, berapa banyak orang yang memadati konser bernuansa hiburan, apalagi yang berjingkrak-jingkrak di panggung notabena penyanyi kelas internasional. Jika sudah berada di mall atau tempat hiburan, mereka seakan bisa mengobati kesepian yang mengungkungnya selama ini. Akan tetapi yakinilah saudaraku, hiburan yang Anda tonton tersebut tidak mewariskan kebahagiaan di batin. Bahkan hiburan itu telah menguras kebahagiaan di lahan batin Anda. Karena itu, tak jarang orang yang menonton konser yang membuat orang lalai pada Allah, merasa ada suatu yang hilang. Yang hilang itu adalah kebahagiaan. Anda hanya bisa menemukan kebahagiaan tatkala Anda bisa terkoneksi dengan zona hening dalam diri Anda sendiri.Anda berlatih diam memerlukan ketekunan yang lebih ketimbang berlatih berbicara. Karena keterampilan berbicara mudah hanya dengan mengikuti pelatihan-pelatihan public speaking plus hawa nafsu sangat menyukai berbicara. Apa-apa yang didukung hawa nafsu akan lebih mudah dikuasai. Adapun berlatih diam memang terasa sulit, karena hawa nafsu sendiri tidak menyukai diam. Berlatih diam, tidak hanya menutup lisan, tetapi juga mengekang hawa nafsu agar tidak sering menginterupsi kita untuk berbicara. Ada saatnya, kita menyediakan waktu untuk berdiam dalam renung, sehingga kita bisa menyapa hening dalam diri kita, walhasil menemukan mutiara kearifan yang berjejak dalam diri kita. Insya Allah. Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Manusia kerap memahami lubang sebagai tempat berdiamnya hal-hal yang menjijikkan. Kita mengenal ada lubang—sarang—ular, lubang biawak, lubang semut, lubang hidung yang menyimpan kotoran, lubang telinga juga menyimpan kotoran, bahkan lubang mata menyimpan kotoran. Padahal tanpa disadari kita hidup lantaran adanya lubang. Apakah Anda membayangkan bisa hidup tanpa hidung yang berlubang? Bisakah Anda merasakan kelezatan makanan tanpa mulut yang berlubang? Bisakah Anda melihat tanpa mata yang berlubang? Bahkan kotoran yang menjejali perut dan kantong kemih Anda juga harus dikeluarkan lewat lubang. Bagaimana rasanya orang yang hendak mengeluarkan kencing, tetapi penisnya tak berlubang?Karena adanya lubang manusia bisa mengalami hidup। Bahkan awal manusia mengalami hidup berasal dari lubang. Kejadian manusia bermula dari pertemuan mani dan ovum yang sama-sama berasal dari lubang—maaf kemaluan. Pertemuan keduanya berproses menjadi segumpal daging, dan bertumbuh menjadi bayi yang juga dikeluarkan lewat (lubang) wanita. Jika kelahiran melalui lubang, maka kematian manusia pun akan kembali ke lubang, yakni liang lahat. Tidak sebatas manusia yang mewujud dari lubang, bahkan kehidupan ini berasal dari lubang, andaikan ada lubang yang tertutup tidak akan ada manfaat yang bisa dibagikan. Air yang kita minum juga berasal dari lubang, pepohonan untuk bisa mencapai pertumbuhan sempurna juga harus ditanamkan di tanah yang berlubang. ***Karena itu, jangan pernah kau meremehkan lubang, karena dari lubang seluruh kehidupan ini mengalami realisasi secara optimal। Manusia tidak bisa lepas dari lubang. Kiranya bagaimana orang bisa mendapatkan kehidupan tanpa adanya lubang. Lubang mewakili ruang. Ketahuilah, orang mengalami hidup lantaran adanya ruang. Anda bisa duduk menikmati makanan yang terhidang di depan meja lantaran ada ruang yang disediakan untuk Anda. Ruang itu sepertinya tidak ada, padahal ruang itu ada, bahkan ruang mendasari keberadaan segala sesuatu. Mungkinkah Anda melihat segala sesuatu yang mengalami eksistensi di ranah tanpa ruang? Memang, kau tidak bisa melihat rupa ruang (lubang), apalagi warnanya, tetapi ia selalu hadir dalam setiap keadaan. Karena lubang itu seakan tidak berbentuk, Anda kurang menghargai kehadiran lubang tersebut. Dan Anda lebih menghargai apa yang keluar dari lubang. Bayangkan, Anda mungkin jijik menyentuh dubur ayam, tetapi Anda tidak pernah jijik kalau menyentuh telur ayam. Padahal Anda sadar, bahwa telur itu keluar dari (lubang) dubur ayam. Manusia yang diciptakan sebagai khalifah ini keluar dari kemaluan. Kemaluan identik dengan suatu yang memalukan, dan hanya layak dihampiri kamaluan juga. Akan tetapi, perlu disadari bahwa dari kemaluan itulah muncul makhluk yang dimuliakan Allah Jalla Jalaaluh sebagai khalifah. Kendati Anda berasal dari lubang yang penuh dengan kotoran, Anda mensyukuri kelahiran, dan Anda harus berusaha menumbuhkan kemuliaan yang bertempat dalam diri. Jika manusia mengerti akan asal muasalnya, niscaya dia akan selalu menghargai segala lubang yang melekat padanya dengan cara menjaganya dari segala bentuk kemaksiatan pada-Nya.Begitu pentingnya lubang, maka manusia harus menjaga lubang-lubang yang lekat pada tubuhnya dari segala bentuk kemaksiatan. Andaikan orang berbuat kemaksiatan melalui lubang yang terinstalasi pada dirinya—berarti tidak bersyukur—tak ayal kalau di kemudian hari manusia akan didepak penderitaan oleh karena perbuatan tersebut. Bayangkan, banyak orang terjangkiti penyakit HIV AIDS lantaran menyalahgunakan lubang. Banyak penyakit yang melanda manusia saat ini oleh karena makanan yang dikonsumsi. Anda pasti sudah tahu makanan tersalurkan lewat mulut. Padahal, ketika manusia menjaga makanan insya Allah kesehatan badannya akan terjaga pula. Mulut disini tidak sekadar terkendali dari masuknya penyakit lahir, tetapi harus terkendali dari masuknya penyakit batin. Bayangkan, tak jarang perseteruan, kebencian yang terus menebar, dan bahkan peperangan bermula dari lisan (mulut). Karena itu, Rasulullah Muhammad Saw bersabda, “siapa yang menjamin bisa menjaga lisan, maka saya menjamin surga.” Bermula dari fitnah terkadang menyulut permusuhan satu sama lain. Penyakit juga datang dari udara kotor yang dihirup oleh hidung kita. Karena itu, hidung harus terjaga dari menghirup udara kotor (polutan). Andaikan kita mampu menjaga hidung kita dari menghirup zat-zat yang kotor, insya Allah kesehatan kita tetap terjaga dengan baik. Janganlah membiarkan diri mencium segala bentuk yang dilarang Allah, bukankah ciuman akan mengantar orang mencapai kesan yang mendalam. Andaikan kau mencium apa yang dilarang, justru itu akan selalu membawa kesan mendalam atas dosa-dosa yang kau perbuat, atau bahkan Anda akan ditarik pada bayangan gelap tersebut. Bayangkan muda-mudi yang berani berciuman, sejatinya dia sedang menghunjamkan derita ke dalam batinnya sendiri. Tulisan sederhana ini hanya hendak mengajak Anda agar mensyukuri kehadiran lubang, karena dari lubang inilah Anda bisa menyelenggarakan kehidupan. Selain itu, Anda harus bersabar agar tidak menggunakan lubang-lubang yang menempel pada tubuh pada hal yang dilarang oleh Allah. Perpaduan syukur-sabar tersebut insya Allah akan mengantar Anda dalam zona kebahagiaan secara berkelanjutan. Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Kita mengambil tajuk mengenai sekuler. Apa sih sekuler itu? Kemudian apa berbedaan titik aksentuasi dengan pluralisme yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat di kancah aktivis nasional? Pluralisme menekankan akan keragaman budaya, bahkan keragaman agama yang dibingkai dalam kesamaan, sehingga timbul kesan bahwa seluruh agama sama. Adapun sekular memaknai agama dan dunia sebagai domain yang berbeda, sehingga agama tak berhak mengintervensi dimensi dunia. Agama hanya bergerak dalam lingkup ritual-seremonial, tidak boleh memasuki ruang aktivitas sosial. Karenanya, agama terkesan terisolasi dari kehidupan masyarakat, dan hanya bisa digalakkan di masjid dan mushalla. Penyempitan peran agama, membikin agama sebagai channel penebar rahmat tidak bisa mengejawantah secara optimal. Penulis sendiri pernah membaca secuil ulasan tentang sekularisasi yang pernah dipopulerkan oleh Nurcholish Madjid di tahun 70-an, yang kemudian memunculkan konsep praksis, “Agama Yes, Partai Islam No.” Partai dipersepsi bukan bagian dari agama, tetapi diletakkan sebagai entitas di luar domain agama. Demikian gambaran ide praksis Nurcholish Madjid yang menggemparkan jagat keagamaan di Indonesia, dan memancing perdebatan yang sengit dari aktivis muslim saat itu.Kini, kendati sekularisasi gaya Nurcholish Madjid masih diteruskan oleh generasi muda yang nyentrik, Ulil Abshar Abdallah, tetap sebagai hidangan lama, yang hanya berubah bungkus saja. Tanpa kita sadari, kita sedang disuguhi gaya sekularisme baru yang dibidani kelompok ekstrim kanan, yang menjuluki dirinya sebagai penegak agama secara murni dan konsekuen, dan gampang melontarkan cercaan bid’ah pada golongan yang lain, bahkan tak segan-segan mengklaim orang lain sesat, dan masuk neraka. Seakan lisensi dan paspor menuju “negeri surga dan neraka” ada di tangan mereka. Mereka memandang dirinya sebagai ahlun nur (ahli cahaya), sehingga merasa terjamin masuk surga, dan yang lain sebagai ahlun naar (ahli neraka), karenanya dipandang layak memasuki neraka. Apakah mereka memang the owner kingdom of heaven and hell (pemilik sah kerajaan surga dan neraka)? Saya tidak mengerti, yang saya pahami surga dan neraka adalah milik Allah.Kelompok ini dengan gampangnya—tanpa merasa bersalah—menganggap amal saudaranya berbau bid’ah, dan diklaim amal itu menyeret orang ke neraka. Pembacaan Qasidah maulid—saluran mengekspresikan cinta pada Rasulullah Saw—dianggap bid’ah, zikir bersama disebut bid’ah, bahkan kalau ada orang shalat tidak mengikuti gerakan seperti yang direkomendasikan mereka, dicap bid’ah. Gamblangnya, seluruh kebudayaan yang diramu dengan nilai-nilai agama oleh para ulama’ salaf terdahulu tiba-tiba dilabeli bid’ah.Mantra bid’ah yang dilemparkan tersebut cukup membuat kebudayaan yang diwarnai nilai-nilai agama mengalami kemandekan. Bayangkan, kelompok remaja yang terbiasa membaca Diba’ saban malam jum’at perlahan tergerus dan punah. Malam Jum’at tak lagi menjadi tempo yang dimuliakan dan memancing kegembiraan, bahkan diidentikkan dengan pocong dan hantu sebagaimana ditayangkan oleh televisi. Jadinya, malam jumat dikesankan bukan malam yang menyajikan kegembiraan, malah sebagai malam yang menakutkan dan menyeramkan. Bahkan, tak jarang kalangan remaja muslim, mengalihkan hiburan dengan menjajal malam minggu. Pacaran pun marak menjadi budaya baru yang memasuki ceruk kehidupan kaum muda muslim. Tak sedikit kaum muda muslim yang terseret ke dalam perzinahan, dan menganggap lumrah adanya free-sex. Kita tak bisa mengulas fenomena aneh ini, bagaimana mungkin sebuah sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Ormas Islam menghelat pertunjukkan musik Rock and Roll. Di sisi lain, mereka membid’ahkan kegiatan keagamaan yang dikemas sebagai hiburan yang memiliki muatan dakwah, seperti group hadrah, group shalawat, namun melegalkan kegiatan musik yang sama sekali tidak bermuatan nilai agama, bahkan mendekonstruksi nilai-nilai agama. Sebuah fenomena aneh yang tak bisa dilogikakan. Orang awam pun mungkin ikut mengerutkan dahi. Kelompok pemilik mantra bid’ah ini telah melakukan dekonstruksi terhadap bangunan budaya keagamaan di Nusantara, tetapi tidak bisa menyajikan alternatif yang tepat. Karenanya, agama kian jumud tidak bisa merembes ke seluruh rongga-rongga kehidupan masyarakat, bahkan agama dikesankan sebagai musuh peradaban (vis a vis civilization). Padahal, dari rahim agama peradaban yang humanis dan luhur bisa dilahirkan. Karena domain agama kian dipersempit, tak ayal gerak kebaikan pun semakin menyempit. Fenomena inilah yang kita sebut sebagai sekularisasi gaya baru yang didukung oleh orang-orang yang sering mengemukakan kata-kata menawan, “kembali pada al-Qur’an dan hadist.” Sehingga dia mengalami keterputusan dengan sejarah dan guru-guru terdahulu yang tak sedikit telah mencapai waliyullah. Bagaimana mungkin mereka mengapresiasi pandangan waliyullah, wong mereka sendiri tidak mengakui adanya waliyullah.Agama diturunkan ke dunia untuk mengekspansi kebaikan, sebagaimana Rasululah Saw diutus untuk menebar rahmat ke seluruh alam. Ketahuilah, induk sunnah adalah menebar kebaikan. Kalau orang telah menyempitkan bahkan turut membuntukan kebaikan, berarti telah memblokade sunnah atau jejak Rasulullah Saw.Tulisan ini bukan untuk mengundang kontroversi, hanya hendak menuangkan kegelisahan yang dirasakan penulis tentang cahaya agama yang kian redup, dan agama kini dijadikan sebagai monster yang menakutkan. Marilah kita pulihkan kepercayaan masyarakat tentang keluhuran dan keagungan Islam dan umat Islam. Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Mutiara agama mengkristalisasi dalam iman. Tanpa iman yang menghunjam, berarti agama esensi tidak tumbuh dari lubuk hati manusia. Iman sendiri mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu, dan pertumbuhan biji iman tersebut berperan memperluas medan kebahagiaan manusia. Iman disini tidak sebatas percaya, tetapi terkait dengan kekuatan cinta. “…Orang yang beriman amat sangat cintanya pada Allah…” (QS. Al-Baqarah [2]: 165)Andaikan iman hanya percaya, maka Iblis amatlah percaya akan adanya Allah SWT, karena ia pernah beraudiensi dengan Allah. Namun, ia membangkang terhadap perintah Allah untuk sujud pada Nabi Adam AS, pada akhirnya ia harus keluar dari surga. Lantaran Iblis keluar dari surga (cinta), ia selalu berada dalam penderitaan, bahkan selalu berbagi penderitaan dengan manusia yang jauh dari Allah SWT. Orang yang terkurung dalam kebencian—alias terpental dari medan cinta—akan selalu terjerat dalam penderitaan tak berujung. Agama dihadirkan ke muka bumi ini untuk bisa mengungkit, menumbuhkan, dan merawat potensi cinta yang terpendam dalam diri manusia tersebut.Keagungan manusia berbanding lurus dengan keluasan medan cintanya. Dalam kanvas sejarah peradaban dunia, kita tidak pernah menemukan orang-orang agung yang membaktikan cinta hanya bagi diri dan keluarganya belaka. Mereka memiliki keluasan cinta yang menembus batas-batas etnis, bahkan negara. Orang yang telah berhasil menyorongkan cahaya cintanya pada komunitas lebih luas akan bisa mereguk kebahagiaan terus-menerus, bahkan mendapatkan keagungan yang abadi di dunia. Waliyullah yang diturunkan ke Nusantara, seperti Sunan Ampel, Sunan Giri, berikut saudara-saudaranya yang lain—semoga mendapati maqam tertinggi di hadapan Allah SWT—sosok yang berhasil melebarkan sayap cintanya pada seluruh umat. Beliau diharu-biru kerisauan yang begitu mendalam melihat keadaan umat, sehingga beliau tak pernah berhenti dan jeda untuk mendakwahkan agama dengan kelembutan dan kesantunan.Pemimpin Nasional yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia seperti Pak Karno, Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Muhammad Hatta menjadi sosok lekatan dan inspiratif hingga hari ini, lantaran mereka selalu memikirkan kebangkitan bangsa agar bisa mencapai kemerdekaan yang utuh. Saking besarnya perhatian terhadap bangsa ini, konon dikabarkan Pak Karno tidak sempat membangun rumah sendiri, hingga anak-anak beliau dibelikan rumah hunian oleh Umar Wirahadikusuma, Wakil Presiden pada era pemerintahan HM. Soeharto. Seluruh hidupnya dikorbankan untuk bangsa dan negara, hingga melupakan kebutuhan dirinya sendiri. Adakah pemimpin negara saat ini yang menghiasi dirinya dengan karakter agung Pak Karno?Keluasan medan cinta memengaruhi pada keluasan horizon kebahagiaan di hati manusia. Berbincang mengenai cinta manusia, bisa diulas dalam bentuk piramida cinta, semakin ke atas semakin agung cinta yang disuguhkan.Pertama, cinta untuk diri sendiri. Sosok ini lebih mengenal aku adalah diri, dan diri adalah aku. Tak ayal, seluruh tindakan, sikap, dan keputusan-keputusannya harus menguntungkan bagi aku. Inilah potret pribadi yang tersekap dalam aku individu. Pribadi yang dianugerahi cinta jenis ini, serupa dengan ruang yang begitu sempit, dan tak mendapatkan radiasi cahaya matahari secercah pun. Ketahuilah, tanpa disadari orang tersebut tidak mencintai dirinya, karena yang menjadi acuannya hanyalah diri yang palsu, diri seperti yang diproyeksikan pikiran. Andaikan orang tersebut berkeluarga, maka perhatian dan kepeduliaan tak fokus pada keluarga, selalu memperhatikan kepentingan sendiri. Sehingga terkesan menjadi sosok yang tak bertanggung jawab pada keluarganya sendiri, pun tak terbebani secara moral untuk mendidik anak-anaknya. Ia telah dikuasai slogan yang bersinggasana di pikirannya, “gue gue, loe loe” “emang gue pikiran” “kalau tidak karena aku, dia tidak akan tertolong.” Kata, idiom, dan term yang diungkapkan lebih menjurus pada kepentingan dirinya sendiri. Andaikan dia berteman bahkan berkeluarga selalu dijejali pikiran untuk mengeksploitasi orang lain demi pemenuhan kepentingan dirinya. Kendati dia berkeluarga, tidak pernah memahami dan menghayati makna kita, dia lebih lekat dengan istilah aku.Kedua, cinta untuk keluarga. Sosok ini lekat dengan slogan, aku adalah keluarga, keluarga adalah aku. Mungkin sehari-hari dia menghabiskan waktunya untuk bekerja, dari pagi hingga malam. Dia tidak mengenal acara kampung, undangan tetangga, bahkan tak menghayati makna silaturrahim. Ia baru tergerak bersilaturrahim kalau bisa memberikan keuntungan secara materi, yang ujung-ujungnya bisa menambahi nafkah keluarga. Andaikan ada perhelatan bersih kampung, mungkin dia memilih berekreasi untuk kebutuhan keluarga. Tragisnya, sosok yang keluarga sentris ini jarang bisa meradar dan memahami