Senin, 15 Maret 2010

MENGULITI CAHAYA BAHAGIA

Saya sempat bertemu dengan bapak yang sudah berumur, yang tengah didera persoalan yang amat kompleks. Istri dan anaknya sudah tidak lagi bisa dijadikan pandangan yang menyejukkan mata, tatapan tetangga dirasa sebagai ajakan permusuhan, perilaku orang-orang sekelilingnya terasa kurang bersahabat. Dia mempersepsi tak ada lagi tempat berteduh untuk mengungkapkan perasaan dan gelora kegundahan yang membungkamnya. Saat saya bertemu dengannya, saya berusaha menjadi pendengar dan teman bicara terbaik, mau berempati untuk mendengarkan seluruh keluh-kesah, dan kekecewaan yang sepertinya membetot seluruh perasaannya. Dia berusaha mengungkapkan permasalahan yang menghadang dan mendekap dirinya. “saya mendapatkan ujian yang besar dari Allah, keluarga tidak lagi punya perhatian dan welas asih padaku, semua orang seakan telah memusuhi diriku. Karenanya aku berusaha meninggalkan mereka sementara waktu untuk bisa menyadarkan mereka. Tetapi sayang, mereka tidak juga sadar, “katanya dengan wajah penuh kerisauan.

“setiap hari saya berusaha menjaga perasaan, saya tidak sebatas diremehkan oleh keluarga, tetapi tetangga pun kerap melemparkan pandangan kecut terhadap saya. Saya tidak pernah merasa berbuat salah pada mereka, saya tidak pernah mengambil hak mereka, atau saya mengemis pada mereka. Sama sekali tidak pernah, tetapi mengapa mereka memandang saya dengan sikap merendahkan,”lanjutnya dengan nada agak meninggi.

Selanjutnya dia melemparkan kesalahan ke banyak orang. Walau dia sendiri tidak lupa menyebutkan kebaikan pada pihak yang lain. Hanya saja ketika dia memadang buruk orang lain, dia mempreteli keburukan itu lebih telanjang. Ketika berbicara kebaikan orang lain, maka dia pun mengungkapkan seluruh kebaikan yang tiada terperihkan. Saya sendiri sedih, kalut mendengarkan sekian pembicaraan yang dilontarkan, memang banyak penuturannya yang masuk akal, hanya saja ketika dia terbelenggu dengan suasana seperti itu, dia tidak akan mengecap kebahagiaan hakiki dalam hidupnya.

Saya menuturkan padanya, kesalahan dan masalah tidak berada di luar diri kita. Kesalahan dan masalah yang kita nilai dan persepsi itu ada dalam hati kita sendiri. Betapa agung pribadi manusia ketika dia berusaha menyalahkan bahkan menertawakan diri sendiri, ketimbang menyudutkan dan menertawakan orang lain. Makanya ketika kita terus meracau menyalahkan orang lain, maka berhentilah sejenak, diam, dan merenung, apakah benar kesalahan yang dialamatkan pada orang lain benar-benar kesalahan, atau ternyata pikiran kita yang selalu memandang dari sudut pandang yang keliru dan salah. Padahal ketika orang terjebak untuk menyalahkan orang lain, dia telah memasokkan api dalam dirinya sendiri, lebih tepatnya menyalakan neraka di dalam dirinya sendiri.

“tidak ada orang yang tersakiti, kecuali dia mengizinkan dirinya untuk disakiti. Dan adanya masalah yang kita lihat pada orang lain, karena mata kita bermasalah. Ketika mata kita bermasalah, maka setiap sudut menampilkan layar masalah. Ketika kita berjalan dalam keadaan pincang, jangan buru-buru menyalahkan tanah yang dijadikan tempat berpijak sebagai tidak rata, tetapi sesungguhnya yang bermasalah adalah kaki kita sendiri. Dan andaikan ada orang buta berjalan di sebuah auditorium yang ditata berjejer di dalamnya kursi dan meja, kemudian si buta berjalan, dan membentur meja dan kursi yang tertata secara rapi, jangan buru menyalahkan bahwa meja dan kursi tidak ditata secara rapi dan diletakkan tempat benar, tetapi karena matanya buta, sehingga tak bisa melihat jalan yang harus dilewati. Masalah tidak berada di luar diri kita, tetapi tengah bercokol dalam hati kita sendiri,” kata saya tanpa beban.

“apa yang harus aku lakukan?” ujarnya meminta nasihat dariku.
“Ingatlah Pak, Allah itu Maha Pengasih dan Maha Lembut. Tidak ada kejadian dan peristiwa kecuali berada dalam kekuasaan Allah, kekuasaan-Nya terbungkus dalam keinginan- Nya yang suci, dan keinginanNya dibungkus dengan ilmuNya Yang Luhur, dan ilmu-Nya dibungkus dengan hikmah yang penuh kasih sayangNya yang tak terbatas. Ketika orang mampu menatap kasih sayang Allah dibalik kenyataan pahit yang dialami, niscaya dia akan selalu berusaha mendekat pada Allah yang menyediakan jalan keluar dari setiap masalah. Ketika keluarga sudah tidak lagi memberikan perhatian, tetangga tidak lagi memberikan energi positif dan senantiasa memandang apa yang kita lakukan keliru, maka sesungguhnya Allah membuka gerbang-Nya selebar-lebarnya agar kau kembali pada-Nya. Fafirruu Ilallah….! Berlari pada Allah SWT. Mengungsi pada-Nya. Mungkin kita pada mulanya melekat pada anak istri, pada harta yang dimiliki, bahkan pada kedudukan, tetapi tidak selama hiasan dunia itu menyertai kita. Setelah kematian menjemput, seluruh hiasan itu pun tanggal dari diri kita. Janganlah kita melekat semelekat-melekatnya pada selain Allah, karena niscaya kita akan dibuat menderita karenanya. Ada orang yang begitu mencintai anaknya, sehingga dia memberikan apa saja yang diinginkan, maka pada saat dewasa anak ini akan tumbuh sebagai orang yang membuat si ayah menderita, karena anak tidak tumbuh secara dewasa, karena sejak anak-anak dia selalu mendapatkan fasilitas dari sang ayah.” Kataku, sembari dia mendengarkan dengan begitu seksama.

