Sabtu, 20 Juni 2009
JANGAN BERPALING DARI CAHAYA
Cahaya tak pernah tenggelam atau tertelan kegelapan, karena cahaya akan tetap bersinar kendati ada awan yang menutupinya. Hanya benda yang terhalang oleh cahaya yang tak bakal mendapati cahaya. Bunga ketika diletakkan di halaman rumah, kemungkinan mendapatkan cahaya lebih besar ketimbang bunga yang dibiarkan hidup dalam rumah. Mengapa bunga yang berada dalam rumah peluangnya kecil mendapati cahaya? Karena rumah menjadi sekat untuk sampainya sinar cahaya pada bunga. Padahal kita tahu sendiri, ketika bunga jarang mendapati cahaya, cenderung menjadi layu, daun-daunnya berguguran, dan berujung pada kematian sang bunga. Kehadiran cahaya matahari serasa sangat penting, pun kemunculan cahaya rembulan bisa menumbuhkan bibit,
Ketika kesenyapan malam, ditembusi setitik cahaya remang-remang, ternyata menumbuhkan kehidupan bagi tanaman. Kenyataan ini pernah saya amati ketika saya menyertai ibu bertani di ladang, melihat tanaman padi, pertumbuhan terjadi ketika telah melewati malam. Berarti malam hari pun menebar pertumbuhan lewat cahaya malam. Memang cahaya membuat hidup lebih termaknai, tanpa cahaya tanaman tidak tumbuh, pun manusia tanpa mendapati sinaran cahaya, akan terlihat loyo, demotivasi, dan tak memiliki gairah positif untuk melejitkan potensinya yang luar biasa. Pendek kata, memang pada asasnya seluruh kehidupan ini bersenggama dengan cahaya. Dari cahaya tumbuh jagat kehidupan ini.
Mari kita tarik metafor lahiriah yang terbentang di alam besar tersebut ke jagat batin kita yang amat lembut. Mungkinkah kita merasa hati ini hidup tatkala cahaya hidayah tersumbat dan tak menembusi batin kita? Serasa hati disesaki gundah gulana, dikitari kesedihan, kesusahan, seperti orang yang mendaki gunung-gemunung yang tinggi, nafas pun tersengal-sengal. Perkara apapun yang menyesakkan dada menandakan energi negatif telah mengalir ke setiap zona batin kita. Negatifitas yang memenuhi batin itu menandakan tidak merasuknya cahaya ilahiah ke ruang kesadaran kita. Mengapa cahaya ilahiah tidak terserap ke dalam kesadaran? Ya, karena kita cenderung berpaling dari cahaya, atau menutup diri dengan kehadiran cahaya. Bukankah hanya pintu-pintu terbuka yang akan dimasuki tamu. Buka jendela atau pintu batin kita untuk menerima kebenaran sejati, sehingga dari bilik batin kita akan berjejal selaksa cahaya kebenaran.
Cahaya tetap bersinar, bergantung kita yang mau menerima cahaya itu. Kiranya apa yang menjadi penghalang manusia bersua dengan Sang Cahaya. Dinding tebal yang menghalangi manusia untuk mendapati cahaya tersebut, adalah keakuan. Manakala manusia berhasil menjebol tembok keakuan yang membiakkan sifat riya’, dengki, dan sombong, insya Allah sinar cahaya Ilahiah bakal menerobos ruang batin, berikut cahaya kebahagiaan menghiasi ruang batin dan lahiriah kita. Gumpalan kegundahan bakal mencair menjadi kehangatan dan kebeningan yang menyalakan kreativitas. Karya-karya pun bisa melejit secara dahsyat. Ya hanya cahaya yang bisa melepaskan belenggu manusia yang berada dalam kegundahan.
Kalau Allah memantulkan cahaya lahiriah melalui matahari, musti Allah juga mengutus cahaya batin yang bisa menghalau kegelapan yang menyergap kehidupan manusia. Menerbitkan optimisme tatkala manusia disandera kebekuan pesimisme, menyegarkan harapan yang sudah layu, menerangi kegelapan yang beku dan kaku. Allah mengutus cahaya pada manusia adalah para Nabi sebagai representasi cahaya agung, kemudian disalurkan pada para sahabat, para waliullah, dan ulama zuhud yang hidup saat ini. Itu berarti, agar kita bisa mencerap cahaya, perlu kiranya kita terus tersambung dengan cahaya “ulama” yang memilih terus menerangi kegelapan. Janganlah kita berpaling dengan ulama’, yang ada dalam benak kita ketika berada di hadapan ulama’ adalah mendengarkan dan mentaati. Ketika kita berada dalam kepatuhan yang teguh pada ulama’, insya Allah cahaya bakal terus memandu hidup kita. Insya Allah.
Khalili Anwar, Penutur dari jalan Cahaya
Sabtu, 13 Juni 2009
Batas belajar Mencari Kebenaran.....
Ilmiah... sebingkah kata yang begitu akrab di telinga saya semenjak “menyusu” ilmu di Pesantren Annuqayah. Pesantren ini menampung ribuan santri, terletak di ujung barat Sumenep, Jawa Timur. Di pesantren ini, kreativitas menulis puisi, prosa, cerpen, dan esai betul-betul digalakkan, seakan menjadi kultur harian yang kental mewarnai perbincangan dan penampilan ilmiah para santri. Saking kuatnya kesan ilmiah itu, kadang nasi yang sedang dilahap dianalisa secara ilmiah. Kata sebagian santri, “nasi pun mengandung filsafat.” Awal mula mendengar kata ilmiah, begitu asing di telinga ini... terkesan perkara yang menuntut berpikir keras dan menggerakkan orang untuk bersua dengan kemurnian jiwanya. Mungkin hanya sosok yang memiliki kepekaan yang bisa menuturkan perkara ilmiah dengan apik. Kendati masih terlihat begitu asing dengan dunia intelektual, tetap saja harus ikut menekuni dunia menulis dan berdebat ilmiah. Dari pesantren itu, saya bertemu dengan pemikiran besar yang disajikan Gus Dur, Ahmad Wahib, Dawam Raharjo, Cak Nur, Cak Nun, Alwi Shihab, Muhammad Sobary, Quraish Shihab, Moeslim Abdurrahman, Annamarie Schammel, Sachico Murata, dan deretan sosok intelektual lainnya yang membedah Islam dengan pisau analisa yang amat tajam dan mendedah dengan kejernihan berpikir yang mengagumkan.
Saya pun tersihir oleh pemikiran mereka yang begitu memukau tentang Islam yang inklusif. Membaca deretan pemikiran mereka, terekam kehalusan akal budi dan kejernihan berpikir, dan saya menyimpulkan, itulah makna dari intelektual. Tanpa saya sadari, saya tengah menelusuri lorong-lorong terang pemikiran pemikir besar yang dijelmakan dalam bentuk tulisan ilmiah. Sejak saat itu, saya terus bergulat, berperang, berdebat, bahkan bercinta dengan teks. Teks mencurahi ide-ide bernas, menerobos tradisi-tradisi yang kaku, dan berusaha mempola perubahan dengan keindahan. Karena itu, tak aneh pemberontakan lewat intelektual lebih mengena bagi orang-prang cerdas, ketimbang kekuatan anarkis. Itulah yang diyakini para pemikir-pemikir handal yang masuk dalam kancah aktivitas intelektualisme.
Namun, pengetahuan ilmiah tanpa didasari pengetahuan agama yang mendalam, cenderung menyeret orang ke ranah kesombongan intelektual. Padahal mereka menyadari, pemikiran mereka terbatas dan terbukti kalah bila dibenturkan dengan pemikiran lain yang lebih mengakar ke dalam. Kita insya Allah bisa menggali dan menemukan kebenaran sejati, jika bisa memadukan ilmu dan agama. Filsafat berguna guna membuka eksistensi kebenaran, dan agama menjadi sumbu penggerak guna menyapa kebenaran tersebut.
Bagi saya, potensi berpikir yang rumit-rumit tersebut lama terkubur, karena sejak menginjakkan kaki di dunia perguruan tinggi lebih sering dipertemukan dengan teks-teks yang praktis, pelatihan-pelatihan praktis, dan membuat dimensi harus disajikan secara sederhana. Kesederhanaan, katanya, gampang dipahami dan dimengerti oleh orang lain. Makanya saat jadi mahasiswa, saya lebih gandrung dengan daras pemikiran praktis, kendati mendalam, seperti karya Andreas Harefa, Gede Prama, Paulo Preire, serta buku motivasi yang dirajut dengan kata-kata yang amat sederhana, sehingga bisa dimengerti oleh khalayak yang lebih luas. Sejak saat itu, saya berpisah dengan pemikir besar, berikut mulai keranjingan dengan inspirasi para motivator yang memberikan sajian sukses belajar secara instan, menjadi pebisnis hebat, dan sebagainya.
Dan usai kuliah, saya kembali merindukan pemikiran mengakar ke dalam. Hanya saja pilihan yang saya ambil bukan pemikiran radikal bernuansa filsafat. Saya tergerak membaca karya-karya berdaras sufi. Kendati bukan pelaku sufi sejati, saya terus terang semakin hari menyukai karya-karya sufi yang menyajikan sebuah pola guna menggapai kebenaran dengan penyucian hati. Ketika hati suci, menurut para sufi, orang bakal bisa melihat, bahkan mengalami kebenaran yang sejati. Mereka meyakini kebenaran bermukim di dalam diri kita, tidak berada di luar dirinya. Yang membuat manusia terhalang memeroleh kebenaran, lantaran hatinya masih kotor. Apa tanda hati kotor? Hati yang kotor cenderung dihinggapi riya’, dengki, dan sombong. Hanya orang yang berusaha mengikis riya’, dengki, dan sombong itulah yang insya Allah bakal memeroleh cahaya kebenaran yang hakiki.
Orang bisa memeroleh kebenaran, bukan sebatas wacana, tetapi berkait dengan pengalaman ruhani. Pengalaman ruhani ini masih rindu ingin saya jalani....
Hanya sebuah tutur....
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Saya pun tersihir oleh pemikiran mereka yang begitu memukau tentang Islam yang inklusif. Membaca deretan pemikiran mereka, terekam kehalusan akal budi dan kejernihan berpikir, dan saya menyimpulkan, itulah makna dari intelektual. Tanpa saya sadari, saya tengah menelusuri lorong-lorong terang pemikiran pemikir besar yang dijelmakan dalam bentuk tulisan ilmiah. Sejak saat itu, saya terus bergulat, berperang, berdebat, bahkan bercinta dengan teks. Teks mencurahi ide-ide bernas, menerobos tradisi-tradisi yang kaku, dan berusaha mempola perubahan dengan keindahan. Karena itu, tak aneh pemberontakan lewat intelektual lebih mengena bagi orang-prang cerdas, ketimbang kekuatan anarkis. Itulah yang diyakini para pemikir-pemikir handal yang masuk dalam kancah aktivitas intelektualisme.
Namun, pengetahuan ilmiah tanpa didasari pengetahuan agama yang mendalam, cenderung menyeret orang ke ranah kesombongan intelektual. Padahal mereka menyadari, pemikiran mereka terbatas dan terbukti kalah bila dibenturkan dengan pemikiran lain yang lebih mengakar ke dalam. Kita insya Allah bisa menggali dan menemukan kebenaran sejati, jika bisa memadukan ilmu dan agama. Filsafat berguna guna membuka eksistensi kebenaran, dan agama menjadi sumbu penggerak guna menyapa kebenaran tersebut.
Bagi saya, potensi berpikir yang rumit-rumit tersebut lama terkubur, karena sejak menginjakkan kaki di dunia perguruan tinggi lebih sering dipertemukan dengan teks-teks yang praktis, pelatihan-pelatihan praktis, dan membuat dimensi harus disajikan secara sederhana. Kesederhanaan, katanya, gampang dipahami dan dimengerti oleh orang lain. Makanya saat jadi mahasiswa, saya lebih gandrung dengan daras pemikiran praktis, kendati mendalam, seperti karya Andreas Harefa, Gede Prama, Paulo Preire, serta buku motivasi yang dirajut dengan kata-kata yang amat sederhana, sehingga bisa dimengerti oleh khalayak yang lebih luas. Sejak saat itu, saya berpisah dengan pemikir besar, berikut mulai keranjingan dengan inspirasi para motivator yang memberikan sajian sukses belajar secara instan, menjadi pebisnis hebat, dan sebagainya.
Dan usai kuliah, saya kembali merindukan pemikiran mengakar ke dalam. Hanya saja pilihan yang saya ambil bukan pemikiran radikal bernuansa filsafat. Saya tergerak membaca karya-karya berdaras sufi. Kendati bukan pelaku sufi sejati, saya terus terang semakin hari menyukai karya-karya sufi yang menyajikan sebuah pola guna menggapai kebenaran dengan penyucian hati. Ketika hati suci, menurut para sufi, orang bakal bisa melihat, bahkan mengalami kebenaran yang sejati. Mereka meyakini kebenaran bermukim di dalam diri kita, tidak berada di luar dirinya. Yang membuat manusia terhalang memeroleh kebenaran, lantaran hatinya masih kotor. Apa tanda hati kotor? Hati yang kotor cenderung dihinggapi riya’, dengki, dan sombong. Hanya orang yang berusaha mengikis riya’, dengki, dan sombong itulah yang insya Allah bakal memeroleh cahaya kebenaran yang hakiki.
Orang bisa memeroleh kebenaran, bukan sebatas wacana, tetapi berkait dengan pengalaman ruhani. Pengalaman ruhani ini masih rindu ingin saya jalani....
Hanya sebuah tutur....
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Kamis, 11 Juni 2009
SABAR ITU…..
Suatu saat saya mengunjungi pertamanan yang ramai dengan orang-orang bersenam pagi. Di situ ada yang bertampang kakek-nenek, ibu-ibu, dan remaja. Di sebuah pagi yang indah itu, mereka mempergunakannya untuk senam pagi demi menyehatkan dan membugarkan tubuhnya. Mereka telah memilih untuk bersenam pagi demi sebuah tujuan yang jelas. Tetapi bagi orang yang malas-malasan kerap mempergunakan waktu pagi untuk tidur kembali selepas subuh, sembari menunggu datangnya mimpi indah di pagi hari.
Orang-orang yang bersenam itu memiliki tujuan yang jelas, dan dia berusaha untuk mengalami dan merealisasikan tujuan tersebut secara maksimal. Ada mendambakan berbadan kekar, mendambakan makin singset, atau mendambakan makin sehat. Untuk mencapai tujuan itu dia harus menjalani proses dengan kesabaran, determinasi, kesungguhan, ketekunan, dan terus-menerus.
Pun dalam peningkatan spiritual, kita harus berlatih sabar dalam menjalani proses. Jika kita hendak mencapai maqam yang elit dalam persoalan duniawi saja harus terus berusaha dengan penuh kesabaran, apalagi mencapai maqam spiritual yang tinggi. Kesabaran sebuah upaya untuk melatih jiwa kita agar makin kuat dalam memegang amanah yang lebih besar. Jika kita bertekad untuk mencapai maqam bahagia, maka kita harus bersabar mendapatkan pelbagai ujian yang menimpa kita. Teruslah bersabar, pupuskan setiap perasaan yang membawa pada keputus-asaan. Setiap kali menghadapi sebuah problem maka kita berada di persimpangan antara sukses dan gagal, dan ketika kita sabar dalam menghadapi problem tersebut, insya Allah kita akan terbimbing untuk menggapai kesuksesan. Sebaliknya orang yang tidak sabar, bakal terus-menerus berada dalam kegagalan, alias gagal dalam bersikap. Dengan kesabaran kita bakal memeroleh pelajaran yang amat berharga dari setiap pengalaman yang dijalani.
Perlu disadari, sabar (ash-Shabr) tidak sama dengan malas-malasan (al-kasl). Tetapi sabar mengandung makna bersungguh-sungguh atau berjuang (al-jihad). Sabar bukan reaksi, tetapi respons yang mantap. Karena reaksi digerakkan oleh hawa nafsu, dan respons digerakkan oleh hati nurani. Respons disini berarti respons (able), atau bertanggung jawab, bukan melempar tanggung jawab. Pendek kata, orang yang bersabar selalu berusaha dan berhasil menundukkan hawa nafsu, dan mengedepankan hati nurani dalam menyelesaikan masalah.
Ingatlah saudaraku, tujuan tidak sebatas dipahami dan diyakini, namun memerlukan sebuah proses “aksi” yang mengantarkan kita sampai pada tujuan tersebut. Sabda guru, “Tujuan tidak cukup hanya dimengerti, namun perlu dialami.” Kata ini singkat, tetapi bisa menjadi pengungkit motivasi dahsyat bagi saya. Dalam menjalani proses, kita dituntut untuk bersabar, karena musti manusia menghadapi berbagai challenge (tantangan) untuk menggapai kesuksesan. Kebahagiaan dan kepuasan batin terletak saat berhasil melampaui tantangan demi tantangan untuk mencapai tujuan. Jika Anda bersabar menghadapi ujian dan tantangan hidup, maka di depan Anda terbentang kesuksesan yang luar biasa. Saya pun meyakini bahwa dengan bersabar menghadapi tantangan yang dianugerahkan oleh Allah, maka manusia bakal bisa melompati kesuksesan yang luar biasa. Orang bersabar tidak pernah berhenti dengan keadaan hari ini, dia terus berjalan untuk melampaui tantangan demi tantangan hingga dia mencapai kebahagiaan tanpa batas.
Manakala kesabaran manusia tidak terbatas, maka dia akan memperoleh suatu yang tak terbatas pula dari Allah SWT. Ya, demikianlah ciri orang sukses, dia tidak pernah membatasi kesabaran. Hanya orang-orang pecundang yang selalu berkata, “sabar itu ada batasnya.” Manakala sabar dalam kebaikan itu ada batasnya, berarti dia telah membatasi rahmat Allah SWT. Karena sesungguhnya rahmat Allah memancar dibalik kesabaran “yang keras”. Allah berfirman, “…sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” Kesabaran yang tanpa batas, niscaya bakal memperoleh kesuksesan tanpa batas pula Wallahu a’lam bish showaab.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Orang-orang yang bersenam itu memiliki tujuan yang jelas, dan dia berusaha untuk mengalami dan merealisasikan tujuan tersebut secara maksimal. Ada mendambakan berbadan kekar, mendambakan makin singset, atau mendambakan makin sehat. Untuk mencapai tujuan itu dia harus menjalani proses dengan kesabaran, determinasi, kesungguhan, ketekunan, dan terus-menerus.
Pun dalam peningkatan spiritual, kita harus berlatih sabar dalam menjalani proses. Jika kita hendak mencapai maqam yang elit dalam persoalan duniawi saja harus terus berusaha dengan penuh kesabaran, apalagi mencapai maqam spiritual yang tinggi. Kesabaran sebuah upaya untuk melatih jiwa kita agar makin kuat dalam memegang amanah yang lebih besar. Jika kita bertekad untuk mencapai maqam bahagia, maka kita harus bersabar mendapatkan pelbagai ujian yang menimpa kita. Teruslah bersabar, pupuskan setiap perasaan yang membawa pada keputus-asaan. Setiap kali menghadapi sebuah problem maka kita berada di persimpangan antara sukses dan gagal, dan ketika kita sabar dalam menghadapi problem tersebut, insya Allah kita akan terbimbing untuk menggapai kesuksesan. Sebaliknya orang yang tidak sabar, bakal terus-menerus berada dalam kegagalan, alias gagal dalam bersikap. Dengan kesabaran kita bakal memeroleh pelajaran yang amat berharga dari setiap pengalaman yang dijalani.
Perlu disadari, sabar (ash-Shabr) tidak sama dengan malas-malasan (al-kasl). Tetapi sabar mengandung makna bersungguh-sungguh atau berjuang (al-jihad). Sabar bukan reaksi, tetapi respons yang mantap. Karena reaksi digerakkan oleh hawa nafsu, dan respons digerakkan oleh hati nurani. Respons disini berarti respons (able), atau bertanggung jawab, bukan melempar tanggung jawab. Pendek kata, orang yang bersabar selalu berusaha dan berhasil menundukkan hawa nafsu, dan mengedepankan hati nurani dalam menyelesaikan masalah.
Ingatlah saudaraku, tujuan tidak sebatas dipahami dan diyakini, namun memerlukan sebuah proses “aksi” yang mengantarkan kita sampai pada tujuan tersebut. Sabda guru, “Tujuan tidak cukup hanya dimengerti, namun perlu dialami.” Kata ini singkat, tetapi bisa menjadi pengungkit motivasi dahsyat bagi saya. Dalam menjalani proses, kita dituntut untuk bersabar, karena musti manusia menghadapi berbagai challenge (tantangan) untuk menggapai kesuksesan. Kebahagiaan dan kepuasan batin terletak saat berhasil melampaui tantangan demi tantangan untuk mencapai tujuan. Jika Anda bersabar menghadapi ujian dan tantangan hidup, maka di depan Anda terbentang kesuksesan yang luar biasa. Saya pun meyakini bahwa dengan bersabar menghadapi tantangan yang dianugerahkan oleh Allah, maka manusia bakal bisa melompati kesuksesan yang luar biasa. Orang bersabar tidak pernah berhenti dengan keadaan hari ini, dia terus berjalan untuk melampaui tantangan demi tantangan hingga dia mencapai kebahagiaan tanpa batas.
Manakala kesabaran manusia tidak terbatas, maka dia akan memperoleh suatu yang tak terbatas pula dari Allah SWT. Ya, demikianlah ciri orang sukses, dia tidak pernah membatasi kesabaran. Hanya orang-orang pecundang yang selalu berkata, “sabar itu ada batasnya.” Manakala sabar dalam kebaikan itu ada batasnya, berarti dia telah membatasi rahmat Allah SWT. Karena sesungguhnya rahmat Allah memancar dibalik kesabaran “yang keras”. Allah berfirman, “…sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” Kesabaran yang tanpa batas, niscaya bakal memperoleh kesuksesan tanpa batas pula Wallahu a’lam bish showaab.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Selasa, 09 Juni 2009
KETIKA RUMAH DITINGGAL MERANTAU
Adalah sebuah keluarga yang bisa disebut mewah dalam ukuran orang desa. Kepala keluarga ini bernama Pak Jufri, bermula dari kesetiaan pada anak-anaknya, beliau selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik dan tak ingin mengecewakan mereka. Beberapa tahun, beliau menikmati hidup yang berkecukupan, dan anaknya pun ikut mengecap kemewahan yang diperolehnya. Namun, sang anak yang tak pernah mengerti bagaimana kerja keras yang dilakukan sang ayah, sering berlaku tidak setia pada Pak Jufri, mereka lebih suka menguras pundit-pundi kekayaan Pak Jufri.
Anak pertamanya, Sofar. Ia dikuliahkan ke Jakarta sama Pak Jufri, di sebuah Perguruan Tinggi elit. Hanya saja, di Jakarta, Sofar menghabiskan waktunya dengan aktivitas yang sia-sia, tidur, nonton film, dan cangkruk dengan teman-temannya. Ya kedua, Zainal, Zainal memilih hidup sebagai anak jalanan yang selalu gamang menentukan arah tujuan hidupnya. Memang, hidupnya tak pernah terarah dengan baik. Putera ketiga, Kamal. Kamal dipondokkan ke pesantren. Kamal hanya hobi nyantri, namun tak hobi ngilmu. Karena kamal sering pindah-pindah pesantren, akhirnya Kamal dipondokkan ke luar negeri, tepatnya sebuah pesantren Arab Saudi. Ia balajar disana bertahun-tahun, namun saya tak mendengar kemajuan Kamal dalam hal pengetahuan, yang terdengar dia masih seperti dulu, tak ada perubahan yang berarti. Pak Jufri sebenarnya berharap sekali Kamal fasih berbahasa Arab dan menjadi anak yang sholeh hingga bisa membimbing anak muda desa mengaji al-Qur’an dan membaca kitab kuning. Harapan pak Jufri tinggal serakan harapan yang tak terjalin dalam kenyataan. Mungkin ada rasa kecewa yang meredam di dada Pak Jufri, melihat semua anaknya tidak seperti yang diharapkan.
Sudah banyak harta yang dikeluarkan untuk menyekolahkan dan menyantrikan anak-anaknya, kini Pak Jufri harus merantau ke kota dekat Lombok sana bersama seluruh keluarganya agar bisa mendulang harta dan hidup mewah seperti dulu. Keputusan Pak Jufri sekeluarga merantau otomatis nasib rumahnya tak lagi berpenghuni. Bertahun-tahun Pak Jufri tenggelam dalam aktivitas perdagangan di luar pulau, sekarang rumahnya berjubel dengan rumput. Rumah yang tak terawat itu bertampang bak sawah yang ditanami beragam tanaman. Bisa jadi semak belukar yang mengelilingi rumah Pak Jufri telah menyulapnya menjadi hunian asri buat ular, tikus, kecoak, dan sebangsanya. Pak Jufri telah meninggalkan rumahnya dan merantau demi mencari kejayaan yang pernah diraihnya.
Berkaca dari cerita tersebut, tanpa disadari kita seperti sosok Pak Jufri dan keluarganya yang telah meninggalkan hunian kita yang sejati tak terawat, lantaran ingin memuaskan keinginan yang bersifat sementara. Pak Jufri meninggalkan rumah jasadnya, namun kita telah meninggalkan rumah jiwa kita sendiri. Betapa setiap saat, kita meninggalkan orientasi akhirat demi sebatas memenuhi kepentingan duniawi yang bersifat sementara. Kita sering mati-matian memperbaiki hidup kita yang berada di perantauan (duniawi), ketimbang bekal hidup di akhirat nanti. Karena berupayalah agar amal-amal yang kita lakukan bisa membuat akhirat kita tertata asri dan membuat hati menjadi nyaman, yakni rumah akhirat yang menghadirkan suasana surgawi.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Sabtu, 30 Mei 2009
MELUMAT DIRI YANG KASAR
“Ah…! mengapa begitu sulit melumat diri sendiri,” teriak batinku. Anda tahu sendiri setiap kata seolah memberi penerangan, namun mungkinkah ada lampu yang terang dalam hati? Kemunafikan kerap merongrong perasaan ini hingga sulit meraih kebeningan dalam setiap kata. Banyak kata belum menjelma sebagai perbuatan yang hakiki. Tak bisa dibayangkan, kalau diri saya seperti orang mengayak pasir, yang halus keluar, tetapi kerikil yang kasar masih melekat. Betapa sering terungkap kata-kata suci, sarat kearifan, meski sesungguhnya hati masih jauh dari kesucian dan kearifan itu. Mungkinkah ini yang dimaksud punguk merindukan rembulan? Masih sering menuding orang dengan segenap kesalahan, sehingga lalai akan kekeliruan yang lengket pada diri sendiri. Kerap kali berpikir perkara besar, namun lalai dengan urusan-urusan kecil.
Tak kebayang, saat publik tengah terpesona oleh perbincangan tentang Pilpres, saya juga terbawa-bawa untuk mengulas, menganalisa, dan memberikan penilaian tentang tokoh, tak kalah dengan pengamat politik yang beken di negeri ini. Bedanya, kalau pernyataan politisi dituliskan dan disiarkan media massa secara luas, sementara kata-kata saya hanya didengarkan diri sendiri. Bagaimana orang lain mau mendengarkan, kalau yang dikatakan membuat orang bingung dan gamang. Alih-alih mendapatkan pencerahan politik, hanya sebatas menyisakan kemarahan yang menggumpal menjadi kesusahan.
Di tengah sibuknya politisi meraih kekuasaan, saya kadang terlena menonton perang wacana yang dihelat mereka. Makin terlena, otak ini dipenuhi beragam informasi yang membuat diri makin jauh dari ketenangan, berikut saya dinyatakan positif “political addictive”. Seolah kalau tak membumbui perbincangan dengan politik, pikiran ini jadi gatal, dan terus didorong-didorong berbicara politik. Kadang menyalahkan langkah politik partai ini, capres ini, dan kadang ikut-ikut meneliti jejak rekam para capres-cawapres, tak kalah dengan KPK. Saat mendengar berita, calon pemimpin itu kaya raya, bahkan ada satu sosok yang punya kekayaan trilliunan, hatiku bergidik. Seperti apa uang 1 trilliunan? Bolehkah saya memegangnya sebentaaar saja? “Kok jadi hubbud dunya gini ya?”
Kalau elit berpikir kekuasaan. Tetapi sahabat saya berpikir memenuhi hidupnya yang masih kempang-kempis. Lumayan, ia masih baru membangun rumah tangganya. Memang, ia cepat-cepat menikah, untuk mengurangi kemaksiatan. Dia sempat meminta pertimbangan saya sebelum menikah, kendati saya sendiri belum menikah. Setelah mengetahui akar permasalahannya, saya memintanya menikah. Ya, sahabat saya ini, bukan karyawan, hanya seorang pemelihara burung. Ia tidak bisa menaksir pendapatan yang diperoleh dari memelihara burung tersebut setiap bulannya. Meski demikian, dia memeroleh pendapatan lain dari antar jemput anak SD. Cukuplah bertahan hidup bersama istrinya.
Suatu ketika, sahabat saya itu, sakit paru-paru. Memang, karena sudah bertahun-tahun berbatuk, dan batuk yang sekarang mengeluarkan darah mengental. Saat periksa di RS Dr Soetomo, dia mencari-cari pelayanan umum, yang kiranya memberikan pelayanan gratis. Eh, ternyata dia harus dirawat di kamar spesialis paru-paru. Namun, sebelum dirawat dia harus menandatangani perjanjian yang telah disediakan dokter. Melihat ada uang yang harus dibayarkan dalam perawatan tersebut, ia pun mengurungkan niat untuk diperiksa secara intensif. Kata dokter, “kamu harus dirawat inap, kalau tidak penyakitmu akan semakin parah,” “Biarlah dokter saya rawat di rumah saja, ketimbang harus mengeluarkan uang yang begitu banyak.” Ujar temanku dengan polos. “Mas, harus tetap dirawat disini, karena menurut UU Kesehatan, rumah sakit tidak boleh menolak pasien lantaran masalah uang, “tukas dokter lagi. “Enggak apa-apa pak, saya mau dirawat di rumah saja,” seloroh temanku.
Bercermin pada temanku yang amat sederhana ini, saya terpaku memikirkan diriku sendiri yang masih bisa terbang bebas, belum berkeluarga, sehat wal’afiat, dan masih bisa mempertahankan hidup di Surabaya dengan karunia Allah yang begitu melimpah. Ya, mungkin secara lahiriah saya amat beruntung, namun secara batiniah, temanku mungkin lebih beruntung, karena dia telah menjalani rentetan kehidupannya dengan semangat sabar yang tak memudar. Dia mampu bersabar dengan segenap latihan-latihan yang menghantam, gurat-gurat kedewasaan mulai terpancar dari wajahnya yang terlihat polos dan penuh kejujuran.
Dia tetap bersabar dengan musibah yang datang. Namun, saya masih harus berguru padanya guna melatih kesabaran. Temanku adalah guruku yang telah mengajari tentang arti kesabaran. Sabar tidak benderang dalam kata, tetapi menjadi cahaya dalam sikap keseharian. Memang, sabar tak cukup hanya dilontarkan oleh tebaran kata, namun harus menjadi bagian dari sikap hidup sehari-hari. Dan dengan kekuatan sabar itulah, saya meyakini bisa “melumat diri yang kasar.” Manakala saya sudah berhasil melumat dan menggusur yang kasar, maka kehalusan budi bakal menghias hidup ini. Insya Allah.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
Kamis, 28 Mei 2009
MARI MENONTON DIRI SENDIRI
Demikian beragam tontonan menguras perhatian kita selama ini. Betapa banyak diantara kita terbius oleh tontonan televisi, aneka pernak-pernik, kemilau duniawi yang serbaneka, pertunjukan para pemimpin yang tengah bertarung merebut kursi panas, dan seterusnya. Makin banyaknya tontonan yang tergelar sarat sensasi di hadapan kita, kadang membuat kita lupa menonton diri sendiri. Inilah saatnya kita menonton diri sendiri, memosisikan diri sebagai obyek yang ditonton. Bagaimana cara menonton?
Menonton membutuhkan mata dan cahaya. Tanpa mata dan cahaya kita tak bisa menonton. Meski cahaya benderang menyinari kehidupan kita, namun tanpa didukung mata, niscaya obyek yang ditonton tak bisa dilihat. Sebaliknya, andai mata sehat, namun tak ada cahaya yang membersit, kita pun tak bisa menonton. Karena itu, ketika hendak menonton perlu memadukan kekuatan mata dan cahaya.
Mata perlambang dari mata hati (akal). Saat Anda hendak menonton diri sendiri, hidupkan mata hati sehingga bisa melihat secara gamblang film kehidupan Anda sendiri. Cahaya simbol dari cahaya Ilahi. Cahaya Ilahi berupa petunjuk Allah SWT. Bersandarlah sepenuhnya pada kebaikan Allah, semoga cahaya Ilahi itu membersit dalam hati kita. Andai cahaya Ilahi juga belum menghinggapi diri kita, berusahalah berdampingan dengan sosok mulia yang telah tersaluri cahaya Ilahi. Rasulullah bersabda, “Orang beriman adalah cermin bagi orang yang beriman.”
Cermin tempat kita berkaca tentang diri secara sederhana. Cermin akan memantulkan sosok kita yang sejati. Lewat cermin pula kita bisa mengukur, menimbang, dan menilai diri kita secara jernih. Sosok yang jernih dan terliput kebaikan patut dijadikan cermin, karena darinya terpancar magnet kebaikan yang berdaya pesona.
Sebelum menonton diri sendiri, kita perlu menghidupkan mata hati dengan cara menggerus biji egoisme yang masih bersarang dalam kesadaran kita. Karena egoisme sering menghalangi mata hati untuk melihat diri secara gamblang. Buatlah kita berjarak dengan diri sendiri, kita menonton diri seperti menonton orang lain. Tataplah lekat-lekat diri kita dengan mata hati, maka kita akan mengetahui secara jernih, siapa diri kita yang sebenarnya. Boleh kita memutar kembali film masa lalu yang pernah ditapaki. Dari rentetan film itu, kita bakal memahami secara dekat karakter dan kebiasaan hidup kita. Setelah itu kita memeroleh pemahaman “siapa diri kita”.
Ketika kita terbiasa menonton diri dengan cara membuat jarak terhadap diri sendiri, maka kita tak akan terlalu terikat oleh keadaan yang datang silih berganti, entah musibah atau nikmat. Seperti kita menonton televisi, ada saja lintasan kesedihan dan kebahagiaan mewarnai penggalan demi penggalan adegan tersebut. Ketika kita menonton diri sendiri secara utuh, akan ditemukan keindahan-keindahan yang tak terlukiskan kata-kata. Juga dengan menonton diri sendiri, kita bakal menemukan kenyataan menakjubkan yang tak bisa dikadar dengan akal yang berlimit. Kebiasaan kita menonton diri sendiri juga akan memandu kita untuk menggerus jalan setapak sempit “berupa keakuan” bergantikan jalan raya ditandai oleh terbangunnya jiwa universal, cinta universal. Dan hidup Anda tergabung dengan jiwa kemanusiaan, bahkan jiwa semesta.
Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya
YANG TERJADI ADALAH YANG TERBAIK
Adalah kebaikan telah melekat pada segala sesuatu. Hanya orang yang tak bisa menelisiki kebaikan yang tak berhasil merasakan kebaikan dalam segala sesuatu. Mengapa setiap yang terjadi dipandang yang terbaik? Mesti diantara kita ada yang hendak protes, jika setiap kejadian dipandang suatu yang terbaik. Lantaran hidup terus didera kesulitan dan ditempa cobaan, menggerakkannya membuat kesimpulan, hidup tak terliputi kebaikan. Bagi seorang anak, yang dibangunkan sang ibu saat subuh tiba sembari diajak ke masjid untuk shalat berjamaah, maka akan muncul dua sikap. Jika tidur dianggap yang terbaik, niscaya si anak menilai perlakuan sang ibu – membangunkan dari tidur pulasnya – tidak baik. Sebaliknya, jika si anak menganggap perlakuan ibu untuk melatih kedisiplinan beribadah, maka itulah yang terbaik. Dan kalau disorot dari kacamata yang bening, motivasi sejati si ibu adalah untuk meneguhkan kedisiplinan si anak dalam beribadah.
Kebaikan Allah itu melampaui kebaikan seorang Ibu. Setiap perbuatan Allah bagi makhlukNya telah diramu dengan spirit kebaikan. Hanya bagi orang tidak menyadari rahasia kebaikan Allah, tergerak untuk protes atau berlaku jengkel dengan apa yang terjadi. Mengapa perasaan jengkel, marah, dan kesal kerap menyelubungi hati dalam bentuk respons negatif terhadap kejadian? Karena mereka menilai kebaikan dari lensa pikirannya yang terbatas. Karena itu, perlu kiranya kita bercermin pada firman Allah, “… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216).
Bagi orang yang belum dewasa secara spiritual, cenderung berlaku resisten atau menolak atas peristiwa atau kejadian pahit yang menimpa dirinya. Namun, bagi yang dewasa selalu menggemakan spirit “alhamdulillah” di setiap kesempatan, lantaran mereka telah melihat kebaikan di langit-langit kehidupan ini. Mereka berhasil meliput secara utuh bangunan kehidupan ini. Ya, ketika kita melihat hidup secara parsial, bisa jadi banyak nuansa yang memancing kejengkelan, namun ketika melihat secara utuh, maka yang tersisa hanya kesan keindahan yang tak pernah pudar.
Andaikan desain makro kehidupan itu kebaikan, mengapa banyak orang tidak bisa mencerap kebaikan dalam bentuk kebahagiaan? Yang membuat orang tidak mendapati kebahagiaan, lantaran lemahnya keyakinan yang berujung pada rapuhnya semangat berserah diri. Pribadi yang berserah diri telah memahatkan keyakinan dalam hatinya, Allah memiliki sifat Qudrah (Maha berkuasa), Iradah (Maha Berkehendak), Ilmu (Maha Tahu), dan Hayah (Maha Hidup). Lewat sifat Allah yang agung itulah peristiwa demi peristiwa dan kejadian demi kejadian menyeruak ke permukaan. Berarti, setiap peristiwa dan kejadian telah diramu dengan sifat-sifat Allah Yang Agung itu. Setiap peristiwa mencerminkan kuasa Allah, kuasa Allah mengikuti kehendak Allah, kehendak Allah mengikuti ilmu Allah. IlmuNya yang tak terbatas dan Maha Luas memantapkan keyakinan di hati, seluruh peristiwa dan kejadian telah ditata dengan ilmuNya. Manusia tak bisa menjangkau ilmuNya yang demikian luas. Lebih dari itu, setiap lekuk kehidupan terliput rahmat Allah yang demikian luas tak terbatas. “…Allah berfirman ‘Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu…” (QS. Al-A’raf [7]: 165).
Berpijak pada ayat diatas, pantaslah bagi kita memilih sikap berserah diri selaku refleksi keyakinan utuh atas kebaikan Allah, sembari menyadari segala sesuatu telah diliputi rahmat Allah. Pun terpahat dalam kesadaran sejati, tak ada yang salah dalam takdir.
Kala kita menyadari bahwa yang terjadi itulah yang terbaik, niscaya kita bakal berhasil menikmati kehidupan dari waktu ke waktu, dari detik ke detik, dan dari momen ke momen yang terus berjalan. Tak pernah tersandera masa lalu, lantaran cuma masuk dalam figura kenangan semata, dan tak tertarik dengan masa depan, karena masa depan hanya dalam mimpi. Dan hari ini sebagai kenyataan pasti yang harus dihadapi dan dinikmati dengan mental syukur.
Sungguh, andai kebaikan disandarkan pada keinginan manusia, niscaya kehidupan ini akan karut-marut, sembrawut, dan terus mengalami benturan satu sama lain. Mengapa? Lantaran setiap orang memiliki keinginan masing-masing. Bayangkan, tukang jas hujan menginginkan hari-hari tetap dalam keadaan hujan agar produknya laku keras, namun tukang jual es menginginkan setiap hari terik matahari yang membuat manusia haus, sehingga esnya terjual. Ketika desain kehidupan disandarkan pada keinginan manusia, niscaya kehidupan menjadi sembrawut karena setiap otak punya keinginan sendiri-sendiri.
Sungguh amat bijaksana, jika kebaikan bertumpu pada kehendak universal, yakni kehendak Allah SWT yang Maha Mengetahui rahasia kehidupan. Andaikan di depan kita telah dihidangkan menu makanan, kita tinggal melahap menu tersebut dengan jiwa syukur. Orang yang memiliki keinginan tak bisa hidup hari ini. Meski dia telah memeroleh apa yang diinginkan, niscaya akan tumbuh keinginan berikutnya. Betapa tersiksanya orang yang terpenjara oleh keinginannya. Jika ada orang yang hidup di istana bertatahkan emas, namun masih diberondong keinginan, maka kebahagiaan tidak memeluk dirinya. Dan ada gelandangan hidup di jalanan, namun ia tak terjebak dengan aneka keinginan. Bahkan, ia memilih untuk terus mengikuti arus takdir tanpa resisten sedikit pun. Dengan sikap tersebut, insya Allah kebahagiaan merambat ke dalam jiwanya.
Pun kebahagiaan sulit mengembang di rongga hati lantaran selalu fokus dengan tujuan. Andaikan Anda pergi ke Jakarta dengan menaiki kereta api, tapi di pikiran Anda hanya terfokus pada Jakarta, didera rasa penuh terburu-buru agar segera sampai ke tujuan, niscaya Anda tidak bisa menikmati dan menghayati perjalanan menuju Jakarta. Sungguh, amat disayangkan perjalanan yang harusnya menghadirkan kenikmatan telah terbajak keinginan yang belum tentu terjadi. Selayaknya Anda bisa menikmati perjalanan itu dengan melihat petak-petak sawah yang dihiasi tanaman hijau, memandangi deretan pohon bergelantungan buah yang berdiri kokoh di pinggir jalan, atau bisa memandangi petani yang tengah bermesraan dengan pertaniannya. Sungguh, andaikan Anda berusaha menghayati dan meresapi setiap lekuk perjalanan itu, niscaya kenikmatan akan terasa menerangi kesadaran Anda.
Patutlah kiranya kita tidak terlalu berlebihan memikirkan tujuan. Dikarenakan orang yang cenderung fokus memikirkan tujuan, akan terbajak dalam dunia ilusi. Dunia yang tidak membuatnya bisa hidup saat ini. Pikiran hanya tertuju pada impian, bayangan, dan ilusi masa depan yang belum tentu ditemui. Lantaran itu, mereka tidak pernah peduli dengan hari ini, apalagi menikmati. Meski pun hari ini menyodorkan emas, maka terasa sebagai tembaga. Meski disuguhkan makanan yang lezat, baginya terasa basi dan tak menggairahkan. Seberapapun uang berada di kantong, tanpa dijiwai dengan kekinian, niscaya kebahagiaan tak akan juga berkunjung.
Demikianlah, ciri orang yang selalu terkurung dalam ilusi yang semu. Ilusi akan terus menyergap manusia dalam penderitaan dan kekecewaan, tak ayal wajahnya jauh dari kesumbringahan, keningnya pun terkesan selalu mengerut, sikapnya seolah selalu ditindih ketegangan demi ketegangan. Kalau demikian, darimana dia bisa merengkuh ketenangan atau kebahagiaan? Andaikan dia mengerti, ternyata kebahagiaan tak berada saat orang memikirkan yang akan datang. Kebahagiaan memantul kala manusia merenungi dan mensyukuri keadaan hari ini. Kebahagiaan akan mekar setara dengan semangat syukur yang mengembang atas keadaannya saat ini. Dalam syukur terbungkus kebahagiaan.
Pun agar kita bisa menghayati dan menikmati hari ini, perlu kiranya dibenamkan dalam hati kita masing-masing untuk berserah diri pada Allah. Karena bercokolnya panglima pikiran dalam hidup kita, sikap berserah diri kadang sulit dijalani. Kendati demikian, kita terus berlatih berserah diri dengan melepaskan jerat pikiran yang cenderung memilah dan memilih sehingga mau menerima kenyataan yang hadir dengan lapang. Tidak timbul sedikit pun sikap resisten atas kenyataan yang berkunjung. Andai kita telah luruh di hadapan Allah dengan hidup tanpa resistensi sedikit pun, terkristalisasi semangat berserah diri, walhasil insya Allah kebahagiaan akan tercurah dalam hati kita.
Begitu bermakna dan pentingnya berserah diri, patut kiranya kita memungkasi tulisan ini dengan sepenggal kata hikmah penuh daya, “Ketika kita berserah diri dan menerima bahwa yang terjadi itulah yang terbaik, maka setiap saat akan menjadi saat yang penuh kebahagiaan.” Wallahu A’lam bis Showaab.
KH. Dr. M. Dhiyauddin Qushwandhi
Pentranskripsi: Khalili Anwar
Langganan:
Postingan (Atom)