akan keberadaan tetangga kanan-kirinya. Orang yang cintanya hanya untuk keluarga dibilang sebagai “wong somahan,” atau orang rumahan. Dia membangun rumah dengan gaya elegan, disertai ornament yang memukau, namun jarang sekali berbagi cinta dengan lingkungan sekitar. Karena itu, ia mendapati kebahagiaan manakala diantara keluarga itu memeroleh kenikmatan. Dia tak bisa merasakan kebahagiaan oleh karena kebahagiaan orang lain. Pun dia tidak pernah bisa menghayati kesedihan orang lain. Kendati demikian, orang ini sedikit mendapatkan cahaya, karena dia tidak benar-benar tersekap dalam tempurung keakuan. Ia sudah berlatih dan menghayati kita kendati dalam lingkup keluarga.Ketiga, cinta untuk karyawan dan orang yang berada dalam tanggungannya. Orang ini telah lekat dengan pemahaman tentang golongan, kelompok, group, atau jamaah. Ia telah mengalami keterbukaan diri dengan merasa mengemban tanggung jawab sosial kendati hanya dalam lingkup komunitas. Misalnya, seorang pengusaha berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi para karyawannya. Tak ingin karyawannya mengalami kesulitan ekonomi, karenanya dia berusaha mencari jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan ekonomi karyawannya itu. Bahakan, demi keberlanjutan gaji karyawan, dia berani menyisihkan kepentingan diri dan keluarganya. Adalah seorang pengusaha sablon, pernah mengalami sepi order, sehingga karyawannya juga tidak bekerja. Ia berpikir, kalau mereka tidak bekerja, maka gaji karyawan akan macet. Karena itu, pengusaha tersebut mencari order ke sebuah instansi, dan dia pun menemukan order, walau dalam perhitungan bisnis, dia tidak mendapatkan keuntungan secara pribadi. Demi karyawannya tetap bekerja dan bisa meraup gaji, maka dia mengambil order tersebut.Hanya saja pemahaman ini tidak bijaksana kalau dipergunakan oleh pemimpin agama। Andaikan ada pemimpin agama yang hanya memikirkan golongannya sendiri, maka dia belum benar-benar pemimpin otentik. Bagaimana mungkin agama yang turun sebagai rahmat Lil Alamin hanya bisa dirasakan di lingkup golongan tertentu. Adalah orang miskin memohon bantuan dana pada sebuah Yayasan Dana Sosial, kemudian ditanya oleh Yayasan itu tentang latar belakang orang miskin tersebut, setelah diketahui bahwa dia bukan dari golongannya, tak ayal institusi urung berkenan menolong si miskin. Orang miskin yang datang itu beragama Islam dan Yayasan itu juga berlabel Islam, hanya karena berbeda aliran, bantuan pun urung diberikan. Syaikh Muhammad Dhiyauddin QushwandhiPentranskripsi: Khalili Anwar
Kehidupan di bumi tak akan berlangsung tanpa tersedianya air. Hasil riset mengemukakan, 80% tubuh manusia terdiri dari air. Itu artinya, air tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, bahkan kehidupan bumi ini terus terjaga lantaran adanya air yang diturunkan Allah. Seperti diurai pada tulisan sebelumnya, air hanyalah metafor dari cinta. Jika bumi ini tidak dialiri spirit cinta, masihkah di bumi ada kehidupan. Tak bisa dibayangkan kalau Arsy berada di atas air. Singgasana Allah berada di atas air (cinta)“dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya…” (QS. Hud [11]: 7)Maka, kalau hati kita ingin dijadikan ‘arsy Allah, jadikanlah hati dipenuhi dengan cinta tanpa syarat dan tanpa batas. Bayangkan, bagaimana potret sebuah negara—sebagai lingkup yang kecil—yang miskin dengan cinta, niscaya akan timbul kerusakan dan demoralisasi di berbagai lapisan masyarakat. Pejabat sudah saling curiga diantara pejabat, pengusaha juga mencurigai sesama pengusaha, di masyarakat juga merebak distrust terhadap pejabat publik. Ketercukupan materi tanpa disertai cinta, kehidupan berjejal dengan kebencian, karena seluruh masyarakat berorientasi individualisme. Dampaknya, gunung kebahagiaan negeri gampang tergerus. Bahkan boleh jadi akan menyeruak kekacauan sosial yang tak tertangguhkan. Kini, di sebuah negara yang hampir mengalami kerusakan di setiap struktur, dirasa perlu kebangkitan spirit cinta, agar masyarakat Indonesia bisa kembali mereguk kebahagiaan dari telaga cinta. Cinta dirintis oleh orang-orang yang telah dianugerahi cinta, yakni yang telah memeroleh kedekatan cinta pada Allah SWT, seperti ulama’. Ulama selaku hati (pusat kekuatan spiritual) umat dan bangsa dituntut rajin mengakses air cinta agar nantinya bisa mendonasikan kasih. Bukankah hanya hati yang telah tergenangi kasih yang bisa berbagi kasih dengan kehidupan? Serupa dengan orang yang punya uang yang bisa berbagi uang. Ketahuilah, keagungan pribadi manusia bertaut dengan keluasan medan cintanya. Jiwa yang telah digenangi spirit cinta, akan terbang tinggi, dan semakin jauh dari gravitasi duniawi. Manakala manusia terlalu cinta pada duniawi, berarti tidak akan terpantik rasa kasihnya pada kehidupan. Lenyapnya cinta duniawi dalam hatinya akan membawa orang terbang menuju istana-istana kebahagiaan dan kemuliaan. Keagungan jiwa manusia bergantung seberapa jauh dirinya dari gravitasi duniawi, tidak terikat dengan duniawi. Kehidupan duniawi telah berada dalam kekuasaannya.Bangsa ini mengenal gelar-gelar agung yang disematkan pada tokoh-tokohnya, seperti Hamengku Buwono, Paku Alam, Raden, Ngabai dan beberapa gelar lainnya. Hamengku Buwono berarti pemangku jagat. Inilah sosok yang bisa mengemong jagat, dan jiwanya telah dibasuh sehingga luntur dari kotoran keakuan. Paku Alam, salah satu gelar yang disematkan pada Kanjeng Sunan Giri, sosok yang diserahi sebagai tiang jagat. Beliau dihadirkan sebagai pemelihara agar kehidupan tetap berjalan secara seimbang. Raden berasal dari kata roh adi, atau jiwa yang besar. Siapapun yang merasa mendapatkan julukan Raden harusnya memiliki jiwa besar, dan hidup yang dijalani bukan untuk dirinya, tetapi dipersembahkan bagi kehidupan. Andaikan kita menemukan ada seorang bergelar Raden, namun hidupnya hanya dibaktikan bagi diri dan keluarganya, berikut menutup diri dengan lingkungan sosial, maka tanpa disadari gelar raden telah tercopot darinya. Pribadi yang telah bergelar Raden adalah sosok orang berjiwa besar, yang tak gampang menyerah dengan keadaan. Memiliki semangat membaja untuk menggapai cita-cita hidup yang mulia. Orang yang berjiwa besar serupa dengan rumah besar yang bisa memasukkan banyak orang. Kalau hanya kamar kecil, tentu saja hanya sedikit orang yang bisa masuk ke ruang tersebut. Andaikan dia membongkar kamar itu, kemudian disulap menjadi aula yang begitu besar, makin banyak orang yang bisa berhimpun di ruang itu. Seorang raden tidak hanya memiliki jiwa seluas aula pertemuan, tetapi memiliki jiwa seluas ruang yang mampu merengkuh seluruh kehidupan.Raden bisa juga disebut sebagai Adiatma, yakni jiwa yang besar. Kebesaran jiwa bukan terkait dengan prestasi-prestasi yang digapainya, tetapi seberapa luas medan cinta yang menghias hatinya, terlihat semakin luas medan kontribusinya bagi kehidupan. Ia pun gampang memaafkan orang, tidak pernah menyimpan kebencian apalagi dendam di dalam hati. Adiatma memancarkan kekuatan cinta pada bangsa, bahkan seluruh umat. Adapun yang lebih agung dari Adiatma adalah Mahatma, berarti jiwa yang agung. Boleh jadi, secara fisik dia bukanlah masuk orang gagah, tetapi cintanya meresap ke seluruh bangsa. Ia tidak ingin meletup kezaliman di medan kemanusiaan, sehingga tergerak untuk berjuang menghapus segala bentuk kejahatan di dunia dengan cara-cara kelembutan. Sosok ini tak sempat berpikir tentang dirinya, dia tetap menjalani hidup supersederhana, sembari dia memancarkan kasih tanpa batas pada kehidupan. Bahkan dia memilih menghadirkan cinta pada orang yang nyata-nyata menebar kezaliman. Dia meyakini menghapus penjajahan tidak harus dengan kekerasan, dengan kelembutan pun bisa menyingkirkan penjajahan, terlebih jiwa penjajah yang melekat di hati manusia. Serupa dengan cahaya yang melulu hadir untuk menerangi kehidupan, walhasil dengan sendirinya kegelapan menjadi sirna. Jiwa Mahatma lekat dengan waliyullah yang hatinya hanya digenangi kasih sayang tanpa batas pada kehidupan. Dia telah menjelma sebagai telaga-telaga kecil yang tersambung pada telaga besar, yakni telaga Sayyidina Muhammad Saw yang air cintanya merembes ke seluruh semesta.Peringkat yang lebih agung dari Mahatma adalah Wijayatma, jiwa successful, sosok yang telah berbalutkan cahaya kesempurnaan. Jiwa ini meliputi Nabi Muhammad Saw. Inilah telaga al-Kautsar yang kita kenal lewat hadist. Dimana kala mereguk telaga al-Kautsar ini, maka manusia tidak akan lagi dilanda kehausan. Telaga al-Kautsar semacam telaga cinta Rasulullah Muhammad Saw yang memenuhi jagat semesta, hanya manusia-manusia yang telah dihinakan yang gagal mereguk telaga cinta Sayyidina Muhammad Saw. Diriwayatkan, telaga al-Kautsar tersambung dengan telaga Haudh yang ada di luar surga, dan digambarkan pula bahwa di pinggir telaga al-Kautsar tersedia cangkir-cangkir untuk menyauk air yang ada di telaga al-Kautsar. Ketahuilah, telaga Haudh juga bersumber dari telaga al-Kautsar, itulah telaga Nabi Muhammad Saw. Orang yang telah digenangi cinta, berarti dia telah tersambung dengan telaga cinta semesta, Dialah Nabi Muhammad Saw. Walau demikian, seluruh air itu akhirnya akan bermuara pada laut, itulah yang disebut dengan lautan ketunggalan (bahrul wahdah), Allah SWT.Jika manusia telah meminum telaga Haudh, maka dia tak akan lagi tertimpa kehausan. Siapa yang bakal ditimpa penderitaan, jika hatinya hanya dipenuhi cinta dan kasih sayang. Bukankah cinta turut menghapus seluruh kegelisahan, kecemasan, dan kedukaan bagi setiap manusia? Yang terbit dari cinta hanya kebahagiaan tanpa batas. Bagaimana kita bisa mereguk air telaga Haudh itu. Kita bisa mereguk telaga haudh (cinta) tersebut dengan cara menanggalkan keakuan, karena yang membendung kita untuk bisa mereguk cinta itu hanyalah keakuan. Demi bisa menjebol bendungan keakuan, maka air cinta itu akan mengalir deras ke dalam hati kita. Kian terkikis keakuan, semakin banyak cinta yang mengalir ke hati kita, pun semakin banyak kasih sayang yang bisa kita donasikan pada sesama dan kehidupan. Ketahuilah telaga Haudh itu berada dalam diri kita sendiri, di saat kita telah digenangi air cinta. Dan kalau kita telah digenangi cinta, maka kita bisa mengalirkan cinta pada hati yang lain, berikut menginspirasi orang untuk bisa menemukan telaga cinta di dalam dirinya sendiri.Kini tugas kita, menjebol keakuan, agar kita tersambung dengan telaga cinta Nabi Muhammad Saw, sehingga kita bisa menjadi telaga-telaga kecil yang turut merembeskan cinta kemana-mana.Syaikh Muhammad Dhiyauddin QushwandhiPentranskripsi: Khalili Anwar
Kini, kita berada di medan kehidupan yang begitu gersang dan tandus, ditandai semakin tergerusnya spirit kasih sayang di tubuh bangsa ini. Kebanyakan orang didorong gairah pemenuhan kepentingannya sendiri-sendiri. Kehidupan nafsi-nafsi telah merebak di seluruh sendi-sendi sosial. Mungkinkah ini pertanda kiamat akan segera menyapa kita?
Kita temukan di berbagai dimensi kehidupan diranggasi kegersangan jiwa, diliputi permusuhan tak berkesudahan, informasi yang ditebar media minus pesan-pesan empatik yang menyejukkan hati. Kita lebih sering mendapatkan asupan “informasi api” yang membakar, ketimbang air yang menyejukkan. Apakah ini menandai semakin membatunya hati manusia, padahal batu yang dipukul oleh Nabi Musa AS saja bisa memancarkan air yang menyegarkan tenggorokan? Apakah dari hati manusia tak lagi berpeluang dihadirkan air yang menyejukkan ruhani, membuat jiwa bisa bertumbuh?
Bisa dijelajah bagaimana kondisi kemanusiaan saat ini. Ditilik dari ekonomi, kita hanya mendapati suguhan konglomerasi yang kian menuhankan ekonomi. Tak jarang, kelompok berekonomi kuat dengan mudah mengganyang kelompok berekonomi lemah. Politik pun dipenuhi dengan fitnah tak berkesudahan. Kawan seperjuangan bisa menjerat teman sendiri. Sungguh, kekuasaan telah melumpuhkan kemanusiaan, yang berbicara setiap saat hanya uang dan kekuasaan. Bahkan, tak bisa dibayangkan agama juga ditampilkan dengan wajah yang keras, menakutkan, seperti monster yang siap mencabik-cabik manusia yang berlaku jahat. Ringkasnya, seluruh sisi kehidupan telah diliputi kegelapan yang kian pekat. Kalau demikian, dari mana cahaya kasih itu bisa kita peroleh? Bagaimana kita bisa menumbuhkan hati yang tandus dari kasih sayang? Apa yang membuat hati tandus?
Benih cahaya kasih telah disediakan dalam diri manusia, hanya karena tertindih pengaruh eksternal yang lebih besar, walhasil benih kasih ini tidak tumbuh dengan baik. Malah, yang tumbuh adalah benih-benih keras yang memandu manusia menuju ketidakbahagiaan. Watak keras muncul dikarenakan manusia merespons keadaan dengan cara sporadis agar bisa berubah secepatnya. Padahal, menegakkan agama memerlukan kesabaran dan kekuatan hati. Orang kuat bukan orang yang gampang mendaratkan pukulan pada pelaku yang berbuat ingkar, tetapi orang yang mampu menahan diri untuk tidak mendaratkan pukulan, malah dia mencurahkan kasih sayang tanpa tepi.