“bagaimana bisa berlari pada Allah?”tanyanya
“Ketika orang berlari menuju pada Allah, maka dia bertobat. Menyesali segenap aktivitas dan kemelekatan pada makhluk yang menariknya lupa pada Allah SWT. Bertobat itu kuncinya pak, banyaklah membaca istighfar. Istighfar itulah yang banyak memberikan pencerahan ke dalam hati-hati yang gelap. Kalau kita sudah beristighfar, memohon ampun pada Allah, juga disertai keberanian memaafkan orang-orang yang dianggap bersalah pada kita. Bukankah dengan memaafkan, api kemarahan dan kejengkelan akan padam seketika? Juga membuang kotoran-kotoran busuk yang masih menempel dalam dinding hati kita. Mungkin ada kedengkian menjejali hati, keangkuhan yang mengeraskan jiwa, atau merasa berkuasa daripada orang lain, semua kotoran itu harus dihilangkan. Ketika hati sudah bisa dibersihkan, maka hati sudah siap memantulkan kebaikan semata. Hanya saja, membuang kotoran itu tidak bisa, sebelum program kotoran yang datang dari pikiran dihentikan. Bagaimana cara menghentikannya, ya harus menekuni uzlah, menyingkirkan diri sementara dari pergaulan sehari-hari. Menjauhi kebiasaan berbaur dengan sesama untuk sementara waktu, agar menghadap sepenuhnya pada Allah SWT. Uzlah dilakukan orang suci untuk membersihkan hati, Nabi Musa 40 hari berada di bukit Tursina, membersihkan hati sembari mendapatkan cahaya wahyu dari Allah SWT, Rasulullah Muhammad SAW lama bertahannuts di gua hira’ membersihkan hati, mempersiapkan diri mendapatkan wahyu dari Allah SWT. Tak ketinggalan para wali yang diperankan sebagai penyebar dan penguat agama melakukan uzlah selama bertahun-tahun. Semoga bapak nantinya bisa mendapatkan pencerahan dengan melakukan uzlah, dan menjadikan istighfar sebagai alat membersihkan kotoran yang masih mengerak dalam hati.”lanjutku.

Semoga nasihat sederhana dari orang dungu ini bisa mewariskan pencerahan ke hati sang Bapak, sehingga dia bisa bertemu dan bersua dengan kedamaian dimana saja, berikutnya dia bisa berjalan menjadi cahaya yang mencerahkan sesama. Diri yang juga masih dalam perjalanan menuju taman kebahagiaan ini ingin sekali membagi kebahagiaan dimana pun saja, agar orang bisa merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan tak sebatas dipikirkan, tetapi meresap dalam perasaan hatinya yang halus, lembut, merembes ke sumsum kesadarannya. Ketika orang telah merasakan kebahagiaan, niscaya dia tidak bisa menguraikan dengan kata-kata, walau mampu menguraikannya, pasti tidak bisa menggambarkan secara persis. Kiranya siapa yang bisa menggambarkan rasanya susu, persis dengan rasa yang dicecap, rasa tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Rata-rata orang merengkuh kebahagiaan puncak setelah menapaki penderitaan yang begitu menggetirkan.

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

RASUL, KEMANA AKU BERTEDUH

tiga minggu kemarin, saya pulang memenuhi permintaan Ibunda tercinta yang sudah lama didera kerinduan. Saya pulang berbarengan dengan momen yang ditunggu orang madura, momen Maulidur Rasul. Kelahiran Rasulullah Muhammad SAW mendapatkan sambutan yang begitu meriah di sekitar kampung saya, mungkin juga berlaku di setiap lapisan pelosok di Madura. Semarak kemariahan Maulid tidak hanya bergema di Mushalla, Masjid tetapi berdentum dari rumah ke rumah. Nyanyian shalawat sebagai pantulan kerinduan pada Rasulullah berembus dari rumah-rumah secara bergantian. Saya pulang tepat hari Senin, saya diundang ikut maulid di rumah sepupu. Malam berikutnya di rumah saya sendiri, dan malam berikutnya diselenggarakan di rumah tetangga. Saya begitu bahagia melihat kebiasaan kampung saya yang mempersembahkan cinta pada Rasulullah SAW dengan menyelenggarakan Maulidnya.

Saat menghadiri acara maulid di rumah sepupu, saya mendapatkan uraian hikmah yang menggugah hati dari guru agama saya pada saat berada di bangku MTS An-Najah. Namanya KH. Khozin. Beliau membeberkan dengan renyah dan menggunakan bahasa yang gampang ditangkap pendengar (mustami’in). Beliau mengutarakan tentang adanya hadis dari Rasulullah SAW, kendati diakui dhaif,”Barangsiapa yang mengagungkan kelahirkanku, maka dia mendapatkan syafaat pada hari kiamat,” selain itu beliau juga membabarkan perkataan Imam Jalaluddin As-Sayuti “Barangsiapa yang membacakan shalawat maulid di rumah, maka penghuninya akan dihindarkan dari kefakiran.”

Saya melihat raut wajah orang yang hadir di dalam majelis penuh keberkahan itu, rata-rata memancarkan kebahagiaan yang tak terkira. Kendati banyak diantara mereka tidak mengerti landasan syariat Maulid, baru begitu bahagia bisa menyelenggarakan kelahiran Rasul yang Agung. Kendati mereka hidup dalam keadaan sederhana, mereka masih berani menyelenggarakan Maulid Rasul, hanya sebagai bentuk ekspresi kecintaan pada Rasulullah SAW.

Dengan momen tersebut, saya tidak hanya sekadar bisa bertemu ibunda dan ayah yang begitu saya cintai, saya merasakan keguyupan bersama masyarakat kampung, yang kadang jarang saya nikmati. Disana saya bisa bertemu guru yang mengantarkan pendidikanku di MI hingga MTS. Saya bisa mencium tangan mereka. Sikap mereka masih tetap sama, menganggap diriku sebagai murid, dan saya pun mengekspresikan keta’dziman padanya. Merekalah cermin-cermin sosok Rasulullah SAW yang hidupnya dipersembahkan di jalan Allah dengan cara mengajarkan agama melalui sekolah, juga membuka mushalla untuk mengajari anak-anak kampung ngaji al-Qur’an.

