Kamis, 15 November 2012

INILAH THE LIFE UNIVERSITY




Kita dilahirkan ke dunia sebagai peserta ujian, entah kita berhasil melampaui beragam materi ujian atau tidak. Jika Anda berhasil melampaui beragam ujian yang telah Allah bentangkan di dunia ini, maka Anda berhak menyandang sosok yang sempurna. Artinya, jika Anda berhasil melampaui beragam materi ujian tersebut maka Anda bisa menggapai peringkat kemuliaan melebihi malaikat, tetapi kalau Anda gagal menggarap ujian tersebut, derajatmu bisa turun lebih rendah ketimbang binatang.
 
Sadarilah saudaraku, Allah menciptakan Anda tidak main-main, namun dilandasi tujuan yang nyata. Karenanya, seketika manusia terlahir ke dunia langsung menyandang gelar khalifah. Gelar khalifah janganlah dijadikan ajang kebanggaan bagi diri, karena gelar ini menyimpan ujian yang luar biasa, yang menuntut pertanggung-jawaban dua peran sekaligus, yakni sebagai hamba dan khalifah Allah. Di sisi lain, bagaimana Anda mengukuhkan hubungan vertical dengan Allah, berikut menyemen hubungan horizontal dengan sesama manusia dan makhluk lainnya.
 
Kalau menggapai kedigdayaan di dunia, orang harus bekerja keras dan menyiapkan dengan tenaga yang ekstra, bagaimana orang bisa menggapai kesempurnaan di akhirat, tentu dia harus melewati berbagai ujian dari Allah untuk mengukur keimanan pada-Nya. Janganlah Anda menganggap sebagai orang beriman kalau belum pernah merespons dengan positif aneka ujian yang dialami. Apalagi sering mengeluhkan ujian yang menghantam Anda. Mengeluh bukan karakter sikap orang beriman, tetapi sikap orang kafir, yang selalu terhalang dari rahmat Allah.
 
Bagaimana mungkin orang bisa menyerap kebahagiaan, sementara dia sendiri membentuk penghalang yang tebal untuk bisa menyentuh cahaya kebahagiaan. Penghalang itu adalah keluhan tanpa henti. Padahal, dia sadar dia tidak akan bisa meraup kebahagiaan lewat mengeluh, malah yang diperoleh adalah kegelapan batin.
 
Ujian menjadi suatu keniscayaan yang bakal dialami oleh manusia. Bagaimana manusia mengalami kenaikan tingkat tanpa sebuah ujian. Dan orang-orang tidak pernah sepi dari ujian, bahkan mereka selalu berlangganan ujian, sementara hati mereka ditata dengan spirit kelembutan dalam menghadapi aneka persoalan yang menghantamnya. Semakin tinggi peringkat kemuliaan seseorang, maka semakin tinggi kualitas ujian yang dihadirkan padanya.
 
Berkait dengan ujian, manusia mendapatkan dua ujian, yakni ujian normative dan ujian empirik. Seperti halnya pelajar, dia akan mendapatkan ujian tertulis dan ujian praktikum—praktik lapangan. Marilah kita urai dua ujian penting yang bakal dialami oleh manusia, bagaimana kiranya cara efektif untuk meresponsnya?

Pertama, ujian normative. Ujian berkait kelindan dengan perintah-larangan. Kalau Anda ingin merasakan kebahagiaan dalam hidup ini, maka Anda tidak boleh berselisih dengan perintah-perintah Allah. Seperti halnya, orang yang hendak membeli sepeda motor, maka pabrik sepeda motor itu amat paham bagaimana cara kerja dan penggunaan sepeda motor secara standard, sehingga tidak mudah rusak. Pun yang paling paham perihal kita adalah Pencipta kita, yakni Allah SWT. Jika Anda selalu selaras dengan perintah Allah, berikut menjauhi larangan-Nya, insya Allah Anda akan merasakan kebahagiaan.
 
Karena itu, berkait dengan perintah-larangan ini, Anda harus bersikap patuh dan tulus ikhlas. Kepatuhan yang disertai ketulusan tatkala merespons perintah-larangan berperan melahirkan kebahagiaan di hati kita. Kepatuhan yang tulus ikhlas itu akan melahirkan takwa, bukankah dalam ketakwaan manusia akan bisa meraih keberuntungan dan kebahagiaan.
 
Kepatuhan pada perintah dan larangan Allah perlu disertai spirit muhasabah, mungkinkah ada amal ibadah yang masih kurang sempurna dipersembahkan pada Allah. Mungkinkah shalat, puasa, atau sedakah kita masih bolong. Banyak perintah-larangan Allah yang kerapkali diabaikan dan diremehkan. Walau kita telah mengerjakan ibadah dengan benar, namun sudahkah ibadah kita disertai ketulusan. Bukankah Allah hanya menerima amal yang tulus? Jika Anda berhasil menegakkan ibadah dengan kepatuhan dan ketulusan, Anda telah dilahirkan sebagai sosok yang bertakwa pada Allah. Sosok yang bertakwa akan bisa memeroleh kebahagiaan setiap saat, lantaran telah mampu menjalin hubungan yang positif dan efektif dengan Allah dan manusia.
 