Sumber cahaya kasih tersedia dalam diri manusia. Makin sering kita menggali kedalaman diri, maka akan ditemukan cahaya kasih dalam diri kita. Tidak terpantiknya spirit kasih dalam diri lantaran kita lebih sering fokus pada sisi eksternal. Kalau cahaya kasih itu bersumber di dalam diri kita, bagaimana cara menguak the power luar biasa itu? Pertama, mengontrol pikiran. Demi merealisasi cahaya kasih dalam diri adalah dengan mengontrol pikiran, bukankah pikiran ini yang menjebak manusia dalam jalinan dualitas yang tak berujung. Jika Anda berhasil melampaui pikiran, artinya tak lagi dikuasai pikiran, insya Allah Anda bisa menguak potensi cahaya kasih dalam diri Anda. Pelampauan Anda terhadap pikiran akan membuahkan damai yang kemudian mengkristalisasi sebagai kasih dalam diri Anda. Ketika kau melampaui pikiran, akan Anda temukan hidup yang hampa kepentingan diri, hati tak lagi dikotori kepentingan individu. Bukankah kepentingan individu inilah yang menjebak manusia ke lembah kesengsaraan? Manakala manusia telah berhasil menyisihkan kekuatan individualism yang mematahkan jaringan-jaringan kasih dalam dirinya, disana akan tumbuh cinta yang membawanya terbang menuju cahaya kebahagiaan tak bertepi.
Kedua, bertindak mengikuti hati nurani. Tindakan berdasarkan hati nurani insya Allah akan selalu menunjukkan manusia ke istana kebahagiaan. Sekali Anda mengikuti suara nurani, kau bakal dicurahi ketenangan dan kedamaian di dalam jiwamu, karena kau berhasil mengalami simfoni atau keserasian ke dalam. Hati nurani seperti cahaya, kalau kau menyalakan setitik cahaya, perlahan-lahan cahaya itu kian membesar, menerangi medan sekitarnya. Cahaya itu menjadi petunjuk yang akan mengantarkan Anda melewati cahaya yang lebih agung, yang pada akhirnya akan sampai pada Cahaya Di Atas Cahaya, selaku sumber dari seluruh cahaya.
Pengikut cahaya akan diperjumpakan dengan cahaya. Dan cahaya itu sejatinya selalu menyala dalam diri manusia, namun kadangkala manusia tidak terlalu tertarik dengan cahaya itu. Dia lebih tertarik dengan petunjuk kegelapan yang menjanjikan kesenangan sementara. Adapun jalan cahaya harus melampaui proses pendakian yang begitu panjang, seperti halnya Nabi Musa AS yang berjalan menuju cahaya yang ada di bukit Tursina. Pada mulanya, cahaya itu terlihat kecil, tetapi setelah didekati cahaya itu kian membesar, semakin dekat dia tertelan oleh cahaya itu, dan akhirnya dia tersungkur di depan cahaya itu. Berlatih setiap hari, Anda mengikuti petunjuk cahaya yang ada di dalam dirimu, berupa hati nurani, agar engkau perlahan-lahan bisa bertemu dengan sumber cahaya itu.
Ketiga, menerangi hati dengan zikirullah. Zikir berfungsi sebagai penerang bagi medan hati yang dikuasai kegelapan. Pun bisa melembutkan hati yang kesat membatu. Zikir yang dimaksud tidak sembarang zikir, tetapi zikir yang diwariskan dari seorang guru yang memiliki pertalian keilmuan hingga Sayyidina Muhammad SAW. Kekuatan zikir telah merubah Sayyidina Umar bin Khattab ra yang berperangai keras dan temperamental menjadi sosok yang lembut dan lekas menangis. Zikir amat ampuh untuk melunakkan hati yang keras, selain telah mendapakan ijazah dari guru yang memiliki pertalian rahasia zikir hingga Sayyidina Muhammad Saw, juga dijalani secara istiqamah. Ketekunan atau istiqamah berzikir menjadi jembatan untuk mengukir hati yang lembut, berikut membentuk perangai dan perilaku yang memesona.Bagi pemula, diawali dengan menekuni zikir pagi-petang. Zikir pagi petang akan menghapus seluruh kegelapan hati, diganti dengan cahaya damai. Zikir pagi-petang yang ditekuni dengan serius begitu ampuh menghilangkan pelbagai bentuk kotoran yang melekat di hati, berupa kedengkian, riya’, dan sombong. Ingatlah, sesungguhnya kegelapan yang berarak di dalam hati adalah berupa sifat dengki, riya’, sombong. Tiga tentara kegelapan itu bisa dimusnahkan dengan kekuatan zikir yang istiqamah.Tiga cara yang disodorkan, berupa mengontrol pikiran, mengikuti hati nurani, dan menekuni zikir pagi petang, bisa menjadi suluh cahaya yang segera menerangi mata batin kita, dan akan membentuk perangai, perkataan, dan perbuatan melulu diliputi kelembutan. Insya Allah. Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya