Senin, 19 Maret 2012

MENEPI UNTUK MENGGAPAI MUTIARA


Siapa yang tidak senang pada mutiara. Seluruh orang menyukai mutiara, kecuali orang yang tidak mengenali harga mutiara, atau mereka berada dalam kondisi yang terjepit, seperti orang yang hampir tenggelam hendak ditelan oleh air, maka mutiara tidak lagi memiliki harga baginya. Dia lebih menyukai orang memberikan ban bekas, agar dia bisa menepi dari hantaman ombak yang hendak menelannya.

Jika setiap orang menyukai mutiara, tentu kita tidak berhenti hanya menyukai mutiara, sehingga berjuang untuk menjadi mutiara. Kalau Anda bahagia karena berdekatan dengan mutiara, justru Anda akan didepak kegelisahan oleh karena dipaksa berpisah dari mutiara. Kita tidak berjuang meraih mutiara yang berasal dari samudera, akan tetapi bagaimana kita bisa mendulang mutiara yang bersembunyi dalam diri kita sendiri. Kalau Anda telah berhasil mengenali dan mengeruk mutiara yang bertempat dalam diri Anda sendiri, justru Anda akan diliputi kebahagiaan setiap saat. Lantas apa bedanya mutiara yang dikeruk dari samudera, dan yang didapati dalam samudera batin ini?

Jika orang mendapatkan mutiara dari samudera yang terbentang di alam raya, dia memeroleh kebahagiaan sebatas ketika mutiara berada di genggemannya. Dan mutiara yang dikeruk dari lautan tersebut pada saatnya melahirkan kebosanan. Seketika orang bosan, kebahagiaan yang dimaksud tak lebih sekadar gejala (bayang) kebahagiaan yang datang-pergi, timbul-tenggelam, dan bongkar-pasang. Tatkala orang menyandarkan kebahagiaan pada dimensi eksternal, pastilah dia akan selalu berada dalam posisi yang berjarak dengan dimensi yang membuatnya bahagia.


Dan lebih dari itu, bahwa orang yang menyandarkan kebahagiaan pada mutiara yang berada di eksternal dirinya, dia telah merendahkan posisi di hadapan benda-benda, bukankah hanya orang yang merendahkan dirinya di hadapan benda-benda, yang layak diperbudak oleh benda-benda, sehingga dia gagal bersentuhan dengan elemen kebahagiaan yang sejati.
Tak jarang orang menemukan kebanggaan dengan gelar yang disematkan padanya, menemukan kebahagiaan melalui kedudukan yang disandangkan padanya, mendapati kesenangan lewat aksesoris duniwi yang menghiasinya. Kebahagiaan yang bersandarkan pada sisi luar itu mengkonfirmasi bahwa seluruh dimensi kebahagiaan tersebut lebih agung ketimbang dirinya sendiri.

Allah telah memuliakan manusia ketimbang makhluk-Nya yang lain, dan manusia menjadi rendah lantaran orientasi dan sikapnya yang cenderung tertuju pada selain-Nya. Kalau manusia telah menjadikan Allah sebagai orientasi dan tujuan hidupnya, insya Allah kebahagiaan akan segera memancar indah dari dalam hatinya. Ya, kalau manusia berorientasi pada selain Allah, semua kebanggaan dunia tidak bisa mempersembahkan kebahagiaan sempurna bagi dirinya.

Becoming Mutiara

Saatnya kita harus menggali mutiara dalam diri kita sendiri, bahkan kita telah menjadi mutiara, sehingga kebahagiaan layak menempati hati kita setiap saat. Kalau Anda ingin merasakan mutiara dalam diri Anda, maka Anda harus bisa memahami bagaimana pasir bisa mengubah dirinya menjadi mutiara.

Pertama, tanamkan perasaan Anda bukan siapa-siapa, dan Anda adalah sehina pasir. Kalau Anda telusuri, pasir tidaklah lebih berharga ketimbang besi. Kalau Anda menjual besi dan pasir, tentu saja orang akan lebih membayar harga mahal bagi besi. Hanya saja, ketika pasir telah merubah dirinya menjadi mutiara, maka orang-orang kaya akan mendekati mutiara tersebut. Pun demikian, kalau Anda ingin mengenal harga manusia yang dimuliakan Allah dalam dirimu, ternyata bukan didapatkan dengan menyombongkan diri.

Hargailah diri Anda seperti halnya pasir, yang pada mulanya diinjak-injak, bahkan pasir menepi dari berbagai hiruk-pikuk gelombang. Tatkala pasir menepi, pada saatnya ia disauk gelombang untuk dibawa menuju tengah samudera, berikut ditarik ke titik pusaran gelombang sehingga mencapai kedalaman samudera. Kemudian, ia dipertemukan dengan kerang yang siap memprosesnya menjadi mutiara. Ringkasnya, pada saat manusia sudah pupus perasaan berharganya, justru sebagai proses memuliakan dirinya di hadapan Allah.

Kecilkan dirimu seperti pasir, dan biarkan dirimu dihina, dan jangan pernah merasa disakiti oleh hinaan orang yang menghina, lenyapkan segala bentuk pengakuan yang hanya membesarkan dirimu, maka siap-siaplah Anda akan ditarik menuju medan magnet Ilahi. Bukankah hanya orang yang merasa hina yang akan dimuliakan oleh Allah, hanya orang yang merasa bodoh yang akan dialiri ilmu dan hikmah oleh Allah, dan hanya orang yang tak merasa berdaya yang justru akan diperkuat oleh Allah SWT. Gampangnya, orang yang telah merasa sebagai mutiara, justru tidak akan diproses menjadi mutiara yang mengabarkan kebahagiaan bagi orang lain.
Berkait dengan mutiara dan pasir, saya teringat pada sebuah kisah, seorang pelayan yang mendampingi majikannya dalam sebuah perjalanan. Di tengah perjalanan, rupanya sang majikan dongkol dengan perilaku pelayannya, sehingga dia selalu mengoceh dan mencaci maki si pelayan. “kau tak lebih berharga daripada pasir,” kata majikan dengan nada kesal. “Ya, saya memang tak lebih daripada pasir ini, dan engkau adalah mutiara,” kata si pelayan sembari menggenggam pasir. “tapi, walau ini hanya sejumput pasir, dan engkau adalah mutiara, pasir tetap yang pertama kali mendapatkan pancaran sinar matahari. Dan mutiara yang ditaruh di lemari yang memiliki pengaman yang berlapis-lapis, justru sama-sekali terhalang dari pancaran sinar matahari,” lanjut si pelayan layaknya pengkhotbah.

Selintas perbincangan itu mengabarkan pada kita, bahwa kalau Anda ingin menjadi mutiara yang hakiki, jangan pernah sedikit pun terbetik perasaan bahwa Anda adalah mutiara. Jangan pernah sedikit pun Anda menahbiskan diri sebagai sosok yang mulia. Alih-alih orang bersematkan kemuliaan tatkala merasa mulia, malah akan terpuruk dalam kehinaan.
Kedua, berserah dirilah. Penyerahan diri sebagai jalan tercepat agar Anda ditarik menuju titik pusat Ilahiah, walhasil dia akan bercengkerama dengan pusat kebahagiaan yang tanpa batas. Bayangkan, pasir yang menepi tidak seterusnya dia bersikukuh untuk menepi, justru dia akan selalu berserah diri, sehingga ada gelombang besar yang menggapainya menarik ke pusat arus gelombang. Dengan berserah diri, manusia akan gampang ditarik oleh Allah.
Sadarilah, sikap berserah diri menandakan bahwa orang telah memupus penghalang baginya dari Allah SWT. Jiwanya berada di titik terdekat dengan Allah SWT, sehingga gerakan yang dilakoni selalu dijiwai dengan spirit Ilahi. Jika hati telah disepuh dengan penyerahan diri, berarti dia pupus dari daya dan kekuatan dirinya sendiri, menuju daya dan kekuatan Allah SWT. Karenanya, jika orang telah menggapai pengalaman batin “Laa Hawla Walaa Quwwata Illa Billah”, dia telah mendapati perbendaharaan kekayaan yang tak pernah lenyap. Dia telah bersama Allah setiap saat. Siapakah kiranya yang akan terdera penderitaan manakala sudah bersama dengan Yang Maha Menguasai bumi dan langit dan Maha Kaya?

Menepilah seperti pasir, agar kau dibawa oleh arus Ilahi untuk diproses sebagai mutiara yang amat berharga Sehingga kau tidak hanya mendapatkan kebahagiaan, kau telah diproses sebagai kebahagiaan itu sendiri. Setiap orang yang memandangmu akan selalu mengakses kebahagiaan yang hakiki. Insya Allah.

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

MENGGAPAI KEKAYAAN HAKIKI




Jika ditanya ke semua orang, “apakah kalian menginginkan kekayaan?” serempak mereka jawab, “Yaa saya ingin sekali kaya!.” Kaya menjadi dambaan setiap manusia, kendati tidak semua orang bisa merengkuh kekayaan yang diharapkan. Seluruh rakyat negeri ini berminat menjadi orang kaya, tetapi kenyataannya kekayaan terkonsentrasi pada segelintir orang saja, bahkan mereka masih tega merampas hak rakyat yang sudah berada di lembah kemiskinan.

Ketahuilah kekayaan bukan hanya keinginan yang muncul dari kawah hawa nafsu, tetapi kekayaan juga didambakan oleh hati nurani. Bahkan sejatinya kekayaan definisi hawa nafsu hanya pantulan yang terdistorsi dari kekayaan yang dimaksud oleh hati nurani. Hati nurani mendambakan kekayaan, ketika dia telah merasakan kelezatan bermunajat pada Allah, berzikir pada Allah, dan timbul perasaan fakir dan butuh pada Allah semata-mata. Kalau orang telah mendapati kekayaan hakiki ini, dia tidak berharap kekayaan eksternal, dan dia selalu berada dalam keadaan bahagia, walau kondisi luar membenturnya ke tembok-tembok kesusahan. Siapa yang telah mendapati kekayaan batin, ia akan selalu mencapai bahagia setiap saat.

Selama ini banyak orang memburu kekayaan, sehingga rentang waktu 24 jam dihabiskan oleh perkara perolehan harta duniawi. Bahkan, walau mereka telah diberi waktu 24 jam, terasa masih kurang. Jika pemburu duniawi itu ditanya, apakah Anda sudah puas dengan capaian kekayaan yang Anda dapatkan di hari ini? Mereka akan menanggapinya, saya belum puas dengan perolehan saya di hari ini. Ketahuilah, tatkala di dalam hatinya telah lenyap perasaan puas terhadap anugerah duniawi ini, sejatinya ada kekayaan hakiki yang dicabut dari hatinya, yakni qonaah. Bilamana sifat qona’ah telah dicabut dari hatinya, justru hatinya akan selalu digoncang oleh persoalan duniawi, walhasil dia luput mendulang kebahagiaan yang hakiki.
Adalah seorang guru pernah bertamu pada orang kaya raya yang menghuni rumah sangat mewah. Pada saat berjumpa dengan pemilik rumah, tidak ada yang terlontar dari lisannya kecuali keluhan semata-mata. Mengeluh seolah menjadi menu hariannya, sehingga kekayaan yang didapatkan tidak memantulkan kekayaan di batinnya. Guru saya menyindir, “ji ji, masak rumah sebesar ini tidak turun setetes rahmat pun dari Allah?” demi mendengar perkataan sederhana dari guru, dia pun tersentak kaget menyadari betapa rahmat Allah yang dianugerahkan padanya amat besar, tetapi keluhan telah menindih rahmat tersebut, walhasil kebahagiaan tidak merealisasi dalam kehidupannya.

Kita sering menemui orang kaya, tetapi wajahnya terlihat amat miskin, disesaki berbagai keinginan, dan anehnya keinginan yang menggantung di pikirannya kerap berbenturan dengan keinginan Allah. Keinginan yang sering tidak tercapai telah menebalkan alasannya baginya untuk melontarkan keluhan yang tak pernah surut, sehingga dia selalu terlihat miskin. Tetapi, ada orang yang profesinya sebagai tukang sapu di jalan, dia selalu terlihat tersenyum indah, setiap orang yang melihatnya kadang cemburu akan kebahagiaan yang ditampilkan. Bagaimana kiranya dia bisa mengukir rumah kebahagiaan dalam hatinya, padahal jelas-jelas pekerjaan sebagai tukang bersih-bersih digaji dengan tidak seberapa. Ya, kendati dia tidak memeroleh uang yang banyak, tetapi hatinya telah dianugerahi kekayaan oleh Allah, sehingga dia layak bahagia setiap saat.

Ada seorang guru yang telah mewakafkan dirinya pada umat. Waktunya lebih banyak dipergunakan mengajari umat ihwal ilmu agama, tidak ada pekerjaan yang bisa menjadi mesin nafkah bagi keluarganya. Hanya saja Allah selalu memberikan kecukupan dalam hidupnya. Ya, dia selalu dicukupkan oleh Allah, karena beliau mengenal dan meyakini Allah sebagai Yang Maha Mencukupi (al-Kafii), dan beliau sudah merasa cukup dengan Allah. Sepanjang hidup yang dijalani, beliau tidak pernah terdengar mengeluh apalagi mengelus dada oleh sesaknya persoalan duniawi.

Beliau selalu tersenyum, sehingga kondisi yang sebenanrya dari sosok ini tidak bisa diradar oleh orang lain. Karena beliau tak lagi terpengaruh dengan iklim kehidupan, dia telah menguasai iklim kehidupan, sehingga wajahnya selalu terlihat bercahaya bahkan ditumpahi perasaan syukur terus-menerus. Beliau tidak pernah meminta diperhatikan apalagi dikasihi orang lain, beliau merasa cukup dengan kasih sayang Allah SWT padanya, bahkan beliau selalu ingin berbagi kebahagiaan dengan sesama.

Mungkin semua orang mengira bahwa beliau memiliki kekayaan yang melimpah, tak ayal ada orang yang terbelit ekonomi menghampirinya untuk memeroleh pinjaman uang. Ya, beliau memiliki kekayaan, tapi bukan kekayaan tersimpan di brankas atau di bank, tetapi beliau memiliki kekayaan yang terpendam dalam hatinya, sejalan dengan apa yang disampaikan Sayyidina Muhammad Saw melalui sabdanya, “tidak ada kekayaan itu adalah kekayaan yang diperoleh dari bumi (harta benda), hanya sanya kekayaan itu adalah kekayaan jiwa.”
Manakala orang telah menggapai kekayaan yang hakiki ini, maka wajahnya akan selalu terlihat sumbringah dan memancarkan spirit bagi orang yang menatap wajahnya. Setiap saat dia berbagi kekayaan—pencerahan—pada setiap orang yang dijumpai, bukankah hanya kata-katanya yang menerangi dan mencerahkan jiwa, bahkan wajahnya yang bening dan bercahaya turut menerangi hati orang yang menatapnya.

Marilah kita terus menerus menggali kekayaan yang terpendam dalam hati kita dengan melatih sifat qonaah (puas) dengan apa yang diberikan Allah, dan kita tidak puas dengan kebaikan yang kita lakukan. Sehingga kita selalu berusaha berbagi kebahagiaan dan kebaikan pada setiap orang… Insya Allah.

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

RE-KIMIAWI AA GYM DAN TEH NINIH MUTHMAINNAH



Mendadak hati ini terasa lega dan bahagia sesudah membaca kabar bahwa Aa Gym dan Teh Ninih Muthmainnah (teh Ninih) rujuk, terjalin kembali dalam hubungan suami-istri. Seperti apapun orang berujar tentang Aa Gym, beliau masih termasuk deretan inspirator yang menjejakkan ilmu di hati saya. Banyak pencerahan yang saya jaring dari ceramah yang disampaikan, berikut tindakan-tindakan konkret yang mewarnai perjalanan dakwahnya.
Dakwah Aa Gym bersinar salah satunya berkat dukungan full dari Teh Ninih yang dengan kelembutan plus ketegarannya menemani perjuangan dakwahnya Sebelum Aa Gym muncul—dengan mode dakwahnya yang menyejukkan—negeri ini seolah miskin keteladanan, dan seluruh rakyat mencari siapa kira-kira yang layak menjadi kiblat dan rujukan bagi umat.

Apalagi, tatkala itu banyak tokoh ulama yang berduyun-duyun masuk ke ranah politik praktis, sehingga kepercayaan publik terhadap ulama’ mengalami ujian yang luar biasa. Aa Gym berusaha merespons segenap kegamangan yang memadati relung publik Indonesia melalui dakwah yang menjurus pada perbaikan diri ketimbang sibuk memperbaiki dan mengonceki orang lain. Perbaikan diri itu terpantul dari semangat untuk memperbaiki hati yang kemudian dipopulerkan dengan sebutan Managemen Qolbu (MQ).

Keruntuhan pamor Aa Gym bermula dari keputusan poligami yang masih terkesan tabu di ranah masyarakat Indonesia yang aneh ini, yang disisi lain hubungan di luar nikah dari pacaran hingga perzinahan dianggap suatu yang biasa. Tak kurang intelektual muslim, bahkan ada sebagian tokoh agama mengkritisi keputusan poligami yang ditempuh Aa Gym disertai prasangka buruk, bahwa Aa Gym menikah oleh karena dorongan hawa nafsu.

Penulis berharap rujuknya Aa Gym dan Teh Ninih menjembatani bersinarnya kembali dakwah Aa Gym, sehingga bertambah banyak publik Indonesia yang bisa mengakses pencerahan. Akhir-akhir ini, kita lebih sering mengonsumsi berita negative ketimbang berita yang positif, sehingga publik kerap-kali terbentuk oleh berita-berita negative tersebut. Bagaimana kita bisa mendapati berita yang baik, kalau yang dijadikan news maker notabena orang yang tidak bisa disebut baik. Bukankah dari orang yang berkarakter buruk hanya bisa melahirkan berita-berita buruk dan dari orang-orang baik insya Allah kita bisa memeroleh berita-berita baik. Kecuali, media merekayasa dan menjungkir-balikkan fakta untuk kepentingan komersialisasi, sehingga orang baik diberitakan buruk, dan orang buruk diberitakan baik.

Makanya, kita harus membantu orang-orang baik agar terus bisa bersinar, sehingga banyak teladan-teladan baik yang bisa dijadikan cermin bagi generasi muda. Jangan biarkan orang yang telah menjadi teladan bagi generasi muda, kemudian diruntuhkan ‘iffahnya’ dengan berbagai rumor negative, sehingga generasi muda seakan tak mendapati cahaya yang bisa menunjukkan mereka menuju kesuksesan. Semakin banyak model of life yang dijiwai dengan spirit agama, insya Allah akan makin bertambah generasi yang menjadi orang baik.

Pemberitaan media memiliki kekuatan yang dahsyat untuk memproyeksi citra seorang meroket naik secara mendadak, dan meluncur runtuh secara tiba-tiba. Pemberitaan negative yang tidak berdasar ihwal seorang tokoh yang sejatinya baik, justru akan memupus ekspektasi publik untuk bisa berlaku baik. Bukankah orang tergerak melakukan kebaikan lantaran ada model kebaikan tersebut, tetapi tatkala orang yang dijadikan model hidup dibaluri citra negative, yang kemudian menimbulkan persepsi berbeda tentang tokoh tersebut, maka perlahan-lahan semangat melakukan kebaikan akan menurun. Bukankah kebaikan kolektif hanya bisa dicapai dengan kehadiran seorang tokoh yang bisa menggerakkan massa Indonesia secara kolektif. Dan Aa Gym saat itu memiliki peran yang menasional, dan bisa merangkul umat dengan berbagai aliran, dan bisa bisa merekatkan hubungan antara agama dalam bingkai keindonesiaan. Dia diterima oleh semua kalangan masyarakat, membuktikan ihwal keteduhan dan kesejukan Islam yang sejati.

Selamat atas rujuknya Aa Gym dan Teh Ninih. Semoga kembalinya cinta Aa Gym dan Teteh menjadi awal terbukanya kembali pintu bagi Aa Gym untuk berkiprah mendandani bangsa ini bersama tokoh-tokoh lainnya. Ayo Aa, bangkit kembali, tebarilah kembali bangsa ini dengan pencerahanmu. Kita merindukan Aa Gym yang dulu tidak pernah berhenti menebar inspirasi-inspirasi mencerahkan bagi generasi muda. Semoga Aa Gym kini tidak hanya memberikan pencerahan, juga berperan melahirkan generasi-generasi yang siap berbagi pencerahan bagi bangsa ini. Insya Allah. Amien.

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

Jumat, 16 Maret 2012

BELAJAR DIAM PADA BUNGA

Pada pagi berbalutkan kecerahan, diwarnai cahaya mentari yang memancar dari ufuk timur, kutemukan lahan “farsyi” melalui bunga yang melulu menampakkan senyum di hadapanku। Dalam diamnya, bunga itu telah mematrikan kebahagiaan di batin ini. Lisanku diam, pikiranku hening, dan hatiku pun fokus menyapa bunga dengan segenap keindahannya.

Dari situ, hamba yang amat hina ini berusaha menyerap pelajaran pada kemuliaan yang telah Allah sematkan pada bunga. Ia memang diam, tetapi diamnya sebagai manifestasi puncak kefasihan berbicara, tak ayal diamnya menarik pesona setiap orang yang menatapnya.

Wahai bunga, kau seakan telah merangkum seluruh keindahan universal, karenanya kau telah memesona seluruh semesta. Manusia dari berbagai sekte, agama, dan etnis tak ada sedikit pun yang menaruh kebencian padamu, semuanya menyukaimu. Tak ayal, kau kadang dijadikan sebagai bentuk ekspresi syukur oleh seluruh manusia. Kau kadang dijadikan wahana mengekspresikan cinta seorang pada kekasihnya, kau akan menjadi hiasan pagi pengantin yang bersendawa di pelaminan, kau juga dihaturkan sebagai ekspresi selamat atas pencapaian sebuah gelar pada seseorang, kau juga ditaburkan di tempat pemakaman sebagai ekspresi kasih yang tak pernah lekang oleh kematian. Kau boleh layu, tetapi keindahanmu telah dijejakkan di hati setiap orang, sehingga siapa yang mengingatmu hanya mengingat keindahanmu saja. Kau boleh mati, meninggalkan kehidupanmu tetapi harummu tak pernah pudar di “penciuman batin” semesta.

Saya menemukan keindahanmu, saat saya dan kau sama-sama diam, mematung dalam zona meditatif, seakan berbisik banyak kearifan dari lubuk batin ini. Bunga, kau tak meninggalkan jejak keburukan sedikit pun di hati orang lain, tetapi hamba yang hina dan bertumpuk dosa ini, sering meninggalkan jejak keburukan di hati orang lain. Bukankah kemuliaan makhluk di sisi Tuhan-nya bergantung pada atsarnya. Kau telah meninggalkan rangkaian kenangan indah di hati setiap orang, insya Allah kau memang dihadirkan untuk dimuliakan oleh semesta.
****

Memang, keanggunan bersematkan pada bunga yang selalu diam. Bolehkah aku diam untuk bisa mengakses keanggunan bunga. Pasalnya, diam bukan perkara mudah. Diam memerlukan perjuangan yang gigih agar bisa bersentuhan dengan kelembutan yang bertempat di dimensi batin. Bayangkan, kalau Anda ingin merasakan ramai, belajarlah pada mesin-mesin yang mati, yang tak jarang memekkan telinga, dan membudekkan batin. Saban hari, kita lebih sering menemukan keramaian, daripada suasana hening. Di jalan-jalan, kita tidak pernah terhindar dari suara mesin motor dan mobil, apalagi jika yang mengendarai berpenampilan ugal-ugalan.

Kalau kita makin tertarik pada suatu yang artifisial, justru semakin tidak menyukai diam, malah lebih senang dengan hiruk-pikuk keramaian. Bayangkan, kini kebanyakan orang terjangkiti penyakit tidak kerasan di rumah, pasalnya di rumah tidak ditemukan suasana ramai. Tidak menyukai keadaan yang sepi. Karenanya, mereka berselancar di suasana ramai dengan mengunjungi mall atau tempat-tempat hiburan. Bayangkan, berapa banyak orang yang memadati konser bernuansa hiburan, apalagi yang berjingkrak-jingkrak di panggung notabena penyanyi kelas internasional. Jika sudah berada di mall atau tempat hiburan, mereka seakan bisa mengobati kesepian yang mengungkungnya selama ini. Akan tetapi yakinilah saudaraku, hiburan yang Anda tonton tersebut tidak mewariskan kebahagiaan di batin. Bahkan hiburan itu telah menguras kebahagiaan di lahan batin Anda. Karena itu, tak jarang orang yang menonton konser yang membuat orang lalai pada Allah, merasa ada suatu yang hilang. Yang hilang itu adalah kebahagiaan. Anda hanya bisa menemukan kebahagiaan tatkala Anda bisa terkoneksi dengan zona hening dalam diri Anda sendiri.

Anda berlatih diam memerlukan ketekunan yang lebih ketimbang berlatih berbicara. Karena keterampilan berbicara mudah hanya dengan mengikuti pelatihan-pelatihan public speaking plus hawa nafsu sangat menyukai berbicara. Apa-apa yang didukung hawa nafsu akan lebih mudah dikuasai. Adapun berlatih diam memang terasa sulit, karena hawa nafsu sendiri tidak menyukai diam. Berlatih diam, tidak hanya menutup lisan, tetapi juga mengekang hawa nafsu agar tidak sering menginterupsi kita untuk berbicara.

Ada saatnya, kita menyediakan waktu untuk berdiam dalam renung, sehingga kita bisa menyapa hening dalam diri kita, walhasil menemukan mutiara kearifan yang berjejak dalam diri kita. Insya Allah.

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

Kamis, 15 Maret 2012

DARI LUBANG MENUJU LUBANG


Manusia kerap memahami lubang sebagai tempat berdiamnya hal-hal yang menjijikkan. Kita mengenal ada lubang—sarang—ular, lubang biawak, lubang semut, lubang hidung yang menyimpan kotoran, lubang telinga juga menyimpan kotoran, bahkan lubang mata menyimpan kotoran. Padahal tanpa disadari kita hidup lantaran adanya lubang. Apakah Anda membayangkan bisa hidup tanpa hidung yang berlubang? Bisakah Anda merasakan kelezatan makanan tanpa mulut yang berlubang? Bisakah Anda melihat tanpa mata yang berlubang? Bahkan kotoran yang menjejali perut dan kantong kemih Anda juga harus dikeluarkan lewat lubang. Bagaimana rasanya orang yang hendak mengeluarkan kencing, tetapi penisnya tak berlubang?


Karena adanya lubang manusia bisa mengalami hidup। Bahkan awal manusia mengalami hidup berasal dari lubang. Kejadian manusia bermula dari pertemuan mani dan ovum yang sama-sama berasal dari lubang—maaf kemaluan. Pertemuan keduanya berproses menjadi segumpal daging, dan bertumbuh menjadi bayi yang juga dikeluarkan lewat (lubang) wanita. Jika kelahiran melalui lubang, maka kematian manusia pun akan kembali ke lubang, yakni liang lahat.

Tidak sebatas manusia yang mewujud dari lubang, bahkan kehidupan ini berasal dari lubang, andaikan ada lubang yang tertutup tidak akan ada manfaat yang bisa dibagikan. Air yang kita minum juga berasal dari lubang, pepohonan untuk bisa mencapai pertumbuhan sempurna juga harus ditanamkan di tanah yang berlubang.
***
Karena itu, jangan pernah kau meremehkan lubang, karena dari lubang seluruh kehidupan ini mengalami realisasi secara optimal। Manusia tidak bisa lepas dari lubang. Kiranya bagaimana orang bisa mendapatkan kehidupan tanpa adanya lubang. Lubang mewakili ruang. Ketahuilah, orang mengalami hidup lantaran adanya ruang. Anda bisa duduk menikmati makanan yang terhidang di depan meja lantaran ada ruang yang disediakan untuk Anda. Ruang itu sepertinya tidak ada, padahal ruang itu ada, bahkan ruang mendasari keberadaan segala sesuatu. Mungkinkah Anda melihat segala sesuatu yang mengalami eksistensi di ranah tanpa ruang?

Memang, kau tidak bisa melihat rupa ruang (lubang), apalagi warnanya, tetapi ia selalu hadir dalam setiap keadaan. Karena lubang itu seakan tidak berbentuk, Anda kurang menghargai kehadiran lubang tersebut. Dan Anda lebih menghargai apa yang keluar dari lubang. Bayangkan, Anda mungkin jijik menyentuh dubur ayam, tetapi Anda tidak pernah jijik kalau menyentuh telur ayam. Padahal Anda sadar, bahwa telur itu keluar dari (lubang) dubur ayam. Manusia yang diciptakan sebagai khalifah ini keluar dari kemaluan. Kemaluan identik dengan suatu yang memalukan, dan hanya layak dihampiri kamaluan juga. Akan tetapi, perlu disadari bahwa dari kemaluan itulah muncul makhluk yang dimuliakan Allah Jalla Jalaaluh sebagai khalifah. Kendati Anda berasal dari lubang yang penuh dengan kotoran, Anda mensyukuri kelahiran, dan Anda harus berusaha menumbuhkan kemuliaan yang bertempat dalam diri. Jika manusia mengerti akan asal muasalnya, niscaya dia akan selalu menghargai segala lubang yang melekat padanya dengan cara menjaganya dari segala bentuk kemaksiatan pada-Nya.

Begitu pentingnya lubang, maka manusia harus menjaga lubang-lubang yang lekat pada tubuhnya dari segala bentuk kemaksiatan. Andaikan orang berbuat kemaksiatan melalui lubang yang terinstalasi pada dirinya—berarti tidak bersyukur—tak ayal kalau di kemudian hari manusia akan didepak penderitaan oleh karena perbuatan tersebut. Bayangkan, banyak orang terjangkiti penyakit HIV AIDS lantaran menyalahgunakan lubang. Banyak penyakit yang melanda manusia saat ini oleh karena makanan yang dikonsumsi. Anda pasti sudah tahu makanan tersalurkan lewat mulut. Padahal, ketika manusia menjaga makanan insya Allah kesehatan badannya akan terjaga pula. Mulut disini tidak sekadar terkendali dari masuknya penyakit lahir, tetapi harus terkendali dari masuknya penyakit batin. Bayangkan, tak jarang perseteruan, kebencian yang terus menebar, dan bahkan peperangan bermula dari lisan (mulut). Karena itu, Rasulullah Muhammad Saw bersabda, “siapa yang menjamin bisa menjaga lisan, maka saya menjamin surga.” Bermula dari fitnah terkadang menyulut permusuhan satu sama lain.

Penyakit juga datang dari udara kotor yang dihirup oleh hidung kita. Karena itu, hidung harus terjaga dari menghirup udara kotor (polutan). Andaikan kita mampu menjaga hidung kita dari menghirup zat-zat yang kotor, insya Allah kesehatan kita tetap terjaga dengan baik. Janganlah membiarkan diri mencium segala bentuk yang dilarang Allah, bukankah ciuman akan mengantar orang mencapai kesan yang mendalam. Andaikan kau mencium apa yang dilarang, justru itu akan selalu membawa kesan mendalam atas dosa-dosa yang kau perbuat, atau bahkan Anda akan ditarik pada bayangan gelap tersebut. Bayangkan muda-mudi yang berani berciuman, sejatinya dia sedang menghunjamkan derita ke dalam batinnya sendiri.

Tulisan sederhana ini hanya hendak mengajak Anda agar mensyukuri kehadiran lubang, karena dari lubang inilah Anda bisa menyelenggarakan kehidupan. Selain itu, Anda harus bersabar agar tidak menggunakan lubang-lubang yang menempel pada tubuh pada hal yang dilarang oleh Allah. Perpaduan syukur-sabar tersebut insya Allah akan mengantar Anda dalam zona kebahagiaan secara berkelanjutan.

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

Senin, 09 Mei 2011

SEKULARISASI GAYA BARU

Kita mengambil tajuk mengenai sekuler. Apa sih sekuler itu? Kemudian apa berbedaan titik aksentuasi dengan pluralisme yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat di kancah aktivis nasional? Pluralisme menekankan akan keragaman budaya, bahkan keragaman agama yang dibingkai dalam kesamaan, sehingga timbul kesan bahwa seluruh agama sama.
Adapun sekular memaknai agama dan dunia sebagai domain yang berbeda, sehingga agama tak berhak mengintervensi dimensi dunia. Agama hanya bergerak dalam lingkup ritual-seremonial, tidak boleh memasuki ruang aktivitas sosial. Karenanya, agama terkesan terisolasi dari kehidupan masyarakat, dan hanya bisa digalakkan di masjid dan mushalla. Penyempitan peran agama, membikin agama sebagai channel penebar rahmat tidak bisa mengejawantah secara optimal.

Penulis sendiri pernah membaca secuil ulasan tentang sekularisasi yang pernah dipopulerkan oleh Nurcholish Madjid di tahun 70-an, yang kemudian memunculkan konsep praksis, “Agama Yes, Partai Islam No.” Partai dipersepsi bukan bagian dari agama, tetapi diletakkan sebagai entitas di luar domain agama. Demikian gambaran ide praksis Nurcholish Madjid yang menggemparkan jagat keagamaan di Indonesia, dan memancing perdebatan yang sengit dari aktivis muslim saat itu.

Kini, kendati sekularisasi gaya Nurcholish Madjid masih diteruskan oleh generasi muda yang nyentrik, Ulil Abshar Abdallah, tetap sebagai hidangan lama, yang hanya berubah bungkus saja. Tanpa kita sadari, kita sedang disuguhi gaya sekularisme baru yang dibidani kelompok ekstrim kanan, yang menjuluki dirinya sebagai penegak agama secara murni dan konsekuen, dan gampang melontarkan cercaan bid’ah pada golongan yang lain, bahkan tak segan-segan mengklaim orang lain sesat, dan masuk neraka. Seakan lisensi dan paspor menuju “negeri surga dan neraka” ada di tangan mereka. Mereka memandang dirinya sebagai ahlun nur (ahli cahaya), sehingga merasa terjamin masuk surga, dan yang lain sebagai ahlun naar (ahli neraka), karenanya dipandang layak memasuki neraka. Apakah mereka memang the owner kingdom of heaven and hell (pemilik sah kerajaan surga dan neraka)? Saya tidak mengerti, yang saya pahami surga dan neraka adalah milik Allah.

Kelompok ini dengan gampangnya—tanpa merasa bersalah—menganggap amal saudaranya berbau bid’ah, dan diklaim amal itu menyeret orang ke neraka. Pembacaan Qasidah maulid—saluran mengekspresikan cinta pada Rasulullah Saw—dianggap bid’ah, zikir bersama disebut bid’ah, bahkan kalau ada orang shalat tidak mengikuti gerakan seperti yang direkomendasikan mereka, dicap bid’ah. Gamblangnya, seluruh kebudayaan yang diramu dengan nilai-nilai agama oleh para ulama’ salaf terdahulu tiba-tiba dilabeli bid’ah.

Mantra bid’ah yang dilemparkan tersebut cukup membuat kebudayaan yang diwarnai nilai-nilai agama mengalami kemandekan. Bayangkan, kelompok remaja yang terbiasa membaca Diba’ saban malam jum’at perlahan tergerus dan punah. Malam Jum’at tak lagi menjadi tempo yang dimuliakan dan memancing kegembiraan, bahkan diidentikkan dengan pocong dan hantu sebagaimana ditayangkan oleh televisi. Jadinya, malam jumat dikesankan bukan malam yang menyajikan kegembiraan, malah sebagai malam yang menakutkan dan menyeramkan. Bahkan, tak jarang kalangan remaja muslim, mengalihkan hiburan dengan menjajal malam minggu. Pacaran pun marak menjadi budaya baru yang memasuki ceruk kehidupan kaum muda muslim. Tak sedikit kaum muda muslim yang terseret ke dalam perzinahan, dan menganggap lumrah adanya free-sex.

Kita tak bisa mengulas fenomena aneh ini, bagaimana mungkin sebuah sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Ormas Islam menghelat pertunjukkan musik Rock and Roll. Di sisi lain, mereka membid’ahkan kegiatan keagamaan yang dikemas sebagai hiburan yang memiliki muatan dakwah, seperti group hadrah, group shalawat, namun melegalkan kegiatan musik yang sama sekali tidak bermuatan nilai agama, bahkan mendekonstruksi nilai-nilai agama. Sebuah fenomena aneh yang tak bisa dilogikakan. Orang awam pun mungkin ikut mengerutkan dahi.

Kelompok pemilik mantra bid’ah ini telah melakukan dekonstruksi terhadap bangunan budaya keagamaan di Nusantara, tetapi tidak bisa menyajikan alternatif yang tepat. Karenanya, agama kian jumud tidak bisa merembes ke seluruh rongga-rongga kehidupan masyarakat, bahkan agama dikesankan sebagai musuh peradaban (vis a vis civilization). Padahal, dari rahim agama peradaban yang humanis dan luhur bisa dilahirkan. Karena domain agama kian dipersempit, tak ayal gerak kebaikan pun semakin menyempit. Fenomena inilah yang kita sebut sebagai sekularisasi gaya baru yang didukung oleh orang-orang yang sering mengemukakan kata-kata menawan, “kembali pada al-Qur’an dan hadist.” Sehingga dia mengalami keterputusan dengan sejarah dan guru-guru terdahulu yang tak sedikit telah mencapai waliyullah. Bagaimana mungkin mereka mengapresiasi pandangan waliyullah, wong mereka sendiri tidak mengakui adanya waliyullah.

Agama diturunkan ke dunia untuk mengekspansi kebaikan, sebagaimana Rasululah Saw diutus untuk menebar rahmat ke seluruh alam. Ketahuilah, induk sunnah adalah menebar kebaikan. Kalau orang telah menyempitkan bahkan turut membuntukan kebaikan, berarti telah memblokade sunnah atau jejak Rasulullah Saw.

Tulisan ini bukan untuk mengundang kontroversi, hanya hendak menuangkan kegelisahan yang dirasakan penulis tentang cahaya agama yang kian redup, dan agama kini dijadikan sebagai monster yang menakutkan. Marilah kita pulihkan kepercayaan masyarakat tentang keluhuran dan keagungan Islam dan umat Islam.

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

PIRAMIDA CINTA (1)


Mutiara agama mengkristalisasi dalam iman. Tanpa iman yang menghunjam, berarti agama esensi tidak tumbuh dari lubuk hati manusia. Iman sendiri mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu, dan pertumbuhan biji iman tersebut berperan memperluas medan kebahagiaan manusia. Iman disini tidak sebatas percaya, tetapi terkait dengan kekuatan cinta. “…Orang yang beriman amat sangat cintanya pada Allah…” (QS. Al-Baqarah [2]: 165)


Andaikan iman hanya percaya, maka Iblis amatlah percaya akan adanya Allah SWT, karena ia pernah beraudiensi dengan Allah. Namun, ia membangkang terhadap perintah Allah untuk sujud pada Nabi Adam AS, pada akhirnya ia harus keluar dari surga. Lantaran Iblis keluar dari surga (cinta), ia selalu berada dalam penderitaan, bahkan selalu berbagi penderitaan dengan manusia yang jauh dari Allah SWT. Orang yang terkurung dalam kebencian—alias terpental dari medan cinta—akan selalu terjerat dalam penderitaan tak berujung. Agama dihadirkan ke muka bumi ini untuk bisa mengungkit, menumbuhkan, dan merawat potensi cinta yang terpendam dalam diri manusia tersebut.

Keagungan manusia berbanding lurus dengan keluasan medan cintanya. Dalam kanvas sejarah peradaban dunia, kita tidak pernah menemukan orang-orang agung yang membaktikan cinta hanya bagi diri dan keluarganya belaka. Mereka memiliki keluasan cinta yang menembus batas-batas etnis, bahkan negara. Orang yang telah berhasil menyorongkan cahaya cintanya pada komunitas lebih luas akan bisa mereguk kebahagiaan terus-menerus, bahkan mendapatkan keagungan yang abadi di dunia.

Waliyullah yang diturunkan ke Nusantara, seperti Sunan Ampel, Sunan Giri, berikut saudara-saudaranya yang lain—semoga mendapati maqam tertinggi di hadapan Allah SWT—sosok yang berhasil melebarkan sayap cintanya pada seluruh umat. Beliau diharu-biru kerisauan yang begitu mendalam melihat keadaan umat, sehingga beliau tak pernah berhenti dan jeda untuk mendakwahkan agama dengan kelembutan dan kesantunan.

Pemimpin Nasional yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia seperti Pak Karno, Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Muhammad Hatta menjadi sosok lekatan dan inspiratif hingga hari ini, lantaran mereka selalu memikirkan kebangkitan bangsa agar bisa mencapai kemerdekaan yang utuh. Saking besarnya perhatian terhadap bangsa ini, konon dikabarkan Pak Karno tidak sempat membangun rumah sendiri, hingga anak-anak beliau dibelikan rumah hunian oleh Umar Wirahadikusuma, Wakil Presiden pada era pemerintahan HM. Soeharto. Seluruh hidupnya dikorbankan untuk bangsa dan negara, hingga melupakan kebutuhan dirinya sendiri. Adakah pemimpin negara saat ini yang menghiasi dirinya dengan karakter agung Pak Karno?

Keluasan medan cinta memengaruhi pada keluasan horizon kebahagiaan di hati manusia. Berbincang mengenai cinta manusia, bisa diulas dalam bentuk piramida cinta, semakin ke atas semakin agung cinta yang disuguhkan.
Pertama, cinta untuk diri sendiri. Sosok ini lebih mengenal aku adalah diri, dan diri adalah aku. Tak ayal, seluruh tindakan, sikap, dan keputusan-keputusannya harus menguntungkan bagi aku. Inilah potret pribadi yang tersekap dalam aku individu. Pribadi yang dianugerahi cinta jenis ini, serupa dengan ruang yang begitu sempit, dan tak mendapatkan radiasi cahaya matahari secercah pun. Ketahuilah, tanpa disadari orang tersebut tidak mencintai dirinya, karena yang menjadi acuannya hanyalah diri yang palsu, diri seperti yang diproyeksikan pikiran.

Andaikan orang tersebut berkeluarga, maka perhatian dan kepeduliaan tak fokus pada keluarga, selalu memperhatikan kepentingan sendiri. Sehingga terkesan menjadi sosok yang tak bertanggung jawab pada keluarganya sendiri, pun tak terbebani secara moral untuk mendidik anak-anaknya. Ia telah dikuasai slogan yang bersinggasana di pikirannya, “gue gue, loe loe” “emang gue pikiran” “kalau tidak karena aku, dia tidak akan tertolong.” Kata, idiom, dan term yang diungkapkan lebih menjurus pada kepentingan dirinya sendiri. Andaikan dia berteman bahkan berkeluarga selalu dijejali pikiran untuk mengeksploitasi orang lain demi pemenuhan kepentingan dirinya. Kendati dia berkeluarga, tidak pernah memahami dan menghayati makna kita, dia lebih lekat dengan istilah aku.

Kedua, cinta untuk keluarga. Sosok ini lekat dengan slogan, aku adalah keluarga, keluarga adalah aku. Mungkin sehari-hari dia menghabiskan waktunya untuk bekerja, dari pagi hingga malam. Dia tidak mengenal acara kampung, undangan tetangga, bahkan tak menghayati makna silaturrahim. Ia baru tergerak bersilaturrahim kalau bisa memberikan keuntungan secara materi, yang ujung-ujungnya bisa menambahi nafkah keluarga. Andaikan ada perhelatan bersih kampung, mungkin dia memilih berekreasi untuk kebutuhan keluarga. Tragisnya, sosok yang keluarga sentris ini jarang bisa meradar dan memahami akan keberadaan tetangga kanan-kirinya.

Orang yang cintanya hanya untuk keluarga dibilang sebagai “wong somahan,” atau orang rumahan. Dia membangun rumah dengan gaya elegan, disertai ornament yang memukau, namun jarang sekali berbagi cinta dengan lingkungan sekitar. Karena itu, ia mendapati kebahagiaan manakala diantara keluarga itu memeroleh kenikmatan. Dia tak bisa merasakan kebahagiaan oleh karena kebahagiaan orang lain. Pun dia tidak pernah bisa menghayati kesedihan orang lain. Kendati demikian, orang ini sedikit mendapatkan cahaya, karena dia tidak benar-benar tersekap dalam tempurung keakuan. Ia sudah berlatih dan menghayati kita kendati dalam lingkup keluarga.

Ketiga, cinta untuk karyawan dan orang yang berada dalam tanggungannya. Orang ini telah lekat dengan pemahaman tentang golongan, kelompok, group, atau jamaah. Ia telah mengalami keterbukaan diri dengan merasa mengemban tanggung jawab sosial kendati hanya dalam lingkup komunitas. Misalnya, seorang pengusaha berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi para karyawannya. Tak ingin karyawannya mengalami kesulitan ekonomi, karenanya dia berusaha mencari jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan ekonomi karyawannya itu. Bahakan, demi keberlanjutan gaji karyawan, dia berani menyisihkan kepentingan diri dan keluarganya.

Adalah seorang pengusaha sablon, pernah mengalami sepi order, sehingga karyawannya juga tidak bekerja. Ia berpikir, kalau mereka tidak bekerja, maka gaji karyawan akan macet. Karena itu, pengusaha tersebut mencari order ke sebuah instansi, dan dia pun menemukan order, walau dalam perhitungan bisnis, dia tidak mendapatkan keuntungan secara pribadi. Demi karyawannya tetap bekerja dan bisa meraup gaji, maka dia mengambil order tersebut.

Hanya saja pemahaman ini tidak bijaksana kalau dipergunakan oleh pemimpin agama। Andaikan ada pemimpin agama yang hanya memikirkan golongannya sendiri, maka dia belum benar-benar pemimpin otentik. Bagaimana mungkin agama yang turun sebagai rahmat Lil Alamin hanya bisa dirasakan di lingkup golongan tertentu. Adalah orang miskin memohon bantuan dana pada sebuah Yayasan Dana Sosial, kemudian ditanya oleh Yayasan itu tentang latar belakang orang miskin tersebut, setelah diketahui bahwa dia bukan dari golongannya, tak ayal institusi urung berkenan menolong si miskin. Orang miskin yang datang itu beragama Islam dan Yayasan itu juga berlabel Islam, hanya karena berbeda aliran, bantuan pun urung diberikan.

Syaikh Muhammad Dhiyauddin Qushwandhi
Pentranskripsi: Khalili Anwar