Kedua, ujian empirik. Banyak manusia yang sukses menempuh ujian normatif, tetapi gagal menghadapi ujian empirik. Mengapa demikian? Kalau ujian normatif yang sudah pasti, tetapi ujian empiric penuh ketidakpastian, bahkan tak terduga sebelumnya. Bayangkan, ada orang yang pada mulanya tenang, dikitari oleh kekayaan melimpah, berada dalam kemakmuran, tiba-tiba seluruh kekayaannya hangus ditelan dalam waktu yang sangat cepat. Ada orang yang tak disangka—karena ditemukan keluarganya adem-ayem, tenteram, dan sakinah—tiba-tiba meledak pertengkaran yang berujung pada perceraian. Lantas bagaimana menyikapi kenyataan yang tiba-tiba menghampiri kita? Bukankan realitas itu di luar rencana kita? Kalau ibadah mahdah kita mengikuti waktu, tetapi ibadah sosial ini sudah yang kadang di luar perencanaan kita. Siapa yang berhasil menyikapi dengan cara terbaik apa yang tidak direncanakan, insya Allah dia akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah.
 
Sikap sebagai adalah respons spontan atas apa yang terjadi. Sejalan dengan sabda Rasulullah Muhammad Saw, “Sabar terlihat pada pukulan pertama.” Kalau ada orang yang misalnya, difitnah lalu kemudian balas memfitnah orang tersebut, begitulah kualitas sikap orang tersebut, kendati pada akhirnya dia mengakui kesalahan yang dilakukan. Kualitas manusia dilihat ketika berada dalam kondisi abnormal. Nelayan yang terampil tidak bisa diukur pada saat gelombang dalam kondisi tenang, tetapi bisa dilihat ketika gelombang dalam kondisi turbulensi. Dia masih mampu berpikir tenang, walau sedang berada dalam kondisi crowded.

Kita bisa menjejaki sebuah kisah dimana pada saat itu ada seorang wali sedang menumpangi sebuah kapal. Kapal yang ditumpangi hampir saja oleng dan karam saking besarnya gelombang yang menghantamnya. Seluruh penumpang kapal tersebut teriak histeris, tetapi sang ulama ini terlihat tenang dan damai. Beliau tenang dalam tidurnya, sembari beliau mendapati mimpi untuk membaca shalawat munjiyat. Maka dibacalah shalawat munjiyat, walhasil keadaan kembali normal.
 
Yang perlu kita fokus dari kejadian tersebut bukan perihal berkat shalawat munjiyat tersebut yang membuat kondisi kapal kembali tenang, tetapi sikap ulama yang amat tenang di saat badai gelombang yang dahsyat. Dari situ, kita bisa melihat kualitas manusia.
 
Kunci sukses untuk menghadapi realitas yang kerap di luar dugaan kita adalah ridha. Dalam kacamata ridha, Anda akan bisa meneropong semua realitas begitu indah. Ya, orang yang ridha telah berhasil melihat realitas apa adanya, tidak lagi tertuju pada bungkus realitas tersebut. Sikap batin seperti ini ditaburi spirit doa, “Ya Allah perlihatkan yang benar sebagai mana adanya.” Padahal tidak ada dibalik setiap realitas itu kecuali Yang Maha Benar, Allah SWT. Bagaimana kau tidak bersikap ridha dengan seluruh realitas yang disana ada Dia? Karena Dia adalah kebaikan mutlak dan full cinta. Dia menyuguhkan realitas di hadapan Anda dengan cinta, adakah yang keliru dari yang dicintai?
 
Kalau begitu ukuran kesuksesan orang dalam menghadapi realitas yang terus berubah ini adalah berserah diri yang dicerminkan dari sikap ridha pada seluruh realitas yang menghampiri dirinya, entah baik atau buruk. Karena baik dan buruk itu hanya menurut pandangan manusia, adapun apapun yang datang dari Allah hanya kebaikan semata-mata.
 
Jika manusia memeroleh penderitaan, karena kesalahan menafsirkan realitas. Dia mempersepsi realitas adalah buruk semata-mata. Kalau orang mempersepsi realitas itu buruk, maka yang didapatinya keburukan, berbentuk penderitaan di dalam batin. Orang akan memeroleh apa yang disangkanya, dan ketahuilah siapa yang menyangka realitas itu berarti menyangka Allah. Karena dibalik realitas itu adalah Allah. Sepertinya dibalik lukisan itu adalah sifat pelukis. Kalau Anda mencela realitas, berarti Anda mencela pencipta realitas itu sendiri, seperti halnya siapa yang mencela lukisan berarti mencela pelukisnya. Tetapi, kalau Anda ridha dengan segenap realitas yang menghampirimu, berarti kau menerima Allah secara utuh. Siapa yang menerima Allah secara utuh, dia layak menggapai keridhaan Allah, yang keridhaan Allah itu lebih agung daripada surga.

Jika hidup ini sebagai universitas yang di dalamnya berhimpun aneka ujian, baik dari aspek materi atau aspek empirik, tentu saja bagi yang berhasil melampaui ujian itu dengan gemilang berhak memeroleh gelar prestesius. Orang yang berhasil meraih pretasi dahsyat kedua-duanya berhak memandang Allah, karena mereka telah bersifat dengan sifat Allah.
 
Karena itu, inilah saatnya Anda berlomba-lomba untuk mengisi kebaikan dari waktu ke waktu, dan sadarilah bahwa setiap saat Allah mencatat sikap yang melintas dalam hati Anda, pada saatnya nanti semuanya akan diperhitungkan untuk mengukur kelayakan Anda di hadapan Allah. Insya Allah.

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya 

IKHLAS

Kalau Anda lakukan survey, apakah setiap manusia mencita-citakan kebahagiaan? Mereka pasti berkata, kebahagiaan merupakan tujuan kami semua. Kecuali kalau Anda bertanya pada orang yang putus-asa, mereka telah mengalami kondisi pupus harapan meraih kebahagiaan, dan mereka pasrah dan tunduk di bawah hegemoni realitas yang buruk. Walau derita itu sendiri hanya sebagai respons negatif yang mengakar dalam jiwanya.
 
Intinya, kebahagiaan menjadi aspirasi dan harapan besar seluruh manusia, bahkan seluruh makhluk. Lantas bagaimana orang bisa meraih kebahagiaan? Kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang dan kedudukan jabatan, akan tetapi kebahagiaan diperoleh dengan spirit ikhlas dan kerendahan hati.
 
Kian menghunjam keikhlasan di hati, insya Allah semakin meluap kebahagiaan memenuhi ruang batin Anda. Kalau hati Anda kosong dari ikhlas, maka seluruh amal tidak mampu mendongkrak kebahagiaan bagi Anda. Ikhlas itu perkara dalam hati, dan hati sendiri adalah tempat berseminya kebahagiaan.
 
Mengapa ikhlas menjadi salah satu kunci pembuka kebahagiaan dalam batin Anda? Dengan ikhlas, Anda akan tersambung dan terpaut dengan Allah SWT. Dan manusia hanya bisa menyerap kebahagiaan tatkala sudah dekat dengan sumber kebahagiaan itu sendiri. Di tataran praktik, ikhlas bukanlah sebuah ahwal yang mudah digapai oleh kita.

Demi tertancapnya ikhlas dalam hati, seketika itu pula dia menyandang gelar sebagai kakasih Allah. Adakah kekasih Allah yang tersentuh penderitaan? Bukankah derita itu muncul dari orang yang kecewa atas harapannya yang tak  terpenuhi. Adapun orang ikhlas tidak memiliki harapan apa-apa kecuali agar selalu tersambung jiwanya dengan Allah SWT.

Ikhlas sendiri tidak bisa diukur oleh diri kita dan orang lain, hanya Allah yang bisa menakar dan mengukur kualitas keikhlasan seseorang. Kalau ada orang merasa ikhlas, sejatinya dia tidak ikhlas. Bukankah ada orang yang berkata, “Saya ikhlas memberikan untuknya.”

Perkataan itu baik, tetapi sejatinya tidak menampilkan esensi ikhlas itu sendiri. Apalagi, tiba-tiba ikhlas diajarkan oleh motivator yang secara terang-terangan membuka tariff dari pelatihan. Bagaimana orang bisa menyerap energi ikhlas dari orang yang belum ikhlas?  Ikhlas diperoleh melalui transfer ahwal dari orang yang ikhlas. Itulah fungsinya kita selalu menautkan relasi dengan sosok arif billah, mursyid, atau Begawan ruhani yang telah menggapai mukhlas (merasa tidak melakukan apa-apa kecuali kehendak Allah).

Orang yang ikhlas belum tentu mukhlas, tetapi orang yang mukhlas sudah tentu ikhlas. Sosok yang mukhlas telah menyadari bahwa tidak ada yang ada kecuali Allah, sehingga tidak ada yang berbuat kecuali perbuatan Allah. Kesadaran ini memupus keakuan yang bertumbuh pada diri manusia, sembari tidak akan mengklaim bahwa amal yang dilakukan karena kuasa diri sendiri, akan tetapi karena kuasa dari Allah SWT.

Semoga Allah menumbuhkan keikhlasan dalam hati kita, sehingga kebahagiaan pun tumbuh kembang dalam hati, dan bahkan bisa mentransfer kebahagiaan di hati orang lain.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cinta

Jumat, 30 Maret 2012

RENCANA ALLAH PADAMU MAHA INDAH


Tak ada satu pun perancang bangunan yang terbersit mendesain maket dengan acak-acakan tanpa sentuhan artistik. Setiap arsitek ingin agar postur bangunan yang dirancang benar-benar mengagumkan dan mewariskan pesona bagi yang memandangnya. Hanya saja tak jarang orang memandang karya arsitek itu begitu jelek lantaran tidak sejalan dengan seleranya yang subyektif. Ketahuilah, Allah adalah Perencana Yang Maha Handal, perajut seluruh dimensi kehidupan dengan keindahan yang sungguh mempesona. Karenanya, tak ada di balik setiap realitas yang menyeruak ke permukaan kecuali telah diramu dengan ilmu Allah Yang Maha Indah. Lantas bagaimana mungkin dari Yang Maha Ahli dan juga Maha Indah terlahir karya-karya buruk dan menakutkan?

Saudaraku, luangkan waktu untuk menatap dan merenungi ciptaan Allah, baik yang berupa peristiwa atau kejadian yang tersebar di permukaan kehidupan ini, sehingga Anda bisa menghimpun kearifan yang jarang diperoleh orang pada umumnya. Sadarilah, kehidupan ini tidak seindah rencana kita, tetapi rencana Allah itu Maha Indah. Padahal, tidak ada dibalik setiap realitas yang menyembul ke permukaan kecuali sebagai manifestasi dari rencana Allah. Lantas, mengapa kita jarang sekali bisa menangkap keindahan dari realitas tersebut? Kita menilai realitas tidak indah dikarenakan alat pandang kita yang terganggu. Bagaimana mungkin orang buta bisa merasakan terang-benderangnya kehidupan.

Keyakinan bahwa rencana Allah itu Maha Indah akan memandu keselarasan (muwafaqah) kita dengan Allah setiap saat. Padahal, hanya orang yang telah menjalin keselarasan dengan Allah yang akan diluberi kebahagiaan hakiki dalam hidupnya. Dan ketidakselarasan sebagai akar ketidakbahagiaan yang menyeruak ke permukaan. Bayangkan, orang yang tak selaras dengan sesama, pertemuan malah malah memijarkan kemarahan dan kebencian yang akan membakar rumah ruhani manusia.

Siapa yang menyukai rumahnya dibakar? Apalagi kita sedang tinggal di rumah tersebut, tentu saja akan menyebar lolongan dan teriakan yang menyayat hati. Bagaimana kalau yang terbakar adalah rumah batinnya, niscaya dia akan terjerat dalam penderitaan yang semakin tak terperikan. Jika orang tak bisa memungut butir-butir kebahagiaan karena tak selaras dengan sesama, bagaimana nasib orang yang tidak sejalan dengan Allah, justru dia akan selalu mendapati dirinya berada di kawan penderitaan. Orang yang tidak selaras dengan Allah, berarti membiarkan rumah batinnya selalu terbakar, tak ayal kebahagiaan pun hengkang dari rumah tersebut.

Sadarilah saudaraku, kebahagiaan Anda sejalan dengan keyakinan Anda akan baik dan indahnya rencana Allah pada setiap hamba-hamba-Nya. Dan bukankah Allah selalu sejalan dengan prasangka hamba-Nya. Jika Anda selalu dijejali prasangka buruk, berarti Anda tengah merangkai akhir hidup yang buruk (end life), akan tetapi jika Anda menyalakan prasangka baik pada Allah, bahwa Dia telah memiliki rencana terbaik pada Anda, Allah akan merealisasikan dengan konkret seperti apa yang Anda sangka. Dan siapa yang hatinya lengket pada rencana Allah dengan berserah diri, dia akan memeroleh keindahan demi keindahan melayari samudera kehidupan ini.

Allah Maha Merencanakan (al-Mushawwir) dan Maha Indah, karenanya Dia amat menyukai keindahan। Apakah mungkin ada karya Allah yang tidak indah? Kalau Anda meyakini seluruh karya Allah dengan segala manifestasinya adalah indah, maka akan bisa menyesap keindahan dari seluruh realitas yang tergelar di hadapan kita. Marilah lihat semua dengan kacamata keyakinan bahwa seluruh rencana Allah itu indah, Anda akan mendapatkan inspirasi indah, bahkan Anda bisa menjadi keindahan itu sendiri. Insya Allah.

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

PENEBAR AIB


Aib bukan untuk ditebar, tetapi ditutupi. Allah Maha menutup aib hamba-hamba-Nya. Bisa Anda bayangkan, bagaimana jadinya, kalau Allah membuat organ kita transpran, sehingga seluruh kotoran melekat di tubuh kita, bahkan aliran darah yang mengarus juga terlihat jelas. Bagaimana rasanya kalau paru-paru ini diperlihatkan dengan jelas, sungguh ketampanan itu tidak menampak bagi orang yang melihatnya. Kita semakin terperangah dengan kasih sayang-Nya, Dia membalut aib kita dengan kebaikan.

Untuk itu, jika ada orang yang memuji kita, boleh jadi karena pandangannya tertuju pada pembalut Anda yang terlihat indah dan kekar, bagaimana kalau mereka mengerti akan aib yang tersembunyi pada diri Anda, mungkin mereka semua akan berlarian dari Anda. Allah menamakan diri-Nya sebagai Yang Maha Menutup aib (Saatirul Uyuub), sehingga dia selalu menjaga rahasia-rahasia yang tersembunyi pada setiap hamba-Nya, andaikan Allah membongkar seluruh aib itu, dan diberitahukan sungguh tidak sulit bagi Allah.

Mungkin orang yang pada mulanya mencintai Anda akan berbalik membenci Anda jika telah terbongkar aib yang tersimpan pada diri Anda. Kalau Allah Yang Maha Tahu akan segenap aib yang melekat setiap hamba-Nya tidak pernah membongkar aib hambanya, mengapa kita tidak meniru sifat Allah yang agung tersebut. Karena Yang Maha Mulia hanya memberitahukan kemuliaan dan keindahan yang menghiasi hamba-Nya, adapun manusia yang berperangai buruk hanya bisa memotret keburukan yang melekat pada saudaranya. Ketahuilah, kalau orang menebarkan aib saudaranya, sejatinya bukan menebar aib saudaranya tersebut, tetapi semakin mempertebal keburukan dan aib bagi dirinya sendiri.

Saya teringat dengan kisah Abu Jahal dan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang memberikan penilaian pada Sayyidina Muhammad Saw, pada saat itu, Abu Jahal bilang, “Saya tidak melihat orang yang lebih buruk ketimbang engkau, wahai Muhammad,” berkata dg roman wajahnya yang terlihat sangar. “Kau benar,” sambut Sayyidina Muhammad Saw dengan lembut. Lantas Abu Bakar Ash-Shiddiq melontarkan penilaian sebaliknya, “tidak ada orang yang lebih indah yang pernah kulihat kecuali engkau Wahai Rasulullah Saw,” “benar engkau sahabatku,”respons Sayyidina Muhammad Saw. Mengapa Sayyidina Muhammad memberikan jawaban yang sama pada penilaian yang berbeda dan bertolak-belakang itu.

Diam-diam Sayyidina Abu Bakar bertanya mengapa memberikan respons yang sama terhadap penilaian yang sangat bertolak-belakang tersebut. “Ya, karena saya adalah seperti kaca yang bening, dan orang hanya bisa melihat wajahnya di kaca yang bening tersebut. Kalau wajahnya buruk, dia akan melihat keburukan tersebut, dan kalau wajahnya bening dan bersih tak ada yang dilihat kecuali yang bening dan bersih saja,” demikian Rasulullah Saw bertutur lembut.

Pembuka Aib orang Lain=Membuka Aib diri sendiri

Merujuk pada kisah diatas, bisa diambil pemahaman bahwa orang sering mencari kejelekan orang lain, justru dia tengah mempurukkan dirinya di lembah keburukan yang semakin dalam. Bayangkan, kalau Anda mencari keburukan dan menebarkan keburukan alih-alih orang bertambah terpesona pada Anda, malah mereka akan bersikap tertutup pada Anda, lantaran takut bila aibnya juga ditebar oleh Anda pada orang lain.

Jika orang tidak setia pada yang tidak hadir—dengan mengurai segala bentuk keburukan orang yang tidak hadir tersebut—justru orang yang hadir akan memberikan penilaian buruk penebar berita itu, walhasil kredibilitas dan kehormatannya bakal tersungkur di hadapan teman dialognya। Setiap perkataan dan sikap Anda menjadi pengukur kualitas diri Anda, semakin tinggi dan berkualitas perkataan Anda justru semakin tinggi kualitas Anda di hadapan orang lain. Orang mulia selalu membuka diri untuk meminta koreksi bagi dirinya sendiri, dan selalu bisa melihat sisi kebaikan yang menghias orang lain.

Adapun perkataan yang cenderung mempreteli keburukan orang lain akan mempergelap citra Anda sendiri. Kita sangat kagum, jika ada orang selalu bisa mencari dan mengungkapkan sisi kebaikan orang yang tidak hadir pada yang hadir. Begitulah tipikal sahabat sejati, yang selalu menebarkan keharuman temannya pada orang lain, tetapi berani memberikan nasihat jika sahabatnya menempuh jalan yang keliru. Tak sedikit orang yang bermanis muka dan menggelar pujian di hadapan temannya, akan tetapi ketika berada di belakangnya lebih sering mengumbar sisi keburukan pada orang lain.

Kalau Anda ingin menjadi orang yang selalu indah di hadapan Allah dan sesama, tinggalkan membuka dan menggunjing keburukan orang lain, malah berusaha meminta saran nasihat bagi diri Anda sendiri. Jika Anda membuka diri untuk mendapatkan koreksi dari lingkungan sekitar Anda, justru Anda telah berproses menjadi pribadi yang bening. Bukankah hanya orang yang merasa kotor yang gampang dibersihkan?

Orang yang mulia selalu mencari sisi terang orang lain, berikut mencari sisi gelap dalam dirinya untuk diperterang, sementara orang bodoh selalu mencari kegelapan orang lain, dan merasa telah menemukan terang dalam dirinya. Dan ingatlah, siapa yang merasa gelap, sejatinya dia sedang menyalakan cahaya dalam dirinya, dan siapa yang merasa terang, sembari mengklaim orang lain berada dalam kegelapan, justru dia sedang memadamkan cahaya dalam dirinya.

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

ALLAH MENATAP DENGAN KASIH



Kita tak akan terlahir ke dunia ini tanpa kasih sayang Allah. Jika permulaan kita diawali dengan kasih-Nya, bagaimana mungkin Allah membiarkan kita selalu dalam kondisi merana tanpa kasih sayang-Nya. Andaikan kau selalu merana bukan karena Allah yang hendak membuat Anda merana, tetapi sikap Anda sendiri yang mengundang terciptanya kemeranaan tersebut.
Ingatlah saudaraku, Allah selalu menatap dan mengawasi kita dengan kasih sayang-Nya, hanya saja kita kerapkali dibayangi perasaan ditinggalkan oleh Allah. Bukan Allah yang meninggalkan Anda, tetapi Allah telah kau tanggalkan dan lepaskan dari domain kesadaranmu. Lantas, bagaimana mungkin orang bisa merajut kebahagiaan tanpa hadirnya kesadaran pada-Nya. Anda akan merasa ditinggalkan oleh Allah lantaran terhijab oleh kualitas pengetahuan tentang Dia. Kalau Anda semakin mengenal-Nya lebih dekat, maka Anda akan selalu merasa berada dalam “zona butuh” pada Allah setiap saat. Dan orang yang berada dalam zona butuh pada Allah secara berkelanjutan insya Allah akan memeroleh kelezatan munajat pada-Nya.

Adalah seorang kenalan TNI mengabarkan pada saya tentang kondisinya yang sedang tidak beruntung. Berkali-kali dia urung memeroleh kenaikan karir. Saya sampaikan agar jangan pernah putus asa dengan kasih sayang Allah, karena Allah selalu meluberkan kasih sayang-Nya pada seluruh hamba-Nya tanpa henti. Rahmat Allah akan selalu turun tak pernah berhenti, mungkin hujan bisa berhenti, tetapi rahmat Allah selalu tersedia bagi makhluk yang mengharapkannya. Siapa yang putus asa dari rahmat Allah, berarti telah memutuskan segala kanal dan saluran sampainya rahmat Allah padanya. Hanya saja, kita sering menilai bahwa realitas itu tidak mengalir dari sungai kasih-Nya, sehingga kita gagal mendapati kebahagiaan melalui rentetan realitas tersebut.

Katanya Allah Maha Kasih, lantas mengapa mendepakkan cobaan pada hamba-Nya? Tahukah Anda bahwa orang tua yang penuh kasih pada anaknya, tidak hanya mengekspresikan kasihnya dengan belaian, ada kalanya dia bersikap keras untuk membentuk karakter anaknya agar kuat. Anaknya disuruh menimba air di sumur, di suruh bangun di malam hari yang dingin, dilatih memasak dsb.

Semua kegiatan tersebut sekilas sebagai hal yang tidak baik, tetapi sejatinya seluruh kegiatan yang keras itu untuk membuat anaknya semakin tangguh dan berdaya। Perlakuan keras orang tua bukan penanda minusnya kasih sayang, malah mencerminkan begitu kentalnya kasihnya pada si anak, orang tua harus terus melatih anak tersebut agar menjadi sosok yang perkasa dan anggun. Pada saatnya, anak tersebut layak mendapatkan kemuliaan. Bayangkan, kalau seorang tentara tanpa melalui pelatihan yang ketat tiba-tiba diangkat menjadi Panglima TNI? Sosok yang diangkat tanpa melalui kelayakan justru tak akan pernah menyimpan kharisma di hadapan sesama. Kalau begitu, setiap realitas yang menghantam kita sebagai bentuk agenda Allah pada Anda agar layak memeroleh kemuliaan dari-Nya. Adakah Nabi-Nabi ulul Azmi yang sepi dari cobaan? Semua Nabi Ulul Azmi mendapati cobaan yang memperkuat beton-beton kepribadiannya, sehingga mereka layak bersematkan kemuliaan dari Allah dan dimuliakan oleh manusia. Kalau begitu, segala kenyataan pahit yang Anda rasakan saat ini hanya sebagai wahana untuk membuat Anda semakin layak menjadi orang hebat dan besar. Maka orang yang bisa mendulang kemakmuran yang besar, dia pernah mengalami krisis besar. Kehebatan seseorang sejalan dengan sikapnya menghadapi masalah-masalah besar.


Karena itu saya selalu teringat pada Sabda Nabi Saw, “barangsiapa yang diinginkan kebaikan pada hamba-Nya, maka Allah akan menurunkan ujian.” Sudah saatnya, kita berprasangka terbaik pada Allah, bahwa semua apa yang hadir di hadapan kita disajikan Allah dengan kasih sayang-Nya. Hadapilah seluruh kenyataan dengan prasangka terbaik, dan hati selalu berserah diri pada Allah. Jaringlah segera matahari kebahagiaan. Insya Allah.

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

Senin, 19 Maret 2012

MENEPI UNTUK MENGGAPAI MUTIARA


Siapa yang tidak senang pada mutiara. Seluruh orang menyukai mutiara, kecuali orang yang tidak mengenali harga mutiara, atau mereka berada dalam kondisi yang terjepit, seperti orang yang hampir tenggelam hendak ditelan oleh air, maka mutiara tidak lagi memiliki harga baginya. Dia lebih menyukai orang memberikan ban bekas, agar dia bisa menepi dari hantaman ombak yang hendak menelannya.

Jika setiap orang menyukai mutiara, tentu kita tidak berhenti hanya menyukai mutiara, sehingga berjuang untuk menjadi mutiara. Kalau Anda bahagia karena berdekatan dengan mutiara, justru Anda akan didepak kegelisahan oleh karena dipaksa berpisah dari mutiara. Kita tidak berjuang meraih mutiara yang berasal dari samudera, akan tetapi bagaimana kita bisa mendulang mutiara yang bersembunyi dalam diri kita sendiri. Kalau Anda telah berhasil mengenali dan mengeruk mutiara yang bertempat dalam diri Anda sendiri, justru Anda akan diliputi kebahagiaan setiap saat. Lantas apa bedanya mutiara yang dikeruk dari samudera, dan yang didapati dalam samudera batin ini?

Jika orang mendapatkan mutiara dari samudera yang terbentang di alam raya, dia memeroleh kebahagiaan sebatas ketika mutiara berada di genggemannya. Dan mutiara yang dikeruk dari lautan tersebut pada saatnya melahirkan kebosanan. Seketika orang bosan, kebahagiaan yang dimaksud tak lebih sekadar gejala (bayang) kebahagiaan yang datang-pergi, timbul-tenggelam, dan bongkar-pasang. Tatkala orang menyandarkan kebahagiaan pada dimensi eksternal, pastilah dia akan selalu berada dalam posisi yang berjarak dengan dimensi yang membuatnya bahagia.


Dan lebih dari itu, bahwa orang yang menyandarkan kebahagiaan pada mutiara yang berada di eksternal dirinya, dia telah merendahkan posisi di hadapan benda-benda, bukankah hanya orang yang merendahkan dirinya di hadapan benda-benda, yang layak diperbudak oleh benda-benda, sehingga dia gagal bersentuhan dengan elemen kebahagiaan yang sejati.
Tak jarang orang menemukan kebanggaan dengan gelar yang disematkan padanya, menemukan kebahagiaan melalui kedudukan yang disandangkan padanya, mendapati kesenangan lewat aksesoris duniwi yang menghiasinya. Kebahagiaan yang bersandarkan pada sisi luar itu mengkonfirmasi bahwa seluruh dimensi kebahagiaan tersebut lebih agung ketimbang dirinya sendiri.

Allah telah memuliakan manusia ketimbang makhluk-Nya yang lain, dan manusia menjadi rendah lantaran orientasi dan sikapnya yang cenderung tertuju pada selain-Nya. Kalau manusia telah menjadikan Allah sebagai orientasi dan tujuan hidupnya, insya Allah kebahagiaan akan segera memancar indah dari dalam hatinya. Ya, kalau manusia berorientasi pada selain Allah, semua kebanggaan dunia tidak bisa mempersembahkan kebahagiaan sempurna bagi dirinya.

Becoming Mutiara

Saatnya kita harus menggali mutiara dalam diri kita sendiri, bahkan kita telah menjadi mutiara, sehingga kebahagiaan layak menempati hati kita setiap saat. Kalau Anda ingin merasakan mutiara dalam diri Anda, maka Anda harus bisa memahami bagaimana pasir bisa mengubah dirinya menjadi mutiara.

Pertama, tanamkan perasaan Anda bukan siapa-siapa, dan Anda adalah sehina pasir. Kalau Anda telusuri, pasir tidaklah lebih berharga ketimbang besi. Kalau Anda menjual besi dan pasir, tentu saja orang akan lebih membayar harga mahal bagi besi. Hanya saja, ketika pasir telah merubah dirinya menjadi mutiara, maka orang-orang kaya akan mendekati mutiara tersebut. Pun demikian, kalau Anda ingin mengenal harga manusia yang dimuliakan Allah dalam dirimu, ternyata bukan didapatkan dengan menyombongkan diri.

Hargailah diri Anda seperti halnya pasir, yang pada mulanya diinjak-injak, bahkan pasir menepi dari berbagai hiruk-pikuk gelombang. Tatkala pasir menepi, pada saatnya ia disauk gelombang untuk dibawa menuju tengah samudera, berikut ditarik ke titik pusaran gelombang sehingga mencapai kedalaman samudera. Kemudian, ia dipertemukan dengan kerang yang siap memprosesnya menjadi mutiara. Ringkasnya, pada saat manusia sudah pupus perasaan berharganya, justru sebagai proses memuliakan dirinya di hadapan Allah.

Kecilkan dirimu seperti pasir, dan biarkan dirimu dihina, dan jangan pernah merasa disakiti oleh hinaan orang yang menghina, lenyapkan segala bentuk pengakuan yang hanya membesarkan dirimu, maka siap-siaplah Anda akan ditarik menuju medan magnet Ilahi. Bukankah hanya orang yang merasa hina yang akan dimuliakan oleh Allah, hanya orang yang merasa bodoh yang akan dialiri ilmu dan hikmah oleh Allah, dan hanya orang yang tak merasa berdaya yang justru akan diperkuat oleh Allah SWT. Gampangnya, orang yang telah merasa sebagai mutiara, justru tidak akan diproses menjadi mutiara yang mengabarkan kebahagiaan bagi orang lain.
Berkait dengan mutiara dan pasir, saya teringat pada sebuah kisah, seorang pelayan yang mendampingi majikannya dalam sebuah perjalanan. Di tengah perjalanan, rupanya sang majikan dongkol dengan perilaku pelayannya, sehingga dia selalu mengoceh dan mencaci maki si pelayan. “kau tak lebih berharga daripada pasir,” kata majikan dengan nada kesal. “Ya, saya memang tak lebih daripada pasir ini, dan engkau adalah mutiara,” kata si pelayan sembari menggenggam pasir. “tapi, walau ini hanya sejumput pasir, dan engkau adalah mutiara, pasir tetap yang pertama kali mendapatkan pancaran sinar matahari. Dan mutiara yang ditaruh di lemari yang memiliki pengaman yang berlapis-lapis, justru sama-sekali terhalang dari pancaran sinar matahari,” lanjut si pelayan layaknya pengkhotbah.

Selintas perbincangan itu mengabarkan pada kita, bahwa kalau Anda ingin menjadi mutiara yang hakiki, jangan pernah sedikit pun terbetik perasaan bahwa Anda adalah mutiara. Jangan pernah sedikit pun Anda menahbiskan diri sebagai sosok yang mulia. Alih-alih orang bersematkan kemuliaan tatkala merasa mulia, malah akan terpuruk dalam kehinaan.
Kedua, berserah dirilah. Penyerahan diri sebagai jalan tercepat agar Anda ditarik menuju titik pusat Ilahiah, walhasil dia akan bercengkerama dengan pusat kebahagiaan yang tanpa batas. Bayangkan, pasir yang menepi tidak seterusnya dia bersikukuh untuk menepi, justru dia akan selalu berserah diri, sehingga ada gelombang besar yang menggapainya menarik ke pusat arus gelombang. Dengan berserah diri, manusia akan gampang ditarik oleh Allah.
Sadarilah, sikap berserah diri menandakan bahwa orang telah memupus penghalang baginya dari Allah SWT. Jiwanya berada di titik terdekat dengan Allah SWT, sehingga gerakan yang dilakoni selalu dijiwai dengan spirit Ilahi. Jika hati telah disepuh dengan penyerahan diri, berarti dia pupus dari daya dan kekuatan dirinya sendiri, menuju daya dan kekuatan Allah SWT. Karenanya, jika orang telah menggapai pengalaman batin “Laa Hawla Walaa Quwwata Illa Billah”, dia telah mendapati perbendaharaan kekayaan yang tak pernah lenyap. Dia telah bersama Allah setiap saat. Siapakah kiranya yang akan terdera penderitaan manakala sudah bersama dengan Yang Maha Menguasai bumi dan langit dan Maha Kaya?

Menepilah seperti pasir, agar kau dibawa oleh arus Ilahi untuk diproses sebagai mutiara yang amat berharga। Sehingga kau tidak hanya mendapatkan kebahagiaan, kau telah diproses sebagai kebahagiaan itu sendiri. Setiap orang yang memandangmu akan selalu mengakses kebahagiaan yang hakiki. Insya Allah.

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

MENGGAPAI KEKAYAAN HAKIKI




Jika ditanya ke semua orang, “apakah kalian menginginkan kekayaan?” serempak mereka jawab, “Yaa saya ingin sekali kaya!.” Kaya menjadi dambaan setiap manusia, kendati tidak semua orang bisa merengkuh kekayaan yang diharapkan. Seluruh rakyat negeri ini berminat menjadi orang kaya, tetapi kenyataannya kekayaan terkonsentrasi pada segelintir orang saja, bahkan mereka masih tega merampas hak rakyat yang sudah berada di lembah kemiskinan.

Ketahuilah kekayaan bukan hanya keinginan yang muncul dari kawah hawa nafsu, tetapi kekayaan juga didambakan oleh hati nurani. Bahkan sejatinya kekayaan definisi hawa nafsu hanya pantulan yang terdistorsi dari kekayaan yang dimaksud oleh hati nurani. Hati nurani mendambakan kekayaan, ketika dia telah merasakan kelezatan bermunajat pada Allah, berzikir pada Allah, dan timbul perasaan fakir dan butuh pada Allah semata-mata. Kalau orang telah mendapati kekayaan hakiki ini, dia tidak berharap kekayaan eksternal, dan dia selalu berada dalam keadaan bahagia, walau kondisi luar membenturnya ke tembok-tembok kesusahan. Siapa yang telah mendapati kekayaan batin, ia akan selalu mencapai bahagia setiap saat.

Selama ini banyak orang memburu kekayaan, sehingga rentang waktu 24 jam dihabiskan oleh perkara perolehan harta duniawi. Bahkan, walau mereka telah diberi waktu 24 jam, terasa masih kurang. Jika pemburu duniawi itu ditanya, apakah Anda sudah puas dengan capaian kekayaan yang Anda dapatkan di hari ini? Mereka akan menanggapinya, saya belum puas dengan perolehan saya di hari ini. Ketahuilah, tatkala di dalam hatinya telah lenyap perasaan puas terhadap anugerah duniawi ini, sejatinya ada kekayaan hakiki yang dicabut dari hatinya, yakni qonaah. Bilamana sifat qona’ah telah dicabut dari hatinya, justru hatinya akan selalu digoncang oleh persoalan duniawi, walhasil dia luput mendulang kebahagiaan yang hakiki.
Adalah seorang guru pernah bertamu pada orang kaya raya yang menghuni rumah sangat mewah. Pada saat berjumpa dengan pemilik rumah, tidak ada yang terlontar dari lisannya kecuali keluhan semata-mata. Mengeluh seolah menjadi menu hariannya, sehingga kekayaan yang didapatkan tidak memantulkan kekayaan di batinnya. Guru saya menyindir, “ji ji, masak rumah sebesar ini tidak turun setetes rahmat pun dari Allah?” demi mendengar perkataan sederhana dari guru, dia pun tersentak kaget menyadari betapa rahmat Allah yang dianugerahkan padanya amat besar, tetapi keluhan telah menindih rahmat tersebut, walhasil kebahagiaan tidak merealisasi dalam kehidupannya.

Kita sering menemui orang kaya, tetapi wajahnya terlihat amat miskin, disesaki berbagai keinginan, dan anehnya keinginan yang menggantung di pikirannya kerap berbenturan dengan keinginan Allah. Keinginan yang sering tidak tercapai telah menebalkan alasannya baginya untuk melontarkan keluhan yang tak pernah surut, sehingga dia selalu terlihat miskin. Tetapi, ada orang yang profesinya sebagai tukang sapu di jalan, dia selalu terlihat tersenyum indah, setiap orang yang melihatnya kadang cemburu akan kebahagiaan yang ditampilkan. Bagaimana kiranya dia bisa mengukir rumah kebahagiaan dalam hatinya, padahal jelas-jelas pekerjaan sebagai tukang bersih-bersih digaji dengan tidak seberapa. Ya, kendati dia tidak memeroleh uang yang banyak, tetapi hatinya telah dianugerahi kekayaan oleh Allah, sehingga dia layak bahagia setiap saat.

Ada seorang guru yang telah mewakafkan dirinya pada umat. Waktunya lebih banyak dipergunakan mengajari umat ihwal ilmu agama, tidak ada pekerjaan yang bisa menjadi mesin nafkah bagi keluarganya. Hanya saja Allah selalu memberikan kecukupan dalam hidupnya. Ya, dia selalu dicukupkan oleh Allah, karena beliau mengenal dan meyakini Allah sebagai Yang Maha Mencukupi (al-Kafii), dan beliau sudah merasa cukup dengan Allah. Sepanjang hidup yang dijalani, beliau tidak pernah terdengar mengeluh apalagi mengelus dada oleh sesaknya persoalan duniawi.

Beliau selalu tersenyum, sehingga kondisi yang sebenanrya dari sosok ini tidak bisa diradar oleh orang lain. Karena beliau tak lagi terpengaruh dengan iklim kehidupan, dia telah menguasai iklim kehidupan, sehingga wajahnya selalu terlihat bercahaya bahkan ditumpahi perasaan syukur terus-menerus. Beliau tidak pernah meminta diperhatikan apalagi dikasihi orang lain, beliau merasa cukup dengan kasih sayang Allah SWT padanya, bahkan beliau selalu ingin berbagi kebahagiaan dengan sesama.

Mungkin semua orang mengira bahwa beliau memiliki kekayaan yang melimpah, tak ayal ada orang yang terbelit ekonomi menghampirinya untuk memeroleh pinjaman uang. Ya, beliau memiliki kekayaan, tapi bukan kekayaan tersimpan di brankas atau di bank, tetapi beliau memiliki kekayaan yang terpendam dalam hatinya, sejalan dengan apa yang disampaikan Sayyidina Muhammad Saw melalui sabdanya, “tidak ada kekayaan itu adalah kekayaan yang diperoleh dari bumi (harta benda), hanya sanya kekayaan itu adalah kekayaan jiwa.”
Manakala orang telah menggapai kekayaan yang hakiki ini, maka wajahnya akan selalu terlihat sumbringah dan memancarkan spirit bagi orang yang menatap wajahnya. Setiap saat dia berbagi kekayaan—pencerahan—pada setiap orang yang dijumpai, bukankah hanya kata-katanya yang menerangi dan mencerahkan jiwa, bahkan wajahnya yang bening dan bercahaya turut menerangi hati orang yang menatapnya.

Marilah kita terus menerus menggali kekayaan yang terpendam dalam hati kita dengan melatih sifat qonaah (puas) dengan apa yang diberikan Allah, dan kita tidak puas dengan kebaikan yang kita lakukan. Sehingga kita selalu berusaha berbagi kebahagiaan dan kebaikan pada setiap orang… Insya Allah.

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya