Sabtu, 28 Februari 2009

RESPONS TERHADAP KRITIKAN

Wahai Zat yang menampakkan kebaikan dan menutup kejelekan, tutuplah aib yang melekat pada diri hamba ya Allah. Wahai Yang pemilik hujjah dan dalil, lenyapkan seluruh hujjah hamba dengan hujjahMu agar hamba selalu dekat padaMu ya Allaah. Wahai Yang baginya cahaya yang tak pernah padam, anugerahilah cahaya dalam hati hamba, setelah lama hamba berada di bawah awan kegelapan. Wahai yang memberikan hidayah pada setiap orang yang meminta hidayah, ya Allah anugerahilah hidayahMu pada hamba. Dan dijadikan setiap keadaan baik pujian atau kritikan sebagai jalan mencapai hidayahMu ya Allaah. Wahai Yang Maha Menolong bagi orang yang meminta pertolongan, tolonglah hamba dari segala keburukan yang menjauhkan hamba dariMu ya Allaah. Hamba yakin yang datang dariMu adalah kebaikan mutlak bagi hamba. Tetapi betapa sering hamba selalu menangkap keadaan itu sebagai sebuah keburukan, hingga keadaan itu tidak membekaskan gizi bagi ruhani hamba Ya Raabb.

Setiap saat kita tidak pernah lepas dari pergaulan dengan sesama. Saat bergaul itu tercipta pergesekan, dan bertemu beragam kepentingan yang kadang tidak sepadan dan sejalan satu sama lain. Manakala orang mengedepankan kepentingan diri sendiri, kadang timbul persengketaan, percekcokan, kritikan yang pedas, bahkan akan terlempar cacian yang membuat wajah seperti disirami air keras. Andaikan kita salah merespons cercaan dan makian tersebut, justru bakal membuat kita terus berada dalam derita. Mula-mula kita amat marah, kemudian ingin membalas cacian tersebut, hingga terjadi pertengkaran, dan pertengkaran itu bisa berakibat fatal bagi kita sendiri. Baiknya kita bisa menempuh keadaan itu dengan cara yang bijaksana. Kita bisa menghadapi segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, manakala bisa melihat makna batin dibalik setiap peristiwa yang menyakitkan tersebut. Pun menyadari siapa pada hakikatnya menggerakkan orang untuk mencerca dan mencaci kita? Hanya dengan kehendak Allah sajalah orang tersebut membeberkan aib dan keburukan kita lewat cacian dan makian mereka.

Kalau kita menyadari bahwa tidak ada setiap sesuatu tanpa dikehendaki Allah, maka kita perlu menganggap cacian dan kritikan itu datang sebagai peringatan serius bagi kita. Saat itu kita menilai dalam pandangan Allah, andaikan dalam sudut pandang Allah, juga menurut patokan agama, kita tidak bersalah, maka cukuplah kita dengan penilaian Allah SWT saja. Cercaan dan kritikan itu dikirimkan sebagai upaya untuk meningkatkan derajat kita di hadapan Allah. Andaikan Anda sabar dengan kritikan dan cacian tersebut, maka perlahan-lahan Allah akan mengangkat Anda lebih dekat padaNya. Bisa jadi hadirnya kritikan tersebut mengirimkan pesan agar kita tidak terlalu bersandar pada penilaian manusia yang sering berubah-ubah. Jika kita terlalu memikirkan kritik orang lain, tanpa dijadikan sebagai bahan evaluasi diri, maka hati kita bakal selalu sakit, dan hati yang sakit tidak bisa melahirkan perbuatan yang produktif. Bagaimana menghadapi kritikan dan cercaan?

Bagi orang beriman segala sesuatu itu adalah rahmat, bergantung cara pandang orang tersebut. Apakah kritikan dan cercaan juga rahmat? Ya, kritikan adalah rahmat yang didatangkan oleh Allah pada kita, bergantung persepsi kita pada kritikan tersebut. Andaikan kita menganggap bahwa kritikan itu sebagai bentuk cara dari Allah untuk membersihkan kotoran yang tidak disadari oleh kita selama ini, maka bukankah itu sebagai rahmat? Ketika hati kita bersih, maka banyaknya kritikan akan membuatnya makin sibuk memperbaiki diri, dan siapa yang mengerahkan tenaga untuk selalu memperbaiki diri, maka insya Allah dia bakal menemukan dirinya yang sejati.

Setiap kritikan yang terlontar padanya, selalu menjadi referensi untuk dijadikan bahan penghapus kotoran yang melekat dalam hatinya. “Benarkah kekejian itu melekat pada diri saya?” “Betapa banyak kesalahan yang perlu saya perbaiki agar berganti kebaikan?” Betapa banyak orang besar yang membiasakan diri untuk mengoreksi dan mengevaluasi diri sendiri. Dan mereka amat bahagia ketika ada orang melemparkan kritikan padanya. Ketika kita bisa menanggapi kritikan itu dengan jujur justru bakal makin membersihkan hati kita, mencerahkan pikiran, dan mencerlangkan jiwa. Teruslah berlaku jujur, maka Allah akan terus memberitahukan sisi yang perlu kita perbaiki, hingga makin hari kita terbimbing untuk bisa mendekatkan diri pada Allah SWT. Bukankah hanya hati yang bersih yang bisa bersanding dengan Yang Maha Indah, Allah SWT.

Bagaimana sikap kita, jika kritikan dan cercaan itu tidak benar? Ingatlah saudaraku, segala sesuatu bila disikapi dengan yang terbaik pasti akan menimbulkan kenikmatan di hati kita. Andaikan ada orang mencaci bahkan menelanjangi aib kita, maka yakinilah itulah cara Allah untuk menaikkan derajat kita. Andaikan kita berani menjadi al-Kayyis, yakni berjiwa besar untuk memaafkan orang yang bersalah pada kita, betapa kita akan mendapatkan rahmat dari Allah SWT. Bukankah Nabi pernah dicaci maki? Bukankah para wali juga sering dicaci maki? Bahkan kata Syekh Hasan Asy-Syadzili, bahwa orang-orang yang menjadi kekasih Allah selalu memiliki musuh. Dalam pandangan beliau, jika musuh itu dihadapi dengan hati yang lapang, niscaya musuh itu menjadi pengangkat derajat kita di hadapan Allah SWT. Kesatria ruhani selalu bersikap terbaik dalam segala keadaan, tak terkecuali ketika dia menerima kritikan. Andaikan ada orang yang mengritik atau mencerca, maka dia berani memaafkan, bahkan mendoakan kebaikan bagi orang tersebut. Kita perlu menilai bahwa orang lain mencerca kita, karena memang belum mengetahui siapa diri kita yang sebenarnya. Andaikan kita bisa bersikap penuh kasih sayang pada orang-orang yang mencaci dan mengkritik kita, niscaya dengan izin Allah orang tersebut menjadi pribadi yang amat mengasihi kita jua. Perlulah kita belajar pada Umar bin Khattab, yang pada mula-mula terkenal menjadi orang yang amat menantang perjuangan dakwah Rasulullah SAW, tetapi dengan hidayah dari Allah, menjadi orang yang benar-benar setia dan begitu cinta pada Rasulullah SAW. Wallahu A’lam Bish Showaab.

Rabu, 25 Februari 2009

INDAH DI DALAM, INDAH DI LUAR

Tatkala membincangkan keindahan, pikiran kita langsung tertuju pada bunga mawar, keindahan gunung-gunung yang berdiri gagah, keanggunan purnama malam, gemiricik air sungai yang diselingi nyanyian indah burung-burung, atau tertuju pada wajah berparas cantik yang menawan hati. Keindahan itu sebagai khazanah yang dimiliki oleh Allah SWT. Walau pun keindahan itu menghiasi sekeliling Anda, belum tentu keindahan itu menyusup dan meresap ke dalam hati Anda. Buktinya, tak jarang diantara kita berada di tempat wisata yang eksotis, tetapi kesadaran kita tertuju dengan polemik rumah tangga, memikirkan soal hutang yang membelit kita , atau memikirkan cercaan orang yang ditujukan pada kita. Saat pikiran kita terus fokus pada sisi negatif dan turun ke dalam hati dalam bentuk perasaan negatif, maka justru keindahan alam wisata yang kita kunjungi tidak berasa bagi kita. Ingatlah, ketika pikiran kita telah diserang oleh pandangan negatif, maka segala sesuatu menjadi negatif bagi kita. Melihat bunga mawar, pandangan kita hanya tertuju pada durinya, saat melihat gunung pandangan kita hanya tertuju pada batu cadas yang menakutkan, melihat purnama malam yang terbetik hanya pandangan kosong yang melayangkan khayal pada masa lalu yang buruk, gemiricik air sungai hanya mengulang kepedihan masa lalu, dan begitu seterusnya.

Keindahan itu bermula dari dalam hati kita. Karena keindahan itu dipersepsi oleh pikiran yang berangkat dari hati yang jernih. Bila hati orang telah dibalut dengan keindahan, maka seluruh keadaan menjadi indah baginya. Dia selalu berhasil menangkap keindahan dibalik setiap keadaan dan kejadian yang berlangsung di hadapannya. Manakala melihat orang-orang memikul keranda kematian, dia bisa menemukan keindahan, dengan persepsi bahwa kematian itu sebuah momen yang bakal dialami setiap insan. Saat itu, dia mengingat mati. Dan bukankah ketika orang ingat mati, dia bakal ingat pada Allah. Saat ingat Allah, maka keindahan itu yang tergambar di hati kita. Maka menjadi indah, karena dia merasa bahwa kematian itu pintu awal perjumpaannya dengan Allah SWT. Saat melihat seorang ibu yang sedang mengandung , dia bisa menemukan keindahan, karena bisa belajar pada kesabaran pada si ibu dalam menanggung beban yang makin hari makin membesar. Bukankah dibalik kesabaran ada keindahan? Ada pameo yang berkata, “sabar itu indah.”


Bila hati kita sudah bersih dan indah, maka segala sesuatu yang dialami kita akan terasa indah bagi kita. Karena yang menjadikan indah bukan keadaan di luar, tetapi yang indah adalah tempat mengendapnya rasa ‘indah’ itu, yakni hati. Karena itu, kita harus berusaha untuk memperindah hati ini terus-menerus, jauhkan dari segala perbuatan yang merusak keindahan hati kita. Apa saja yang merusak keindahan hati ini? Ya, keindahan hati bakal mudah rusak dengan riya’, dengki, dan sombong. Tidak ada keindahan di hati orang yang riya’, dengki, dan sombong. Hati kita bakal terus merasakan keindahan, manakala merasa selalu bersama Allah, hingga timbul sikap rendah hati, ikhlas, zuhud, dan berserah diri. Berusahalah memperindah hati terus-menerus, agar segala sesuatu menjadi indah adanya bagi kita. Inilah sebenarnya makna dari firman Allah yang disabdakan Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Aku sesuai dengan prasangka hambaKu tentang Aku, jika dia berprasangka baik, maka baiklah, jika berprasangka buruk maka keburukan pula yang bakal diperoleh.”


Agar Anda selalu bisa mendapatkan keindahan setiap saat, maka dambakan keindahan di dalam hati Anda. Hati Anda magnit terciptanya keindahan di luar.

Senin, 23 Februari 2009

MASJID DAN HATI



Masjid tempat bersujud. Hati pun tempat bersujud. Sungguh amat merugi orang memasuki masjid, tetapi kesadarannya tidak sujud pada Allah SWT. Pun sangat rugi orang yang menegakkan shalat yang menyertakan sujud, tetapi tidak bisa mensujudkan jiwa dalam hati. Ketika kita berhasil mensujudkan jiwa dalam hati dengan perasaan menghadap dan bertatap muka dengan Allah, maka saat itu kita berada dalam penyerahan diri yang holistik pada Allah SWT. Dan bukankah penyerahan diri itulah yang bakal melahirkan kebahagiaan bagi jiwa kita?

Tanpa penyerahan diri, manusia bakal selalu berada dalam putaran dualitas yang tidak pernah menebarkan kebahagiaan yang indah dalam hati. Ketika Anda mau memasuki masjid, maka berusahalah untuk menyerahkan diri pada Allah, menghadapkan diri kita hanya pada Allah, sembari merasakan keagungan Allah yang terejawantah melalui ciptaanNya yang Luar Biasa. Pun saat kita hendak memasuki hati, maka hilangkan seluruh tarikan indrawi, pikiran, dan emosi luaran menuju kesadaran bersama Allah setiap saat. Ketika gerakan pikiran bisa dihentikan, insya Allah penyerahan diri bakal mengkristal dalam diri kita. Sujud itu sebagai cermin rasa tadharru’ dan tawadhu. Saat bersujud kita merasa tidak memiliki apa-apa, saat itu pula cerabutlah akar keakuan yang menjadi inspirator dari seluruh kemaksiatan dan keangkaramurkaan.


Saking pentingnya sujud, Rasulullah pun sering melaksanakan sujud lebih lama dalam shalat, menurut riwayat Bukhari, “para sahabat bertanya pada Sayyidah Aisyah r.a. ,”Bagaimana sujudnya Rasul?”. Beliau menjawab, “Rasulullah Saw ketika bersujudnya, lamanya 50 ayat. “ 50 ayat di atas setara dengan 15 menit, demikian berkata sebagian penulis.


Lewat sujud orang mencapai kedekatan dengan Allah SWT. Rasulullah bersabda, “Paling dekatnya seorang hamba pada Tuhannya Azza Wajalla adalah orang yang bersujud, maka perbanyaklah doa saat sujud.” (HR. Thabrani). Pernyataan ini setala dengan firman Allah dalam QS. Al-alaq [96]:19 “Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkan dirimu kepada Tuhan.” Itu berarti sujud sebuah media dimana seorang hamba bisa menjalin kedekatan dan keakraban dengan Allah SWT. Sujud sebagai media untuk mendekatkan diri pada Allah, saat sujud seluruh harapan telah pupus kecuali harapan pada Allah itu sendiri. Ketika sujud kedirian kita yang palsu menjadi hancur lebur dalam keagungan Allah yang kekal.


Bagaimana agar kita bisa berserah diri dalam sujud? Pertanyaan yang perlu diajukan, mengapa kita tidak berserah diri? Kita tidak bisa berserah diri pada Allah karena kita selalu menggunakan parameter pikiran kita yang terbatas. Ketika kita masih bergantung dan melekat pada kekuatan pikiran, terasa sulit untuk menghadirkan penyerahan diri dalam hidup kita.


Itulah rahasia yang bisa kita petik dari kisah Nabi Musa AS yang hendak mermuwajahah dengan Allah di gunung Tursina. Saat hendak memasuki gunung Tursina itulah, Nabi Musa AS diperintahkan oleh Allah untuk melepaskan kedua terompahnya. Kedua terompah, oleh sebagian ahli hakikat dinterpretasikan dua belah pikiran, yakni pikiran intlektual dan pikiran emosional. Atau lebih jelasnya kedua otak manusia harus dilepaskan, yakni otak kiri dan otak kanan. Manakala manusia masih dikuasai oleh otak kiri dan otak kanan, niscaya ia tidak bakal mencapai maqam atau kesadaran penyerahan diri. Mengapa? Karena sebagaimana diketahui, otak atau pikiran hanya menjadi bagian dari pusat kesadaran jasmani. Manakala manusia hanya bisa memaksimalkan pikiran itu tanpa disertai cahaya ruhani yang efektif, maka sulit untuk bisa menggapai hakikat penyerahan diri yang sejati.


Pasangan pikiran adalah sisi duniawi, sementara pasangan jiwa adalah Allah SWT. Andaikan manusia sekadar memfokuskan pada sisi duniawi, maka ia sebatas mencerap sisi duniawi dengan segala kenikmatannya. Dan bila manusia memfokuskan pada sisi ruhani, maka ia bakal mendapatkan kenikmatan spiritual yang tak terbatas dalam bentuk penyerahan diri yang luar biasa. Saat penyerahan diri telah mewujud dalam hidup kita, maka makrifat bakal terasa dalam hidup ini. Intinya, agar kita bisa berserah diri pada Allah, maka berusahalah untuk menghentikan pergerakan pikiran yang hanya mengacu pada sisi indrawi dan duniawi dan menyelam menuju samudera ruhani yang luar biasa. Dan saat itulah jiwa kita bakal bisa mengepak dalam angkasa cinta pada Allah SWT. Wallahu a’lam Bish Showaab.

Minggu, 22 Februari 2009

PUTUS ASA MEMATIKAN RUHANI


Kita bakal terus bergerak karena ada harapan. Tanpa adanya harapan orang tidak bakal bergerak dan melakukan langkah-langkah genius dan spektakuler. Ya, hanya karena ada impian yang terpendam dalam hati, maka manusia bakal selalu berusaha menerjang setiap tantangan yang menghadang dirinya. Harapan-harapan ini bakal terus menyala, manakala manusia telah diliputi oleh keyakinan yang kukuh pada Allah SWT. Jika harapan disandarkan pada kekuatan diri sendiri, niscaya manusia akan selalu letih, karena diri kita bisa mengukur kekuatan kita sendiri. Andaikan kita mengukur harapan dengan kekuatan kita, justru kita menjadi pesimis. Karena harapan kita tak terbatas, sementara kemampuan kita amatlah terbatas. Lebih dari itu, kuasa kita untuk menjadikan harapan sebagai kenyataan tidak absolute. Kita hanya memiliki hak untuk berharap dan merencanakan harapan itu, tetapi manusia tidak bisa memastikan harapan menjadi kenyataan. Antara harapan dan kenyataan itu ada sebuah proses yang perlu ditempuh. Dan dalam proses itu ada kehendak Allah yang tak terbatas.

Betapa banyak orang yang dipandang elit terkapar dalam keputusasaan karena dia tidak bisa menuntaskan masalah pelik yang dihadapi. Anak raja kapal Onassis, mati bunuh diri. Ada pengusaha kawakan yang menerjunkan diri tanpa perasut dari sebuah gedung hotel berbintang lima, dan seketika tewas di tempat. Ada ilmuwan yang mati bunuh diri. Dan tak sedikit kita menemukan orang-orang yang mengalami sukses secara duniawi, di tataran pengetahuan, kekayaan materi, dan kedudukan kadang terpenjara dalam keputusasaan. Ingatlah saudaraku, andaikan putus asa telah memasuki hati kita, berarti keimanan kita telah pupus, dan kita terus diombang-ambing oleh keadaan. Tidak lagi menemukan tempat berteduh sejati, tidak menemukan pengungsian yang aman, tidak menemukan penyejuk hati. Orang-orang putus asa, pasti orang yang tidak memiliki keyakinan atau tidak meyakini atas kekuasaan Allah. Mereka hanya percaya atas apa yang ada dalam pikirannya. Andaikan tidak mungkin menurut pikirannya, ya tidak mungkin dalam realisasi.


Andaikan orang telah terjerembab dalam rasa putus asa, maka tidak akan mengalami pertumbuhan apapun. Karena putus asa berarti telah memutus rahmat Allah mengalir padanya. Pun dia memandang bahwa rahmat Tuhan dengan pikirannya yang amat sempit dan dangkal. Padahal rahmat Allah itu amatlah luas dan tidak akan pernah habis. Dan memang hanya orang-orang yang tersesat yang putus asa dengan rahmat Allah SWT. Mengapa orang bisa jatuh dalam putus asa? Orang putus asa karena selalu menggantungkan dirinya pada selain Allah SWT. Yakinilah, selain Allah tidak bisa memberikan kepuasan, bahkan tidak mutlak bisa memberikan kebahagiaan dalam hidup kita. Seluruh anugerah yang diperoleh kita semata-mata bentuk pengejawantahan dari rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Dan kalau orang menyandarkan hidupnya pada Allah, niscaya dia bakal bisa melihat, mengalami, bahkan menghayati berbagai kekuasaan Allah yang hilir mudik dalam bentuk peristiwa dan kejadian yang menjelma. Bagaimana Allah dengan kekuasaanNya menjadikan orang memiliki kekayan dalam waktu singkat, tetapi disisi lain ada orang yang jatuh bangkrut dalam tempo amat singkat pula.


Ingatlah saudaraku, putus asa sebagai bentuk dosa besar, karena dalam keputusasaan tidak ada sisa iman sedikit pun yang melekat. Terputusnya iman menandakan terputusnya hubungan ruhani dengan Allah SWT, seperti terputusnya ruh dari tubuh diawali dengan tercabutnya nafas. Ketika putus asa telah membelit diri manusia, dia tidak bakal menemukan keterangan dan pelajaran agung dari setiap peristiwa dan kejadian yang menjelma dalam kehidupannya. Janganlah putus asa saudaraku!

Rabu, 18 Februari 2009

SUJUD DALAM HATI

Sujud sebuah aktivitas yang biasa dilakukan saat shalat. Sujud diletakkan sebagai rukun shalat, tanpa sujud shalat tidak ada artinya. Dan bagaimana dengan orang yang tidak bisa bersujud, karena dikena penyakit yang membuatnya sulit bahkan tidak bisa bersujud? Andaikan kita dikena penyakit, hingga membuat kita tidak bisa sujud, maka cukuplah sujud dalam hati. Esensi dari sujud adalah berserah diri, tanpa penyerahan diri yang bulat pada Allah, berarti esensi atau bekas sujud tidak menghujam dalam hati kita. Saat kita menegakkan shalat, kita meletakkan kening kita di atas tanah, dan batin kita bersujud dalam hati. Keduanya bertujuan sama, yakni melahirkan penyerahan diri di hadapan Allah. Begitu pula ketika kita hendak memasuki masjid, yang notabena tempat sujud, dhahir kita masuk ke dalam rumah Allah bernama masjid, tetapi batin kita menyelam ke dalam hati sebagai rumah Allah yang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Hati orang beriman adalah singgasana Yang Maha Pengasih,” dan di kesempatan yang lain beliau bersabda, “Hati orang beriman adalah rumah Allah,”

Tahukah Anda mengapa saat berada di masjid tidak diperbolehkan berbincang perihal duniawi? Ya, karena masjid memang hanya dijadikan tempat untuk mengasah dan memberdayakan ruhani, dan tempat memuja Tuhan sepenuhnya, terlepas dari persoalan duniawi. Saya pernah hadis, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang berbincang dengan perbincangan yang berbau duniawi, niscaya Allah membatalkan amalnya selama 40 tahun.”. Mungkin sebagian dari kita masih bisa menahan diri agar tidak membawa persoalan duniawi dalam masjid, tetapi kuatkah hati kita untuk menyingkirkan bau duniawi dari orbit kesadaran ruhani? Atau bisa jadi di masjid kita tidak berbincang soal duniawi, tetapi hati kita masih terus bergumam tentang persoalan duniawi. Saat shalat, mungkin masih ada yang mengingat soal kontrak yang bakal ditandatangi, janji dengan klien, hutang yang belum terbayar, atau ada yang mengingat orang yang telah berhasil memanah hati kita dengan virus merah jambu. Bahkan ketika virus merah jambu telah menancap di relung hati, seakan menutupi seluruh kesadaran kecuali padanya (tuh yang telah menancapkan panah virus merah jambu).


Bagi saya, hati masih menjadi rumah serba ada, kadang mengingat Allah di dalamnya, tapi kadang terbersit soal bisnis, terbersit soal takut mendapatkan rezeki, terbersit keinginan untuk mendapatkan kekayaan, terbersit ingin mendapatkan benda-benda, terbersit keinginan mendapatkan pujian dan popularitas. Memang hati ini belum murni sebagai rumah suci bagi Allah, tetapi sering juga menjadi rumah bermukimnya hasrat-hasrat duniawi yang tidak kekal. Karena hati tidak dijadikan sebagai singgasana Allah, akhirnya perasaan gelisah dan susah terus melanda hati ini. Memang begitulah, kalau suatu tempat tidak dihuni oleh penghuni sejati, justru tidak akan merasakan nyaman. Jangan izinkan sedikit pun virus duniawi merasuk ke dalam hati kita.

Senin, 16 Februari 2009

ANDA GAMPANG DIBENTUK DENGAN BERSERAH DIRI



Ketika saya masih bermukim di pesantren, menemukan suasana kaderisasi yang begitu elegan dan produktif. Saya temukan pola kaderisasi itu di perpustakaan yang begitu serius menggembleng santri menjadi intelektual yang terdidik dengan target menjadi penulis dan pembicara yang bisa menularkan semangat. Setiap senior bertanggung jawab untuk melahirkan generasi yang bisa mewariskan skill dan keterampilan menulis dan berbicara itu pada yunior. Kesuksesan senior sepadan dengan kehandalan kader-kadernya dalam berbicara dan menulis. Ketika kader masuk ke komunitas perpustakaan itu tidak apa-apa, tidak menjadi soal. Terpenting dia memiliki semangat untuk belajar, dan juga mau melebur dan berserah diri pada senior. Saat anak itu berserah diri pada senior, justru senior bakal membimbing dengan serius, dan menularkan sedikit per sedikit skill tersebut pada kadernya. Dia tidak hanya mewariskan skill tetapi mental keteguhan dan kegigihan yang perlu ditiru untuk bisa menjadi penulis dan pembicara yang handal. Si yunior selalu mengikuti petunjuk dan beberapa tugas yang dipraktikan oleh senior. Saat masuk bulan Ramadlan, pesantren libur, si senior meminta yunior untuk tetap bermukim di pesantren agar bisa fokus melatih keterampilan tersebut. Si senior memberikan tugas pada yunior untuk membuat makalah yang menjadi kecenderungan si yunior. Tentu saja senior tidak hanya sekadar menyuruh, tetapi dia pun menjadi model dengan melakukan sesuatu yang lebih berat untuk dilakukan, yakni menerjemah sebuah kitab. Si yunior tidak dididik dan disemangati hanya dengan kata-kata, tetapi dimotivasi dengan tindakan nyata yang ditunjukkan oleh senior.

Senior memberi petunjuk dan model, sementara yunior berserah diri mengikuti apapun yang diperintahkan si senior. Kegiatan it uterus berlangsung dengan baik, hingga kemampuan menulis dan membaca pun menjadi terasah. Hasilnya luar biasa, dari generasi ke generasi makin banyak santri yang mendapatkan prestasi dalam menulis, bahkan ada yang pernah meraih juara LKTI tingkat Nasional. Kuncinya, berserah diri pada senior, niscaya senior pun bakal melepaskan dan mewariskan seluruh pengetahuan dan skill yang dimiliki pada si yunior.


Dari ilustrasi di atas, kita bisa mengambil pelajaran, bahwa ketika kita berserah diri pada Allah, niscaya Allah akan membentuk kita sesuai dengan keridhaan Allah SWT. Ketika kita bisa berserah diri seperti halnya tanah, niscaya jiwa kita akan dipancari dengan cahaya Ilahi. Yang memang kita dari tanah, kalau kita merasa sebagai tanah, maka rendahkanlah diri di hadapan Allah dengan berserah diri, niscaya Allah akan menyampaikan kita pada keagungannya. Bukankah kemuliaan itu berada dibalik merendahkan diri? Ketika kita berserah diri pada Allah, maka Allah pun cukup untuk dijadikan tempat berserah diri. Ketika berserah diri, kita bakal dirancang, dicetak, dan dipoles dengan sifat-sifat Allah Yang Agung dan Mulia. Tak aneh, kalau banyak orang yang mendapatkan kemuliaan dan keabadian hidup, berkat rasa berserah dirinya yang begitu mengakar pada Allah SWT.


Serahkanlah setiap apa yang melekat pada diri kita pada Allah, tak terkecuali diri kita sendiri. Ketika kita berani menyerahkan kekayaan kita pada Kemahakayaan Allah dengan merasakan kefakiran di hadapanNya, niscaya kita bakal menyatu dengan Yang Maha Kaya, Al-Ghaniy. Ketika kita berani menyerahkan ilmu kita pada Kemahatahuan Allah disertai merasakan kebodohan di hadapanNya, niscaya kita bakal menyatu dengan Pengetahuan Yang Maha Luas. Ketika kita menyerahkan kekuatan kita disertai perasaan lemah di hadapanNya, niscaya kita bakal menyatu dengan Kekuasaan Allah Yang tak terbatas. Dan ketika kita menyerahkan hidup kita pada Hayah Allah disertai perasaan tidak ada kecuali Keberadaan Allah, niscaya Anda akan mendapatkan hidup yang abadi. Berserahlah dirilah pada Allah, niscaya Dia bakal memberikan yang terbaik bagi Anda. Orang berserah diri tidak pernah menyandarkan dirinya pada pikiran dan dirinya sendiri, seluruhnya disandarkan pada Allah SWT. Dia tidak pernah mengeluh dengan apa yang terjadi hari ini, tidak pernah cemas dengan keadaan yang akan datang, dan juga tidak sedih dengan apa yang telah lewat. Dia meyakini semuanya hanya patut diserahkan pada Allah SWT.


Ketika kita sudah berani berserah diri pada Allah, niscaya Allah akan mendaur ulang jiwa Allah, hingga benar-benar layak untuk menampung hikmah dan pelajaran agung dari Allah SWT.



Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

Sabtu, 14 Februari 2009

PONARI, KEAJAIBAN DARI ALLAH


Ya Allaah. Wahai Yang Maha Menyembuhkan segala penyakit. Wahai Yang KekuasaanNya lekat pada segala sesuatu. Wahai tempat kembalinya seluruh urusan. Wahai Yang Maha Tahu rahasia dari setiap keadaan. Wahai Yang Maha menyingkirkan segala derita. Hanya padamu Ya Allah keyakinan ini tetap kami sandarkan. Ya Allah yang Maha memberikan manfaat dan mudharat, mantapkan keyakinan kami padaMu dengan beragam fenomena yang meruyak di alam ini. Wahai Yang Maha Bijaksana dari yang bijaksana, saya yakin dari setiap apa yang terlahir ke alam dunia ini telah Engkau rancang dengan sebaik-baiknya melalui kebijaksanaanMu. Hunjamkan keyakinan di hati kami padaMu Ya Rabb melalui berbagai realitas yang datang dariMu Ya Allah. Wahai Yang Maha Menjaga bagi orang yang meminta penjagaan, jagalah iman kami dan saudara-saudara kami muslimin dan mukminin, agar tetap memantapkan permintaan dan pertolongan hanya padaMu, dan andaikan ada orang yang bisa memberikan solusi dalam hidup kami, pantulkan keyakinan di hati bahwa solusi itu murni datang dariMu, dan makhluk hanyalah kanal terjadinya solusi itu. Engkaulah Yang Menahan dan Melepaskan setiap keadaan. Pautkan hati ini hanya padaMu Ya Allah, jangan sisakan ruang sedikit pun untuk bergantung pada selainMu.


Beberapa minggu ini kita disentakkan oleh berita tentang kehadiran sosok cilik, Ponari, yang disambar (ketiban) petir, dan mendapatkan kelebihan untuk menyembuhkan berbagai penyakit lewat batu “sakti”। Dalam praktiknya Ponari mencelupkan batu ponari tersebut ke dalam air, dan berikutnya diminum oleh sang pasien. Berjubel-jubel orang memadati tempat praktik Ponari. Pasien diberitakan tak hanya datang dari Jombang, juga datang dari berbagai daerah di Nusantara, bahkan datang dari luar negari demi mendapatkan pengobatan dari Ponari. Ponari yang belum mengerti halal-haram, alias belum mukallaf itu tentu perlu kita pandang sebagai sosok yang bebas dari dosa. Dan setiap langkah yang dilakukan musti masih penuh dengan keluguan, tanpa ada harapan mendapatkan apapun dari kelebihan yang diamanahkan padanya. Kita perlu merenungkan fenomena Ponari ini tidak dari sisi paranormal yang makin menyesatkan. Ketika fenomena Ponari dilihat dari sisi paranormal cenderung akan menyeret orang ke ranah kemusyrikan. Mengapa? Ya karena orang diseret pada keyakinan pada Ponari atau paranormal yang lain, bukan keyakinan pada kuasa Allah Yang Maha Segalanya.

Jika kita lemah tauhidnya, niscaya fenomena Ponari akan membikin kita terseret ke lembah kemusyrikan. Tetapi bagi orang yang tauhidnya amat mendalam, maka fenomena Ponari bakal makin menguatkan keimanan pada Allah. Allah telah menunjukkan jalan-jalan tak rasional, yang dokter pun belum bisa menjangkau tentang penyembuhan yang dilakukan oleh Ponari. Kemudian bagaimana fenomena Ponari ini bisa membuat kita makin percaya dan yakin pada Allah? Bagaimana menghindari syirik dibalik fenomena Ponari ini?Bagaimana kita bisa memungut hikmah lewat fenomena ini?

Pertama, Yakinilah kelebihan Ponari murni sebuah anugerah dari Allah. Ingatlah, Ponari tidak berjuang apapun untuk mendapatkan kelebihan tersebut. Memang anugerah itu murni datang dari Allah SWT. Dan anugerah Allah tidak bergantung pada amal dan perbuatan yang dilakukan. Anugerah Allah akan diberikan pada siapa yang dikehendaki. Kelebihan Ponari juga datang dari Allah, dan setiap kelebihan bergantung pada untuk apa dan bagaimana meresponsnya. Ketika direspons dengan kacamata iman, tentu saja akan membuat kita meyakini kebesaran Allah yang terpancar lewat makhlukNya yang bernama Ponari. Memang rahasia-rahasia Allah akan selalu ditunjukkan pada makhlukNya. Suatu yang tidak mungkin menurut hukum logika dan rasio tidak mustahil bagi Allah SWT. Bayangkan suatu yang harusnya diperoleh oleh orang-orang yang matang dan dewasa, tetapi dianugerahkan pada anak cilik yang belum mengerti apa-apa. Namanya anugerah harusnya tidak membuat kita terpaku pada anugerah tersebut, tetapi makin kokoh kebersamaan kita dengan siapa yang telah memberikan anugerah.


Perlu juga diyakini bahwa kelebihan itu ujian dari Allah. Bisa jadi ujian bagi keluarga Ponari juga bagi kita semua. Apakah kita bersikap mengeluk-elukkan Ponari bahkan menganggap Ponari memiliki kekuatan yang independent. Andaikan pemahaman itu merasuk di hati pasien Ponari, justru itu akan menyeret ke lubang kesyirikan. Tetapi ketika menganggap bahwa Ponari sebagai jalan untuk merasakan anugerah dari Allah, niscaya keadaan ini bakal mendekatkan kita pada Allah. Batu dan Ponari tidak berbeda halnya dengan tongkat bagi Nabi Musa AS. Tongkat Nabi Musa bisa menjadi ular, juga bisa membelah lautan menjadi jalan raya. Apakah umatnya Nabi Musa saat itu kemudian terbawa untuk menuhankan Nabi Musa atau tongkat itu? Tentu saja umatnya Nabi Musa makin mantap keimanannya pada Allah SWT. Harusnya melalui fenomena Ponari ini pun membuat kita makin mantap keyakinan pada Allah SWT.


Kedua, menghindari syirik. Banyak orang tidak memercayai fenomena ini, dan menganggapnya hanya sebatas sugesti. Begitulah akal-akalan orang rasional. Ingatlah saudaraku, yang membuat sakit Allah, dan yang menyembuhkan juga Allah. Tanpa izin Allah, penyakit kita tidak bakal sembuh dengan sugesti apapun. Pun ada yang bertutur fenomena ini akan melahirkan kemusyrikan. Kata ini ada benarnya, kalau meminta pengobatan Ponari tidak didasari oleh pemahaman yang jelas. Tetapi ketika dilandasi oleh keimanan dan tauhid yang kuat, niscaya syirik tidak akan menyambangi hati kita. Syirik tidak melekat pada Ponari atau batu itu. Tapi syirik itu melekat pada pikiran kita. Andaikan kita menganggap bahwa makan nasi itu yang membuat Anda kenyang, ya kita pun dipandang syirik. Nasi itu hanyalah perantara yang membuat kita kenyang, sementara yang membuat kita kenyang adalah Allah SWT. Pun kalau ada orang yang berkeyakinan bahwa yang menyembuhkan itu dokter dan obat, justru dia telah syirik. Karena pada hakikatnya yang membuat dia sembuh adalah Allah SWT, asy-Syafi. Tidak ada yang bisa mendatangkan mudharat dan manfaat kecuali Allah SWT. Karena itu, bolehlah pikiran dan dhahir kita berusaha untuk mendapatkan pengobatan dari sakit yang kita derita, tetapi hati kita tetap penuh tawakkal dan ridha pada Allah SWT. Percayalah semua keadaan tidak lepas dari kehendak Allah SWT.


Ketiga, memulung hikmah fenomena Ponari. Setiap keadaan melahirkan hikmah bagi orang-orang beriman. Kiranya apa pelajaran yang bisa diperoleh dari fenomena Ponari ini? Sesungguhnya anugerah Allah amat luas, dan akan diberikan pada siapapun yang dikehendaki. Dan setiap anugerah itu kadang tersimpan dibalik suatu yang tidak kita sukai. Anda tahu, Ponari mendapatkan anugerah itu setelah disambar petir. Petir suatu yang tidak disukai siapapun, tetapi ternyata petir itu mengundang adanya hujan. Petir suatu yang tak disukai, tetapi hujan suatu yang diharapkan. Petir tidak disukai, tetapi “melahirkan” Ponari yang dengan izin Allah bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Allah telah mengizinkan dia bisa menyembuhkan siapa yang dikehendaki oleh Allah untuk sembuh. Karena itu, kita jangan memikirkan kebaikan hanya di atas keindahan keadaan, bahkan kita bisa merenungi kebaikan dibalik keadaan yang sembrawut dan tak karuan. Bagaimana anak yang diharapkan tersembunyi dibalik beban kehamilan yang begitu berat yang ditanggung oleh seorang perempuan. Kegeniusan berada dibalik belajar yang tekun dan tafakkur yang bersungguh-sungguh. Bahkan naiknya derajat kita bergantung dengan banyaknya tantangan yang bisa kita lewati. Tantangan suatu yang kadang tak disukai, tetapi dibalik tantangan itulah kesuksesan tengah menunggu. Pun untuk mencapai puncak gunung orang harus mendaki, sebuah jalan yang amat meletihkan. Apakah kita bisa sukses tanpa usaha? Ya, usaha tidak menentukan kesuksesan seseorang. Bahkan ada orang yang tidak berusaha bisa sukses. Hanya sedikit jumlahnya. Tapi kita harus berikhtiar untuk mencapai sukses sebagai bagian dari sunnah Rasulullah Saw. Apa Allah selalu memberikan suatu yang diinginkan dibalik sesuatu yang tidak diinginkan? Ya, karena saat kita mampu melewati tantangan dan berhasil mencapai puncak kesuksesan, justru kita bakal merasakan keindahan dan kebahagiaannya. Ada dua orang mendapatkan uang Rp. 100.000, yang satu mendapatkan lewat orang lain, dan yang kedua mendapatkan lewat usahanya sendiri. dimana dari dua orang tersebut yang begitu bahagia. Tentu kebahagiaan dan kepuasaan batin lebih bergemuruh di dada orang yang kedua. Karena dia mendapatkan uang itu dengan jerih payah.


Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya