Sabtu, 30 Mei 2009
MELUMAT DIRI YANG KASAR
“Ah…! mengapa begitu sulit melumat diri sendiri,” teriak batinku. Anda tahu sendiri setiap kata seolah memberi penerangan, namun mungkinkah ada lampu yang terang dalam hati? Kemunafikan kerap merongrong perasaan ini hingga sulit meraih kebeningan dalam setiap kata. Banyak kata belum menjelma sebagai perbuatan yang hakiki. Tak bisa dibayangkan, kalau diri saya seperti orang mengayak pasir, yang halus keluar, tetapi kerikil yang kasar masih melekat. Betapa sering terungkap kata-kata suci, sarat kearifan, meski sesungguhnya hati masih jauh dari kesucian dan kearifan itu. Mungkinkah ini yang dimaksud punguk merindukan rembulan? Masih sering menuding orang dengan segenap kesalahan, sehingga lalai akan kekeliruan yang lengket pada diri sendiri. Kerap kali berpikir perkara besar, namun lalai dengan urusan-urusan kecil.
Tak kebayang, saat publik tengah terpesona oleh perbincangan tentang Pilpres, saya juga terbawa-bawa untuk mengulas, menganalisa, dan memberikan penilaian tentang tokoh, tak kalah dengan pengamat politik yang beken di negeri ini. Bedanya, kalau pernyataan politisi dituliskan dan disiarkan media massa secara luas, sementara kata-kata saya hanya didengarkan diri sendiri. Bagaimana orang lain mau mendengarkan, kalau yang dikatakan membuat orang bingung dan gamang. Alih-alih mendapatkan pencerahan politik, hanya sebatas menyisakan kemarahan yang menggumpal menjadi kesusahan.
Di tengah sibuknya politisi meraih kekuasaan, saya kadang terlena menonton perang wacana yang dihelat mereka. Makin terlena, otak ini dipenuhi beragam informasi yang membuat diri makin jauh dari ketenangan, berikut saya dinyatakan positif “political addictive”. Seolah kalau tak membumbui perbincangan dengan politik, pikiran ini jadi gatal, dan terus didorong-didorong berbicara politik. Kadang menyalahkan langkah politik partai ini, capres ini, dan kadang ikut-ikut meneliti jejak rekam para capres-cawapres, tak kalah dengan KPK. Saat mendengar berita, calon pemimpin itu kaya raya, bahkan ada satu sosok yang punya kekayaan trilliunan, hatiku bergidik. Seperti apa uang 1 trilliunan? Bolehkah saya memegangnya sebentaaar saja? “Kok jadi hubbud dunya gini ya?”
Kalau elit berpikir kekuasaan. Tetapi sahabat saya berpikir memenuhi hidupnya yang masih kempang-kempis. Lumayan, ia masih baru membangun rumah tangganya. Memang, ia cepat-cepat menikah, untuk mengurangi kemaksiatan. Dia sempat meminta pertimbangan saya sebelum menikah, kendati saya sendiri belum menikah. Setelah mengetahui akar permasalahannya, saya memintanya menikah. Ya, sahabat saya ini, bukan karyawan, hanya seorang pemelihara burung. Ia tidak bisa menaksir pendapatan yang diperoleh dari memelihara burung tersebut setiap bulannya. Meski demikian, dia memeroleh pendapatan lain dari antar jemput anak SD. Cukuplah bertahan hidup bersama istrinya.
Suatu ketika, sahabat saya itu, sakit paru-paru. Memang, karena sudah bertahun-tahun berbatuk, dan batuk yang sekarang mengeluarkan darah mengental. Saat periksa di RS Dr Soetomo, dia mencari-cari pelayanan umum, yang kiranya memberikan pelayanan gratis. Eh, ternyata dia harus dirawat di kamar spesialis paru-paru. Namun, sebelum dirawat dia harus menandatangani perjanjian yang telah disediakan dokter. Melihat ada uang yang harus dibayarkan dalam perawatan tersebut, ia pun mengurungkan niat untuk diperiksa secara intensif. Kata dokter, “kamu harus dirawat inap, kalau tidak penyakitmu akan semakin parah,” “Biarlah dokter saya rawat di rumah saja, ketimbang harus mengeluarkan uang yang begitu banyak.” Ujar temanku dengan polos. “Mas, harus tetap dirawat disini, karena menurut UU Kesehatan, rumah sakit tidak boleh menolak pasien lantaran masalah uang, “tukas dokter lagi. “Enggak apa-apa pak, saya mau dirawat di rumah saja,” seloroh temanku.
Bercermin pada temanku yang amat sederhana ini, saya terpaku memikirkan diriku sendiri yang masih bisa terbang bebas, belum berkeluarga, sehat wal’afiat, dan masih bisa mempertahankan hidup di Surabaya dengan karunia Allah yang begitu melimpah. Ya, mungkin secara lahiriah saya amat beruntung, namun secara batiniah, temanku mungkin lebih beruntung, karena dia telah menjalani rentetan kehidupannya dengan semangat sabar yang tak memudar. Dia mampu bersabar dengan segenap latihan-latihan yang menghantam, gurat-gurat kedewasaan mulai terpancar dari wajahnya yang terlihat polos dan penuh kejujuran.
Dia tetap bersabar dengan musibah yang datang. Namun, saya masih harus berguru padanya guna melatih kesabaran. Temanku adalah guruku yang telah mengajari tentang arti kesabaran. Sabar tidak benderang dalam kata, tetapi menjadi cahaya dalam sikap keseharian. Memang, sabar tak cukup hanya dilontarkan oleh tebaran kata, namun harus menjadi bagian dari sikap hidup sehari-hari. Dan dengan kekuatan sabar itulah, saya meyakini bisa “melumat diri yang kasar.” Manakala saya sudah berhasil melumat dan menggusur yang kasar, maka kehalusan budi bakal menghias hidup ini. Insya Allah.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Kamis, 28 Mei 2009
MARI MENONTON DIRI SENDIRI
Demikian beragam tontonan menguras perhatian kita selama ini. Betapa banyak diantara kita terbius oleh tontonan televisi, aneka pernak-pernik, kemilau duniawi yang serbaneka, pertunjukan para pemimpin yang tengah bertarung merebut kursi panas, dan seterusnya. Makin banyaknya tontonan yang tergelar sarat sensasi di hadapan kita, kadang membuat kita lupa menonton diri sendiri. Inilah saatnya kita menonton diri sendiri, memosisikan diri sebagai obyek yang ditonton. Bagaimana cara menonton?
Menonton membutuhkan mata dan cahaya. Tanpa mata dan cahaya kita tak bisa menonton. Meski cahaya benderang menyinari kehidupan kita, namun tanpa didukung mata, niscaya obyek yang ditonton tak bisa dilihat. Sebaliknya, andai mata sehat, namun tak ada cahaya yang membersit, kita pun tak bisa menonton. Karena itu, ketika hendak menonton perlu memadukan kekuatan mata dan cahaya.
Mata perlambang dari mata hati (akal). Saat Anda hendak menonton diri sendiri, hidupkan mata hati sehingga bisa melihat secara gamblang film kehidupan Anda sendiri. Cahaya simbol dari cahaya Ilahi. Cahaya Ilahi berupa petunjuk Allah SWT. Bersandarlah sepenuhnya pada kebaikan Allah, semoga cahaya Ilahi itu membersit dalam hati kita. Andai cahaya Ilahi juga belum menghinggapi diri kita, berusahalah berdampingan dengan sosok mulia yang telah tersaluri cahaya Ilahi. Rasulullah bersabda, “Orang beriman adalah cermin bagi orang yang beriman.”
Cermin tempat kita berkaca tentang diri secara sederhana. Cermin akan memantulkan sosok kita yang sejati. Lewat cermin pula kita bisa mengukur, menimbang, dan menilai diri kita secara jernih. Sosok yang jernih dan terliput kebaikan patut dijadikan cermin, karena darinya terpancar magnet kebaikan yang berdaya pesona.
Sebelum menonton diri sendiri, kita perlu menghidupkan mata hati dengan cara menggerus biji egoisme yang masih bersarang dalam kesadaran kita. Karena egoisme sering menghalangi mata hati untuk melihat diri secara gamblang. Buatlah kita berjarak dengan diri sendiri, kita menonton diri seperti menonton orang lain. Tataplah lekat-lekat diri kita dengan mata hati, maka kita akan mengetahui secara jernih, siapa diri kita yang sebenarnya. Boleh kita memutar kembali film masa lalu yang pernah ditapaki. Dari rentetan film itu, kita bakal memahami secara dekat karakter dan kebiasaan hidup kita. Setelah itu kita memeroleh pemahaman “siapa diri kita”.
Ketika kita terbiasa menonton diri dengan cara membuat jarak terhadap diri sendiri, maka kita tak akan terlalu terikat oleh keadaan yang datang silih berganti, entah musibah atau nikmat. Seperti kita menonton televisi, ada saja lintasan kesedihan dan kebahagiaan mewarnai penggalan demi penggalan adegan tersebut. Ketika kita menonton diri sendiri secara utuh, akan ditemukan keindahan-keindahan yang tak terlukiskan kata-kata. Juga dengan menonton diri sendiri, kita bakal menemukan kenyataan menakjubkan yang tak bisa dikadar dengan akal yang berlimit. Kebiasaan kita menonton diri sendiri juga akan memandu kita untuk menggerus jalan setapak sempit “berupa keakuan” bergantikan jalan raya ditandai oleh terbangunnya jiwa universal, cinta universal. Dan hidup Anda tergabung dengan jiwa kemanusiaan, bahkan jiwa semesta.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
YANG TERJADI ADALAH YANG TERBAIK
Adalah kebaikan telah melekat pada segala sesuatu. Hanya orang yang tak bisa menelisiki kebaikan yang tak berhasil merasakan kebaikan dalam segala sesuatu. Mengapa setiap yang terjadi dipandang yang terbaik? Mesti diantara kita ada yang hendak protes, jika setiap kejadian dipandang suatu yang terbaik. Lantaran hidup terus didera kesulitan dan ditempa cobaan, menggerakkannya membuat kesimpulan, hidup tak terliputi kebaikan. Bagi seorang anak, yang dibangunkan sang ibu saat subuh tiba sembari diajak ke masjid untuk shalat berjamaah, maka akan muncul dua sikap. Jika tidur dianggap yang terbaik, niscaya si anak menilai perlakuan sang ibu – membangunkan dari tidur pulasnya – tidak baik. Sebaliknya, jika si anak menganggap perlakuan ibu untuk melatih kedisiplinan beribadah, maka itulah yang terbaik. Dan kalau disorot dari kacamata yang bening, motivasi sejati si ibu adalah untuk meneguhkan kedisiplinan si anak dalam beribadah.
Kebaikan Allah itu melampaui kebaikan seorang Ibu. Setiap perbuatan Allah bagi makhlukNya telah diramu dengan spirit kebaikan. Hanya bagi orang tidak menyadari rahasia kebaikan Allah, tergerak untuk protes atau berlaku jengkel dengan apa yang terjadi. Mengapa perasaan jengkel, marah, dan kesal kerap menyelubungi hati dalam bentuk respons negatif terhadap kejadian? Karena mereka menilai kebaikan dari lensa pikirannya yang terbatas. Karena itu, perlu kiranya kita bercermin pada firman Allah, “… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216).
Bagi orang yang belum dewasa secara spiritual, cenderung berlaku resisten atau menolak atas peristiwa atau kejadian pahit yang menimpa dirinya. Namun, bagi yang dewasa selalu menggemakan spirit “alhamdulillah” di setiap kesempatan, lantaran mereka telah melihat kebaikan di langit-langit kehidupan ini. Mereka berhasil meliput secara utuh bangunan kehidupan ini. Ya, ketika kita melihat hidup secara parsial, bisa jadi banyak nuansa yang memancing kejengkelan, namun ketika melihat secara utuh, maka yang tersisa hanya kesan keindahan yang tak pernah pudar.
Andaikan desain makro kehidupan itu kebaikan, mengapa banyak orang tidak bisa mencerap kebaikan dalam bentuk kebahagiaan? Yang membuat orang tidak mendapati kebahagiaan, lantaran lemahnya keyakinan yang berujung pada rapuhnya semangat berserah diri. Pribadi yang berserah diri telah memahatkan keyakinan dalam hatinya, Allah memiliki sifat Qudrah (Maha berkuasa), Iradah (Maha Berkehendak), Ilmu (Maha Tahu), dan Hayah (Maha Hidup). Lewat sifat Allah yang agung itulah peristiwa demi peristiwa dan kejadian demi kejadian menyeruak ke permukaan. Berarti, setiap peristiwa dan kejadian telah diramu dengan sifat-sifat Allah Yang Agung itu. Setiap peristiwa mencerminkan kuasa Allah, kuasa Allah mengikuti kehendak Allah, kehendak Allah mengikuti ilmu Allah. IlmuNya yang tak terbatas dan Maha Luas memantapkan keyakinan di hati, seluruh peristiwa dan kejadian telah ditata dengan ilmuNya. Manusia tak bisa menjangkau ilmuNya yang demikian luas. Lebih dari itu, setiap lekuk kehidupan terliput rahmat Allah yang demikian luas tak terbatas. “…Allah berfirman ‘Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu…” (QS. Al-A’raf [7]: 165).
Berpijak pada ayat diatas, pantaslah bagi kita memilih sikap berserah diri selaku refleksi keyakinan utuh atas kebaikan Allah, sembari menyadari segala sesuatu telah diliputi rahmat Allah. Pun terpahat dalam kesadaran sejati, tak ada yang salah dalam takdir.
Kala kita menyadari bahwa yang terjadi itulah yang terbaik, niscaya kita bakal berhasil menikmati kehidupan dari waktu ke waktu, dari detik ke detik, dan dari momen ke momen yang terus berjalan. Tak pernah tersandera masa lalu, lantaran cuma masuk dalam figura kenangan semata, dan tak tertarik dengan masa depan, karena masa depan hanya dalam mimpi. Dan hari ini sebagai kenyataan pasti yang harus dihadapi dan dinikmati dengan mental syukur.
Sungguh, andai kebaikan disandarkan pada keinginan manusia, niscaya kehidupan ini akan karut-marut, sembrawut, dan terus mengalami benturan satu sama lain. Mengapa? Lantaran setiap orang memiliki keinginan masing-masing. Bayangkan, tukang jas hujan menginginkan hari-hari tetap dalam keadaan hujan agar produknya laku keras, namun tukang jual es menginginkan setiap hari terik matahari yang membuat manusia haus, sehingga esnya terjual. Ketika desain kehidupan disandarkan pada keinginan manusia, niscaya kehidupan menjadi sembrawut karena setiap otak punya keinginan sendiri-sendiri.
Sungguh amat bijaksana, jika kebaikan bertumpu pada kehendak universal, yakni kehendak Allah SWT yang Maha Mengetahui rahasia kehidupan. Andaikan di depan kita telah dihidangkan menu makanan, kita tinggal melahap menu tersebut dengan jiwa syukur. Orang yang memiliki keinginan tak bisa hidup hari ini. Meski dia telah memeroleh apa yang diinginkan, niscaya akan tumbuh keinginan berikutnya. Betapa tersiksanya orang yang terpenjara oleh keinginannya. Jika ada orang yang hidup di istana bertatahkan emas, namun masih diberondong keinginan, maka kebahagiaan tidak memeluk dirinya. Dan ada gelandangan hidup di jalanan, namun ia tak terjebak dengan aneka keinginan. Bahkan, ia memilih untuk terus mengikuti arus takdir tanpa resisten sedikit pun. Dengan sikap tersebut, insya Allah kebahagiaan merambat ke dalam jiwanya.
Pun kebahagiaan sulit mengembang di rongga hati lantaran selalu fokus dengan tujuan. Andaikan Anda pergi ke Jakarta dengan menaiki kereta api, tapi di pikiran Anda hanya terfokus pada Jakarta, didera rasa penuh terburu-buru agar segera sampai ke tujuan, niscaya Anda tidak bisa menikmati dan menghayati perjalanan menuju Jakarta. Sungguh, amat disayangkan perjalanan yang harusnya menghadirkan kenikmatan telah terbajak keinginan yang belum tentu terjadi. Selayaknya Anda bisa menikmati perjalanan itu dengan melihat petak-petak sawah yang dihiasi tanaman hijau, memandangi deretan pohon bergelantungan buah yang berdiri kokoh di pinggir jalan, atau bisa memandangi petani yang tengah bermesraan dengan pertaniannya. Sungguh, andaikan Anda berusaha menghayati dan meresapi setiap lekuk perjalanan itu, niscaya kenikmatan akan terasa menerangi kesadaran Anda.
Patutlah kiranya kita tidak terlalu berlebihan memikirkan tujuan. Dikarenakan orang yang cenderung fokus memikirkan tujuan, akan terbajak dalam dunia ilusi. Dunia yang tidak membuatnya bisa hidup saat ini. Pikiran hanya tertuju pada impian, bayangan, dan ilusi masa depan yang belum tentu ditemui. Lantaran itu, mereka tidak pernah peduli dengan hari ini, apalagi menikmati. Meski pun hari ini menyodorkan emas, maka terasa sebagai tembaga. Meski disuguhkan makanan yang lezat, baginya terasa basi dan tak menggairahkan. Seberapapun uang berada di kantong, tanpa dijiwai dengan kekinian, niscaya kebahagiaan tak akan juga berkunjung.
Demikianlah, ciri orang yang selalu terkurung dalam ilusi yang semu. Ilusi akan terus menyergap manusia dalam penderitaan dan kekecewaan, tak ayal wajahnya jauh dari kesumbringahan, keningnya pun terkesan selalu mengerut, sikapnya seolah selalu ditindih ketegangan demi ketegangan. Kalau demikian, darimana dia bisa merengkuh ketenangan atau kebahagiaan? Andaikan dia mengerti, ternyata kebahagiaan tak berada saat orang memikirkan yang akan datang. Kebahagiaan memantul kala manusia merenungi dan mensyukuri keadaan hari ini. Kebahagiaan akan mekar setara dengan semangat syukur yang mengembang atas keadaannya saat ini. Dalam syukur terbungkus kebahagiaan.
Pun agar kita bisa menghayati dan menikmati hari ini, perlu kiranya dibenamkan dalam hati kita masing-masing untuk berserah diri pada Allah. Karena bercokolnya panglima pikiran dalam hidup kita, sikap berserah diri kadang sulit dijalani. Kendati demikian, kita terus berlatih berserah diri dengan melepaskan jerat pikiran yang cenderung memilah dan memilih sehingga mau menerima kenyataan yang hadir dengan lapang. Tidak timbul sedikit pun sikap resisten atas kenyataan yang berkunjung. Andai kita telah luruh di hadapan Allah dengan hidup tanpa resistensi sedikit pun, terkristalisasi semangat berserah diri, walhasil insya Allah kebahagiaan akan tercurah dalam hati kita.
Begitu bermakna dan pentingnya berserah diri, patut kiranya kita memungkasi tulisan ini dengan sepenggal kata hikmah penuh daya, “Ketika kita berserah diri dan menerima bahwa yang terjadi itulah yang terbaik, maka setiap saat akan menjadi saat yang penuh kebahagiaan.” Wallahu A’lam bis Showaab.
KH. Dr. M. Dhiyauddin Qushwandhi
Pentranskripsi: Khalili Anwar
Selasa, 26 Mei 2009
DESAH NAFAS KEBAHAGIAAN
Bahagia tak bisa dilukiskan oleh tebaran kata-kata. Bahkan semakin dilukiskan, kebahagiaan itu tak berasa. Kebahagiaan melekat dalam kesenyapan dan diam. Saya merasakan bahagia kala berada antara tarikan dan hembusan nafas. Ketika saya menikmati dan menghayati hirupan dan hembusan nafas dengan detail dipandu kelembutan rasa, di ujungnya membersit kebahagiaan. Akan tetapi, bila saya tak meresapi dengan serius, setiap hirupan dan hembusan nafas, niscaya hidup yang kujalani seolah tak menyajikan makna bahagia. Bahkan cenderung menyodok di dataran kehampaan. Kunci memantik kebahagiaan adalah merasakan dan menghayati kekinian yang terus berjalan. Kebahagiaan berada antara lintasan awal dan akhir, bermukim di saat ini yang abadi. Kala kita bisa menikmati momen keabadian ini, kebahagiaan itu akan meluber dalam hati kita.
Memaknai desah nafas berguna untuk memahami arti hidup. Andai hidup tidak menempel pada diri kita, mungkinkah kita bakal merasakan keindahan dari setiap lintasan kejadian yang telah kita tapaki. Modal dasar bernama hidup telah mengantarkan anugerah lainnya, dan berujung pada kebahagiaan. Berarti, lantaran adanya hidup, kebahagiaan bersemai dalam diri kita. Hidup disini tidak hanya hidup jasmani, namun hidup yang mendasari hidup jasmani, yakni hidup ruhani. Andai ruhani kita hidup, insya Allah kebahagiaan akan mengalir ke muara hati kita.
Apa tanda dan bagaimana menghidupkan ruhani? Ruhani hidup ditandai dengan rasa, ya merasa ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki. Bagaimana kala kita disalak kedukaan dan kesedihan? Kedukaan menyangkut hal duniawi menandakan matinya ruhani. Namun kedukaan lantaran merasa jauh dari Allah, adalah tanda hidupnya ruhani. Saya pernah bertutur pada teman saya, “Saat Anda merasa mengalami kematian ruhani, itu pertanda hidupnya ruhani.” Serupa dengan datangnya penyesalan pertanda terbitnya fajar kebahagiaan. Saat hati begitu lama terkurung dalam kegelapan, dan cahaya kebenaran menerobos bilik-bilik hati kita, maka kebahagiaan itu akan meresap di hati.
Sudahkah kita merasakan kebahagiaan? Andai kebahagiana masih belum dirasakan, sepatutnya kita memeriksa diri sendiri, mungkin bertumpuknya dosa dan kesalahan telah menghalangi kita mencapai kebahagiaan itu. Atau mungkin keringnya rasa syukur di hati kita atas anugerah Allah yang amat berlimpah. Bukankah syukur sebagai resepsionis hadirnya kebahagiaan? Daya tarik berkunjungnya kebahagiaan ke dalam hati kita, lantaran hati kita selalu menyuguhkan rasa syukur yang tak pernah jeda. Kapan harus bersyukur? Syukur tak hanya digunakan saat menggapai kenikmatan, pun saat kejadian pahit menabrak, kita harus rela menyuguhkan syukur. Karena rumus yang hakiki, bukan kebahagiaan yang mengantarkan syukur, namun syukurlah yang mengantarkan kebahagiaan. Kalau kita hendak menyematkan kebahagiaan di hati, perlu kiranya kita membahanakan nyanyian syukur setiap saat, mengikuti tarikan dan hembusan nafas.
Ketika tarikan dan hembusan nafas dialiri spirit syukur, insya Allah setiap tarikan dan hembusan nafas terasa ringan. Memang, dengan bermodalkan bahagia yang direnda dari syukur, insya Allah hidup bakal menjadi lebih ringan. Setidaknya mata tidak melotot, kening tidak mengerut, dan tangan tak mengepal. Yang terpampang penampilan diri berhiaskan senyum yang terus mengembang, wajah melulu menebarkan pancaran optimisme, dan tangan selalu berposisi terbuka.
Mungkin saatnya saya menghayati kebahagiaan, bukan memikirkan kebahagiaan. Semoga Allah SWT mencurahkan hidayahNya pada kita semua agar terus bisa merasakan dan menghayati kebahagiaan lewat tarikan dan hembusan nafas. Wallahu A’lam Bisshowaab.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Jumat, 22 Mei 2009
SAATNYA NU INTROSPEKSI
Kekalahan partai berbasiskan NU mengilhami para ulama
mengintrospeksi diri secara kolosal. Introspeksi kolosal ini, selain
diserukan pada kalangan ulama, juga seluruh warga NU. Pertemuan
Langitan, Tuban, yang dihadiri 500 ulama se-Jawa Timur yang terdiri
dari PBNU, pimpinan pondok pesantren, dan PWNU beberapa pekan yang
lalu menghasilkan kesimpulan yang intinya menyerukan agar seluruh
warga NU menyelamatkan organisasi Islam terbesar di Indonesia itu
dari paham ekstrem kanan atau kiri.
Sebagai pilar besar kekuatan Islam di Indonesia, NU tengah
menelan kenyataan pahit dengan semakin cairnya suara NU. Di berbagai
daerah banyak pentolan NU yang memasuki gelanggang politik praktis,
tetapi tidak memberikan hasil yang mengembirakan NU. Kita bisa
merunut sejarah, Pilpres 2004 Kiai Hasyim Muzadi digandeng Megawati
Soekarnoputri. Secara rasionalitas politik kombinasi antara
nasionalis dan religius ampuh untuk menyedot massa pemilih, tetapi
realitas politik lebih berpihak pada Yudhoyono-Kalla yang berangkat
dari kalangan nasionalis bahkan ada yang menyebutnya neo-liberalis.
Sekali lagi debut pemilihan cagub-cawagub di Jawa Timur tahun
2008, ketua PWNU saat itu, Ali Machsan Moesa seperti gadis cantik
yang diperebutkan beberapa cagub, akhirnya berhasil dipinang
Soenarjo. Akan tetapi, apa boleh dikata, ternyata pamor ketua PWNU
tak bisa mengungkit suara dari grassroot NU. Kekalahan NU makin
sempurna ketika memasuki gelanggang Pileg 2009. Betapa banyak suara
warga NU berimigrasi pada partai yang berbasiskan non-NU. Sungguh,
konstelasi demokrasi yang menjadi media menjajaki kekuatan dan
soliditas warga NU itu perlu menjadi bahan renungan bagi kalangan NU
sendiri, terutama kiai sebagai inspirator juga penggerak warga NU.
Warga NU masih tetap memosisikan kiai sebagai model yang patron.
Apa pun yang dilakukan mereka banyak terinspirasi oleh perilaku dan
model hidup yang ditampilkan kiai. Jadi, andaikan ada perilaku
politik yang keliru, semisal ada warga NU yang terjebak dalam politik
uang, kiai yang harusnya mengoreksi terdahulu sebagai pemandu
warganya. Apalagi politik uang tidak hanya menghiasi partai-partai
berbasis nasionalis, bahkan partai berbasiskan NU juga terjebak dan
terseret dalam kultur politik yang tak beradab itu.
Kaum elite NU juga perlu menyadari bahwa apa pun yang dilakukan
warga NU sebagai cermin dari elite NU yang kurang memerhatikan
penguatan ruh Islami dalam berbagai ragam kehidupan, tak terkecuali
berkaitan dengan politik praktis. Kita tidak menemukan brand yang
membedakan gaya politik NU dan politik partai yang berbasiskan
nasionalis.
Ketika NU terjebak dalam jerat kekuasaan dan meninggalkan warisan
visi besar dari para pendirinya, suatu saat NU hanya menjadi karangka
tanpa ruh. Besar, namun tidak memiliki karisma dan magnet yang kuat
dalam menggalang perubahan bagi bangsa ini. Faktanya, karena NU tidak
bisa menunjukkan hujah yang kuat dan model yang sempurna di mata kaum
muda NU, banyak kalangan muda yang jenuh ritual dan seremonial yang
digalakkan NU. Sebagai pelampiasan dari kejenuhan itu, anak muda
berijtihad untuk mencetuskan reformasi pemikiran di kalangan NU,
dalam bentuk Islam liberal.
Kita tidak boleh menyalahkan anak muda yang haus ilmu dan melulu
berhasrat menemukan gagasan keagamaan yang menarik, kendati ujungnya
persinggungan dengan semangat dan ideologi yang mendasari NU.
Merebaknya kelompok kiri Islam atau Islam liberal yang dibidani anak
muda NU perlu menjadi bahan koreksi bagi tokoh NU sendiri agar fokus
membumikan kembali ideologi dan pemahaman NU secara komprehensif
sembari diperkuat dengan model yang elegan. Kita tidak membutuhkan
kata-kata untuk menarik gerbong perubahan NU menuju yang sejati,
tetapi mengharapkan model sejati yang bisa menginspirasi warga NU
agar bisa bertindak ikhlas.
Komplikasi yang membelit NU bisa diurai lewat kesadaran kiai NU
soal perannya yang membutuhkan kerja keras untuk terus mengusung visi
dan nilai NU secara istiqamah. Tanpa kerja keras dari kiai NU,
kebesaran NU kelak hanya menjadi onggokan sejarah.
Kompas, Jumat 15 Mei 2009
Khalili Anwar
Penulis Muda, Tinggal di Surabaya
NEGERI KITA: THE SMILING COUNTRY
Semula kita mendengar, Jakarta, sebagai ikon Indonesia mendapati julukan dari TIME sebagai kota terbaik guna melatih kesabaran. Baru-baru ini, saya mengunduh berita, Indonesia masuk tataran negara paling murah senyum dengan merebut sekor 98%. Untuk (pengucapan) salam, Indonesia menempati skor 98%, disejajarkan dengan Hongkong. (Detik,17/5).
Di tengah kemelut, bangsa ini belum kehilangan senyum untuk disebarkan pada dunia. Jiwa agama seperti yang diajarkan Rasulullah SAW, “senyum adalah sedakah” telah terbetot dalam kesadaran bangsa ini. Indonesia dikenal sebagai negara yang mengutamakan perasaan, sehingga setiap aktivitas selalu dicandra dari kacamata perasaan. Perasa selalu meraba perasaan orang lain, agar setiap apa yang dikemukakan dan dilakukan menghadirkan kehangatan bagi sesama. Tak ingin setiap celetukan mengundang kemarahan dan kejengkelan orang lain, malahan bagaimana setiap kata dan perbuatan menebarkan oasis yang menyejukkan dan menghangatkan hati.
Semoga riset tentang peringkat seyum Negeri Indonesia dari AB Better Bussiness yang berbasis di Swedia itu benar-benar menyentuh ke seluruh sisi kehidupan bangsa ini secara nyata dan menyeluruh. Bukankah senyum jendela kebahagiaan. Dengan senyum seolah kebahagiaan akan mekar dari dalam hati ini. Persisnya, senyum adalah pembuka kebahagiaan yang terkatup dalam hati.
Senyum yang tulus menjadi pengungkit kreativitas pada diri manusia, karena senyum menjadi energi positif yang meresap pada tubuh, seraput pun otak ikut terbuka untuk menumbuhkan ide-ide kreatif. Berarti senyum harusnya membikin diri produktif, ketika senyum ini terpantik untuk hal-hal positif. Namun ketika senyum hanya diarahkan pada hal yang negatif, justru senyum hanya membuat diri berada dalam kehampaan. Alangkah baiknya, jika senyum menjadi pembangkit kesadaran untuk memaknai kehidupan yang penuh ajaib ini. Senyum menghadirkan makna luar biasa ketika dialiri dengan energi ketakjuban atas anugerah Allah yang begitu berlimpah.
Senyum pertanda kebahagiaan yang bersemai dalam hati. Meski demikian, Islam tidak sebatas mengajarkan senyum, juga dianjurkan kita terampil menebarkan salam. Rasulullah Saw bersabda: “Wahai manusia sebarkan salam dan berilah makanan pada orang yang membutuhkan, jalinlah silaturrahim, dan shalatlah di malam hari kala kebanyakan manusia tidur niscaya engkau akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Tirmidzi).
Adalah salam memberikan energi positif untuk menularkan surga pada setiap orang, pun mempesona hati kita dengan cahaya surgawi. Janganlah pelit mengucapkan salam. Salam adalah pokok kehidupan. Andaikan kita mengucapkan salam, berarti kita telah memberikan suatu yang amat penting yang mendasari kehidupan. Betapa indahnya kala setiap lekuk kehidupan ini dihiasi perasaan salam (salam feel). Kita tidak menaruh curiga pada orang lain, dan orang lain tidak terpancing untuk mencurigai kita. Tak ada kedengkian yang meletup dari hati kita, pun orang lain merasakan ketenteraman bersama kita.
Membudayakan senyum dan salam bukan suatu yang mudah. Hanya orang yang dipenuhi energi cinta yang senantiasa menularkan senyum dan menebar salam. Andaikan saya, engkau (terpadu dalam kita) belum pernah membiasakan dan membudayakan senyum, berarti hati ini masih kering dari energi cinta.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Jumat, 15 Mei 2009
ALLAH MENGHENDAKI KEBAHAGIAAN
Kebahagiaan menjadi harapan utama setiap insan, bahkan seluruh makhluk yang bermukim di jagat semesta ini tak luput dari kehendak menggapai kebahagiaan. Cacing yang hidup tanpa mata, tanpa telinga menyusur tanah sebagai makanannya, dengannya ia mempertahankan hidupnya. Efeknya, tanah pertanian menjadi gempur, dan petani bisa bercocok tanam di lahan yang subur. Dari tanah yang subur insya Allah akan menghasilkan panen yang makmur. Tikus, ketika dikejar kucing, niscaya akan lari pontang-panting ke sarang pengaman demi mengelak bahaya yang mengancam. Ia lakukan karena menghendaki kebahagiaan. Pohon, kendati tidak ditanam dan disiram manusia, akan tetap tumbuh hingga berbuah. Seluruh fenomena perilaku makhluk yang tersaji di depan kita menandakan bahwa seluruh kehidupan ini menghendaki kebahagiaan. Siapakah yang telah menyusupkan kehendak bahagia itu? Siapakah yang betul-betul mengerti dan memahami cara untuk memeroleh kebahagiaan? Perlulah kiranya kita renungkan.
Sebagai pertanda Allah menghendaki makhlukNya bahagia, Dia telah menetapkan berbagai peraturan yang perlu dijalani manusia guna menempuh kebahagiaan. Kita menyadari kebahagiaan bukan suatu yang instant, seketika diperoleh. Sebagai sebuah kehendak, maka kebahagiaan menjadi cita-cita. Setiap cita-cita harus diperjuangkan, membutuhkan effort atau usaha yang keras. Demi menggapai cita-cita berupa bahagia, kita perlu menempuh pelbagai langkah yang telah ditentukan Allah SWT.
Allah adalah sentrum kebahagiaan. Tak ada yang dilakukan Allah kecuali demi kebahagiaan itu sendiri. Hanya saja, manusia sering berlaku inkonsisten antara kehendak bahagia yang hadir dari hati nurani dengan perilaku hidup yang ditampilkan. Katanya manusia ingin bahagia, tetapi kenapa perilaku hidupnya kerap kali kontras dengan kehendak agung tersebut? Dan mengapa pula, ada orang yag terus dibelit derita? Ya, manusia tersingkir dari lingkaran kebahagiaan lantaran melulu mengikuti kehendak hawa nafsu. Kalau kita renungkan, seluruh pergerakan hawa nafsu bukan untuk menumbuhkan kebahagiaan, hanya meneteskan secuil kesenangan yang akhirnya menurunkan kesedihan ke rongga batin. Kebahagiaan terikat pada kesungguhan manusia mengendalikan hawa nafsu, “Dan adapun orang yang takut pada kebesaran Tuhan-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (QS. An-Nazi’at [79]: 40-41).
Allah tidak pernah berbuat dzalim pada hambaNya kecuali hamba sendiri yang berlaku dzalim pada dirinya sendiri. Penderitaan menimpa kita lantaran perilaku dan sikap hidup kita sendiri. Adapun Allah hanya menghendaki kebahagiaan bagi kita.
Karena Allah tidak menghendaki kecuali kebahagiaan, maka segala hal menempa dan menerpa kita hanya demi tercapainya kebahagiaan. Kita dianjurkan shalat guna bisa mencerap kebahagiaan dan merasakan kedekatan dengan Allah SWT. Allah menetapkan kehendak tasyrik, berupa perintah dan larangan, serta kehendak takwin, berupa qoda’ dan qadar, sesungguhnya menghendaki hidup kita berlimpah kebahagiaan. Pembatas-pembatas yang ditetapkan Allah tidak untuk menyandera kebahagiaan kita, bahkan bagaimana mempertahankan kebahagiaan yang bermukim dalam hati kita. Puasa sebagai perisai pencegah dari perbuatan tercela diharapkan bisa mengukuhkan kebahagiaan itu sendiri. Andai manusia tidak berpuasa, justru akan mudah terseret ke dalam perbuatan maksiat. Dari puasa diharapkan ada sistem kontrol yang handal, sehingga manusia tetap terarah menjalani kebaikan. Dari situ, bisa disimpulkan bahwa kehendak dibalik kehendak Allah adalah kebahagiaan. Target dari semua target adalah kebahagiaan.
Allah Maha Mengetahui resep untuk meraih kebahagiaan, karena dariNya kebahagiaan itu dicurahkan. Ketika orang menyandarkan hidupnya pada Allah, niscaya kebahagiaan pun akan meliputinya. Namun, bila manusia telah berpaling dari Allah SWT, maka kebahagiaan tersingkir dari taman hatinya. Dari situ, kita bisa meneguhkan kesadaran akan kata-kata penuh daya, “Tuhanku, Engkaulah Tujuanku, RidhaMU yang aku cari.” Antara kebahagiaan sebagai tujuan dan Allah sebagai tujuan tidak bisa dipisahkan dan dibedakan. Allah menyatu dalam kebahagiaan, dan kebahagiaan menyatu padaNya. Tujuan yang integral.
Karena Allah menghendaki kebahagiaan bagi jagat semesta, maka seluruh peraturan syariat yang ditetapkan bagi manusia tidak pernah lepas dari kehendak inti tersebut. Andai kita menyadari secara mendalam akan kehendak dibalik kehendak Allah, kita akan selalu meluapkan rasa syukur yang tak pernah jeda atas karunia Allah yang terus mengalir dalam hidup ini.
Sekarang kita memahami, kehendak dibalik kehendak Allah adalah kebahagiaan, berarti kita bisa bahagia dalam setiap keadaan yang menghampiri kita. Karena itu, tidak ada kata yang patut kita serukan terus-menerus dalam setiap kesempatan, kecuali alhamdulillah, cermin spirit syukur yang tak pernah sirna dalam hati kita. Bagaimana cara kita memantik kebahagiaan? Ya, kebahagiaan terbungkus dalam syukur. Manakala kita meluncurkan semangat syukur setiap saat, maka kebahagiaan bakal menghias hidup kita.
Syukur salah satu jalan memeroleh kebahagiaan yang kekal dalam hati. Orang bersyukur karena dua faktor. Pertama, bersyukur karena nikmat yang diperoleh. Kedua, bersyukur karena mengingat yang menganugerahkan nikmat, yakni Allah SWT. Yang kedua ini, bersyukur dalam segala keadaan, karena terpaku pada pesona Allah SWT. Dia mengenal tentang sifat-sifat Allah yang full kebaikan. Tak heran, ia masih bersyukur bahagia dalam keadaan yang tercepit sekalipun lantaran merasa Allah masih mencurahkan kasih sayangNya. Andai kita menyadari secara menyeluruh bahwa penciptaan alam semesta didasari rasa kasih sayang Allah, niscaya kita akan menemukan syukur di segala keadaan.
Karena terpesona pada kasih sayang Allah yang meliputi seluruh jagat ini, maka orang-orang arif selalu memiliki alasan untuk melulu bersyukur pada Allah SWT. Ada seorang arif bertutur, “kalau ayam “nyeker-nyeker” untuk memeroleh sebutir makanan, sementara orang arif “nyeker-nyeker” untuk memperoleh alhamdulillah.” Dan orang arif selalu meraup spirit alhamdulillah di setiap kesempatan. Karena itu, ia selalu berhasil menangkap keindahan di setiap keadaan. Mengapa orang arif selalu bersyukur di setiap keadaan? Karena mereka meyakini secara mendalam bahwa sifat Allah, Ar-Rahman dan Ar-Rahim, telah mendasari setiap peristiwa dan kejadian yang menyembul ke permukaan. Andaikan ada musibah, bukanlah serta merta mengundang kesedihan yang mencekam bagi dirinya, malahan dia terus mengingat Allah dibalik musibah itu, mengingatkan kebaikanNya yang tak pernah pudar. Makanya ia peroleh kebahagiaan.
Agar kita selaras dengan kehendak dibalik kehendak Allah berupa kebahagiaan, maka kita diharapkan selalu membudayakan syukur di setiap kesempatan.
KH. Dr. M. Dhiyauddin Qushwandhi
Pentranskripsi: Khalili Anwar