***
Menilik begitu meriahnya peringatan Maulid Rasulullah SAW, saya merasa mendapatkan wawasan ruhani, betapa banyak cara orang mengekspresikan kecintaan pada Rasulullah SAW. Kemudian bagaimana kalau kita tidak punya cinta pada Rasulullah SAW, padahal seluruh ibadah yang kita tegakkan belum tentu bisa menjamin kita masuk surga, karena betapa banyaknya cecat dari persembahan ibadah yang kita lakukan.

Dengan hanya bermodalkan cinta pada Rasulullah SAW, kita akan bersama dengan beliau. Keyakinan ini terekam dari perbincangan beliau dengan Arab Baduwi yang disaksikan oleh sahabat Rasul yang Agung. Menurut sebuah riwayat, ketika Rasulullah hendak shalat maghrib, sekonyong-konyong orang Arab Baduwi bertanya pada Rasul Yang Luhur, “kapan kiamat?” tetapi karena hendak sholat, Rasulullah mempersilahkan dia untuk shalat terlebih dahulu. Selepas shalat Rasulullah memanggilnya, “Kamu bertanya kapan hari kiamat, apa yang telah engkau persiapkan untuk menyambutnya?” kata Rasulullah SAW. “Saya tidak mempersiapkan hal tersebut dengan banyak shalat, puasa, dan sedakah, tetapi saya mencintai Allah dan Rasulnya,”kata Arab Baduwi. “Seseorang akan dikumpulkan dengan orang yang dicintai.”seru Rasulullah Muhammad SAW dengan penuh gairah.

Pernyataan Rasulullah SAW itu mendapatkan tanggapan yang begitu antusias dan bergairah dari para sahabat. Hanya dengan bermodalkan cinta, orang bisa bersama dengan orang yang dicintai. Rasulullah Muhammad SAW sendiri berada di maqam yang tertinggi di surga, kita harus mengungkapkan terima kasih karena perlahan-lahan kita diajarkan oleh ulama dan orang tua agar mencintai Allah dan Rasul-Nya. Ketika cinta pada Allah dan Rasul-Nya telah terbenam di dalam hati manusia, maka nantinya akan berbuahkan akhlak yang luhur dan agung.

Ketika cinta sudah meresap ke dalam hati insan, niscaya dia akan selalu mengingat yang dicintai. Kalau kita mengaku mencintai Rasulullah Muhammad SAW, maka kita harus memperbanyak membaca shalawat padanya dengan hati yang diluapi rasa cinta. Siapa yang banyak membaca shalawat untuk baginda Rasulullah SAW, niscaya dia akan menjadi orang yang dekat pada Rasulullah Muhammad SAW saat hari kiamat. Selaras dengan sabda beliau yang saya petik dari Jamius Shaghir, “sesungguhnya seutama-utama manusia kedudukan di sisiku pada hari kiamat adalah orang yang banyak membaca shalawat.” Saatnya kita membaca shalawat pada beliau, dengan semangat cinta, dan menghayati shalawat seperti kita bersua dan berjumpa dengan beliau SAW. Semoga nanti di hari kiamat kita dipayungi oleh syafaat Rasulullah Muhammad Saw. Lebih daripada itu, sebelum bisa memandang Allah, semoga kita diizinkan untuk memandangi wajah Rasulullah SAW yang amat mempesona.

Ya Allah, demi Rasulmu Muhammad SAW, turunkan pada hamba yang begitu hina ini rasa cinta pada Rasulullah Muhammad SAW, kendati diri ini hina, sebuah kenikmatan yang begitu besar jika Engkau pernankan mencintai sosok yang begitu agung dan luhur di hadapanmu, sebagaimana engkau telah menggelarkan pujian pada beliau, “sesungguhnya engkau benar-benar berbusanakan akhlak yang agung.”


Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

Selasa, 09 Februari 2010

RAKYAT MEMBUNUH PEMIMPIN

Saya amat sedih setelah meng-update berita dari radio Elshinta, hari selasa, 3 Februari 2009. Diberitakan soal peristiwa gaduh dan demo bernuansa kekerasan yang dilakukan oleh sebagian massa di kantor DPRD Sumatera Utara. Massa merangsek ke ruang gedung diadakannya sidang paripurna, dan polisi pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk menahan dan menghalangi bergeraknya ratusan massa tersebut. Dalam hitungan berapa menit saja, massa bisa mengepung dan menguasai kantor DPRD, dan menduduki tempat pelaksanaan sidang paripurna. Tak ayal, anggota DPRD yang tengah mengadakan rapat, menghentikan terlebih dahulu rapatnya. Massa pun sontak mengepung seluruh anggota DPRD Sumatera Utara yang tengah mengadakan rapat bersama instansi pemerintahan propinsi Sumatera Utara. Demo amat brutal itu berakhir dengan kematian ketua DPRD Sumatera Utara, Abdullah H. Supangkat.
Kejadian tersebut menjadi potret gelap dari demokrasi yang berkembang saat ini. Apakah demokrasi benar-benar bisa membangun rakyat yang makin elegan, berakhlak baik, atau ternyata membuat rakyat makin jauh dari semangat menghargai pemimpin? Benarkah demokrasi itu menyuarakan hati nurani rakyat, atau sebatas mengejawantahkan kepentingan pribadi tokoh politik? Apakah demokrasi itu telah berhasil membangun sebuah kepemimpinan yang kharismatik, atau kepemimpinan sebatas dalam tataran simbol, dan tidak mengakar di hati rakyat? Banyak pertanyaan berkembang lewat tragedi 3 Februari 2009 tersebut. Perlulah kiranya, kita mengevaluasi perjalanan pola demokrasi yang berkembang di Indonesia. Andaikan ditanya dari sekian massa yang bergabung untuk menduduki kantor DPRD Sumatera Utara, kiranya berapa personal yang mengerti dengan seksama pokok permasalahan yang berkembang di Sumatera Utara? Dan berapa yang sebatas ikut-ikutan dan menyertai keramaian demonstrasi tersebut? Apakah mungkin dalam demo tersebut benar-benar datang dari kehendak rakyat secara umum, atau hanya kepentingan politik segelintir orang semata?
Andaikan kejadian itu berawal dari ulah satu orang sebagai otak intelektual, berarti gerakan tersebut tidak berkembang di ranah demokrasi? Harusnya demokrasi berasal dari rakyat, tetapi mengapa inisiatif tersebut hanya datang dari segelintir orang saja? Kalau begitu, demokrasi hanya cocok untuk kalangan orang yang berpengetahuan, berwawasan luas, dan memang cerdas tentang politik. Namun, kenyataannya masih banyak rakyat kita belum memahami soal platform politik pimpinan negara saat ini. Banyak masyarakat masih bodoh soal politik, dan sangat memprihatinkan ketika kebodohan rakyat itu dijadikan alat untuk memenuhi syahwat politik segelintir orang. Memang hanya orang-orang pintar yang bisa memperdaya dan membodohi orang bodoh. Ketika gencar-gencarnya pemilahan legislatif, betapa banyak calon legislatif yang mendekat pada rakyat. Mereka hanya sebatas ingin mendapatkan suara, dan kedudukan yang didambakan bisa diraih dengan ampuh. Memang hanya dengan dukungan rakyat, mereka dipilih. Tetapi apakah rakyat yang memilih itu, memilih dengan disertai kesadaran politik, atau tanpa sadar sedikit pun. Ya, hanya dengan mendapatkan cipratan uang, mereka mau-mau saja memilih calon wakil rakyat, yang nantinya bahkan dia bakal mengeruk lebih banyak dari uang yang ditaburkan untuk rakyat. Korupsi sebagai akibat dari obsesi keliru yang menguasai hati wakil rakyat. Apakah itu menandakan bahwa yang bersalah adalah rakyat yang telah memilih pemimpinnya? Jangan gampang menyalahkan rakyat. Orang yang melakukan sesuatu tanpa dilandasi kesadaran dan pengetahuan tidak boleh disebut salah. Hanya karena dibujuk oleh para pelaku politik itulah, rakyat pun ikut memilih, walau pun ia tidak pernah sadar apa efek yang bakal diterima setelah memilih tokoh politik tersebut.
Pun demikian peristiwa yang terjadi di Sumatera Utara. Massa dari akar rumput jangan dipersalahkan, karena mereka hanya mereaksi provokasi panas yang dilemparkan oleh para otak intelektual kejadian tersebut. Orang pintar memiliki seribu alasan untuk bisa meyakinkan rakyat. Dan ingatlah rakyat selalu dijadikan alat dan berada dalam posisi dirugikan dalam hal apapun. Saya belum bisa memahami, apakah demokrasi yang berkembang saat ini memang untuk rakyat atau hanya untuk kepentingan politisi dan pelaku ekonomi yang berada di tataran previlage? Wallahu a’alam bish showaab.

Rabu, 03 Februari 2010

ISTIGAMAH DALAM KEBAHAGIAAN

Suatu pagi yang cerah, di hari Jumat Agung, dimana mentari pagi tengah mengumbar senyumnya dari ufuk timur, kami bersama teman-teman baru menyelesaikan wirid pagi petang. Sebelum shalat isyraq, guru yang mulia hendak pergi RSAL (Rumah Sakit Angkatan Laut), menjenguk guru yang wajahnya terus bersinar (tanawwirul wajh), KH. Mas Yusuf Muhajir. Sejak dua hari sebelumnya, setelah mendengar beliau sakit, saya sudah terpikirkan untuk membesuk beliau di rumah sakit. Ada kerinduan yang membuncah pada beliau. Seakan wajahnya yang tergelar bahagia terbayang di kelopak mata ini.

Saya sudah janjian sama teman-teman jamaah membesuk pada hari sabtu, tetapi diundur jadi hari Minggu. Beliau memiliki kemiripan cara pandang dengan guru yang mulia. Kalau guru yang mulia kerap memberikan pencerahan dalam bentuk filsafat-filsafat agama yang mendalam dan menyentuh, sementara KH. Mas Yusuf Muhajir mengungkapkan keterangan lewat cerita-cerita renyah, bahkan gurauan-gurauan penuh hikmah. Pandangan beliau berdua sama, hanya cara mengekspresikan yang berbeda. Diakui guru yang mulia, beliau berdua memiliki cara pandang yang sebangun.

Saking membuncahnya kerinduan pada KH. Mas Yusuf, di malam harinya saya sempat bermimpi beliau tengah menggelar pengajian. Beliau menyapa saya dengan senyum indah, tulus, dan begitu akrab, tetapi tetap berwibawa. Saya makin yakin, bisa membesuk beliau di hari jumaat tersebut. Alhamdulillah, dengan izin guru yang mulia, saya pun membesuk beliau. Lebih dahulu guru yang mulia berangkat dari griya, saya menyusul bersama mas Misbach dengan menggunakan kendaraan sendiri. Kami berdua lebih dahulu sampai ke RSAL, kami mencari-cari ruang Paviliun III belum ketemu, hanya Paviliun II dan I.

“Ah mungkin Paviliun III itu ruang yang paling istimewa mas, jadi agak sulit nyarinya,”kataku, guyon pada mas Misbach.

“ini Paviliun II dan I, pasti juga di wilayah sini,”katanya. Sekejap kemudian saya melihat KH. Mas Yusuf duduk sendirian di beranda rumah sakit sambil menelepon. Hatiku bergetar, merasa bahagia melihat beliau nampak bugar, raut wajah kebahagiaan masih tetap menyelimuti wajahnya. Saya pun langsung menuju ke tempat beliau, sungkem. Seolah ada getaran kehangatan yang menyusup ke dalam hati ini bisa bertemu beliau.

“Assalamu’alaikum,” kami berdua manyapa beliau

“Wa’alaikum salam,”sambut beliau

“Bagaimana kyai, apa sudah semakin sehat,”muncul saja dari lisan yang kotor ini.

“Alhamdulillah, sudah ada kemajuan,”kata beliau, sambil menelepon.
Saya masih tercekat, sambil menyimak perbincangan beliau. Beliau menyanggupi orang yang akan menggantikan beliau untuk menyampaikan ceramah di teman-teman Hizbut Tahrir.

“Saya lama sekali diminta oleh kawan-kawan Hizbut Tahrir untuk mengisi ceramah setiap tiga bulan sekali, tetapi saya hanya menyanggupi satu tahun sekali. Maka terjadilah ngenyang-ngenyan (tawar-menawar), akhirnya saya sanggup satu tahun 2 kali,”ujar beliau dengan wajah yang terlihat sumbringah.

“Sejak kapan kyai Mas sakit?”tanya Mas Misbach penuh empatik.
“sejak seminggu yang lalu, tetapi saya tidak memberitahukan ke banyak orang, kecuali pada beberapa orang termasuk ustadz Qushwandhi,”katanya “Saya ini tidak merasa sakit, hanya melihat dari obat yang saya konsumsi, saya ini sakit,”lanjutnya dengan senyum tanpa keluhan.

“Memang sakit itu mengikuti alam pikiran. Orang bahagia atau menderita, sedih-gembira bahkan sakit-sehat itu karena alam pikirannya sendiri,” tukas beliau.

Contoh, kata beliau, seorang anak yang berada diantara permainan yang amat asyik, dia larut dalam permainan tersebut. Saking larutnya dia melalaikan perintah si ayah, maka ayah memberitahu, kalau tidak segera menghentikan permainan tersebut, nanti akan disuntik, maka anak itu kehilangan akan keasyikan permainan tersebut, yang terbayang dalam pikirannya hanya jarum suntik. Kebahagiaan oleh karena permainan telah dilenyapkan oleh jarum suntik yang menguasai pikirannya.

Sebaliknya, kita melihat ada anak yang terkilir, kakinya terluka dan berdarah. Darah yang mengucur tersebut membuatnya menangis keras, tetapi untuk menenangkan si anak, sang ayah bilang, nak sudah menangisnya, kita nanti ke Giant. Jika anak tersebut pernah ke Giant, maka di batang pikirannya tergambar bagaimana keadaan Giant, yang disana disediakan permainan yang menghibur. Saat itu pula tangisan anak itu reda, karena alam pikirannya tidak lagi tertuju pada luka, tetapi tertuju pada permainan yang ada di Giant.

Bayangkan, bagaimana kehidupan orang sudah dekat pada Allah SWT, niscaya tidak ada kekhawatiran dan kesedihan bagi mereka. “sesungguhnya kekasih-kekasih Allah tidak pernah tersentuh kekhawatiran dan kesedihan.”

“Sebenarnya dilihat dari gejalanya, saya ini sudah lama sakit, tetapi tidak pernah dirasakan, dan saya mengerti sakit setelah dibawa ke rumah sakit,”ujar beliau dengan nada guyon, kami pun tersenyum ta’dhim.

Berselang beberapa menit beliau berbicara dengan kami, guru kami yang mulia tiba bersama Mas Kholid dan Mas Januar. Kami sungkem pada guru yang mulia, dan beliau pun duduk bersama kami di beranda tersebut. Terjadilah perbincangan yang hangat dan cair diantara kedua guru suci ini.

“ini ustadz, saya tadi bilang ke teman-teman ini, kalau derita-bahagia itu mengikuti alam pikiran,” Kyai Mas bertutur, guru yang mulia mengangguk sambil tersenyum.

“Oh ya, tadi saya SMS seorang, saya bilang sekarang Ustadz Qushwandhi sedang menggencarkan kampanye anti-kristenisasi di Sumbersekarsari Malang, beliau yang langsung bertanggung jawab. Seperti dulu, pada saat saya melakukan hal yang sama di Mojokerto,” tutur Kyai Mas yang memang selalu berpikir tentang umat. “tapi dia hanya membalas, saya mendukung,”lanjutnya. “Yah itulah orang yang agung, tetapi tidak benar-benar agung jiwanya,” kata beliau lagi.

“Ya benar, ini kyai Mas saya mengirimkan SMS pada aktivis disana, agar memasang spanduk yang berisikan pesan-pesan yang keras dan tegas, seperti stop kristenisasi di pemukiman komunitas Muslim Sumbersekarsari, dsb,”ucap guru yang mulia.

“orang khusus tetapi hatinya tidak juga tercermin pada sosok yang punya berjibun jamaah, tetapi cara berpikirnya bukan seperti orang besar. Ketika dia sakit, dia bilang semoga cepat sembuh. Banyak orang yang mendoakan dia agar cepat sembuh, tetapi ketika datang orang Sidosermo, dia mengungkapkan dan mendoakan kata berbeda, katanya, semoga selamat. Jadi bukan minta sembuh, tapi minta selamat. Minta sembuh tingkatan yang amat rendah, orang kafir pun menginginkan sembuh, tapi orang beriman yang diinginkan adalah selamat. Demikianlah banyak orang yang terbilang sebagai orang khusus, terpandang di mata umat, tetapi ketika hatinya dibedah ternyata tidak khusus”tandas Kyai Mas Yusuf. Semenjak perbincangan pertama, kami selalu mendengar dengan seksama perbincangan Kyai Mas Yusuf yang selalu menarik, dan diluar ungkapan orang-orang pada umumnya.

“Benar kyai mas, kita selalu berdoa, allahumma antas salam waminkassalam wailaika ya udussalam, fahayyina rabbana bissalam…, maksudnya kita selalu minta kesalamatan. Waras dan selamat itu sepertinya punya kemiripan, tetapi selamat itu punya makna lebih mendalam ketimbang waras,”tanggap guru yang mulia.

“Abuya itu tidak pernah nyahut ketika ditanya soal sakit, tetapi ketika ditanya persoalan umat dan agama, beliau selalu memberikan jawaban. Suatu saat, beliau berbincang seputar persoalan agama, padahal saat itu Abuya dalam kondisi sakit. Kalau ditanya soal agama dan umat beliau tertarik berbincang, tetapi ketika ditanya perihal sakitnya, Abuya bilang, “Saya sakit tah mat?””kisah kyai Mas tetap dengan wajah yang selalu sumbringah, sembari disambut tertawa tipis beberapa teman yang hadir disana.

“terus terang saya tidak mengabarkan sakit saya ke orang-orang, kecuali orang yang senafas dengan saya, termasuk ustadz Qushwandhi. Musyafak menanyai saya pertelpon, apakah benar saya ada di rumah sakit. Saya bilang, saya ada di rumah. Dia mengerti saya di rumah sakit dari orang yang hendak mengundang saya untuk menghadiri ceramah Maulid, saya tidak ada di rumah, tetapi di rumah sakit, “kata Kyai Mas Yusuf. “tetapi kadang-kadang orang seperti dia juga dibutuhkan untuk nafas yang lain,” lanjut beliau sambil tersenyum, sambil beliau pamit sebentar ke kamar rawat inap, mengambil makanan.

Sembari menunggu Kyai Mas, guru yang mulia memberikan tafsir atas apa yang telah disampaikan Kyai Mas. “beliau tidak memberikan pelajaran yang terlalu bertele-tele, tetapi yang diberikan adalah rumusan tentang hidup. Tidak memberikan ikan, tetapi memberikan pancing. Bagaimana rumus menghadapi masalah itulah yang terpenting. Terkait dengan soal, Anda bisa mencari sendiri dalam perjalanan hidup Anda, saya dan kyai Mas hanya menawarkan rumus bagaimana menghadapi persoalan, dan itulah yang kerap disampaikan dalam pengajian-pengajian yang saya selenggarakan,”tutur guru yang mulia.

Sehabis bercerita panjang lebar, Kyai mas datang dengan membawa minuman. Sejenak setelah itu beliau pamit untuk disuntik, dan kami pun pamit pada beliau. Saya merasa menemukan kepuasan bertemu dengan beliau. Saya mendapatkan pesan-pesan indah yang membuat diri selalu hendak bersyukur setiap saat. Syukur bagi Kyai Mas bukan sekadar lontaran kata, tetapi telah membadan dalam hidupnya. Semoga saya bisa memodel beliau.

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

Rabu, 27 Januari 2010

KENDALA, JALAN KESUKSESAN

Seluruh pernak-pernik kegagalan yang kita lewati menjadi jalan menuju kebahagiaan. Apakah ada diantara Anda menganggap bahwa kesuksesan hanya ditaburi oleh keindahan, prestasi demi prestasi, tanpa diwarnai oleh kegagalan? Ingatlah tanpa kegagalan, niscaya kesuksesan tidak akan terlahir begitu dahsyat. Seseorang menggapai kesuksesan gilang-gemilang, karena telah berhasil melewati kegagalan dengan jiwa besar, dan berupaya bagaimana kegagalan itu menjadi bahan untuk bisa menumbuhkan kesuksesan luar biasa dalam hidupnya. Kalau begitu, andaikan sukses menjadi suatu hal yang penting bagi kehidupan manusia, maka kegagalan juga harusnya dipandang suatu yang penting. Mengapa demikian? Karena kegagalan juga sebagai jalan menuju kesuksesan.

Suatu saat saya mendapatkan kiriman SMS dari adik kelas saat di bangku kuliah. Setelah lulus dari kampus, dia melamar pekerjaan di Jawa Pos, dan diterima sebagai jurnalis. Saya sempat menduga, dia bisa mengikuti jalan sukses seniornya yang telah menjadi jurnalis hebat di media yang sama. Namun, karena saking beratnya waktu dan tenaga yang harus dikeluarkan sebagai kuli tinta tersebut, dia berpikir untuk keluar dari pekerjaannya. Pekerjaan itu menguras tenaganya dari jam 8 pagi, hingga larut malam, karena selalu dituntut bisa memburu berita terbaik, dan up to date. Karena tidak kuat dengan kebijakan waktu yang diambil perusahaan, dia pun mengambil keputusan resign, dan memilih untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih ringan.

Dia mengeluhkan kehidupannya, di tengah tuntutan mendapatkan penghasilan, tetapi tenaga tidak sanggup untuk membayar kendala tersebut. Di tengah beragam keluhan yang diungkapkan, saya hanya berujar, kalau Anda punya tujuan menggapai bintang, maka kendala juga sebagai proses untuk bisa mengantarkan Anda pada titik bintang. Sadarilah Allah tidak akan pernah menghadirkan kendala dan tantangan kecuali untuk membuat Anda menjadi hebat. Yakinilah, tidak ada dibalik setiap ujian yang Anda peroleh kecuali Anda akan dipoles menjadi manusia hebat. Manusia-manusia hebat, pasti mengalami masa-masa pahit, yang kata orang sebuah kegagalan, tetapi dengan batu bata kegagalan, dia bisa membangun menara kesuksesan.

Dia hanya meminta doa pada saya agar tetap diperkuat di jalan ini. Saya hanya terus menaruh harapan adikku yang cerdas ini mendapatkan kesuksesan yang membuatnya semakin mulia dan agung di sisi Allah SWT. Tanpa saya sadari, saya kembali membuka memori perbincangan dengan adikku tersebut. Saya tergelitik untuk menyuguhkan kebijaksanaan sederhana agar kita tetap kukuh dan kuat dalam menghadapi berbagai persoalan hidup yang begitu kompleks, sehingga kita terus bisa berjalan di atas jembatan kesuksesan yang telah dirancang Tuhan SWT.

Ingatlah saudaraku, Allah tidak pernah mengharapkan hamba-hambaNya berada dalam penderitaan. Dia selalu menginginkan hamba-hambaNya bahagia dan sukses. Hanya saja, sering kali pilihan-pilihan manusia untuk menggapai kebahagiaan tidak selaras dengan panduan yang ditetapkan Allah SWT. Sudah jelas, Allah telah menyajikan resep ampuh untuk mendapatkan kebahagian melalui al-Qur’an, dan ditunjuknya Rasulullah Muhammad SAW untuk mengungkapkan risalah kenabian yang dilanjutkan oleh ulama’-ulama yang dipercaya, tetapi jarang manusia bergabung dengan al-Qur’an, juga dengan ulama’ yang telah menjadi penyuluh obor kenabian. Andaikan kita mau mengikuti jalan kenabian, maka kita akan dibuat terkejut, betapa jalan-jalan mendapatkan pusaka kejayaan dan kemenangan perlu mengalami masa keletihan yang panjang. Mereka menyediakan amunisi kesabaran yang berlipat-lipat dalam menghadapi beragam cobaan, ujian, dan berbagai kendala yang sepertinya menghambat harapan dakwahnya. Namun, semuanya menjadi sebuah jalan kian mengukuhkan keyakinan akan jaminan Allah, memenangkan hamba-hambaNya yang bertakwa.

Mungkin Anda harus berjarak berapa zaman dengan para Nabi untuk bisa mengambil keteladanan yang nyata dari mereka, dalam menghadapi tantangan bahkan kegagalan untuk menggapai kesuksesan cemerlang. Kita coba menelusuri para pebisnis berjaya, siapakah pebisnis yang tidak menghadapi kendala dalam menjemput kesuksesan? Mungkin Anda kenal dengan pengusahan muslim, Purdi E. Chandra, pengusaha Primagama. Beliau membesut bisnisnya dari sebuah rumah kos-kosan, tanpa menggundul gelar apapun. Pada mulanya, dia harus merawat anak-anak tetangga agar bisa belajar di tempat les-lesannya. Pikiran Anda juga pasti masih ingat dengan pengusaha kesohor, Bob Sadino, yang merintis bisnisnya dengan sebutir telur, dan pernah menghadapi masa sulit bersama istri tercintanya. Namun, semua kegagalan kecil ternyata berperan mewariskan kesuksesan yang besar. Mungkin karena merasakan sakit yang begitu dahsyat, dia mampu membuat lompatan kejayaan yang juga amat dahsyat. Tak ayal, dia pun sekarang bergelar sebagai Raja Sayuran. Anda juga tidak pernah pangling dengan pengusaha muslim yang beridentitas sebagai raja poligami, pengusaha Ayam Bakar Wong Solo, Puspowardoyo. Beliau sebagai bekas guru yang bertekad untuk memulai bisnis di Medan. Di dalam keprihatinan dia pun melompat untuk mencatat kesuksesan yang nyata.

Ingatlah, sosok-sosok tangguh itu menggapai kesuksesan nyata, karena mereka telah berhasil menikmati masa-masa pahit sebagai penguat untuk menggapai kesuksesan. Kesuksesan yang dilandasi dengan kebesaran jiwa dalam menghadapi kendala atau tantangan hidup yang dahsyat memicu orang untuk mendapatkan kepuasan nyata. Yang terpenting bagaimana aktivitas yang dilakukan selaras dengan prinsip hidup yang mengakar dalam hati kita. Sehingga semua aktivitas yang dilakukan sebagai proses untuk menggapai kesuksesan yang alami, indah dan memiliki kesan yang kekal dalam hati.

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

Senin, 25 Januari 2010

MULAI HARI DENGAN CINTA

Cinta tak pernah bisa dilukiskan hanya dengan polesan kata, lukisan sketsa, juga gubahan syair. Semua instrument untuk menggambarkan cinta tidak bakal bisa memberikan ilustrasi secara efektif dan sempurna perihal cinta itu sendiri. Karena cinta bermuara dari rasa, sementara kata-kata hanya produk logika. Logika dan rasa suatu hal yang berbeda, kendati penggambaran bentuk logika bisa menyentuh rasa, namun tidak bisa menggetarkan rasa yang sejati dari cinta itu sendiri.

Karena cinta tidak bersumber dari medan logika, maka cinta tak mampu sebatas diungkapkan dan diekspresikan dengan kata, namun harus menjadi pengalaman hidup yang membekas dalam sanubari jiwa. Anda tidak bisa mengerti makna cinta yang hakiki, kecuali Anda mengalami dan bergulat dengan cinta itu. Bagaimana getaran cinta menyentuh seluruh relung sanubari Anda. Apakah hanya bisa dituturkan dengan kata. Maka berlatih untuk mencintai sebagai jalan efektif untuk bisa merasakan cinta. Menyentuh dan menemui segala sesuatu dengan cinta akan membawa jiwa kita terbang di altar-altar kedamaian, karena cinta inilah yang membikin manusia bisa masuk ke ruang yang paling indah, tak bisa dilukiskan dengan kata yang bersumber dari pikiran.

Mungkin Anda melihat bunga yang tengah bermekaran, menyajikan ketulusan senyum di pagi hari, Anda menyapanya dengan penuh cinta, seolah bunga itu berbicara keindahan, kemurnian, ketulusan, dan kedamaian pada Anda. Saat itu, Anda hanya melihat bunga sebagai magnet kebahagiaan. Manakala Anda bersua dengan kendaraan Anda, yang Anda tumpangi setiap hari, dan membawa Anda pergi kemana Anda hendak menuju, mengapa Anda tidak coba berikan elusan dan belaian cinta, seakan dialah sahabat yang telah membentangkan peluang Anda untuk semakin melebarkan sayap pergaulan. Saat itu meletup rasa cinta pada kendaraan, cinta bukan karena nafsu, namun sebentuk cinta yang membawa Anda pada kecintaan semesta. Anda bertemu dengan teman kerja di kantor, sapalah mereka dengan cinta, sebagaimana Anda pun mendambakan sapaan cinta dari sesama. Yakinilah, ketika Anda menebar ucapan-ucapan cinta yang meletup dari hati yang tulus, niscaya Anda bakal mendapatkan cerapan-cerapan kebahagiaan.

Dari situ, Anda makin mengalami kematangan dalam bercinta, ternyata cinta menjadi indah ketika dilandasi ketulusan, dan tanpa syarat. Hanya dengan ketulusan, maka butir-butir kedamaian seperti mewarnai kondisi hati Anda. Kedamaian Anda setimbang dengan volume cinta yang ada dalam tangki hati Anda. Tebarkan cinta pada siapa saja, maka kebahagiaan pun bakal memantul pada hati Anda jua. Bagaimana menghadapi seorang musuh yang kerjaannya hanya mencemooh, mencaci, memaki Anda? Anda harus bersikap tetap mencintainya, karena sesungguhnya cemoohan tidak ampuh membikin Anda menderita, bahkan pelontar cemoohan itu yang telah sengaja menjebak dirinya di jurang derita. Cinta akan selalu mendekatkan kebahagiaan bagi ahlinya. Karena itu, jangan pelit Anda menebarkan cinta dimana-mana, karena cinta sendiri akan memberikan kepadatan kebahagiaan dalam hati Anda sendiri, bahkan bisa mengilhami orang lain menggapai kebahagiaan yang hakiki. Lepaskan cinta Anda dimana saja engkau berada, niscaya engkau bakal memanen kebahagiaan di sana, dan andaikan ada orang yang hendak membuat Anda tersandung derita, derita sendiri tidak akan pernah mendekati orang yang tengah jatuh cinta, apalagi telah terbang bersama cinta.

Memulai hari dengan cinta begitu penting, agar sepanjang hari Anda mendapatkan kebahagiaan terus-menerus. Orang yang dipanah cinta, akan selalu berpikir untuk bisa memberikan yang terbaik. Ketika Anda terpacu untuk memberi, maka kebahagiaan akan terus melekat dalam hidup Anda. Bahkan ketika Anda belum bisa memberi secara materi, Anda akan bisa memberikan keindahan senyum, pencerahan, dan pengabaran-pengabaran baik pada orang lain. Memberi memang membangkitkan potensi cinta yang terbenam dalam hati Anda. Memberi sendiri seperti pupuk yang akan menyuburkan cinta, yang pada gilirannya akan berbuahkan kebahagiaan.

Bisakah cinta disebarkan dimana saja? Cinta melampaui syarat dan batas. Ketika ada syarat cinta akan terbatas, dan ketika ada batas maka berarti kebahagiaan juga bakal terbatas. Padahal cinta yang diharapkan bisa melambungkan orang menuju cinta yang tak terbatas, seperti orang yang mengepakkan sayap keindahan di antara langit-langit kehidupan. Cinta datang dari bumi, tetapi buahnya menggantung di langit yang tak terbatas. Pada mulanya orang mungkin mengujarkan cinta yang bersifat terbatas yang tumbuh dari bumi batinnya, tetapi berikutnya dia akan terus bertumbuh dan berkembang, sehingga mencapai pada buah yang menggantung di langit. Bisa diketahui, jika ada orang cinta begitu ceket dan sempit, berarti cintanya belum bertumbuh, ujungnya kebahagiaan pun tidak meluas ruang lingkupnya.

Inilah sebuah kegelisahan orang yang tengah belajar bercinta dalam arti yang lebih luas.

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya

Senin, 21 Desember 2009

TERIMA KASIH



Terima kasih bagaikan petikan dawai yang terdengar indah dan merdu di telinga. Bagaikan sentuhan harpa di siang hari. Bagaikan kucuran oasis di tengah savanna yang kering gersang. Setiap orang suka kata indah itu. Apakah terima kasih hanya bertengger dalam kata, tak mengakar di tubuh batiniah? Kata terima kasih pada hakikatnya gema suara yang terlahir dari hati. Hamzah Fansuri mengungkapkan, terima kasih berasal dari dua rangkaian kata, yakni kata terima dan kasih. Terima diartikan sebagai menerima segala apa yang datang dari Allah tanpa mengeluh. Dan kasih, mengasihkan atau mempersembahkan kembali apa yang diterima pada Allah kembali. Sementara selain Allah hanyalah sebagai the channel of thanksgiving (saluran pengungkapan terima kasih). 

Terima, berarti menerima segala hal yang datang pada dirinya, dan disadari sebagai kebaikan yang datang dari Allah SWT. Tak ayal, karena merasa semuanya datang dari Allah SWT, maka pantulan yang berkumandang ke dalam hatinya hanya kebahagiaan semata. Mengapa bahagia? Ya, karena dia selalu bertemu dengan Sang Pemberi Hadiah. 

Dia tak terpukau dengan hadiah yang diberikan Allah, tetapi selalu merasa disambangi, disertai, dan diperhatikan Allah SWT. Merasakan kehadiran Allah setiap saat itulah yang turut memantik kebahagiaan di dalam hatinya. Orang yang bermental “terima”, maka setiap kejadian dan peristiwa yang menyapanya akan selalu menitipkan kekayaan ruhani. Bukankah kekayaan itu hanya melekat pada orang yang menerima. Tanpa protes, tanpa mengeluh, tanpa marah, yang terpancar hanya kesukacitaan menerima setiap realitas sebagai suguhan dan sajian maha lezat dari Allah SWT. Mental “terima” inilah yang juga disebut dengan sikap ridha. Ridha bakal melahirkan kelapangan bagi setiap insan, sehingga tergerak untuk berbagi pada sesama. Orang yang ridha, akan berimbas pada perilaku “kasih.” Orang yang ridha bakal bahagia, dan orang bahagia bakal selalu tergerak membagikan kebahagiaannya pada sesama. Begitulah mental kasih itu. 

Mental “kasih”, berusaha mengasihkan apa yang ada di tangannya pada Allah. Semua dipersembahkan demi mendekatkan diri pada Allah SWT. Pribadi ini telah kehilangan “rasa kepemilikan,” yang terbenam dalam jiwanya, pemilik hakiki hanya Allah SWT. Tak ada pilihan lain, bagi yang tidak merasa memiliki, kecuali menyerahkan kembali apa yang diterima pada Pemilik Hakiki, melalui saluran-saluran yang disukai Pemiliknya. Artinya, kita mengasihkan apa yang kita terima pada makhluk-makhlukNya. Karena kita bisa melayani dan mempersembahkan sesuatu pada Allah dengan melayani makhluk-makhlukNya. Jika kita telah sampai di peringkat terima kasih, maka kita bakal menemukan kebahagiaan dan keberkahan hidup. Bukankah al-Qur’an sudah menjanjikan akan menurunkan keberkahan (ziyadah) bagi orang-orang bermental “terima kasih”. Bahkan kalau kita berusaha menggali ke kedalaman, orang bermental terima kasih tidak hanya menuai berkah, bahkan berkah telah membadan pada dirinya.  

Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya